cover
Contact Name
Terttiaavini
Contact Email
avini.saputra@uigm.ac.id
Phone
+6285377238800
Journal Mail Official
lppm@uigm.ac.id
Editorial Address
Jl. Jend Sudirman No 629 KM 4 Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Tekno Global
ISSN : 24776955     EISSN : 23386762     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Karya-karya ilmiah dalam jurnal Tekno Global yang pertama ini merupakan hasil dari tulisan dari Praktisi, Pakar dan dedikasi para Dosen Indo Global Mandiri yang senantiasa memiliki komitmen untuk mengembangkan Ilmu pengetahuan pada bidang Keteknikan baik dalam tataran praktis maupun teoritis sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan keamanan hidup. Meningkatan kualitas karya ilmiah dalam jurnal keteknikan merupakan suatu hal yang fundamental karena pembangunan adalah penopang berlangsungnya kehidupan sebuah negara. Jurnal Ilmiah Tekno Global diterbitkan 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun pada bulan Juni dan Desember. Artikel yang diterbitkan bulan Juni diterima Dewan Redaksi paling lambat bulan Maret, dan yang diterbitkan bulan Desember diterima Dewan Redaksi paling lambat bulan September.
Articles 135 Documents
KAJIAN PERUBAHAN SPASIAL LAHAN VEGETASI DAN CADANGAN KARBON TERSIMPAN Rahma Anisa; Citra Dewi; Romi Fadly
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i02.4669

Abstract

ABSTRACT The University of Lampung, commonly referred to as Unila, is known as a green campus with open green spaces featuring various types of vegetation, such as shrubs, trees, and grasslands. The university consists of several faculties, including the Faculty of Engineering. However, in recent years, land use changes have occurred within the Faculty of Engineering, where vegetated areas have been converted into built-up areas, such as the construction of retention ponds and new buildings. This change has impacted the available carbon stock. The reduction in vegetated land is directly proportional to the decrease in carbon reserves stored in plants, which contributes to climate change. In relation to climate change caused by deforestation and land degradation, it is necessary to conserve and manage vegetated lands, as well as enhance carbon reserves, to measure the extent of changes (reduction in carbon emissions) resulting from land conservation efforts (Hairiah et al., 2007). The more abundant the carbon stored in plant biomass; the more CO2 is absorbed by the plants. Biomass measurement can be conducted in two ways: non-destructively and destructively. The non-destructive method is considered effective because it requires less time, cost, and effort. One technology that can be used for biomass measurement is aerial photography using unmanned aerial vehicles (UAVs) or drones, which tend to be effective and efficient. The Object-Based Image Analysis (OBIA) approach is an object-based method that has high accuracy in determining the available carbon stock due to dynamic changes in the extent of vegetated land in the Faculty of Engineering area at Unila between 2019 and 2024. The vegetated area on the OBIA-processed map in 2019 was 6.9886 hectares. In 2024, the vegetated area on the OBIA-processed map was 6.6652 hectares. The change in vegetated land between 2019 and 2024 was 0.3234 hectares, indicating a reduction in vegetated land due to infrastructure development in the Faculty of Engineering area. The calculation of stored carbon stock, based on field measurements, was 197.129764 tons of carbon per hectare. Keywords : Universitas Lampung, Vegetation, UAV, Carbon, OBIA   ABSTRAK Universitas Lampung atau disebut dengan Unila merupakan universitas yang dikenal sebagai kampus hijau (green campus) yang memiliki ruang terbuka hijau dengan vegetasi berupa semak belukar, pepohonan serta padang rumput. Universitas Lampung terdiri dari beberapa fakultas, salah satunya fakultas teknik. Namun, belakangan tahun terakhir terjadinya alih fungsi lahan di fakultas teknik dari lahan vegetasi menjadi lahan terbangun seperti dibangunnya embung, serta gedung-gedung baru. Hal tersebut mempengaruhi jumlah cadangan karbon yang tersedia. Pengurangan area vegetasi secara langsung berhubungan dengan penurunan cadangan karbon yang terdapat pada tanaman, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap perubahan iklim. Dalam konteks perubahan iklim yang disebabkan oleh deforestasi dan degradasi lahan, sangat penting untuk melaksanakan upaya konservasi serta pengelolaan lahan vegetasi, sekaligus meningkatkan cadangan karbon. Hal ini bertujuan untuk memahami sejauh mana perubahan (penurunan emisi karbon) terjadi akibat kegiatan konservasi tersebut (Hairiah dkk., 2007).Jumlah karbon yang tersimpan dalam biomassa tanaman merupakan indikator dari seberapa banyak CO2 yang dapat diserap. Terdapat dua metode untuk mengukur biomassa, yaitu metode non-destruktif dan destruktif. Metode non-destruktif lebih disukai karena efisiensinya dalam hal waktu, biaya, dan tenaga. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk pengukuran biomassa adalah pemotretan udara dengan menggunakan drone (UAV), yang menunjukkan efektivitas dan efisiensinya. Pendekatan Object Based Image Analysis (OBIA) adalah metode berbasis objek yang menawarkan akurasi tinggi dalam menentukan cadangan karbon yang tersedia akibat perubahan luas lahan vegetasi di Fakultas Teknik Unila antara tahun 2019 dan 2024.. Luasan vegetasi pada peta hasil pengolahan OBIA tahun 2019 luas vegetasi sebesar 6.9886 Ha. Dan untuk luasan vegetasi pada peta hasil pengolahan OBIA tahun 2024 luas vegetasi sebesar 6.6652 Ha. Hasil perubahan lahan vegetasi antara tahun 2019 dan 2024 sebesar 0.3234 Ha artinya terdapat pengurangan lahan vegetasi karena adanya pembangunan infrastruktur di area Fakultas Teknik. Perhitungan cadangan karbon tersimpan diperoleh berdasarkan pengukuran di lapangan sebesar 197.129764 Ton-C/ha Kata Kunci : Universitas lampung, Vegetasi,  Karbon, UAV, OBIA.
PENGARUH PENGGUNAAN SERBUK KAYU JATI DAN SIKA VISCOCRETE TERHADAP KUAT TEKAN BETON febryandi; Sinta Devi, Debby; Marlina, Leni
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i02.4842

