cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 145 Documents
Penghormatan kepada Para Leluhur dalam Ritus Bau Lolon dan Perbandingannya dengan Devosi kepada Para Kudus Bernadus, Mikael Emi
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.69815

Abstract

Kelompok masyarakat tertentu menganggap bahwa penghormatan kepada para leluhur sebagai tindakan berhala, kepercayaan sia-sia, dan takhayul. Selain itu, masyarakat yang mempraktikkan ritus penghormatan kepada para leluhur juga belum memahami bahwa ritus tersebut tidak bertentangan dengan iman Kristen. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang praktik penghormatan kepada para leluhur dalam ritus bau lolon pada masyarakat Lamaholot di Flores Timur dan membandingkannya dengan devosi kepada para kudus dalam Gereja Katolik. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara. Selain menggunakan teknik wawancara, penulis juga membuat studi kepustakaan. Penulis mencari dan membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan tema tulisan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghormatan kepada para leluhur memiliki hubungan dengan penghormatan Gereja kepada para kudus. Dalam ritus bau lolon, masyarakat Lamaholot menyatakan rasa hormat kepada para leluhur dengan memberikan sesajian dan mengungkapkan doa. Hal ini dilakukan karena para leluhur dianggap sangat berjasa dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu dalam devosi, para kudus dihormati karena mempunyai kualitas-kualitas hidup yang lebih unggul dari manusia biasa lainnya. Karena sejalan dengan ajaran iman Kristen, maka praktik penghormatan kepada para leluhur dalam ritus bau lolon yang dipraktikkan oleh masyarakat Lamaholot bukanlah tindakan berhala, takhayul dan kepercayaan yang sia-sia
Konsep Muku Ca Pu’u Neka Woleng Curup dan Implementasinya dalam Sila Persatuan Indonesia Bernardino, Yuliano; Ryanto, Armada; Adon, Matias J.
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.69939

Abstract

Indonesia adalah negara yang unik di mana di dalamnya memiliki karakteristik budaya yang beragam seperti suku, ras, agama, dan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi  Goet “Muku Ca Pu’u Neka Woleng Curup” dalam masyarakat Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur dengan Sila Ketiga Pancasila. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif untuk mengkaji secara detail terkait fenomena. Subjek penelitian yang dipilih adalah masyarakat Manggarai Timur yang kemudian dilakukan pengumpulan data melalui metode wawancara, dan observasi. Data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis. Hasil penelitian digunakan untuk menunjukkan bahwa peribahasa Muku Ca Pu’u Neka Woleng Curup secara aktif menerapkan nilai-nilai Sila Ketiga Pancasila dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Manggarai Timur, dengan menjunjung tinggi semangat persatuan dan kerukunan antar-etnis, misalnya antara suku-suku. Selain itu, nilai-nilai lokal dan tradisi budaya mereka juga tetap terjaga. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana Sila Ketiga Pancasila dapat diimplementasikan dalam keragaman budaya Indonesia
Pelestarian Tradisi Djenggolo: Studi Kasus Desa Wisata Janggalan Kabupaten Kudus Chusni, Amul; Falaq, Yusuf
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.71396

Abstract

Tradisi merupakan kebiasaan yang telah diwariskan dari satu generasi ke generasi dan terus dilestarikan dalam suatu masyarakat. Di Kota Kudus, warisan budaya yang kaya seperti tradisi Djenggolo masih hidup hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tradisi "Djenggolo" di Desa Wisata Janggalan, menganalisis proses dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut, serta menjelaskan bagaimana tradisi ini dilestarikan di Desa Wisata Janggalan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ini adalah masyarakat di Desa Wisata Janggalan, dengan objek penelitian berfokus pada desa tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi "Djenggolo" di Desa Wisata Janggalan merupakan warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi, mencakup berbagai nilai budaya seperti nilai religius, budaya, sakral, gotong-royong, ekonomi, karakter, dan kreativitas. Pelestarian tradisi ini masih berlangsung hingga saat ini dan merupakan tantangan bagi masyarakat Janggalan untuk menjaga warisan budaya ini agar tidak punah.
Tradisi Cear Cumpe di Kampung Runtu: Ekspresi Eksistensi Manusia Menurut Soren Kierkegaard Jebar, Sirilus; Riyanto, Armada; Adon, Mathias Jebaru
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.71598

