cover
Contact Name
I Gede Purnawinadi
Contact Email
nutrixjournal@gmail.com
Phone
+6285256923813
Journal Mail Official
nutrixjournal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Arnold Mononutu, Kec. Airmadidi - 95371 Minahasa Utara - Sulawesi Utara
Location
Kab. minahasa utara,
Sulawesi utara
INDONESIA
Nutrix Journal
Published by Universitas Klabat
ISSN : 25794426     EISSN : 25806432     DOI : -
Nutrix Journal (NJ) is an official peer-reviewed research journal published by the Faculty of Nursing, Universitas Klabat (UNKLAB) in collaboration with the Indonesian National Nurses Association (INNA) of North Sulawesi Province. This journal aims to promote anhancement in nursing and health care through dissemination of the latest research findings. NJ covers a wide range of nursing topics such as nursing education, clinical practice, nursing information technology, advanced nursing issue and policy related to nursing profession. This journal publishes two issues per year in April and October. NJ intended readership includes nurse educator, researcher, manager, and nurse practitioner at all levels. Nurse (English: nurse, originating from Latin: nutrix which means caring for or nurturing), the role of nurses in general is to provide care providers, community leaders, educators, managers and researchers.
Articles 197 Documents
Nilai Kadar Gula Darah Puasa berdasarkan Jenis Kelamin pada Masyarakat Windewani, Chelsea Iriani; Pitoy, Frendy Fernando
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1486

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia and represents a growing public health concern worldwide, in which fasting blood glucose level serves as a key indicator of glycemic status and diabetes risk. Sex differences are known to influence glucose regulation through biological, hormonal, and lifestyle-related factors; however, local evidence comparing fasting blood glucose levels by sex remains limited, particularly in North Sulawesi, Indonesia. This study aimed to examine differences in fasting blood glucose levels based on sex among community-dwelling adults in Walian Dua Village, Tomohon City. A descriptive correlational study with a cross-sectional design was conducted involving 122 participants aged ≥40 years, selected using convenience sampling. Fasting blood glucose levels were measured using an Auto-Check 3 in 1 glucometer, and data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Mann–Whitney U test. The results showed that most participants were classified as prediabetic (50.0%), with mean fasting blood glucose levels significantly higher in males (73.58 mg/dL) than in females (54.69 mg/dL) (p = 0.005). In conclusion, fasting blood glucose levels differ significantly by sex, with males demonstrating higher levels and a greater potential risk for dysglycemia. These findings highlight the importance of routine fasting blood glucose screening and gender-sensitive diabetes prevention strategies focusing on lifestyle modification, particularly among middle-aged and older male populations in the community. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang terus meningkat, di mana kadar gula darah puasa berperan penting sebagai indikator status glikemik dan risiko diabetes. Jenis kelamin diketahui memengaruhi regulasi glukosa melalui perbedaan biologis, hormonal, dan gaya hidup, namun data lokal yang membandingkan kadar gula darah puasa berdasarkan jenis kelamin masih terbbatas, khususnya di Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan nilai kadar gula darah puasa berdasarkan jenis kelamin pada masyarakat Kelurahan Walian Dua, Kota Tomohon. Penelitian ini menggunakan desain descriptive correlation dengan pendekatan cross sectional terhadap 122 responden berusia ≥40 tahun yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Pengukuran kadar gula darah puasa dilakukan menggunakan glukometer Auto-Check 3 in 1, dan analisis data dilakukan secara univariat serta bivariat menggunakan uji Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori prediabetes (50,0%), dengan rerata kadar gula darah puasa pada laki-laki (73,58 mg/dl) lebih tinggi dibandingkan perempuan (54,69 mg/dl), serta terdapat perbedaan yang signifikan kadar gula darah puasa berdasarkan jenis kelamin (p = 0,005). Disimpulkan bahwa jenis kelamin berhubungan dengan perbedaan nilai kadar gula darah puasa, di mana laki-laki memiliki risiko kadar gula darah lebih tinggi. Oleh karena itu, disarankan adanya skrining rutin dan intervensi pencegahan diabetes melitus berbasis gender melalui edukasi pola hidup sehat pada masyarakat, khususnya kelompok laki-laki usia dewasa dan lanjut usia.    
Perbandingan Motivasi Sembuh saat Masuk Rawat Inap antara Pasien Dewasa dengan Hipertensi, Diabetes Melitus, Stroke, Tuberkulosis Anderson, Elisa; Manoppo, Arlien J
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1495

