cover
Contact Name
Riong Seulina Panjaitan
Contact Email
editorbahanalam@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
editorbahanalam@gmail.com
Editorial Address
Jln Sunter Permai Raya, Jakarta Utara
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal (INRPJ)
ISSN : -     EISSN : 25028421     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal (INRPJ) merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Farmasi, Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta yang terbit dua kali dalam setahun.
Articles 174 Documents
FORMULASI DAN STABILITAS SEDIAAN SERUM DARI EKSTRAK KOPI HIJAU (Coffea canephora var. Robusta) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Yanni Dhiani Mardhiani
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 2, No 2 (2017): Indonesia Natural research Pharmaceutical Journal
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.728 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v2i2.910

Abstract

ABSTRAK Pengembangan sediaan kosmetik serum yang mengandung bahan alam antioksidan semakin meningkat pesat seiring dengan eksplorasi tanaman yang berpotensi farmakologis. Kopi hijau  (Coffea canephora var. Robusta) merupakan tanaman yang mengandung antioksidan tinggi yang masih jarang dikembangkan sebagai sediaan kosmetik topikal serum. Tujuan dari penelitian ini adalah memformulasikan ekstrak kopi hijau dalam bentuk sediaan serum kosmetik dan menguji aktivitas antioksidannya. Metode penelitian yang dilakukan adalah optimasi dan formulasi sediaan serum, pengujian efek antioksidan dan stabilitas sediaan serum kopi hijau. Optimasi basis serum dengan variasi gelling agent dan diperoleh satu formula basis terpilih, yaitu Natrosol® 0.75%. Selanjutnya dibuat formulasi sediaan serum dengan variasi ekstrak kopi hijau 0.5%, 0.8%, dan 1.1%. Evaluasi meliputi pemeriksaan organoleptik, homogenitas, pengukuran pH, viskositas, daya sebar selama 28 hari pada suhu ruang, uji stabilitas dipercepat freeze thaw selama 4 siklus, dan uji hedonik. Hasil evaluasi dianalisis menggunakan metode One-Way ANOVA. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Berdasarkan hasil analisis evaluasi fisik, semua formula menunjukkan sediaan serum yang stabil, hasil uji hedonik disukai panelis, dan hasil uji antioksidan IC50 sebesar 68.89 µg/ mL yang tergolong antioksidan kuat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kopi hijau dapat diformulasikan dalam sediaan serum kosmetik dengan formula terbaik mengandung gelling agent Natrosol® 0.75% dan ekstrak kopi hijau 0.5% dan terbukti efektif sebagai antioksidan secara in vitro. Kata kunci: Kopi hijau, antioksidan, radikal bebas, sediaan serum   ABSTRACT Development of serum cosmetic product containing antioxidant as natural ingredients is increasing rapidly aligned with the exploration of potentially pharmacological plants. Green coffee (Coffea canephora var. Robusta) extract contains high antioxidants level that are rarely developed as topical cosmetic preparations especially serum dosage form. The objective of this study was to develop formulation of green coffee extract in the form of cosmetic serum preparation and to evaluate its antioxidant activity. The research method was optimization and formulation of serum preparation, testing of antioxidant effect and stability of green coffee serum preparation. Optimized serum base with gelling agent variation and obtained one selected base formula, Natrosol® 0.75%. A serum preparation formulation was then prepared with variation of green coffee extract 0.5%, 0.8%, and 1.1%. The evaluation included organoleptic examination, homogeneity, pH measurements, viscosity, dispersion for 28 days at room temperature, freeze thaw stability test for 4 cycles, and hedonic test. The results of the evaluation were analyzed using One-Way ANOVA method. Testing of antioxidant activity using DPPH method. Based on the results of physical evaluation analysis, all formulas showed stable serum preparations, hedonic test results favored by panelists, and IC50 antioxidant test results of 68.89 μg / mL classified as strong antioxidants. Thus it can be concluded that green coffee extract can be formulated in cosmetic serum preparations with the best formula containing gelling agent Natrosol® 0.75% and 0.5% green coffee extract and proven effective as antioxidants in vitro. Keyword : green coffee, antioxidant, IC50, cometic serum
PREDIKSI TOKSISITAS DAN MOLECULAR DOCKING SENYAWA ANTIOKSIDAN ALAMIGOLONGAN STEROID YANG BERASAL DARI TUMBUHAN PADA RESEPTOR ANDROGEN, ESTROGEN, DAN PROGESTERON Dina Pratiwi
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.395 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v1i1.216

