cover
Contact Name
Yosep Ginting
Contact Email
josep@jurnalvow.sttwmi.ac.id
Phone
+6282114130502
Journal Mail Official
jurnalvow@gmail.com
Editorial Address
Jl. Babakan Madang No. 40, Kec. Babakan Madang, Sentul City, Bogor, Jawa Barat, Indonesia,
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama
ISSN : 25807900     EISSN : 26860198     DOI : https://doi.org/10.36972/jvow
Jurnal Voice Of Wesley, terbit Sejak tahun 2017, Mulai Volume 1 Nomer 1 Tahun 2017 Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun dibulan Mei dan November. Jurnal Voice of Wesley bertujuan untuk kemajuan dan kreatifitas karya tulis ilmiah melalui media penelitian dan pemikiran kritis analistis di bidang kajian musik dan Agama dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Agama yang di terbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Articles 122 Documents
KEPEMIMPINAN SAHABAT BERDASARKAN KASIH AGAPE: Suatu Analisis terhadap Politik Identitas di Indonesia, khususnya NTT. Hakh, Samuel Benyamin
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 1 (2023): J.VoW Vol 7. No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i1.213

Abstract

Kepemimpinan sahabat telah dikaji oleh beberapa penulis, tetapi persoalan yang timbul adalah, apa model kepemimpinan sahabat itu? Sebab kepemimpinan sahabat itu bisa multi tafsir. Tujuan artikel ini adalah, untuk mengkaji kepemimpian sahabat berdasarkan kasih agape, yakni kasih yang rela berkorban, kasih yang merangkul semua orang tanpa pamrih. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan cara kerja, mengumpulkan bahan-bahan dari artikel-artikel dan buku-buku untuk dianalisis, dalam usaha untuk mengungkap model persahabatan berdasarkan kasih agape. Hasil yang ditawarkan sebagai suatu perspektif baru bagi pembaca adalah, bahwa kepemimpinan sahabat yang berdasarkan pada kasih agape adalah kepemimpinan sahabat yang rela berkorban dan merangkul semua orang dari berbagai golongan, etnis, agama, dan budaya yang berbeda sehingga tercipta persahabatan yang kuat untuk saling bersinergi
PERKEMBANGAN NYANYIAN JEMAAT DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0: PELUANG DAN TANTANGAN Daulay, Rahel
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 2 (2024): J.VoW Vol 7. No. 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i2.221

Abstract

Percepatan teknologi, yang dipicu oleh teknologi industri 4.0, memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah penggunaan nyanyian jemaat di gereja. Di gereja nyanyian jemaat merupakan bagian yang penting dalam interaksi umat. Nyanyian di gereja inilah yang tidak terkecuali juga mengalami perkembangan yang dipengaruhi oleh percepatan teknologi tadi. Buku nyanyian, sebagai media yang sejak dahulu jamak digunakan, kini mulai tergeser. Media digital kini menjadi fasilitas utama dalam mempelajari, mempersiapkan, dan menyajikan nyanyian dalam ibadah. Media digital mengarahkan pengguna sehingga lebih banyak aktif mendengar daripada membaca partitur. Membaca notasi nyanyian sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Sementara itu, mencari (search) dan melihat (view) nyanyian melalui aplikasi musik mulai makin digemari. Makin sering sebuah nyanyian dilihat, maka makin potensial jenis nyanyian yang sama atau serupa untuk direkomendasikan. Kebiasaan para pemusik untuk langsung mencontoh penyajian nyanyian juga menjadi kebiasaan yang jamak. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif, yaitu survei kepada pelayan musik muda dan kajian literatur. Dari penelitian ini tampak bahwa pelayan musik generasi muda lebih memilih media digital sebagai cara untuk mengenal dan memilih nyanyian. Tantangannya kini adalah aturan musik dan sejarah yang menjadi jiwa dari sebuah nyanyian justru mulai jarang diperhatikan. Hal ini turut memengaruhi cara gereja berteologi lewat nyanyian jemaat. Daripada mementingkan aspek fungsi dan kedalaman nyanyian, bukan tidak mungkin pilihan nyanyian justru lebih mementingkan tingkat popularitas penggunaan. Melihat gejala ini, sudah saatnya gereja melihat dan mengantisipasi kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam mempersiapkan nyanyian di ibadahnya, khususnya pada generasi muda.
PERKAWINAN BEDA AGAMA DI JEMAAT GMIT TALITAKUM HOINENO KLASIS MALAKA (Studi Fenomenologi pada Tiga Keluarga di Jemaat GMIT Talitakum Hoineno Klasis Malaka) Leobisa, Dr. Jonathan; Paat, M.Si, Dr. Anggreani N.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 1 (2023): J.VoW Vol 7. No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i1.214

