cover
Contact Name
Lilik Hanifah
Contact Email
pppm@stikesmus.ac.id
Phone
+62271-858172
Journal Mail Official
pppm@stikesmus.ac.id
Editorial Address
Jl. Ring Road No.Km 03, Mojosongo, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57127
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kebidanan Indonesia
ISSN : 20865562     EISSN : 25797824     DOI : https://doi.org/10.36419/jkebin.v11i1.320
Core Subject : Health,
Jurnal Kebidanan Indonesia ISSN 2579-7824 (online) and ISSN 2086-5562 (Printed) is published twice a year in January and July. Contains writing that is lifted from the results of research and conceptual thinking in the field of midewifery. Publishers receive written contributions that have never been published in other media. Posts can be directly inputted into the system of Jurnal Kebidanan Indonesia e-journal on this page by way of registration first. Incoming scripts will be edited for uniformity of formats, terms and other ordinances. Jurnal Kebidanan Indonesia is published by Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
Articles 367 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTEK SADARI SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Winarni Winarni; Rina SW; Suparmi Suparmi
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 6, No 2 (2015): JULI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.282 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v6i2.111

Abstract

Berdasarkan data Global burden of Kankerncer kanker payudara merupakan kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia (26 per 100.000) Hasil penelitian menyatakan bahwa (75-85 %) keganasan kanker payudara ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan payudara sendiri. Kasus kanker payudara di Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 19.637 dan (48,59%). Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa (75-85%) keganasan kanker payudara ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan payudara sndiri. Di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2012 ditemukan sebanyak 281 , dan kasus yang meninggal 5 orang. Kasus tersebut menduduki peringkat pertama di Sukoharjo. Penelitian ini dilakukan di kalurahan Makamhaji, Kartosuro, Sukoharjo dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktek Sadari sebagai upaya untuk deteksi dini kanker payudara. Jenis penelitian ini adalah surve analitik dengan pendekatan waktu cross sectional, dilakukan pada ibu-ibu PKK di wilayah Makamhaji, sampel sebanyak 86 Responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan pada Analisis Bivariat dengan mengunakan Uji chi square disimpulkan adanya hubungan pengetahuan dengan perilaku praktek Sadari dengan (nilai p=0,000), ada hubungan antara sikap responden dengan perilaku praktek Sadari dengan (nilai p = 0,008), ada hubungan motivasi dengan perilaku praktek Sadari dengan (nilai p= 0,0001 ), tidak ada hubungan media informasi dengan perilaku praktek Sadari dengan (nilai p = 0,089). Analisis multivariat dengan mengunakan Regresi Logistik didapatkan hasil ada pengaruh yang signifikan antara variabel pengetahuan, motivasi, dan sikap dengan perilaku praktek Sadari dan pengetahuan mempunyai pengaruh paling besar. Kata Kunci: Sadari, Deteksi dini, Kanker payudara
HUBUNGAN USIA DENGAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) Lilik Hanifah; Sri Suparti
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 8, No 2 (2017): JULI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.943 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v8i2.14

Abstract

Pemeriksaan payudara sendiri sangat penting untuk dilakukan karena hampir 85% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita sendiri. Studi empiris menyatakan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), pemeriksaan payudara klinis dan mammografi dapat membantu dalam memastikan deteksi dini kanker payudara. Disamping itu, pemeriksaan payudara sendiri yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali menjadi metode yang paling murah dan sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri oleh wanita dibandingkan dengan mammografi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia dengan pengetahuan remaja putri tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)Metode Penelitian ini mengguanakan penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah semua remaja putri di Cengklik RW 19 Nusukan Banjarsari Surakarta pada bulan Mei 2017 dengan jumlah 34 responden, teknik sampling yang digunakan adalah Accidental Sampling dimana saat penelitian dijumpai responden sebanyak 30 responden. Data diambil menggunakan data primer dan data sekunder. Alat pengumpulan data berupa kuesioner. Analisa data univariat dan bivariat dengan menggunakan korelasi Spearman Rank.Hasil penelitian ini adalah mayoritas responden merupakan usia remaja akhir sebanyak 13 responden (43,4%), mayoritas pengetahuan tentang SADARI dengan kategori baik yaitu 18 responden (60%). Sedangkan hasil koefisien korelasi Spearman Rank sebesar 0,849 dengan signifikan 0,000. maka H0 ditolak sehingga ada hubungan yang signifikan antara usia dengan pengetahuan remaja putri tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) di Cengklik RW 19 Nusukan Banjarsari Surakarta.  Simpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan usia dengan pengetahuan remaja putri tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)Kata Kunci: Usia, Pengetahuan, SADARI
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU BAYI BALITA TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI (MP – ASI) DI POSYANDU DEWI SRI I KATEGUHAN SAWIT BOYOLALI TAHUN 2016 Catur Setyorini
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 8, No 1 (2017): JANUARI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.292 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v8i1.166

