cover
Contact Name
Hamid Mukhlis
Contact Email
jiberdaya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jiberdaya@gmail.com
Editorial Address
Lucky Arya Residence 2 No 18 RT/RW 003/001 Fajar Agung Barat Kecamatan Pringsewu
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Indonesia Berdaya
Published by Utan Kayu Institute
ISSN : 27163822     EISSN : 27210669     DOI : https://doi.org/10.47679/ib
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of community services. Indonesia Berdaya particularly focuses on the main problems in the development of the sciences of community services areas as follows: - Community Services, People and Health; - Training, Marketing, Appropriate Technology, Design; - Community Empowerment, Social Access; - Student Community Services; - Border Region, Less Developed Region; - Education for Sustainable Development.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "vol. 7 no. 4 (2026)" : 20 Documents clear
Edukasi Pemanfaatan Tanaman Herbal untuk Mengatasi GERD di Desa Sungai Tandipah RT 3 Kabupaten Banjar: Education on the Use of Herbal Plants to Treat GERD in Sungai Tandipah Village, RT 3, Banjar Regency Ali Rakhman Hakim; Anggia Puteri; Bamikha Priskila Natantri; Chairunnisa Rizky Hani; Putri Nadila Utami
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261554

Abstract

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan pencernaan kronis yang ditandai oleh aliran balik asam lambung ke esofagus, yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai GERD menjadi salah satu faktor yang memengaruhi upaya pencegahan dan penanganan penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kegiatan edukasi kesehatan mengenai GERD. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui kegiatan edukasi kesehatan mengenai GERD. Metode: Metode yang digunakan berupa sosialisasi dan diskusi interaktif yang didukung dengan media brosur dan presentasi PowerPoint. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 54,28 yang meningkat menjadi 92,14 pada post-test. Seluruh peserta (100%) mengalami peningkatan pengetahuan setelah memperoleh edukasi kesehatan. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan melalui presentasi langsung, brosur, dan diskusi interaktif efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai GERD. Kesimpulan: Edukasi kesehatan terbukti mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai GERD. Dengan meningkatnya pengetahuan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menerapkannya dalam upaya promotif dan preventif terhadap penyakit GERD. Abstract: Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a chronic digestive disorder characterized by the backflow of stomach acid into the esophagus, which can reduce patients' quality of life. Low public awareness of GERD is a factor affecting prevention and treatment efforts. This study aims to increase public awareness through health education activities about GERD. Objective: This research aims to increase public knowledge through health education activities about GERD. Methods: The methods used were socialization and interactive discussions supported by brochures and PowerPoint presentations. Evaluation was conducted using pre- and post-tests to measure knowledge levels before and after the intervention. Results: The study showed a significant increase in knowledge, with an average pre-test score of 54.28, which increased to 92.14 in the post-test. All participants (100%) experienced an increase in knowledge after receiving health education. These findings indicate that health education through live presentations, brochures, and interactive discussions is effective in increasing public understanding of GERD. Conclusion: Health education has been proven to increase public knowledge about GERD, so it is hoped that the public can apply this knowledge in promotional and preventive efforts against this disease.
Sosialisasi Sistem Informasi Manajemen Proyek CV. Galaxy Kolaborasi dengan Gapensi Kabupaten Trenggalek: Dissemination of the Project Management Information System at CV. Galaxy in Collaboration with GAPENSI Trenggalek Regency Fajar Annas Susanto; Tri Deviasari Wulan; Rizki Amalia Elfita; Mochammad Bakhri Ilmi Kurniawan; Maula Nahdliyah Muchlis; Moch. Azizi Alfarizki; Muhammad Izzul Haq
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261599

