cover
Contact Name
Prima Nanda Fauziah
Contact Email
ojslppmumht@gmail.com
Phone
+6281295820542
Journal Mail Official
ojslppmumht@gmail.com
Editorial Address
Kampus A Universitas Mohammad Husni Thamrin Jl. Raya Pondok Gede No 23-25 Kramatjati, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Anakes: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
ISSN : 20885687     EISSN : 27456099     DOI : 10.37012/anakes
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan merupakan jurnal yang berisi tentang artikel ilmiah dalam bidang ilmu analis kesehatan yang dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa serta para peneliti.
Articles 311 Documents
Analisis Faktor Risiko Infeksi Cacing Enterobius Vermicularis Pada Urin Siswi Kelas 1-3 Sdn SDN Pandanarum Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengah: Berdasarkan Pemeriksaan Sedimen Urin Madika, Indah Riska; Ghofur, Abdul
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i1.2682

Abstract

Penyakit cacing merupakan masalah kesehatan yang biasa dialami oleh anak-anak sekolah dasar salah satunya adalah enterobiasis. Kejadian enterobiasis disebabkan oleh perilaku anak yang jarang memperhatikan kebersihan diri serta sanitasi lingkungan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko infeksi cacing Enterobius vermicuralis pada urin siswa perempuan kelas 1-3 di SDN Pandanarum, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode pemeriksaan sedimentasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, kuesioner, dan pemeriksaan secara mikroskopis terhadap sampel urin pagi pada 14 responden. Hasil penelitian menunjukan dari 14 sampel ditemukan 2 sampel (14,29%) positif telur cacing Enterobius vermicuralis. Responden yang terinfeksi memiliki kebiasaan buruk seperti tidak mencuci tangan sebelum makan dan membersihkan area genital dengan arah yang tidak sesuai. Penelitian ini menunjukan bahwa kebiasaan kebersihan diri berpengaruh terhadap terjadinya infeksi Enterobius vermicuralis, dan telur cacing tersebut dapat terdeteksi melalui pemeriksaan urin pada anak perempuan.   Kata Kunci: Anak SD, Enterobius vermicuralis, Faktor risiko, urin.
Variasi Waktu Larutan Fiksasi Bouin terhadap Kualitas Pewarnaan Hematoksilin Eosin pada Jaringan Histologi Ginjal Mencit Pramesti, Titi; Nailufar, Yuyun; Rahmawati, Yeni
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2708

Abstract

Tahap fiksasi adalah proses pengawetan jaringan untuk mempertahankan struktur jaringan sedekat mungkin sama seperti saat jaringan masih di dalam tubuh. Larutan fiksasi yang digunakan adalah larutan fiksasi bouin, memiliki keunggulan seperti kemampuan penetrasinya cepat ke dalam nukleus dan jaringan ikat akan terpulas dengan baik. Pewarna Hematoksilin Eosin merupakan pewarna histologi yang paling sering digunakan. Hematoksilin akan mewarnai inti menjadi biru sedangkan eosin akan mewarnai sitoplasma menjadi oranye. Mencit (Mus musculus) merupakan hewan yang paling sering digunakan untuk percobaan karena memiliki banyak keunggulan, ginjal mencit (Mus musculus) merupakan salah satu organ yang paling sering digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas pewarnaan pada inti sel, sitoplasma, dan keseragaman warna berdasarkan variasi waktu fiksasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental dengan desain penelitian eksperimental, dan random sampling untuk teknik pengambilan sampel. Penelitian ini telah mendapatkan izin etik dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Penelitian ini menunjukkan bahwa 24 jam adalah variasi waktu fiksasi terbaik karena menunjukkan inti dan sitoplasma yang jelas dan terwarnai dengan baik, dengan keseragaman warna pada jaringan merata. Hasil Uji Kruskal Wallis dan Uji Man Whitney menunjukkan adanya perbedaan kualitas pewarnaan dengan signifikan p= 0,002. Kesimpulan penelitian ini fiksasi selama 24 jam menggunakan larutan bouin merupakan pilihan waktu optimal.
Gambaran Kadar C-Reactive Protein (CRP) Mahasiswa Obesitas Program Studi Teknologi Laboratorium Medis Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Pradana, Tita Liana Kusria Nur; Irfani, Farida Noor; Bimantara, Arif
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i1.2714

