cover
Contact Name
Johannis Siahaya
Contact Email
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Phone
+6281322661998
Journal Mail Official
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Editorial Address
Ds. Daratan 2, Sendang Arum, Kec. Minggir, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta 55562
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TERUNA BHAKTI
ISSN : 2622514X     EISSN : 26225085     DOI : 10.47131
Jurnal Teruna Bhakti merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Agam Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta, dengan Scope: Teologi Sistematika, Teologi Biblika, Pendidikan Agama Kristen, Kepemimpnan Kristen, Teologi Praktika.
Articles 133 Documents
Finding and Bridging Chistian Values: A Conversation Between Christian Missiology and Cultural Identity Meidy Tatengkeng; Alvyn Hendriks; Stimson Hutagalung; Rolyana Ferinia
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.134

Abstract

Adventist church does not share any formulation for missiological concept. Its absence leads to Westernization theology where in the systematic theological perspective, Western theology has no interest in accommodating local issues. Consequently, its mission concept presents as a Western formulation with no relevance and significance to the Asian context, specifically Indonesia. This article attempts to construct Indonesian missiological concept that could contribute to evangelism exercise in Central Java. By using qualitative approach, references such as books, articles, and other related sources will receive primary attention. In sum, church mission must find Christian values among the culture and cultural expression should be operated as a medium for evangelism.
Teologi Calminian: Sebuah Tawaran Diskursif-Dialektis Perjumpaan Soteriologi Calvin dan Arminian Hendra Suherman
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.122

Abstract

The life of the church since the departure of the early church apostles experienced many challenges and even eventually led to divisions. One of the main causes of division is doctrinal differences. Call it between the doctrines of Calvinism and Arminianism relating to soteriology or the concept of salvation. For centuries until now, these two camps have feuded to defend their respective doctrines, which led to an attitude of mutual disputing, scorn, and even bringing down each other. The purpose of this study is to conduct a theological analysis covering the similarities and differences regarding the soteriology of Calvinism and Arminianism in order to find bridges and intersections that can connect the two camps. In this article, the author introduces Calmenian theology as a bridge and solution for church citizens and new converts who experience confusion between Calvinism and Arminianism in church. The research method that the author uses is to conduct literature searches and academic reviews or studies of the two streams. The conclusion of this study shows that the idea of Calmenian Theology in this paper can be used to provide enlightenment while suppressing the radical teachings and extreme attitudes of the two feuding camps, in this case, Calvinism and Arminianism, as well as problems arising as a result of differences in beliefs and views among Christianity.  AbstrakKehidupan gereja sejak ditinggal rasul-rasul gereja mula-mula mengalami banyak tantangan bahkan pada akhirnya berujung pada perpecahan. Salah satu penyebab utama terjadi perpecahan adalah perbedaan doktrin. Sebut saja antara doktrin Calvinisme dan Arminianisme yang berkaitan dengan soteriologi atau konsep keselamatan. Selama berabad-abad hingga seka-rang, kedua kubu ini berseteru mempertahankan doktin masing-masing, yang berujung pada sikap saling membantah, mencemooh bahkan menjatuhkan satu sama lain. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis teologis mencakup persamaan dan perbedaan mengenai soteriologi calvinisme dan Arminianisme guna menemukan jembatan dan titik temu yang dapat menghu-bungkan kedua kubu tersebut. Pada artikel ini, penulis memperkenalkan teologi Calminian seba-gai jembatan serta solusi bagi warga gereja serta para petobat baru yang mengalami kebingungan meyakini antara calvinisme dan Arminianisme dalam menggereja. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah melakukan penelusuran literatur serta tinjauan atau kajian akademik terhadap kedua aliran tersebut. Kesimpulan hasil penelitian ini menunjukan bahwa gagasan Teologi Calminian dalam tulisan ini dapat digunakan untuk memberikan pencerahan sekaligus meredam ajaran yang radikal dan sikap yang ekstrim dari kedua kubu yang berseteru, dalam hal ini Calvinisme dan Arminianisme, serta persoalan-persoalan yang timbul sebagai akibat dari perbe-daan keyakinan dan pandangan di kalangan kekristenan.  
Dialektika Penciptaan Menurut Kejadian 1:26-28 dengan Agama Suku Saifi di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Semuel Saflesa; Karel Martinus Siahaya
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.67