Abstract

Artikel ini berfokus untuk mendalami konsep ekspresi eksistensi manusia dengan merinci dan menganalisis ritual cear cumpe, sebuah tradisi unik di Kampung Runtu, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tradisi ini bertujuan untuk memberi nama kepada bayi yang baru lahir, dan biasanya dilakukan setelah bayi tersebut berumur tiga sampai tujuh hari. Pendekatan filosofis Kierkegaard digunakan sebagai landasan teoretis untuk memahami makna mendalam dari ekspresi keberadaan manusia melalui ritual ini. Tujuan utama artikel ini adalah mengungkap dan menganalisis bagaimana ritual cear cumpe menjadi bentuk ekspresi eksistensi manusia, serta menjelaskan relevansi pemikiran Kierkegaard dalam konteks tradisi ini. Artikel ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman tentang keberadaan manusia dalam konteks budaya lokal, dan mengaitkannya dengan pemikiran filosofis. Penulis menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui studi literatur baik buku, jurnal ataupun artikel yang terkait. Pendekatan filosofis Kierkegaard diterapkan untuk merinci elemen-elemen eksistensial yang terkandung dalam ritual ini. Penulis menemukan bahwa ritual cear cumpe bukan sekadar serangkaian tindakan formal, tetapi merupakan ekspresi mendalam dari eksistensi manusia. Ritual ini mencerminkan keberadaan individual dan kolektif, serta menggambarkan perjalanan spiritual dalam kerangka pemikiran Kierkegaard. Artikel ini menyoroti signifikansi ritual ini dalam memahami konsep eksistensi manusia di tengah kompleksitas budaya dan nilai lokal. Artikel ini memberikan kontribusi pada pemahaman lintas budaya tentang ekspresi eksistensi manusia. Implikasi praktis termasuk peningkatan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya dan pemikiran filosofis dalam konteks lokal. Selain itu, artikel ini dapat menjadi dasar untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal, sambil membuka ruang dialog antara tradisi lokal dan pemikiran global
Proses, Makna dan Relevansi Upacara Pongo dalam Kehidupan Sosial-Budaya Masyarakat Lempe, Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat Besli, Eugenius; Solosumantro, Heribertus
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.73234

Abstract

Keberadaan orang Manggarai sebagai pendukung kebudayaan menghasilkan berbagai warisan budaya yang menjadi ciri khas budaya Manggarai itu sendiri. Setiap proses budaya yang dilakukan memiliki nilai, implikasi dan relevansi yang penting bagi pembangunan hidup budaya suatu masyarakat. Perkembangan cara berpikir dan bertindak manusia zaman ini menghasilkan banyak kreasi, olahan dan tinjauan abstraksi yang mewarisi nilai-nilai sosial kehidupan yang berintegritas. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses, makna dan relevansi upacara pongo dalam kehidupan Masyarakat Lempe dan juga sebagai tinjauan observasi kehidupan sosial-budaya dalam ranah kebudayaan masyarakat yang mengikat dan mentradisi. Metode penulisan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang mencakup studi kepustakaan, wawancara dan observasi sederhana di lapangan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa proses dan makna upacara Pongo itu terdiri dari tiga tahap utama yakni tahap awal, tahap pelaksanaan dan tahap akhir. Tahap awal upacara Pongo mencakup tahap wa mata dan tahap nempung woe, tahap pelaksanaan mencakup tahap tuak we’e, penawaran belis (paca), pongo kempu dan karong molas, serta tahap akhir mencakup tahap pedeng dan pembagian seng tadu lopa. Sementara itu, relevansi upacara pongo merujuk pada nilai-nilai budaya yang mengangkat dan memberdayakan kearifan lokal. Upacara pongo menghidupi sistem kekeluargaan dengan sikap penghargaan yang melampaui kedudukan sosial masyarakat dalam sistem yang berlaku. Nilai-nilai yang ditampilkan dalam acara pongo seperti tanggung jawab, menghormati satu sama lain, kekeluargaan yang tinggi, cinta kasih menjadi tolak ukur pembangunan kehidupan sosial-budaya masyarakat dalam sistem pemerintahan yang dijalankan. Mentalitas pembangunan itu hemat penulis adalah spirit pembangunan ruang sosial yang inklusif, terbuka dan transparan dalam menanggapi situasi zaman
Adat Istiadat Kematian dan Kelahiran Suku Dayak Banyadu Barella, Yusawinur; Aminuyati, Aminuyati; Saidi, Nurhajijah; Aprilia, Amanda Rechita Putri; Arianto, Arianto; Amanda, Yoga; Soraya, Ayu; Yusuf, Andryan
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.61023