Abstract

ABSTRACT Due to the growing infrastructure, the use of concrete construction is increasing. Concrete is a construction material made from a mixture of coarse aggregate, fine aggregate, cement, water, and other additives. Teak wood powder is a sawn residue from wood waste that is utilized as a fine aggregate substitute. Teak wood powder contains cellulose, hemilose, and lignin, and has the ability to bind materials well and inhibit water diffusion so as to increase the compressive strength of concrete. In addition, the addition of Sika viscocrete is also carried out to increase the compressive strength of concrete. This research analyzes the use of teak wood powder as fine aggregate with variations of 5%, 10% and 15% and sika viscocrete 0.8% by weight of cement. The test results obtained at the compressive strength of 28 days of age with the use of 5% teak wood powder is 28.03 MPa, while for 10% variation of 28 days of age obtained compressive strength of 22.04 MPa, for 15% variation of 28 days of concrete compressive strength of 20.76 MPa. The use of teak wood powder at 5% can increase the compressive strength of concrete by 6.3% compared to normal concrete added with Sika viscocrete. In addition, when compared to normal concrete without sika viscocrete, the increase occurred by 9.09%. Therefore teak wood powder can be used as an effective additive to increase the compressive strength of concrete, as well as making a positive contribution to sustainability in the construction industry. Keywords: Teak wood powder, sika viscocrete, concrete compressive strength   ABSTRAK Konstruksi beton semakin populer seiring dengan kemajuan infrastruktur. Beton adalah bahan konstruksi yang terbuat dari campuran agregat kasar, agregat halus, semen, air, dan bahan tambahan lainnya. Serbuk kayu jati merupakan sisa pengergajian dari limbah kayu yang dimanfaatkan sebagai substitusi agregat halus. Serbuk kayu jati mengandung selulosa, hemilosa, dan lignin, dan memiliki kemampuan untuk mengikat material dengan baik serta menghambat difusi air sehingga dapat meningkatkan kekuatan tekan beton. Selain itu penambahan sika viscocrete juga dilakukan untuk menambah kuat tekan beton. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan serbuk kayu jati sebagai agregat halus dengan variasi 5%,10% dan 15% dan sika viscocrete 0,8% terhadap berat semen. Hasil uji yang didapatkan pada kuat tekan umur 28 hari dengan penggunaan 5% serbuk kayu jati adalah sebesar 28,03 MPa, sedangkan untuk variasi 10% umur 28 hari didapatkan kuat tekan sebesar 22,04 MPa, untuk variasi 15% umur 28 hari kuat tekan beton 20,76 MPa. Penggunaan serbuk kayu jati sebesar 5% dapat meningkatkan kuat tekan beton sebesar 6,3% dibandingkan dengan beton normal ditambah dengan sika viscocrete. Selain itu jika dibandingkan dengan beton normal tanpa sika viscocrete peningkatan terjadi sebesar 9,09%. Oleh karena itu serbuk kayu jati dapat digunakan sebagai bahan tambahan yang efektif untuk meningkatkan kuat tekan beton, serta memberikan kontribusi positif terhadap keberlanjutan dalam industri konstruksi. Kata Kunci: Serbuk kayu jati, sika viscocrete, kuat tekan beton
ANALISIS KAPASITAS DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG DENGAN METODE US.ARMY CORPS Aisah, Elpita
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i02.4846