Abstract

Chronic diseases such as hypertension, diabetes mellitus (DM), stroke, and pulmonary tuberculosis (TB) remain a major health burden in Indonesia, making patient motivation to recover an important aspect of successful therapy. This study aims to analyze differences in recovery motivation upon admission to the hospital among adult patients with these four chronic diseases. The study design uses a quantitative analytical comparative cross-sectional approach with 175 respondents selected by convenience sampling. The variable of recovery motivation was measured using a Likert-scale recovery motivation questionnaire. Univariate analysis showed a high overall mean motivation (mean 90.02), with the highest mean in stroke and hypertension patients, followed by DM and TB. The Kruskal–Wallis test showed no significant difference in recovery motivation between disease types (p=.131). It was concluded that the recovery motivation of chronic disease patients upon admission tended to be high and relatively equal, so that disease type was not a major distinguishing factor. It is recommended that nurses integrate recovery motivation assessment and intervention into the nursing care of all chronic disease patients through strengthening therapeutic communication, education, family involvement, and psychosocial support from the beginning of care. Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus (DM), stroke, dan tuberkulosis paru (TB) masih menjadi beban utama kesehatan di Indonesia, sehingga motivasi sembuh pasien menjadi aspek penting keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan motivasi sembuh saat masuk rawat inap pada pasien dewasa dengan empat penyakit kronis tersebut. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif analitik komparatif cross‑sectional dengan 175 responden yang dipilih secara convenience. Variabel motivasi sembuh, diukur dengan kuesioner motivasi sembuh yang berskala Likert. Analisis univariat menunjukkan rata-rata motivasi keseluruhan tinggi (mean 90,02), dengan mean tertinggi pada pasien stroke dan hipertensi, diikuti DM dan TB. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna motivasi sembuh antar jenis penyakit (p=,131). Disimpulkan bahwa motivasi sembuh pasien penyakit kronis pada saat masuk rawat inap cenderung tinggi dan relatif setara, sehingga jenis penyakit bukan faktor pembeda utama. Direkomendasikan agar perawat mengintegrasikan asesmen dan intervensi motivasi sembuh dalam asuhan keperawatan semua pasien penyakit kronis melalui penguatan komunikasi terapeutik, edukasi, pelibatan keluarga, dan dukungan psikososial sejak awal perawatan.  
Embracing Change in the Context of Paternal Postpartum Depression: A Concept Analysis Using the Walker and Avant Method Shintya, Lea Andy
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1498

