cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 185 Documents
Peran Kearifan Lokal dalam Menjaga Keberagaman Budaya di Kabupaten Sinjai: The Role of Local Wisdom in Maintaining Cultural Diversity in Sinjai Regency Suriyati Suriyati; Sudirman. P; Suriati Suriati; Jamaluddin Jamaluddin; Nurhalifah Hafid
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.97195

Abstract

Kabupaten Sinjai dikenal sebagai wilayah multikultural dengan berbagai kelompok etnis seperti Bugis, Konjo, dan Makassar yang hidup berdampingan secara harmonis.. Masyarakat, terutama generasi muda, mulai meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal karena pengaruh globalisasi dan modernisasi. Walaupun Kabupaten Sinjai dikenal dengan masyarakat yang majemuk (Bugis, Makassar, dan etnis lainnya), masih terdapat potensi konflik akibat kurangnya pemahaman lintas budaya. Keberagaman budaya tersebut berpotensi menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam membangun kohesi sosial. Kearifan lokal yang terwujud dalam nilai-nilai seperti sipakatau, siri’ na pacce, serta praktik gotong royong terbukti berperan penting dalam mempererat hubungan antar kelompok dan merawat harmoni sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kearifan lokal dalam menjaga keberagaman budaya di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal di Sinjai bukan hanya warisan budaya, tetapi juga menjadi sistem nilai yang hidup dan berfungsi sebagai alat resolusi konflik, peneguh identitas, serta pedoman dalam interaksi sosial lintas budaya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kearifan lokal memiliki peran strategis dalam menjaga keberagaman budaya di Kabupaten Sinjai. Untuk itu, diperlukan upaya pelestarian dan penguatan peran kearifan lokal melalui pendidikan, penguatan kelembagaan adat, dan integrasi nilai-nilai lokal ke dalam kebijakan pembangunan daerah.
Pa’raga Sebagai Warisan Tradisional: Perpaduan Ketahanan Fisik dan Ekspresi Budaya Lokal serta Eksistensinya Kini: Pa'raga as a Traditional Heritage: The Combination of Physical Resilience and Local Cultural Expression and Its Current Existence Bunga Hidayati; Miftahuddin Miftahuddin
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.98199

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengenai tradisi Pa’raga, yang merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh Suku Makassar di wilayah Sulawesi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis data menggunakan metode kajian kepustakaan, dengan sumber data yang dikumpulkan dari berbagai literature meliputi, buku, artikel ilmiah, serta publikasi daring yang membahas mengenai Pa’raga yang dilakukan oleh masyarakat suku Makassar. Hasil kajian menunjukkan permainan Pa’raga sendiri pada awalnya merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh kalangan bangsawan Gowa sebagai hiburan pada saat melaksanakan acara pelantikan maupun pernikahan. Namun seiring perkembangannya terjadi perubahan, mulai dari digunakan sebagai salah satu indikator kedewasaan laki-laki hingga pada akhirnya dijadikan tradisi. Untuk memainkan Pa’raga terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti halnya jenis sepakan, peraturan permainan, alat musik yang digunakan sebagai pengiring permainan, mapun baju yang harus dipakai. Berjalannya waktu, kejayaan tradisi ini tampaknya tidak berjalan mulus, dimana para pemuda Makassar terus berupaya agar permainan ini tetap ada sampai ke generasi berikutnya. Hal ini perlu dilakukan katena dalam Pa’raga memiliki nilai kearifan lokal yang luar biasa, seperti halnya nilai kerja sama, nilai sportivitas dan kontrol diri, maupun nilai seni dan estetika.
Pela Gandong sebagai Manifestasi Kearifan Lokal dalam Kehidupan Sosio-Kultural Masyarakat Maluku: Pela Gandong as a Manifestation of Local Wisdom in the Socio-Cultural Life of the Maluku Community Muhammad Junaldi Jufri; Miftahuddin Miftahuddin
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.98238

