cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 147 Documents
MODEL PENYELESAIAN KONFLIK DALAM PEMILIHAN PEMIMPIN DI SINODE GEREJA KRISTEN INJILI NUSANTARA (GKIN) Adieli Halawa; Robert Calvin Wagey
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 1 (2022): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i1.146

Abstract

Pada masa kini, konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Pemahaman tentang konflik secara komprehensif baik teori umum maupun Alkitab merupakan bagian yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap pemimpin Kristen khususnya para pemimpin di Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN). Tujuan penelitian dalam tulisan ini adalah:(1) Untuk mengetahui teori umum dan pandangan Alkitab tentang konflik. (2) Untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik dalam Pemilihan Pemimpin di Sinode GKIN. (3) Untuk menemukan model penyelesaian konflik dalam Pemilihan Pemimpin di Sinode GKIN. Observasi serta penelitian yang dilakukan peneliti dalam proses pemilihan pemimpin di sinode GKIN mengerucut pada satu bukti dan fakta yang tidak terbantahkan bahwa terjadi konflik dalam pemilihan pemimpin yang sedang berlangsung di sinode GKIN. Jika dikonstruksikan maka konflik yang terjadi karena: (1) Dukung mendukung calon yang menimbulkan konflik interpersonal, intra grup dan kelompok dalam sinode GKIN. (2) Regulasi yang mengatur tentang pemilihan pemimpin di sinode GKIN belum memadai dan memenuhi kebutuhan organisasi. (3) Karakter para pemimpin di GKIN yang belum bersesuaian dengan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen yang berdasarkan Alkitab. (4) Konflik dalam pemilihan pemimpin yang sudah berlangsung lama belum ada upaya terstruktur dan sistemik dalam mengelola potensi konflik tersebut menjadi hal positif bagi organisasi. Sinode GKIN membutuhkan sebuah model pendekatan penyelesaian konflik dengan empat model sesuai dengan konteks di sinode GKIN, yaitu: Model proposal penyelesaian masalah, model dialog terbuka untuk solusi, model solusi komprehensif dan model hikmat Allah.
HAKIKAT IBADAH VS IBADAH STREEMING: STUDI KONTEN ANALISIS Rio Janto Pardede; Ferdinan Samuel Manafe; Yatmini Yatmini
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 1 (2022): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i1.150

Abstract

Ibadah streaming merupakan salah satu cara untuk memfasilitas jemaat untuk dapat dilayani melalui ibadah yang didalamnya juga terkandung pujian, penyembahan dan firman Tuhan. Dalam pengertian, hakikat ibadah menentukan ibadah streaming layak disebut sebagai ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana pentingnya memahami hakikat ibadah dalam ibadah streaming. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian konten analisis yang di jelaskan secara deskriptif. Berdasarkan analisis isi yang dilakukan, ditemukan hubungan antara hakikat ibadah dengan ibadah streaming pada konten: 1) Perjanjian Lama:  Sejak zaman Kain dan Habel, Patriakh (Abraham, Ishak, Yakub), Musa, Para Hakim, Daud, Salomo, Nabi-nabi, Mazmur. 2) Perjanjian Baru:  Sinagoge, Injil Sinoptik (sikap hati, Menyembah dalam roh dan kebenaran), Paulus (Mengenal Allah yang disembah, Mempersembahkan totalitas hidup, ibadah tanpa kepura-puraan, ibadah berguna dalam segala hal), Ibrani (menyucikan hati nurani, Mengekang lidah). Sehingga pelaksanaan ibadah bukan masalah dimana dan kapan dilaksanakan tetapi bagaimana spiritualitas pribadi seseorang dalam menghormati Tuhan dalam ibadahnya, baik melalui ibadah streaming. Karena sejarah Alkitab membuktikan para tokoh-tokoh Alkitab melakukan ibadah dimana mereka memiliki keterikatan spiritualitas dengan Allah.
ANAK-ANAK IMAM ELI (I SAMUEL 2-3) DAN REFLEKSINYA BAGI ANAK-ANAK HAMBA TUHAN Maria Hanie Endojowatiningsih
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 1 (2022): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i1.152

