cover
Contact Name
Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari
Contact Email
jurnalanala@gmail.com
Phone
+6285738776698
Journal Mail Official
jurnalanala@undwi.ac.id
Editorial Address
JALAN KAMBOJA NO 17, DENPASAR - BALI
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Anala
Published by Universitas Dwijendra
ISSN : 19075286     EISSN : 27225682     DOI : 10.46650
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Anala is a peer-reviewed academic journal published by the Faculty of Engineering at Dwijendra University, Denpasar, Bali, Indonesia (P-ISSN: 1907-5286; E-ISSN: 2722-5682). The aim of the journal is to publish original and high-quality articles in the field of architecture, landscape architecture, interior design, building science, building construction, civil engineering and the built environment. Jurnal Anala is published twice a year, in February and September. We accept original articles that have not been previously published elsewhere and are not currently under review for publication.
Articles 141 Documents
PENGGUNAAN KEKARANGAN DAN RAGAM HIAS DALAM DESAIN BANGUNAN BALI Nyoman Ari Adnyana; Desak Made Sukma Widiyani; Frysa Wiriantari; Ni Putu Yunita Laura Vianthi
Jurnal Anala Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.2.1578.28-36

Abstract

Balinese building design reflects its rich cultural heritage and strong traditional identity. In this design, the use of garland and decoration plays a central role in creating a unique aesthetic and expressing religious values and the natural surroundings. Carvings, such as the structures on pelinggih, provide a distinctive physical structure, while decoration, such as wood carvings and paintings, add artistic details that enrich the appearance of the building. Through this research, we explore the use of garland and decoration in Balinese building design and instill them with cultural identity and traditional values.
PENERAPAN KONSEP COMFORT OF HUMAN CIRCULATION DAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA REDESAIN PASAR TRADISIONAL DESA SAYAN I Wayan Wirya Sastrawan; I Gede Surya Darmawan; I Gusti Agung Gede Wisnu Kusuma Dwipayana
Jurnal Anala Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.2.1579.37-49

Abstract

Traditional markets are places where buying and selling transactions take place between traders and buyers by implementing a bargaining system that is characteristic of traditional markets. Many people depend on the existence of traditional markets. Especially for lower middle class people. Sayan Village Traditional Market, Ubud District, Gianyar Regency is a location for trading daily necessities such as fruit, vegetables, meat, prayer tools, and others. The problems faced by this market are unhygienic market conditions and the appearance of slums, buildings and spatial layout. Sayan Market experiences an inadequate and disorganized condition, with a number of areas not being utilized optimally, such as chaotic parking and kiosk facilities and main market stalls that are neglected and not well maintained. This can cause people to feel uncomfortable, and people prefer modern markets that prioritize cleanliness. The research method used by the author to prepare this research is a qualitative method in the form of literature study, observation, documentation and interviews. Based on the existing problems, it is necessary to redesign the Traditional Market in Sayan Village, Ubud District, Gianyar Regency so that it can accommodate functions well packaged in a new, clean, comfortable market appearance and pay attention to more optimal circulation
PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM REVITALISASI DESA WISATA KOKOKAN DI BANJAR PETULU GUNUNG Pande Putu Dwi Novigga; Ni Putu Ratih Pradnyaswari; Putu Ayu Sita Laksmi
Jurnal Anala Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.2.1581.50-64

