cover
Contact Name
Ni Luh Putu Trisdyani
Contact Email
trisdyani@unhi.ac.id
Phone
+6281239751400
Journal Mail Official
widyanatya@unhi.ac.id
Editorial Address
Jl. Sanggalangit Tembau - Penatih - Denpasar 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
ISSN : 20888880     EISSN : 26565773     DOI : https://doi.org/10.32795/widyanatya.v2i01
Journal Widyanatya is an open access published by Education Society of Universitas Hindu Indonesia. The main objective of Widyanatya is to provide a platform for the regional, national, and international scholars, academicians and researchers to share the contemporary thoughts in the fields of religious and art. It is also aimed at promoting interdisciplinary studies in religious education and art, religious and art teaching. The journal publishes research papers in the all the fields of religious education and art, religious and art teaching such as: Paedagogy Contemporary education Religious education Arts education Traditional education Sociology of education Psychology of education Philosophy of education etc
Articles 135 Documents
GAMELAN SUNARENG BANJAR ADAT ANTA, DESA TANGLAD, KECAMATAN NUSA PENIDA, KABUPATEN KLUNGKUNG I Wayan Sukadana; Agus Ngurah Feryarta
WIDYANATYA Vol 4 No 2 (2022): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni 
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Gamelan Sunareng is believed by the people of Banjar Adat Anta, Tanglad Village, Nusa Penida District, Klungkung Regency to have magical powers and therefore is very sacred at Puseh Temple Banjar Adat Anta, Tanglad Village. The approach applied is qualitative. Based on the results of the study, it can be seen as follows: Instrumental forms include: two Tungguh Gangsa, Kendang, Ceng-ceng ricik, Tawa-tawa, and Kempul. Musicality includes: musical elements and Gending Structure. The process of performing the presentation of Gamelan Sunareng at Piodalan at Puseh Temple, namely: exercises, Mereresik activities, preparing facilities, offering facilities, ritual of nunas tirta, squeezing Gamelan, making offerings in circles, sprinkling water, presenting Gamelan Sunareng and Gandrung dance, and closing with prayers. ABSTRAK Gamelan Sunareng diyakini masyarakat Banjar Adat Anta, Desa Tanglad, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung memiliki kekuatan magis oleh karenannya sangat disakralkan di Pura Puseh Banjar Adat Anta, Desa Tanglad. Pendekatan yang diterapkan bersifat kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui sebagai berikut: bentuk Instrumental meliputi: dua Tungguh Gangsa, Kendang, Ceng-ceng ricik, Tawa-tawa, dan Kempul. Musikalitas meliputi: unsur-unsur musikal dan Struktur Gending. Proses pelaksanaan penyajian Gamelan Sunareng pada Piodalan di Pura Puseh yaitu: latihan, kegiatan Mereresik, mempersiapkan sarana, menghaturkan sarana, ritual nunas tirta, memeras Gamelan, menghaturkan sesaji di kalangan, memercikan tirta, penyajian Gamelan Sunareng dan tari Gandrung, dan ditutup dengan persembahyangan.
TRADISI UPACARA PERKAWINAN MASSAL DI DESA PENGOTAN, KABUPATEN BANGLI (PERSEPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU) Ni Made Surawati; I Nengah Artawan; A.A Ketut Raka
WIDYANATYA Vol 4 No 2 (2022): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni 
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Mass marriage in Pengotan Village is a sacred tradition that is always carried out when one of the bride and groom comes from the village. This article is focused on discussing the tradition of mass marriage in Pengotan Village from the perspective of Hindu religious education. The approach used is a qualitative method. The tradition of mass marriage in Pengotan Village is guided by three basic frameworks in religious teachings, namely tattwa (Philosophy), susila (Ethics) and acara (Ritual). ABSTRACT Perkawinan massal di Desa Pengotan merupakan tradisi sakral yang selalu dijalankan apabila salah satu dari mempelai berasal dari desa tersebut. Artikel ini difokuskan membahas tradisi perkawinan massal di Desa Pengotan dari perspektif pendidikan agama Hindu. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif. Tradisi perkawinan massal di Desa Pengotan berpedoman pada tiga kerangka dasar dalam ajaran agama, yaitu tattwa (Filsafat), Susila (Etika) dan acara (Ritual).
