cover
Contact Name
Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari
Contact Email
jurnalanala@gmail.com
Phone
+6285738776698
Journal Mail Official
jurnalanala@undwi.ac.id
Editorial Address
JALAN KAMBOJA NO 17, DENPASAR - BALI
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Anala
Published by Universitas Dwijendra
ISSN : 19075286     EISSN : 27225682     DOI : 10.46650
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Anala is a peer-reviewed academic journal published by the Faculty of Engineering at Dwijendra University, Denpasar, Bali, Indonesia (P-ISSN: 1907-5286; E-ISSN: 2722-5682). The aim of the journal is to publish original and high-quality articles in the field of architecture, landscape architecture, interior design, building science, building construction, civil engineering and the built environment. Jurnal Anala is published twice a year, in February and September. We accept original articles that have not been previously published elsewhere and are not currently under review for publication.
Articles 130 Documents
PERANCANGAN LABUAN BAJO CONVENTION CENTER Eduardus Hatu; Putu Gde Ery Suardana; Desak Made Sukma Widiyani
Jurnal Anala Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.10.2.1318.34-41

Abstract

Abstrak Perancangan Labuan Bajo Convention Center ini pada dasarnya merupakan wadah atau sarana komunikasi antara dua pihak dengan penerapkan berbagai metode komunikasi langsung tatap muka baik itu dari perorangan terhadap kelompok, kelompok terhadap kelompok atau kelompok terhadap masyarakat. Dan pada era kini hal ini menjadi suatu kebutuhan yang dianganggap penting. Kota Labuan Bajo, seringkali menjadi tuan rumah suatu konverensi dengan jumlah peserta yang tergolong besar karena cakupannya sampai manca negara.hal ini mendorong laju pembangunan dalam kota termasuk rencana pembangunan Convention Center di Labuan Bajo yang nantinya dirancang dengan dasar penerapan tema Arsitektur Hich tech merupakan kebutuhan objek rancangan sebagai Convention yang lingkupnya regional atau nasional maupun internasional. penerapan tema Making structure (penonjolan struktur) melalui kajian yang ada diharap dapat mengoptimalkan fungsi bangunan, memberikan kenyamanan serta meningkatkan kepariwisataan kota Labuan Bajo. Kata Kunci: Perancangan Convention, High Tech, Labuan,Bajo. Abstract The design of the Labuan Bajo Convention Center is basically a forum or means of communication between two parties by applying various methods of face-to-face direct communication, be it from individuals to groups, groups to groups or groups to the community. And in this era, this has become a necessity that is considered important. Labuan Bajo City, often hosts a convergence with a relatively large number of participants because of its scope to foreign countries.this encourages the pace of development within the city including the plan to build a Convention Center in Labuan Bajo which will be designed on the basis of the application of the theme Hich tech architecture is the need for design objects as Conventions whose scope is regional or national or international. Making structure through existing studies is expected to optimize the function of the building, provide comfort and improve tourism in labuan Bajo city. Keywords: Convention Design, High Tech, Labuan Bajo.
POTENSI DESA “PENGEMIS” MUNTI GUNUNG MENJADI DESA WISATA Ni Putu Tustiari; Frysa Wiriantari; Arya Bagus Mahadwijati Wijaatmaja
Jurnal Anala Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.10.2.1322.42-49