Abstract

Sebagian besar pelaku usaha jasa konstruksi anggota GAPENSI Kabupaten Trenggalek masih mengelola proyek secara manual, sehingga rentan mengalami miskomunikasi dan keterlambatan pelaporan. Sebagai solusi, tim pengabdian masyarakat mengimplementasikan Sistem Informasi Manajemen Proyek (SIMP) di CV. Galaxy. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan kolaborasi GAPENSI Kabupaten Trenggalek yang melibatkan 13 peserta yang mengikuti tahapan persiapan pemaparan system dan dilanjutkan demonstrasi system yang diimplementasikan di CV. Galaxy. Kemudian pada tahap akhir sosialisasi dilakukan evaluasi kepada peserta kegiatan melalui kuesioner posttest. Hasil evaluasi menunjukkan skor rata-rata pemahaman dan kepuasan peserta sebesar 4,45 dari 5 (kategori Sangat Baik). Peserta memberikan apresiasi tinggi terhadap kepraktisan sistem digital dibanding cara manual serta menunjukkan minat untuk mengadopsi sistem serupa. Kegiatan ini berhasil menjadi langkah awal yang positif dalam mendorong digitalisasi manajemen proyek di CV. Galaxy dan anggota GAPENSI Kabupaten Trenggalek. Abstract: Most construction service businesses affiliated with GAPENSI Trenggalek Regency still manage their projects manually, making them vulnerable to miscommunication and delays in project reporting. As a solution, the community service team implemented a Project Management Information System (PMIS) at CV. Galaxy. The dissemination activity was conducted in collaboration with GAPENSI Trenggalek Regency and involved 13 participants. The activity consisted of a preparation stage, a presentation of the system, and a demonstration of the system implemented at CV. Galaxy. At the final stage, participants were evaluated using a post-test questionnaire. The evaluation results showed an average participant comprehension and satisfaction score of 4.45 out of 5, categorized as Very Good. Participants highly appreciated the practicality of the digital system compared with conventional manual methods and demonstrated an interest in adopting a similar system. This activity successfully served as a positive initial step toward promoting the digitalization of project management at CV. Galaxy and among GAPENSI members in Trenggalek Regency.
Penguatan Branding dan Promosi Digital untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM di Desa Kragan, Sidoarjo: Strengthening Branding and Digital Promotion to Enhance the Competitiveness of MSMEs in Kragan Village, Sidoarjo Mukhtar Adinugroho; Firman Yudianto; Niken Savitri Primasari; Nuzulul Fatimah; Teguh Herlambang; Niquita Febiana Putri; M. Safir Mahirul As'ad Effensi; Frischa Amelia Firsanda; Ahmad Aditya Rizki Rafa
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261600

Abstract

UMKM memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat, khususnya dalam menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan lokal. Namun, sebagian besar UMKM masih menghadapi tantangan dalam membangun identitas merek, mengembangkan strategi pemasaran, dan memanfaatkan teknologi digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat branding dan promosi digital UMKM di Desa Kragan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan mitra secara aktif melalui tahapan identifikasi kebutuhan, sosialisasi, pelatihan, praktik penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Program difokuskan pada peningkatan kemampuan pelaku UMKM dalam membangun brand identity, membuat desain kemasan, menghasilkan konten promosi digital, serta memanfaatkan media sosial dan marketplace. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman mitra mengenai pentingnya branding, peningkatan kemampuan membuat konten promosi, serta meningkatnya kesiapan UMKM dalam melakukan pemasaran berbasis digital. Program ini memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal melalui transformasi digital UMKM yang berkelanjutan. Abstract: Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a vital role in promoting economic development, particularly by creating employment opportunities and improving local community welfare. However, many MSMEs continue to face challenges in establishing strong brand identities, developing effective marketing strategies, and utilizing digital technologies. This community service program aimed to strengthen the branding and digital promotion capabilities of MSMEs in Kragan Village, Gedangan District, Sidoarjo Regency. The program employed a participatory approach that actively engaged community partners through several stages, including needs assessment, socialization, training, technology implementation, mentoring, and evaluation. The activities focused on enhancing MSME owners' capabilities in developing brand identity, designing product packaging, creating digital promotional content, and utilizing social media and online marketplaces as marketing platforms. The results demonstrated a significant improvement in participants’ understanding of the importance of branding, enhanced skills in producing promotional content, and greater readiness to implement digital marketing strategies. Overall, the program contributed to strengthening the local economy by supporting the sustainable digital transformation of MSMEs.
Implementasi Prinsip “The Best Interest of the Child” dalam Perlindungan Hukum terhadap Anak di Ruang Siber Berdasarkan Konvensi Hak Anak 1989: Implementation of the Principle of “The Best Interests of the Child” in the Legal Protection of Children in Cyberspace under the 1989 Convention on the Rights of the Child Vallencia Nandya Paramitha; Fathul Hamdani; Sri Sukmana Damayanti
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261606