Abstract

Ibu bayi terkadang kurang tepat dalam memberikan Makanan pendamping ASI (MP-ASI) untuk bayi dan balita, sehingga banyak masalah terjadi dan bahkan bisa menyebabkan bayi lebih mudah terserang penyakit. MP-ASI adalah makanan tambahan selain ASI yang diberikan pada bayi usia 6-24 bulan. MP-ASI diberikan pada usia 6-24 bulan, karena di usia tersebut sangat rawan terjadi malnutrisi. Salah satu faktor penyebab perilaku orang tua dalam memberikan MP-ASI adalah pengetahuan ibu tentang makanan bergizi pada bayinya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengetahuan ibu bayi balita tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI) di Posyandu Dewi Sri I Kateguhan Sawit Boyolali Tahun 2016. Desain penelitian adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Subjek Penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi dan balita usia 6-24 bulan di Posyandu Dewi Sri I Kateguhan Sawit Boyolali Tahun 2016 sebanyak 32 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data dengan analisis Univariate menggunakan rumus distribusi frekuensi. Hasil penelitian karakteristik responden mayoritas berusia 26-30 tahun sejumlah 18 responden (56,3%), berpendidikan menengah (SMA) sejumlah 21 responden (65,6%) dan tingkat pengetahuan responden berpengetahuan baik sejumlah 12 responden (37,5%), cukup sejumlah 15 responden (46,9%), dan kurang sejumlah 5 responden (15,6%). Simpulan dalam penelitian ini mayoritas pengetahuan ibu bayi balita tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI) di Posyandu Dewi Sri I Kateguhan Sawit Boyolali Tahun 2016 dalam kategori cukup. Kata Kunci: Pengetahuan, Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
ANALISIS KASUS ASFIKSIA PADA KEMATIAN NEONATAL DI RSUD TUGUREJO SEMARANG Sri Puji Rahayu; Sri Tjahjowati
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 10, No 1 (2019): Januari
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.138 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v10i1.245

