cover
Contact Name
Junaidin
Contact Email
junaidinfarm03@gmail.com
Phone
+6282119895060
Journal Mail Official
lppmstfm01@gmail.com
Editorial Address
Alamat Redaksi: Jl. KH Syekh Nawawi km.4 No.13 Tigaraksa – Kabupaten Tangerang Telp./Fax. (021) 2986 7307
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Farmagazine
ISSN : 23024933     EISSN : 26218216     DOI : 10.47653
Core Subject : Health, Science,
Jurnal (Farmagazine) adalah jurnal ilmiah tentang hasil-hasil penelitian ilmu-ilmu farmasi yang meliputi: farmasi maritim, farmasi bahan alam, formulasi, kimia farmasi, rumah sakit dan komunitas, farmakologi, dan bioteknologi farmasi.
Articles 148 Documents
IDENTIFIKASI POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA NAIMATA KUPANG Aurelia Da Silva Sequeira Fraga; Melinda Lape Bessy
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.632

Abstract

Skizofrenia merupakan salah satu penyakit gangguan jiwa berat dan bersifat kronis sehingga penderita skizofrenia harus menggunakan obat golongan antipsikotik dalam jangka waktu yang panjang bahkan seumur hidup. Pasien skziofrenia biasanya menggunakan > 2 jenis obat, sehingga dapat berisiko menimbulkan interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran interaksi obat pada terapi pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Naimata Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, penyajian data secara deskriptif dan pengambilan data secara retropektif serta dianalisis secara kuantitatif. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data rekam medis pasien skizofrenia di RSJ Naimata Kupang Periode Juli-Desember 2020 yang memenuhi kriteria inklusi. Jumlah populasi pada penelitian ini sebanyak 500 pasien dengan sampel sebanyak 100 pasien. Hasil analisis menunjukkan adanya potensial interaksi obat pada penggunaan obat antipsikotik dengan antipsikotik seperti pada penggunaan haloperidol dengan klorpromazin (96%). Selain itu, pada interaksi obat antipsikotik dengan non-antipsikotik terjadi potensial interaksi obat pada penggunaan haloperidol dengan triheksifenidil (43%). Penelitian ini menunjukan berdasarkan analisis tingkat keparahan interaksi sesama obat antipsikotik maupun dengan obat lain pada pasien skizofrenia menunjukkan persentase tertinggi terdapat pada tingkat keparahan sedang sebesar 94% dan tingkat keparahan berat sebesar 6%.
MONITORING EFEK SAMPING HEPATOTOKSISITAS OBAT ANTITUBERKULOSIS DI RS X YOGYAKARTA Dias Ananda Sulistya; Dyah Aryani Perwitasari
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.601

Abstract

Hepatotoksisitas adalah kejadian di mana sel-sel di dalam hati mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh senyawa bersifat toksik. Pemakaian obat anti tuberkulosis menjadi salah satu penyebab tersering kejadian hepatotoksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efek samping hepatotoksisitas akibat pemakaian OAT pada pasien tuberkulosis di RS X Yogyakarta pada tahun 2021. Metode penelitian yaitu deskriptif observasional dengan mengukur parameter laboratorium SGOT, SGPT, bilirubin total, dan hemoglobin pada bulan ke 2, 4, dan 6 pengobatan. Subyek adalah pasien tuberkulosis yang menggunakan obat antituberkulosis kriteria 1. Analisis data demografi dan kejadian hepatotoksisitas dilakukan dengan analisis univariat yang disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan diagram menggunakan Microsoft Excel 2016. Hasil penelitian pada 11 pasien tuberkulosis menunjukkan nilai rata-rata SGOT bulan ke 2, 4, dan 6 sebesar 28,88±10,27 U/L, 21,9±4,58 U/L, dan 32,7±41,90 U/L. Nilai rata-rata SGPT bulan ke 2, 4, dan 6 sebesar 20,75±13,37 U/L, 13±5,23 U/L, dan 28,60±56,09 U/L. Kadar rata-rata bilirubin total bulan ke-2, 4, dan 6 diperoleh 0,6±0,18 mg/dL, 0,8±0,35 mg/dL, dan 0,9±0,43 mg/dL. Sedangkan rata-rata nilai hemoglobin bulan ke 2, 4, dan 6 sebesar 13,2±1,56 gr%, 14,08±1,35 gr%, dan 13,67±1,39 gr%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah tidak terjadi kenaikan kadar SGOT, SGPT dan bilirubin total serta tidak terjadi penurunan kadar hemoglobin pada tiap bulan pengobatan tuberkulosis.
FORMULASI SEDIAAN SABUN PADAT EKSTRAK ETANOL 96% DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI (Staphylococcus aureus) Hilda Damayanti; Mohammad Zaky; Muhamad Fatah Nur Irman Maulana
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.629