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis implementasi prinsip the best interests of the child dalam perlindungan hukum terhadap anak di ruang siber berdasarkan Konvensi Hak Anak 1989. Prinsip tersebut merupakan prinsip fundamental dalam hukum internasional yang menegaskan bahwa setiap tindakan yang berkaitan dengan anak, baik oleh negara, lembaga publik, maupun institusi lainnya, harus mengutamakan kepentingan terbaik anak. Penulisan ini menggunakan pendekatan normatif dengan mengkaji instrument hukum internasional, khususnya Konvensi Hak Anak 1989, serta peraturan perundang-undangan yang berkaiatan dengan perlindungan anak di ruang siber. Fokus kajian dalam penulisan ini adalah: Pertama, Pengaturan prinsip The Best Interest of the Child dalam Konvensi Hak Anak 1989 sebagai dasar perlindungan hukum terhadap anak di ruang siber; Kedua, Implementasi prinsip tersebut dalam kebijakan serta pengaturan hukum nasional di Indonesia. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Konvensi Hak Anak 1989 telah menyediakan kerangka hukum yang komprehensif terkait pemenuhan ahak anak, termasuk perlindungan dari risiko eksploitasi digital. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pengaturan hukum nasional dan integrasi yang konsisten terhadap prinsip the best interests of the child dalam seluruh pengaturan perlindungan anak di ruang siber agar bisa harmonis dengan standar internasional serta mampu menjawab kompleksitas ancaman digitak yang terus berkembang. Abstract: This paper aims to analyze the implementation of the principle of the best interests of the child in the legal protection of children in cyberspace under the 1989 Convention on the Rights of the Child. This principle constitutes a fundamental principle of international law, emphasizing that every action concerning children, whether undertaken by the state, public bodies, or other institutions, must prioritize the best interests of the child. This study employs a normative legal approach by examining international legal instruments, particularly the 1989 Convention on the Rights of the Child, as well as national laws and regulations concerning the protection of children in cyberspace. The study focuses on two main issues: first, the regulation of the principle of the best interests of the child under the 1989 Convention on the Rights of the Child as the legal basis for protecting children in cyberspace; and second, the implementation of this principle in Indonesia’s national policies and legal framework. The findings indicate that the 1989 Convention on the Rights of the Child provides a comprehensive legal framework for the fulfillment of children’s rights, including protection against the risks of digital exploitation. Therefore, it is necessary to strengthen national legal regulations and consistently integrate the principle of the best interests of the child into all legal frameworks concerning child protection in cyberspace in order to ensure harmonization with international standards and to effectively address the increasingly complex and evolving threats in the digital environment.
Status Hukum Saham sebagai Objek Wasiat Wajibah: Konsekuensi Yuridis terhadap Pencatatan pada Daftar Pemegang Saham (DPS) Sri Sukmana Damayanti; Siti Marwiyah; Vallencia Nandya Paramitha; Moch. Bakhrul Ilmi
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261610

Abstract

Evolusi instrumen kekayaan dalam lanskap ekonomi global telah menggeser paradigma kepemilikan harta dari aset material berwujud menjadi aset finansial tak berwujud seperti saham perseroan. Pergeseran ini secara inheren menghadirkan kompleksitas baru dalam diskursus hukum kewarisan Islam dan hukum keperdataan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif kedudukan hukum saham sebagai objek wasiat wajibah serta menganalisis secara mendalam konsekuensi yuridis dari peralihan hak atas saham tersebut terhadap kewajiban mutlak pencatatan pada Daftar Pemegang Saham (DPS). Melalui metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, analisis difokuskan pada benturan fundamental antara asas saisine yang dianut dalam hukum waris perdata maupun hukum Islam dengan asas publisitas dan pendaftaran konstitutif yang ditegakkan oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Hasil analisis membuktikan bahwa saham merupakan benda bergerak tak berwujud yang secara syariat maupun perdata sah menjadi objek wasiat wajibah, sejalan dengan manifestasi asas maqāṣid al-sharī'a dan doktrin istiḥsān guna memberikan pelindungan proporsional kepada ahli waris rentan dengan batas pembagian maksimal sepertiga dari total nilai harta peninggalan. Namun demikian, dalam tata kelola korporasi, eksekusi pemenuhan hak-hak kebendaan dan hak suara pemegang saham baru tidak dapat diejawantahkan sebelum dicatatkan secara resmi dalam DPS. Mengacu pada konstruksi yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 2845 K/Pdt/2017, kelalaian sengaja dari organ Direksi dalam mencatatkan peralihan saham karena hukum pewarisan atau wasiat wajibah dikualifikasikan sebagai perbuatan melawan hukum dan pelanggaran asas fiduciary duty, yang secara langsung melahirkan tanggung jawab renteng bagi Direksi.
Penguatan Kesiapan Karier Siswa SMK Ketintang Surabaya Melalui Pelatihan Strategic Thinking dan Adaptasi Dunia Kerja: Strengthening Career Readiness among Students at SMK Ketintang Surabaya through Strategic Thinking and Workplace Adaptation Training Mohamad Yusak Anshori; Reizano Amri Rasyid; Azmil Chusnaini
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261605

