cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6281229463400
Journal Mail Official
inyomansantiawan@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah Dukuh Macanan Baru, Morangan, Mojayan, Kec. Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57414 Telepon: (0272) 3352795
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Widya Aksara: Jurnal Agmaa Hindu
ISSN : 2085272X     EISSN : 26589832     DOI : -
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu merupakan Jurnal Sosial, Budaya dan Agama Hindu yang menerbitkan hasil penelitian atau pemikiran tentang studi agama dan studi sosial dan budaya menggunakan perspektif interdisipliner. Lingkup Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu adalah: Studi agama Hindu seperti Fisafat, Etika dan Upacara Studi sosial dan budaya seperti sosiologi masyarakat Hindu Sumber pengajaran terkait: studi agama, pemikiran Hindu, filsafat Hindu, studi pendidikan agama Hindu, studi penerangan agama dan kajian budaya
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 26 No 1 (2021)" : 12 Documents clear
DIGITISASI LONTAR MUSEUM NASKAH LONTAR DESA ADAT DUKUH PENABAN, KECAMATAN KARANGASEM, KABUPATEN KARANGASEM, BALI Ketut Gura Arta Laras
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan digitisasi lontar Musium Naskah Lontar Desa Adat Dukuh Penaban, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali untuk penyelamatan transkrip dan naskah lontar yang merupakan salah satu bentuk usaha pelestarian naskah lontar mengingat kondisi lontar yang ada sangat memprihatinkan, sehingga perlu dilestarikan dengan membutuhkan penanganan khusus. Lontar adalah sebuah naskah kuno yang ditulis di atas daun lontar yang tulisannya menggunakan aksara dan bahasa Kawi Jawa Kuno atau Bali. Keberadaan lontar di Karangasem dan di Bali pada umumnya masih cukup banyak bahkan tak jarang lontar dijadikan benda yang disakralkan. Musium Naskah Lontar Desa Adat Dukuh Penaban memiliki hampir 700 cakep dan ribuan salinan isi naskah lontar yang memuat tentang naskah pengobatan, silsilah atau sejarah, arsitektur, kepemimpinan, kuliner, permainan, pertanian, dan karya sastra. Metode yang digunakan dalam digitisasi lontar adalah metode pengalihmediaan naskah lontar ke dalam bentuk digital dengan menggunakan metode partisipatoris. Metode ini dilakukan oleh para pengelola museum dengan materi pelatihan penguasaan kamera, pencahayaan, operasional meja reprograf, dan penyuntingan file digital untuk kebutuhan museum serta pembuatan e-book. Kata Kunci : Museum, Lontar, Digitisasi, Partisipatoris, dan Pelestarian
STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA KELAS III DI SDN KESATRIAN 1 KECAMATAN BLIMBING KOTA MALANG MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS BELAJAR DAN RESITASI SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2019/2020 Rubi Supriyanto
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah strategi Guru pendidikan Agama Hindu dalam meningkatkan kedisiplinan siswa Kelas III di SDN Kesatrian 1 Kecamatan Blimbing Malang. Pembelajaran dengan berbasis masalah memiliki dampak positif dalam meningkatkan Kedisiplinan siswa yang ditandai dengan peningkatan Kedisiplinan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (46,66%), siklus II (60%), siklus III (93,33%). Penerapan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan Kedisiplinan siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru pendidikan Agama hindu. yang dilihat dari strateginya meliputi memberikan Tugas test, lks dengan melihat kedisiplinan siswa dalam mengerjakan serta mengumpulkan. sosialisasi kedisiplinan, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Strategi yang digunakan Guru Pendidikan Agama Hindu dalam meningkatkan kedisiplinan siswa Kelas III di SDN Kesatrian 1 Kecamatan Blimbing Malang.