Abstract

Pengalaman anak-anak Imam Eli bisa jadi dialami oleh anak-anak hamba Tuhan. Anak-anak hamba Tuhan memiliki pergumulan khusus, yang bisa berimbas negatif tapi juga bisa berimbas positif. Hasil wawancara informal, ditemukan bahwa ada yang menanggapi negatif, misalnya merasa tertekan, dituntut terlalu banyak, tidak sebebas anak-anak lain, dibayang-bayangi oleh status orangtuanya. Namun ada yang menanggapinya secara positif, misalnya bersyukur dan bangga akan status sebagai anak-anak hamba Tuhan, karena bisa mendapat pendidikan dan keteladanan rohani yang sangat baik dari orangtua, bisa turut melayani bersama orangtua. Anak-anak imam Eli, di tengah umat Israel, ternyata menanggapi secara negatif, yaitu dengan perilaku yang sangat tidak menjadi berkat, dan menjadi perhatian Tuhan. Pembahasan penelitian ini, kiranya dapat memberikan kontribusi bagi anak-anak hamba Tuhan agar tidak memiliki kecenderungan seperti halnya anak-anak imam Eli, dan penting juga bagi para hamba Tuhan supaya tidak mengalami kegagalan seperti imam Eli. Metode penelitian yang penulis pakai adalah kualitatif, dengan mewawancarai 13 mahasiswa Institut Injil Indonesia yang orangtuanya (ayah atau ibunya) adalah hamba Tuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% informan kecewa menjadi anak hamba Tuhan, 46% informan  pernah minder menjadi anak hamba Tuhan, dan  informan berpendapat bahwa jika anak-anak hamba Tuhan tidak mengaktualisasikan Firman Tuhan secara benar maka akan menjadi batu sandungan bagi jemaat, merusak pekerjaan Tuhan, nama baik orangtua tercemar, dan wibawa orangtua hilang.
PERAN ORANG TUA DALAM PENDAMPINGAN PASTORAL BAGI ANAK USIA REMAJA AWAL MENURUT 2 TIMOTIUS 1:3-18 Meldaria Manihuruk; Chresty Thessy Tupamahu; Lasrida Siagian
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 1 (2022): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i1.153

Abstract

Pendampingan Pastoral atau Pastoral Care adalah sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang yang bersedia untuk memberikan perhatian, perawatan, pemeliharaan, atau perlindungan kepada seseorang lain yang membutuhkan. Pendampingan pastoral memberikan pertolongan yang menghubungkan antara pendamping, orang yang didampingi, dengan Allah. Orang tua sebagai “manager” atau “penjaga” bagi anak-anaknya memiliki peran penting dalam pendampingan pastoral untuk menolong anak-anaknya khususnya bagi anak-anak remaja awal yang memasuki masa-masa krisis peralihan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran orang tua dalam pendampingan pastoral bagi anak usia remaja awal menurut 2 Timotius 1:3-18. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan grammatical analysis. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan tekni studi literatur dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa peran orang dalam pendampingan pastoral bagi orang tua anak remaja awal harus meliputi ucapan syukur, mendoakan, mendidik, memberi kasih sayang, memberi disiplin, serta memberi teladan kepada anak. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa masa-masa krisis peralihan anak remaja awal tidak bisa dihindari, namun kesadaran dan kesigapan orang tua dalam peran pendampingan pastoral terhadap anak remaja awal ini sangat signifikan karena dapat menolong anak mereka menghadapi masa-masa peralihan tersebut.
PEMBINAAN WARGA GEREJA YANG KECANDUAN NARKOBA BERDASARKAN MATIUS 18: 12 – 14 SUATU STUDI FENOMENOLOGI Safri Pardede; Alvyn Cesarianto Hendriks; Stimson Hutagalung; Janes Sinaga
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 1 (2022): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i1.156

Abstract

Kecanduan narkoba sudah menjadi permasalahan besar dihadapi dan mengkawatirkan, di dunia. Pada tahun 2017 sampai 2019 ada sekitar 3,3 sampai 3,6 juta jiwa lebih diantara umur 10 tahun sampai 59 tahun, dan termasuk pelajar. Mereka yang berusia 15 tahun sampai 35 tahun (generasi milenial) lebih cenderung pecandu narkoba. Berdasarkan data ini, penelitian bermaksud agar gereja dan gembala mengadakan pembinaan kepada warga gereja dan kepada mereka yang telah menggunakan narkoba sebagai mana dalam Matius 18:12 – 14, dengan tujuan mencegah menjadi pecandu dan pengguna narkoba. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yaitu mengungkap makna dan pengalaman subjek serta mengutip literatur-literatur dari internet dan pengalaman penulis selama tinggal di rumah satu keluarga dimana ada anaknya yang kecanduan narkoba yang tidak mendapatkan pembinaan serta pendampingan. Hasilnya agar warga gereja dapat mengetahui efek dan bahayanya narkoba dan kepada mereka yang ketergantungan narkoba menyadari kesalahaan dan dapat sembuh serta dapat diterima menjadi warga gereja.
SIGNIFIKANSI PERNIKAHAN KRISTEN BAGI PASANGAN YANG BELUM DIBERKATI DI GEREJA Meldaria Manihuruk
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.180