Abstract

The transition to fatherhood requires significant emotional and behavioral adaptation, yet many fathers experience depression when unable to adjust to their new roles. Understanding "embracing change" as a concept is essential for developing effective nursing interventions to support paternal mental health and family well-being. Purpose, this concept analysis aims to clarify the meaning, defining characteristics, antecedents, and consequences of "embracing change" in the context of paternal postpartum depression and maternity nursing care. Method, The Walker and Avant systematic concept analysis method was employed to examine the concept through comprehensive literature review and case construction. Key Findings, "Embracing change" in the paternal context is characterized by three essential attributes: (1) strong self-awareness of emotions and changing identity, (2) a supportive environment providing empathy and validation, and (3) effective communication with partners and healthcare providers. Antecedents include resilience, adaptability, and prior coping experiences. Positive consequences include improved mental health, enhanced family relationships, and increased paternal involvement in child-rearing. This concept analysis provides nursing with a comprehensive framework for understanding how fathers adapt to parenthood and manage postpartum depression. Future research should develop interventions to support fathers in embracing change and examine long-term mental health outcomes. Transisi menjadi seorang ayah memerlukan adaptasi emosional dan perilaku yang signifikan, namun banyak ayah mengalami depresi ketika tidak dapat menyesuaikan diri dengan peran baru mereka.  Memahami “menerima perubahan” sebagai sebuah konsep sangat penting untuk mengembangkan intervensi keperawatan yang efektif guna mendukung kesehatan mental ayah dan kesejahteraan keluarga.  Analisis konsep ini bertujuan untuk memperjelas makna, karakteristik yang mendefinisikan, anteceden, dan konsekuensi dari “menerima perubahan” dalam konteks depresi postpartum paternal dan perawatan keperawatan maternitas. Metode analisis konsep sistematis Walker dan Avant digunakan untuk meneliti konsep tersebut melalui tinjauan pustaka yang komprehensif dan konstruksi kasus.  Temuan Utama, “Menerima perubahan” dalam konteks paternal ditandai oleh tiga atribut penting: (1) kesadaran diri yang kuat terhadap emosi dan perubahan identitas, (2) lingkungan yang mendukung dengan empati dan validasi, dan (3) komunikasi yang efektif dengan pasangan dan penyedia layanan kesehatan.  Anteceden mencakup ketahanan, adaptabilitas, dan pengalaman mengatasi sebelumnya.  Konsekuensi positif termasuk kesehatan mental yang lebih baik, hubungan keluarga yang lebih baik, dan peningkatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Analisis konsep ini memberikan perawat kerangka kerja yang komprehensif untuk memahami bagaimana para ayah beradaptasi dengan peran sebagai orang tua dan mengelola depresi pascapersalinan.  Penelitian selanjutnya harus mengembangkan intervensi untuk mendukung para ayah dalam menerima perubahan dan meneliti hasil kesehatan mental jangka panjang.
Risk Factors of Chronic Energy Deficiency among Pregnant Women in Minahasa Kairupan, Michelle; Manengkey, Olvin Kristin; Baithesda
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1505

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) remains a major public health concern among pregnant women and is associated with adverse maternal and neonatal outcomes. This study aimed to analyze the risk factors for CED and identify the dominant predictors among pregnant women in Minahasa. A cross-sectional analytical design was employed involving 246 pregnant women. Data were collected using structured questionnaires, dietary assessments, and Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) measurements. Bivariate analysis was performed using the Chi-square test, and multivariate analysis was conducted using logistic regression. The prevalence of CED was 41.5%. Significant factors associated with CED included maternal age (p=0.012; OR=3.9), parity (p=0.004; OR=4.7), knowledge (p<0.001; OR=14.8), and dietary patterns (p=0.002; OR=2.9). Multivariate analysis revealed that maternal knowledge was the strongest predictor of CED (aOR=15.25; 95% CI: 3.80–61.20), followed by parity, age, and dietary diversity. Education and antenatal care (ANC) visits were not significantly associated with CED prevalence. These findings indicate that knowledge gaps and poor dietary diversity are key determinants of CED. Strengthening culturally sensitive nutrition education within antenatal care services is essential for improving maternal nutrition and supporting stunting reduction strategies. Defisiensi Energi Kronis (CED) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di kalangan ibu hamil dan dikaitkan dengan hasil kehamilan yang buruk bagi ibu dan bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko CED dan mengidentifikasi prediktor utama di kalangan ibu hamil di Minahasa. Desain penelitian analitik cross-sectional digunakan dengan melibatkan 246 ibu hamil. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, penilaian pola makan, dan pengukuran Lingkar Lengan Atas Tengah (MUAC). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square, sedangkan analisis multivariat dilakukan menggunakan regresi logistik. Prevalensi CED sebesar 41,5%. Faktor-faktor signifikan yang terkait dengan CED meliputi usia ibu (p=0,012; OR=3,9), paritas (p=0,004; OR=4,7), pengetahuan (p<0,001; OR=14,8), dan pola makan (p=0,002; OR=2,9). Analisis multivariat menunjukkan bahwa pengetahuan ibu merupakan prediktor terkuat CED (aOR=15,25; 95% CI: 3,80–61,20), diikuti oleh paritas, usia, dan keragaman makanan. Pendidikan dan kunjungan perawatan antenatal (ANC) tidak secara signifikan terkait dengan CED. Temuan ini menunjukkan bahwa kesenjangan pengetahuan dan keragaman pola makan yang buruk merupakan faktor penentu utama CED. Memperkuat pendidikan gizi yang sensitif terhadap budaya dalam layanan perawatan antenatal sangat penting untuk meningkatkan gizi ibu dan mendukung strategi pengurangan stunting.
Efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Meningkatkan Kehadiran Siswa Sekolah Dasar Ering, Cherol Nelson; Lolaro, Gischella Elvira; Wuisang, Metty; Tendean, Angelia Friska
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1510