Abstract

Ekstrak etanol 96% daun sirsak (Annona muricata L.) memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antiparasit, antivirus dan dekongestan.Aktivitas tersebut diduga disebabkan kandungan kimia yang terdapat didalam ekstrak.Salah satu senyawa aktif yang terdapat pada ekstrak daun sirsak adalah saponin, flavonoid, tanin, dan alkaloid yang mempunyai fungsi sebagai antibakteri.Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sabun padat ekastrak daun sirsak (Annona muricata L.), mengetahui hasil evaluasi sediaan sabun padatekastrak daun sirsak dan mengetahui diameter zona hambat sabun padat ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus.Jenis penelitian ini yaitu penelitian secara eksperimental dengan analisis secara deskriptif.Pembuatan ekstrak daun sirsak dilakukan dengan metode maserasi, yang kemudian digunakan sebagai zat aktif pada sediaan sabun padat dengan konsentrasi FI 3%, FII 4% dan FIII 5%.Hasil penelitian menunjukkan ekstrsk etanol 96% daun sirsak (Annona muricata L.) dapat diformulasikan menjadi sediaan sabun padat dengan variasi konsentrasi FI 3%, FII 4% dan FIII 5%, dan hasil evaluasi fisik pada sediaan sabun padat ekstrak daun sirsak pada uji organoleptis (Bau, Bentuk dan Warna), uji pH dan uji tinggi busa memiliki hasil yang baik dan memenuhi syarat.Pada hasil pengujian antibakteri sabun padat ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.)  pada konsentrasi 3% memiliki zona hambat sebesar 13,06 mm, konsentrasi 4% memiliki zona hambat sebesar 13,8 mm, dan konsentrasi 5% memiliki zona hambat sebesar 14,4 mm. Sabun padat ekstrak etanol 96% daun sirsak (Annona muricata L.) yang paling efektif untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus adalah pada formulasi ke-3 dengan konsentrasi 5%.
KAJIAN PERESEPAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN DEWASA DI PUSKESMAS TANAH KAMPUNG KOTA SUNGAI PENUH TAHUN 2020 Oliyen Madori; Rasmala Dewi; Medi Andriani
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.577

Abstract

Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang.Obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri yaitu antibiotika.Intensitas penggunaan antibiotika yang relatif tinggi dapat menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman bagi kesehatan terutama resistensi bakteri, resistensi ini bisa saja terjadi akibat ketidakrasionalan dalam peresepan antibiotika. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peresepan antibiotika pada pasien dewasa di Puskesmas Tanah Kampung Kota Sungai Penuh Tahun 2020 telah dilakukan secara tepat dan sesuai dengan standar yakni tepat dosis, frekuensi dan lama pemberian. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan data retrospektif.Pengambilan sampel dilakukan dari bulan April-Mei 2021.Data yang diambil adalah resep antibiotika pada pasien dewasa.Peresepan dikaji berdasarkan jenis kelamin, jenis antibiotika, antibiotika kombinasi, jenis penyakit, dosis, frekuensi dan lama pemberian. Hasil penelitian didapat sebanyak 295 pasien mendapatkan antibiotika, dengan 5 jenis antibiotika yang digunakan yaitu amoxicillin 73,90%, ciprofloxacin 20,68%, oxytetracyclin 2,37%, clindamycin 2,03%, dan chloramphenicol 1,02%. Pasien mendapatkan antibiotika kombinasi sebanyak 7 resep.Semua peresepan memenuhi ketepatan dosis dan frekuensi dan sebanyak 6 peresepan tidak memenuhi ketepatan lama pemberian.
EKSTRAK METANOLIK BIJI MAHONI (Swietenia mahagoni (L) Jacq) : POTENSI ANTI BAKTERI TERHADAP Shigella flexneri Sabtanti Harimurti; Muhammad Fuad; Hari Widada; Puguh Novi Arsito
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.619