Abstract

ABSTRACT The bearing capacity of pile foundations is highly dependent on soil characteristics, materials, diameter, length, and installation methods. These factors affect the capacity of the pile to support the load, both from the capacity of the pile tip and the friction of the pile skin. The calculation of the bearing capacity of the foundation was carried out on the D.I. Lematang Irrigation gutter construction project in Pagar Alam City, especially on the foundation of the 3-channel gutter bridge of D.I. Lematang irrigation, to investigate whether the bearing capacity of the foundation can support the planned load or not because considering the main strength of a structure depends on its foundation, if the bearing capacity of the foundation is said to be safe, then undesirable things such as failure of the upper structure of the bridge gutter caused by foundation failure will not occur. The purpose of this study is to determine the value of the bearing capacity of the pile foundation that will be obtained to support the load above it. The calculation of the bearing capacity of the pile foundation is carried out using the U.S Army Corps method, the foundation is planned with a diameter of 1.4 m and a foundation depth of 16 m based on the Standard Penetration Test data in the calculation of the bearing capacity of the foundation, the ultimate bearing capacity value Qult is 36257.7684 kN, the permissible bearing capacity value Q all is 14503.107 kN for a single pile foundation, the number of piles is 18 with a distance of 5 m, for the efficiency value of the pile group is 1.028 and the bearing capacity of the pile foundation group Qall group is 268365.492 kN with a planned load of 265200 kN, meaning that the bearing capacity value of the pile group is greater than the planned load, meaning that this meets the requirements. Keywords: Foundation, Pile, Pile Carrying Capacity   ABSTRAK  Kapasitas dukung pondasi tiang sangat bergantung pada karakteristik tanah, bahan, diameter, Panjang,metode pemasangan. Faktor ini mempengaruhi kapasitas tiang dalam menopang beban, baik dari kapasitas ujung tiang maupun gesekan kulit tiang. Perhitungan daya dukung pondasi dilakukan pada proyek pembangunan talang air D.I Irigasi Lematang Kota Pagar Alam khususnya pada pondasi jembatan talang 3 saluran irigasi D.I Lematang, untuk menyelidiki apakah kapasitas daya dukung pondasi dapat menopang beban yang direncanakan atau tidak karena mengingat kekuatan utama pada suatu struktur tergantung pondasinya, jika kapasitas daya dukung pondasi dikatakan aman maka hal yang tidak diinginkan seperti kegagalan struktur atas talang jembatan yang disebabkan oleh kegagalan pondasi tidak akan terjadi . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya nilai kapasitas daya dukung pondasi tiang pancang yang akan didapatkan untuk menopang beban yang ada diatasnya. Perhitungan kapasitas daya dukung pondasi tiang pancang dilakukan dengan menggunakan metode U.S Army Corps, pondasi direncanakan dengan diameter sebesar 1,4 m dan kedalaman pondasi sedalam 16 m berdasarkan data Standart Penetration Test dalam perhitungan kapasitas daya dukung pondasi didapatkan nilai kapasitas daya dukung ultimit Q ult sebesar  36257,7684 kN, nilai kapasitas daya dukung izin Q all 14503,107 kN untuk pondasi tiang tunggal, didapatkan jumlah tiang sebanyak 18 buah dengan jarak 5 m, untuk nilai efesiensi kelompok tiang didapatkan 1,028 dan kapasitas daya dukung pondasi tiang pancang kelompok Qall kelompok didapatkan nilai sebesar 268365,492 kN dengan beban yang direncanakan 265200 kN artinya nilai kapasitas daya dukung kelmpok tiang lebih besar dari pada beban yang direncanakan, artinya hal ini memenuhi persyaratan. Kata Kunci: Pondasi ,Tiang Pancang, kapasitas Daya Dukung 
ANALISIS OPTIMALISASI PENGUKURAN GNSS STATIK MENGGUNAKAN JARING RADIAL Ariyantoni, Johan; Ahmad Ridho Sastra; Annisa Mustika
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i02.4847