Abstract

The Free Nutritious Meal Program (MBG) is an Indonesian government policy aimed at improving the nutritional status, health, and educational quality of elementary school students. Student attendance is one of the key indicators used to assess educational success. This study aimed to analyze the effect of the MBG program on student attendance at SD GMIM Kinilow. This study employed a quantitative approach with a one-group pre-test post-test design. The population consisted of all 227 students at SD GMIM Kinilow, with a sample of 125 students selected using stratified random sampling. Data were collected using student attendance observation sheets before and after the implementation of the MBG program. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods, with the Wilcoxon test applied at a 95% confidence level (p < 0.05). The results showed that prior to the implementation of the MBG program, most students were categorized as having low attendance (32.8%). After the program was implemented, the majority of students were categorized as having high attendance (72.8%). Statistical analysis indicated a significant difference in student attendance before and after the implementation of the MBG program (p value = 0.000 < 0.05). In conclusion, the MBG program has a significant effect on improving student attendance at SD GMIM Kinilow. It is expected that this program can be sustained and further developed as a strategy to support improvements in student health and school attendance at the elementary level. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang dirancang untuk meningkatkan status gizi, kesehatan, dan kualitas pendidikan siswa sekolah dasar. Kehadiran siswa di sekolah menjadi salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelaksanaan MBG terhadap tingkat kehadiran siswa di SD GMIM Kinilow. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one group pre-test post-test. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa SD GMIM Kinilow sebanyak 227 orang, dengan sampel 125 siswa yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi kehadiran siswa sebelum dan sesudah implementasi program MBG. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Wilcoxon pada tingkat kepercayaan 95% (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pelaksanaan MBG, sebagian besar siswa memiliki tingkat kehadiran rendah (32,8%). Setelah program diterapkan, mayoritas siswa mengalami peningkatan kehadiran ke kategori tinggi (72,8%). Uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat kehadiran sebelum dan sesudah pelaksanaan MBG (p value = 0,000 < 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa program MBG berpengaruh signifikan dalam meningkatkan tingkat kehadiran siswa di SD GMIM Kinilow. Program ini diharapkan dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan sebagai strategi dalam mendukung peningkatan kesehatan serta partisipasi belajar siswa di sekolah dasar.
Pengaruh Stimulasi Titik Akupresur LI4 (Hegu) terhadap Durasi Persalinan Kala I Fase Aktif pada Ibu Primigravida Rosidah, Yessa; Raden Maria Veronika Widiatrilupi; Rifzul Maulina
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1511