Abstract

Penyakit infeksi bakteri merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi. Tingginya angka kejadian disentri basiler di Indonesia merupakan akibat dari infeksi bakteri genus Shigella. Salah satu tumbuhan yang sering digunakan sebagai bahan obat tradisional di Indonesia yaitu biji mahoni (Swietenia mahagoni (L) Jacq). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri ekstrak metanolik biji mahoni terhadap Shigella flexneri. Ekstraksi pada penelitian ini menggunakan metode maserasi. Ekstrak yang didapat dibuat empat variasi konsentrasi (20%, 40%, 60% dan 80%) yang digunakan sebagai sampel untuk pengujian aktivitas antibakteri. Pengujian aktivitas antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode difusi agar. Analisis kandungan senyawa alkaloid dan flavonoid yang diduga memiliki aktivitas antibakteri secara kualitatif menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukan bahwa ekstrak metanolik memiliki aktivitas antibakteri yang baik terhadap Shigella flexneri yang ditunjukkan dengan terdapatnya zona hambat berupa area bening pada biakan agar. Zona hambat pada konsentrasi ekstrak terendah 20% adalah 8,1 mm sampai konsenstrasi tertinggi 80% adalah 20,2 mm. Hasil uji analisis KLT menunjukan bahwa ekstrak metanolik biji mahoni memiliki kandungan senyawa alkaloid dengan ditunjukannya bercak berwarna coklat jingga pada sinar tampak setelah penambahan pereaksi Dragendorff dengan nilai Rf 0,77 dan flavonoid dengan bercak berwarna kuning pada sinar tampak setelah penambahan pereaksi Sitoborat dengan nilai Rf 0,48.
FORMULASI DAN EVALUASI KRIM EKSTRAK ETANOL BERAS MERAH (ORYZA NIVARA L.) Nadif Tuzairoh; Djati Wulan Kusumo; Elasari Dwi Pratiwi
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.563

Abstract

Antiaging adalah sediaan untuk menghambat proses degeneratif dan timbulnya tanda penuaan kulit. Beras merah (Oryza Nivara L.) memiliki kandungan antosianin yang bertindak sebagai antioksidan alami efektif untuk mencegah penuaan dini. Tujuan penelitian, untuk memformulasikan ekstrak beras merah dalam bentuk sediaan krim dengan variasi konsentrasi 2,5%, 5% dan 10% dan kemudian dilakukan evaluasi fisik krim yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, viskositas. Uji organoleptis (bau khas oleum rosae, tekstur semi padat, warna F0 putih, F1 putih sedikit kemerahan, F2 merah muda dan F3 merah muda matang), hasil homogenitas menunjukkan sediaan homogen. Hasil uji daya sebar pada F0 6,73±0,25; F1 6,93±0,12; F2 6,10±0,36; F3 6,53±0,50 menunjukkan bahwa F2 berbeda nyata dengan F1. Hasil uji pH pada F0 7,64±0,12; F1 7,23±0,03; F2 7,18±0,02; F3 7,22±0,01 menunjukkan F1, F2, F3 berbeda nyata dengan F0. Hasil uji viskositas pada F0 2760±91,65 cP; F1 2.747±23,09 cP; F2 2.853±50,33 cP; F3 2.880±87,18 Cp menunjukkan semua formula tidak ada yang berbeda nyata. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak beras merah dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan krim dan memenuhi persyaratan evaluasi karakteristik fisik krim. Dari analisis data uji daya sebar, pH, dan viskositas, formula terbaik adalah F1.
AKTIVITAS ANTIOBESITAS EKSTRAK ASETON TERATAI PUTIH (Nymphaea alba) pada TIKUS PUTIH GALUR WISTAR (Rattus norvegicus L) Mariam Ulfah; Teguh Adiyas Putra; Ade Irawan
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.606

Abstract

Penderita obesitas semakin lama semakin meningkat dan telah ditetapkan sebagai epidemic global. Teratai putih (Nymphaea alba) memiliki kegunaan dalam pengobatan tradisional misalnya antiinflamasi, analgesik dan perawatan gangguan syaraf. Ekstrak tumbuhan ini diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antikanker dan antibakteri. Senyawa metil galat yang merupakan komponen utama di dalam N. alba memiliki aktivitas penangkapan radikal bebas. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menentukan aktivitas antiobesitas dari ekstrak aseton daun teratai putih (N. alba) dan penentuan dosis optimum untuk aktivitas antiobesitasnya. Daun teratai putih diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut aseton. Kemudian, dilakukan pengujian antiobesitas terhadap ekstrak. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol positif (orlistat), kontrol negatif, dan dosis ekstrak (250, 500 dan 750 mg/Kg). Data diuji secara statistik dengan ANOVA. Penelitian menunjukan bahwa penurunan badan cukup signifikan pada tikus yang diberikan ekstrak teratai putih pada semua konsentrasi ekstrak. Semakin besar konsentrasi ekstrak, maka penurunan berat badan tikus semakin besar pula. Ekstrak dengan dosis 750 mg/Kg yang diberikan kepada tikus memberikan pengaruh penurunan berat badan yang paling tinggi dengan persentase penurunan berat badan sebesar 9,1%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dosis optimum ekstrak daun teratai putih untuk aktivitas antiobesitas tikus adalah sebesar 750 mg/Kg.
PENELUSURAN PEMANFAATAN DAN BIOAKTIVITAS TANAMAN MASOYI (Cryptocarya massoy): REVIEW Suci Cahya Ningsih; Hasyrul Hamzah
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.620