Abstract

Petulu Village is a suburb of Ubud which is used as an area for expanding Ubud tourism. Petulu Village is famous for one of the uniquenesses in one of the hamlets, namely Banjar Petulu Gunung. The uniqueness of this hamlet is that it has a gathering of thousands of Kokokan birds that live around the Banjar Petulu Gunung area. So that this uniqueness is used as a tourist attraction called the Kokokan tourist attraction. This Kokokan tourist attraction already has several accommodation facilities such as ticketing, toilets and a bale banjar as a meeting place. However, these facilities are considered less than optimal so that tourists are reluctant to pay. Kokokan birds are also located along the main road which is generally passed by the community and tourists so that without having to pay, tourists can see the birds. This tourist attraction has been managed by the local Pokdarwis. But until now the tourist attraction has not been managed properly so that it has not been profitable in terms of economy. These problems must be resolved together by the relevant Village Stakeholders, the Community and Academics in order to obtain optimal quality tourist attractions. Of course, some of the solutions offered are related to the field of science of the implementing team, namely providing ideas for a master plan for the development of the Kokokan tourist attraction and its tourism development management. The hope of this PKM is to help develop the potential of the Village to become an independent Tourism Village.
Peningkatan Kenyamanan Termal Taman Kota Melalui Model Taman Air Berarsitektur Tradisonal I Wayan Wirya Sastrawan; I Gede Surya Darmawan
Jurnal Anala Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.1.1622.1-9

Abstract

Kenyamanan termal menjadi aspek penting dalam perancangan ruang luar seperti taman kota. Taman air tradisional Bali memiliki potensi untuk meningkatkan kenyamanan termal melalui penerapan elemen air dan konsep arsitektur tradisional. Penelitian sebelumnya oleh Wirya dkk (2017) menemukan tiga model taman air berarsitektur tradisional Bali yang memiliki tingkat kenyamanan termal optimal. Namun, penerapan model tersebut pada taman kota modern belum banyak diteliti.Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan konsep desain taman kota yang optimal dari segi kenyamanan termal dengan menerapkan model taman air berarsitektur tradisional Bali. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan teknik simulasi menggunakan software Envi-met. Objek penelitian adalah tiga taman kota di Bali yaitu Taman Kota Alit di Kabupaten Tabanan, Lapangan Astina di Kabupaten Gianyar, dan Lapangan Kapten Mudita di Kabupaten Bangli.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model taman air tradisional Bali dapat meningkatkan kenyamanan termal pada taman kota. Pola sebaran suhu udara dan kelembaban lebih merata dengan adanya elemen air dan vegetasi yang ditata sesuai konsep tradisional Bali. Kecepatan angin juga lebih terkontrol sehingga menciptakan iklim mikro yang lebih nyaman. Konsep desain yang dihasilkan dapat dijadikan rekomendasi bagi perancangan taman kota yang optimal dari segi kenyamanan termal dengan tetap mempertahankan nilai-nilai arsitektur lokal.
KAJIAN APLIKASI BRAND IDENTITY PADA ELEMEN DESAIN INTERIOR SPARKLE COFFEE BANDUNG Mohd Ridho Kurniawan
Jurnal Anala Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.1.1625.10-18

Abstract

Bandung dikenal sebagai salah satu pusat tren gaya hidup di Indonesia, termasuk dalam perkembangan coffee shop yang terus meningkat. Fenomena ini mencerminkan kebutuhan masyarakat urban akan ruang sosial yang nyaman sekaligus tempat bekerja dan bersantai. Namun, persaingan yang ketat memaksa setiap coffee shop memiliki identitas unik untuk menarik pelanggan. Brand identity pada coffee shop merupakan elemen penting yang memengaruhi keputusan pengunjung dalam memilih tempat melampaui sekadar cita rasa produk. Penelitian ini mengkaji aplikasi konsep brand identity pada elemen desain interior Sparkle Coffee di Bandung. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan analisis indikator pembentuk brand identity dan elemen desain interior. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, dokumentasi, dan kajian teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan brand identity sparkle coffee secara fisik dan psikologis efektif diterapkan melalui elemen interior tangible dan intangible. Secara tangible, identitas sparkle coffee tercermin dari kombinasi warna terracotta dan silver, pemilihan furnitur modern dengan material alumunium yang menciptakan kesan hangat dan mewah. Secara intangible, suasana ruang dengan pencahayaan redup dan menonjolkan spot ikonik “berkilau” dan penghawaan yang baik mendukung identitasnya sebagai kafe “instagramable”. Dapat disimpulkan bahwa implementasi konsep brand identity yang tepat pada desain interior Sparkle Coffee mampu meningkatkan brand image dan menciptakan pengalaman pelanggan yang berkesan, sekaligus mendukung daya saing bisnis di tengah pertumbuhan coffee shop yang pesat Kota Bandung. Kata Kunci: Brand identity, coffee shop, desain interior, Bandung
ANALYSIS OF PENGGARON TERMINAL USER ACTIVITIES USING PERSON-CENTERED MAPS, PLACE-CENTERED MAPS, AND PHYSICAL TRACE METHODS Dini Silvia Anggraini; muhammad azmy ikhsani; husnul masyitoh; hilba yoga pratama
Jurnal Anala Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.1.1626.19-31