TRADISI MESBES BANGKE DARI BANJAR BURUAN,TAMPAK SIRING, GIANYAR, BALI Ida Ayu Putu Sari; I Made Yudabakti
WIDYANATYA Vol 4 No 2 (2022): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni 
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Hinduism is one of the majority beliefs held by the people in Bali. Hinduism is a religion that has the oldest age and is the religion that was first recognized by humans. Hinduism originated in India, this religion is a contest between the religions of the Aryans and the Dravidians. The Aryans who came from Asia Tengah succeeded in urging the native Indians of the Dravina. There was an assimilation between the Aryans and the Dravidians which in turn gaverise to a generation called the Hinduism. The word Hindu comes from the word Sindhu which means river. Thisword refers to the Indus river which is a source of water for the life around it. Sources of Hindu teachings are found in the Veda scriptures (consisting of four books), Brahmans (an interpretations of the Veda), and Upanisads (containing the philosophical foundations of the relationship between human and God). Bali has many traditions. Tradition is a form of action that is repeated in the same way. The word "tradition" is taken from the Latin "Tradere" which means to transmit from generation to generation to be preserved. Tradition is generally known as a form of habit that has a series of ancient historical events. Each tradition was developed for some purpose, such as political goals or cultural goals over a period of time. In Bali, there is a very strong tradition, oneof which is the tradition in Banjar Buruan, Tampak Siring, Gianyar Bali, namely "Mesbes Bangke" whose tradition is quite extreme to do. The tradition of Mesbes Bangke Bali is not carried out all the time before the Ngaben ceremonyand this custom is only carried out on corpses who undergo a personal Ngabenceremony. ABSTRAK Agama Hindu merupakan salah satu kepercayaan mayoritas yang dianut oleh masyarakat di Bali. Agama Hindu merupakan agama yang memiliki usia paling tua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu berasal dari India, agama ini merupakan gabungan antara bangsa Arya dan Dravida. Bangsa Arya yang datang dari Asia Tengah berhasil mendesak orang India asli Dravina. Ada asimilasi antara Arya dan Dravida yang pada gilirannya memunculkan generasi yang disebut Hindu. Kata Hindu berasal dari kata Sindhu yang berarti sungai. Kata ini merujuk pada sungai Indus yang merupakan sumber air bagi kehidupan di sekitarnya. Sumber ajaran Hindu ditemukan dalam kitab suci Weda (terdiri dari empat kitab), Brahman (sebuah interpretasi dari Weda), dan Upanisad (berisi landasan filosofis hubungan antara manusia dan Tuhan). Bali memiliki banyak tradisi. Tradisi adalah suatu bentuk tindakan yang diulang- ulang dengan cara yang sama. Kata “tradisi” diambil dari bahasa latin “Tradere” yang berarti mewariskan dari generasi ke generasi untuk dilestarikan. Tradisi secara umum dikenal sebagai suatu bentuk kebiasaan yang memiliki rangkaian peristiwa sejarah purbakala. Setiap tradisi dikembangkan untuk beberapa tujuan, seperti tujuan politik atau tujuan budaya selama periode waktu tertentu. Di Bali terdapat tradisi yang sangat kental salah satunya adalah tradisi di Banjar Buruan,Tampak Siring, Gianyar Bali yaitu “Mesbes Bangke” yang tradisinya cukup ekstrim untuk dilakukan. Tradisi Mesbes Bangke Bali tidak dilakukan setiap saat sebelum upacara Ngaben dan adat ini hanya dilakukan pada jenazah yang menjalani upacara ngaben pribadi
TEOLOGI LOKAL PADA PURA BEBATURAN DI DESA TINGGARSARI KECAMATAN BUSUNGBIU KABUPATEN BULELENG PERSEFEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU Komang Agus Triadi Kiswara
WIDYANATYA Vol 4 No 2 (2022): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni 