Abstract

Obesitas adalah penumpukan lemak akibat ketidakseimbangan energi masuk dan keluar, yang kasusnya terus meningkat secara global. Obesitas juga dianggap sebagai peradangan kronis karena sel adiposit memproduksi IL-6 dan TNF-α yang merangsang produksi C-Reactive Protein di hati. CRP ialah protein fase akut yang meningkat saat peradangan dan dapat diukur dengan metode aglutinasi lateks. Penelitian ini bertujuan mengamati kadar CRP pada mahasiswa obesitas di Prodi Teknologi Laboratorium Medis Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Metode penelitian ini termasuk jenis observasional dengan desain cross sectional menggunakan 26 sampel yang diperoleh dari perhitungan sampel dengan rumus slovin serta disesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian (76,9%) mahasiswa berjenis kelamin perempuan, dengan (92,3%) kadar CRP non-reaktif dan (7,7%) kadar CRP reaktif, serta tidak terdapat hubungan signifikan antara pola makan dan aktivitas fisik terhadap kadar CRP (p > 0,05), dapat disimpulkan bahwa kadar CRP pada mahasiswa obesitas di Prodi Teknologi Laboratorium Medis Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta tidak berhubungan dengan pola makan dan aktivitas fisik. Kedepannya untuk penelitian selanjutnya disarankan menggunakan metode yang lebih sensitif seperti hs-CRP dan ELISA, serta melakukan pemeriksaan lainnya seperti darah lengkap untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap terkait inflamasi yang terjadi, serta dapat memeriksa faktor lainnya yang dapat berpengaruh pada kadar CRP selain pola makan dan aktivitas fisik seperti. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, CRP, Obesitas, Pola Makan.
Hubungan Antara Faktor Usia dan Jenis Kelamin dengan Kejadian Demam Tifoid: Studi Klinis Di Yogyakarta Ishak, Zulwina Ningsi; Irfani, Farida Noor; Bimantara, Arif
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2732

Abstract

Salmonella typhi is a bacterium that causes infection in the digestive tract known as typhoid fever. One of the diagnostic methods used to detect this disease is the Tubex test, which functions to identify the presence of antibodies. This study aims to determine the relationship between age and gender factors with the incidence of typhoid fever in one hospital in Yogyakarta during the period January-December 2024. This study used a descriptive design with a cross-sectional approach. A total of 127 samples were selected using the total sampling method with data obtained from medical records. Of these, (72.3%) were female patients and (27.7%) were male with the age group 20-39 years as the most frequently diagnosed group (62.7%). Bivariate analysis showed that the variables of age (p = 0.024 <0.05) and gender (p = 0.012 <0.05) had a significant relationship with the incidence of typhoid fever. Based on these results, there is a significant relationship between age and gender with the incidence of typhoid fever. Education regarding the implementation of a clean and healthy lifestyle needs to be increased, especially for women and productive age groups who are more vulnerable to typhoid infection.   Keywords: Typhoid Fever, Gender, Salmonella typhi, Age, Yogyakarta
Hubungan Kadar Hemoglobin Dengan Ureum Berdasarkan Frekuensi Hemodialisa Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Rumah Sakit Soerojo Kota Magelang Amalia, Rizka; Ratih, Woro Ummi; Suryanto, Suryanto
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i1.2745

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan kondisi progresif dan ireversibel yang menyebabkan gangguan fungsi ginjal serta peningkatan ureum dalam darah karena ginjal yang rusak tidak mampu melakukan proses filtrasi secara optimal. Peningkatan kadar ureum berkontribusi terhadap anemia renal melalui berbagai mekanisme, termasuk penurunan produksi eritropoietin, toksisitas terhadap sumsum tulang, dan pemendekan umur eritrosit. Terapi hemodialisa (HD) adalah prosedur yang digunakan untuk menggantikan fungsi ekskretoris ginjal dan membuang metabolit seperti ureum, di mana frekuensi pelaksanaan hemodialisa berperan penting dalam efektivitas pembersihan tersebut. Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi korelasiantara kadar hemoglobin dan kadar ureum berdasarkan frekuensi hemodialisis di RS Soerojo Kota Magelang. Dalam penelitian ini menggunakan metode desain analitik korekasi secara cross- sectional pada 92 pasien GGK Periode tahun 2023-2024 yang menjalani hemodialisis dengan frekuensi 1, 2, dan 3 kali per minggu. Analisis stattistik menggunakan analisis korelasi spearman. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata - rata kadar hemoglobin pada pasien berkisar antara 8,15–8,18 g/dL, sedangkan kadar ureum berada pada rentang 123,58–126,59 mg/dL. Nilai-nilai tersebut mencerminkan adanya gangguan hematologis serta akumulasi metabolit nitrogen, meskipun pasien telah menjalani hemodialisis secara rutin. Hasil analisis korelasi Spearman mengindikasikan terdapat keterkaitan yang bermakna secara statistik antara kadar ureum dan hemoglobin pada seluruh frekuensi hemodialisis, dengan nilai korelasi r = -0,514 (p = 0,042) untuk frekuensi satu kali per minggu, r = -0,315 (p = 0,037) untuk dua kali per minggu, dan r = -0,460 (p = 0,008) untuk tiga kali per minggu. Hubungan tersebut tergolong sedang pada frekuensi satu dan tiga kali per minggu, serta tergolong lemah pada frekuensi dua kali per minggu. Penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan antara bermakna antara kadar ureum dan hemoglobin pada pasien GGK berdasarkan frekuensi hemodialisa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kadar ureum dan hemoglobin pada pasien GGK di semua frekuensi hemodialisis, dengan arah hubungan negatif. Semakin tinggi kadar ureum, semakin rendah kadar hemoglobin. Meski menjalani hemodialisis rutin, pasien masih menunjukkan akumulasi ureum dan anemia, sehingga pengelolaan hemodialisis yang optimal tetap diperlukan.   Kata Kunci: Anemia, Frekuensi Hemodialisa, Gagal Ginjal Kronik, Hemoglobin, Kadar Ureum
Perbandingan Kualitas Hasil Pewarnaan Jaringan Menggunakan Larutan Sabun Cuci Piring Sebagai Agen Deparafinisasi Alternatif Alfaiz, Akhdaan Aqil Sidqi; Nailufar, Yuyun; Irfani, Farida Noor
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i1.2772

