cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 185 Documents
Pengakuan Hak Masyarakat Adat dan Sosiobiologi Suku Moskona di Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat Slamet Arif Susanto; Evilin Swo; Bakhtiar Rumatumia; Sita Ratnawati
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.105574

Abstract

Upaya pengakuan masyarakat hukum adat di Papua dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan oleh rakyat perlu untuk didukung. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mempelajari budaya masyarakat lokal yang kaitannya dengan sistem sosial hingga pengelolaan sumber daya alam. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari profil, karakteristik sosial dan hukum adat serta aspek demografi dari Suku Moskona di Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, lokakarya serta wawancara mendalam (depth interview) terhadap tokoh-tokoh adat yang telah lama mendiami area tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah adat Suku Moskona terdiri atas wilayah dengan luas 549.256 hektar dengan total penduduk mencapai 7.478 jiwa Masyarakat hukum adat Suku Moskona merupakan komunitas yang telah membangun sistem sosial budaya secara turun-temurun dan perlu mendapatkan pengakuan. Secara historis, Suku Moskona dan Meyah membentuk satu kesatuan masyarakat hukum adat di Kabupaten Teluk Bintuni karena kesamaan sistem sosial budaya. Sistem sosial budayanya dipengaruhi oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan Kesultanan Tidore, namun tetap mempertahankan karakteristik khas, termasuk pengelolaan hak ulayat. Pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah dengan dominasi peran laki-laki akibat sistem patriarki dan tradisi mas kawin. Masyarakat mengenal zonasi ruang adat, sistem kelembagaan sederhana, hukum adat, tempat pamali, serta ritual pengelolaan sumber daya alam. Saat ini, wilayah adat Suku Moskona mengalami dinamika pemekaran administratif. Kesimpulan kami membuktikan bahwa masyarakat hukum ada Suku Moskona perlu diakui oleh pemerintah.  data-data pemetaan wilayah yang kami dapatkan sangat penting untuk pengambilan keputusan terkait dengan pengelolaan sumber daya alam serta perkembangan daerah administratif di Kabupaten Teluk Bintuni.
Upaya Pelestarian Kuda Lumping sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Desa Rano Jaya: Efforts to Preserve Kuda Lumping as an Intangible Cultural Heritage in Rano Jaya Village Sahra Ramadani; Slamet Hariyadi; Jasrudin Jasrudin
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.105976

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya pelestarian kesenian Kuda Lumping sebagai warisan budaya tak benda di Desa Rano Jaya di tengah tantangan modernisasi dan menurunnya partisipasi generasi muda. Permasalahan penelitian berfokus pada melemahnya sistem pewarisan budaya dan berkurangnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi dengan melibatkan pengelola sanggar, pelaku seni, tokoh masyarakat, aparat desa, dan generasi muda. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan teknik triangulasi untuk menjamin keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian Kuda Lumping dilakukan melalui pembinaan generasi muda, pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan dokumentasi, pementasan pada kegiatan sosial dan kenegaraan, serta dukungan aktif masyarakat dan pemerintah desa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelestarian berbasis komunitas yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital efektif menjaga keberlanjutan kesenian Kuda Lumping.
Etika Jawa dan Subalternitas Karna dalam Serat Tripama: Analisis Representasi dan Alegori Hierarki Sosial Jantan Putra Bangsa; Sri Harti Widyastuti; Afendy Widayat
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.106447

