cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 205 Documents
TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DAN CEDERA KULIT AKIBAT PEREKAT MEDIS PADA PASIEN ANAK Pasa, Cita Wulan; Nurhaeni, Nani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.587

Abstract

Pengetahuan perawat mengenai cedera kulit akibat perekat medis atau medical adhesive-related skin injury (MARSI) dan cara mencegahnya sangat penting untuk mengurangi kejadian MARSI dan mencegah komplikasinya pada pasien anak karena mereka rentan terhadap cedera kulit berhubungan dengan lapisan kulit mereka yang tipis. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan tingkat pengetahuan perawat dan kejadian MARSI pada pasien anak. Metode: Penelitian ini menggunakan mode kuantitatif korelasional dengan desain potong lintang. Total jumlah sampel partisipan ialah 153 perawat yang bekerja di rumah sakit tipe A di Jakarta dengan teknik pengambilan sampel probabilitas berupa simple random sampling. Kriteria inklusinya ialah perawat yang berpraktik di ruang rawat inap anak. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa Kuesioner Pengetahuan Perawat tentang MARSI pada Anak dan Kuesioner Kejadian MARSI. Uji statistik menggunakan uji korelasional chi kuadrat. Hasil: Sebanyak 54,2% partisipan memiliki pengetahuan baik tentang kejadian MARSI pada pasien anak dan sebanyak 38,6% partisipan melaporkan adanya kejadian MARSI dalam batas rendah. Ada hubungan signifikan secara statistik antara tingkat pengetahuan perawat dan kejadian MARSI (p = 0,001). Diskusi: Perawat dengan tingkat pengetahuan yang baik terhadap kejadian MARSI seperti deteksi dini, pencegahan, dan penanganan memiliki kemampuan yang lebih baik pula untuk melaporkan adanya kejadian MARSI pada pasien anak, mengingat pasien anak memiliki sensitivitas kulit yang lebih dibandingkan individu dewasa. Simpulan: Penting bagi perawat untuk terus mengikuti penelitian dan pedoman praktik terkini dalam deteksi dini, pencegahan, dan penanganan MARIS untuk mencegah komplikasi yang lebih lanjut pada pasien. Institusi rumah sakit perlu membuat standar prosedur operasional terkait dengan teknik penggunaan dan pelepasan perekat medis yang sesuai dengan standar. Kata Kunci: kejadian MARSI pada anak, pencegahan, dan pengetahuan perawat Nurses’ Level of Knowledge and Medical Adhesive-Related Skin Injury (MARSI) in Pediatric Patients ABSTRACT Nurses’ knowledge of medical adhesive-related skin injury (MARSI) and its prevention is crucial to reducing the incidence of MARSI and preventing complications, particularly in pediatric patients who are more vulnerable due to the thinness of their skin. Research Objective: This study aims to identify the correlation between nurses’ level of knowledge and the occurrence of MARSI in pediatric patients. Methods: This is a quantitative correlational study with a cross-sectional design. The total sample consisted of 153 nurses working in an A-type hospital in Jakarta, selected using probability-based simple random sampling. Inclusion criteria included nurses practicing in pediatric inpatient wards. The study employed a Nurse Knowledge Questionnaire on Pediatric MARSI and a MARSI Occurrence Questionnaire. Data were analyzed using the Chi-square correlation test. Results: A total of 54.2% of participants demonstrated good knowledge regarding MARSI in pediatric patients, and 38.6% reported a low level of MARSI occurrence. A statistically significant correlation was found between nurses’ knowledge levels and the occurrence of MARSI (p = 0.001). Discussion: Nurses with higher levels of knowledge regarding MARSI—including early detection, prevention, and management—showed greater ability to report MARSI occurrences in pediatric patients, who are at increased risk due to their more sensitive skin compared to adults. Conclusion: It is essential for nurses to remain updated on current research and clinical guidelines related to the early detection, prevention, and management of MARSI to prevent further complications in pediatric patients. Hospitals should establish standard operating procedures concerning the appropriate application and removal of medical adhesives in accordance with best practices. Keywords: MARSI occurrence in children, prevention, nurse knowledge
PENGARUH TERAPI SUJOK TERHADAP NYERI: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Nasution, Siti Zahara; Hondro, Helpianus Siswanto; Aprillina, Yeriska
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.588