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh prediksi toksisitas senyawa antioksidan alami menggunakan metode in silico dan analisis interaksinya dengan reseptor melalui metode molecular docking. Penelitian ini menggunakanenam senyawa antioksidan alami golongan steroid yang berasal dari tumbuhan yaitu D5-avenasterol, D7-avenasterol, β-sitosterol, brasikasterol, kampesterol, dan stigmasterol. Semua senyawa diprediksi toksisitasnya menggunakan perangkat lunak ADMET predictor, Toxtree, dan QSAR Toolbox,sedangkan proses dockingdilakukan menggunakan perangkat lunak Autodock 4.2.6. Hasil prediksi toksisitas menunjukkan bahwa enam senyawa tersebut diprediksi toksik terhadap sistem reproduksi. Hasil analisis dockingterhadap reseptorandrogen (2AM9), estrogen (1A52), dan progesteron (1A28) yang diperoleh dari Protein Data Bank (PDB) menunjukkan bahwa senyawa D7-avenasterol dan β-sitosterol memiliki energi bebas ikatan yang lebih rendah dibandingkan dengan estradiol dan progesteron sebagai senyawa pembanding pada reseptor estrogen alfa dan progesteron. Kata Kunci: molecular docking, prediksi toksisitas, steroid tumbuhan  
PENGARUH PENAMBAHAN CARBOMER 934 DAN SETIL ALKOHOLSEBAGAI EMULGATOR DALAM SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOLIK BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinenis L.) TERHADAP SIFAT FISIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI PADA Staphylococcus aureus Mimiek Murrukmihadi
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 2, No 2 (2017): Indonesia Natural research Pharmaceutical Journal
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.753 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v2i2.1942

Abstract

Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) merupakan antibakteri dari alam. Bunga kembang sepatu mempunyai khasiat antiradang, antipiretik serta antivirus. Ekstrak etanolik bunga kembang sepatu dibuat sediaan krim untuk meningkatkan efektifitas terapetik serta kenyamanan saat digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan carbomer 934 dan setil alkohol sebagai emulgator dalam sediaan krim ekstrak etanolik bunga kembang sepatu terhadap sifat fisik serta pengaruhnya terhadap aktivitas antibakteri pada Staphylococcus aureus.            Bunga kembang sepatu diekstraksi dengan etanol 70% menggunakan metode maserasi. Formula krim ekstrak etanolik bunga kembang sepatu dengan perbedaan konsentrasi penambahan carbomer 934 yaitu untuk formula 1 tanpa penambahan carbomer, formula 2 (carbomer 0,15%), formula 3 (carbomer 0,30%) dan formula 4(carbomer 0,45%), kemudian untuk setil alkohol adalah formula 5 tanpa setil alkohol, formula 6 (setil alkohol 2,00%), formula 7 (setil alkohol 3,50%) dan formula 8 (setil alkohol 5,00%) dengan uji sifat fisik krim yang dilakukan adalah uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, dan  uji daya lekat. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi padat (sumuran) dengan mengukur diameter zona hambat pada media. Sebagai kontrol positif digunakan krim gentamicin 0,1%. Data yang didapat diuji dengan korelasi regresi.Hasil menunjukkan adanya pengaruh kenaikan konsentrasi carbomer 934 tehadap  sifat fisik, yaitu  meningkatkan viskositas dan daya sebar serta menurunkan daya lekat krim. Pada uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa penambahan carbomer 934  menurunkan aktivitas antibakteri krim ekstrak etanolik bunga kembang sepatu. Sedangkan adanya penambahan setil alkohol meningkatkan viskositas pada konsentrasi 2% tetapi menurunkan pada 5%, daya sebar menurun pada konsentrasi 2% tetapi meningkat pada konsentrasi 5% serta daya lekat semakin menurun dan aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus semakin menurun. Kata kunci: ekstrak, krim,  Staphylococcus aureus, Carbomer 934, setil alkohol
Uji Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol 70% Daun Bakungan (Hymenocallis littoralis (Jacq.) Salisb.) Terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus) Yang di Induksi Putih Telur Widharto Prawirohardjono
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.756 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v3i1.1923