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kuatnya posisi Serat Tripama sebagai teks piwulang yang kerap dijadikan rujukan etika dan karakter dalam budaya Jawa, tetapi pembacaan kritis mengenai bagaimana teks tersebut membingkai hierarki sosial dan relasi kuasa masih jarang dilakukan. Artikel ini bertujuan memahami bagaimana figur Karna direpresentasikan bukan hanya sebagai teladan moral, melainkan juga sebagai subjek yang diposisikan dalam struktur patronase dan legitimasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis analisis teks dengan data primer tujuh bait tembang Dhandhanggula Serat Tripama (Bait 01–07), dibaca melalui close reading dan analisis wacana kritis. Kerangka analisis memadukan etika Jawa, representasi, dan teori subaltern untuk menelaah bagaimana teladan, pengabdian, dan pengorbanan dinormalisasi sebagai kepatutan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serat Tripama tidak hanya mengajarkan moralitas, tetapi juga bekerja sebagai mekanisme produksi subjek ideal dalam hierarki sosial melalui penetapan teladan, penguncian kepatuhan, dan penyaringan kemungkinan artikulasi subjek.
Organisasi Tradisional: Identitas Budaya Masyarakat: Traditional Organizations: Cultural Identity of Society Afdhal Dzikri; Fitra Khairinnahda; Mahdum Adanan; Fadly Azhar; Dahnilsyah Dahnilsyah
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.106519

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran organisasi tradisional dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat Indonesia melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) terhadap sumber-sumber ilmiah terakreditasi nasional dan internasional relevan. Kajian dilakukan dengan menelaah beberapa artikel ilmiah terbitan tahun 2010–2025 yang membahas dinamika organisasi tradisional dalam konteks sosial, budaya, dan adaptasi terhadap globalisasi. Hasil telaah menunjukkan bahwa organisasi tradisional berfungsi sebagai sistem sosial yang menjaga keseimbangan antara nilai adat, struktur sosial, dan praktik budaya. Organisasi ini tidak hanya menjadi wadah pewarisan norma dan pengetahuan lokal, tetapi juga memainkan peran penting dalam memperkuat solidaritas sosial, resolusi konflik, serta pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal. Sementara itu, peran organisasi tradisional pada era modern mengalami transformasi signifikan dari lembaga adat tertutup menjadi institusi sosial adaptif yang mampu berkolaborasi dengan pemerintah, dan dunia digital untuk mempertahankan eksistensi budaya lokal. Kajian ini menegaskan bahwa pelestarian identitas budaya tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan organisasi tradisional sebagai institusi pewaris nilai-nilai komunal. Diperlukan strategi integratif melalui edukasi budaya, dokumentasi digital, dan penguatan hukum adat untuk memastikan keberlanjutan fungsi organisasi tradisional di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi.
The Dynamics of The Sekura Tradition in West Lampung from the Perspective of Van Peursen's Cultural Philosophy Winda Pitriani Parhamah; Aman Aman; Wildan Ichzha Maulana; Roro Wilis
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.107087

Abstract

Discussing local traditions in an area is inseparable from the influence of the times, culture, and dynamic social conditions of its supporting communities, thus opening up opportunities for the process of deconstruction, including the reinterpretation of a tradition as conceptualized by Van Peursen. This research aims to identify, critically analyse, and describe the dynamics of the development of the Sekura tradition in West Lampung based on the conceptualisation of Van Peursen's cultural philosophy, including mystical, ontological, and functional stages. This research employs a qualitative approach, utilizing a literature study method to obtain primary data from books published by the Ministry of Education and Culture, as well as books on Sekura Traditions in Coastal Lampung Communities. Secondary data sources were obtained from journals, local government publications, and research documents from various institutions. The analysis was carried out using Klaus Krippendorff's content analysis model and strengthening credibility through triangulation of sources. The results of the study show that the Sekura tradition at the mystical stage functions as a grounded Islamic spiritualism, at the ontological stage becomes a space of social cohesion and a symbol of collective identity, and then at the functional stage transforms into a tourism commodity that strengthens the local economy.
Erosi Tradisi Lokal: Studi Tentang Pudarnya Tradisi Mantau Bunting Ditengah Perubahan Gaya Hidup Generasi Muda Diosi Putri Tasti; Barokah Isdaryanti; Eko Handoyo; Indriana Eko Amaidi; Argitha Aricindy
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.108282