Abstract

Banjar Munti Gunung yang terletak di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem, Provinsi Bali tidak asing di telinga masyarakat Pulau Dewata. Banjar ini dikenal sebagai salah satu daerah dimana gelandangan dan pengemis berasal. Minimnya tingkat ekonomi dan terbatasnya pemahaman akan pentingnya pendidikan berdampak pada rendahnya Pendidikan masyarakat. Masyarakat memilih untuk tetap melakukan kebiasaan lama yakni menjadi gepeng daripada memanfaatkan potensi yang ada di desanya. Penelitian ini menggunakan sumber data berupa data sekunder berupa studi litelatur dan data sekunder pendukung lainnya. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif yang diharapkan mampu menjelaskan mengenai potensi Desa Munti Gunung sebagai Desa Wisata. Beberaoa perkebunan yang ada di desa ini dapat diolah menjadi salah satu daya tarik wisata pertanian dan hasil yang diperoleh dari perkebunan itu dapat juga diolah menjadi barang atau benda yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Banjar Munti Gunung which is located in Tianyar Barat Village, Kubu District, Karangasem, Bali Province is no stranger to the people of the Island of the Gods. Banjar is known as one of the areas where homeless and beggars come from. The lack of economic level and limited understanding of the importance of education have an impact on the low level of public education. The community chooses to keep doing the old habit of being flat rather than taking advantage of the potential that exists in their village. This study uses data sources in the form of secondary data in the form of literature studies and other supporting secondary data. The research method uses descriptive qualitative which is expected to be able to explain the potential of Munti Gunung Village as a Tourism Village.Several plantations in this village can be processed into one of the agricultural tourist attractions and the results obtained from the plantation can also be processed into goods or objects that have a higher economic value
REDESAIN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR ECO-TECH Verianto Noventri; Petrisly Perkasa; Ni Putu Diah Agustin Permanasuri
Jurnal Anala Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.11.2.1442.13-22

Abstract

Universitas Palangka Raya, Jl. Yos Sudarso - Palangka Raya, 74874 Perpustakaan merupakan salah satu penunjang dalam bentuk sarana dan fasilitas untuk pendidikan, perpustakaan memiliki peran yang penting terutama pada jenjang perguruan tinggi. Keberadaan perpustakaan sendiri tentu harus memberi kesan kenyaman baik dilihat dari dalam ataupun luar ruangan oleh pemustaka. Universitas Palangka Raya, saat ini jika dilihat dari kondisi fisik perpustakaan dapat dikatakan tidak memberikan kesan menarik serta kenyaman untuk sebuah perpustakaan dan menyebabkan rendahnya minat baca mahasiswa atau pemustaka yang datang. Adapun tujuan penelitian ini untuk membuat kembali perencanaan dan perancangan perpustakaan Universitas Palangka Raya. Pendekatan yang digunakan ialah menggunakan Arsitektur Eco-Tech, dengan mengedepankan prinsip yang berwawasan lingkungan ataupun efisiensi energi, agar konsisten terhadap konsep yang ramah lingkungan tanpa adanya perubahan yang merusak lingkungan
CREATIVE HUB DI KOTA GIANYAR Putu Adi Wirya Nugraha; Desak Made Sukma WIdiyani; Arya Bagus Mahadwijati Wijaatmaja
Jurnal Anala Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.11.2.1445.23-39

Abstract

Creative hub atau ruang inovatif mulai berkembang dalam sepuluh tahun terakhir. Secara umum hub adalah daerah pusat dari berbagai macam aktivitas atau kegiatan. Biasanya hub identik dengan aktivitas terkait ekonomi kreatif dan pengetahuan. Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan di hub namun alasan utama untuk datang ke sebuah hub adalah perlunya seseorang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain dari berbagai bidang pekerjaan dan berbagi pengalaman yang berbeda. Jenis dan fungsi suatu creative hub besar bergantung pada lokasi tempat hub tersebut berada. Setiap lokasi mempunyai potensi dan kebutuhan yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi jenis, fungsi dan sektor yang diwadahi creative hub di lokasi tersebut. Maka dari itu sulit mendefinisikan creative hub secara jelas. Bali memiliki potensi yang besar di bidang seni kerajinan. Creative hub di Kota Gianyar dirancang dengan memanfaatkan peluang-peluang interaksi yang dapat terjadi di bidang seni kerajinan. Interaksi yang terjadi tidak hanya antara pengerajin lokal namun diharapkan dapat terjadi juga antara pengerajin dengan pemangku kepentingan dan, dengan masyarakat lokal dan wisatawan. Bali sebagai konteks lokasi memiliki faktor- faktor tersendiri terkait potensi dan kebutuhan yang kemudian mempengaruhi jenis dan fungsi creative hub di Kota Gianyar. Pengaruh potensi dan kebutuhan inilah yang akan membedakan creative hub Bali dengan creative hub lainnya. Creative hub di Kota Gianyar berusaha menggabungkan tempat bekerja, tempat belajar, tempat mengadakan kegiatan dan event, tempat promosi dan tempat wisata edukasi. Kegiatan-kegiatan tersebut muncul atas dasar analisis yang telah dilakukan yang menjadi pemikiran pokok dalam tesis ini. Berdasarkan pemikiran awal bahwa alasan utama seseorang datang ke hub adalah untuk berinteraksi maka kegiatan-kegiatan yang diwadahi di creative hub Kota Gianyar pun dibuat untuk menciptakan peluang interaksi sebanyak- banyaknya antar individu di dalamnya. Dalam perancangannya, creative hub di Kota Gianyar menggunakan pendekatan sifat-sifat ruang kreatif yaitu kolaborasi, keterbukaan, komunitas, keberlanjutan, aksesibilitas dan fleksibilitas.
PERENCANAAN PENATAAN PURA TIRTA MAS DAN PURA PASAR AGUNG SEBAGAI PETANDA AREAL SUCI DI KAWASAN PURA SAD KAHYANGAN LUHUR ANDAKASA, KARANGASEM Ar. Ir. I Wayan Wirya Sastrawan, S.T., M.Sc.; Ar. Ir. I Gede Surya Darmawan, S.T., M.T.; Ir. I Wayan Widanan, S.T., MPM.
Jurnal Anala Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.11.2.1455.51-57