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Hinduism is a religion that has quite complex teachings, the essence of Hinduism is contained in the Three Frameworks of Hinduism, namely Tattwa (philosophy) Susila (ethics) Upakara (Ritual). As a medium for internalizing the three teachings of Hinduism, there is a temple which also functions as a medium for worshiping God (Ida Sang Haynag Widhi Wasa). Besides that, the existence of the temple itself has a historical value that is quite important for the development of human civilization. This is marked by the influence of the development of the temple which cannot be separated from the development of culture. One form of temple that has its own uniqueness is the temple with the bebaturan concept where the temple with the bebaturan concept has a significant difference from the shape of the temple in general. We can see this difference from the gods who are worshiped still with local names, the concept of trimadala which does not follow the concept of trimandala in general temples in Bali, and the concept of pelinggih order which still uses natural stone with minimal ornamentation. The estuary of all these differences is the theology that is carried on the concept of the Batura Temple. This is what underlies researchers to be able to examine how Hindu theology is at the Bebaturan temple in Tinggarsari Village, Busungbiu District, Buleleng Regency. ABSTRAK Agama Hindu merupakan agama yang memiliki ajaran cukup komples, inti sari agama Hindu tertuang dalam Tiga Kerangka Agama Hindu yaitu Tattwa (filsafat) Susila (etika) Upakara ( Ritual). Sebagai media internalisasi ketiga ajaran agama Hindu ini adalah dengan adanya pura yang juga berfungsi sebagai media pemujaan terhadap Tuhan (Ida Sang Haynag Widhi Wasa). Disamping itu keberadaan pura sendiri memiliki nilai histori yang cukup peenting terhadap perkembangan peradaban manusia., hal ini ditandai dengan pengaruh perkembangan pura yang tidak lepas dari perkembangan kebudayaan. Salah satu bentuk pura yang memiliki keunikan sendiri adalah pura dengan konsep bebaturan dimana pura dengan konsep bebaturan ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari bentuk pura pada umumnya. Perbedaan ini dapat kita lihat dari Dewa-dewa yang dipuja masih dengan nama local, konsep trimadala yang tidak mengikuti konsep trimandala pada umunya pura yang ada di Bali, serta konsep tatanan pelinggih yang masih menggunakan Batu alami dengan minim ornament. Muara dari semua perbedaan tersebut adalah teologi yang di usung pada konsep pura bebatura tersebut. Hal inilah yang melandasi peneliti untuk dapat mengkaji bagaimana teologi Hindu pada pura bebaturan yang ada didesa Tinggarsari Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng tersebut.
AKTIVITAS RITUAL SEBAGAI MEDIA MEMBANGUN RELASI SOSIOLOGIS i gusti ketut widana; i ketut winantra; I Putu Diantra; I Gde Widya Suksma; Ni Wayan Sadri
WIDYANATYA Vol 5 No 1 (2023): WIDYANATYA: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA DAN SENI
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bagi umat Hindu pelaksanaan aktivitas ritual, tidak semata-mata dilandasi oleh konsep teologi, filosofi dan mitologi, tetapi didasari juga oleh dorongan psikologi dan sosiologi. Landasan teologi dan filosofi membuat umat Hindu begitu tunduk dan taat atas kuasa dan ajaran Tuhan. Landasan mitologi menjadikan umat Hindu merasa takut jika melanggar ketentuan Tuhan. Sedangkan landasan psikologi mendorong umat Hindu dapat merasakan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan. Sementara itu melalui landasan sosiologi mengarahkan umat Hindu agar senantiasa membangun dan menjalin relasi sosial, oleh sebab tidak ada ritual apapun yang dapat dilaksanakan tanpa solidaritas sosial. Artikel ini hendak mengungkap bahwa terdapat hubungan erat antara aktivitas ritual dengan upaya membangun relasi sosial di tengah kehidupan masyarakat Hindu berbasis tradisional yang bersifat komunal dan kolegial. Kata kunci : ritual, media, sosial Abstract For Hindus, the implementation of ritual activities is not solely based on theological, philosophical and mythological concepts, but also based on psychological and sociological motivations. Theological and philosophical foundations make Hindus so submissive and obedient to God's power and teachings. The basis of mythology makes Hindus feel afraid if they violate God's provisions. While the psychological basis encourages Hindus to feel calm, peaceful and happy. Meanwhile, through a sociological basis directing Hindus to always build and establish social relations, because there is no ritual that can be carried out without social solidarity. This article wants to reveal that there is a close relationship between ritual activities and efforts to build social relations in the midst of communal and collegial Hindu community life. Keywords : Ritual, Media, sosial