Abstract

Daun bakungan biasa digunakan untuk mengobati bengkak oleh masyarakat.  Berdasarkan literatur, senyawa yang diduga memiliki aktivitas antiinflamasi adalah flavonoid.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek antinflamasi dari ekstrak etanol daun bakungan (Hymenocallis littoralis (Jacq.) Salisb.) berdasarkan penurunan volume radang pada telapak kaki tikus putih yang diinduksi larutan putih telur. Pengujian dilakukan dengan metode experimental atau pembentukan radang buatan pada telapak kaki kiri tikus putih jantan. Penelitian ini menggunakan 25 ekor hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok. yaitu kelompok kontrol negatif diberi CMC, kontrol positif diberi Natrium Diklofenak, dan kelompok uji diberi ekstrak daun tokulo 0,5 g/Kg, 1 g/Kg dan 2 g/Kg. Induksi dilakukan dengan menyuntikkan 0,2 ml larutan putih telur 5 % b/v secara subkutan pada telapak kaki tikus. Setelah 30 menit setiap kelompok diberi sediaan uji peroral sebanyak 2 ml/300gBB. Pengukuran volume radang dilakukan setiap 30 menit selama 6 jam dengan menggunakan alat plestinometer. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji ANOVA one-way yang dilanjutkan dengan uji LSD dengan taraf kepercayaan 95 %. Berdasarkan hasil  analisa dapat disimpulkan  bahwa  ekstrak  etanol  70%  daun bakungan  memiliki aktivitas antiinflamasi pada tiap kelompok dengan persen inhibisi yaitu dosis 1 = 20,43 %, dosis 2 = 29,8 %, dan dosis 3 = 45, 63 %.Kata kunci :   Daun Bakungan (Hymenocallis littoralis (Jacq.) Salisb.), Natrium Diklofenak, Antiinflamasi, Putih Telur
FORMULASI SEDIAAN KOSMETIK KRIM DARI EKSTRAK DAUN MATOA (Pometia pinnata ) DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Sutriningsih Sutriningsih
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.946 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v3i2.1916

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan (nilai IC50) dan konsentrasi sediaan krim yang stabil dari ekstrak daun matoa (Pometia pinnata).Daun matoa(Pometia pinnata) dibuat ekstrak dengan pelarut etanol 96% menggunakan metode maserasi. Selanjutnya, Uji Aktivitas Antioksidan dilakukan terhadap ekstrak etanol 96% daun matoa (Pometia pinnata) menggunakan metode peredaman radikal DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) secara spektrofotometri pada λ maksimal 518,00 nm. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukan nilai IC50 dari Ekstrak etanol 96% daun matoa(Pometia pinnata) adalah 54,63 µg/mL dan digolongkan memiliki aktivitas antioksidan kuat. Salah satu fungsi senyawa dengan aktivitas sebagai antioksidan yaitu mencegah penuaan dini akibat kerusakan sel-sel kulit oleh radikal bebas sehingga dilakukan formulasi sediaan kosmetik krim dari ekstrak daun matoa dengan konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5% dan 2% yang kemudian diuji stabilitas fisiknya meliputi Organoleptis, Homogenitas, pH dan Viskositas selama 12 minggu pada suhu dingin, suhu ruang dan suhu tinggi. Hasil uji stabilitas menunjukan sediaan krim ekstrak etanol 96% daun matoa (Pometia pinnata) pada berbagai variasi konsentrasi dan suhu penyimpanan memenuhi syarat setiap parameter uji, namun sedian krim dengan konsentrasi 0,5%, 1% dan 1,5% yang disimpan pada suhu ruang lebih baik.Kata kunci: Flavonoid, Antioksidan, Daun Matoa (Pometia pinnata), Krim, Stabilitas Fisik Krim
SINTESIS TURUNAN SENYAWA ANDROGRAFOLIDA MELALUI REAKSI ESTERIFIKASI DENGAN BAHAN ASAM 2-KLOROBENZOA Andrianopsyah Mas Jaya Putra
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.259 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v2i1.830