Abstract

Tujuan penelitian: Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi sujok terhadap nyeri. Metode: penelitian ini menggunakan systematic literature review. Pencarian artikel menggunakan database Google Scholar, Emerald Insight, EBSCO host, dan Science Direct Elsevier dari tahun 2014–2024 dan proses seleksi menggunakan diagram PRISMA. Kriteria inklusi dalam penelitian mencakup artikel penelitian tahun 2014–2024 yang membahas pengaruh terapi sujok pada nyeri dan tersedia dalam bahasa Inggris atau Indonesia. Kriteria eksklusi mencakup artikel yang tidak relevan dengan penggunaan terapi sujok, kurangnya informasi yang cukup, fokus pada minyak esensial lain, dan sampel yang tidak relevan. Hasil: Didapatkan 10 artikel yang menunjukkan bahwa terapi sujok dapat mengurangi rasa nyeri dengan penggunaan metode yang beragam, instrumen pengukuran nyeri yang berbeda di setiap penelitian, dan tidak semua penelitian melaporkan ada atau tidaknya penggunaan terapi farmakologi yang menyertai. Diskusi: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terapi sujok mengurangi berbagai jenis nyeri pada responden dengan kondisi berbeda, seperti nyeri persalinan, nyeri muskuloskeletal, nyeri dismenorea, dan gejala dyspnea pada pasien COVID-19. Kesimpulan: Terapi sujok dapat menurunkan nyeri dan penggunaan terapi sujok  dengan frekuensi pemakaian yang tepat dapat menjadi alternatif yang efektif dalam mengurangi nyeri bagi pasien. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas populasi, menggunakan pengukuran konsisten, serta mengeksplorasi frekuensi, durasi, dan mekanisme terapi sujok. Kata Kunci: nyeri, terapi sujok Effect of Su Jok Therapy on Pain:  A Systematic Literature Review ABSTRACT   Objective: This study aims to investigate the effect of Su Jok therapy on pain.  Methods: This research employs a Systematic Literature Review approach. Articles were retrieved from databases such as Google Scholar, Emerald Insight, EBSCOhost, and ScienceDirect Elsevier, covering publications from 2014 to 2024. The selection process followed the PRISMA diagram. The inclusion criteria comprised research articles published between 2014 and 2024 that discuss the effects of Su Jok therapy on pain, available in either English or Indonesian. The exclusion criteria encompassed articles that were not relevant to the application of Su Jok therapy, lacked sufficient information, focused on other essential oils, or involved irrelevant samples. Results: A total of 10 articles were identified, demonstrating that Su Jok therapy can alleviate pain through various methods. However, the studies used different pain measurement instruments, and not all studies reported whether pharmacological therapy was concurrently administered. Discussion: The findings indicate that Su Jok therapy effectively reduces different types of pain among respondents with varying conditions, such as labor pain, musculoskeletal pain, dysmenorrhea, and dyspnea symptoms in COVID-19 patients.  Conclusion: Su Jok therapy has the potential to alleviate pain, and its appropriate frequency of application can serve as an effective alternative for pain management.  Recommendation: Future research is advised to expand the study population, adopt consistent measurement tools, and further explore the frequency, duration, and mechanisms of Su Jok therapy.  Keywords: pain, Su Jok therapy
HUBUNGAN SLEEP HYGIENE DENGAN KUALITAS TIDUR PADA SISWA SMA X DI KABUPATEN BOGOR Anggraini, Nourmayansa Vidya; Ritanti, Ritanti; Rifai, Akbar Ridho
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.652