Abstract

Masoyi (Cryptocarya massoy (Oken) Kosterm) adalah tanaman berkayu endemic provinsi Papua, tanaman tersebut menghasilkan minyak atsiri dengan senyawa aktif dengan nama lactone. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pemanfaatan dan bioaktivitas dari tanaman masoyi. Penelitian ini menggunakan metode studi literature dari hasil penelitian terdahulu yang diklasifikasikan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Dengan kesimpulan tanaman Masoyi memiliki pemanfaatan yang sangat tinggi baik dalam segi Kesehatan sebagai pengobatan beberapa penyakit asma, batuk, cacingan, buang air besar, sakit punggung, dan demam. Tanaman masoyi memiliki kandungan massoialactone C-10 (5,6-dihidro-6-pentil-2H-piran-2-on) mencapai 65% dan C-12 (5,6-dihidro-6-heptil-2H-piran-2-on) sebanyak 17% dan memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antiinfeksi, antiinflamasi dan antibiofilm.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI KULIT ARI BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) DALAM FORMULASI SEDIAAN GEL Angga Saputra Yasir; Ade Maria Ulfa; Abdul Hamid Al Fikri
Jurnal Farmagazine Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v10i1.643

Abstract

Kulit ari (Silver skin) biji kopi merupakan bagian yang sering terbuang saat proses penggilingan biji kopi. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit ari biji kopi robusta dari Lampung Barat menjadi sediaan kosmetik gel antioksidan. Kulit ari biji kopi robusta (KAK) diperoleh dari limbah hasil penggilingan petani di Lampung Barat. KAK kemudian diekstraksi dengan pelarut etanol dan diskrining secara fitokimia. Ekstrak etanol KAK (eKAK) kemudian dievaluasi aktivitas antioksidannya dan diformulasikan dalam sediaan gel (GeKAK). GeKAK kemudian dievaluasi mutu dan sensori oleh panelist (uji hedonic). Hasil penelitian menunjukan bahwa rendemen KAK 2,37%, terdapat kandungan senyawa fenolik, dan tidak terdapat kandungan senyawa flavonoid. Uji Aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukan nilai IC50 eKAK dan kontrol positif (asam askorbat) berturut-turut 99.78 ppm dan 2.06 ppm. Berdasarkan nilai IC50 tersebut ektrak kulit ari biji kopi memiliki aktivitas antioksidan kuat karena memiliki nilai IC50<100, namun asam askorbat memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat dibandingkan eKAK (P < 0.05). Uji mutu Formula I, Formula II, dan Formula III GeKAK meliputi homogenitas, pH, dan kecepatan mengering menunjukkan semua formula memenuhi persyaratan mutu sediaan gel. Hasil uji hedonic menunjukkan ketiga formula disukai panelist (P > 0.05).
NANOEMULSI EKSTRAK DAUN PEPAYA SEBAGAI ANTIMALARIA: NARRATIVE REVIEW Deni Putri Utami; Susiati Nurjana; Lestari Widiastuti; Elmiawati Latifah
Jurnal Farmagazine Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v10i1.636

Abstract

Resistensi artemisinin berpotensi menghambat tatalaksana Malaria. Oleh karena itu, obat herbal kini berpeluang menjadi secondary treatment dalam kasus ini. Pengembangan obat tersebut perlu diinisiasi, hanya saja, studi pendahuluan dalam bentuk narrative review tentang obat ini masih terbatas. Metode narrative review ini menggunakan kriteria inklusi yaitu artikel dari jurnal Internasional yang terpublikasi dalam rentang waktu 2015 – 2020 dari Google Scholar, PubMed dan Semantic Scholar. Kata kunci yang digunakan adalah Antimalarial, Solvent Fractions, Papaya, Plasmodium; Nanoemulsion, Formulation, Oral Delivery; Antimalarial, Carica papaya, Plasmodium; Activity, Ethyl Acetate Fraction, Compared to Others, Plasmodium Falciparum. Hasil narrative review ini menunjukkan bahwa uji hambat parasitemia fraksi etil asetat ekstrak daun pepaya menunjukkan hasil positif sehingga dapat digunakan sebagai zat aktif antimalaria. Di samping itu, Tween 80, Solutol dan Poloxamer 188 dengan perbandingan 1:1:1 serta PEGylated phospholipid 0,25% juga dapat digunakan untuk formulasi nanoemulsi. Kesimpulannya adalah apabila ditemukan resistensi antimalaria pada pasien, nanoemulsi fraksi etil asetat ekstrak daun pepaya dapat digunakan sebagai alternatif antimalaria (P. falciparum).