Abstract

Kesiapan kerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi tantangan utama di Indonesia, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tamatan SMK yang tercatat sebagai yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lain. SMK Ketintang Surabaya sebagai mitra pengabdian memiliki 1.786 peserta didik dengan lima kompetensi keahlian, namun siswa masih menghadapi kendala dalam hal pemahaman budaya kerja profesional, etika profesional, komunikasi kerja, dan kemampuan pengambilan keputusan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan karier siswa melalui pelatihan strategic thinking dan adaptasi dunia kerja. Metode pelaksanaan terdiri dari tiga tahap: persiapan, pelaksanaan (sosialisasi dan pelatihan), serta evaluasi. Pelatihan mencakup strategic thinking untuk pengembangan diri dan karier, penguatan adaptasi terhadap budaya kerja profesional, pembelajaran berbasis studi kasus dan simulasi, serta refleksi kesiapan kerja. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai strategic thinking dan budaya kerja profesional, dengan 80% peserta mampu menjelaskan kembali konsep dasar strategic thinking dan 75% peserta menyusun rencana pengembangan diri. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam penguatan soft skills siswa SMK sebagai bekal memasuki dunia kerja.   Abstract. Work readiness among vocational high school graduates remains a major challenge in Indonesia, as graduates of Vocational High Schools (Sekolah Menengah Kejuruan [SMK]) continue to record the highest Open Unemployment Rate compared with graduates from other levels of education. SMK Ketintang Surabaya, as the partner institution in this community engagement program, has 1,786 students across five vocational competency programs. However, students continue to face challenges related to understanding professional workplace culture, professional ethics, workplace communication, and decision-making skills. This community engagement program aimed to strengthen students’ career readiness through strategic thinking and workplace adaptation training. The program was implemented in three stages: preparation, implementation (orientation and training), and evaluation. The training covered strategic thinking for personal and career development, adaptation to professional workplace culture, case-based learning and simulations, and reflection on work readiness. The results indicated improvements in students’ understanding of strategic thinking and professional workplace culture. Specifically, 80% of participants were able to explain the fundamental concepts of strategic thinking, while 75% successfully developed personal development plans. These findings indicate that the program contributed meaningfully to strengthening vocational students’ soft skills and better preparing them for the transition into the workforce.
Sistem Informasi Presensi (SIP) di MI AL-IHSAN: Integrasi Teknologi Absensi Digital dalam Meningkatkan Efisiensi Pendidikan: Attendance Information System (SIP) at MI Al-Ihsan: Integrating Digital Attendance Technology to Improve Educational Efficiency Dike Bayu Magfira; Mulya Nafa; Siti Khotimah; M. Muaffa Aditya; Afrah Amani; Hamidah Izzatul Laila
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261620