Abstract

ABSTRACT Determining a position has progressed quite rapidly, this progress is of course closely related to the increasing development of satellite-based positioning technology, one of which is the Global Navigation Satellite System (GNSS). The GNSS system has developed along with advances in science and technology so that it can now capture signals from GPS, Galileo, Beidou and Glonass satellites. GNSS surveys have several methods, namely rapid static, stop and go, real time, and pseudo kinematic. One method that is often used is the Static method, there are many activities that require the implementation of static GNSS observations, one of which is for measuring Ground Control Points (GCP). In this research, measurements were carried out in Gunung Sitoli City, North Sumatra using a static method with radial net mode to determine the comparison between 2 different schemes, namely the 15 point and 20 point GCP schemes. The data processing process for this research was carried out using Eoffice software, which is special software that can only be used to process data from Efix Geodetic GPS. Accuracy analysis was carried out using Fisher's test and based on horizontal vertical accuracy. Based on the results of the Fisher test, it shows that there is no significant difference between schemes A & B. Meanwhile, analysis based on the horizontal vertical accuracy of the 15 GCP point A scheme has better horizontal accuracy and vertical accuracy than the 20 GCP point B scheme with an average horizontal accuracy of 0. 00566 and Vertical 0.0074 in scheme A and horizontal accuracy 0.00772 and vertical 0.00697 from scheme B. Determining the location of points and the distribution of points affects the accuracy of the results, both schemes have DOP values with an average of HDOP 1.3, VDOP 0.6 and PDOP 1.1 which are included in ideal criteria.  Keywords: GNSS, Static Method, GCP   ABSTRAK Padapenelitian ini pengukuran dilakukan di Kota Gunung Sitoli Sumatera Utara menggunakan metode statik dengan moda jaring radial untuk mengetahui perbandingan antara 2 skema berbeda yakni skema 15 titik dan 20 titik GCP. Proses pengolahan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan software Eoffice yang merupakan software khusus yang hanya bisa digunakan untuk proses pengolahan data dari GPS Geodetik Efix. Analisis ketelitian dilakukan dengan uji fisher dan berdasarkan akurasi horizontal vertikal. Hasil uji fisher menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara skema A dan B sedangkan, analisis berdasarkan akurasi horizontal vertikal skema A 15 titik GCP memiliki ketelitian horizontal dan ketelitian vertikal yang lebih baik dibanding skema B 20 titik GCP, dengan rata-rata ketelitian Horizontal 0,00566 dan Vertikal 0,0074 pada skema A dan ketelitian horizontal 0,00772 dan vertikal 0,00697 dari skema B. Penentuan lokasi titik dan persebaran titik sangat berpengaruh terhadap hasil ketelitian, kedua skema memiliki nilai DOP dengan rata-rata HDOP 1,3, VDOP 0,6 dan PDOP 1,1 yang masuk dalam kriteria ideals.  Kata Kunci : GNSS, Metode Statik, GCP
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW AND FUTURE STUDY DIRECTIONS TO COASTAL RESILIENCE Dara Kospa, Herda Sabriyah
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i02.4849

Abstract

ABSTRACT Coastal resilience is an important area of research because climate change, urbanization, and heavy coastal development are posing increasing threats. About 40% of the global population lives in coastal areas, which face major risks like rising sea levels, stronger storm surges, and damage to ecosystems. Urban growth, unsustainable economic practices, and the loss of natural protective features, such as mangroves and wetlands, make these problems worse. Indonesia, with its long coastline and large coastal population, illustrates the urgent need to improve coastal resilience, facing dangers like land sinking and loss of mangroves. This study uses a systematic literature review (SLR) and bibliometric analysis using VOSviewer, to look at global research trends in coastal resilience. Analyzing 260 academic journals shows that the United States leads in this field, due to its coastlines and academic resources, while countries like Indonesia and the UK also contribute significantly. The findings reveal that coastal resilience involves ecological, social, and economic aspects. Common keywords point out a focus on adaptive management, climate change effects, and ecosystem services, showing the complexity of improving resilience in vulnerable areas. Future research should focus on teamwork among different fields, connecting theories with practical solutions, and including resilience ideas in governance and policy-making. Policymakers should use local knowledge and prioritize sustainable practices to tackle current and future challenges. By encouraging collaboration and sharing findings in leading journals, the research community can improve understanding and implementation of effective coastal resilience strategies around the world.  Keywords : Systematic Literature Review, Coastal Resilience, Adaptive Management, Climate Change   ABSTRAK Ketahanan pesisir telah muncul sebagai fokus penelitian yang penting karena meningkatnya ancaman dari perubahan iklim, urbanisasi, dan pembangunan pesisir yang intensif. Sistem pesisir, yang menopang hampir 40% populasi global, menghadapi risiko yang signifikan seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya gelombang badai, dan degradasi ekosistem. Tantangan-tantangan ini diperburuk oleh urbanisasi yang cepat, praktik ekonomi yang tidak berkelanjutan, dan hilangnya fitur perlindungan alami seperti hutan bakau dan lahan basah. Indonesia, dengan garis pantainya yang luas dan populasi pesisir yang padat, menjadi contoh urgensi untuk mengatasi ketahanan pesisir, menghadapi ancaman mulai dari penurunan tanah hingga penggundulan hutan bakau. Studi ini menggunakan metodologi tinjauan pustaka sistematis (SLR), yang mengintegrasikan analisis bibliometrik menggunakan alat-alat seperti VOSviewer untuk mengeksplorasi tren penelitian global dalam ketahanan pesisir. Analisis terhadap 260 jurnal akademis menyoroti kepemimpinan Amerika Serikat di bidang ini, yang didorong oleh garis pantai yang luas dan sumber daya akademis, di samping kontribusi signifikan dari negara-negara seperti Indonesia dan Inggris. Temuan-temuan utama menggarisbawahi sifat multidimensi ketahanan pesisir, yang meliputi dimensi ekologi, sosial, dan ekonomi. Kelompok kata kunci frekuensi tinggi mengungkapkan fokus pada manajemen adaptif, dampak perubahan iklim, dan layanan ekosistem, yang menekankan kompleksitas peningkatan ketahanan di wilayah-wilayah yang rentan. Penelitian di masa mendatang harus memprioritaskan pendekatan interdisipliner yang menjembatani kerangka kerja teoritis dengan aplikasi praktis, mengintegrasikan konsep ketahanan ke dalam tata kelola dan kerangka kerja kebijakan. Para pembuat kebijakan harus mengadopsi strategi inklusif yang memanfaatkan wawasan lokal dan memprioritaskan pembangunan berkelanjutan untuk mengatasi tantangan saat ini dan masa depan. Dengan mendorong kolaborasi dan menyebarluaskan temuan melalui jurnal-jurnal terkemuka, komunitas penelitian dapat memajukan pemahaman dan implementasi strategi ketahanan pesisir yang efektif secara global.  Kata Kunci : Systematic Literature Review, Ketahanan Pesisir, Manajemen Adaptif, Perubahan Iklim
ANALISA PERBANDINGAN METODE CELLULAR AUTOMATA ANN DAN MARKOV UNTUK PREDIKSI TUTUPAN LAHAN DI KOTA BLITAR Arafah, Feny; Irenius Yopy Santrum; Dedy Kurnia Sunaryo; Hery Purwanto
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i02.4853

