cover
Contact Name
Agung Suharyanto
Contact Email
agungsuharyanto@staff.uma.ac.id
Phone
+628126493527
Journal Mail Official
juncto@uma.ac.id
Editorial Address
Jurusan Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Medan Area, Jalan Kolam No. 1, Pasar V, Medan Estate, Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum
Published by Universitas Medan Area
ISSN : -     EISSN : 27229793     DOI : 10.31289
Core Subject : Social,
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum is a Journal of Law for information and communication resources for academics, and observers of Business Law, International law, Criminal law, and Civil law. The published paper is the result of research, reflection, and criticism with respect to the themes of Business Law, International law, Criminal law, and Civil law. All papers are peer-reviewed by at least two referees
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 165 Documents
Digital Criminalisation: The role of Electronic Evidence in the 17 + 8 Demonstration Wijaya, Emilia Metta Karunia
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6849

Abstract

This article examines the role of electronic evidence and the practice of digital criminalisation in the series of demonstrations in response to 17+8 people's demands. The purpose of this study is to analyse the position of electronic evidence in proving criminal acts in the series of protests 17+8 of people's needs, the application of the ITE Law to the digital activities of the 17+8 demonstrations in the context of digital criminalisation, and the adequacy of legal norms in protecting freedom of expression in the digital era. The research uses a normative juridical method with a case study approach to examine the practice of digital criminalisation during a series of demonstrations. This study highlights an ambivalence in the use of electronic evidence. While it serves as a tool for accountability, it is also weaponized through the ITE Law's vague provisions to repress dissent. Consequently, Indonesia's legal framework remains focused on maintaining public order rather than safeguarding the fundamental rights of demonstrators. This article recommends reformulating the ITE Law's provisions on rubber articles, strengthening the implementation of the PDP Law, and establishing an independent institution to oversee the protection of personal data and digital restrictions.
Krisis dan Reformasi: Standard of Treatment dalam Perjanjian Investasi Bilateral di Negara Dunia Ketiga Kabir, Syahrul Fauzul
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6209

Abstract

Perjanjian internasional antar dua negara yang bertujuan untuk melindungi investasi, yakni perjanjian investasi bilateral (bilateral investment treaty/BIT), mengalami krisis karena rumusannya dinilai tidak seimbang dalam melindungi kepentingan negara dunia ketiga. Indonesia, India, Brazil, dan Afrika Selatan tergolong sebagai negara dunia ketiga yang mereformasi krisis tersebut melalui perumusan ulang BIT. Seluruh aturan substantif BIT terangkum ke dalam terma yang disebut standard of treatment. Standard of treatment di sini merujuk pada pengertian sempitnya: international minimum standard of treatment yang mencakup fair and equitable treatment (FET) dan full protection and security (FPS). Dalam rumusan FET berlaku ketentuan bahwa semakin sederhana FET dirumuskan, semakin longgar norma tersebut dapat ditafsirkan. Dan semakin longgar rumusan FET dapat ditafsirkan, semakin sempit ruang yang tersisa bagi kebijakan negara. Negara dunia ketiga mengantisipasi hal tersebut dengan tidak mengadopsi rumusan yang sederhana. Menyangkut rumusan FPS, tindakan paling reformis dilakukan oleh Brazil dengan menghapus rumusan FPS dalam BIT-nya. Sementara itu, India dan Afrika Selatan membatasi prinsip FPS dengan mengatur ruang lingkupnya. Kedua negara tersebut juga membatasi tafsiran prinsip FPS berbasiskan norma hukum kebiasaan internasional. Sedangkan Indonesia terkesan ambigu. Sekalipun membuat pembatasan dalam BIT terbarunya, masih tersisa rumusan FPS yang terbuka atas penafsiran yang ekspansif jika terjadi sengketa investasi berbasiskan BIT Indonesia.
Analisis Yuridis Terhadap Penjatuhan Putusan Kasasi Dalam Tindak Pidana Korupsi (Studi Putusan Nomor 4950 K/Pid.Sus/2023) Dao, Fiktorius Kehidupan
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 8, No 1 (2026): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum JUNI
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v8i1.6712

Abstract

Corruption as an extraordinary crime causes multidimensional harm, including losses to state finances and the national economy. One high-profile corruption case examined by the Supreme Court is Decision Number 4950 K/Pid.Sus/2023 involving Surya Darmadi. This study aims to analyze the irregularities in the legal reasoning of the cassation judgment, particularly regarding the omission of liability for state economic losses. This research employs normative legal research using statutory, case, and analytical approaches. Data were collected through a literature review of primary, secondary, and tertiary legal materials and analyzed using descriptive qualitative methods with deductive reasoning. The findings indicate that the cassation decision deviates from the judgments at the first instance and appellate levels, which had clearly imposed liability for state economic losses. The exclusion of such liability potentially weakens the principle of state loss recovery and undermines the objectives of sentencing in corruption cases.
Aspek Perlindungan Konsumen Jasa Keuangan Digital dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Perdata Nasution, Hani Riadho; Nasution, Abdul Haris; Rahmani, Mhd. Dayan
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6557