Abstract

Kehidupan yang majemuk suku, budaya dan agama merupakan kekayaan yang mewarnai Indonesia, relasi dalam keragaman yangmemungkinkan terjadinya perkawinan beda agama dalam kehidupan. Latar belakang penelitian adanya tiga keluarga yang tidak harmonis dikarenakan adanya perbedaan agama sehingga berpengaruh kepada pertumbuhan utuh dari anak-anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filosofis untuk menyelediki pengelaman manusia. Subjek dalam penelitian berjumlah 6 orang terdiri dari tiga keluarga beda agama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi perkawinan beda agama di Jemaat GMIT Talitakum Hoineno Klasis Malaka. Rumusan masalah adalah bagaimana kondisi dan dampak dari perkawinan beda agama di Jemaat GMIT Talitakum Hoineno ?. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh dari masing-masing pasangan mengatakan bahwa dalam kehidupan mereka tidak ingin untuk memilih pasangan yang berbeda agama, tetapi karena perjodohan orang tua dan hamil diluar nikah, sehingga terjadinya keluarga beda agama. Anak-anak juga merasa kurang percaya pada diri ketika berada pada lingkungannya. Anak-anak membandingan kondisi keluarganya dengan teman-temannya yang mempunyai satu kepercayaan dari orang tuanya, sehingga merasa kurang nyaman.
UPACARA ADAT MENINGGAL SAUR MATUA DARI SUDUT PANDANG IMAN KEKRISTENAN Lumban Tungkup, Hizkia
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 2 (2024): J.VoW Vol 7. No. 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i2.222

Abstract

Indonesia memiliki bermacam-macam kekayaan kultural atau budaya, baik dalam adat istiadat, seni, bahasa, agama, suku dan lain sebagainya. Terkait dengan adat istiadat setiap suku memiliki adat atau tradisi yang khas. Namun seringkali terjadi kontroversi atara iman Kristen dengan pelaksanaan adat istiadat, terkhusus pada Batak Toba. Dimana ke-Kristenan sangat menekankan tentang iman kepada Kristus, meskipun terkadang dalam prakteknya penekanan terhadap adat lebih menonjol. Salah satu kebudayaan adat istiadat suku Batak Toba adalah adat meninggal Saur Matua. Saur Matua adalah upacara untuk orang meninggal yang telah memiliki keturunan hingga sudah memiliki cucu baik dari ketunan laki-laki maupun keturunan Perempuan. Jiak melihat kata Saur memiliki penegrtian lengkap dan juga empurna. Dimana orang yang sudah meinggal itu sudah dikatkan sempurna dalam kekerabatan karena telah memiliki anak dan telah memiliki cucu. Sehingga jika ynag meninggal ini telah sempurna atau Saur maak upacara meninggalnya pun harus diadakan secara sempurna. Tujuan dari penulisan ini adalah agar setiap orang Kristen dalam suku Batak Toba dapat melaksanakan upacara meninggal Saur Matua sesuai dengan iman Kristen dan tidak melaksanakan tradisi tersebut secara sinkritisme. Selain itu pelaksanaan upacara adat meninggal Saur Matua ini dijadikan salah satu sarana untuk perkembangan dan penyampaian Injil kepada orang-orang Batak secara khusus orang Batak Toba baik di kampung halaman maupun orang Batak Toba di perantauan.
TRADISI MAMBERE NAMALUM PAKON MAMBERE TUKOT SEBAGAI BENTUK MENGHORMATI ORANG TUA SEBAGAI NAIBATA NA TARIDAH (ALLAH YANG KELIHATAN): SUATU KAJIAN ETIS TEOLOGIS Purba, Fredi Ardo
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 1 (2023): J.VoW Vol 7. No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i1.205