Abstract

ABSTRACT The development of urban areas in Blitar City, which is triggered by population growth and mobility, has caused changes in land cover, especially the reduction in rice fields due to land conversion for housing and infrastructure. As land cover changes occur significantly, it is necessary to develop methods to predict land cover, one of the methods is Cellular Automata (CA). The objectives of this study are to determine the results of land cover classification and prediction in 2024 by utilizing Sentinel 2A image data and comparing its accuracy with field data. The CA methods used are the CA ANN and CA Markov methods. To predict land cover in 2024, land cover data for 2016 and 2020 is needed. From the results of Sentinel 2A image processing for 2016, 2020, and 2024 using the supervised classification maximum likelihood method, 5 land cover classes were obtained including residential class, industrial/commerce/office building class, rice field class, garden class, and urban forest/ green belt/city park. The results of the 2024 classification show that the land cover area for the residential class reached 41.97%, industrial buildings 3.33%, rice fields 43.00%, gardens 0.44%, and urban forests/green belts 11.26%, with results Accuracy tests on field validation data produced an overall accuracy value of 96.07% and kappa of 94.92%. To test the accuracy of land cover prediction results against field validation data, the CA-ANN method produces an overall accuracy value of 74.51% and kappa 65.57%, while the CA-Markov method produces an overall accuracy value of 68.63% and kappa 57.80 %. Accuracy test of image classification results in 2024, the CA-ANN method produces an overall accuracy value of 72.54% and kappa 63.73%, while the CA-Markov method produces an overall accuracy value of 64.70% and kappa 53.40%. The accuracy test results show that the accuracy obtained by the CA-ANN method is classified as substantial suitability, while the accuracy obtained by the CA-Markov method is classified as medium suitability. This shows that in this study the CA-ANN method has better results for land cover prediction because it has a better level of accuracy than the CA-Markov method. Keywords : Cellular Automata ANN, Cellular Automata Markov, Supervised Classification, Land Cover   ABSTRAK Perkembangan wilayah perkotaan di Kota Blitar yang dipicu oleh pertumbuhan penduduk dan mobilitas menyebabkan perubahan tutupan lahan, terutama dengan berkurangnya lahan persawahan akibat alih fungsi lahan untuk pemukiman dan infrastruktur. Adanya perubahan tutupan lahan yang terjadi secara signifikan, maka diperlukan pengembangan metode untuk melakukan prediksi tutupan lahan, salah satu metodenya adalah Cellular Automata (CA). Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil klasifikasi dan prediksi tutupan lahan tahun 2024 dengan memanfaatkan data citra Sentinel 2A serta membandingkan keakuratannya dengan data lapangan. Metode CA yang digunakan adalah metode CA ANN dan CA Markov. Untuk melakukan prediksi tutupan lahan tahun 2024 diperlukan data tutupan lahan tahun 2016 dan 2020. Dari hasil pengolahan data citra Sentinel 2A tahun 2016, 2020, dan 2024 dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing maximum likelihood, diperoleh 5 kelas penutupan lahan di antaranya kelas pemukiman, kelas bangunan industri/ perdagangan/perkantoran, kelas sawah, kelas kebun, dan kelas hutan kota/jalur hijau/taman kota. Hasil klasifikasi tahun 2024 menunjukkan bahwa luas untuk kelas pemukiman mencapai 41,97%, bangunan industri 3,33%, sawah 43,00%, kebun 0,44%, dan hutan kota/jalur hijau 11,26%, dengan hasil uji akurasi terhadap data validasi lapangan menghasilkan nilai Overall Accuracy sebesar 96,07% dan kappa 94,92%. Untuk uji akurasi hasil prediksi tutupan lahan terhadap data validasi lapangan, metode CA-ANN mempunyai nilai Overall Accuracy 74,51% dan kappa 65,57%, sedangkan untuk metode CA-Markov menghasilkan nilai Overall Accuracy 68,63% dan kappa 57,80%. Uji akurasi terhadap hasil klasifikasi citra tahun 2024, metode CA-ANN menghasilkan nilai overall accuracy 72,54% dan kappa 63,73%, sedangkan metode CA-Markov menghasilkan nilai overall accuracy 64,70% dan kappa 53,40%. Hasil uji akurasi tersebut menunjukkan bahwa akurasi yang diperoleh oleh metode CA-ANN tergolong ke kesesuaian substansial, sedangkan akurasi yang diperoleh oleh metode CA-Markov tergolong ke kesesuaian menengah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam penelitian ini metode CA-ANN mempunyai hasil yang lebih baik untuk prediksi tutupan lahan karena mempunyai tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan metode CA-Markov. Kata Kunci : Cellular Automata ANN, Cellular Automata Markov, Supervised Classification, Tutupan Lahan
ANALISA PENILAIAN KONDISI IRIGASI RAWA TELANG I KABUPATEN BANYUASIN Baniva, Ratih; Sinta Devi, Debby
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i02.4854