Abstract

Latar Belakang : Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi, berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Sehingga tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat fatal. Angka NDR yang tinggi tersebut terutama disebabkan karena angka kematian neonatal yang mencapai 90%. Tujuan : tujuan penelitian yaitu menganalisis kasus kematian neonatal berdasar karakteristik epidemiologi (orang, tempat, dan waktu). Metode : Penelitian ini merupakan studi kuantitatif, yang dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan waktu retrospektif. Populasi penelitian adalah seluruh kematian neonatal di salah satu rumah sakit pemerintah di Semarang tahun 2014 yang berjumlah 90 neonatal. Analisa data menggunakan metoda analisa deskriptif yaitu menganalisis data secara naratif, serta data dibandingkan dengan penelitian lain yang sejenis. Penelitian ini juga dilakukan analisa bivariate tentang hubungan beberapa karakteristik dengan kematian neonatal akibat asfiksia. Hasil : Pada Tahun 2014, Kematian neonatal akibat asfiksia 90,9% (70 bayi) terjadi pada usia 0-7 hari, 43 (84%) berjenis kelamin laki-laki, 57 (90,5%) karena BBLR dan sebesar 60 (88,2%) panjang badan kurang dari 47 cm atau stunting. Berdasarkan karakteristik ibu, sebesar 50 (89,3%) berusia 20-35 tahun, sebesar 47 (87,0 %) ibu dengan ANC < 4 kali, usia kehamilan ibu sebesar 42 (88,9%) adalah 28-37 minggu, multipara dengan 2-4 anak sebesar 49 (92,5%), pendidikan ibu SD dan SMP sebesar 62 (91,2%),mengalami komplikasi kehamilan sebesar 61 (91,0%) dan mengalami komplikasi selama persalinan sebesar 65 (91,5%). Berdasarkan karakteristik tempat yaitu sebesar 53 (86,9%) berasal dari pedesaan dan akses ke rumah sakit sebesar 40 (83,3%) kurang dari 2 jam. Berdasarkan karakteristik waktu lama dirawat sebesar 40 (88,9%) dirawat lebih dari 48 jam dan jarak anak dengan persalinan sebelumnya sebesar 47 (88,7%) merupakan multipara dengan 2-4 anak. Penyebab Kematian neonatal akibat asfiksia pada penelitian ini sebesar 78 (86,7%) dibandingkan non asfiksia sebesar 12 (13,3%). Berdasar uji bivariat didapatkan ada hubungan antara umur neonatal (P=0,04), pendidikan ibu (P=0,027), komplikasi kehamilan (P=0,037), komplikasi persalinan (P=0,08) dan jarak anak (P=0,027) dengan kematian neonatal karena asfiksi. Simpulan : Sebagian besar kasus kematian neonatal di RSUD Tugurejo dikarenakan asfiksia dan berhubungan dengan umur neonatal, pendidikan ibu, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, dan jarak anak. Rumah Sakit perlu menyiapkan dokter jaga on site dan regonalisasi pelayanan kebidanan dan perinatal, perlunya ketersediaan informasi baik penyuluhan maupun konseling untuk ibu-ibu mengenai bahaya yang dapat terjadi dalam kehamilan persalinan dan masa nifas, upaya untuk menghindari masalah tersebut dan cara pemecahan masalah yang ada serta program Keluarga berencana (KB).
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 3-5 TAHUN DI PUSKESMAS PURWANTORO I WONOGIRI TAHUN 2011 Anita Dewi Lieskusumastuti; Sylvia Widha Ayu Arini
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 3, No 2 (2012): JULI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.557 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v3i2.70

Abstract

Gizi anak berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya. Apabila kekurangan gizi berakibat keterbatasan pertumbuhan dan perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan perkembangan anak usia 3-5 tahun di Puskesmas Purwantoro I Wonogiri Tahun 2011. Desain penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh anak usia 3-5 tahun yaitu umur 36 bulan, 42 bulan, 48 bulan, 54 bulan dan 60 bulan di wilayah kerja puskesmas Purwantoro I Wonogiri bulan Mei 2011 sejumlah 673 anak. Dengan tekhnik insidental sampling, menggunakan sampel 49 anak. Alat pengumpulan data menggunakan formulir PSG dan KPSP. Metode pengumpulan data menggunakan data sekunder dan wawancara. Analisa data menggunakan Kendall Tau. Hasil penelitian menunjukkanstatus gizi baik sejumlah 25 anak, memiliki perkembangan normal sebanyak 56% (14 anak), 4% (1 anak) mengalami penyimpangan perkembangan. Kasus gizi kurang sejumlah 12 anak, terdapat 58,3% (7 anak) dengan perkembangan normal dan tidak ada yang mengalami penyimpangan perkembangan. Kasus gizi buruk sejumlah 12 anak, terdapat 58% (7 anak) dengan perkembangan normal dan terdapat 8,3% (1 anak) mengalami penyimpangan perkembangan.Kesimpulannya antara status gizi dengan perkembangan anak usia 3-5 tahun tidak ada hubungan signifikan,dibuktikan dari uji statistik Kendall Tau yaitu ρ = 0,932 (ρ > 0,05) pada taraf signifikasi 5%. Kata kunci: Status Gizi, Perkembangan Anak
MANAJEMEN ASIP (ASI PERAH)MEMPENGARUHI KEBERHASILAN ASI EKSKLUSIF (STUDI KUANTITATIF PADA IBUYANG BEKERJA DI INSTANSI PEMERINTAHAN KOTA YOGYAKARTA) Luluk Rosida; Intan Mutiara Putri
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 11, No 1 (2020): JANUARI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.648 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v11i1.328