Abstract

Penelitian ini mengkaji Pela Gandong sebagai manifestasi kearifan lokal masyarakat Maluku yang berfungsi sebagai sistem sosial dan budaya dalam menjaga keharmonisan hidup bersama. Pela Gandong dipahami bukan hanya sebagai tradisi turun-temurun, melainkan juga sebagai mekanisme solidaritas sosial yang mengikat masyarakat lintas wilayah, agama, dan etnis. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan, penelitian ini menelaah berbagai literatur, artikel akademik, dan dokumen sejarah untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai hakikat, nilai, serta dinamika Pela Gandong dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat Maluku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pela Gandong mencakup dimensi sosial, budaya, dan spiritual yang diwujudkan melalui praktik solidaritas, gotong royong, serta ritual adat seperti Panas Pela. Tradisi ini juga berfungsi sebagai instrumen resolusi konflik dan rekonsiliasi, terbukti pada perannya pascakonflik sosial Maluku akhir 1990-an.  Pela Gandong mencerminkan hierarki nilai Max Scheler , dari nilai kenikmatan, vital, kejiwaan, hingga religius. Dinamika modernisasi, globalisasi, dan urbanisasi menantang keberlangsungan tradisi ini, namun upaya pelestarian melalui pendidikan, komunitas adat, dan media menjadi kunci agar Pela Gandong tetap relevan. Penelitian ini menegaskan bahwa Pela Gandong adalah warisan budaya bernilai luhur yang berkontribusi pada harmoni sosial serta identitas kolektif masyarakat Maluku hingga kini.
Implementassi Nilai-Nilai Pancasila dalam Ritual Adat Wulla Poddu di Kampung Gollu Kabupaten Sumba Barat: Implementation of Pancasila Values ​​in the Wulla Poddu Traditional Ritual in Gollu Village, West Sumba Regency Hutri Bolo; Engelbertus Kukuh Widijatmoko; Luluk Masruroh Z
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.98753

Abstract

Ritual adat Wulla Poddu di Kampung Gollu, Kabupaten Sumba Barat, merupakan salah satu tradisi sakral yang mengandung nilai sosial, religius, dan kultural yang sangat mendalam bagi masyarakat setempat. Tradisi ini tidak hanya menjadi penanda siklus kehidupan masyarakat adat, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di tengah derasnya arus globalisasi yang berpotensi mengikis nilai-nilai kearifan lokal, penelitian ini menjadi penting karena berupaya menegaskan kembali relevansi Wulla Poddu sebagai media efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat adat yang semakin terpengaruh oleh perubahan zaman. Urgensi kajian ini terletak pada bagaimana kebudayaan lokal dapat berperan aktif dalam memperkuat identitas kebangsaan, menumbuhkan solidaritas sosial, serta mempertahankan keharmonisan hidup masyarakat di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bentuk pelaksanaan ritual Wulla Poddu serta menafsirkan mekanisme internalisasi nilai-nilai Pancasila yang tercermin melalui simbol-simbol adat, tata upacara, dan interaksi sosial antarwarga selama pelaksanaan ritual berlangsung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskripsi kualitatif. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap tokoh adat, tokoh pemuda, serta tokoh masyarakat Kampung Gollu. Analisis data dilakukan secara induktif dengan menafsirkan makna simbolik, nilai spiritual, dan fungsi sosial yang terkandung dalam setiap tahapan pelaksanaan ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wulla Poddu tidak hanya berfungsi sebagai upacara adat untuk melestarikan budaya, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila seperti Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Melalui pelaksanaan ritual ini, masyarakat memperkuat kohesi sosial, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menanamkan nilai toleransi dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Wulla Poddu berperan penting sebagai wahana pembentukan karakter bangsa berbasis kearifan lokal yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila
Women’s Representation in Mandailing Patriarchal Culture: A Corpus-Assisted Critical Discourse Analysis of Local News Media: Representasi Perempuan dalam Budaya Patriarkal Mandailing: Analisis Wacana Kritis Berbasis Korpus pada Media Berita Lokal Hanifah Oktarina; Eri Kurniawan; Rinaldi Supriadi
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.98842

Abstract

Media plays a crucial role in shaping public discourse and reinforcing cultural ideologies, particularly regarding gender representation. In Mandailing society, where patriarchal norms are prevalent, media discourse provides valuable insights into the positioning of women in social and political spheres. This study investigates the linguistic representations of women in local online news media in Mandailing and explores how these discourses either uphold or challenge patriarchal values. Utilizing a Corpus-Assisted Discourse Studies (CADS) approach, the research combines quantitative corpus analysis with qualitative Critical Discourse Analysis (CDA). The data consists of 180 news articles published between 2020 and 2025 from four local digital news platforms. AntConc 4.3.1 was used to perform word list, concordance, and collocation analyses to uncover patterns in word frequency and lexical associations. These patterns are interpreted through Van Dijk’s socio-cognitive model to understand how discursive structures reflect underlying social ideologies. The analysis reveals that while the media often depicts women as active agents and supporters of solidarity, it also contains elements that reinforce traditional roles and patriarchal norms. The findings underscore the complexity of gender representation in this local context, suggesting that media portrayals can significantly influence societal perceptions of gender roles, promoting both empowerment and the reinforcement of patriarchal values.
Mengungkap Makna di Balik Motif Tenun Ikat Lepo Lorun: Analisis Filosofis tentang Identitas Budaya dan Kreativitas: Uncovering the Meaning Behind the Lepo Lorun Ikat Woven Motif: A Philosophical Analysis of Cultural Identity and Creativity Kristianto Ratu Marius Naben; Maria Rosari Kolit; Stefania Afiarti Yelita Usboko; Yosef Laritmas; Yohanes Kelo Kwure
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.101401