KEBERADAAN PASRAMAN FORMAL DI KOTA DENPASAR Komang Agus Triadi Kiswara; Ni Wayan Yuni Astuti; I Made Yudabakti; I Ketut Sukrawa; I Wayan Sudiarsa
WIDYANATYA Vol 5 No 1 (2023): WIDYANATYA: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA DAN SENI
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Aktualisasi dari amanat undang –undang pendidikan nasional adalah dengan terselenggaranya pembelajaran Pendidikan Agama dalam tiap jenjang pendidikan formal. Demikian halnya dengan pendidikan Agama Hindu tujuan pendidikan agama Hindu sendiri adalah untuk meningkatkan Sradha dan Bhakti kehadapan Ida sang Hyang widhi wasa. Namun demikian dalam peleksanaanya masih terdapat hal-hal yang menyebabkan proses pendidikan Agama Hindu Belum berjalan sesuai dengan harapan. Maka untuk menjawab tantangan tersebut maka peran serta masyarakat dalam menciptakan pembelajaran masih sangat diperlukan. Hal ini diaktualisasikan melalui pembelajaran yang disebut dengan pesraman. Tentu penyelengaraan pasraman ini dipayungi oleh dasar yuridis yaitu peraturan menteri Agama No 56 Tahun 2014 tentang pendidikan keagamaan. Hal ini bertujuan untuk membuka peran serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan Hindu bagi peserta didik. Ditengah gencarnya keinginan pemerintah untuk dapat menyelenggarakan pendidikan berbasiskan Pasraman sampai dengan saat ini masih minim ditemukan pasraman formal Desa adat di Bali, salah satunya adalah di kota Denpasar. Kata kunci : Keberadaan, Pasraman formal, Desa Adat Abstract The actualization of the mandate of the national education law is the implementation of Religious Education learning at every level of formal education. Likewise with Hindu religious education the purpose of Hindu religious education itself is to increase Sradha and Bhakti in the presence of Ida Sang Hyang Widhi Wasa. However, in its implementation there are still things that cause the process of Hinduism education not to run as expected. So to answer these challenges, community participation in creating learning is still very much needed. This is actualized through learning which is called boarding school. Of course, the organization of this pasraman is under the umbrella of a juridical basis, namely the regulation of the Minister of Religion No. 56 of 2014 concerning religious education. This aims to open up community participation in improving the quality of Hindu religious education for students. In the midst of the government's incessant desire to be able to organize Pasraman-based education, up to now there is still very little formal Pasraman in traditional villages in Bali, one of which is in the city of Denpasar. Keywords: Existence, formal Pasraman, Traditional Village
Upacara Ngubeng Di Kota Denpasar (Strategi Adaptif Pelaksanaan Upacara Agama Hindu Dalam Mencegah Penyebaran Virus Covid 19 Cluster Religi) Ida Ayu Putu Sari; Ida Bagus Purwa Sidemen; Ni Made Surawati; I Nengah Artawan
WIDYANATYA Vol 5 No 1 (2023): WIDYANATYA: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA DAN SENI
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penyebaran virus covid 19 saat ini memberikan pengruh kepada semua sector. Demikian juga pada sector kehiduan beragama (Religi) Salah satunya adalah diamana dengan pembatasan jumlah peserta persembahyangan. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi masayarakat beragama Hindu yang mayoritas di Provinsi Bali. Kebersamaan dalam Hindu sudah meruakan akar dalam kegiatan keberagamaan hal ini merupakan implikasi dari bentuk social kemasyarakatan dan juga tradisi yang telah lahir dari bangsa Indonesia. Oleh sebab itu maka pemerintah daerah provinsi Bali bersama jajarannya memberikan himbauan pelaksanaan upacara melalui ngubeng yaitu elaksanaan upacara di tempat. Hal inilah yang diterapkan oleh masyarakat di Kota Denpasar. Hampir semua kegiatan yang berifat ceremony dilaksanakan dengan upacara ngubeng sehingga menunjukan hal positif dalam mencegah penyebaran virus corona. Namun demikian nampaknya apa yang dilaksanakan di Kota Denpasar masih belum bisa diikuti oleh wilayah lain di Provinsi Bali. Sehingga hal ini penting menjadi kajian dengan harapan daat menjadikan pegangan bagi masyarakat beragama Hindu untuk dapat melaksanakan Upacara Ngubeng. Kata Kunci : Upacara ngubeng, strategi adatif. Abstract The spread of the Covid 19 virus is currently affecting all sectors. Likewise in the sector of religious life (Religion), one of which is where the number of prayer participants is limited. This is certainly a challenge for the majority Hindu community in the Province of Bali. Togetherness in Hinduism has roots in religious activities, this is an implication of social forms and also traditions that have been born from the Indonesian people. Therefore, the regional government of the province of Bali and its staff gave an appeal for the implementation of the ceremony through ngubeng, namely the implementation of the ceremony on the spot. This is what is applied by the people in the city of Denpasar. Almost all ceremonial activities are carried out with the ngubeng ceremony so that it shows positive things in preventing the spread of the corona virus. However, it seems that what has been implemented in the city of Denpasar cannot be followed by other regions in the Province of Bali. So this is important to be studied in the hope that it can become a guide for Hindu religious communities to be able to carry out the Ngubeng Ceremony. Keywords: Ngubeng ceremony, adaptive strategy.
AKTUALISASI KONSEP PENDIDIKAN KIHAJAR DEWANTORO PADA TARI REJANG LILIT DI DESA TINGGASARI KECAMATAN BUSUNGBIU KABUPATEN BULELENG (Persefekif Seni Tari Keagamaan Hindu) Ni Nyoman Wahyu Adi Gotama; A A Dwi Dirgantini; I Gusti Ayu Ngurah; Komang Agus Triadi Kiswara
WIDYANATYA Vol 5 No 1 (2023): WIDYANATYA: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA DAN SENI
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Agama Hindu dan kesenain merupakan dua hal yang tak dapat dipisah terutama di Bali. Kehadiran pelaksanaan upacara agama senantiasa memberikan ruang terhadpa kesenian di Bali terutama senitari. Shingga dalam bentuk pementasan dikennal dengan jenis kesenian yaitu Tari wali, Tari Bebali, dan Balih-balihan. Pementasan seni tari senan tiasa memakai konsep. Salah satu konsep yang unik yaitu dimana terdapat aktualisasi nilai-nilai pendidikan Ki haar dewantoro. Nilai-nilai pendidikan ki Hajar Dewantoro dibangun dari mrwah nilai-nilai yang bersumber pada Bangsa iNdonesia. Nilai-nilai pendidikan yang beliau sapaikan tertuang dala semboyaan Ing arso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut wuri Handayani. Ketiga konsep pendidikan yang beliau sampaikan tentunya tidak berlangsung hanya dalam proses pembelajaran namun juga dlam berbagai dimensi salah satunya tertuang dalam seni tari rejang lilit yang dipentaskan dlam upacara di desa Tinggarsari Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng. Kata Kunci : Pendidikan Ki Hajr dewantoro, Tari, Rejang Lilit. Abstract Hinduism and art are two things that cannot be separated, especially in Bali. The presence of religious ceremonies always provides space for art in Bali, especially dance. So that in the form of staging it is known as the type of art, namely Wali Dance, Bebali Dance, and Balih-balihan. Art performances of Senan dance always use concepts. One of the unique concepts is where there is the actualization of Ki Haar Dewantoro's educational values. Ki Hajar Dewantoro's educational values ??were built from the spirit of values ??originating from the Indonesian nation. The educational values ??he conveyed are contained in the motto Ing arso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso and Tut wuri Handayani. The three educational concepts that he conveyed certainly did not only take place in the learning process but also in various dimensions, one of which was contained in the art of Rejang Lilit dance which was staged in a ceremony in Tinggarsari Village, Busungbiu District, Buleleng Regency. Keywords: Ki Hajr Dewantoro Education, Dance, Rejang Lilit.