Abstract

Latar Belakang : Keberhasilan ASI Ekslusif pada ibu bekerja dipengaruhi oleh keberhasilan manajemen pemberian ASI perah (ASIP). Umumnya ibu yang gagal dalam manajemen ASIP akan segera memberikan susu formula karena merasa ASI ibu jumlahnya kurang, bahkan ada beberapa orang tua yang sengaja mengenalkan susu formula dari awal sebelum mulai bekerja. Bayi yang sudah mendapatkan susu formulacenderung berkurang frekuensi menyusuinya dan berdampak pada menurunnya produksi ASI. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganmanajemen ASIP (asi perah) terhadap keberhasilan asi eksklusif (studi kuantitatif pada ibu yang bekerja di instansi pemerintahan kota yogyakarta) Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Rancangan atau desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional.Sampel pada penelitian ini berjumlah 44 ibu yang memenuhi kriteria inklusi penelitian.Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Metode analisis yang digunakan adalah uji statistik menggunakan analisis bivariat (Chi Square). Hasil : Karakteristik responden berdasarkan umur ibu paling banyak pada kategori umur > 35 tahun yaitu sebanyak 36 responden (75%), paritas ibu paling banyak berada pada kategori ibu dengan multipara sebanyak 30 responden (62,5%) dan cara persalinan paling banyak adalah persalinan normal yaitu sebesar 32 responden (66,6%). Ibu bekerja yang menerapkan manajemen ASIP yang paling banyak adalah pada kategori tidak tepat yaitu sebanyak 28 responden (58,3%) dan mayoritas responden tidak berhasil memberikan ASI ekslusif yaitu sebanyak 31 responden (64,6%).Hasil uji chi squaremenunjukkannilai p-value : 0,000 (
PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP KEAKTIFAN KADER POSYANDU DI KALURAHAN SUMBER KECAMATAN BANJARSARI SURAKARTA Ratih Maharani; Sabngatun Sabngatun
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 6, No 1 (2015): JANUARI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.652 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v6i1.102

Abstract

Kader dalam pelaksanaan Posyandu merupakan titik sentral kegiatan Posyandu, keikutsertaan dan keaktifannya diharapkan mampu mengerakkan partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. kader sangat di butuhkan berpendidikan tinggi, di karenakan kader tidak hanya berperan dalam kegiatan posyandu melainkan berperan juga dalam masyarakat. Peranan kader sangat penting, Bila kader tidak aktif maka pelaksanaan posyandu juga akan menjadi tidak lancar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap keaktifan kader posyandu di Kalurahan Sumber Kecamatan Banjarsari Surakarta Tahun 2013. Metode penelitian yang digunakan analitik dengan pendekatan retrospectif. Populasinya adalah seluruh kader posyandu di kalurahan sumber kecamatan banjarsari surakarta sebanyak 170 kader dari 17 posyandu dengan jumlah sampel 117 kader, tehnik pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling, analisa data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisa bivariat menggunakan uji kolmogorov-smirnov. Dari hasil penelitian mayoritas pendidikan kader posyandu adalah pendidikan dasar sejumlah 77 kader (65,8%), dan mayoritas kadernya aktif sebanyak 94 kader (80,3%) dari jumlah sampelnya.Hasil uji statistik didapatkan hasil bahwa nilai significancy 2 tailed 0,954 oleh karena (p > 0,05)maka Ho diterima dan Ha ditolak. Simpulan dari penelitian ini tidak ada pengaruh pendidikan terhadap keaktifan kader posyandu di Kalurahan Sumber Kecamatan Banjarsari Surakarta Tahun 2013. Kata Kunci : Pendidikan, Keaktifan Kader Posyandu
Gambaran Peran Serta Kader Posyandu dalam Upaya Peningkatan Status Gizi Balita di Kalurahan Laweyan Surakarta Tahun 2009 Ani Nur Fauziah; Putri Apsari
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 1, No 1 (2010): JANUARI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.314 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v1i1.5