Abstract

Labor is the process of uterine contractions and cervical dilation until the baby is born. Prolongation of the active phase of the first stage increases the risk of complications, necessitating non-pharmacological interventions such as acupressure at the LI4 (Hegu) point. This study aimed to determine the effect of LI4 acupressure point stimulation on the duration of the first stage of labor in the active phase among primigravida mothers at TPMB Masturoh, Tajinan District, Malang Regency. This research used a quantitative method with a quasi-experimental design employing a posttest-only control group design. The sample consisted of 20 respondents divided into two groups: an intervention group of 10 respondents who received LI4 acupressure stimulation and a control group of 10 respondents who received standard midwifery care. The instrument used was an observation sheet to record the duration of the first stage of labor in the active phase from cervical dilation of 4 cm to 10 cm. Data analysis was conducted using the Mann-Whitney U test. The results showed that the median duration of the active phase of the first stage of labor in the intervention group was 54.0 minutes, while in the control group it was 61.5 minutes. The Mann-Whitney U test showed a p-value of 0.034 (p < 0.05), indicating a significant effect of LI4 acupressure stimulation on shortening the duration of the active phase of the first stage of labor. LI4 acupressure stimulation can be used as a complementary non-pharmacological therapy to help accelerate the labor process and improve maternal comfort during childbirth. Persalinan adalah proses kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga bayi lahir. Perpanjangan kala I fase aktif meningkatkan risiko komplikasi, sehingga diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti akupresur pada titik LI4 (Hegu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stimulasi titik akupresur LI4 terhadap lama persalinan kala I fase aktif pada ibu primigravida di TPMB Masturoh Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan quasi eksperimen menggunakan posttest only with control group design. Sampel penelitian terdiri dari 20 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi sebanyak 10 responden yang diberikan stimulasi akupresur LI4 dan kelompok kontrol sebanyak 10 responden yang hanya mendapatkan asuhan kebidanan standar. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi untuk mencatat lama persalinan kala I fase aktif sejak pembukaan serviks 4 cm hingga 10 cm. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan median lama persalinan kala I fase aktif pada kelompok intervensi adalah 54,0 menit, sedangkan pada kelompok kontrol 61,5 menit. Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan nilai p = 0,034 (p < 0,05) yang berarti terdapat pengaruh signifikan stimulasi akupresur LI4 terhadap percepatan lama persalinan kala I fase aktif. Stimulasi akupresur LI4 dapat digunakan sebagai salah satu terapi komplementer nonfarmakologis untuk membantu mempercepat proses persalinan dan meningkatkan kenyamanan ibu selama persalinan.
Blood Pressure and Kidney Function in Preeclampsia: a Scoping Review Mandias, Reagen Jimmy; Shintya, Lea Andy
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1513

Abstract

Preeclampsia is a serious pregnancy complication characterized by hypertension and impaired renal function. Understanding the relationship between maternal blood pressure and kidney function is essential for effective management to reduce adverse maternal and neonatal outcomes. This scoping review aimed to map the current evidence on the interaction between blood pressure and renal function in preeclampsia, including studied variables, methodologies, and research gaps. The review followed the Arksey and O’Malley framework and PRISMA-ScR guidelines, with a comprehensive search of MEDLINE, CINAHL, ERIC, and ScienceDirect databases. A total of 23 studies met the inclusion criteria, with most conducted in Asia, particularly China, and Latin America, especially Brazil. Seven major variable categories were identified: blood pressure, renal function, early pregnancy biomarkers, circulating biomarkers, inflammatory markers, molecular markers, and postpartum outcomes. The findings indicate a strong association between hypertension and renal dysfunction driven by placental insufficiency, angiogenic imbalance, and immune activation. Approximately 20.3% of women experienced persistent hypertension and 33.1% had ongoing proteinuria up to six months postpartum. In conclusion, preeclampsia involves complex pathophysiological mechanisms with potential long-term effects, highlighting the need for further research to elucidate molecular pathways and develop preventive strategies. Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan serius yang ditandai oleh hipertensi dan gangguan fungsi ginjal. Pemahaman hubungan keduanya penting untuk pengelolaan yang efektif guna menurunkan risiko pada ibu dan bayi. Tinjauan cakupan ini bertujuan memetakan penelitian terkait interaksi tekanan darah dan fungsi ginjal pada preeklampsia, termasuk variabel, metode, dan kesenjangan penelitian. Studi dilakukan menggunakan kerangka Arksey dan O’Malley serta pedoman PRISMA-ScR, dengan pencarian pada basis data MEDLINE, CINAHL, ERIC, dan ScienceDirect. Sebanyak 23 studi memenuhi kriteria, mayoritas berasal dari Asia (terutama Tiongkok) dan Amerika Latin (Brasil). Tujuh kelompok variabel diidentifikasi, meliputi tekanan darah, fungsi ginjal, biomarker kehamilan dini, biomarker sirkulasi, penanda inflamasi, penanda molekuler, dan luaran pascapersalinan. Hasil menunjukkan hubungan erat antara hipertensi dan gangguan ginjal yang dipengaruhi insufisiensi plasenta, disregulasi angiogenesis, dan aktivasi imun. Sekitar 20,3% wanita mengalami hipertensi persisten dan 33,1% proteinuria hingga enam bulan pascapersalinan. Disimpulkan bahwa preeklampsia melibatkan mekanisme kompleks dengan dampak jangka panjang, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme molekuler dan mengembangkan strategi pencegahan.
Pengaruh Pemberian Deep Breathing dan Terapi Herbal Jahe Merah terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenorea Primer pada Remaja Puteri Putri, Diana Maulidia Anastasya; Nila Widya Keswara; Widia Shofa Ilmiah
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1514