MENUMBUHKEMBANGKAN MINAT DAN BAKAT GENERASI HINDU DALAM MEWUJUDKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA DI ERA INDUSTRI 4.0 Untung Suhardi; I Ketut Angga Irawan; I Ketut Ulianta; Wisnu Oka Wirawan
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan di desa Linggoasri dihuni oleh masyarakat yang heterogen, dimana umat Hindu dan Muslim hidup secara berdampingan. Namun, pada kenyataannya generasi muda seringkali mengalami tekanan dan pengaruh negatif dari lingkungan. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh setempat banyak anak – anak remaja yang mulai menunjukkan kenakalan seperti mabuk, merokok, dan tidak mau melanjutkan sekolah. Metode yang digunakan dengan melalui wawancara dan kegiatan penyuluhan. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini bahwa membangun generasi hindu yang berkualitas dilakukan penyuluhan tentang generasi muda hindu berkualitas kepada siswa pasraman Desa Linggoasri. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 29 Juni sampai dengan 1 Juli 2018 bertempat di Desa Linggoasri dan diikuti oleh 80 siswa dan 3 guru. Materi penyuluhan yang diberikan mencakup: (1) Fenomena remaja masa kini, (2) Cara meningkatkan kualitas remaja, (3) Peranan remaja sebagai generasi muda Hindu. Berdasarkan hasil evaluasi pasca penyuluhan didapatkan bahwa peserta mampu mengulang kembali materi yang diberikan dan tau upaya yang harus mereka lakukan untuk menjadi generasi muda Hindu yang berkualitas.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM TRADISI PERANG KETUPAT DESA KAPAL KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG PROVINSI BALI Made Dwiana Mustawan
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agama Hindu memiliki tiga kerangka dasar yaitu Tattwa, Susila, Upacara. Upacara atau ritual agama merupakan kerangka dasar yang ketiga Agama Hindu. Ritual agama ini di Bali nampak mendominasi kegiatan keagamaan dalam bentuk persembahyangan atau pemujaan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa beserta seluruh manifestasinya atau perwujudannya sebagai Dewa atau Bhatara. Selain itu masyarakat Hindu di Bali banyak diwarisi tradisi-tradisi yang sangat unik oleh nenek moyang kita terdahulu. Seperti salah satunya yang terdapat di Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung yang diberi nama Perang Ketupat. Adapun masalah-masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) proses pelaksanaan tradisi perang ketupat tersebut, (2) fungsi pelaksanaan tradisi perang ketupat tersebut, (3) nilai pendidikan yang terkandung didalamnya. Permasalahan ini dikaji dengan menggunakan teori interaksionisme simbolik, teori fungsional struktural, teori pendidikan humanistik. Dalam memperoleh data dipakai metode observasi, wawancara, dokumentasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelaksanaan tradisi perang ketupat dilakukan setiap satu tahun sekali, yaitu pada sasih kapat sampai sasih kalima. kedua kelompok ini saling melempari kelompok yang lain dengan tipat dan bantal dengan jarak yang ditentukan dengan harapan kedua panganan ini berbenturan diatas yang melambangkan telah bertemunya kedua energi feminim dan maskulin kemudian jatuh ketanah yang esensinya pertemuan kedua energi tersebut memberikan kesuburan bagi tanah dan kemakmuran bagi masyarakat Desa Kapal. Tradisi perang ketupat memiliki fungsi religius yaitu sebagai alat untuk menumbuhkan keyakinan terhadap Tuhan, fungsi sosial yaitu meningkatkan solidaritas sosial dan kebersamaan antar warga, fungsi budaya yaitu mempertahankan solidaritas sosial dan rasa kebersamaan antar warga, fungsi budaya yaitu mempertahankan budaya agama sehingga meningkatkan sradha dan bhakti, fungsi upacara yaitu agar masyarakat memiliki sikap iklas, taqwa yang mendasari dalam praktek upacara yang dilakukan, dan fungsi pendidikan yaitu untuk mendidik umat yang tergabung dalam proses pelaksanaan upacara secara langsung atau tidak langsung merupakan proses pendewasaan untuk mewujudkan manusia yang lebih manusiawi. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi perang ketupat yaitu nilai pendidikan tattwa yang memiliki nilai yadnya yang tinggi. Nilai pendidikan susila yaitu generasi muda yang terlibat dalam pelaksanaan diajarkan untuk selalu mengajarkan kepada masyarkat khususnya generasi penerus untuk selalu gotong royong. dan tradisi ini memiliki nilai pendidikan ritual yang mendidik masyarakat melestarikan tradisi peran ketupat yang merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa
AKTUALISASI DAN PENCIPTAAN GEGURITAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DI PASRAMAN WISNU SAKTI DESA TAMBAKAN, KECAMATAN JOGONALAN, KABUPATEN KLATEN Supriyadi; Dewi Ayu Wisnu Wardani; Sujaelanto
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Wisnu Sakti secara historis memiliki kebudayaan geguritan yang kini sudah jarang digunakan. Padahal, geguritan memiliki fungsi sebagai media transformasi pengetahuan ataupun pendidikan moral kepada anak yang dibacakan. Hal ini menjadi menarik untuk diaktualisasikan kembali. Selain itu, penciptaan menjadi lebih menarik karena pelestarian dan pengaktualisasiannya menjadi lebih efektif. Dalam penciptaannya tentu mempertimbangkan berbagai faktor: daya tangkap anak, penyesuaian zaman, serta penanaman nilai-nilai agama. Dari latar belakang yang hadir, terumuskan dua pertanyaan yang harus dipecahkan, yakni: 1) Kenapa aktualisasi dan penciptaan geguritan dilakukan?, 2) Bagaimana aktualisasi dan penciptaan geguritan dilakukan? Dalam penelitian yang dilakukan, metode partisipatoris menjadi metode yang dirasa paling ideal, karena posisi dari peneliti merupakan insider dari objek penelitian. Selain itu, penelitian yang dilakukan merupakan penelitian terapan, sehingga metode ini sangat mendukung dalam pelaksanaannya. Dalam penelitian yang dilakukan, teori yang digunakan adalah teori konstruktivisme, teori revitalisasi, dan teori penciptaan. Dari penelitian yang sudah dilakukan, terdapat kesimpulan bahwa ada empat faktor yang melandasi aktualisasi dan penciptaan geguritan patut untuk dilakukan: 1) Faktor latar belakang, 2) Faktor Pelestarian, 3) Faktor Geguritan, 4) Faktor Pasraman. Pengaktualisasian dan penciptaan geguritan berhasil dilakukan, meskipun belum sepenuhnya maksimal. Meskipun begitu, penelitian terapan memang tidak secara instan dapat terselesaikan, karena harus melalui proses yang panjang. Tahapan-tahapan dari proses pengaktualisasian dan penciptaan mengacu pada teori-teori yang digunakan. Hasil yang didapatkan menyatakan bahwa teori-teori tersebut terbukti mampu untukdiaplikasikan.
TUHAN DALAM PERSPEKTIF ÅšIVATATVA Gatot Wibowo
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Freedom prema causa all of life dalam agama Hindu di Indonesia selalu menitik beratkan “Ekam sat wiprah bahuda wadanti”, artinya “Hanya satu Ida Saŋ Hyaŋ Vidhi Vasa, namun manuṣa bijaksana menyebutkan dengan banyak nama. Eksistensi terbesar agama Hindu lebih banyak bercorak Sivaistik, hal ini terbukti dengan adanya peninggalan-peninggalan ritus-ritus bersejarah yang membuktikan bahwa pemujaan tersebut menggambarkan Vaṁsanucarita Baṭṭāra Śiva ngawekas dalam śūsatra tattwa yang dapat dipedomani sebagai konsep angleluhuri untuk masyarakat Indonesia dan India khususnya. Karena Tuḥan Śiva Pākṣa bersifat vyapi vyapaka nirwikara dalam atribut pluralis Pantheīśṁ dalam Veda. Karena eksistensi sejamannya, sistem ketuhanan Śiva di indonesia dengan India akan membawa perubahan besar terhadap dampak perkembangan zaman upaniṣad untuk generasi kaum ilmuwan di masa yang akan datang. Ini dapat terlihat tentang tatanan ritus dan metode menghubungkan diri dengan Tuhan dengan merekonstruksi dan mendesain Bhakti Mārga, Kārma Mārga, Jñāna Mārga, Raja Mārga dan penuh kehati-hatian di Vibhūti Mārga dalam kitab terbarunya Bhāgavadgīta.