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam sistem layanan keuangan, salah satunya melalui hadirnya jasa keuangan digital seperti dompet digital, pinjaman online, dan mobile banking. Di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan, terdapat berbagai potensi permasalahan hukum yang dapat merugikan konsumen, seperti kebocoran data, pemotongan saldo tanpa persetujuan, atau praktik perjanjian sepihak. Dalam konteks ini, perlindungan hukum bagi konsumen menjadi hal yang sangat penting, baik dalam perspektif hukum positif (hukum perdata) maupun dalam pandangan hukum Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen dalam layanan keuangan digital ditinjau dari dua perspektif, yaitu hukum perdata dan hukum Islam. Kajian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Data dianalisis secara kualitatif berdasarkan ketentuan hukum positif, prinsip-prinsip fiqh muamalah, serta studi kepustakaan. Dalam hukum perdata, perlindungan konsumen didasarkan pada asas perikatan dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), yang menjamin hak konsumen atas informasi, keamanan, serta ganti rugi atas kerugian. Sementara dalam hukum Islam, perlindungan konsumen berakar pada prinsip keadilan (adl), kejujuran (sidq), serta larangan unsur-unsur yang merugikan seperti gharar, riba, dan maysir. Hukum Islam tidak hanya menekankan aspek legal formal, tetapi juga etika dan tanggung jawab moral dalam transaksi. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa perlindungan konsumen dalam jasa keuangan digital membutuhkan pendekatan hukum yang komprehensif, yang menggabungkan aspek legal (hukum perdata) dan nilai-nilai syariah (hukum Islam), demi menciptakan keadilan dan keseimbangan antara pelaku usaha dan konsumen.
Tertundanya Hukum Responsif dalam Penanganan Perambahan Hutan Lindung Gunung Slamet Salsabil, Hilda Halnum; Handayani, Sri Wahyu
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6851

Abstract

Encroachment on the protected forest of the western slope of Mount Slamet reflects the tension between environmental conservation efforts and the economic needs of local communities. Since the reform era, approximately 154 hectares of protected forest area have been illegally converted into agricultural land. This article analyzes the state’s legal response to this issue using a normative juridical method and a conceptual approach based on Nonet and Selznick’s theory of responsive law. The findings indicate that government responses, particularly through Perum Perhutani, remain administrative and temporary, without follow-up policies capable of addressing the root socio-ecological problems, such as legal access to land and meaningful community participation in forest governance. The novelty of this study lies in its critical analysis of the delayed implementation of responsive law due to a policy vacuum in justice-oriented regulation, as well as its emphasis on the need to integrate environmental law, agrarian reform, and social forestry within a transformative legal framework. This study underscores that law should function not merely as an instrument of control, but also as a means of empowerment and sustainable ecological justice.
Analisis Hukum Pidana Keabsahan Tandatangan Terhadap Pemalsuan Surat Tanah Studi Putusan No.1231/PID/2023/PT MDN Fernandus, Roy Samuel; Harahap, Herlina Hanum
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6425

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaturan hukum pidana terkait keabsahan tanda tangan dalam tindak pidana pemalsuan surat tanah serta pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor 1231/PID/2023/PT MDN. Permasalahan ini penting mengingat tanda tangan merupakan bagian integral dari surat yang berfungsi menunjukkan identitas dan kehendak pihak yang menandatangani, meskipun tidak diatur secara eksplisit sebagai unsur delik dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan yuridis normatif dan empiris. Data diperoleh melalui wawancara dengan Ketua Majelis Hakim yang menangani perkara serta studi dokumentasi terhadap berkas perkara dan putusan pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan terhadap keabsahan tanda tangan diberikan secara tidak langsung melalui ketentuan pemalsuan surat dalam Pasal 263–275 KUHP dan Pasal 391–400 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Dalam perkara yang diteliti, hasil forensik menunjukkan tanda tangan non-identik, namun sidik jari identik dengan pihak terkait. Hakim menilai sidik jari memiliki kekuatan pembuktian lebih tinggi karena bersifat unik dan tidak dapat dipalsukan. Berdasarkan asas keyakinan hakim dan prinsip in dubio pro reo, unsur tindak pidana tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.
Konvergensi Antara Sanksi Administratif dan Sanksi Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan Perpajakan Novita, Rini
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6709