Abstract

Latar belakang: Kualitas tidur merupakan isu kesehatan global yang signifikan. WHO mencatat 16,6% populasi dunia memiliki kualitas tidur buruk, dengan angka tertinggi di Bangladesh (40%) dan terendah di Indonesia serta Kenya. Di Indonesia, 51% masyarakat kurang tidur, dengan 21% tidur kurang dari lima jam per hari. Tujuan penelitian: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan sleep hygiene dengan kualitas tidur pada siswa SMA X di wilayah Kabupaten Bogor. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif noneksperimental dengan desain deskriptif korelasional serta menggunakan pendekatan study cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan berjumlah 87 sampel yang didapatkan melalui teknik total sampling. Populasi berjumlah 87 karena di berada suatu sekolah khusus duafa dengan siswa laki-laki. Data didapatkan dengan melakukan pengisian kuesioner data demografi, kuesioner Adolescence Sleep Hygiene Scale yang telah dimodifikasi, dan Pitssburgh Sleep Quality Index. Hasil analisis: Rata-rata skor sleep hygiene keseluruhan adalah 2,47, dengan 47,1% responden memiliki kebiasaan tidur yang baik dan 52,9% tergolong buruk. Sebanyak 45 siswa (55,2%) memiliki kualitas tidur yang baik dan 39 siswa (44,8%) memiliki kualitas tidur yang buruk. Terdapat hubungan signifikan antara sleep hygene dan kualitas tidur dengan nilai korelasi 0,598 dan p-value0,000. Diskusi: Sleep hygiene yang baik dapat meningkatkan kualitas tidur pada remaja. Hal ini menegaskan bahwa semakin baik sleep hygiene, semakin baik pula kualitas tidurnya. Kesimpulan: Perlunya edukasi dan penerapan disiplin sleep hygiene harus dilakukan secara menyeluruh. Pelayanan kesehatan harus menyediakan pendekatan yang lebih holistik dalam menangani masalah tidur, termasuk terapi yang mempertimbangkan faktor psikologis dan medis, guna membantu remaja mengatasi gangguan tidur yang mereka alami. Diharapkan siswa dapat memperhatikan penerapan sleep hygiene agar memperoleh kualitas tidur yang baik.Kata Kunci: kualitas tidur, remaja, sleep hygiene Correlations Between Sleep Hygiene and Sleep Quality Among High School Students at SMA X in the Bogor Region ABSTRACTBackground: Sleep quality is a significant global health issue. According to the World Health Organization (WHO), 16.6% of the global population experiences poor sleep quality, with the highest prevalence in Bangladesh (40%) and the lowest in Indonesia and Kenya. In Indonesia, 51% of the population is sleep-deprived, and 21% sleep less than five hours per day. Research Objective: This study aims to examine the correlation between sleep hygiene and sleep quality among students of SMA X in the Bogor Regency. Methods: This study employed a quantitative, non-experimental method using a descriptive-correlational design with a cross-sectional approach. A total of 87 students participated in the study through total sampling, as the school serves underprivileged male students exclusively. Data were collected using a demographic questionnaire, a modified version of the Adolescent Sleep Hygiene Scale, and the Pittsburgh Sleep Quality Index. Results: The average overall sleep hygiene score was 2.47. Of the respondents, 47.1% exhibited good sleep hygiene habits, while 52.9% showed poor habits. A total of 45 students (55.2%) had good sleep quality, and 39 students (44.8%) had poor sleep quality. A significant correlation was found between sleep hygiene and sleep quality, with a correlation coefficient of 0.598 and a p-value of 0.000. Discussion: Good sleep hygiene is associated with improved sleep quality among adolescents. These findings indicate that the better the sleep hygiene practices, the better the sleep quality. Conclusion: Comprehensive education and implementation of disciplined sleep hygiene are essential. Healthcare services should adopt a more holistic approach in addressing sleep problems, including therapies that consider both psychological and medical factors, to support adolescents in overcoming sleep disturbances. Students are encouraged to adopt proper sleep hygiene practices to achieve better sleep quality. Keywords: Sleep quality, Adolescents, Sleep hygiene
HUBUNGAN POLA ASUH DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI DENGAN PERILAKU PICKY EATER PADA ANAK PRASEKOLAH Maolidya, Winona; Nurhaeni, Nani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.606