Abstract

ABSTRACT  Irrigation is defined as the process of providing a controlled supply of water to agricultural land through a specially designed distribution system. The Telang I area has unique hydrological conditions as it is surrounded by several major rivers such as the Musi River, Banyuasin River and Telang River. Good irrigation management supports water conservation, uses resources sustainably and reduces environmental impacts. Irrigation condition analysis is an assessment and improvement plan for irrigation infrastructure to ensure long-term functionality. This study aims to determine the irrigation condition of Rawa Telang I in Muara Telang Sub-district, Banyuasin Regency. The methodology used includes field surveys, interviews with farmers and irrigation managers, as well as condition analysis and maintenance recommendations. The results of the research from the analysis of the condition of the channels and supporting buildings obtained maintenance recommendations. The results of the research from the analysis of channel conditions and supporting buildings obtained maintenance recommendations. Maintenance on primary channels, namely 3 channels carried out routine maintenance and 2 channels periodic maintenance. In the maintenance of secondary channels, 21 channels are carried out routine maintenance, 86 channels are carried out periodic maintenance and 11 channels are rehabilitated. Supporting buildings, namely 3 regulating buildings and 2 protective embankments are carried out periodic maintenance. The conclusion of this research is the need for maintenance measures tailored to the current conditions so that both channels and buildings pendung irrigation Rawa Telang I can function optimally and support the efficiency of water resources management. Keywords: Irrigation, Telang I, Condition Analysis   ABSTRAK Irigasi didefinisikan sebagai proses penyediaan suplai air yang terkontrol ke lahan pertanian melalui sistem distribusi yang dirancang secara khusus. Daerah Telang I memiliki kondisi hidrologi yang unik karena dikelilingi oleh beberapa sungai besar seperti Sungai Musi, Sungai Banyuasin dan Sungai Telang. Pengelolaan irigasi yang baik mendukung konservasi air, menggunakan sumber daya secara berkelanjutan dan mengurangi dampak lingkungan. Analisis kondisi irigasi berupa penilaian dan rencana perbaikan infrastruktur irigasi untuk memastikan fungsionalitas jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi irigasi Rawa Telang I di Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin. Metodologi yang digunakan meliputi survei lapangan, wawancara dengan petani dan pengelola irigasi, serta analisis kondisi dan rekomendasi pemeliharaan. Hasil penelitian dari analisis kondisi saluran dan bangunan penunjang diperoleh rekomendasi pemeliharaan. Pemeliharaan pada saluran primer, yaitu 3 saluran dilakukan pemeliharaan rutin dan 2 saluran pemeliharaan berkala. Pada pemeliharaan saluran sekunder yaitu 21 saluran dilakukan pemeliharaan rutin, 86 saluran dilakukan pemeliharaan berkala dan 11 saluran dilakukan rehabilitasi. Bangunan pendukung yaitu 3 bangunan pengatur dan 2 tanggul pelindung dilakukan pemeliharaan berkala. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlunya tindakan pemeliharaan yang disesuaikan dengan kondisi saat ini sehingga baik saluran maupun bangunan pendung irigasi Rawa Telang I dapat berfungsi dengan optimal dan mendukung efisiensi pengelolaan sumber daya air. Kata Kunci : Irigasi, Telang I, Analisis Kondisi
Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh Terhadap Estimasi Produktivitas Tanaman Karet di PT Perkebunan Nusantara I Regional 7 Kebun Kedaton Syafitri, Nina; Fajriyanto; Anisa, Rahma
Jurnal Tekno Global Vol. 14 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v14i01.4859