Abstract

Tenun ikat merupakan salah satu ekspresi budaya yang sarat makna filosofis. Sanggar Lepo Lorun memainkan peran penting dalam pelestarian sekaligus inovasi tradisi tenun ikat di Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengungkap makna filosofis dari motif-motif tenun ikat yang dikembangkan di Lepo Lorun, memaknai kaitannya dengan identitas masyarakat Nita dan Sikka pada umumnya, serta menggali kreativitas dalam pengembangan motif baru berbasis tradisi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta dianalisis dengan teknik deskriptif, interpretatif, dan pendekatan hermeneutik. Temuan utama menunjukkan bahwa motif merak, rusa, dan dala mawarani mengandung makna simbolik mendalam yang mempresentasikan konsep estetika, spiritual, siklus kehidupan, serta harapan dalam kosmologi lokal masyarakat Nita. Ketiga motif ini memiliki fungsi yang tidak lain sebagai media komunikasi budaya yang menghubungkan generasi masa lalu dengan generasi masa kini, sekaligus menjadi instrumen pelestarian nilai-nilai tradisional dalam konteks modernisasi. Motif-motif ini digunakan secara selektif dalam konteks sosial dan ritual tertentu, dan mencerminkan sistem regulasi sosial yang kompleks. Tenun ikat Lepo Lorun tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, melainkan juga sebagai media komunikasi budaya dan identitas kolektif. Inovasi yang dilakukan dalam bentuk adaptasi motif pada produk modern menunjukkan keseimbangan antara pelestarian nilai tradisi dan relevansi kontemporer. Dengan demikian, tenun ikat Lepo Lorun menjadi manifestasi kreatif yang merepresentasikan jati diri budaya masyarakat Nita di tengah perubahan zaman.
Candi Songgoriti dalam Konstruksi Sosial: Perubahan dari Hindu ke Islam-Jawa: Songgoriti Temple in Social Construction: The Change from Hinduism to Javanese Islam Syahrul Hadiyatullah; Aditya Fajar Utama; Mayedha Adifirsta
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.102922

Abstract

Candi Songgoriti di Kota Batu, Jawa Timur, merupakan situs warisan budaya yang merekam jejak peradaban Hindu masa Mpu Sindok sekaligus menampilkan dinamika pertemuan agama dan budaya di Jawa. Di tengah arus modernisasi, situs ini tetap menjadi ruang ritual yang hidup, namun mengalami pergeseran makna yang menarik untuk dikaji karena menunjukkan negosiasi identitas keagamaan dan sejarah dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses transformasi fungsi dan makna Candi Songgoriti dari kuil pemujaan Hindu menjadi ruang spiritual Islam-Jawa. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara mendalam terhadap juru kunci dan sesepuh lokal. Analisis data dilakukan dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger yang memandang perubahan makna sebagai hasil eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur fisik Candi Songgoriti tetap mempertahankan karakter Hindu, namun maknanya direkontekstualisasi sesuai kebutuhan spiritual masyarakat. Ritual Suroan yang memadukan doa Islam dan budaya Jawa, serta ziarah Tirtha Yatra yang masih dijalankan umat Hindu, memperlihatkan koeksistensi nilai Islam dan Hindu dalam satu ruang kultural. Narasi lokal yang menghubungkan Mpu Supo dengan Sunan Kalijaga menjadi contoh objektivasi makna baru, sementara praktik penghormatan leluhur mencerminkan internalisasi nilai lintas keyakinan. Transformasi ini menegaskan bahwa pelestarian situs sejarah tidak hanya berupa konservasi fisik, tetapi juga proses sosial yang terus-menerus menegosiasikan warisan masa lalu dengan identitas keagamaan masa kini. Temuan ini menekankan pentingnya pelestarian kritis dan dialogis agar makna sejarah tetap terjaga tanpa mengabaikan realitas kultural masyarakat yang terus berkembang
Representasi Tekanan Psikologis dalam Upacara Rambu Solo’ di Tana Toraja: Perspektif Psikologi Budaya: Representation of Psychological Stress in the Rambu Solo' Ceremony in Tana Toraja: A Cultural Psychology Perspective Dea Christabelinda Robert; Marselinus Sampe Tondok
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.103516