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari proses erosi tradisi Mantau Bunting dan faktor-faktor yang menyebabkan memudarnya praktik tradisi di tengah perubahan gaya hidup generasi muda. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat. Informan dipilih dengan sengaja dan di antaranya adalah tokoh adat, tokoh masyarakat dan generasi muda. Teknik pengumpulan data diimplementasikan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memudarnya tradisi Mantau Bunting disebabkan oleh perubahan mentalitas generasi muda, dampak globalisasi dan media sosial, berkurangnya peran keluarga dan lembaga Adat dalam proses transmisi budaya, dan asumsi bahwa tradisi tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan modern. Erosi tradisi ini berdampak pada melemahnya identitas budaya dan berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kerja tim, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat istiadat. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi dasar upaya pelestarian budaya lokal dengan merevitalisasi tradisi adaptif dan kontekstual zaman tersebut.
Kearifan Lokal sebagai Mekanisme Adaptasi terhadap Kekeringan: Studi Sistem Wae Poa pada Masyarakat Pulau Palue: Local Wisdom as an Adaptation Mechanism to Drought: A Study of the Wae Poa System in the Palue Island Community Yohanes Ware; Enok Maryani; Annisa Joviani Astari
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.108517

Abstract

Penelitian ini mengesplorasi Wae Poa sebagai sebagai praktik adaptif berbasis pengetahuan ekologis tradisional yang dimanfaatkan masyarakat Pulau Palue untuk merespons kondisi kekeringan berkepanjangan pada sebuah pulau vulkanik kecil dengan keterbatasan sumber air tawar. Pendekatan kualitatif menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan penelusuran dokumen, guna memahami proses operasional Wae Poa dan keterikatannya dengan sistem pengelolaan berbasis adat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Wae Poa menjadi sumber air yang relatif andal karena memanfaatkan kondensasi alami dari panas bumi, sehingga mampu menyediakan pasokan secara konsisten dibandingkan beberapa metode lain seperti penampungan air hujan atau distribusi bantuan, terutama di masa kemarau panjang. Keunggulan ini bukan hanya berasal dari karakter teknis yang hemat energi, melainkan juga dari aturan sosial dan kesepakatan adat yang mengarahkan pemanfaatan air secara adil dan beretika. Temuan tersebut memberikan indikasi bahwa Traditional Ecological Knowledge (TEK) merupakan basis pengetahuan adaptif yang relevan ketika teknologi modern tidak selaras dengan kondisi fisik wilayah dan kapasitas ekonomi masyarakat. Dari sudut teoretis, studi ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam skema adaptasi iklim, khususnya bagi pulau kecil yang menghadapi variabilitas iklim dan ketergantungan pada sumber daya lokal. Secara praktis, penelitian ini mengusulkan perlunya kebijakan adaptasi yang menggabungkan inovasi sederhana, perluasan sumber air, dan penguatan peran kelembagaan komunitas sebagai bagian dari strategi ketahanan air. Selain itu, disarankan adanya dukungan kolaboratif lintas disiplin dan kerangka regulasi untuk mendorong keberlanjutan serta replikasi model lokal seperti Wae Poa pada wilayah lain dengan karakteristik serupa
Pergeseran Nilai Budaya Mengundang Tamu (Meu’uroh) Pada Masyarakat Aceh Barat Daya: The Shift in Cultural Values ​​of Inviting Guests (Meu'uroh) in Southwest Aceh Society Nadya Citra Lestari; Cut Khairani; Muhammad Iqbal
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.108928