Abstract

Pura Luhur Andakasa adalah salah satu pura bagian dari Sad Khayangan yang ada di Bali. Pura ini terletak di Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Karangasem. Pura ini terletak di dataran tinggi lebih dari 200 mdpl. Sebelum mencapai Pura Luhur Andakasa, para pemedek akan menjumpai Pura-Pura Penataran dibawahnya. Pura-pura ini kemudian disebut Pura Penataran di kawasan Andakasa. Seperti Pura Tirta Mas dan Pura Pasar Agung. Pada kedua pura ini, penataan pura berdasarkan konsep Tri Mandala belum terlihat jelas antara area Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala. Dengan kondisi eksisting kedua pura tersebut, ada keinginan dari pengempon pura terutama untuk kembali menata dan melengkapi fasilitas pura sehingga dapat berfungsi dengan semestinya. Oleh sebab itu dengan adanya rencana penataan kembali Pura Tirta Mas dan Pura Pasar Agung, maka diperlukan gambar masterplan dan Detail Engineering Design (DED) yang terencana dengan baik. Sehingga diharapkan dengan adanya gambar tersebut dapat membantu pengempon pura pada proses penataan selanjutnya, sekaligus bila diperlukan dapat dijadikan kelengkapan pada pengajuan proposal penggalian dana.
PENGEMBANGAN FASILITAS KONSERVASI BERBASIS EKOWISATA PADA KAWASAN HUTAN MANGROVE DI LINGKUNGAN BANJAR BUALU, KELURAHAN BENOA Putu Gede Wahyu Satya Nugraha; Km. Deddy Endra Prasandya; Cok Istri Ratna Sari Dewi
Jurnal Anala Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.11.2.1456.58-67