Abstract

Tulisan ini ditulis dengan latarbelakang suatu keadaan, bahwa tradisi Mambere Namalum Pakon Mambere Tukot mulai ditinggalkan oleh orang Simalungun di desa Negeri Dolok. Tujuan penelitian ini ingin mengkaji tradisi Mambere Namalum Pakon Mambere Tukot sebagai sebuah tradisi yang dimiliki orang Simalungun untuk menghormati orang tua sebagai Naibata na Taridah (Allah yang kelihatan). Metode yang digunakan adalah metode penelitian campuran, yaitu perpaduan antara metode penelitian kualitatif dengan metode penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menjelaskan, bahwa ditinggalkannya tradisi Mambere Namalum Pakon Mambere Tukot disebabkan karena adanya pandangan yang menyatakan bahwa tradisi Simalungun, secara khusus tradisi Mambere Namalum Pakon Mambere Tukot bertentangan dengan kekristenan dan merupakan bentuk kekafiran. Hal tersebut menyebabkan orang Simalungun beragama Kristen di desa Negeri Dolok mulai meninggalkan tradisi tersebut. Padahal, tradisi Mambere Namalum Pakon Mambere Tukot dapat dipakai teologi Kristen untuk menjelaskan makna menghormati orang tua yang merupakan Naibata Na Taridah (Allah Yang kelihatan), sehingga kehadiran orang tua adalah sebagai pemberi berkat bagi kehidupan anak-anaknya.
PENDAMPINGAN AKTIFITAS SPIRITUALITAS KRISTEN SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP ROHANI LANSIA DALAM LINGKUNGAN MULTIKULTURAL PADA RUMAH LANSIA ATMABRATA Pangapulon Saragih, Dr. Diany Rita; Simatupang, Jhon David; Siagian, Hotman
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 1 (2023): J.VoW Vol 7. No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i1.217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap efektivitas pendampingan aktivitas spiritualitas Kristen dalam meningkatkan kualitas hidup rohani para lansia di lingkungan multikultural di Rumah Lansia Atmabrata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk memahami pengalaman spiritualitas Kristen para lansia dan bagaimana pendampingan tersebut dapat memperkaya pengalaman rohani mereka. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan wawasan yang mendalam mengenai peran spiritualitas Kristen dalam meningkatkan kualitas hidup rohani lansia dalam konteks lingkungan multikultural.Studi ini dilakukan di Rumah Lansia Atmabrata, sebuah lingkungan multikultural yang menampung lansia dari berbagai latar belakang budaya dan agama. Data diperoleh melalui observasi partisipatif serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan aktivitas spiritualitas Kristen memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas hidup rohani para lansia. Pendampingan aktivitas spiritualitas Kristen, ketika dilakukan dengan pendekatan yang inklusif dan menghormati keberagaman agama, memiliki dampak positif pada kesejahteraan emosional dan rohani lansia.Dengan demikian, pendekatan ini mendukung lansia untuk mengalami dan mengekspresikan iman mereka dengan cara yang penuh integritas dan kedalaman, memperkaya pengalaman rohani mereka di tengah keberagaman agama dan budaya.
PANDANGAN PAULUS TENTANG PERCERAIAN MENURUT 1 KORINTUS 7:10-16 DAN RELEVANSINYA DALAM KONTEKS KONTEMPORER Situmorang, Sitor Mulawari; Hermanto, Yanto Paulus
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 2 (2024): J.VoW Vol 7. No. 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i2.228

Abstract

ABSTRACTIn this modern era, many families, including Christian families, face pressure in living their domestic life. Pressures such as stress, incompatibility, economics, emotional burdens and even mental health reasons are often the cause of divorce. Meanwhile, according to Paul's view, a marriage should not end in divorce, especially for those who are married as a couple of believers. For what God has joined together, no man should separate. How to bridge these two things, between obedience to God's word and the mental health needs of the congregation. Is divorce a final alternative or is there a relevant solution from Paul's view? The aim of this research is to assist pastors in helping their congregation who are going through a divorce because they have been hurt or because their mental health has been disturbed. In this research the author used descriptive qualitative methods. The discussion in this study covers the background of Paul and the city of Corinth as well as the Corinthian church, then explains Paul's views on divorce according to 1 Cor. 7:10-16 and its relevance in the contemporary context.Keywords: Paul, Divorce, Marriage, Corinth, ContemporaryABSTRAKDalam era modern ini, banyak keluarga termasuk keluarga Kristen menghadapi tekanan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Tekanan seperti stress, ketidakcocokan, ekonomi, beban emosianal bahkan alasan kesehatan mental seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian. Sedangkan menurut pandangan Paulus suatu pernikahan seharusnya tidak diakhiri oleh perceraian terlebih bagi mereka yang menikah sebagai pasangan yang seiman. Karena apa yang dipersatukan oleh Allah tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Bagaimana menjembati kedua hal ini, antara ketaatan kepada firman Tuhan dengan kebutuhan kesehatan mental jemaat. Apakah perceraian menjadi alternatif akhir atau ada solusi yang relevan dari pandangan Paulus. Adapun tujuan penelitian ini untuk membantu para pendeta dalam menolong jemaatnya yang akan bercerai akibat sudah tersakiti atau karena kesehatan mentalnya yang terganggu. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pembahasan dalam penelitian ini mencakup latar belakang Paulus dan kota Korintus serta jemaat Korintus, kemudian menjelaskan pandangan Paulus tentang perceraian menurut 1 Kor. 7:10-16 dan relevansinya dalam konteks kontemporer.Kata Kunci: Paulus, Perceraian, Pernikahan, Korintus, Kontemporer
KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP SPIRITUALITAS BUMI MENURUT PERSPEKTIF KRISTEN Duapadang, Enry Yakobus; Fransiska, Ni Nyoman
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 1 (2023): J.VoW Vol 7. No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i1.208