Abstract

Perilaku picky eater merupakan fenomena masalah makan yang sering ditemukan pada anak prasekolah dan hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pola asuh dan pengetahuan ibu tentang gizi dengan perilaku picky eater pada anak prasekolah. Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan menggunakan instrumen Parenting Styles and Dimensions Questionnaire–Shot Form (PSDQ-SF), instrumen pengetahuan ibu tentang gizi, dan instrumen Child Eating Behaviour Questionnaire (CEBQ) dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 159 responden yang dipilih dengan teknik multistage sampling di Jakarta Selatan dan dilakukan pada bulan Februari–April 2024. Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji chi square, uji Fisher exact, dan uji Mann Whitney. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas orang tua, yaitu sebanyak 83%, menerapkan pola asuh demokratis. Tingkat pengetahuan ibu mengenai gizi yang baik mencapai 57,9%. Sementara itu, prevalensi perilaku picky eater pada anak prasekolah tercatat sebesar 23,3%. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian ini juga dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh (p value < 0,05) dan pengetahuan ibu tentang gizi (p value < 0,05) dengan perilaku picky eater pada anak prasekolah. Diskusi: Pola asuh yang tepat dan pengetahuan ibu yang baik tentang gizi akan berhubungan dengan perilaku picky eater pada anak, begitupun sebaliknya. Kesimpulan: Terdapat hubungan pola asuh dan pengetahuan ibu tentang gizi dengan perilaku picky. Diperlukan penerapan pola asuh yang tepat dan sebaiknya ibu memiliki pengetahuan tentang gizi yang baik untuk mendukung perkembangan pola makan sehat anak. Kata Kunci: anak usia prasekolah, gizi, ibu, orang tua, pengetahuan, picky eater, pola asuh Correlation Between Parenting Styles and Maternal Nutritional Knowledge with Picky Eater Behavior in Preschool-Aged Children ABSTRACT  Picky eater behavior is a common feeding problem observed in preschool-aged children and may be influenced by both internal and external factors.  Research Objective: This study aims to identify the correlation between parenting styles and maternal knowledge of nutrition with picky eater behavior in preschool-aged children.  Methods: A cross-sectional research design was employed, utilizing the Parenting Styles and Dimensions Questionnaire – Short Form (PSDQ-SF), a maternal nutrition knowledge questionnaire, and the Child Eating Behaviour Questionnaire (CEBQ), all of which have been tested for validity and reliability. The study involved 159 respondents selected through multistage sampling in South Jakarta and was conducted between February and April 2024. Hypothesis testing was performed using the Chi-square test, Fisher's exact test, and the Mann-Whitney U test.  Results: The findings revealed that the majority of parents (83%) adopted a democratic parenting style. A total of 57.9% of mothers demonstrated a good level of nutritional knowledge. The prevalence of picky eater behavior among preschool children was recorded at 23.3%. Furthermore, the results indicated a significant correlation between parenting style (p < 0.05) and maternal nutritional knowledge (p < 0.05) with picky eater behavior in preschool-aged children.  Discussion: Appropriate parenting styles and adequate maternal nutritional knowledge are associated with picky eating behavior in children. Conversely, inappropriate parenting and insufficient knowledge may contribute to the development of such behavior.  Conclusion: There is a significant correlation between parenting styles and maternal knowledge of nutrition with picky eater behavior. The implementation of appropriate parenting practices and improved maternal nutritional knowledge are essential to support the development of healthy eating patterns in children.  Keywords: Preschool-aged children, nutrition, maternal, parents, knowledge, Picky eater, parenting styles
PREVALENCE OF OBESITY AND ITS IMPLICATIONS FOR DIABETES AND HYPERTENSION RISK Ismail, Ismail
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.654

Abstract

Objective: This study aimed to determine the prevalence of obesity and assess its implications for the risk of diabetes and hypertension based on anthropometric and metabolic parameters.  Methods: A cross-sectional study was conducted among employees of the Nursing Department at Makassar Polytechnic in 2025. A total of 42 respondents were selected using a purposive sampling technique. Anthropometric measurements included Body Mass Index (BMI) and abdominal circumference. Metabolic parameters assessed were fasting blood sugar, blood pressure, and total cholesterol levels. Data were analyzed with descriptive and inferential statistics, including Pearson and Spearman correlation tests, and logistic regression analysis (p ≤ 0.05).  Results: of 61.9% of respondents were classified as obese (BMI ≥ 25 kg/m²). Elevated fasting blood sugar was observed in 90.5% of respondents, with 42.9% classified as pre-diabetic and 47.6% diagnosed with diabetes. Hypertension was present in 19% of respondents, while 26.2% had high cholesterol levels. A significant correlation was found between obesity and both diabetes (p = 0.036) and hypertension (p = 0.005).  Discussion: The findings demonstrated obesity as a major risk factor for diabetes and hypertension, with excessive body fat contributing to insulin resistance and neurohormonal dysregulation. The study underscores the need for early intervention through lifestyle modifications and workplace health programs.  Conclusion: The high prevalence of obesity in this population is strongly linked to an increased risk of metabolic disorders. Targeted interventions focusing on dietary regulation, physical activity promotion, and regular health screenings are essential to mitigate these risks.Keywords: Obesity, diabetes, hypertension, metabolic risk.
RESPONS EMOSIONAL DAN STRATEGI KOPING MAHASISWA KEPERAWATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA Ernawati, Ernawati; Ardiyati, Adelina Vidya; Pelawati, Ratna; Kadir, Afrizal Nur
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.686

