cover
Contact Name
PUPUNG PUSPA ARDINI
Contact Email
pedagogika.fip@ung.ac.id
Phone
+6282195521560
Journal Mail Official
pedagogika.fip@ung.ac.id
Editorial Address
Jln. Jend. Sudirman No. 6, Kota Gorontalo. 96128. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
PEDAGOGIKA
ISSN : 20864469     EISSN : 27160580     DOI : https://doi.org/10.37411
The PEDAGOGIKA with registered number ISSN p-2086-4469, ISSN e-2716-0580 is a collection of educational scientific articles, especially in the fields of educational sciences such as Educational Management, Guidance and Counseling, Primary/Elementary and Teacher Education, Early Childhood and Teacher Education, Educational Technology and others published by Faculty of Education, Gorontalo State University.
Articles 135 Documents
Pemanfaatan Sarana Kecerdasan Buatan Dalam Meningkatkan Kinerja Tenaga Administrasi Sekolah Nur Luthfi Ardhian; Darmawan Thalib; Nurzein Hursan; Lasmi Puluhulawa; Ainun Modanggu; Sasgita Idris Soi; Randa Wulandari
PEDAGOGIKA Vol 15 No 1 (2024): Vol 15 No 1 (2024): April
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37411/pedagogika.v15i1.4624

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan sarana kecerdasanbuatan (Artificial Intelligence/AI) dalam meningkatkan kinerja tenagaadministrasi sekolah di SMKS Bina Mandiri Bone Bolango. Latar belakangpenelitian ini didasarkan pada kebutuhan institusi pendidikan untukmengoptimalkan efisiensi kerja melalui pemanfaatan teknologi digital,khususnya AI, yang mampu membantu tugas-tugas administrasi sepertipengelolaan data, penyusunan laporan, pelayanan informasi, dan korespondensi.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teknikwawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwapenggunaan sarana AI—seperti aplikasi pengolah dokumen otomatis, chatbotlayanan informasi, serta sistem manajemen arsip digital—berkontribusisignifikan dalam meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan kualitas pelayananadministrasi. Selain itu, AI membantu mengurangi beban kerja manual sehinggatenaga administrasi dapat fokus pada tugas yang lebih strategis. Meskipundemikian, penelitian ini juga menemukan adanya kendala seperti keterbatasankompetensi digital dan kesiapan infrastruktur. Secara keseluruhan, pemanfaatanAI terbukti mampu mendukung peningkatan kinerja administrasi sekolah apabiladidukung dengan pelatihan yang memadai dan dukungan fasilitas teknologi yangoptimal.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Membangun Motivasi Berprestasi Siswa Siti Fadila Malango; Arifin Suking; Ayudia Alim; Aprilia Ainun L. Bahu; Arni Lako
PEDAGOGIKA Vol 15 No 1 (2024): Vol 15 No 1 (2024): April
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37411/pedagogika.v15i1.4626