Abstract

This article analyzes the understanding of human creation according to Genesis 1:26-27 and human creation according to the Saifi Tribe who came out of Gofir wood (Gopher). In the daily life of the Saifi people (Papua), they believe that there is a group of humans who come from spontaneous natural processes, namely the twelve ethnic groups that come out of the trunk of the 'Kefi (Gofir = Gopher)' tree and not because of a process of creation as Bible testimony in Genesis 1:26-27. The twelve tribes that came out of Kefi wood (Gofir = Gopher) contain a religious meaning that wood has been recognized as a means of human life for generations. Tribes with mythological origins related to the Kefi tree as the “Tree of Life” are the clans of Saflesa (Saifi), Saflafo, Salamuk, Sagisolo, Salambauw, Snanfi, Salossa, Saa, Sawor, Sarefe, Waftolo, and Saflembolo. The author uses the method of in-depth interviews with informants and finds the conclusion that is building contextual theology that connects local wisdom values of local indigenous peoples' culture is a means of preaching the Gospel of Jesus Christ in the Land of Papua. The church and theologians should build a dialogue about traditional worldviews and the continuity of Jesus Christ's statement through preaching the Gospel. AbstrakArtikel ini merupakan analisis terhadap pemahaman penciptaan manusia menurut Kejadian 1:26-27 dan pemahaman penciptaan manusia menurut Suku Saifi yang keluar dari kayu Gofir (Gopher). Di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat suku Saifi (Papua) percaya bahwa ada sekelompok manusia yang berasal dari proses alamiah yang spontan yaitu dua belas suku bangsa yang keluar dari dalam batang pohon ‘Kefi (Gofir=Gopher)’, dan bukan karena proses penciptaan sebagaimana kesaksian Alkitab dalam kejadian 1:26-27. Dua belas suku yang keluar dari kayu Kefi (Gofir=Gopher) mengandung makna religius bahwa kayu diakui sebagai sarana kehidupan manusia secara turun-temurun. Suku-suku yang mempunyai keterkaitan asal usul secara mitologis dengan pohon Kefi sebagai “Pohon Kehidupan“adalah marga Saflesa (Saifi), Saflafo, Salamuk, Sagisolo, Salambauw, Snanfi, Salossa, Saa, Sawor, Sarefe, Waftolo, dan Saflembolo. Penulis menggunakan metode wawancara mendalam kepada narasumber dan menemukan simpulan bahwa membangun teologi kontekstual yang menghubungkan nilai-nilai kearifan lokal budaya masyarakat adat setempat sebagai sarana pemberitaan Injil Yesus Kristus di Tanah Papua. Gereja dan para teolog selayaknya membangun dialog mengenai pandangan dunia tradisional dan kelangsungan pernyataan Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil.
Barometer Kepribadian Kepemimpinan Guru Agama Kristen di Era Disrupsi Jannes Eduard Sirait
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.130

Abstract

 The purpose of this study is to analyze, find and set a barometer of the leadership of Christian religious teachers in Indonesia. The main problem in the study: Christian religion teachers do not understand the barometer of Christian religion teachers' leadership and do not realize that they are leaders. There is a tendency that Christian religious teachers only understand themselves as teachers and educators. The next problem is that there is no specific theory regarding the barometer of Christian religious teacher leadership. So, the novelty of this research is the discovery and establishment of a new theory about the barometer of the leadership of Christian religious teachers in Indonesia. This research is a qualitative research that produces narrative data in the form of written words. Observations were made on the literature and other sources of information. The data collection method was observation and discussion with several Christian religious teachers. Then ask for responses from experts and compare them with the opinions of experts in the literature. Then do an in-depth analysis to find answers to research problems. The conclusion of the study is that the teacher leadership borometer includes: having the capacity to lead, being able to analyze situations, having authority, being able to control oneself, being humble, wise and chivalrous. Able to communicate, negotiate and have integrity.AbstrakTujuan penelitian ini adalah menganalisis, menemukan dan menetapkan barometer kepemimpinan guru agama Kristen di Indonesia. Masalah utama dalam penelitian: guru agama Kristen tidak mengerti barometer kepemimpinan guru agama Kristen dan tidak menyadari bahwa mereka adalah pemimpin. Kecenderungan yang ada bahwa guru agama Kristen hanya memahami dirinya sebagai guru dan pemberi pengajaran. Masalah berikutnya adalah belum ada teori secara khusus mengenai barometer kepemimpinan guru agama Kristen. Maka, kebaruan penelitian ini ialah ditemukan dan ditetapkannya suatu teori baru tentang barometer kepemimpinan guru agama Kristen di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menghasilkan data naratif berupa kata-kata tertulis. Pengamatan dilakukan pada literatur dan sumber informasi lainnya. Metode pengumpulan data adalah observasi dan diskusi dengan beberapa guru agama Kristen. Kemudian meminta tanggapan dari para pakar dan membandingkannya dengan pendapat para pakar dalam literatur. Kemudian melakukan analisis mendalam hingga menemukan jawaban terhadap permasalahan penelitian. Kesimpulan penelitian bahwa bahwa borometer kepemimpinan guru mencakup: memiliki kapasitas memimpin, mampu meganalisa situasi, memiliki wibawa, mampu mengendalikan diri, rendah hati, bijaksana dan kesatria. Mampu berkomunikasi, melakukan negosiasi dan berintegritas.
Internalisasi Nilai-nilai Teologis Shema Yisrael dalam Pendidikan Orang tua yang Menumbuhkan Iman Kristen Anak di Era Disruptif Edwin Gandaputra; Jeffri Jeffri; Ananda Wulan Sari
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.102