Abstract

Tujuan: mengetahui gambaran respons emosional yang dirasakan serta strategi koping yang digunakan mahasiswa dalam menghadapi pembelajaran daring. Metode: Jenis penelitian ini ialah kuantitatif deskriptif berupa studi observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 205 mahasiswa yang terdiri atas 4 angkatan berbeda yang diambil menggunakan teknik quota sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu PANAS-SF (Positive Affect Negative Affect Schedule-Short Form) untuk respons emosional dan ACS(Academic Coping Strategies) Scale untuk strategi koping. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei–Juni 2021. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil: Penelitian diperoleh 205 responden dengan persebaran berdasarkan jenis kelamin yaitu 188 perempuan (91,7%) dan 17 laki-laki (8,3%). Respons emosional berupa afeksi positif sebanyak 126 mahasiswa (61,5%) dan afeksi negatif sebanyak 79 mahasiswa (38,5%). Strategi koping yang digunakan berupa approach coping sebanyak 154 mahasiswa (75,1%), avoidance coping sebanyak 24 mahasiswa (11,7%), social support coping sebanyak 27 mahasiswa (13,2%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara respons emosional dan strategi koping mahasiswa (p-value < 0,05). Mahasiswa yang menggunakan approach dan social support coping sebagian besar adalah mereka yang memiliki afeksi positif, sedangkan yang menggunakan avoidance coping sebagian besar adalah mereka yang memiliki afeksi negatif. Diskusi: Mahasiswa yang menggunakan approach dan social support coping sebagian besar adalah mereka yang memiliki afeksi positif, sedangkan yang menggunakan avoidance coping sebagian besar adalah mereka yang memiliki afeksi negatif. Hasil penelitian ini juga menunjukkan sebagian besar mahasiswa memiliki respons emosional positif dan cenderung menggunakan strategi koping pendekatan (approach coping), yang berhubungan dengan kemampuan regulasi emosi, resiliensi, dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik selama perkuliahan daring.  Kesimpulan: Penelitian ini merupakan temuan awal atau case identification terkait rincian respons emosional dan strategi koping mahasiswa sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dan dasar penelitian selanjutnya yang lebih rinci.  Kata Kunci: Pembelajaran Daring, Respons Emosional, Strategi Koping Emotional Responses and Coping Strategies Among Nursing Students At The State Islamic University Of Jakarta ABSTRACTObjective: This research aims to explore the emotional responses experienced and coping strategies employed by nursing students in facing online learning. Methods: This research employed a quantitative descriptive design using an observational cross-sectional approach. The sample consisted of 205 students across four academic cohorts, selected using a quota sampling technique. The instruments used were the Positive Affect and Negative Affect Schedule–Short Form (PANAS-SF) to assess emotional responses and the Academic Coping Strategies (ACS) Scale to assess coping strategies. Data collection took place from May to June 2021. Data were analyzed using the Chi-Square test. Results: Of the 205 respondents, 188 (91.7%) were female and 17 (8.3%) were male. A total of 126 students (61.5%) experienced positive affect, while 79 students (38.5%) reported negative affect. Regarding coping strategies, 154 students (75.1%) used approach coping, 24 (11.7%) used avoidance coping, and 27 (13.2%) employed social support coping. Statistical analysis revealed a significant correlation between emotional responses and coping strategies (p < 0.05). Most students who used approach and social support coping strategies reported positive affect, whereas those who employed avoidance coping predominantly reported negative affect. Discussion: Students who used approach and social support coping were mostly those with positive affect, while those who used avoidance coping were mostly those with negative affect. The results of this study also showed that most students had positive emotional responses and tended to use approach coping strategies, which are associated with better emotional regulation, resilience, and psychological well-being during online lectures.  Conclusion: This research serves as a preliminary finding or case identification regarding nursing students’ emotional responses and coping strategies, providing a foundation for future, more in-depth research.Keywords: online learning, emotional response, coping strategies
Dampak Workshop CPR Berkualitas Tinggi terhadap Kompetensi Perawat di Fasilitas Kesehatan Primer: Studi Praeksperimental di Indonesia Yustilawati, Eva; Budiyanto, Andi; Adhiwijaya, Ardian; Zahrani, Gina
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.651