NANGIANG KERTHANING BHUMI FRAGMENTARI INOVASI MAHA KARYA SANGGAR SENI PANCER LANGIT Anak Agung Gede Agung Rahma Putra
WIDYANATYA Vol 5 No 1 (2023): WIDYANATYA: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA DAN SENI
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Nangiang Kerthaning Bhumi yang diambil dari bahasa bali yang memiliki arti membangkitkan kembali kesejahteraan dunia. Merupakan sebuah karya inovasi baru persembahan Sanggar Seni Pancer Langiit dalam rangka Pelantikan Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Badung. Bentuk penyajian karya ini berbentuk Fragmentari Inovasi yang berkolaborasi langsung dengan anak-anak dari Sanggar Seni pancer langiit. Hasil analisis data menunjukkan dalam karya ini yang digagas bersama beberapa tim dari Sanggar Seni Pancer Langiit guna mempermudah jalannya proses penciptaan karya tari dengan mencoba menggabungkan aspek-aspek koreografi modern dan tradisi yang dirangkum dalam sebuah fragmentari kolosal dengan strutur 5 babak. Berawal dari fenomena yang sedang melanda bumi kita saat ini yakni Pandemi Covid-19 merupakan cerminan dari latar belakang terciptanya fragmentari ini. Penelitian ini membahas suatu karya tari oleh Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M. Sn pada tahun 2022. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan bentuk sajian dan penciptaan Tari Nangiang Kerthaning Bhumi yang menunjukkan konsep yang digagas dituangkan kedalam sebuah sajian karya inovasi yang berbentuk fragmen. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan sifat data kualitatif dan pendekatan koreografi. Sedangkan metode penciptaan yang digunakan dalam proses kreatif karya tari yakni “langon” . (Lontar Purwadhigama, 2003:24- 40). Kata Kunci : Fragmentari, Nangiang Kerthaning Bhumi, Inovasi Abstract Nangiang Kerthaning Bhumi is taken from the Balinese language which means to revive world welfare. This is a new innovative work presented by the Pancer Langiit Art Studio in the framework of the Inauguration of the Branch Management Body (BPC) of the Indonesian Young Entrepreneurs Association (HIPMI) in Badung Regency. The form of presentation of this work is in the form of Fragmentary Innovation which collaborates directly with children from the Pancer Langit Art Studio. The results of the data analysis show that this work was initiated with several teams from the Pancer Langiit Art Studio to facilitate the process of creating dance works by trying to combine aspects of modern and traditional choreography which are summarized in a colossal fragmentary structure with 5 acts. Starting from the phenomenon that is currently hitting our earth, namely the Covid-19 Pandemic, is a reflection of the background for the creation of this fragmentary. This study discusses a dance work by Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn in 2022. This research is intended to describe the form of performance and the creation of the Nangiang Kerthaning Bhumi Dance which shows the concept initiated is poured into an innovative presentation in the form of fragments. The research method used is descriptive analysis with the nature of qualitative data and a choreographic approach. While the creation method used in the creative process of dance works is "langon". (Lontar Purwadhigama, 2003:24-40). Keywords: Fragmentary, Nangiang Kerthaning Bhumi, Innovation
BENTUK, FUNGSI DAN NILAI PADA PATUNG MOBIL DI PURA PALUANG, DESA BUNGA MEKAR, NUSA PENIDA I Wayan Aris susila; I Ketut Gede Rudita; I Made Wicakrama
