cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6281229463400
Journal Mail Official
inyomansantiawan@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah Dukuh Macanan Baru, Morangan, Mojayan, Kec. Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57414 Telepon: (0272) 3352795
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Widya Aksara: Jurnal Agmaa Hindu
ISSN : 2085272X     EISSN : 26589832     DOI : -
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu merupakan Jurnal Sosial, Budaya dan Agama Hindu yang menerbitkan hasil penelitian atau pemikiran tentang studi agama dan studi sosial dan budaya menggunakan perspektif interdisipliner. Lingkup Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu adalah: Studi agama Hindu seperti Fisafat, Etika dan Upacara Studi sosial dan budaya seperti sosiologi masyarakat Hindu Sumber pengajaran terkait: studi agama, pemikiran Hindu, filsafat Hindu, studi pendidikan agama Hindu, studi penerangan agama dan kajian budaya
Articles 168 Documents
DAMPAK EKONOMI TERHADAP PENGHASILAN PEDAGANG DI SEKITAR PANTAI JOLOSUTRO PADA RITUAL MELASTI UMAT HINDU KABUPATEN BLITAR Dwiasa Sambhawa Dharma; Sauca, Dhinar Mawanti
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.307

Abstract

Kabupaten Blitar merupakan wilayah yang memiliki banyak pantai di bagian selatan, salah satunya adalah Pantai Jolosutro yang terletak di Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates. Berjarak kurang lebih 45 km dari pusat Kota Blitar ke arah selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upacara Melasti sebagai sarana pembersihan diri serta lingkungan yang dilakukan oleh umat Hindu se-kabupaten dan kota Blitar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data melalui kegiatan wawancara, observasi, dan partisipasi serta mengkaji berbagai sumber literatur untuk memperoleh data terkait upacara Melasti dan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat sekitar Pantai Jolosutro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara melasti merupakan ritual yang bertujuan sebagai pembersihan baik individu maupun lingkungan alam (bhuwana alit dan bhuwana agung). Oleh karena itu, upacara Melasti ini dapat memberikan dampak positif terkait peningkatan jumlah penghasilan bagi pelaku usaha di sekitar wilayah Pantai Jolosutro.
PENGARUH PELAKSANAAN LITERASI KITAB SUCI TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA HINDU DI SMPN 14 MATARAM Ni Made Ayu Trisna Aprilia Sari; I Wayan Rudiarta; Ni Wayan Ria Lestari
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.311

Abstract

Saat ini pendidikan karakter menjadi perhatian yang lebih diutamakan dalam dunia pendidikan. Hal ini menjadi respons terhadap berbagai masalah kemerosotan moral. Fenomena rendahnya karakter positif siswa juga dihadapi di SMPN 14 Mataram, salah satu upaya yang diterapkan adalah program literasi kitab suci. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pengaruh antara pelaksanaan literasi kitab suci terhadap pembentukan karakter siswa Hindu di SMPN 14 Mataram. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan metode Ex-Post Facto. Data penelitian diperoleh melalui angket, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS 23 untuk melakukan analisis deskriptif dan analisis inferensial yang meliputi uji normalitas, uji linearitas, dan uji regresi linear sederhana. Populasi penelitian merupakan seluruh siswa Hindu kelas VII, VIII, dan IX sejumlah 435 oang. Sampel yang digunakan yaitu seluruh siswa Hindu kelas VII yang berjumlah 135 orang. Hasil analisis data: nilai rata-rata untuk literasi kitab suci yaitu 75,68 (Tinggi) dan nilai rata-rata pembentukan karakter siswa yaitu 77,37 (Tinggi). Melalui analisis regresi linear sederhana ditemukan bahwa variabel Literasi Kitab Suci dan Pembentukan Karakter Siswa memiliki hubungan sebesar 58,8%. Berdasarkan hasil uji hipotesis nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari nilai probabilitas 0.05 yang dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara pelaksanaan literasi kitab suci terhadap pembentukan karakter siswa Hindu di SMPN 14 Mataram. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan literasi kitab suci direkomendasikan untuk terus dilaksanakan mengingat hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan literasi kitab suci menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter siswa Hindu di SMPN 14 Mataram.
IMPLEMENTASI KEGIATAN SRADHA DAN BHAKTI PADA PEMBENTUKAN KARAKTER MANDIRI SISWA HINDU DI SMPN 1 MATARAM Leslesy, Wiwin; I Gede Eka Pudja Diatmika; I Wayan Rudiarta
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.312