Abstract

Parents play a role in the growth of the Christian faith in children aged 6-12 years because at this age children begin to build relationships with the surrounding environment. The teaching of Shema Yisrael in Deuteronomy 6:4-9 becomes of important relevance for Israel and Christians today in teaching and growing Christian faith in children. The application of Christian education repeatedly becomes an important part of the growth of the Christian faith. Analysis of the grammatical structure of Deuteronomy 6:4-9 by paying attention to its social history produces Shema Yisrael theology as the relevance of the role of parents in growing Christian faith in children. AbstrakOrang tua berperan dalam pertumbuhan iman Kristen pada anak usia 6-12 tahun, karena pada usia ini anak mulai membangun relasi dengan lingkungan sekitar. Pengajaran Shema Yisrael dalam Ulangan 6:4-9 menjadi relevansi yang penting bagi Israel dan orang Kristen pada masa kini dalam mengajarkan dan menumbuhkan iman Kristen pada anak. Penerapan pendidikan Kristen secara berulang-ulang menjadi bagian penting dalam pertumbuhan iman Kristen. Analisis struktur gramatikal Ulangan 6:4-9 dengan memerhatikan sejarah sosialnya menghasilkan teologi Shema Yisrael sebagai relevansi peran orang tua dalam menumbuhkan iman Kristen pada anak. 
Membangun Teologi Pendidikan Agama Kristen di Gereja Lokal Warseto Freddy Sihombing; Seri Antonius
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.70

Abstract

Christian Religious Education (PAK) is a central part of Christianity and can be applied not only in schools, but also in local churches. This certainly requires serious handling as part of an ecclesiastical ministry. The church in carrying out its function as a place of fellowship for believers with God is bound by the teaching of God's word contained in the Bible. Education is the goal of the great commission ordered by Jesus. The delivery of God's word from the servant of God or the pastor of the local church can be conveyed to the congregation by applying the PAK pedagogical principles. In long church’s history, we have honestly recorded the strengths and weaknesses of the church while in this world. The theological basis of PAK in the local church is a biblical reason related to the importance of PAK teaching which consists of PAK tasks, processes and objectives. AbstrakPendidikan Agama Kristen (PAK) adalah bagian yang sentral dalam kekristenan dan dapat diterapkan bukan hanya di sekolah, melainkan juga di gereja lokal. Hal ini tentu membutuhkan penanganan yang serius sebagai bagian dari pelayanan gerejawi. Gereja dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat persekutuan orang percaya dengan Tuhan terikat dengan pengajaran firman Tuhan yang terdapat dalam Alkitab. Pendidikan adalah tujuan dari amanat agung yang dipesankan oleh Yesus. Penyampaian firman Tuhan dari hamba Tuhan atau pendeta jemaat lokal dapat disampaikan kepada jemaat dengan menerapkan prinsip pedagogis PAK. Dalam perjalanan sejarah gereja yang panjang, secara jujur telah mencatat kelebihan dan kelemahan gereja selama ada di dunia ini. Dasar teologis PAK dalam gereja lokal adalah alasan alkitabiah berkaitan dengan pentingnya pengajaran PAK yang terdiri dari tugas, proses dan tujuan PAK.
Model Logo Pendampingan Konseling Orang tua terhadap Anak Disabilitas Ribbon Pangaribuan; Jacob Daan Engel
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.145