Abstract

Pernikahan adalah persekutuan ekslusif seumur hidup antara seorang pria dan seorang wanita. Konsep dasar pernikahan pertama kali dimulai di taman Eden, yakni Ketika Allah membawa Hawa kepada Adam. Pernikhan merupaka suatu tahap dimana seorang laki-laki dan perempuan dipersatukan oleh Allah dan diikat secara sah oleh ikatan kasih, hukum, perlindungan untuk menikmati hubungan seksual secara sah dan hubungan sebagai suami isteri yang berlaku sampai seumur hidup. Namun dalam kehidupan Kristen masa kini banyak pasangan yang tidak memenuhi konsep pernikahan yang alkitabiah sebagaimana dikehendaki Allah. Beberapa pasangan telah hidup bersama namun belum diberkati di gereja. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mencari dan mengidentifikasi masalah yang diteliti serta pengevaluasiannya. Melalui data yang dianalisa dan diinterpretasi maka ditemukan bahwa: pertama, pernikahan Kristen berdasarkan Alkitab adalah hakikat pernikahan bagi keluarga yang belum diberkati. Kedua, pemahaman yang benar mengenai pernikahan Kristen bagi keluarga yang belum diberkati sehingga dapat mengerti pernikahan Kristen. Ketiga, dalam penelitian terhadap pernikahan Kristen, banyak keluarga yang belum memahami pernikahan menurut Alkitab, oleh sebab itu penting bagi keluarga untuk memahami dan melakukan dengan benar pernikahan menurut Alkitab sesuai dengan kehendak Allah.
Persahabatan Inkarnatif Dalam Mempertahankan Solidaritas Masyarakat Pada Acara Slametan Legia Suripatty; Jammes Junaedy Takaliuang
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i2.193

Abstract

Tujuan penelitian: Menganalisis keyakinan warga mempertahankan tradisi Slametan, proses kegiatannya, sebagai media interaksi dan komunikasi dimana terjadi perjumpaan antara komunitas Islam dan Kristen, maka persahabatan Inkarnatif menjadi model pendekatan dalam mempertahankan solidaritas. Metode penelitiannya kualitatif dan kajian literatur. pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian: (1) Tradisi Slametan masih menjadi keyakinan warga, karena memaknai keselamatan, sebagai waktu yang sakral, saat terbaik untuk mengirim doa kepada arwah keluarga, (2) sarana mengumpulkan warga saling berinteraksi. (3) Proses pelaksanaannya pada tiga pedukuhan (Tambuh, Songgoriti dan Krajan / Klumutan) di rumah dan mushola kemudian diakhiri di ruang serbaguna kelurahan Songgokerto (4) Slametan sebagai media komunikasi untuk berinteraksi antar individu, (5) Perilaku tradisi ini berfungsi mempertahankan solidaritas.
Pelayanan Gereja (Kingmi) Di Tanah Papua Terhadap Anak Jalanan Kota Sorong Yulian Anouw; Heni Sigap
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i2.182

Abstract

Penelitian dilaakuan Pelayanan Gereja (Kingmi) di Tanah Papua terhadap Anak Jalanan di Kota Sorong. Studi kasus “Anak Jalanan Kota Sorong Papua Barat. adalah pelayanan gereja terhadap Anak Jalanan di Kota Sorong. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan kontribusi pikiran teologis-misiologis dengan mengkaji pengajaran Alkitab tentang anak Jalanan, bagaimana manajemen pelayanan gereja dilakukan kepentingan anak Jalan atau hanya focus Pelayanan seperti Khotba dimimbar saja. Dengan demikian, diharapkan terbentuk suatu pemahaman tentang manajemen pelayanan Gereja (Kingmi) di Tanah Papua terhadap Anak Jalanan di Kota Sorong yang obyektif, serta dapat dipertanggungjawabkan secara teologis maupun metodologis. Pendekatan riset yang diterapkan untuk menjawab isu inti masalah pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif dengan metodologi kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui riset pendahuluan (observasi partisipatoris; pada saat menjalani masa Penelitian anak jalanan di Lapangan Kota Sorong,serta wawancara yang dilakukan terhadap 7 (tujuh) orang pemimpin dan pelayan Gereja (Kingmi) di Tanah Papua di Kota Sorong, yang terdiri dari 5 (Lima) kategori, yaitu: pertama, pelayan sebagai Pemimpin Gereja (Kingmi) di Tanah Papua di Kota Sorong; kedua, pelayan anak Jalanan sebagai Gembala,Penginjil sidang Gereja (Kingmi) di Tanah Papua; ketiga, Anak Jalanan dikota sorong, Keempat, Anak Lahir Besar Kota Sorong (Labeso). Kelima, orang tua Anak jalanan dikota Sorong, dan Selain itu, data diperoleh melalui studi kepustakaan, dengan membaca, menganalisis, dan menemukan ide-ide dari buku-buku yang mendukung pembahasan pokok masalah yang dikaji. untuk menegaskan fakta tentang peran penting manajemen pelayanan gereja bagi anak Jalanan dikota Sorong, Dengan demikian, temuan ini menegaskan pemahaman yang telah temukan, tentang pentingnya penerapan manajemen teologis-misiologis pelayanan Gereja (Kingmi) di tanah Papua.Jemaat Bukit Zaitun Sorong terhadap Anak Jalanan The research was conducted by the Church Service (Kingmi) in Tanah Papua on Street Children in Sorong City. Case study “Street Children in Sorong City, West Papua.” is the church's ministry to street children in Sorong City. This research was conducted as an effort to contribute theological-misiological thoughts by studying Bible teaching about street children, how church service management is carried out for the benefit of street children or only focusing on services such as preaching in the pulpit. Thus, it is hoped that an understanding of the management of Church services (Kingmi) in Tanah Papua will be formed towards street children in Sorong City which is objective, and can be accounted for both theologically and methodologically. The research approach applied to answer the core issues of this research is a descriptive approach with a qualitative methodology. Data collection techniques were carried out through preliminary research (participatory observation; during the research period for street children in the Sorong City Square, as well as interviews with 7 (seven) Church leaders and servants (Kingmi) in Tanah Papua in Sorong City, which consisted of 5 (five) categories, namely: first, servants as Church Leaders (Kingmi) in the Land of Papua in Sorong City; second, street children ministers as pastors, evangelists for church congregations (Kingmi) in Papua; third, street children in the city of Sorong, Fourth , Children Born Big in Sorong City (Labeso) Fifth, parents of street children in Sorong City, and In addition, data were obtained through literature study, by reading, analyzing, and finding ideas from books that support the discussion of the main problems studied. To confirm the facts about the important role of church service management for street children in the city of Sorong, this finding confirms the understanding that has been found, regarding the the importance of implementing the theological-misiological management of the Church's ministry (Kingmi) in Papua. The Bukit Zaitun Sorong Congregation for Street Children
TEOLOGI MINJUNG DI KOREA DAN IMPLIKASINYA BAGI MASYARAKAT PAPUA Delon Mussa; Grace V. Desidery
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i2.186