PEREMPUAN DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Setyaningsih; Farida Setyaningsih
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi semua aspek kehidupan. Perkembangannya tidak hanya didominasi oleh laki-laki tetapi juga oleh perempuan. Wanita dianggap sebagai pemakai penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan pria adalah penemu. Laki-laki, secara eksplisit, berperan dalam proses sains dan teknologi. Namun, ahli ilmu pengetahuan mengajukan temuan yang menunjukkan identitas perempuan terhadap teknologi. Diperkirakan oleh mereka yang peduli dengan isu perempuan akan semakin banyak perempuan yang terlibat dalam proses penemuan di bidang iptek. Pencapaian perempuan ini tidak dapat dihindari karena mereka telah berkontribusi banyak pada pembangunan di wilayah tersebut baik diterima secara publik atau tidak.
ANALISIS STRUKTUR NARATIF DAN AJARAN TATTWA DALAM CERITA KI GEDE BASUR ANTARA ASMARA DAN ILMU HITAM Ni Kadek Ayu Paramanandani
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: struktur naratif dan ajaran tattwa dalam Cerita Ki GedeBasur Antara Asmara dan Ilmu Hitam. Berdasarkan hasilpenelitian maka ditemukan bahwa: 1) struktur naratif dalam Cerita Ki Gede Basur Antara Asmara dan Ilmu Hitam, yaitu: (1) sinopsis, menceritakan tentang pembalasan dendam antara Ki Gede Basur dengan Ni Garu melalui adu kawisesan yaitu ilmu hitam yang berakhir dengan kematian Ki Gede Basur; (2)temanya adalah balas dendam; (3) latar/setting meliputi latar tempat, latar suasana, latar sosial dan waktu; (4) alur yang digunakan adalah Alur maju atau progresif; (5) tokoh meliputi, tokoh antagonis dan sekaligus tokoh sentralnya adalah Ki Gede Basur, tokoh skunder (antagonis) adalah Ni Garu dan (protagonis) Pekak Balian Sadhu; (6)penokohan: penokohan Ki GedeBasur (digambarkan dengan watak angker atau seram, dan suara yang besar, ia angkuh dan juga pemarah ketika apa yang diinginkan tidak tercapai.); penokohan Ni Garu(digambarkan memiliki watak yang suka dipuji, burukrupa dan seorang bajang wayah, pendendam dan menguasaiilmuhitam yang tinggi), penokohan Pekak Balian Sadhu (memilikiwatak yang penyabar, baikhati, sukamenolong dan bijaksana), (7) amanat (perbuatan memaksakan kehendak dan membalas perbuatan buruk dari orang lain adalah perbuatan yang tidak baik, Tidak usah gusar dan terlalu khawatir akan hidup karena semua sudah ada yang mengatur sesuai karma. 2)ajaran tattwa dalam Cerita Ki Gede Basur Antara Asmara dan Ilmu Hitam, yaitu: (1) Widhi Tattwa (2) Karmaphala Tattwa (3) PunarbhawaTattwa. Kata-kata kunci: Ajaran Tattwa, Cerita Ki Gede Basur Antara Asmara dan Ilmu Hitam.