Abstract

Kelompok Nelayan Wana Segara Alaslinggah (KNWSA) ini terletak di dalam lingkungan Banjar Bualu, Kelurahan Benoa Kecamatan Kuta Selatan. Kegiatan yang dilakukan mitra antara lain: penangkapan ikan yang berkelanjutan, melakukan penangkapan yang ramah lingkungan, melakukan pemeliharaan tanaman mangrove, mengembangkan potensi kelautan dalam mendukung pariwisata nelayan, Selain itu anggota KNWSA juga memiliki simpanan pokok dan simpanan wajib yang digunakan untuk memberikan bantuan dana bagi usaha anggota yang membutuhkan pinjaman. Sebagai mitra, KNWSA ini melalui perwakilannya memohon bantuan kepada Univesitas Warmadewa untuk merencanakan dan mengembangkan lahan mangrove yang ada menjadi kawasan ekowisata mangrove. Rencananya kawasan ekowisata mangrove ini bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan mangrove dan ekosistemnya. Selain itu kegiatan wisata ini dapat menjadi pemasukan tambahan bagi mitra dan membantu biaya operasional dalam melestarikan hutan mangrove. Berdasarkan survey awal Tim PKM ditemukan beberapa permasalahan di lapangan antara lain: 1) Belum memiliki perencanaan atau masterplan tentang fasilitas ekowisata yang akan dibangun dan desain infrastruktur yang memadai seperti bangunan kantor, information center dan penataan lanskap, 2) Belum banyak yang mengetahui tentang lokasi hutan mangrove dan pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove. Faktor utamanya yang terlihat jelas adalah akses masuk yang belum memadai, tidak adanya entrance gate dan signage, serta belum adanya lahan parkir untuk kendaraan pengunjung, 3) Kurangnya keahlian anggota untuk melakukan pembukuan simpanan wajib dan simpanan pokok milik anggota mitra sehingga sering terjadi kekeliruan dalam perhitungan pembukuan.. Solusi yang ditawarkan dari permasalahan tersebut yaitu: 1) Membuat gambar rencana masterplan fasilitas ekowisata mangrove, 2) Membuat desain akses masuk berupa jalan, entrance gate dan fasilitas pendukung berupa area parkir,3) Memberikan pelatihan dalam melakukan pembukuan mengenai simpanan wajib dan simpanan pokok milik anggota
Penataan Kawasan Wisata Pantai Berbasis Komunitas Nelayan di Pantai Bintang Kabupaten Lombok Utara Pascaghana Jayatri; Zaedar Gazalba, ST., MT.; Giska Ayu Pradana Putri Kamase, ST.; Fauza Hastati, ST., MT.; Aldhi Nugraha Anantama, S. Arch., M.Arch.
Jurnal Anala Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.11.2.1457.1-12

Abstract

The arrangement of coastal areas as tourist attractions in Medana Village, Tanjung subdistrict, North Lombok Regency has been massively developed in line with the economic revival of North Lombok after the devastating earthquake in 2018 and Covid-19 in 2020. Bintang Beach is one of the tourist destinations. Local mainstays along the Medane coastal area with infrastructure built in 2016 were also affected by the earthquake, it is necessary to reorganize the area so that it becomes vital again and can be integrated with the coastal area to the north and fishermen's settlements to the south. The problems studied in this research are direction and concept of structuring coastal areas based on fishing communities, as well as the design of structuring models that can be applied as a basic reference for restructuring areas in future development. The method used is Qualitative Descriptive with primary data collection techniques using direct site surveys, and secondary data in the form of related policy references. Analysis is carried out by exploring the potential of the area through a tourism component approach, and SWOT analysis to project facility needs and tourism sustainability strategies. The concept results obtained were 8 regional planning concepts. The model design a regional master plan with a fishing community-based approach.
Pendampingan Masyarakat Dalam Perancangan Pasar Di Desa Pejeng Kaja Sebagai Penunjang Desa Wisata Pande Putu Dwi Novigga Artha; Ni Putu Ratih Pradnyaswari Anasta Putri; Putu Ayu Sita Laksmi
Jurnal Anala Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.11.2.1458.40-50

Abstract

Desa Pejeng Kaja terletak di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar merupakan sebuah desa yang kaya akan potensi alam dan peninggalan cagar budaya. Melihat bagaimana potensi peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali, dan adanya kebijakan pembangunan pariwisata berbasis desa, Desa Pejeng Kaja melalui pemerintahan desa berupaya mengarahkan pengembangan desa menjadi sebuah destinasi wisata dengan mengembangkan titik-titik potensi wisata alam & budaya yang ada di wilayah Desa. Berdasarkan hasil analisis studi kelayakan tahun 2022 desa Pejeng Kaja memiliki 9 subak dan banyak pura cagar budaya. Sehingga dalam perancangan masterplan terdapat beberapa fasilitas yang diusulkan antara lain jalan tani, pengembangan pura dan revitalisasi pasar. Berdasarkan urgensi pengadaan maka dipilihlah pengadaan pasar menjadi fokus pengabdian tahun 2023. Pasar merupakan tempat berputarnya roda ekonomi, standar kesejahteraan dan sekaligus menjadi identitas kawasan. Revitalisasi pasar Desa Pejeng Kaja akan mejadi pasar masyarakat sekaligus pasar kerajinan dan oleh oleh sehinga diharapkan dapat mensejahterakan masyarakat dengan pengelolaan menjadi bagian dari Bundes. Luaran dari pengabdian ini adalah gamabr konsep Pasar di Desa Pejeng Kaja dan Penyuluhan terkiat Strategi Perningkatan Ekonomi Pelaku UMKM melalui Pembukaan Pasar Rakyat. Tujuan dari pengabdian ini selain memberikan fasilitas juga memberikan edukasi terkait pengembangan desa menjadi desa wisata yang mandiri
PUSAT PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN KESENIAN TRADISIONAL LOMBOK DI PRAYA Ari Hidayat; Made Mariada Rijasa; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Anala Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.1.1474.1-13