Abstract

Tradisi Meu’uroh merupakan salah satu bentuk budaya masyarakat Aceh yang berperan penting dalam mempererat silaturahmi, menumbuhkan solidaritas sosial, serta memuliakan tamu, terutama dalam pelaksanaan acara pernikahan. Perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat memengaruhi pelaksanaan tradisi tersebut, khususnya pada mekanisme penyampaian undangan yang sebelumnya dilakukan melalui kunjungan langsung dan kini digantikan oleh telepon serta media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk pergeseran nilai budaya dalam tradisi Meu’uroh serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya pada masyarakat Aceh Barat Daya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan tokoh adat dan masyarakat di Kecamatan Blang Pidie dan Kecamatan Tangan-Tangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran tidak hanya terjadi pada pola komunikasi, tetapi juga pada penggunaan simbol budaya dan praktik gotong royong, sehingga berpengaruh terhadap menurunnya intensitas interaksi sosial. Perubahan tersebut dipicu oleh kemajuan teknologi, meningkatnya mobilitas masyarakat, perbedaan pandangan antar generasi, serta tuntutan efisiensi dalam kehidupan modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan dalam tradisi Meu’uroh merupakan bentuk penyesuaian budaya lokal terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai dasarnya.
Tari Maskot sebagai Media Internalisasi Nilai Tri Hita Karana dalam Perspektif Filsafat Pendidikan di Sekolah Menengah Pertama: Mascot Dance as a Medium for Internalizing Tri Hita Karana Values ​​from the Perspective of Educational Philosophy in Junior High Schools I Made Suwamba; I Nyoman Jampel; Desak Putu Parmiti; Dewa Bagus Sanjaya
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.109070

Abstract

Pendidikan karakter berbasis budaya lokal menjadi urgensi di tengah tantangan modernisasi dan kecenderungan pendekatan yang masih normatif. Dalam konteks Bali, Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan lingkungan (palemahan) relevan sebagai kerangka pendidikan holistik. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Tari Maskot sebagai media internalisasi nilai Tri Hita Karana di SMPN 2 Tegallalang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan orientasi interpretatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi, dan studi literatur, lalu dianalisis melalui reduksi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Maskot berfungsi sebagai medium pembelajaran berbasis pengalaman (embodied learning). Nilai parhyangan terinternalisasi melalui pengalaman estetis-spiritual dalam latihan dan pementasan; nilai pawongan melalui kerja kolektif dan harmoni sosial; serta nilai palemahan melalui pembiasaan kepedulian terhadap lingkungan sekolah. Tari Maskot tidak sekadar kegiatan seni, melainkan media pedagogis integratif yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis dalam pembentukan karakter peserta didik
Dekonstruksi Hibriditas Kultural Masyarakat Bali dan Sasak di Kabupaten Karangasem I Komang Sukayasa
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.110396

Abstract

Setiap komunitas memiliki sekat sosial dalam memepertahankan esinsi kultural yang dimiliki. Pertemuan antarkomunitas menimbulkan pertukaran dan membuka peluang terjadinya hibriditas kultural. Pada tatanan ideal, komunitas mampu menciptakan tatanan sosial yang merujuk pada originalitas budaya yang menjadi identitas lokal yang esensial. Namun dilihat dari tatanan empiris, pertemuan antara komunitas satu dengan komunitas yang lain justru menimbulkan pertukaran budaya dan menciptakan hibriditas kultural. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali hibriditas kultural antara masyarakat Hindu (Bali) dan masyarakat Islam Tradisional (sasak) di Kabupaten Karangasem. Metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan kritis kajian budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses terjadinya hibriditas kultural tidak lepas dari ekspansi Raja Karangasem ke Lombok. Kedatangan masyarakat Islam ke Karangasem menyebabkan terjadinya persilangan budaya dan menumbuhkan budaya yang baru. Terjadinya hibriditas kultural adalah bentuk dari perubahan identitas dalam upaya berbaurnya antar komunitas yang ada di Karangasem. Bentuk hibriditas kultural yang terjadi berupa: (1) Bahasa Bali dalam Komunikasi Islam, (2) Magibung, (3) Ngejot, (4) Persilangan Kesenian Rebana dengan Gong Kebyar, dan (5) Konsep Nyama Braya. Implikasi dari hibriditas ini mencakup terjadinya persamaan konsep berupa Nyama Braya, persamaan gagasan, pemahaman, dan adanya ikatan politis yang kuat.