Abstract

Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatankualitas sumber daya manusia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan SDM dimulai dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak pembuahan sampai mencapai dewasa muda. Pada masa tumbuh kembang ini, pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti perawatan dan makanan bergizi yang diberikan dengan penuh rasa kasih sayang dapat membentuk SDM yang sehat, cerdas, dan produktif.     Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan serta aktifitas. Keadaan kurang gizi dapat terjadi dari berbagai akibat, yaituketidakseimbangan asupan zat gizi, faktor penyakit pencernaa, absorpsi, dan penyakit infeksi.Bila jumlah asupan gizinya lebih rendah dari kebutuhan disebut gizi kurang, sedangkan bila asupan gizi sangat kurang dari kebutuhan disebut gizi buruk.   Dari data Departemen Kesehatan menyebutkanpada tahun 2003 sebanyak lima juta anak balita (27,5 %) kurang gizi dimana 3,5 juta (19,2 %) diantaranya pada tingkat gizi kurang dan 1,3 juta (8,3 %) sisanya mengalami gizi buruk. Pada tahun 2004 masalah gizi masih terjadi di 77,3% kabupaten dan 56 % kota di Indonesia.Pengelompokan prevalensi gizi kurang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)Indonesia tergolong sebagai negara dengan status kekurangan gizi yang tinggi pada 2004 karena 5.119.935 balita dari 17.983.244 balita Indonesia (28,47 %) termasuk gizi kurang dan gizi buruk. Pada tahun 2007 kurang gizi di Indonesia turun menjadi 4,1 juta (755.397 diantaranya kasus gizi buruk) (ikayanakesmas, 2008:2).    Hasil observasi, pengalaman lapangan hingga kenerhasilan cakupan suatu program yang telah dianalisis membuktikan bahwa peran serta masyarakat sangat menentukan terhadap keberhasilan, kemandirian, dan kesinambungan pembangunan kesehatan. Penyebabnya ada dua faktor, pertama ; dapat menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) dan faktor kedua : kesinambungan (continuity) pelaksanaan program kesehatan. Dengan demikian maka sebaiknya pengorganisasian kegiatan masyarakat dalam pembangunan kesehatan harus dilakukan oleh masyarakat itu sendiri (Miftah, 2008:1).   Biasanya posyandu dilaksanakan di abnjar-banjar dengan menggunakan mekanisme lima meja dengan urutan dimulai dari penyuluhan berkelompok, penimbangan balita, pencatatan pada KMS, pelayanan untuk ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur tentang KB sampai dengan vaksinisasi. Bahkan belakangan berkembang posyandu paripurna dengan menjaad kesehatan manula. Dengan terselenggaranya kegiatan ini dengan baik maka posyandu dapat menjadi sarana survaillance yang baik utamanya dalam mencegah terjadinya kasus gizi buruk. Berdasarkan kegiatan posyandu akan didapatkan data jumlah balita, balita sehat, status gizi kurang dan berstatus  gizi buruk. Dat-data inilah yang menjadi acuan dalam melakukan perbaikan gizi di daerah tersebut yang dikoordinasi dengan pihak puskesmas setempat.   Kesadaran akan pentingnya peran posyandu harus dibarengi peran aktif masyarakat.sebab dalam pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 20010, masyarakat adalah subjek dari pembangunan. Permasalahan kurang kader dapat diminimalisir dengan melakukan kerjasama dengan kepala lingkungan masing-masing dalam mensukseskan program posyandu. Program ini menitikberatkan pada partisipasi masyarakat, digunakan untuk masyarakat iru sendiri.   Berdasarkan laporan Puskesmas Pajang tahun 2006 dimana kelurahan Laweyan merupakan salah satu wilayah tercatat 3143 balita. Balita yang ditimbang 2892 balita, IT (0,38 %) balita diantaranya merupakan balita dengan gizi buruk dan 83(3,83%) balita merupakan balita dengan timabangan dibawah garis merah (BGM). Sedangkan balita yang tidak ditimabng sebanyak 251 (7,98%) balita dari seluruh balita yang tercatat. Masih adanya masalah gizi buruk, balita dengan BGM dan balita yang tidak ikut ditimbang membuat penulis tertarik untuk meneliti “Gambaran Peran serta Kader Posyandu Dalam Upaya Peningkatan Status Gizi Balita di kelurahan Laweyan pada Tahun 2009”.
PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG RESIKO TINDAKAN ABORSI TERHADAP KESEHATAN DAN HUKUM Siti Maesaroh; Ani Nur Fauziah
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 9, No 1 (2018): JANUARI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.584 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v9i1.134