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mencari atau  menemukan  kondisi  optimum dengan menggunakan reaksi esterifikasi terhadap sintesis turunan senyawa andrografolida. Reaksi esterifikasi ini menggunakan senyawa andrografolida, senyawa N,N-disikloheksilkarbodiimida (DCC) sebagai aktivator, senyawa N,N-4-dimetil amino piridin (DMAP) sebagai katalis, asam 2- klorobenzoat, dan diklorometana sebagai pelarut. Reaksi esterifikasi ini dilakukan secara semalaman (overnight) pada suhu kamar (rt). Senyawa hasil sintesis dilakukan identifikasi senyawa dengan kromatografi lapis tipis (KLT), kemudian dilakukan kromatografi kolom, yang selanjutnya dilakukan karakterisasi turunan senyawa dengan menggunakan spektroskopi LC-MS. Setelah didapatkan hasil analisis dengan menggunakan spektroskopi LC-MS kemudian dilakukan penafsiran data MS dengan menggunakan software MS interpreter2.0. Kata kunci : Senyawa turunan andrografolida ABSTRACT This research is aimed at finding out the optimum condition using esterification reaction toward derivatives synthesis of andrographolide compound. This esterification used andrographolide compound, N,N- dicyclohexylcarbodiimide (DCC) compound as activator, compound of N,N-4- dimethylaminopyridine (DMAP) as catalyst, acid 2-chlorobenzoic and dichloromethane as solvent. This esterification reaction was conducted overnight on room-temperature (rt). Identification of compound using thin-layer chromatography (KLT), column chromatography and characterization of compound derivatives using spectroscopic LC-MS was conducted to synthetic compounds. After analyses result gained using spectroscopic LC-MS, database MS interpretation was performed using MS interpreter 2.0software. Keyword: Andrographolide derivatives compound
Chаrаcterizаtiоn Оf Eѕѕentiаl Оil (Curcumа Dоmeѕticа Vаl) Аnd Teѕt The Аctivitieѕ Аgаinѕt Bаcteriа Cаuѕe Аcne (Рrорiоnibаcterium Аcneѕ) fransiska giofana
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.299 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v4i2.1789

Abstract

Аcne iѕ аn inflаmmаtоry cоnditiоn thаt iѕ оne оf the cаuѕeѕ becаuѕe оf the bаcteriаl аctivity оf Рrорiоnibаcterium аcneѕ. Turmeric rhizоme (Curcumа dоmeѕticа Vаl) iѕ а рlаnt thаt cоntаinѕ eѕѕentiаl оilѕ. Thiѕ ѕtudy аimѕ tо determine the chаrаcteriѕticѕ оf the turmeric rhizоme eѕѕentiаl оil (Curcumа dоmeѕticа Vаl) аnd itѕ аctivity аgаinѕt Рrорiоnibаcterium аcneѕ аcne-cаuѕing bаcteriа. The ѕtаgeѕ оf the ѕtudy included the determinаtiоn оf chemicаl cоmроnentѕ, refrаctive index, ѕрecific grаvity, аnd аntibаcteriаl роtentiаl оf turmeric rhizоme eѕѕentiаl оil (Curcumа dоmeѕticа Vаl) in inhibiting the grоwth оf Рrорiоnibаcterium аcneѕ with а cоncentrаtiоn оf 200 mg / ml, 100 mg / ml, 50 mg / ml, 25 mg / ml, 12.5 mg / ml hаѕ а inhibitiоn zоne оf 3.76 mm, 4.54 mm, 5.14 mm, 5.74 mm, 6.2 mm with the diffuѕiоn methоd, then the determinаtiоn оf the Minimum Inhibitоry Cоncentrаtiоn (MIC) with cоncentrаtiоn 12.5 mg / ml аnd 10 mg / ml. Dаtа оbtаined were аnаlyzed uѕing ЅРЅЅ 16. Аnаlyѕiѕ оf Vаriаnce (АNОVА). Bаѕed оn the reѕultѕ оf the ѕtudy, the cоmроnentѕ оf turmeric rhizоme eѕѕentiаl оil were guаiаcоl, 1,1-Diiѕорiороxyethаne, О-creѕоl, аlрhа cedrene, eugenоl refrаctive index 1,43, ѕрecific grаvity 0, 96. In аdditiоn, turmeric rhizоme eѕѕentiаl оil (Curcumа dоmeѕticа Vаl) hаѕ аntibаcteriаl аctivity аgаinѕt Рrорiоnibаcterium аcneѕ bаcteriа
PENGARUH PRA-PERLAKUAN AIR PERASAN RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L) Dan DAUN SELEDRI (Apium graveolens L) TERHADAP FARMAKOKINETIKA SEFALEKSIN PADA TIKUS JANTAN Yelfi Anwar
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.219 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v2i1.441