Abstract

ABSTRAKResusitasi jantung paru (CPR) sangat penting dalam menyelamatkan nyawa saat henti jantung. Namun, kompetensi perawat dalam melakukan high quality cardio pulmonary resuscitation (HQ-CPR) masih menjadi tantangan, terutama di fasilitas kesehatan primer. Tujuan penelitian: Studi ini bertujuan mengevaluasi dampak workshop HQ-CPR terhadap kompetensi perawat di pusat layanan kesehatan primer di Indonesia. Metode: Desain praeksperimental pretest-posttest satu kelompok digunakan. Sebanyak 28 perawat mengikuti workshop. Kompetensi dinilai menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang telah divalidasi. Intervensi dilakukan pada bulan Juni 2024 selama 9 jam. Pretestdilakukan selama 30 menit, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi, kemudian istirahat, dan dilanjutkan dengan posttest selama 30 menit. Instrumen untuk mengukur kompetensi berupa kuesioner yang telah valid dan reliabel dan lembar observasi SOP HQ-CPR. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kompetensi perawat setelah workshop (p = 0,001). Sebelum dilakukan intervensi, hanya 16 perawat yang kompeten dan setelah dilakukan intervensi, seluruh perawat kompeten. Semua peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan, dengan 100% mencapai kompetensi setelah workshop. Diskusi: Hasil penelitian ini mendukung teori andragogi yang menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif bila berbasis pada pengalaman, partisipatif, dan relevan dengan praktik. Workshop HQ-CPR sebagai metode edukasi yang mampu mentransfer pengetahuan sekaligus meningkatkan keterampilan praktis, terutama dalam keterampilan kritis seperti HQ-CPR. Kesimpulan: Workshop HQ-CPR secara efektif meningkatkan kompetensi perawat dan menekankan perlunya pelatihan rutin untuk mempertahankan standar tinggi dalam perawatan darurat. Kata Kunci: kompetensi, resusitasi jantung paru (RJP), workshop The Impact of A High-Quality CPR Workshop on Nurses’ Competence in Primary Health Care Settings: A Pre-Experimental Study in Indonesia ABSTRACTCardiopulmonary resuscitation (CPR) plays a critical role in saving lives during cardiac arrest. However, nurses’ competence in performing High-Quality CPR (HQ-CPR) remains a challenge, particularly in primary healthcare facilities. Research Objective: This research aims to evaluate the impact of an HQ-CPR workshop on nurses’ competence in primary healthcare centers in Indonesia. Methods: A one-group pretest-posttest pre-experimental design was employed. A total of 28 nurses participated in the workshop. Competence was assessed using validated questionnaires and observation checklists. The intervention was conducted in June 2024 over a duration of 9 hours. A 30-minute pre-test was administered, followed by material delivery, a break, and then a 30-minute post-test. Competence was measured using a validated and reliable questionnaire and a standard HQ-CPR procedural observation checklist. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: The findings revealed a significant improvement in nurses’ competence following the workshop (p = 0.001). Prior to the intervention, only 16 nurses were deemed competent; following the intervention, all 28 participants achieved competency. All participants demonstrated increased knowledge and practical skills, with 100% achieving competence after the workshop. Discussion: These results support the principles of andragogy, which suggest that adult learning is more effective when it is experience-based, participatory, and relevant to practice. The HQ-CPR workshop proved to be an effective educational strategy for transferring knowledge and enhancing practical skills, particularly in critical procedures such as HQ-CPR. Conclusion: The HQ-CPR workshop effectively enhances nurses’ competence, highlighting the importance of routine training to maintain high standards in emergency care.Keywords: competence, cardiopulmonary resuscitation (CPR), workshop
Manajeman Syok Hipovolemia pada Pasien Plasenta Akreta dengan Tindakan Caesarean Hysterectomy di Kamar Operasi Nurhasanah, Erna; Effendy, Christantie; Shodiq, Abror; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.691