Abstract

ABSTRACT Indonesia is the world's second largest rubber producer with a plantation area of 3.6 million hectares, contributing around 25% to global rubber demand. One of the important plantations in Indonesia is PT Perkebunan Nusantara VII Kebun Kedaton, with a production capacity of 10 tons per day. However, its productivity declined in 2021 due to reduced latex yields influenced by tree age and land conditions. Currently, productivity calculations are still done manually. Remote sensing monitoring technology is one method that can be used to monitor rubber productivity. This study aims to determine the relationship between the vegetation index algorithm and the age and productivity of rubber trees, as well as to compare the results of processing the EVI, ARVI, and IPVI algorithms in estimating productivity at PT Perkebunan Nusantara I Regional 7 Kebun Kedaton. The data used include Sentinel-2A imagery obtained in October 2023, land block boundaries, tree age data, and 2023 production data. The analysis was carried out using simple and multiple linear regression. The results showed that the productivity estimates using the EVI algorithm were 1,758.7 kg/ha/month, ARVI 1,762.1 kg/ha/month, and IPVI 1,782.2 kg/ha/month, while the productivity measured in the field was 1,766.3 kg/ha/month. The RMSE values for the rubber tree productivity estimation model were 1.121 for EVI, 0.619 for ARVI, and 2.334 for IPVI.  Keywords : Productivity Estimation, Rubber Plants, Vegetation Index   ABSTRAK Indonesia adalah produsen karet terbesar kedua di dunia dengan luas perkebunan mencapai 3,6 juta hektar, berkontribusi sekitar 25% terhadap permintaan karet global. Salah satu perkebunan penting di Indonesia adalah PT Perkebunan Nusantara VII Kebun Kedaton, dengan kapasitas produksi 10 ton per hari. Namun, produktivitasnya menurun pada tahun 2021 karena berkurangnya hasil lateks yang dipengaruhi oleh usia pohon dan kondisi lahan. Saat ini, perhitungan produktivitas masih dilakukan secara manual. Teknologi pemantauan melalui penginderaan jauh adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk memantau produktivitas karet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara algoritma indeks vegetasi dengan usia dan produktivitas pohon karet, serta membandingkan hasil pemrosesan algoritma EVI, ARVI, dan IPVI dalam estimasi produktivitas di PT Perkebunan Nusantara I Regional 7 Kebun Kedaton. Data yang digunakan mencakup citra Sentinel-2A yang diperoleh pada Oktober 2023, batas blok lahan, data usia pohon, dan data produksi tahun 2023. Analisis dilakukan menggunakan regresi linear sederhana dan berganda. Hasil penelitian menunjukkan estimasi produktivitas menggunakan algoritma EVI sebesar 1.758,7 Kg/Ha/Bulan, ARVI 1.762,1 Kg/Ha/Bulan, dan IPVI 1.782,2 Kg/Ha/Bulan, sementara produktivitas yang terukur di lapangan adalah 1.766,3 Kg/Ha/Bulan. Nilai RMSE untuk model estimasi produktivitas pohon karet adalah 1,121 untuk EVI, 0,619 untuk ARVI, dan 2,334 untuk IPVI.   Kata Kunci : Estimasi Produktivitas, Tanaman Karet, Indeks Vegetasi
Perbandingan Nilai Ketelitian Geometri Hasil Pengolahan Foto Udara Dengan UAV Wingtra One Gen II Dan Mavic 3 Enterprise (Studi Kasus: Proyek Jalan Tol Cimanggis Cibitung) Silaban, Regina Marito; Fadly, Romi; Anisa, Rahma; Dewi, Citra
Jurnal Tekno Global Vol. 14 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v14i01.4878