Abstract

Interaksi yang terjadi antara sesama obat modern ataupun antara obat modern dengan obat tradisional serta antara obat dengan makanan, merupakan masalah yang perlu dicermati. Kemungkinan banyak pasien yang memakai suatu produk obat juga mengkonsumsi bahan-bahan alam secara bersamaan dan sementara pengetahuan tentang interaksi yang terjadi masih sedikit. Kemungkinan interaksi yang terjadi tersebut dapat menyebabkan perubahan farmakokinetika dan efek farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh pengaruh pra-perlakuan air perasan rimpang kencur (Kaempferia Galanga L) dan daun seledri (Apium Graveolens L) terhadap farmakokinetika sefaleksin. Rancangan penelitian adalah paralel menggunakan tikus Wistar jantan (150-200 gram, umur 2-3 bulan) sebagai hewan uji, dengan satu kelompok kontrol (pemberian sefaleksin dengan dosis 25 mg/kg BB secara iv) dan dua kelompok pra-perlakuan masing-masing dengan air perasan rimpang kencur dan air perasan seledri (dosis 20 mg/kg BB secara p.o), pemberian dilakukan 1 jam sebelum penyutikan sefaleksin. Masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor hewan uji. Data yang dikumpulkan meliputi data parameter farmakokinetika yang diperoleh dari kadar sefaleksin utuh dalam darah dan urin. Cuplikan darah (0,2 ml) diambil dari vena lateralis ekor tikus pada menit-menit tertentu yaitu : 0, 2, 10, 20, 30, 60, 90, 120, 150 dan 180. Data urin diperoleh dengan pengumpulan urin selama 24 jam. Kadar sefaleksin utuh dalam darah dan urin ditetapkan secara spektrofluorometri. Dengan menggunakan analisa statistik yaitu uji students t tidak berpasangan dengan taraf kepercayaan 95% menggunakan perangkat lunak Graph PAD InStat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pra-perlakuan dengan air perasan rimpang kencur tidak menunjukkan perubahan parameter farmakokinetika sefaleksin (p>0,05). Pra-perlakuan dengan air perasan seledri mengakibatkan penurunan ClR dan Fel berturut-turut sebesar 49,67% dan 42,91% (p<0,05).  Interactions that occur among modern medicine or between modern medicine with traditional medicine and the medicine with food, an issue that needs to be observed. The possibility of many patients taking a drug product also consumes natural materials simultaneously and while the knowledge about the interaction that occurs is still little. The possibility of interactions that occur can cause changes in the pharmacokinetics and pharmacologic effects. This study aimed to investigate the effect of pre-treatment effect of the juice of the rhizome kencur (Kaempferia galanga L) and celery (Apium graveolens L) on the pharmacokinetics of cephalexin. The study design is parallel use male Wistar rats (150-200 g, aged 2-3 months) as test animals, with a control group (administration of cephalexin with a dose of 25 mg / kg iv) and two pre-treatment groups respectively with kencur rhizome juice and celery juice (dose of 20 mg / kg in po), granting performed 1 hour before penyutikan cephalexin. Each group consisted of 6 test animals. Data collected includes data parameters that shown pharmacokinetics of cephalexin levels intact in the blood and urine. Footage of blood (0.2 ml) were taken from the lateral tail vein of mice at a particular minute: 0, 2, 10, 20, 30, 60, 90, 120, 150 and 180. Data obtained with the urine for 24-hour urine collection , Cephalexin levels intact in the blood and urine determined spektrofluorometri. By using statistical analysis which students unpaired t test with a level of 95% using the software Graph PAD InStat. The results showed that pre-treatment with the juice of the rhizome kencur showed no change in the pharmacokinetics of cephalexin parameters (p> 0.05). Pre-treatment with celery juice resulted in a decrease in the CLR and Fel, respectively for 49.67% and 42.91% (p <0.05).
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) DENGAN METODE 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) DAN UJI STABILITAS FORMULASI SEDIAAN KRIM Sutriningsih Sutriningsih
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 2, No 2 (2017): Indonesia Natural research Pharmaceutical Journal
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.738 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v2i2.1936