Abstract

Penegakan hukum pajak di Indonesia menghadapi tantangan serius akibat dualisme antara sanksi administratif dan sanksi pidana yang masih diterapkan secara terpisah. Pemisahan tersebut kerap menimbulkan tumpang tindih kewenangan, ketidakpastian hukum, serta potensi pelanggaran asas ne bis in idem, sehingga berdampak pada efektivitas dan keadilan penegakan hukum pajak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara normatif hubungan antara sanksi administratif dan sanksi pidana dalam penanggulangan kejahatan perpajakan di Indonesia serta menawarkan konsep konvergensi sebagai model penegakan hukum yang lebih proporsional. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan, melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, serta praktik penegakan hukum pajak di negara-negara anggota OECD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penegakan hukum pajak Indonesia masih bersifat dualistik dan fragmentaris, sehingga memerlukan penyelarasan antara sanksi administratif dan pidana. Konsep konvergensi sanksi menempatkan sanksi administratif sebagai instrumen utama dan sanksi pidana sebagai ultimum remedium, yang diterapkan secara selektif berdasarkan tingkat kesalahan dan dampak pelanggaran. Penerapan model konvergensi diharapkan dapat meningkatkan kepastian hukum, efektivitas fiskal, dan perlindungan hak wajib pajak.
Kedudukan dan Perlindungan Justice Collaborator pada Sistem Peradilan Pidana Simanjuntak, Predderics Hockop
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6733

Abstract

The development of organized crime such as corruption, narcotics, terrorism, and money laundering demands a more adaptive law enforcement strategy, one of which is through the use of justice collaborators. Perpetrators who are willing to cooperate with law enforcement officials have a strategic role in uncovering complex and hidden criminal structures. However, in the Indonesian criminal justice system, the status and legal protection of justice collaborators still face serious problems. This study aims to normatively analyze the position of justice collaborators in Indonesian positive law and evaluate the effectiveness of the legal protection provided to them. The research method used is normative legal research with a statutory and conceptual approach, through an analysis of the Criminal Procedure Code (KUHAP), the Law on Witness and Victim Protection, sectoral regulations, and Supreme Court Circular Letter Number 4 of 2011. The results show that although the existence of justice collaborators has been normatively recognized, its regulations are still partial, unintegrated, and do not provide adequate legal certainty. The absence of explicit regulations in criminal procedural law causes the determination of status and the provision of protection to be highly dependent on the discretion of law enforcement officials and a lack of coordination between institutions. The novelty of this research lies in its positioning of justice collaborators as legal subjects with clear procedural rights and protections, not simply as cooperating perpetrators. This study recommends the need for reform of national criminal procedure law for Justice Collaborators to ensure legal certainty, effective protection, and increased success in eradicating organized crime.
Wewenang Hakim dalam Penjatuhan Hukuman terhadap Kasus Perbarengan Tindak Pidana (Studi Putusan 177/Pid.Sus/2022/Pt Pbr) Bangun, Eko Putra
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6428

Abstract

Penelitian ini mengkaji kewenangan hakim dalam penjatuhan hukuman terhadap kasus perbarengan tindak pidana, dengan fokus pada penyimpangan penerapan Pasal 67 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana melalui studi Putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 177/Pid.Sus/2022/PT Pbr. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Analisis dilakukan terhadap pengaturan concursus dalam KUHP serta pertimbangan hukum (ratio decidendi) hakim dalam putusan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hukum pidana Indonesia secara normatif telah menetapkan pembatasan pemidanaan sebagai prinsip fundamental, khususnya larangan penjatuhan pidana mati lebih dari satu kali terhadap orang yang sama. Namun, dalam putusan yang dikaji, hakim menggunakan kewenangannya secara progresif dengan mengedepankan keadilan substantif dan perlindungan kepentingan masyarakat, sehingga menyimpangi ketentuan Pasal 67 KUHP. Temuan ini menunjukkan adanya ketegangan antara asas legalitas dan keadilan sosial dalam praktik pemidanaan, serta menegaskan perlunya kejelasan batas diskresi hakim agar kepastian hukum dan tujuan pemidanaan dapat terwujud secara seimbang.
Penyalahgunaan Data Pribadi dalam Transaksi Online di Kota Medan: Analisis Pertanggungjawaban Perdata Platform Digital Lubis, Diana
JUNCTO: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 7, No 2 (2025): JUNCTO : Jurnal Ilmiah Hukum DESEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/juncto.v7i2.6710

Abstract

Perkembangan ekonomi digital telah menjadikan data pribadi sebagai objek hukum yang bernilai strategis sekaligus rentan terhadap penyalahgunaan dalam transaksi online. Fenomena ini semakin nyata di Kota Medan seiring meningkatnya penggunaan platform digital yang belum diimbangi dengan mekanisme perlindungan hukum yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk pertanggungjawaban perdata platform digital atas penyalahgunaan data pribadi pengguna dalam transaksi daring. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, didukung oleh analisis empiris terbatas terhadap kasus-kasus penyalahgunaan data pribadi di Kota Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan data pribadi secara normatif dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata, namun penerapannya masih lemah akibat kesulitan pembuktian, ketimpangan posisi hukum, serta keterbatasan pengaturan dalam UU ITE dan UU Perlindungan Data Pribadi. Penelitian ini mengusulkan penerapan prinsip strict liability dan vicarious liability sebagai model pertanggungjawaban alternatif yang lebih adaptif terhadap risiko sistemik dalam pengelolaan data pribadi. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat perlindungan hak keperdataan pengguna serta mendorong peningkatan akuntabilitas platform digital di era ekonomi digital.