Abstract

Deparafinisasi merupakan tahap penting dalam pembuatan preparat histologi sebelum pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE), dengan tujuan menghilangkan parafin agar pewarnaan jaringan optimal. Xylol adalah agen deparafinisasi yang umum digunakan, namun bersifat karsinogenik, mudah terbakar, dan mahal, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman dan ekonomis. Sabun cuci piring mengandung surfaktan yang mampu melarutkan parafin, sehingga berpotensi digunakan sebagai agen alternatif. Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas pewarnaan jaringan menggunakan sabun cuci piring konsentrasi 1,5%, 3%, dan 4,5% terhadap xylol sebagai kontrol. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan desain post-test only control group. Sampel jaringan diproses menggunakan teknik histologi standar dan dilakukan deparafinisasi menggunakan xylol maupun sabun cuci piring. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 4,5% menghasilkan kualitas preparat terbaik setelah xylol, dengan skor 94,4%, sedangkan konsentrasi 1,5% dan 3% masing-masing memperoleh skor 88,9%. Semakin tinggi konsentrasi sabun cuci piring, semakin baik pula kualitas hasil pewarnaan. Oleh karena itu, sabun cuci piring konsentrasi 4,5% berpotensi sebagai agen deparafinisasi alternatif yang lebih aman dan efektif.
Variasi Konsentrasi Larutan Fiksasi Etanol Terhadap Kualitas Hasil Pewarnaan Hematoksilin Eosin pada Jaringan Histologi Ginjal Mencit Azizah, Muti'ah Nur; Nailufar, Yuyun; Rahmawati, Yeni
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2828

Abstract

Fixation is a crucial step in the preparation of histology slides, working in maintaining the tissue structure in its original condition. This study aims to determine the effect of variations in the concentration of ethanol fixation solution on the quality of hematoxylin eosin (HE) staining results in mouse (Mus musculus) kidney histology tissue. This laboratory experimental study utilized three variations in ethanol concentrations (60%, 70%, 80%) and 10% Neutral Buffered Formalin (NBF) as a control, with a total of 24 mouse kidney slides. The quality of the preparations was assessed based on the parameters of nuclear color, cytoplasmic color, morphological integrity, color uniformity, and nuclear swelling. The results showed that fixation with 60% ethanol produced a preparation of poor quality, while 70% and 80% ethanol produced good quality, equivalent to the 10% NBE control. The Kruskal-Wallis and Mann-Whitney statistical tests showed a significant difference between the 60% ethanol group and the other groups (p < 0.05), but there was no significant difference between 70%, 80%, and 10% NBF. The conclusion of this study indicates that 70% and 80% ethanol have the potential to be effective and safer alternative fixatives compared to formalin. Keywords: Ethanol, Fixation, Hematoxylin and Eosin, Mouse Kidney
Pengaruh Waktu Inkubasi Pada Sediaan Terhadap Jumlah Telur Cacing Soil Transmitted Helminths yang Terdeteksi dengan Metode Kato Katz Ibrahim, Indah Pratiwi; Putri, Novita Eka; Solikah, Monika Putri
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2830