Abstract

Rambu Solo' merupakan ritual pemakaman yang sakral dan kompleks yang dipraktikkan di Tana Toraja, yang dapat memicu tekanan psikologis karena tuntutan sosial, emosional, dan ekonomi yang dibebankan kepada keluarga penyelenggara. Kajian terhadap aspek psikologis ritual ini menjadi penting mengingat minimnya penelitian psikologi budaya yang secara khusus menyoroti dampak psikologis dari praktik adat dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tekanan psikologis yang dialami oleh keluarga selama pelaksanaan ritual tersebutt. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui studi literatur dan wawancara mendalam dengan tiga orang yang secara langsung berpartisipasi dalam upacara tersebut. Temuan menunjukkan bahwa keluarga mengalami tekanan psikologis yang signifikan, terutama karena kewajiban adat untuk melaksanakan upacara dalam skala besar, yang sering kali melebihi kemampuan finansial mereka. Banyak dari keluarga penyelenggara upacara Rambu Solo’ yang terpaksa menjual properti atau berhutang untuk memenuhi harapan tersebut, sebuah beban yang semakin diperberat oleh tekanan masyarakat untuk menyelenggarakan acara yang rumit. Keluarga-keluarga penyelenggara upacara rambu solo’  berusaha untuk mengatasinya melalui dukungan emosional di antara para anggota dan berbagai strategi manajemen stres. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Rambu Solo' berfungsi sebagai ekspresi penghormatan kepada leluhur yang bermakna, namun upacara adat tersebut juga menimbulkan beban psikologis yang cukup besar. Oleh karena itu, penyesuaian sosial budaya diperlukan untuk melestarikan makna ritual tanpa terlalu membebani keluarga yang menyelenggarakannya
Axiology: Interprestasi Nilai dalam Tabot pada Masyarakat Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu: Axiology: Interpretation of Values ​​in Tabot in the Bengkulu City Society, Bengkulu Province Rony Wirachman; Mamat Supriatna
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.103725

Abstract

Kajian akademik sebelumnya lebih banyak menyoroti aspek sejarah dan ritual perayaan, sementara dimensi nilai-nilai budaya dan sosial yang terkandung di dalamnya masih kurang dieksplorasi secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Tabot serta relevansinya dalam kehidupan sosial masyarakat Bengkulu. Kajian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang sumber datanya diambil dengan metode studi literatur yang menelaah, mengumpulkan dan menganalsis berbagai sumber tertulis berupa buku, artikel jurnal, hasil penelitian yang relevan dan berbagai kajian lapangan seperti observasi dan wawancara. Hasil kajian ini ini  menunjukkan bahwa tradisi Tabot mengandung berbagai nilai antara lain nilai utama dan nilai pendukung,  nilai utama seperti nilai religius, nilai solidaritas sosial, nilai pelestarian budaya dan nilai pedukung seperti nilai gotong royong, toleransi,  edukatif.  Nilai-nilai ini tidak hanya memperkuat identitas kultural masyarakat, tetapi juga memainkan peran penting dalam mempererat hubungan sosial antarwarga. Kajian ini memberikan kontribusi pada kajian antropologi budaya dan mendorong pelestarian nilai-nilai lokal di tengah arus globalisasi.
Kontras Simbolisme Anjing dalam Novel Cantik Itu Luka dan Makna Kultural Anjing dalam Budaya Jawa: The Contrast of Dog Symbolism in the Novel "Beauty is a Wound" and the Cultural Meaning of Dogs in Javanese Culture Titik Setiowati; Dyah Ayu Prasetyaningrum; Fitriati Zaida
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i1.104769

Abstract

Penelitian ini menganalisis kontradiksi antara penggunaan simbolisme anjing dalam karya tulis “Cantik Itu Luka” oleh Eka Kurniawan dan makna kultural anjing dalam budaya Jawa. Narasi dalam novel menunjukkan penggunaan simbolisme anjing untuk ungkapan negatif dalam masyarakat. Dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes, penelitian ini menyajikan representasi simbolisme anjing dalam novel sebagai personifikasi nafsu dan degradasi moral manusia, serta kontradiksi makna anjing yang dipahami memiliki nilai spiritual dan penjagaan dalam budaya Jawa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis semiotik Barthes melalui pembacaan tekstual terhadap tanda-tanda dalam teks sastra untuk mengungkap makna denotatif dan konotatif simbolisme anjing, yang kemudian diinterpretasikan dalam konteks budaya Jawa. Berdasarkan data yang diperoleh, hasil analisis merepresentasikan nafsu dan degradasi moral yang menjadi kritik langsung terhadap kebiasaan masyarakat yang cenderung mengikat kata anjing dengan hal-hal negatif dalam praktik bahasa sehari-hari. Novel menggunakan kontras tersebut untuk menyingkap krisis budaya yang terjadi dalam masyarakat. Signifikansi penelitian ini terletak pada upaya membongkar bagaimana karya sastra menggunakan simbol yang akrab untuk merefleksikan krisis nilai budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lunturnya moralitas dan kerusakan tatanan sosial berakar pada kegagalan masyarakat dalam melestarikan nilai tradisi dan mengabaikan kearifan budaya.