cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6281229463400
Journal Mail Official
inyomansantiawan@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah Dukuh Macanan Baru, Morangan, Mojayan, Kec. Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57414 Telepon: (0272) 3352795
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Widya Aksara: Jurnal Agmaa Hindu
ISSN : 2085272X     EISSN : 26589832     DOI : -
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu merupakan Jurnal Sosial, Budaya dan Agama Hindu yang menerbitkan hasil penelitian atau pemikiran tentang studi agama dan studi sosial dan budaya menggunakan perspektif interdisipliner. Lingkup Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu adalah: Studi agama Hindu seperti Fisafat, Etika dan Upacara Studi sosial dan budaya seperti sosiologi masyarakat Hindu Sumber pengajaran terkait: studi agama, pemikiran Hindu, filsafat Hindu, studi pendidikan agama Hindu, studi penerangan agama dan kajian budaya
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 29 No 1 (2024)" : 14 Documents clear
Upacara Bayar Hajat Di Pulau Mintin: Konstruksi Kearifan Lokal Terhadap Pencemaran Alam Di Kalimantan Tengah Kunti Ayu Vedanti; Megawati
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.252

Abstract

Sejak masa lampau, manusia dan alam memiliki hubungan yang erat. Hubungan tersebut terbentuk secara alamiah karena manusia membutuhkan alam untuk keberlangsungan hidupnya. Manusia memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya. Namun, seiring perkembangan zaman, hubungan manusia dengan alam mengalami perubahan. Ketergantungan manusia dengan alam dimasa kini telah digantikan dengan teknologi modern yang dirasa lebih efisien dan praktis. Disebabkan perubahan tersebut, manusia masa kini cenderung abai dan acuh terhadap alam sekitarnya yang mengakibatkan ekploitasi dan pencemaran alam terjadi dan mengancam kelestariannya. Realita demikian terjadi pula di Kalimantan Tengah, perubahan budaya masyarakat yang mulanya tradisional menjadi modern, membentuk kecenderungan kehilangan hubungan harmonis dengan alam, yang jika dibiarkan akan mengakibatkan krisis ekologi. Mengamati permasalahan tersebut, kemudian dilakukan penelitian kualitatif terhadap Upacara Bayar Hajat di Pulau Mintin untuk mengungkap konstruksi kearifan lokal bagi permasalahan alam di Kalimantan Tengah. Relevansi Upacara Bayar Hajat di Pulau Mintin sebagai objek penelitian terhadap permasalahan alam Kalimantan Tengah, karena upacara dilaksanakan di Pulau Mintin, yang merupakan tempat sakral di Kabupaten Pulang Pisau yang hingga kini masih terjaga kelestarian alamnya. Pengkajian terhadap Upacara Bayar Hajat di Pulau Mintin menghasilkan konstruksi nilai filsafat Ketuhanan dan konstruksi nilai konservasi alam yang relevan dan dapat diimplementasikan oleh masyarakat dengan harapan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk perduli terhadap permasalahan ekologi dan turut serta melestarikan alam Kalimantan Tengah.
Kesalahan Penggunaan Afiksasi Pada Kolom Komentar Akun Youtube Gita Savitri Devi Norma Nirmana Apriliadhani; Markhamah
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.254

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan berbahasa pada tataran morfologi dalam komentar akun Youtube Gita Savitri Devi. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini, yaitu komentar masyarakat dalam akun Youtube pada salah satu unggahan dengan judul “Childfree: Serba Salah Di Mata Warganet | PagiPagi eps. 32”. Adapun data penelitian ini, yaitu tulisan berupa komentar di Youtube sebanyak 15 komentar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat: (1) Kesalahan penggunaan afiks berupa penyimpangan bentuk kata yang meliputi kesalahan pada bentuk prefiks /me-/ dan /di-/. (2) Kesalahan sufiks /-i/ dan /-kan/. (3) Kesalahan konfiks /me-kan/.
Reproduksi Kekuasaan Melalui Kekerasan Simbolik Dalam Sistem Pendidikan: Analisis Kritis Pemikiran Pierre Bourdieu Gede Agus Siswadi
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.255