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan Sistem Informasi Presensi (SIP) berbasis digital di MI Al-Ihsan Tebel, Sidoarjo, guna meningkatkan efisiensi dan akurasi pengelolaan kehadiran tenaga pendidik dan staf administrasi. Permasalahan utama yang dihadapi adalah penggunaan sistem absensi manual yang tidak efisien, rentan terhadap kesalahan pencatatan, serta memerlukan waktu lama dalam proses rekapitulasi data. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model pengembangan Waterfall yang meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan sistem, implementasi, dan pengujian. Partisipan penelitian berjumlah 13 orang, terdiri atas kepala madrasah, tenaga pendidik, dan staf tata usaha MI Al-Ihsan Tebel, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Sistem dikembangkan berbasis web dengan integrasi teknologi Global Positioning System (GPS) untuk validasi lokasi keberadaan secara real-time (geofencing radius 5 meter). Data perbandingan efisiensi sebelum dan sesudah implementasi diperoleh melalui observasi langsung dan pencatatan waktu pada proses absensi serta rekapitulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara deskriptif, sistem yang dikembangkan mampu mempercepat waktu absensi dari rata-rata 2–3 menit menjadi kurang dari 10 detik per pengguna, mempercepat proses rekapitulasi dari 2–3 hari menjadi real-time, serta menurunkan tingkat kesalahan pencatatan dari 10–15% menjadi kurang dari 2%. Pengujian fungsional dengan metode black box testing menunjukkan tingkat keberhasilan 100% pada 127 skenario uji. Mengingat keterbatasan skala sampel serta belum dilakukannya uji statistik inferensial dan evaluasi usability formal, temuan ini bersifat deskriptif dan kontekstual pada satu institusi, sehingga generalisasi memerlukan penelitian lanjutan. Dengan demikian, implementasi SIP menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam mendukung transformasi digital di lingkungan pendidikan dasar serta meningkatkan kualitas pengelolaan data kehadiran. Abstract. This study aimed to develop and implement a digital Attendance Information System (Sistem Informasi Presensi/SIP) at MI Al-Ihsan Tebel, Sidoarjo, to improve the efficiency and accuracy of attendance management for teaching and administrative staff. The primary problem addressed was the use of a manual attendance system, which was inefficient, prone to recording errors, and time-consuming in the data recapitulation process. This study employed a Research and Development (R&D) approach using the Waterfall development model, consisting of needs analysis, system design, implementation, and testing stages. The study involved 13 participants, including the head of the madrasah, teaching staff, and administrative staff of MI Al-Ihsan Tebel, who were selected through purposive sampling. The system was developed as a web-based application integrated with Global Positioning System (GPS) technology to validate users’ real-time locations using a geofencing radius of 5 meters. Comparative efficiency data before and after system implementation were obtained through direct observation and time recording of attendance and data recapitulation processes. The findings descriptively indicated that the developed system reduced attendance recording time from an average of 2–3 minutes to less than 10 seconds per user, shortened the data recapitulation process from 2–3 days to real-time processing, and decreased the recording error rate from 10–15% to less than 2%. Functional testing using the black-box testing method demonstrated a 100% success rate across 127 test scenarios. Given the limited sample size, the absence of inferential statistical testing, and the lack of a formal usability evaluation, these findings are descriptive and context-specific to a single institution; therefore, further research is required before broader generalizations can be made. Overall, the implementation of SIP demonstrates promising potential to support digital transformation in primary education and improve the quality and efficiency of attendance data management.
Strengthening MSME Capacity Through Entrepreneurship, Marketing, Branding, and Digital Marketing Training in Kragan Village, Sidoarjo, Indonesia: Penguatan Kapasitas UMKM melalui Pelatihan Kewirausahaan, Pemasaran, Branding, dan Pemasaran Digital di Desa Kragan, Sidoarjo, Indonesia Denis Fidita Karya; Rachma Rizqina Mardhotillah; Mohamad Yusak Anshori; Yeni Fitria Nurahman
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261624