Abstract

Primary dysmenorrhea is a common gynecological problem in adolescent girls that can interfere with activity and quality of life, caused by increased prostaglandins that trigger excessive uterine contractions. This study aimed to determine the effect of deep breathing techniques and red ginger herbal therapy on reducing the intensity of primary dysmenorrhea pain in adolescent girls at SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi. The study used a quantitative method with a quasi-experimental design using a nonequivalent control group design. The sample consisted of 42 respondents divided into two groups, namely the intervention group receiving a combination of deep breathing and red ginger, and the control group receiving only deep breathing. Pain intensity was measured using the Numerical Rating Scale (NRS) before and after the intervention. Data analysis was performed using Paired t-test and Independent t-test. The results showed that the mean reduction in pain intensity in the intervention group was 5.32, while in the control group it was 2.00, with a p-value = 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference between the two groups. The combination of deep breathing techniques and red ginger herbal therapy was proven to be more effective in reducing primary dysmenorrhea pain intensity compared to deep breathing alone, and can be used as a safe and easily applicable non-pharmacological alternative therapy for adolescent girls. Dismenorea primer adalah masalah ginekologi umum pada remaja putri yang dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup, disebabkan oleh peningkatan prostaglandin yang memicu kontraksi uterus berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian teknik deep breathing dan terapi herbal jahe merah terhadap penurunan intensitas nyeri dismenorea primer pada remaja putri di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan quasi eksperimen nonequivalent control group design. Sampel penelitian berjumlah 42 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi yang diberikan kombinasi deep breathing dan jahe merah serta kelompok kontrol yang hanya diberikan deep breathing. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan menggunakan skala NRS sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan Paired t-test dan Independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penurunan intensitas nyeri pada kelompok intervensi sebesar 5,32, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 2,00, dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Kombinasi teknik deep breathing dan terapi herbal jahe merah terbukti lebih efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dismenorea primer dibandingkan dengan teknik deep breathing saja, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif terapi nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan pada remaja putri.
Gambaran Kejadian Dandruff pada Wanita Berhijab di Desa Maen Kecamatan Likupang Timur Tumangkeng, Linda Sisilia; Manoppo, Ivanna
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1515