Abstract

Latar Belakang: Plasenta akreta merupakan komplikasi obstetrik yang jarang, tetapi sangat berisiko karena berpotensi menimbulkan perdarahan masif intraoperatif yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Oleh sebab itu, penanganan syok hipovolemia sangat penting untuk mempertahankan kestabilan hemodinamik dan mendukung hasil pembedahan yang optimal. Laporan ini membahas penanganan syok hipovolemia pada pasien plasenta akreta yang menjalani operasi caesarean hysterectomy/histerektomi sesar. Keluhan Utama Pasien:  Pasien perempuan usia 27 tahun mengalami perdarahan 4.000 ml selama histerektomi sesar hingga mengalami syok hipovolemik. Tindakan keperawatan meliputi pemasangan tiga IV-line besar (16G, 14G, 18G), pemasangan kateter, resusitasi cairan, dan transfusi 7 PRC, 5 FFP, 5 TC, pemberian norepinefrin dan asam traneksamat. Hasil: Setelah perdarahan masif berhasil diatasi, total cairan yang masuk dan keluar selama prosedur operasi dihitung untuk mengevaluasi efektivitas terapi cairan yang diberikan. Total cairan masuk 6.750 ml, cairan keluar 6.352 ml, dengan keseimbangan +398 ml. Monitoring hemodinamik dilakukan ketat, urine output 0,877 ml/kg/jam. Kesimpulan: Manajemen cairan terintegrasi dengan pemantauan intensif dan kolaborasi tim sangat penting untuk menghindari komplikasi syok dan disfungsi organ.Kata Kunci: cairan intraoperatif, perdarahan masif, plasenta akreta, syok hipovolemiaABSTRACTBackground: Placenta accreta is a rare but high-risk obstetric condition due to the potential for massive intraoperative hemorrhage, which can significantly increase maternal morbidity and mortality. Effective management of hypovolemic shock is essential to maintain hemodynamic stability and ensure optimal surgical outcomes. This case report discusses the management of hypovolemic shock in a patient with placenta accreta undergoing cesarean hysterectomy. Methods: This case report describes intraoperative fluid management in a patient with placenta accreta who experienced massive hemorrhage during surgery. The data include the type and volume of fluids administered—crystalloids, colloids, and blood components—as well as total fluid output during the procedure. Results: A 27-year-old female experienced 4,000 ml of blood loss during cesarean hysterectomy, resulting in hypovolemic shock. Nursing interventions included insertion of three large-bore IV lines (16G, 14G, 18G), urinary catheterization, fluid resuscitation, and administration of 7 PRC, 5 FFP, 5 TC, norepinephrine, and tranexamic acid. Total fluid intake was 6,750 ml (2,300 ml blood components, 3,200 ml crystalloids, 1,250 ml colloids), with an output of 6,352 ml and a positive balance of +398 ml. Hemodynamic parameters were closely monitored using invasive arterial pressure monitoring. Urine output reached 0.877 ml/kg/hr, indicating preserved renal function despite severe physiological stress. Conclusion: Intraoperative fluid management in placenta accreta requires a well-coordinated approach combining crystalloids, colloids, and blood components. Intensive monitoring and multidisciplinary collaboration are crucial to prevent complications such as hypovolemic shock and organ failure.Keywords: placenta accreta, hypovolemic shock management, massive hemorrhage, intraoperative fluid therapy
Hubungan Self Acceptance dan Kepatuhan Diet dengan Kadar Glukosa Darah Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Fiana, Melia Viva Norma; Ismonah, Ismonah; Hartoyo, Mugi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.687