Abstract

ABSTRAK Pendidikan karakter di sekolah sering menghadapi tantangan seperti kurangnya keteladanan dan pengawasan serta minimnya penerapan nilai moral. Dalam kondisi ini, kegiatan keagamaan seperti sradha dan bhakti menjadi solusi strategis untuk membentuk karakter mandiri siswa Hindu di SMP Negeri 1 Mataram dengan menanamkan nilai spiritual dan moral yang mendukung kemandirian siswa dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi non-partisipan terhadap pelaksanaan kegiatan sradha dan bhakti, wawancara semi-terstruktur dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru agama Hindu, serta siswa Hindu kelas VII, VIII, IX, dan dokumentasi berbagai aktivitas terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan sradha dan bhakti di SMP Negeri 1 Mataram dilaksanakan secara rutin dan terstruktur, meliputi persembahyangan bersama, dimana siswa dan guru melaksanakan doa tri sandhya diisi dengan dharma wacana, mengkidung, serta kegiatan bersih-bersih di Pura. Kegiatan ini berkontribusi dalam membentuk karakter mandiri siswa dengan meningkatkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan keterampilan dalam mengambil keputusan secara mandiri. Selain itu, keterlibatan siswa dalam organisasi Hindu sekolah menunjukkan adanya perkembangan kemandirian dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan keagamaan. Namun, beberapa kendala masih ditemukan, seperti kurangnya kesadaran individu dalam mengikuti kegiatan secara konsisten, keterbatasan fasilitas pendukung, miskomunikasi dengan guru, dan keterbatasan tenaga pendidik. Secara keseluruhan, implementasi kegiatan sradha dan bhakti memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter mandiri siswa Hindu di SMP Negeri 1 Mataram. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan motivasi siswa, memperkuat peran guru dan orang tua, serta menambah fasilitas guna mengoptimalkan efektivitas kegiatan ini. Kata Kunci : Sradha dan Bhakti, Karakter Mandiri, Pendidikan Agama Hindu.
PLATFORM TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PELESTARIAN TARI REJANG BERDASARKAN NILAI-NILAI TRI HITA KARANA Suardiati Putri, Ni; Sutajaya, I Made; Suja, I Wayan
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.313

Abstract

Platform teknologi pendidikan merupakan salah satu inovasi pada bidang pendidikan yang dapat mengubah seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Platform teknologi dapat mengembangkan pengetahuan serta keterampilan dalam bidang pendidikan, sehingga proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien. Salah satu peran teknologi pendidikan yaitu pelestarian tari rejang. Tujuan penulisan adalah memberikan hasil analisis terkait dengan pemanfaatan platform teknologi pendidikan dalam bidang kesenian seperti tari tradisional rejang. Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan jurnal ini ialah menggunakan jenis kualitatif. Hasil dan kesimpulan yang diambil melalui ialah Tri Hita Karana memiliki beberapa nilai yang dapat diterapkan dalamdunia pendidikan, misalnya karakter spiritualitas. Pada kegiatan pembelajaran, guru dapat memberikan arahan kepada peserta didik untuk memiliki hubungan yang harmonis bersama dengan lingkungan, sesama, dan Tuhan. Melalui ajaran parahyangan, pawongan, serta palemahan dengan menerapkan nilai-nilai THK akan menciptakan hubungan yang damai. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan teknologi pendidikan seperti augmented reality, virtual reality, e-learning, maupun aplikasi mobile dapat memberikan keefektifan dan menarik minat belajar peserta didik. Melalui penerapan teknologi tersebut, peserta didik dapat belajar dimana saja dan kapan saja untuk meningkatkan kemampuan dalam belajar tari rejang.
MEMBANGUN KEBERSAMAAN UMAT HINDU KABUPATEN BLITAR Sujaelanto
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.324

Abstract

Religion is not only a guide for each person's personal life but also serves as a social glue for socio-religious life in society. However, in reality, religion also contributes to conflict and division when its teachings are interpreted in an incomprehensible manner. In today's world, the wealthy, who should be helping, instead expect to be helped. The Hindu concept of "punia" teaches us to give a portion of our wealth so that others can enjoy it. Is giving part of one's possessions based on religious obedience or is there something else that motivates someone to give "punia"? This paper will present how the social dimension of "punia" fosters unity among Hindus in Blitar Regency. This issue is analyzed and explained using semiotic theory. The analysis reveals that "punia" is a teaching with both social and spiritual dimensions. Socially, "punia" fosters attitudes and behaviors that care for the needs of others. Spiritually, "punia" serves as self-control against greed. Based on this concern, Hindus voluntarily donate a portion of their wealth for social purposes greater than their own. Offerings of alms (punia) are given to groups or individuals in need or underprivileged, but are also undertaken as an effort to meet the needs of socio-religious activities and/or to build social and religious facilities. Offerings are not only material but can also be expressed through labor, knowledge, skills, moral encouragement, and sense control. Offerings are carried out based on religious teachings and humanitarian values. The awareness and concern for offering alms (punia) among Hindus demonstrates the community's enthusiasm for practicing religious teachings.
KEPEDULIAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SOCIAL PEDAGOGY Sutarti, Titin
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.336