Abstract

Scalp health problems such as dandruff are a common complaint, especially among women who wear the hijab. Prolonged hijab use can increase humidity and temperature in the scalp area, triggering the growth of Malassezia sp., which causes itching and discomfort. This study aims to describe the incidence of dandruff in women who wear the hijab in Maen Village, East Likupang District. The research design used a quantitative descriptive method. The sample consisted of 115 respondents selected using purposive sampling. The research instrument was a questionnaire, and data were analyzed univariately using a frequency distribution. The results showed that the majority of respondents experienced moderate dandruff (46 people (40%), followed by mild (41 people (35.7%), severe (18 people (15.6%), and no dandruff (10 people (8.7%). The study concluded that the majority of hijab-wearing women in Maen village experience moderate dandruff. This condition is closely related to high scalp moisture levels and suboptimal hair care practices. It is recommended that hijab-wearing women pay more attention to hair hygiene, such as washing their hair regularly and ensuring it is dry before wearing the hijab. Further research can examine scalp hygiene in women who wear the hijab. Masalah kesehatan kulit kepala seperti dandruff merupakan keluhan yang sering dialami, terutama pada wanita berhijab. Penggunaan hijab dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan kelembapan dan suhu di area kepala sehingga memicu pertumbuhan jamur Malassezia sp. yang menyebabkan rasa gatal dan ketidaknyamanan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian dandruff pada wanita berhijab di Desa Maen, Kecamatan Likupang Timur. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sampel terdiri dari 115 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner, dan data dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami dandruff pada kategori sedang sebanyak 46 orang (40%), diikuti kategori ringan sebanyak 41 orang (35,7%), kategori berat sebanyak 18 orang (15,6%), dan tidak mengalami dandruff sebanyak 10 orang (8,7%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas wanita berhijab di Desa Maen mengalami dandruff pada kategori sedang. Kondisi tersebut sangat berkaitan dengan tingginya tingkat kelembapan kulit kepala dan praktik perawatan rambut yang belum optimal. Rekomendasi agar wanita berhijab lebih memperhatikan kebersihan rambut, seperti mencuci rambut secara teratur dan memastikan rambut dalam keadaan kering sebelum menggunakan hijab. Penelitian selanjutnya dapat meneliti tentang kebersihan kulit kepala pada wanita berhijab.
Faktor-Faktor Penentu Asupan Kalori dalam Diet pada Penderita Diabetes Gestasional: Analisis PLS-SEM Terintegrasi Ruku, Denny Maurits
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1518

Abstract

Dietary intake plays a critical role in metabolic health, particularly among people with Gestational Diabetes Mellitus, where inappropriate nutritional patterns may increase the risk of adverse pregnancy outcomes. This study aimed to examine the determinants of dietary caloric intake among individuals with gestational diabetes using an integrated structural model. A cross-sectional study was conducted using secondary data from a publicly available dataset on the Kaggle platform (n = 5,165). Variables included body mass index (BMI), glycated hemoglobin (HbA1c), lipid profile, metabolic indicators, blood pressure, and age. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) with bootstrapping. Measurement model evaluation was conducted only for multi-indicator constructs using composite reliability, average variance extracted (AVE), and discriminant validity (HTMT), while single-indicator variables were treated as observed variables. The model demonstrated strong explanatory power (R² = 0.925). Lipid profile exhibited the strongest positive association with dietary intake (β = 0.769, p < 0.001), followed by BMI (β = 0.182, p < 0.001). Age showed a small negative effect (β = -0.062, p < 0.05), whereas glycemic control, metabolic factors, and blood pressure were not statistically significant.  Dietary intake among people with gestational diabetes is primarily influenced by lipid and anthropometric factors, highlighting the importance of metabolism-focused nutritional interventions. Asupan makanan memainkan peran penting dalam kesehatan metabolik, khususnya pada penderita Diabetes Gestational, di mana pola nutrisi yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko hasil kehamilan yang buruk. Studi ini bertujuan untuk meneliti faktor penentu asupan kalori makanan pada penderita diabetes gestasional menggunakan model struktural terintegrasi. Studi potong lintang dilakukan menggunakan data sekunder dari dataset Kaggle yang tersedia untuk umum (n = 5,165). Variabel yang digunakan meliputi indeks massa tubuh (IMT), HbA1c, profil lipid, indikator metabolik, tekanan darah, dan usia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bootstrapping. Evaluasi model pengukuran dilakukan hanya pada konstruk multi-indikator menggunakan composite reliability, average variance extracted (AVE), dan discriminant validity (HTMT), sementara variabel indikator tunggal diperlakukan sebagai variabel teramati. Model menunjukkan daya penjelas yang kuat (R² = .925). Profil lipid menunjukkan hubungan positif terkuat dengan asupan makanan (β = .769, p < .001), diikuti oleh IMT (β = .182, p < .001). Usia memiliki efek negatif yang kecil (β = -.062, p < .05), sedangkan kontrol glikemik, faktor metabolik, dan tekanan darah tidak signifikan secara statistik. Asupan makanan pada penderita diabetes gestational terutama dipengaruhi oleh faktor lipid dan antropometrik, yang menyoroti pentingnya intervensi nutrisi yang berfokus pada metabolisme.