Abstract

Penelitian ini menggali fenomena reproduksi kekuasaan melalui kekerasan simbolik dalam sistem pendidikan, dengan fokus pada perspektif teori sosial Pierre Bourdieu. Melalui pendekatan sosiologisnya, Bourdieu menyoroti bagaimana kekuasaan dipertahankan dan diteruskan melalui praktik-praktik simbolik dalam dunia pendidikan. Penelitian ini menganalisis bagaimana pertarungan simbolik antara kelompok yang memegang kapital budaya yang dominan dengan kelompok yang memiliki kapital budaya yang lebih rendah dalam menciptakan ketidaksetaraan dalam kesempatan pendidikan. Pergulatan simbolik ini dapat terlihat dalam berbagai aspek, termasuk kurikulum, penilaian, dan norma-norma sosial di lingkungan pendidikan. Melalui pemahaman Bourdieu tentang konsep habitus, kapital budaya, dan lapangan sosial, penelitian ini merinci bagaimana reproduksi kekuasaan terjadi secara tersembunyi melalui mekanisme simbolik, seperti bahasa, gaya berpakaian, dan nilainilai budaya tertentu yang diterapkan dalam konteks pendidikan. Temuan penelitian ini dapatmemberikan wawasan yang mendalam tentang ketidaksetaraan sistemik dalam pendidikan dan menyoroti pentingnya memahami dan mengatasi kekerasan simbolik sebagai langkah awal menuju transformasi sosial yang lebih adil di bidang pendidikan.
Analisis Pemanfaatan Media Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu Dan Budi Pekerti Di Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Mataram Ni Kadek Sintia; I Wayan Rudiarta
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.256

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pemanfaatan media pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMA Negeri 3 Mataram. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti merupakan mata pelajaran wajib dalam dunia pendidikan di Indonesia. Melalui mata pelajaran ini, siswa dibentuk dan diarahkan untuk mengamalkan ajaran-ajaran Agama Hindu. Namun kerap kali siswa merasa bosan, mengantuk, dan sulit memahami materi sehingga aktivitas pembelajaran tidak dapat berlangsung dengan baik dan tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran. Adanya media pembelajaran diharapkan dapat menjadi mediator dan alat bantu bagi siswa dan guru dalam proses pembelajaran sehingga aktivitas pembelajaran bisa diefektifkan dan diefisienkan serta tujuan pembelajaran dapat dicapai. Akan tetapi dalam bebeberapa penelitian sebelumnya, fungsi dan manfaat media dalam pembelajaran tidak dapat dipenuhi sehingga peneliti melakukan analisis pemanfaatan media pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi langsung non partisipan, wawancara langsung terstruktur, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa adanya media pembelajaran dapat menunjang keberhasilan pembelajaran. Media menjadikan proses pembelajaran lebih menarik, lebih efektif dan efisien, dan lebih interaktif sehingga membuat siswa semangat dan antusias dalam mengikuti aktivitas pembelajaran serta memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Meskipun adanya media belum mampu membuat siswa selalu semangat, antusias, fokus kedepan dan aktif bertanya.
Konsep Diri Dan Karakter Wanita Jawa Dalam Serat Wulang Reh Putri Karya Pakubuwono X Bagus Wahyu Setyawan; Teguh; Shinta Tyas Pratisthita
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.258

Abstract

Dewasa ini banyak wanita Jawa yang sudah mengalami disrupsi karakter sehingga sebagian kehilangan jati dirinya. Untuk itu, perlu dilakukan reaktualisasi Pendidikan karakter dengan mengangkat beberapa piwulang yang tertanam dalam karya sastra Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan konsep dan karakter wanita utama Serat Wulang Putri karya Pakubuwono X. Sumber data penelitian ini adalah teks serat Wulang Putri dan informan dari para pakar bidang sastra dan budaya Jawa. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan studi filologi dan in-depth interview. Uji validitas data dengan menggunakan teknik triangulasi teori dan triangulasi sumber data. Dari hasil analisis data ditemukan konsep dan karakter wanita utama dalam Serat Wulang Putri. Konsep wanita Jawa utama disimbolkan dengan beberapa tokoh, diantaranya Dewi Adaninggar dan Dewi Citrawati yang memiliki sikap berbakti kepada suami. Wanita Jawa juga harus memahami esensi, peran, dan posisinya dalam keluarga. Adapun karakter dari wanita Jawa yang baik diantaranya adalah berbakti, patuh kepada suami, menjaga lisan, memahami posisinya dalam keluarga, dan tentu menjaga segala sesuatu yang diberikan oleh suami.
Penerapan Nilai Nilai Keteladanan Ki Hadjar Dewantara Untuk Meningkatkan Pendidikan Karakter Siswa Setyaningsih
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.259