Abstract

hasil penelitian dan pembahasan mengenaikepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan efektivitas manajemen hubungansekolah dan masyarakat di smp negeri 3 kota gorontalo, maka dapat disimpulkan sebagaiberikut:1. Kepemimpinan yang efektif di SMP Negeri 3 Kota Gorontalo memainkan peran sentraldalam menjalin hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat. Sejakberdirinya, sekolah telah aktif berkolaborasi dengan masyarakat, menjadikan kemitraansebagai aspek fundamental dalam ekosistem pembelajaran. Keterlibatan orang tuadalam berbagai aktivitas pembelajaran terbukti memberikan dukungan konkret yangsignifikan, meningkatkan kualitas pendidikan. Melalui pelibatan masyarakat dalamprogram-program sekolah, siswa mendapatkan wawasan berharga mengenai budayalokal dan praktik dengan baik. Kegiatan sosial, seperti gotong royong, memperkuatikatan antara sekolah dan komunitas, menciptakan rasa memiliki yang lebih besar diantara siswa terhadap lingkungan mereka.2. Meskipun hubungan antara sekolah dan masyarakat di SMP Negeri 3 Kota Gorontaloberjalan baik, sejumlah tantangan tetap ada. Kesibukan orang tua dan masyarakat, sertakesalahpahaman mengenai peran masing-masing, menjadi hambatan utama dalammeningkatkan partisipasi. Banyak orang tua yang terjebak dalam rutinitas harian yangmenyita waktu, sehingga sulit untuk aktif dalam kegiatan sekolah. Hal ini mengurangidukungan moral yang seharusnya diberikan kepada siswa. Selain itu, ketidakjelasanmengenai bagaimana orang tua dapat berkontribusi dalam pendidikan anak-anakmereka juga menghambat kolaborasi. Namun upaya untuk mengatasi tantangan inimelalui komunikasi yang efektif dan keterlibatan aktif tetap menunjukkan hasil yangpositif.3. Kepemimpinan yang visioner dan inklusif di SMP Negeri 3 Kota Gorontalo terbuktiefektif dalam menciptakan kolaborasi antara sekolah dan masyarakat. Kepala sekolahberperan sebagai penggerak utama, mempengaruhi dan mendorong seluruh komponensekolah untuk berkolaborasi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa hubungan yangbaik ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitaspendidikan. Keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah tidak hanya memberikandukungan moral, tetapi juga memberikan kontribusi pada motivasi dan prestasi21akademik siswa. Komunikasi yang baik, baik melalui saluran formal maupun informal,memungkinkan informasi disampaikan dengan jelas, sehingga kebijakan pendidikandapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan komunitas
Peran Growth Mindset sebagai Prediktor Digital Well-Being pada Mahasiswa Fadhilah Ahmad Qaniah; Dwi Fitra Arreski; Jumadi Mori Salam Tuasikal; Muh Saldin; Moh Andre Sahputra
PEDAGOGIKA Vol 17 No 1 (2026): Vol 17 No 1 2026: April
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37411/pedagogika.v17i1.4768

Abstract

Studi ini bertujuan menguji peran growth mindset sebagai prediktor digital well-being pada mahasiswa yang aktif mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi di Indonesia. Digital well-being dipahami sebagai pengalaman subjektif keseimbangan optimal antara manfaat dan kerugian yang diperoleh dari konektivitas digital, sementara growth mindset adalah keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan strategi belajar. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional non-eksperimental dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 125 mahasiswa yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Pengukuran growth mindset menggunakan Growth Mindset Scale (8 item) dari Sigmundsson dan Haga (2024), sedangkan digital well-being diukur dengan skala adaptasi Arslankara et al. (2022) yang mencakup dimensi responsible, satisfaction, dan wellness (12 item). Analisis dilakukan menggunakan korelasi Spearman dan regresi linear sederhana. Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara growth mindset dan digital well-being (r = 0,459; p < 0,01), dengan korelasi terkuat pada dimensi satisfaction (r = 0,542; p < 0,01) dan dimensi responsible (r = 0,361; p < 0,01), sementara dimensi wellness tidak berkorelasi secara signifikan (r = 0,112; p > 0,05). Analisis regresi linear mengonfirmasi bahwa growth mindset memberikan kontribusi sebesar 28,3% (R² = 0,283; F = 30,771; p < 0,001) dalam memprediksi digital well-being. Temuan ini mengindikasikan bahwa keyakinan mahasiswa bahwa kemampuan mereka dapat berkembang berperan penting dalam mendorong pola penggunaan teknologi digital yang lebih sehat dan memuaskan. Implikasi penelitian menekankan urgensi integrasi pelatihan growth mindset ke dalam program literasi digital dan layanan bimbingan konseling di perguruan tinggi. Kata Kunci: growth mindset, digital well-being, mahasiswa aktif, kesejahteraan digital ABSTRACT This study aims to examine the role of growth mindset as a predictor of digital well-being among college students actively participating in the teaching and learning process at higher education institutions in Indonesia. Digital well-being is understood as the subjective experience of an optimal balance between the benefits and costs derived from digital connectivity, while growth mindset refers to the belief that intelligence and abilities can be developed through effort and appropriate learning strategies. This research employed a non-experimental quantitative correlational design with a cross-sectional approach, involving 125 students selected through convenience sampling. Growth mindset was measured using the Growth Mindset Scale (8 items) developed by Sigmundsson and Haga (2024), while digital well-being was assessed through an adapted scale from Arslankara et al. (2022) comprising the responsible, satisfaction, and wellness dimensions (12 items). Data were analyzed using Spearman's rank correlation and simple linear regression. The results revealed a significant positive correlation between growth mindset and digital well-being (r = 0.459; p < 0.01), with the strongest correlations observed in the satisfaction dimension (r = 0.542; p < 0.01) and the responsible dimension (r = 0.361; p < 0.01), whereas the wellness dimension showed no significant association (r = 0.112; p > 0.05). Linear regression analysis confirmed that growth mindset contributed 28.3% (R² = 0.283; F = 30.771; p < 0.001) to the prediction of digital well-being. These findings indicate that students' belief that their abilities can be developed plays an important role in fostering healthier and more satisfying patterns of digital technology use. The study's implications underscore the urgency of integrating growth mindset training into digital literacy programs and guidance and counseling services in higher education. Keywords: growth mindset, digital well-being, active college students, digital wellness
Implementation of the Problem Solving Learning Model on the Relationship Between Moles and Mass of Substances in an Entrepreneurial Context Nur Afni Musir; Army Auliah; Sugiarti Sugiarti
PEDAGOGIKA Vol 17 No 1 (2026): Vol 17 No 1 2026: April
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37411/pedagogika.v17i1.4788