Abstract

Radikal bebas adalah senyawa yang memiliki elektron bebas tidak berpasangan sehingga tidak stabil. Radikal bebas dapat merusak berbagai sel makromolekul seperti protein, karbohidrat, lemak dan asam nukleat serta menjadi penyebab dari penuaan dini dan beberapa penyakit degeneratif. Antioksidan adalah senyawa yang mampu untuk menangkap radikal bebas, dimana senyawa ini akan menyumbangkan  satu  atau lebih elektron kepada radikal bebas dan kemudian mengubahnya menjadi senyawa yang lebih stabil. Daun sirsak (Annona muricata L.) bermanfaat sebagai anti  penuaan dini karena mempunyai kandungan senyawa flavonoid  yang  dapat berperan sebagai antioksidan. Untuk penentuan aktivitas antioksidan ekstrak daun sirsak dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Daun sirsak dikeringkan dan diserbukkan kemudian dimaserasi dengan etanol 96%, selanjutnya dilakukan skrining fitokimia, pengujian aktivitas antioksidan (IC50), formulasi krim dan pengujian stabilitas sediaan krim. Hasil antioksidan ekstrak etanol 96% daun sirsak sebesar 79,320 ppm. Antioksidan dari ekstrak etanol daun sirsak ini tergolong kuat. Kestabilan sediaan krim dipengaruhi oleh formulasinya. Pada penelitian ini dilakukan uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH dan uji viskositas selama 4 minggu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa formula I lebih baik dari formula II dan formula III. Kata kunci: Annona muricata L.), Antioksidan, 2,2-difenil-1- pikrilhidrazil, Krim
Aktivitas Antioksidan Daun Matoa (Pometia pinnata) dengan Variasi Suhu Pengeringan Wahyu Margi Sidoretno; Annisa Fauzana
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.17 KB) | DOI: 10.52447/inspj.v3i1.1086

Abstract

ABSTRACT Drying process is an important factor which is affect natural medicine products quality. The process influence secondary metabolite composition of natural medicines, such as polyphenol compounds, which manage their pharmacological activity. Polyphenol compound is an essential parameter of antioxidant effect of natural products which is degraded by high temperature. Thus, drying process at high temperature can damage total polyphenol content of natural medicine which decrease its antioxidant activity. This research aims to determine antioxidant activity of Pometia pinnata with variance of drying process. The samples was dried at 30, 60 and 90°C. Antioxidant activity then was measured using DPPH method. The result shows that the highest antioxidant activity is given by sample dried at 60C (IC50=49.3608), followed by 30 and 90C. Finally, it can be concluded that the drying process influence antioxidant activity of P. Pinnata leaf.   Keyword: drying, P. Pinnata, antioxidant, polyphenol, secondary metabolite, DPPH. ABSTRAK Proses pengeringan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas obat bahan alam. Proses pengeringan ini mempengaruhi komposisi kandungan metabolit sekunder dalam bahan, seperti senyawa polifenol, yang akhirnya mempengaruhi efek farmakologisnya. Senyawa polifenol merupakan salah satu parameter tinggi rendahnya aktivitas antioksidan suatu bahan alam yang sangat mudah rusak akibat pemanasan. Sehingga, pengeringan bahan pada suhu tinggi mampu merusak komposisi polifenol total suatu bahan alam yang akhirnya menurunkan aktivitas antioksidannya. Oleh karena itu, pemilihan suhu pengeringan pada proses pembuatan simplisia sangat penting untuk mempertahankan mutu bahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pengeringan terhadap aktivitas antioksidan daun matoa (Pometia pinnata). Pengeringan dilakukan pada suhu 30, 60 dan 90°C. Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH menggunakan microplate reader. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan paling tinggi diberikan oleh bahan pada pengeringan 60°C (IC50=49,3608), dan diikuti oleh pengeringan suhu 30°C (IC50=64,8404) dan 90°C (IC50=68,2175). Selanjutnya, tidak ada perbedaan nyata nilai IC50 pada pengeringan suhu 30 dan 90°C. Hasil ini menunjukkan bahwa suhu peningkatan dan penurunan suhu dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan daun P. pinnata yang kemungkinan disebabkan oleh perubahan komposisi polifenol totalnya.   Kata kunci: proses pengeringan, P. Pinnata, aktivitas antioksidan, metabolit sekunder, DPPH.

Page 6 of 18 | Total Record : 174