Abstract

This study aims to describe the mentoring and role of parents toward children with disabilities. Basically, the mentoring logo is an intervention and/or assistance effort into the reality of the counselee's life in order to experience an increase in spiritual health. This becomes so important because the mentoring logo involves a help and healing service both individually and in groups so that it can grow in the process of life in the community. In simple terms, this study aims to provide education to parents, especially in carrying out the following mentoring functions: a guidance function to help children make choices and be able to make decisions, a support function to help children accept conditions, a healing function to guide children to express their feelings, the function of restoring or repairing to help the child to improve relations with the surroundings, the function of nurturing or nurturing to help the child to find his potential. Through a descriptive method through a qualitative approach with interview and observation data collection techniques, the authors found that children with disabilities can grow and develop well in the midst of society, strongly influenced by the mentoring process from parents because parents are the main and first educators for children. Children will receive basic education only from their parents. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendampingan serta peranan orang tua terhadap anak disabilitas. Pada dasarnya, logo pendampingan merupakan upaya intervensi dan atau pendampingan ke dalam realitas kehidupan konseli agar dapat mengalami peningkatan sehat secara spritiual. Hal ini menjadi begitu penting sebab logo pendampingan melibatkan suatu pelayanan pertolongan dan penyembuhan baik secara individu maupun kelempok sehingga dapat bertumbuh dalam proses kehidupan di masyarakat. Secara sederhana penelitian ini bertujuan guna memberikan edukasi terhadap orang tua khususnya dalam menjalankan fungsi pendampingan sebagai berikut: fungsi bimbingan untuk membantu anak dapat menentukan pilihan dan mampu mengambil keputusan, fungsi penopang untuk membantu anak dapat menerima kodisi, fungsi penyembuhan untuk menuntun anak agar dapat mengungkapkan perasaanya, fungsi memulihkan atau memperbaiki untuk membantu anak dapat memperbaiki hubungan dengan sekitar, fungsi memelihara atau mengasuh untuk membantu anak dapat menemukan potensi diri. Melalui  metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi, penulis menemukan bahwa anak disabilitas dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik di tengah-tengah masyarakat, kuat dipengaruhi oleh proses pendampingan dari orang tua, sebab orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak. Bagaiamanapun, anak akan mendapat pendidikan dasar tidak lain dan tidak bukan dimulai dari orang tuanya sendiri.  
Moderasi Beragama dalam Pendidikan Kristiani bagi Generasi Alpha Merensiana Hale
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.141

Abstract

The perspective and attitude of religious moderation is a necessity in the context of religious diversity, especially in East Nusa Tenggara (NTT). Religious diversity in NTT is a potential as well as a challenge that needs to be managed properly, especially through Christian education. The Evangelical Christian Church in Timor (GMIT), which is one of the churches in the NTT region, can play a role in supporting religious moderation education, through service to the Alpha generation. This generation is a concern because they were born in the digital era with dominant digital, social, global, mobile, and visual characters. This paper aims to offer a learning model that supports religious moderation for the Alpha generation. The method used is relevant literature research. The results offered are learning models in Christian education to form perspectives and attitudes of religious moderation for the Alpha generation. The models offered are individualized learning models, self-directed learning, collaboration, and inquiry-based learning. AbstrakPerspektif dan sikap moderasi beragama merupakan kebutuhan dalam konteks keberagaman agama, secara khusus di Nusa Tenggara Timur (NTT). Keberagaman agama di NTT merupakan potensi sekaligus tantangan yang perlu dikelola dengan baik, khususnya melalui pendidikan kristiani. Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) yang merupakan salah satu gereja di wilayah NTT dapat berperan mendukung pendidikan moderasi beragama, melalui pelayanan terhadap generasi Alpha. Generasi ini menjadi perhatian sebab mereka lahir di era digital dengan karakter dominan digital, social, global, mobile dan visual. Tulisan ini bertujuan menawarkan model pembelajaran yang mendukung moderasi beragama bagi generasi Alpha. Metode yang digunakan adalah penelitian literatur yang relevan. Hasil yang ditawarkan adalah model pembelajaran dalam pendidikan kristiani untuk membentuk perspektif dan sikap moderasi beragama bagi generasi Alpha. Model yang ditawarkan adalah model pembelajaran individualised, self-directed learning, collaboration, dan inquiry-based learning. 
Kompetensi Sosial Guru PAK di Era Revolusi Industri 4.0 dan Implikasinya bagi Perkembangan Karakter Peserta Didik Johanes Waldes Hasugian; Agusthina Christina Kakiay; Febby Nancy Patty; Novita Loma Sahertian
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.146