Abstract

Latar belakang : Kasus aborsi kalangan remaja di Indonesia, diperoleh 2,6 juta jiwa pertahun. Kematian ibu disebabkan karena tindakan aborsi yang tidak aman sebagaian besar 15%-50% dilakukan oleh remaja. Banyaknya kasus aborsi dikalangan remaja dikarenakan pengetahun remaja yang kurang, sehingga banyak terjadi kesenjangan informasi tentang kesehatan reproduksi terkhusus lagi tentang resiko aborsi.. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang resiko tindakan aborsi terhadap kesehatan dan hukum di desa Jetis Juwiring Klaten tahun 2017 Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di desa Jetis kecamatan Juwiring kabupaten Klaten. Subyek penelitian berjumlah 68 responden. Instrumen yang digunakan kuesioner tertutup. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisa Univariat yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi Hasil Penelitian :Pengetahuan remaja putri tentang resiko tindakan aborsi terhadap kesehatan dan hukum di desa Jetis juwiring Klaten mayoritas dalam kategori cukup sebanyak 30 responden (44,1%). Pengetahuan remaja putri tentang resiko tindakan aborsi terhadap kesehatan fisik di desa Jetis juwiring Klaten mayoritas dalam kategori cukup sebanyak 30 responden (44,1%). Pengetahuan remaja putri tentang resiko tindakan aborsi terhadap kesehatan mental di desa Jetis juwiring Klaten mayoritas dalam kategori cukup sebanyak 38 responden (55,9%). Pengetahuan Remaja putri tentang resiko tindakan aborsi terhadap hukum di desa Jetis juwiring Klaten mayoritas dalam kategori kurang yaitu sebanyak 27 responden (39,7%). Simpulan :Pengetahuan remaja putri tentang resiko tindakan aborsi terhadap kesehatan dan hukum di desa Jetis Juwiring Klaten mayoritas dalam kategori cukup . Kata kunci : Pengetahuan, Remaja Putri , Aborsi
GAMBARAN SIKAP IBU HAMIL TRIMESTER III TERHADAP SENAM NIFAS DI BPS SRI PURHARYANI KENDAL GIRIMARTO WONOGIRI TAHUN 2010 Etik Sulistyorini; Depid Susilawati
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 2, No 1 (2011): JANUARI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.296 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v2i1.38

Abstract

Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas adalah memberikan pendekatan perawatan dan dukungan sesuai kebutuhan ibu, selama ini senam nifas sering di anggap tidak penting oleh ibu sebab ibu takut untuk melakukan gerakan terlalu berlebihan setelah melahirkan. Senam nifas memiliki manfaat salah satunya untuk memperbaiki sikap tubuh dan punggung setelah melahirkan, agar otot-otot dalam tubuh dan punggung bisa pulih dan kuat dalam keadaan semula sebelum hamil. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran sikap ibu hamil trimester III terhadap senamnifas di BPS Sri Purharyani Kendal Girimarto Wonogori Tahun 2010. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekataan Cross sectonal. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester III yang berkunjung di BPS Sri Purharyani Kendal Girimarto Wonogiri pada bulan Maret sampai Mei Tahun 2012 sebanyak 33 orang. Teknik pengambilan sampel dengan accidental sampling jumlah sampel sejumlah 30 orang ibu hamil trimester III. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan univariat disajikan distribusi frekuensi. Dari hasil penelitian diperoleh sikap ibu hamil trimester III terhadap senam nifas responden memiliki sikap baik sebanyak 15 responden (50%), karakteristik umur mayoritas umur 31-35 tahun yaitu 15 responden (50%), karakteristik pendidikan mayoritas SMP sebanyak 13 responden (43,3%), karakteristik pekerjaan mayoritas IRT sebanyak 14 responden (46,7%), karakteristik paritas mayoritas multipara sebanyak 13 orang (43,3%). Sikap berdasarkan karakteristik dalam kategori baik sebanyak 15 responden, mayoritas pada umur 31-35 tahun yaitu 7 responden (23,3%), pendidikan SMP, SMA dan PT masing-masing sebanyak 4 orang (13,3%), pekerjaan IRT dan kariyawan swasta masing-masing sebanyak 5 orang (16,7%), paritas primipara, multipara dan grandemulti masing-masing sebanyak 5 orang (16,7%). Simpulan dari penelitian ini adalah gambaran sikap ibu hamil trimester III terhadap senam nifas sebagian besar dalam kategori baik. Kata kunci : Sikap, Kehamilan, Senam Nifas