Abstract

Terminal Penggaron Kota Semarang, sebagai salah satu terminal utama, menghadapi masalah terkait penggunaan ruang yang belum optimal. Banyak pengguna lebih memilih beraktivitas di sekitar lampu merah pintu masuk terminal daripada di dalam terminal itu sendiri, yang menyebabkan penumpukan kendaraan dan parkir liar bus. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan terminal dan mengatasi masalah parkir liar dengan menggunakan metode Person Centered Maps, Place Centered Maps, dan Physical Trace. Metode ini digunakan untuk memetakan pola pergerakan pengguna, mengidentifikasi penggunaan ruang, dan menganalisis jejak fisik yang ditinggalkan di terminal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna lebih sering berkumpul di luar terminal, serta terdapat ketidakteraturan dalam pengelolaan ruang dan parkir yang memengaruhi kelancaran lalu lintas. Berdasarkan analisis tersebut, disarankan penataan ulang area parkir, peningkatan fasilitas di dalam terminal, serta pemasangan rambu yang jelas untuk mengoptimalkan fungsi terminal. Implementasi solusi ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan efisiensi penggunaan terminal, serta mendukung kelancaran arus lalu lintas di sekitar area Terminal.
Modernisasi dan Warisan Budaya: Peran Ganda Bale Banjar dalam Lansekap Perkotaan Kuta Ni Made Mitha Mahastuti; I Made Adhika; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra; I Nyoman Susanta
Jurnal Anala Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.1.1636.32-41

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Bale Banjar berfungsi sebagai ruang publik yang mendukung interaksi sosial dan pelestarian budaya di tengah arus modernisasi. Latar belakang penelitian ini mencakup tantangan yang dihadapi masyarakat Kuta dalam menjaga warisan budaya mereka di tengah pesatnya perkembangan pariwisata. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi untuk memahami dinamika sosial yang terjadi. Dengan demikian, penelitian ini menyoroti pentingnya peran ganda Bale Banjar dalam mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan tuntutan modernitas, serta bagaimana hal ini berkontribusi pada keberlanjutan budaya di Kuta. Penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai bagaimana bale banjar dapat beradaptasi dengan dinamika perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang melekat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi telah mengubah bale banjar dari ruang tradisional menjadi ruang multifungsi yang juga melayani kegiatan ekonomi dan komersial. Meskipun demikian, bale banjar tetap bertahan dengan elemen-elemen budaya tradisionalnya, meski dalam bentuk yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern. Selain itu juga menunjukkan bahwa Bale Banjar tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai pusat kreativitas dan inovasi budaya. Bale Banjar memainkan peran penting dalam menjaga identitas lokal dengan mengadakan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat.
Wujud Elemen Pembentuk Karang Bengang di Desa Tegallalang Gianyar Bali Karma Made Prarabda
Jurnal Anala Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.1.1637.42-53