Abstract

Soil-transmitted helminth (STH) infections remain a public health concern in tropical regions with poor sanitation. The Kato-Katz method isrecommended by the World Health Organization (WHO) for detecting helminth eggs due to its efficiency and sensitivity in both field and laboratory settings. One of the technical factors that may influence egg morphology visibility on the slide is incubation time. This study aimed to determine the effect of incubation time variation (20, 30, and 40 minutes) in a refrigerator on the number of STH eggs detected using the Kato-Katz method. This research applied an experimental design with a quantitative approach. Positive STH fecal samples were incubated at three time intervals and examined microscopically. Observations were recorded in Eggs Per Gram (EPG) and analyzed using the Shapiro-Wilk test, One-Way ANOVA, and Bonferroni post-hoc test. The average EPG increased with longer incubation times: 140.00 (20 minutes), 162.22 (30 minutes), and 262.22 (40 minutes). ANOVA showed a significant difference between groups (p = 0.000), and the Bonferroni test confirmed significant differences involving the 40-minute group. These findings indicate that 40 minutes of incubation is the most optimal duration for maximizing STH egg detection using the Kato-Katz method.   Keywords: Feces, Kato-Katz, Soil-Transmitted Helminths, Helminth Eggs, Incubation Time.
Pengaruh Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.) Terhadap Aktivitas Motorik Tikus Putih Pada Model Parkinson Farisa, Siti; Ikhsan, Maulana; Novalia, Vera
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2917

Abstract

Parkinson's disease is a neurodegenerative disease characterized by movement disorders such as bradykinesia, rigidity, and tremor that can affect body balance, due to decreased dopamine levels that can be triggered by oxidative stress. Turmeric (Curcuma longa) contains curcumin which has antioxidant and neuroprotective properties, making it possible to prevent neurodegenerative disorders due to oxidative stress. Turmeric rhizome has a chemical content that is a yellow color substance called curcuminoids. This study aims to determine the effect of administering turmeric rhizome extract (Curcuma longa L.) on the motor activity of white rats (Rattus norvegicus) in the Parkinson's model. This study uses a laboratory test method using a pretest-posttest only control group design that uses white rat (Rattus novergicus) male wistar strain as the object of research. This study used 6 white rats carried out with 4 sample groups, with a total of 24 white rats (Rattus norvegicus) male wistar strains. This research has obtained ethical approval from the Ethics Committee of Health Research, Faculty of Medicine, Malikussaleh University, with letter number: 09/KEPK/FKUNIMAL-RSUCM/2023. The results showed that turmeric rhizome extract (Curcuma longa L.) at a dose of 600mg / kgBB had an effect on the motor activity of white rats (Rattus norvegicus) in the Parkinson's model, turmeric rhizome extract (Curcuma longa L.) at a dose of 400mg kgBB had an effect on the motor activity of white rats (Rattus norvegicus) in the Parkinson's model. There is no significant difference in the effect of turmeric rhizome extract between the dose groups of 400 mg/KgBB and 600 mg/KgBB on increasing the motor activity of white rats (Rattus norvegicus) in the Parkinson's model Keywords: Antioxidat, Haloperidol, Parkinson's Disease, Turmeric Rhizome, White Rat  
Karakterisasi DNA Gen Beta Globin Berdasarkan Konsentrasi dan Kemurniannya Pada Talasemia β Minor Novilla, Arina; Romlah, Sitti; Khristian, Erick; Sari, Jesica Putri Puspita
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.3047

Abstract

Thalassemia minor is a heterozygous condition caused by a mutation in the β-globin gene, which results in a decrease in β-globin chain synthesis without severe clinical symptoms. Identification of mutations in the β-globin gene through DNA analysis is the main approach in the enforcement of the molecular diagnosis of thalassemia minor. The success of such analyses is greatly influenced by the concentration and purity of the DNA, as low-quality DNA can inhibit PCR amplification and decrease the accuracy of mutation detection. Therefore, the DNA characterization of β genes accompanied by evaluation of DNA concentration and purity due to DNA quality directly affects the success of molecular analyses such as PCR and DNA sequencing. The method of this study is an experiment, DNA Isolation using the Geneaid gSYNCTM DNA Extraction kit. The results of the DNA isolation process were then qualitatively examined using electrophoresis of a concentration of 1% on agarose gel. Based on the results, it can be concluded that the purity value in the range of 1.2-1.8, as many as 5 samples of purity is not good and 1 sample of purity is good, because  the purity value of good DNA is 1.8-2.0.  The results of DNA concentration were in the range of 18.6-41.5 ng/ul, as many as 1 sample of inadequate DNA concentration and 5 samples of adequate DNA concentration because the adequate DNA concentration was in the range of 20–100 ng/μL. Keywords: Beta globin gene, Concentration, Purity, Thalassemia β minor