Abstract

Dalam kurun waktu belakangan ini di Indonesia maraknya peristiwa berbagai tindak kriminalitas, tindak kekerasan, dan beredarnya video porno yang dilakukan oleh beberapa artis merupakan contoh penyimpangan-penyimpangan perilaku amoral. Krisis multidimensi dan keterpurukan bangsa, pada hakekatnya bersumber dari jati diri, dan kegagalan dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan diharapkan dapat memberikan wahana pembelajaran yang memberikan peluang bagi siswa untuk mengembangkan sikapsikap seperti religiusitas, sosialitas, gender, keadilan, demokrasi, kejujuran, integritas, kemandirian, daya juang, serta tanggung jawab. Pendidikan karakter, moral dan budaya sebenarnya sudah dirintis oleh Ki Hadjar Dewantara dengan tri pusat pendidikan yang dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial. Lingkungan sekolah (guru) saat ini memiliki peran sangat besar pembentukan karakter anak/siswa. Peran guru dalam dunia pendidikan modern sekarang ini semakin kompleks, tidak sekedar sebagai pengajar semata, pendidik akademis tetapi juga merupakan pendidik karakter, moral dan budaya bagi siswanya. Guru haruslah menjadi teladan, seorang model sekaligus mentor dari anak/siswa di dalam mewujudkan perilaku yang berkarakter yang meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa. Konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara dengan menerapkan“Sistem Among”, “Tutwuri Handayani” dan “Tringa”. “Sistem Among” yaitu cara pendidikan yang dipakai dalam Tamansiswa, mengemong (anak) berarti memberi kebebasan anak bergerak menurut kemauannya, tetapi pamong/guru akan bertindak, kalau perlu dengan paksaan apabila keinginan anak membahayakan keselamatannya. “Tutwuri Handayani” berarti pemimpin mengikuti dari belakang, memberi kemerdekaan bergerak yang dipimpinya, tetapi handayani, mempengaruhi dengan daya kekuatan, kalau perlu dengan paksaan dan kekerasan apabila kebebasan yang diberikan itu dipergunakan untuk menyeleweng dan akan membahayakan diri. “Tringa” yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni, mengingatkan terhadap segala ajaran, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan dalam pelaksanaanya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan, menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan tidak memperjuangkan.
Strategi Pengembangan Profesionalitas Guru Agama Hindu Di Kota Surakarta I Wayan Tudy Subawa; Toto Margiyono; Putu Budiadnya
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.260

Abstract

Proses profesionalisme guru agama Hindu di Kota Surakarta mampu mengimplementasikan berbagai teori dan metodelogi dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru, menunjukkan ada keragaman tingkat profesionalisme. Dengan kondisi ini maka profesinalitas guru agama Hindu di Kota Surakarta harus lebih dikembangkan hingga pada tataran yang lebih subtantif melalui upaya-upaya rekayasa manejerial. Pelaksanaan manajemen sumber daya manusia (guru agama Hindu di Kota Surakarta) hingga saat ini belum dapat berjalan secara baik, hal ini dikarenakan kebijakan strategis yang dilakukan oleh kepala sekolah ditempat para guru agama Hindu mengajar kurang memperhatikan keperluan pendukung (sarana dan prasarana belajar agama Hindu). Strategi yang diterapkan dalam mengembangkan profesionalitas guru agama Hindu di kota Surakarta lebih menggunakan pendekatan informal dalam konteks mikro institusonal. Sedangkan pola pengembangan yang diterapkan lebih menggunakan pola in the job site, dalam banyak hal masih belum menunjukkan upaya yang terencana secara sistemik.
Etika Estetika Dan Filosofi Berbusana Sembahyang Dalam Ajarah Hindu I Nyoman Warta
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.261

Abstract

Busana sembahyang dalam kalangan umat Hindu sangat berenekaragam bentuk,jenis dan fungsinya sesuai dengan daerah dan kebhinekaanya, yang sangat mengutamakan etika dan filosofi tatanan kehidupan beragama. Busana sangat memegang peran dalam kehidupan sebagai ciri dan identitas seni budaya dan tradisi mahakarya leluhur yang adhiluhung yang harus kita lestarikan kepada anak dan cucu. Jadi antara busana dan prilaku jati diri kita melekat tidak bisa kita abaikan dengan alasan apapun. Apa lagi busana sembahyang sesungguhnya mengandung makna dan filosofi yang dalam. Dalam konsep Agama Hindu, busana sembahyang yang digunakan dalam melaksanakan persembahyangan tidak sematamata tumbuh dari budaya masyarakat seperti busana pada umumnya, tetapi merepresentasikan nilai-nilai agama.Pemahaman yang salah terhadap adanya peristiwa modernisasi busana denganpenyimpangan busana kebaya sebagai busana kegiatan keagamaan bagi kalangan wanitayang beragama Hindu tersebut perlu dikaji dan diperbaiki lebih lanjut. Hal tersebut menimbulkan banyaknya perdebatan yang kompleks pada pandangan budaya, agama, dan norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu, perlunya meluruskan pemahaman terhadappenggunaan busana kebaya agama Hindu yang baik dan sesuai norma Menghadapi perkembangan zaman yang menimbulkan perubahan tren, tentu sebagaiumat Hindu fleksibilitas dalam penentuan strategi adpatsi di era kekinian. Fleksibilitas saat menghadapi perubahan tren terutama perkembangan berbusana sembahyang mengacu pada kemampuan untuk beradaptasi terhadap cara berbusana tradisional yang lebih terbuka dan inklusif. Fleksibilitas dalam konteks ini tidak hanya dinilai dalam konotasi negatif. Fleksibilitas dapat mencakup adaptasi dan modifikasi dari segi penggunaan model dan gaya berbusana yang lebih modern dan sesuai perkembangan zaman namun tetap mempertahankan nilai budaya dan makna simbolis dari busana .
Implementasi Tri Hita Karana Dalam Upacara Merti Bumi Nyadran Surocolo Di Seloharjo Bantul Yogyakarta Ni Luh Putu Wiardani Astuti
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.262