Abstract

Secara umum, kebudayaan NTB terdiri dari tiga suku asli utama, yakni suku sasak di Lombok, suku Mbojo di Bima dan Dompu, suku Samawa di Sumbawa. Kebudayaan suku sasak di Lombok mengalami penurunan minat generasi muda untuk menekuni kesenian tradisional. Untuk menyokong pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional maka dibutuhkan gedung Pusat Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Lombok di Praya, karena jarangnya pertunjukan menyebabkan tradisi Lombok ini berangsur-angsur dilupakan sehingga kepandaian-kepandaian teknik tradisionil yang merupakan salah satu ciri kepribadian setempat, juga terdampak. Agar bisa merangkum kebudayaan Lombok, dan dapat mempermudah akses wisatawan untuk melihat sekaligus mengenal kebudayaan Lombok. Fasilitas ini juga bertujuan untuk memberi informasi sekaligus pengembangan, pelestarian dan juga memperkenalkan kebudayaan Lombok sesuai dengan aspek kebudayaan Lombok meliputi keseniaan serta bangunan adat Lombok merupakan bagian dari wujud kebudayaan. Melalui metode desktiptif pada studi kasus di taman budaya NTB. Kata kunci: Pusat Kesenian, Kesenian tradisional Lombok, Neo Vernakular
KAJIAN POLA PEMANFAATAN RUANG HOTEL BINTANG LIMA TERHADAP LINGKUNGAN FISIK PADA KAWASAN PARIWISATA UBUD I Putu Hartawan; I Gede Surya Darmawan; Ni Putu Siskha Pradnyaningrum
Jurnal Anala Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.1.1476.14-26

Abstract

Berkembangnya suatu kawasan menjadi kawasan pariwisata mempunyai pengaruh terhadap tata ruang, perekonomian, dan kehidupan sosial masyarakatnya. Hotel merupakan salah satu akomodasi wisata yang mempunyai peranan penting dalam kawasan wisata. Ubud terkenal dengan keunikan seni dan budayanya yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Berkembangnya Ubud menjadi daerah tujuan wisata menyebabkan munculnya akomodasi pariwisata seperti penginapan, restoran, galeri, dan biro perjalanan. Penginapan di Kawasan Ubud Parawista terbagi menjadi beberapa tipe seperti homestay, villa, bungalow, dan hotel resort bintang lima. Hotel resort merupakan salah satu jenis penginapan yang paling banyak memakan lahan, karena beragam jenis fasilitas yang ditawarkan. Keberadaan hotel resort bintang lima di Kawasan Pariwisata Ubud tentunya memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Selain dampak positif, keberadaan hotel resort juga memberikan dampak negatif yaitu banyaknya ahli tata guna lahan dan adanya indikasi kerusakan lingkungan. Dalam penelitian ini akan diteliti lebih lanjut apa implikasinya terhadap lingkungan fisik di Kawasan Pariwisata Ubud. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang menggambarkan fenomena apa adanya, teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara dan studi literatur dari instansi terkait. Temuan penelitian ini adalah pembangunan hotel resort di Kawasan Pariwisata Ubud tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap lingkungan fisik disekitarnya.

Page 12 of 13 | Total Record : 130