Abstract

Kepedulian sosial merupakan nilai fundamental yang perlu dikembangkan dalam pendidikan guna membentuk generasi yang berkarakter, empatik, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang majemuk. Kepedulian sosial dalam perspektif social pedagogy sebagai pendekatan yang menekankan pada interaksi, pengalaman belajar, dan kontribusi nyata dalam komunitas. Dengan mengintegrasikan pembelajaran berbasis pengalaman, kerja kelompok, diskusi reflektif, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial, social pedagogy dapat memperkuat nilai empati, solidaritas, dan toleransi. Kajian pustaka dan analisis teoretis menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya mendukung pencapaian akademik, tetapi juga mendorong terbentuknya sikap peduli, inklusif, dan berorientasi pada keadilan sosial. Penerapan social pedagogy dalam pendidikan diharapkan menjadi strategi efektif untuk menumbuhkan kepedulian sosial peserta didik sekaligus memperkuat tujuan pendidikan karakter. Integrasi social pedagogy membutuhkan dukungan dari guru, sekolah, keluarga, dan masyarakat agar nilai kepedulian sosial dapat terwujud secara berkelanjutan. Kolaborasi lintas pihak akan memperkuat efektivitas implementasi dan menciptakan lingkungan belajar yang mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif. Dengan dukungan ekosistem pendidikan yang sinergis, kepedulian sosial dapat berkembang menjadi budaya sekolah yang berdampak positif bagi masyarakat luas. Dukungan ini akan memastikan bahwa nilai kepedulian sosial tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi juga diwujudkan dalam praktik nyata yang konsisten di berbagai lini kehidupan. Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui program sekolah berbasis pengabdian masyarakat, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sosial siswa, serta kemitraan dengan organisasi. Dengan adanya sinergi yang kuat antar unsur pendidikan, nilai kepedulian sosial akan lebih mudah diinternalisasi dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian sosial dapat tumbuh menjadi karakter kolektif bangsa yang memperkuat persatuan dan ketahanan sosial.
ANALISIS FENOMENOLOGIS INTERPRETATIF REGULASI EMOSI GURU DALAM PENDIDIKAN HINDU NON FORMAL: PENGALAMAN SUBJEKTIF DI PRATAMA WIDYA PASRAMAN CAHAYA SARASWATI KABUPATEN KARANGANYAR Riyadi, Agus; Wisnu Wardani, Dewi Ayu
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.339

Abstract

Emotional regulation is a crucial aspect of the teaching profession, particularly in a spiritually-based educational environment like the Pasraman (Islamic school). This study aims to explore teachers' subjective experiences in managing emotions while serving as educators at the Paratama Widya Pasraman Cahaya Saraswati in Karanganyar Regency. Using the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) method, data were collected from five teachers through participant observation, documentation, and in-depth interviews. Findings indicate that teachers' emotional regulation is grounded in Hindu values ​​such as satya (honesty), ksama (patience), and bhakti (spiritual devotion). Teachers view swadharma (sacred duty) as part of emotional awareness, which is carried out with spiritual awareness. Strategies used include spiritual reflection, self-control through japa (prayer), and a compassionate, dialogical approach. This study confirms that understanding emotional regulation in Hindu education is inseparable from the cultural and religious context. These findings contribute theoretically to discussions of emotions in alternative education and offer practical implications for teacher training that emphasizes spirituality and emotional well-being. Keywords: Emotional regulation, teachers, interpretive phenomenological analysis, Pasraman, Hindu education
TRI HITA KARANA SEBAGAI PELESTARI SEMESTA Warta, I Nyoman
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 30 No 2 (2025): Vol. 30, No. 2 September 2025
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v30i2.341

Abstract

The global ecological crisis characterized by environmental degradation, climate change, and biodiversity loss urges a need for holistic and sustainable alternative approaches. This paper examines Tri Hita Karana, a Balinese Hindu philosophy that offers a unique integration of spiritual, social, and ecological values ​​as a solution to environmental problems. Using qualitative methods with a cultural ecology approach, this study analyzes how the three main principles of Tri Hita Karana Parhyangan (human-God relationship), Pawongan (human-human relationship), and Palemahan (human-nature relationship)—contribute to ecosystem preservation in Bali. Parhyangan positions nature as a manifestation of the sacred Ida Sang Hyang Widhi, manifested through rituals such as Tumpek Uduh (vegetation) and Melasti (nature purification), as well as customary prohibitions (awig-awig) against the exploitation of forbidden forests. These principles instill a conservation ethic based on religious beliefs, protecting biodiversity organically. Pawongan strengthens communal collaboration in natural resource management, such as the subak system (a UNESCO-recognized traditional irrigation system) that ensures equitable water distribution and prevents ecological conflict. Meanwhile, Palemahan promotes environmentally friendly practices through traditional architecture, organic waste recycling, and coastal ecosystem restoration. The teachings of Tri Hita Karana are not only effective in maintaining Bali's ecological balance but also offer a globally relevant model of environmental ethics. However, this philosophy faces challenges from modernization, such as industrialization and mass tourism, which threaten the sustainability of local values. This suggests that integrating traditional wisdom such as Tri Hita Karana into development policies can be a transformative solution to the ecological crisis, emphasizing that humans are an integral part of, rather than masters of, the universe. These findings contribute to academic discussions on cultural ecology and sustainability, while also underscoring the importance of revitalizing local wisdom in responding to contemporary environmental challenges.