Abstract

Nyadran Surocolo merupakan serangkaian upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Surocolo sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu dikarenakan adanya sumber mata air di tuk Surocolo, dimana itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari dan untuk bercocok tanam, karena masyarakat kami kebanyakan bercocok tanam. Di Surocolo ada sendang sumber air yang bisa digunakan untuk pertanian, bisa untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari. Sebagai salah satu ungkapan rasa syukur tersebut salah satunya dengan nyadran yaitu memohon pada Tuhan Yang Maha Esa agar sendang atau sumber air tidak berhenti untuk tetap mengalir. Upacara adat nyadranan di tempat lain dilakukan di bulan ruwah menjelang bulan puasa tetapi upacara nyadranan di Surocolo dilakukan di mangsa kapapat/puncak kemarau menjelang musim hujan antara bulan September atau Oktober atau November. Tri Hita Karana. Tri Hita Karana berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” berarti penyebab. Tri Hita Karana menurut pandangan Agama Hindu adalah tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. Adapun bagian-bagiannya ajaran Tri Hita Karana yaitu a. Parhyangan Hubungan Manusia dengan Tuhan, b. Pawongan Hubungan Manusia dangan Manusia, c. Palemahan Hubungan Manusia dengan Alam Semesta. Terciptanya rangkaian Upacara Adat Nyadran Surocolomengimplementasikan dari Tri Hita Karana sendiri untuk adanya keseimbangan.
Penerapan Ajaran Dasa Yama Brata Untuk Memperkuat Kesusilaan Dan Menciptakan Keharmonisan Titin Sutarti
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 29 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v29i1.263

Abstract

Kesusilaan sangat penting untuk saat ini digaungkan dan ditekankan kembali implementasinya terutama di kalangan anak muda, hal itu dikarenakan saat ini nilai nilai serta pemahaman menengai kesusilaan dan implementasinya perlu diperkuatkan kembalikeberadaan serta eksistensinya. Kesusilaan ini memiliki peran penting dalam kehidupan social karena menyangkut layak dan tidaknya sesuatu dilakukan di suatu tempat. Dasa Yama Bratha sebagai salah satu ajaran tata susila, berfungsi untuk membina dan menempa watak pribadi maupun budi pekerti yang luhur bagi setiap umat manusia seperti berperilaku rendah hati, sopan santun, menghargai orang lain, dan lain sebagainya. Setiap orang perlu bekerja keras untuk menjaga dirinya dalam kehidupan sehari-hari agar hal-hal negatif tidak menimpa dirinya. Ajaran Dasa Yamabrata, terdiri atas : a) Ànåûangsya yaitu harimbawa berarti tidakmementingkan diri sendiri, b) Kûmā berarti tahan akan panas dan dingin, c) Satya berarti tidak berkata bohong, d) Ahimsā berarti berbuat bahagianya makhluk, e) Dama berarti sabar serta dapat menasihati diri sendiri, f) Àrjawa berarti tulus hati, berterus terang, g) Prtti berarti sangat welas asih, h) Prasāda berarti kejernihan hati, i) Mādhurya berarti manis pandangan dan manis perkataan, j) Mārdawa berarti kelembutan hati. Ajaran Dasa Yama Bratha sangat penting diterapkan dalam kehidupan manusia karena ajaran ini sangat berorientasi pada pengendalian diri serta upaya menjaga keselarasan dan keseimbangan perilaku manusia agar apa yang menjadi tujuan hidup manusia dapat tercapai serta keselarasan dan keseimbangan kehidupan terjaga dengan baik. Agar ajaran Dasa Yama Bratha ini bisa terserap dan teraplikasikan banyak orang maka bagi orang yang telah mempelajari dan memahami harus berupaya mengimplementasikan dalam kehidupan. Dengan penerapan ajaran ini akan mampu menyeimbangkan keharmonisan hidup antar manusia, karena setiap insan manusia akan senantiasa memiliki rasa cinta kasih dan saling menghormati.

Page 1 of 2 | Total Record : 14