Abstract

The Fourth Industrial Revolution, 4IR is characterized by an acceleration in the use of technology, the internet of things that enters the social system brings both positive and negative impacts. Brings constructive impact to the prepared and adapted and is otherwise very destructive in the existing social system. In particular, there is a moral degradation of character in learners that Christian Religious Education must responsively and professionally deal with. This research was conducted using a descriptive-analytical method, which seeks to describe the social competence of Christian Religious Education teachers in the context of Industry 4.0 and its implications for the development of student character. It was found that in facing learning challenges in the era of Industry 4.0, especially in the holistic character development of students of Christian Religious Education must be adaptive and accommodating. In a social approach, Christian Religious teachers communicate interactive and communicative learning, which empowers students in a participatory manner and builds strong relationships based on the love of Christ. AbstrakRevolusi industri 4.0 yang ditandai dengan percepatan dalam penggunaan teknologi, internet of things yang masuk dalam sistem sosial membawa dampak positif dan negatif. Membawa dampak konstruktif bagi yang siap dan beradaptasi dan sebaliknya sangat destruktif dalam sistem sosial yang ada. Secara khusus, terjadinya degradasi moral karakter dalam diri peserta didik yang PAK harus dengan responsif dan profesional menghadapinya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, yang berusaha menggambarkan kompetensi sosial guru PAK dalam konteks revolusi industri 4.0 dan implikasinya bagi perkembangan karakter peserta didik. Ditemukan bahwa dalam menghadapi tantangan pembelajaran di era revolusi industri 4.0, khususnya dalam perkembangan karakter peserta didik yang holistik PAK harus adaptif dan akomodatif. Dalam pendekatan sosial, guru PAK mengkomunikasikan pembelajaran secara interaktif dan komunikatif, yang di dalamnya memberdayakan peserta didik secara partisipatif serta membangun hubungan relasi yang kuat, yang didasari oleh kasih Kristus.
Inkulturasi Musik Etnik dalam Liturgi Gereja Kalimantan Evangelis, Kalimantan Tengah Sugiyanto Sugiyanto
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.142

Abstract

The inculturation of ethnic music is an inevitability to serve as a suggestion of the ministry of God's Word in the liturgy. This research uses qualitative methods that use ethnographic research to solve problems. The data source is GKE liturgical figures, musicians, and practitioners of ethnic music GKE who have carried out ethical music in worship. The Book of Oneness Song which has become a liturgical chant is accepted at GKE. The results showed that in the concept of theological musical sequestration, GKE accepts all types of ethnic musical instruments such as rebabs, harps, drums, knobs, distillers, and words as musical instruments that can be used to praise God. The concept of theological and practical inculturation is that all ethnic chants that can enter the GKE liturgy are ethnic songs whose lyrics are taken from the Bible, the result of its own creation that has spiritual value. Translated songs, transfers, and new creations that are measured and meaningful to the Christian faith. Ungkup singing is processed through the stage of inculturation in the form of transferring lyrics into Dayak Ngaju language that is adapted to song notations originating from the West including those from Indonesia. Tumet Leut Basa Maanyan's singing has been processed through the inculturation stages of new creations. Namely, the cultural elements contained in it are concocted with new and spiritual elements so that they enter the liturgy of the Maanyan Dayak Tribe GKE. AbstrakInkulturasi musik etnik merupakan suatu keniscayaan untuk dijadikan sebagai saran pelayanan Firman Tuhan dalam liturgi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menggunakan penelitian etnografi untuk memcahkan masalah. Sumber data adalah tokoh Liturgi GKE, musisi, praktisi musik etnik GKE yang pernah melaksanakan musik etik dalam ibadah. Buku Kidung Keesaan yang telah menjadi nyanyian liturgis yang diterima di GKE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep inkulutrasi musik secara teologis, GKE menerima semua jenis alat musik etnik seperti rebab, kecapi, gendang, kenong, suling, katambung sebagai alat musik yang bisa dipergunakan untuk memuji Tuhan. Konsep inkulturasi secara teologis dan praktis, bahwa semua nyanyian etnik yang dapat masuk ke dalam liturgi GKE adalah lagu-lagu etnik yang lirik-liriknya diambil dari nas Alkitab, hasil ciptaan sendiri yang memiliki nilai rohani. Lagu-lagu terjemahan, pemindahan dan kreasi baru yang terukur dan bermakna bagi iman Kristen. Nyanyian Ungkup diproses melalui tahapan inkulturasi berupa pemindahan lirik-lirik ke dalam Bahasa Dayak Ngaju yang disesuaikan dengan notasi-notasi lagu yang berasal dari Barat termasuk yang berasal dari Indonesia. Nyanyian Tumet Leut Basa Maanyan telah diproses melalui tahapan inkulturasi kreasi baru. Yakni, unsur kebudayaan yang terkandung di dalamnya diramu dengan unsur-unsur baru dan rohani sehingga masuk liturgi GKE Suku Dayak Maanyan.

Page 8 of 14 | Total Record : 133