Abstract

This community engagement program aimed to strengthen the capacity of micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in Kragan Village, Sidoarjo, through entrepreneurship, marketing and branding, and digital marketing training. The program employed a community needs assessment and participatory approach, beginning with brief interviews and direct observation to identify the main challenges faced by local MSME actors. Based on the identified needs, an interactive socialization and training program was conducted involving 15 MSME participants. Program outcomes were evaluated using pre-test and post-test assessments covering three main aspects: entrepreneurship, marketing and branding, and digital marketing. The results demonstrated positive improvements across all three aspects. The entrepreneurship score increased from 53.3% to 83.3%, marketing and branding increased from 50.0% to 83.3%, while digital marketing showed the largest improvement, increasing from 43.3% to 83.3%. These findings indicate a positive short-term improvement in participants' knowledge and understanding following the intervention, particularly in digital marketing. Overall, the program demonstrates that a needs-based and participatory training approach can contribute to strengthening MSME capabilities and encouraging more systematic, market-oriented, and digitally supported business practices. Continued mentoring and follow-up evaluation are recommended to support the implementation of acquired knowledge into sustainable business practices and improved MSME performance. Abstrak. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Kragan, Sidoarjo, melalui pelatihan kewirausahaan, pemasaran dan branding, serta pemasaran digital. Program ini menggunakan pendekatan asesmen kebutuhan masyarakat dan partisipatif, yang diawali dengan wawancara singkat dan observasi langsung untuk mengidentifikasi tantangan utama yang dihadapi oleh para pelaku UMKM setempat. Berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi, dilaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan interaktif yang melibatkan 15 peserta pelaku UMKM. Hasil program dievaluasi menggunakan asesmen pre-test dan post-test yang mencakup tiga aspek utama, yaitu kewirausahaan, pemasaran dan branding, serta pemasaran digital. Hasil menunjukkan adanya peningkatan positif pada ketiga aspek tersebut. Skor kewirausahaan meningkat dari 53,3% menjadi 83,3%, pemasaran dan branding meningkat dari 50,0% menjadi 83,3%, sedangkan pemasaran digital menunjukkan peningkatan terbesar, yaitu dari 43,3% menjadi 83,3%. Temuan ini menunjukkan adanya peningkatan jangka pendek yang positif dalam pengetahuan dan pemahaman peserta setelah intervensi, terutama pada aspek pemasaran digital. Secara keseluruhan, program ini menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan berbasis kebutuhan dan partisipatif dapat berkontribusi dalam memperkuat kapasitas UMKM serta mendorong penerapan praktik usaha yang lebih sistematis, berorientasi pasar, dan didukung oleh teknologi digital. Pendampingan berkelanjutan dan evaluasi tindak lanjut direkomendasikan untuk mendukung penerapan pengetahuan yang telah diperoleh ke dalam praktik usaha yang berkelanjutan serta meningkatkan kinerja UMKM.
Empowering Elementary School Students as Young Dental Health Cadres through the Senyumku Sehat Program: Pemberdayaan Siswa Sekolah Dasar sebagai Kader Kesehatan Gigi Cilik melalui Program Senyumku Sehat Fery Setiawan; Basma Rosandi Prakosa; Dzanuar Rahmawan
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261630

Abstract

Oral health promotion among school-aged children requires approaches that improve knowledge while encouraging active participation. The Senyumku Sehat Program aimed to evaluate changes in oral health knowledge and establish Young Dental Health Cadres as a school-based empowerment mechanism. This community service program involved 176 students from Grades 1–4 at MI PSM Gempolan 2, Kediri Regency, Indonesia, using a one-group pre-test–post-test design. Knowledge was assessed using a ten-item questionnaire before and immediately after interactive oral health education. The overall median score increased from 45 to 65, with all participants achieving higher post-test scores (Z = −12.047, p<0.001; r = 0.91). Significant improvements occurred in all grades (all p<0.001). Knowledge gains differed significantly across grade levels (H = 16.82, p<0.001), with Grade 4 demonstrating significantly greater gains than Grades 1–3. Eight students were established as Young Dental Health Cadres for one academic year under teacher supervision, supported by cadre pins, a rotating trophy, and a guidance book as planned continuity mechanisms. The program was associated with substantial immediate knowledge improvement while establishing a structured school-based cadre mechanism. Longitudinal evaluation is required to assess knowledge retention, cadre effectiveness, and program sustainability.   Abstrak. Promosi kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah memerlukan pendekatan yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif. Program Senyumku Sehat bertujuan untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut serta membentuk Kader Kesehatan Gigi Cilik sebagai mekanisme pemberdayaan berbasis sekolah. Program pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan 176 siswa kelas 1–4 di MI PSM Gempolan 2, Kabupaten Kediri, Indonesia, dengan menggunakan desain one-group pre-test–post-test. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner yang terdiri atas sepuluh butir sebelum dan segera setelah pemberian edukasi kesehatan gigi dan mulut secara interaktif. Skor median keseluruhan meningkat dari 45 menjadi 65, dengan seluruh peserta menunjukkan skor post-test yang lebih tinggi (Z = −12,047, p < 0,001; r = 0,91). Peningkatan yang signifikan terjadi pada seluruh tingkat kelas (semua p < 0,001). Peningkatan pengetahuan juga berbeda secara signifikan antarjenjang kelas (H = 16,82, p < 0,001), dengan siswa kelas 4 menunjukkan peningkatan yang secara signifikan lebih besar dibandingkan siswa kelas 1–3. Delapan siswa ditetapkan sebagai Kader Kesehatan Gigi Cilik selama satu tahun ajaran di bawah supervisi guru, dengan dukungan berupa pin kader, piala bergilir, dan buku panduan sebagai mekanisme keberlanjutan program yang telah direncanakan. Program ini berkaitan dengan peningkatan pengetahuan secara langsung yang substansial sekaligus berhasil membentuk mekanisme kader berbasis sekolah yang terstruktur. Evaluasi longitudinal diperlukan untuk menilai retensi pengetahuan, efektivitas kader, dan keberlanjutan program.
Efektivitas Pelatihan Sanggah Jiwa dalam Meningkatkan Kapasitas Kader tentang Pendampingan Kesehatan Mental: Effectiveness of Sanggah Jiwa Training in Enhancing Cadres’ Capacity for Mental Health Assistance Elsy Junilia; Mifta Quroifah; Halimi Halimi; Laila Sari; Novalya Zaura Salsabila
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261633