Abstract

ABSTRACT The UAVs used for photogrammetric mapping have become increasingly diverse, each with distinct specifications. The Wingtra One Gen II has a relatively large size, making it difficult to access steep terrains, while the Mavic 3 Enterprise, with its smaller size, is more capable of reaching even the most challenging areas. This research aims to determine the better UAV based on geometric accuracy, data processing time, and orthophoto quality.The study utilized aerial imagery captured by the Wingtra One Gen II and Mavic 3 Enterprise UAVs in the CCTW Toll Road project. Data processing was carried out using Agisoft Metashape software. The outputs—DEM and orthomosaic—were analyzed and compared for geometric accuracy using 10 Ground Control Points (GCPs) and 9 Independent Check Points (ICPs) as references for data validation, following the guidelines of the Head of the Geospatial Information Agency Regulation No. 6 of 2018 on Technical Standards for Basic Map Accuracy.The results showed that the Wingtra One Gen II had superior geometric accuracy for orthophotos, with better LE90 and CE90 values compared to the Mavic 3 Enterprise. However, in terms of processing time, the Mavic 3 Enterprise was faster, completing the task in 9 hours, 18 minutes, and 13 seconds, compared to the Wingtra One Gen II, which took 2 days, 7 hours, and 16 minutes. The planimetric quality of the orthophotos produced by both UAVs was equally good, aligning perfectly with field conditions.   Keywords: photogrammetry, Wingtra One Gen II, Mavic 3 Enterprise, geometric accuracy   ABSTRAK Wahana atau UAV yang digunakan pada pemetaan dengan metode fotogrametri semakin banyak jenisnya dengan spesifikasi yang berbeda. Wingtra One Gen II memiliki ukuran yang relatif besar sehingga sulit untuk menjangkau area yang terjal sedangkan Mavic 3 Enterprise memiliki ukuran kecil sehinggga mudah menjangkau medan area yang terjal sekalipun. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan wahana yang lebih baik berdasarkan nilai ketelitian geometrik, waktu pemrosesan data, dan kualitas othophoto.Penelitian ini menggunakan data foto udara hasil perekaman wahana Wingtra One Gen II dan Mavic 3 Enterprise pada proyek Jalan Tol CCTW. Software pengolahan menggunakan agisoft metashape. Hasil pengolahan yaitu DEM dan Orhomosaic dari kedua wahana dianalisis dan dibandingkan berdasarkan nilai ketelitian geometrik, dengan memanfaatkan titik kontrol tanah yaitu Ground Control Points (GCP) sebanyak 10 titik  dan Independent Check Point (ICP) sebanyak 9 titik sebagai referensi untuk validasi datanya dengan menggunakan panduan Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial No. 6 Tahun 2018 tentang Pedoman Teknik Ketelitian Peta Dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wahana Wingtra One Gen II memiliki nilai ketelitian geometrik orthopoto LE 90 dan CE 90 lebih baik daripada wahana Mavic 3 Enterprise. Sedangkan dalam waktu pemrosesan, wahana Mavic 3 Enterprise lebih cepat yaitu 9 jam 18 menit 13 detik dibandingkan Wingtra One Gen II dengan waktu pemrosesan 2 hari 7 jam 16 menit. Kualitas planimetris orthophoto dari kedua wahana sama-sama menghasilkan kualitas yang baik yaitu tegak lurus sesuai dengan kondisi di lapangan.  Kata kunci: fotogrametri, Wingtra One Gen II, Mavic 3 Enterprise, ketelitian geometric
Ekstraksi Citra Foto Udara untuk Pemetaan Morfologi Bangunan Pada Kawasan Rawan Banjir (Studi Kasus:Keluíahan 9 Ilir, Kota Palembang): Morfologi bangunan, pemetaan udara, drone Shalihat, Annisa Kurnia Shalihat; Haidir, Hala; Natul, Al Shida
Jurnal Tekno Global Vol. 14 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v14i01.5068

Abstract

ABSTRACT  Mapping using drones has been widely used to fulfill various jobs because it is very important effective in terms of time, cost and map quality. The results of drone mapping really meet the needs of the cases certain areas that require up-to-date but quickly obtained high-detail images, which can then be translated into information and are effective enough to replace field surveys. Palembang city is an area that is mostly formed on swamp land which is almost always flooded throughout the year. On Initially, the settlement culture of the Palembang community was influenced by the presence of rivers, soft soil and areas tidal swamp, thus forming a pattern of two residential cores that developed from the interaction of indigenous communities north of the river and settlers to the south. river. Population growth and increasingly intensive activities Humans in Palembang City have a big impact on land use changes on a large-scale magnitude. The aim of this research is to identify building typologies in the city of Palembang. The method used is to extract geometric information from aerial photo image data (orthophoto). Then data These are classified based on building typology criteria, namely: stilt houses/pyramid houses, buildings 1-story residence, 2-story residential building, shophouse/office building, educational facilities building, buildings for religious facilities, cultural heritage buildings.  Keywords : Building morphology, aerial mapping, drone   ABSTRAK Pemetaan dengan menggunakan drone sudah banyak dilakukan untuk memenuhi berbagai pekerjaan karena sangat efektif dari segi waktu, biaya dan kualitas peta. Hasil pemetaan drone sangat memenuhi kebutuhan pada kasus-kasus tertentu yang membutuhkan gambar dengan detail tinggi terkini namun cepat diperoleh, yang kemudian dapat diterjemahkan menjadi informasi dan cukup efektif untuk menggantikan survei lapangan. Kota Palembang merupakan daerah yang sebagian besar terbentuk pada lahan rawa yang hampir selalu tergenang air sepanjang tahun. Pada awalnya budaya permukiman masyarakat Palembang dipengaruhi oleh keberadaan sungai, tanah lunak, dan Kawasan rawa pasang surut, sehingga membentuk pola dua inti permukiman yang berkembang dari interaksi masyarakat adat di utara sungai dan pendatang di selatan. sungai. Pertambahan jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas manusia di Kota Palembang memberikan dampak yang besar terhadap perubahan tata guna lahan secara besar-besaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipologi bangunan di kota Palembang. Metode yang digunakan adalah dengan mengekstrak informasi geometri dari data citra foto udara (ortofoto). Kemudian data tersebut diklasifikasi berdasarkan kriteria tipologi bangunan yaitu: rumah panggung/rumah piramida, bangunan tempat tinggal 1 lantai, bangunan tempat tinggal 2 lantai, ruko/gedung perkantoran bangunan sarana pendidikan, bangunan sarana peribadatan, bangunan cagar budaya.   Kata Kunci : Morfologi bangunan, pemetaan udara, drone