DAMPAK MEDIA YOUTUBE DALAM PROSES PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN KREATIFITAS BAGI KAUM MILENIAL Titin Sutarti; Widhi Astuti
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era digital ini bisa dikatakan hampir tidak ada kaum muda milenial yang tidak mengenal YouTube. Bila kita pandang dari segi kontruktifnya maka YouTube mampu membawa dan mengedukasi pengguna untuk menuju sesuatu yang bersifat membangun dan berorientasi pada kebaikan dan kebahagiaan banyak orang tanpa meninggalkan nilai, norma dan etika serta asas kemanusiaan. Dalam proses belajar mengajar, dengan kemajuan tekhnologi ini menuntut guru dan siswa melakukan inovasi dalam pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran. Media merupakan alat bantu untuk mencapai tujuan pembelajaran agar siswa mampu memperoleh pengetahuan. Teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media pembelajaran, yakni sarana yang menjembatani hubungan antara siswa, guru dan sumber belajar. Salah satunya adalah menggunakan media YouTube, dalam proses belajar mengajar ini penyampaian konsep materi, siswa atau pengguna video dapat melihat dan mendengarkan video guru dalam berceramah dan memberikan contoh pemahaman seperti halnya ketika siswa sedang menyimak pembelajaran langsung di dalam kelas. Manfaat media YouTube dalam proses pembelajaran adalah dapat menyampaikan materi pembelajaran, memberikan ilustrasi materi, tutotial terhadap materi praktek, tampilan yang menarik akan memotivasi semangat belajar, menambah wawasan dalam ilmu pengetahuan, menyelesaikan masalah pada persoalan materi pelajaran, mendapatkan informasi yang beranekaragam dan berguna dalam pembelajaran. Bagi pengajar media social YouTube selain sebagai media untuk menyampaikan ilmu di sisi lain juga bisa digunakan untuk menimba ilmu atau sumber referensi materi yang lebih mendukung dan inovatif modern terhadap materi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. YouTube sebagai media sosial memiliki kontribusi dalam menumbuhkan kreatifitas seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung. Kreativitas sebagai wujud ekpesi diri manusia terhadap segala kebutuhan dan gagasanya dalam memenuhinya dapat terwujud dalam beberapa macam bentuk antara lain kreativitas dalam bentuk ide kreativitas dalam bentuk produk kreativitas dalam bentuk gagasan kreativitas dalam merubah bentuk dan memperbaiki produk
DIALOG LINTAS IMAN SEBAGAI UPAYA MEMPERKUAT MODERASI BERAGAMA I Nyoman Santiawan; I Nyoman Warta
Widya Aksara Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dialog lintas iman/ agama merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang memiliki latarbelakan kepercayaan dan agama yang berbeda. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dengan julukan City Of Tolerance. Namun akhir-akhir ini masih saja ditemukan tidakan yang tidak mencerminkan julukan tersebut. Kondisi seperti itu menunjukan jauh dari sikap moderasi beragama. sehingga para tokoh agama yang didukung oleh pemerintah berupaya untuk menangkal dan mengatisipasi peristiwa radikal dan intoleransi di Daerah Istimewa Yogyakarta salah satunya adalah dengan mengadakan dialog lintas iman. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, pengumpulan data menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara untuk mendapatkan data yang benar-benar valid. Hasil penelitian ini menunjukan. Dialog lintas iman sangat berkontribusi dalam memperkuat moderasi beragama. Indikatornya adalah: 1. Dialog lintas iman sebagai wadah memperkaya pengetahuan lintas agama. 2. Dialog lintas iman sebagai wadah mempererat pesaudaraan antar lintas agama. 3. Dialog Lintas iman sebagai wadah pemahaman budaya. Dari tiga indicator diatas maka, kesimpulan dari penelitian ini adalah dialog lintas iman sangat efektif untuk memperkuat moderasi beragama. Karena dalam dialog, kebanyakan yang hadir adalah tokoh lintas iman. Sehingga ini sangan berpengaruh pada kehidupan beragama di masing-masing agama.

Page 1 of 2 | Total Record : 12