Abstract

Earth is a creation of God and is considered a holy place filled with God's presence. However, along with the development of the times and the human tendency to increasingly dominate nature, the Earth is often seen as only an object that can only be utilized. In this theological view, earth spirituality is seen as a human relationship with the Earth that shows respect, togetherness, and interdependence. Earth spirituality teaches that humans and Earth are connected and influence one another. In the context of Christian theology, earth spirituality emphasizes the importance of protecting and caring for God's creation as a form of responsibility and respect for the Creator. In a practical context, earth spirituality can be applied to human daily life through practices that are environmentally friendly and promote natural sustainability. Churches and Christian communities can play an important role in promoting environmental awareness and practices. In a theological view, protecting the environment is a form of service to God and others. In its conclusion, the Christian theological view of earth spirituality emphasizes the importance of understanding humanity's relationship with the Earth from a theological perspective. Earth spirituality views Earth as a sacred place that must be respected and cared for. In a practical context, earth spirituality can be applied to human daily life through environmentally friendly practices.
PERAN LITERASI BUDAYA DAN LITERASI DIGITAL DALAM MENINGKATKAN MODERASI BERAGAMA MAHASISWA Amseke, Fredericksen Victoranto
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 1 (2023): J.VoW Vol 7. No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i1.220

Abstract

Religious moderation among students is the attitude and perspective of students to understand and respect each other's diversity and differences between ethnic cultures, languages and religions in Indonesia to avoid conflict between religious communities and create balance and strengthen harmony in religious life. This research aims to determine the influence of cultural and digital literacy on students' religious moderation at the Kupang State Christian Institute. This research uses quantitative methods. The data collection tool uses a questionnaire. Participants in this research were 260 students from 11 study programs at the Kupang State Christian Religion Institute. The data analysis technique uses multiple regression analysis. The results of this research show that cultural and digital literacy has a positive and significant role in students' religious moderation with an R Square value of 58.7%. Cultural literacy contributed 31.9% and digital 26.8% to religious moderation.
Transformasi Stigma Menjadi Peluang: Strategi Pelayanan Kasih Melalui Yayasan Agape Untuk Pemberdayaan Anak-Anak Di Komunitas Terdampak Kusta Pangapulon Saragih, Dr. Diany Rita; Bui, Tan Ci; Siagian, Hotman
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 7, No 2 (2024): J.VoW Vol 7. No. 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v7i2.235

Abstract

Di era modern, meskipun telah terjadi kemajuan besar dalam pengobatan kusta, penyakitHansen ini terus menghasilkan stigma sosial yang mendalam, berdampak buruk terutama padaanak-anak, yang sering kali mengalami isolasi sosial dan diskriminasi, mempengaruhi peluangmereka dalam pendidikan dan pekerjaan. Sebagai tanggapan, Yayasan Agape Hijau Abadi telahmengadopsi pendekatan holistik berbasis kasih Kristus untuk menangani isu ini, melaluiserangkaian kegiatan yang mencakup bimbingan belajar, pelatihan keterampilan, edukasikesehatan, program beasiswa, dan kegiatan olahraga. Pendekatan ini bertujuan untukmengurangi stigma dengan mempromosikan pendidikan dan inklusi sosial, serta memberikandukungan emosional dan spiritual yang kuat untuk anak-anak yang terdampak.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, termasuk wawancara dan observasi, untukmenilai efektivitas strategi pelayanan kasih ini dalam mengubah persepsi kusta dan membukapeluang baru bagi anak-anak di komunitas yang terdampak. Hasilnya menunjukkan bahwaintegrasi dari perawatan medis dengan dukungan sosial dan spiritual tidak hanya memperbaikikondisi fisik anak-anak tetapi juga membangun rasa harga diri, kompetensi sosial, dankemandirian. Melalui pendekatan ini, Yayasan Agape Hijau Abadi menunjukkan bahwa kasihKristus dapat secara efektif mengubah stigma menjadi peluang, meningkatkan kualitas hidupanak-anak dan memfasilitasi integrasi sosial yang lebih luas dalam komunitas.

Page 11 of 13 | Total Record : 122