Abstract

Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan self acceptance dan kepatuhan diet dengan kadar glukosa darah penyandang DM tipe 2. Metode: Kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dipilih dengan accidental sampling, 42 responden dari pasien Prolanis di Puskesmas Karangayu pada Maret 2023. Pengambilan data menggunakan kuesioner USAQ (Unconditional Self Acceptance Questionare), kepatuhan diet, serta hasil glukosa darah puasa (GDP). Data dianalisis dengan Pearson product moment dan Spearman’s rank. Hasil: Penyandang DM tipe 2 terbanyak adalah perempuan (64,3%), usia lansia akhir 40,5%, berpendidikan SD 31,0%, dan lama menderita mayoritas selama < 5 tahun dan 5–10 tahun, masing-masing 35,7%, kebanyakan sudah tidak bekerja (52,4%). Responden kebanyakan memiliki self acceptance yang sedang (68,95), memiliki kepatuhan diet dengan nilai 50,48 (cukup), dan memiliki kadar glukosa darah dengan nilai 139,33 (buruk). Uji Spearman rank menunjukkan adanya hubungan self acceptance dengan kestabilan kadar glukosa darah, dengan arah korelasi (–) dan kekuatan hubungan sedang (p-value = 0,003; r = –0,449). Sementara itu, uji Pearson product moment menunjukkan adanya hubungan kepatuhan diet dengan kestabilan kadar glukosa darah, dengan arah korelasi (–) dan kekuatan hubungan sedang (p-value = 0,009; r = –0,401). Diskusi: Self acceptancedan kepatuhan diet yang baik, memiliki hubungan dengan kestabilan kadar glukosa darah. Semakin baik self acceptance dan kepatuhan diet, semakin baik juga kadar glukosa darah pasien DM tipe 2 di Puskesmas Karangayu. Kesimpulan: Terdapat hubungan self acceptance dan kepatuhan diet dengan kestabilan kadar glukosa darah. Dari hasil penelitian, direkomendasikan agar peneliti selanjutnya meneliti faktor lain yang memengaruhi kestabilan kadar glukosa darah, seperti obesitas, faktor genetik, prediabetes, pola hidup, dan aktivitas fisik.Kata Kunci: DM tipe 2, kadar glukosa darah,  kepatuhan diet, self acceptanceCorrelation Between Self-Acceptance and Dietary Compliance with Blood Glucose Levels in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus ABSTRACTResearch Objective: This research aims to identify the correlation between self-acceptance and dietary compliance with blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM). Methods: A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. The sample consisted of 42 respondents selected through accidental sampling, drawn from PROLANIS participants at Karangayu Public Health Center in March 2023. Data were collected using the Unconditional Self-Acceptance Questionnaire (USAQ), a dietary compliance questionnaire, and fasting blood glucose test results. Data analysis was conducted using Pearson Product Moment and Spearman Rank correlation tests. Results: The majority of T2DM patients were female (64.3%), in the late elderly age category (40.5%), with elementary school education (31.0%), and had been diagnosed for less than 5 years or 5–10 years (35.7% each). Most were no longer employed (52.4%). Respondents predominantly exhibited moderate self-acceptance (mean score: 68.95), moderate dietary compliance (mean score: 50.48), and poor fasting blood glucose control (mean level: 139.33 mg/dL). The Spearman rank test revealed a significant negative moderate correlation between self-acceptance and blood glucose levels (p = 0.003; r = –0.449). The Pearson correlation test also showed a significant negative moderate correlation between dietary compliance and blood glucose levels (p = 0.009; r = –0.401). Discussion: Higher levels of self-acceptance and better dietary compliance were correlated with more stable blood glucose levels. Improved self-acceptance and adherence to dietary recommendations contribute to better glycemic control among T2DM patients at Karangayu Public Health Center. Conclusion: There is a significant correlation between self-acceptance and dietary compliance with blood glucose stability. Future research is recommended to explore additional factors influencing blood glucose levels, such as obesity, genetic predisposition, prediabetes, lifestyle habits, and physical activity.Keywords: self-acceptance, dietary compliance, blood glucose level, type 2 diabetes mellitus
HUBUNGAN COGNITIVE EMOTION REGULATION DENGAN POSTTRAUMATIC GROWTH PADA REMAJA YANG MENGALAMI STRES AKADEMIK Oktavia, Maynah; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.695

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi dimana individu mudah mengalami stres termasuk stres akademik yang berdampak pada kemampuan menghadapi tekanan dikenal dengan Posttraumatic Growth (PTG), hal disebakan karena Cognitive Emotion Regulation (CER). Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara CER dan PTG pada remaja yang mengalami stres akademik di Depok. Desain penelitian kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross sectional pada 340 remaja berusia 15-18 tahun dengan menggunakan teknik probability sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Educational Stress Scale for Adolescent (ESSA), Cognitive Emotion Regulation Questionnaire (CERQ), dan Posttraumatic Growth Inventory-Revised for Children and Adolescents (PTGI-RC). Hasil analisis menunjukkan mayoritas remaja mengalami stres akademik tingkat sedang (50.6%), CER yang paling dominan refocus on planning, aspek PTG tertinggi relating to others. Terdapat hubungan yang signifikan dan memiliki korelasi positif antara Cognitive emotion regulation (CER): refocus on planning dengan PTG, pada remaja yang mengalami stres akademik (ρ = 0.359, p < 0.001). Peningkatan CER yang adaptif seperti refocus on planning pada remaja diharapkan dapat mengurangi stres akademik berupa menumbuhkan pertumbuhan positif yaitu relating to others selain personal strength.Kata Kunci: Cognitive Emotion Regulation, Posttraumatic Growth, Stres Akademik, Remaja