Abstract

Keterbatasan akses terhadap tenaga profesional dan masih adanya stigma terhadap permasalahan kesehatan mental menjadi tantangan dalam pemberian pendampingan psikologis di masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas kader dalam memberikan pendampingan awal kesehatan mental melalui Pelatihan Sanggah Jiwa. Kegiatan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan rancangan one-group pretest-posttest, yang diperkuat melalui observasi dan refleksi peserta. Pelatihan Sanggah Jiwa melalui program SIGAP METRO (Siaga Gerakan Aktif Pulihkan Mental Kota Metro) dilaksanakan pada 2 Agustus 2026 di Kota Metro dengan melibatkan kader relawan Komunitas Rumah Peluk di bawah naungan BKKBN Kota Metro. Materi pembekalan meliputi pemahaman peran dan batas kader, active listening, validasi emosi, teknik stabilisasi sederhana, dukungan sebaya, perawatan diri kader, serta pemanfaatan ruang terbuka hijau sebagai “Klinik Alam”. Kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi, simulasi, role-play, praktik keterampilan, dan refleksi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti pembekalan, terutama pada aspek peran konselor sebaya, respons terhadap kondisi berisiko, dan pemahaman mengenai konsep “Klinik Alam”. Pelatihan Sanggah Jiwa dapat menjadi salah satu upaya penguatan kapasitas kader dalam mendukung pendampingan kesehatan mental di masyarakat dengan tetap memperhatikan batas kompetensi dan kebutuhan rujukan kepada tenaga profesional.   Abstract. Limited access to mental health professionals and the persistence of stigma surrounding mental health problems remain major challenges in providing psychological support within communities. This activity aimed to improve cadres’ knowledge and capacity to provide initial mental health assistance through the Sanggah Jiwa Training. The activity employed a descriptive quantitative approach with a one-group pretest–posttest design, complemented by participant observations and reflections. The Sanggah Jiwa Training, conducted as part of the SIGAP METRO (Siaga Gerakan Aktif Pulihkan Mental Kota Metro) program, was held on August 2, 2026, in Metro City and involved volunteer cadres from the Rumah Peluk Community under the auspices of the Metro City BKKBN. The training materials covered an understanding of cadres’ roles and boundaries, active listening, emotional validation, simple stabilization techniques, peer support, cadre self-care, and the utilization of green open spaces as a “Nature Clinic.” The activities included instructional sessions, simulations, role-plays, skills practice, and reflection. Evaluation results indicated an improvement in participants’ understanding following the training, particularly regarding the role of peer counselors, appropriate responses to high-risk situations, and the concept of the “Nature Clinic.” Sanggah Jiwa Training may serve as an approach to strengthening cadres’ capacity to support community-based mental health assistance while maintaining appropriate competency boundaries and recognizing the need for referral to mental health professionals.

Page 1 of 2 | Total Record : 20