Abstract

Penelitian ini merupakan penggalan hasil penelitian tahun 2018 mengenai pemanfaatan karang bengang di Desa Tegallalang, Gianyar, Bali. Karang bengang adalah area terbuka di luar wewengkon desa adat namun masih dalam cakupan wewidangan desa adat tersebut dan berbatasan langsung dengan desa adat lain. Area ini memiliki nilai sakral dan berfungsi sebagai lahan pertanian serta perkebunan yang dikelola oleh subak. Seiring alih fungsi lahan menjadi permukiman, muncul konflik kewenangan pengelolaan akibat ketiadaan serah-terima tata kelola dari subak ke desa adat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami konsep karang bengang dan elemen pembentuknya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, studi literatur, dan studi instansional dengan narasumber seperti bendesa adat, prajuru, pekaseh, dan pemilik lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen pembentuk karang bengang meliputi aspek parahyangan, pawongan, dan palemahan berdasarkan konsep Tri Hita Karana. Elemen-elemen ini mencakup Pura Ulun Suiw/Bedugul sebagai tempat pemujaan, organisasi subak dengan bale timbang dan telabah sebagai fasilitas pertanian, serta tangluk sebagai penanda batas wilayah yang bernilai sakral. Pemahaman konsep karang bengang dan elemen pembentuknya diharapkan dapat menghindari konflik antar desa adat serta menjadi dasar penetapan batas wilayah desa adat secara lebih jelas. Penelitian ini berkontribusi pada pelestarian kearifan lokal dan harmonisasi sosial dalam tata ruang tradisional Bali.
IDENTIFIKASI RUANG, STRUKTUR DAN ADAT ISTIADAT RUMAH ADAT BALOY A A KETUT RAI; A A Ayu Sri Ratih Yulianasari
Jurnal Anala Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.1.1639.54-60

Abstract

Rumah adat merupakan peninggalan kebudayaan Masyarakat tradisional yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya sebai cagar budaya oleh masyarakat. Di Indonesia terdapat banyak sekali rumah adat yang masih dilestarikan sampai saat ini. Salah satunya adalah rumah adat yang berada di Kalimantan Utara yaitu Rumah Adat Baloy. Rumah adat baloy ini merupakan hasil kebudayaan seni arsitektur dari masyarakat Tidung, Kalimantan Utara serta memiliki material, struktur dan konstruksi banguunan yang unik dan memiliki makna yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi ruang pada Rumah Adat Baloy, untuk mengetahui sistem struktur dan konstruksi Rumah Adat Baloy serta untuk mengetahui hubungan antar sistem konstruksi terhadap lingkungan dan adat istiadatnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya persepsi, perilaku, motivasi, tindakan, dan yang lainnya sebagai dasar atau pedoman penelitian.
Lokalitas Arsitektur Tradisional Bali dan Konsep Tri Hita Karana Pada Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar Pasca Renovasi Desy Yuliastuti Ida Ayu Made; Ikaputra
Jurnal Anala Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.2.1657.27-37

Abstract

Balinese Traditional Architecture is a cultural heritage that has developed from generation to generation and is built based on traditional rules, both written and oral. One of the main concepts in this architecture is Tri Hita Karana, which means "three causes of happiness." This concept reflects the balance of relationships between humans and God (Parahyangan), humans and fellow humans (Pawongan), and humans and the environment (Palemahan). In its application, the Tri Hita Karana concept is also associated with Tri Mandala and Sanga Mandala, which regulate spatial division and building orientation according to the philosophy of Balinese traditional architecture. Bali is known as an island with a high level of religious tolerance. The significant presence of Catholics in Bali has led to the establishment of various churches, including Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar. This church incorporates Gothic architectural style combined with elements of traditional Balinese architecture, as seen in its facade and materials used. This study aims to: (1) identify the factors influencing the application of Tri Hita Karana in the architecture of Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar and (2) analyze the localization of the church before and after renovation. The research method used is qualitative descriptive analysis, focusing on the building's form, layout, and material usage. The findings indicate that the church continues to uphold the values of Tri Hita Karana, creating harmony between local culture and the church’s function as a place of worship. The application of this concept strengthens the local architectural identity in religious buildings, reflecting the cultural locality of Bali.