Abstract

Penindasan merupakan persoalan yang masih terus terjadi dimana-mana, teologi minjung merupakan ekspresi dari bentuk gerakan pembebasan bagi kaum yang tertindas untuk melepaskan diri dari penderitaan yang dialami. Yesus yang dipahami sebagai bagian dari Minjung hadir sebagai penyelamat dan pemberi harapan baru. Terkait dengan Minjung kehidupan masyarakat Papua yang masih kental akan penindasan dan keterpinggiran juga mempunyai cara dalam mengekspresikan kehidupan yang dialami masyarakat Papua lewat keterampilan seni yang menjadi ciri khas masyarakat Papua.
Spiritualitas Kaum Muda di Tengah Perkotaan dalam Era Digital Dionisius Barai Putra; Antonius Denny Firmanto
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i2.187

Abstract

Spiritualitas kaum muda di era digital sangat penting. Apalagi di tengah kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan bagi kaum muda dalam mencari berbagi informasi yang mereka perlukan. Melihat kemudahan seperti ini kaum muda secara perlahan kurang menyadari tentang spiritualitas. Kurangnya kesadaran kaum muda dalam menghidupi spiritualitas di tengah zaman ini di pengaruhi oleh beberapa aspek salah satunya aspek internal. Dimana kaum muda lebih senang dengan dunianya sendiri daripada bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Namun pergaulan mereka cendrung pada orang yang lama daripada orang yang baru. Hal ini yang membuat mereka terjebak dalam dunia teknologi, sehingga membuat sikap mereka menjadi individualis atau suka dengan dunia sendiri. Sikap seperti ini menjadi sebuah persoalan dalam mewujudkan spiritualitas di tengah dunia teknologi sekarang. Metode penulisan yang digunakan adalah literature review dengan menggunakan sumber buku dan jurnal. Selain itu menggunakan Kuesioner untuk lebih mengetahui pemahaman kaum muda tentang spiritualitas di era digital. Tujuan dari penulisan ini melihat problem yang dialami oleh kaum muda tentang spiritualitas, di era digital ini. Spiritualitas adalah sikap yang sebenarnya harus mereka miliki secara penuh. Namun mereka mulai kurang menyadari betapa pentingnya spiritualitas di tengah kehidupann mereka sebagai penerus bangsa dan gereja di zaman ini. Dalam penulisan ini penulis juga menemukan bahwa kaum muda masih memiliki sikap individualis. Sikap seperti ini dilihat dari beberapa sumber yang kaitannya dengan topic ini. Maka dalam menghidupi spiritualitas ini harus memiliki relasi, kerendahan hati dan kesadaran dari kaum muda di era digital. Hal tersebut akan sangat membantu kaum muda di tengah dunia teknologi sekarang.

Page 11 of 15 | Total Record : 147