Abstract

Pembelajaran kimia yang cenderung bersifat abstrak seringkali menyebabkan rendahnya pemahaman dan hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang mampu mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Problem Solving dalam konteks kewirausahaan terhadap hasil belajar peserta didik pada materi hubungan mol dan massa zat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental berupa one group pretest-posttest. Sampel penelitian adalah peserta didik kelas X1 SMA Negeri 1 Tinambung yang berjumlah 24 orang. Data dikumpulkan melalui pretest dan posttest, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata dari 49,58 menjadi 78,33, dengan peningkatan ketuntasan belajar dari 29,17% menjadi 66,67% serta nilai N-Gain sebesar 0,57 dalam kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan model Problem Solving dengan pendekatan kewirausahaan mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dengan demikian, model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran kimia yang lebih kontekstual dan bermakna.
Science Learning Outcomes of Junior High School Students on The Topic of Global Warming : A Descriptive Study with Rasch-Logit Item Analysis Rifda Nur Hikmawati Arif; Aulia Aura Yusmaputri; Hasanuddin Hasanuddin
PEDAGOGIKA Vol 17 No 1 (2026): Vol 17 No 1 2026: April
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37411/pedagogika.v17i1.4834

Abstract

This study aimed to describe the science learning outcomes of Grade IX junior secondary students on the topic of global warming in North Luwu Regency through descriptive statistics and Rasch-logit item analysis. A quantitative descriptive design was employed involving 378 students from four public junior secondary schools (SMPN 1 Sabbang, SMPN 1 Masamba, SMPN 3 Sabbang Selatan, and SMPN 4 Masamba). The instrument consisted of 20 multiple-choice items aligned with cognitive levels C1–C4 of the revised Bloom’s taxonomy (Anderson & Krathwohl, 2015). Recalculation showed 5,583 correct responses, with an overall mean score of 14.77 out of 20, confirming the reported thesis mean of 14.76. Students’ achievement was categorised as high (Arikunto, 2018). SMPN 3 Sabbang Selatan obtained the highest mean score (17.20; very high category), whereas SMPN 1 Sabbang obtained the lowest mean score (13.85; high category). The KR-20 coefficient was 0.674, indicating moderate internal consistency. Item difficulty analysis showed that 13 items were easy, 7 items were moderate, and no item was difficult. The most difficult item was Item 18 (p = 0.415; logit = +0.342), while the easiest was Item 11 (p = 0.902; logit = −2.221). Wright Map visualisation indicates that the instrument needs more challenging items, particularly at C2–C4 levels (Bond & Fox, 2015; Boone et al., 2014).