WIDYANATYA Vol 5 No 1 (2023): WIDYANATYA: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA DAN SENI
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Patung mobil merupakan patung sakral yang berada di Pura Paluang Desa Bunga Mekar, Nusa Penida. Patung ini memiliki keunikan yakni sebagai simbol Pura Paluang dan sebagai rasa bakti kepada Ratu Gede Sakti Hyang Mami. Setiap masyarakat yang ingin bersembahyang di Pura Paluang, bertujuan untuk memohon keselamatan, kesehatan dan kesuburan ladang pertanian. Berdasarkan hal tersebut adapun permasalahan yang diajukan yaitu: Bagaimana bentuk, fungsi serta nilai-nilai pendidikan seni rupa yang terkandung pada patung mobil di Pura Paluang Desa Bunga Mekar, Nusa Penida. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode kualitatif melalui langkah-langkah reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori estetika dan teori nilai. Hasilnya berupa: (1) Bentuk patung mobil di Pura Paluang adalah bentuk patung menyerupai roda empat berupa mobil jimmy dan pw kodok, sebagai wahana kendaraan Ratu Gede Sakti Hyang Mami. Dengan di isi hiasan ornamen tradisional Bali yang diterapkan pada bebaturan patung mobil, berupa hisan keketusan, pepatran dan kekarangan. (2) Fungsi patung mobil di Pura Paluang Desa Bunga Mekar, Nusa Penida dapat dibagi menjadi tiga bagian antara lain: Fungsi patung mobil sebagai objek kronogram, sebagai objek persembahan dan fungsi patung mobil sebagai benda seni. (3) Nilai-nilai pendidikan seni rupa pada patung mobil di Pura Paluang Desa Bunga Mekar Nusa Penida mengacu pada konsep Estetika Hindu antara lain: Nilai pendidikan kesucian (shiwam), nilai Pendidikan kebenaran (Satyam) dan nilai pendidikan keindahan (sundaram). Kata kunci : Bentuk, Fungsi, Nilai, Patung Mobil di Pura Paluang. ABSTRACT The car statue is a sacred statue in Paluang Temple, Bunga Mekar Village, Nusa Penida. This statue is unique, namely as a symbol of Paluang Temple and as a sense of devotion to Queen Gede Sakti Hyang Mami. Everyone who wants to pray at Paluang Temple, aims to ask for safety, health and fertility of agricultural fields. Based on this, the problems posed are: What are the forms, functions and values ??of art education contained in the car statue at Paluang Temple, Bunga Mekar Village, Nusa Penida. This research uses observation, interview, literature and documentation methods. The collected data were analyzed using qualitative methods through reduction steps, data presentation and drawing conclusions. This research uses aesthetic theory and value theory. The results are: (1) The shape of the car statue at Paluang Temple is a statue resembling four wheels in the form of a Jimmy car and a frog, as a vehicle for Ratu Gede Sakti Hyang Mami's vehicle. Filled with traditional Balinese ornaments applied to the car sculptures, in the form of keketus, pepatran and artistry. (2) The function of the car statue at Paluang Temple, Bunga Mekar Village, Nusa Penida can be divided into three parts, namely: The function of the car statue as a chronogram object, as an offering object and the function of the car statue as an art object. (3) The values ??of art education in the car statue at Paluang Temple, Bunga Mekar Village, Nusa Penida refer to the concept of Hindu Aesthetics, including: The educational value of chastity (shiwam), the educational value of truth (Satyam) and the educational value of beauty (sundaram). Keyword : form, function, value, car statue at paluang temple

Page 8 of 14 | Total Record : 135