Pencapaian visi dan misi rumah sakit merupakan tujuan utama dari pengelolaan organisasi rumah sakit. Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, tentu diperlukan perencanaan yang berbasis data dan terukur. Orientasi pelayanan rumah sakit saat ini semakin dinamis, karena selain melakukan pelayanan sosial, rumah sakit juga dituntut untuk mengembangkan aspek bisnis guna memperkuat basis finansial. Pendapatan keuangan atau finansial rumah sakit menjadi kegiatan bisnis yang harus dilakukan. Meskipun demikian, rumah sakit di Indonesia tetap mengutamakan aspek kemanusiaan, yang harus memperhatikan pelayanan baik kepada pasien sebagai pelanggan maupun kepada pegawai sebagai pekerja. Oleh karena itu, tidak tepat jika keberhasilan suatu rumah sakit hanya dilihat dari sudut pandang finansial semata (Dewi et al). Untuk memastikan tercapainya tujuan organisasi, rumah sakit perlu memperhatikan berbagai aspek yang mendukung proses perencanaan dan pelaksanaan strategi. Salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam implementasi rencana strategis (Arini T, 2015). Sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan rencana strategis, penerapan manajemen strategis yang ideal sangat diperlukan. Rumah sakit harus memiliki rencana strategis yang komprehensif untuk mencapai tujuan jangka panjang, efisiensi, serta pengembangan organisasi. Rumah sakit perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, termasuk perubahan dalam teknologi dan kondisi sosial ekonomi. Rumah sakit dituntut untuk dapat beradaptasi dalam menyediakan sistem pelayanan kesehatan yang efektif dan berkualitas. Jika tidak mampu menyesuaikan, rumah sakit akan tertinggal dalam persaingan pelayanan. (Hammad, Ramie A, 2022). Salah satu rumah sakit yang menghadapi tantangan dalam penerapan strategi bisnis adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Chasan Boesoirie Ternate. RSUD ini merupakan rumah sakit tipe B pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Meskipun telah menyusun dokumen rencana strategis untuk periode 2018–2022, dokumen tersebut tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai isu-isu strategis serta masalah internal dan eksternal yang dihadapi oleh rumah sakit. Selain itu, dokumen tersebut tidak disosialisasikan secara menyeluruh kepada pihak terkait di rumah sakit, sehingga banyak pelaksana struktural dan fungsional yang kurang memahami arah dan tujuan rumah sakit. Berdasarkan studi pendahuluan, penulis menemukan beberapa masalah yang terjadi di rumah sakit ini, antara lain: defisit keuangan pada tahun 2022, meningkatnya utang rumah sakit kepada pihak ketiga, banyaknya fasilitas rumah sakit yang rusak, sistem informasi rumah sakit yang tidak optimal, serta terjadinya aksi protes pegawai yang mengganggu pelayanan rumah sakit. Hasil wawancara dengan pihak perencanaan menunjukkan bahwa dokumen tersebut lebih disusun untuk memenuhi kebutuhan administrasi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), dan kurang memperhatikan pemetaan isu-isu strategis yang relevan dengan kondisi rumah sakit. Meskipun dokumen rencana strategis Rumah Sakit dr. H. Chasan Boesoirie periode 2018–2022 sudah mencantumkan beberapa elemen penilaian kinerja, namun perlu dilakukan analisis lebih lanjut dengan metode Balanced Scorecard (BSC). Balanced Scorecard pada organisasi rumah sakit memiliki peranan penting dan berdampak positif bagi perkembangan organisasi. Ronita S, et al (2023). BSC terdiri dari 4 (empat) perspektif penilaian utama yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal serta pembelajaran dan inovasi. Pratistha (2019). Penelitian yang dilakukan oleh Rosita, S pada tahun 2021 membuktikan bahwa penerapan Balanced Scorecard di organisasi rumah sakit memainkan peran yang sangat penting dan memberikan dampak positif terhadap perkembangan organisasi. Penelitian ini didukung oleh beberapa kajian kepustakaan yang mengeksplorasi dampak implementasi BSC di rumah sakit. Hasilnya menunjukkan bahwa metode BSC memberikan dampak positif pada sebagian besar penelitian, khususnya dalam hal kepuasan pasien, kinerja keuangan, dan kinerja manajemen (Amer et al., 2022). Metode BSC telah banyak diterapkan di sektor rumah sakit di Indonesia. Penerapan metode ini terbukti memberikan manfaat dalam memberikan arah yang jelas untuk mencapai tujuan rumah sakit sesuai dengan visi dan misi, serta membantu dalam mengelola keseimbangan antara kinerja keuangan dan non-keuangan. Selain itu, BSC juga berperan dalam mendorong budaya kerja yang positif, meningkatkan motivasi karyawan, serta menyesuaikan perubahan lingkungan kerja dengan kebutuhan rumah sakit (Muhsyaf & Aoki, 2018). Penelitian lain mengenai implementasi BSC dalam penyusunan strategi RSUD Wangaya Denpasar menunjukkan hasil yang dapat dijadikan acuan pengembangan rumah sakit ke depan. Berdasarkan analisis empat perspektif BSC, fokus pengembangan mencakup peningkatan sistem informasi berbasis teknologi, pengoptimalan waktu tunggu pelayanan, peningkatan pendapatan dan efisiensi, serta program retensi pasien (Dewi et al., 2017). Penerapan BSC dalam penilaian kinerja pelayanan rumah sakit di Maluku Utara belum pernah dilakukan, namun penelitian dengan menggunakan metode BSC di Intansi lain telah dilakukan oleh Fazry S tahun 2014 menunjukan bahwa penilaian kinerja dengan menggunakan metode BSC untuk kelima kabupaten/kota mencapai predikat cukup. Balanced Scorecard (BSC) mencakup tujuan dan pengukuran yang menggambarkan kesuksesan akhir dalam pencapaian laba. Pengukuran kinerja keuangan, seperti pendapatan operasional dan tingkat pengembalian investasi, menggambarkan sejauh mana strategi perusahaan dan implementasinya dapat meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Peningkatan kinerja keuangan dicapai melalui dua pendekatan utama: pertumbuhan pendapatan dan peningkatan produktivitas (Atkinson et al., 2012; Kurniati, 2021; Lestari & Sumarsih, 2016. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis rencana strategi bisnis Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Chasan Boesoirie Ternate dengan pendekatan Balanced Scorecard.