Abstract

Dayak sebutan atau suku bagi penduduk asli pulau Kalimantan, Dayak Banyadu terkenal mempunyai ciri khas berbagai macam budaya sendiri, Dayak Banyadu memiliki perbedaan budaya dari budaya-budaya etnis lainnya, keadaan inilah yang selalu menarik untuk amati khususnya dalam konteks adat istiadat Dayak Banyadu. Penulis ingin melihat bagaimana adat istiadat yang terdapat pada suku Dayak Banyadu. Penelitian ini menyajikan hasil yang didapatkan dilapangan di Kabupaten Bengkayang. Data tersebut diperoleh dari sumber surveidilapangan dan melakukan wawancara. Adat istiadat Dayak Banyadu memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri dapat ditemukan pula persamaan pada beberapa unsur cara adat.  Adat istiadat kematian memperlihatkan bagaimana Kematian dianggap sebagai hal yang sakral, penting dan berharga dalam siklus kehidupan manusia. Tradisi suku Dayak Banyadu dalam proses kematian bentuk dari nenek moyang yang diturunkan ke generasi muda pada proses adat kematian memiliki kepercayaan yang sakral apabila dilanggar tata cara proses kematian Terdapat prosesi yang dilakukan apabila ada yang eninggal, dan dilakukannya adat istiadat ini dimulai dari sebelum orang yang meninggal dimakamkan hingga dimmakamnya. Kedua proses adat istiadat kelahiran dan kematian menjadi salah satu bentuk tradisi suku Dayak Banyadu dari nenek moyang hingga turun ke generasi muda saat ini dan dipercayai menjadi sakral bagi suku Dayak Banyadu. Tradisi kelahiran ini dikhususkan pada seorang ibu yang hamil hingga melahirkan. Mereka akan melewati ritual dan larangan-larangan pada saat mengandung hingga melahirkan, baik itu larangan untuk memakan makanan yang tidak baik untuk kesehatan ibu dan anak hingga kegiatan keseharian yang tidak boleh dilakukan.
Progresifitas Hukum Adat Dayak Kanayat’n dalam Menjaga Ekosistem Lingkungan Hidup Satria, Rahmad; Yuliastini, Anita; Fitrian, Yuko; Astono, Agustinus
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.66723

Abstract

Hukum Adat, meskipun diakui keberadaannya oleh UUD 1945, tetapi dalam faktanya masih terdapat paradoks antara Hukum Adat dan Hukum Nasional. Berdasarkan fakta yang didapatkan di Provinsi Kalimantan Barat, khususnya di Daerah Kabupaten Landak, Masyarakat Hukum Adat, dalam hal ini Masyarakat Dayak Kanayat’n, sering dijadikan ”kambing hitam” dalam kerusakan terhadap ekosistem lingkungan, terutama dalam peristiwa kebakaran hutan. Kesalahpahaman dalam hal tersebut kemudian menjadi suatu kesimpulan bahwa Masyarakat Dayak Kanayat’n memiliki kecenderungan untuk dianggap sebagai masyarakat yang konservatif, tidak ingin berpikir maju, dan selalu mempertahankan status quo. Anggapan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh Masyarakat Dayak Kanayat’n, terlebih aturan Hukum Adat Dayak Kanayat’n sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, kemudian diprogresifkan melalui Musyawarah Adat (Musdat). Metode penelitian hukum berupa model penelitian yuridis sosiologis. Metode pengumpulan data menggunakan bahan hukum primer serta bahan hukum sekunder. Kesimpulannya, pemikiran atau pemaknaan hukum progresif dalam musyawarah adat Dayak Kanayat’n menunjukkan bahwa peraturan adat, terutama dalam pelestarian lingkungan, jika diterapkan sesuai dengan tempat dan waktu yang tepat, mengarah pada gagasan bahwa hukum dibuat untuk memanusiakan seluruh manusia, bukan sebaliknya. Musyawarah adat Dayak Kanayat’n pada tahun 2010 hadir sebagai gerbang penunjuk arah bagi setiap masyarakat, terutama masyarakat Dayak Kanayat’n, yang membutuhkannya. Dalam konteks ini, hukum adat memperoleh validitas dan relevansi yang mendalam dalam upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Analisis Makna Indo sebagai Tomeperan dari Perspektif Teologi Feminisme di Mamasa Yosbekasa, Yosbekasa; Pute, Jimmi Pindan; Sampe, Naomi; Yeunike, Yeunike
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.72317

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis makna Indo sebagai tomeparan dalam budaya Mamasa dan kaitannya dengan tologi feminisme. Penelitian ini dikembangkan dalam penelitian kualitatif atas dasar pendekatan etnografi. Kerangka teori meliputi teori, kontrak sosial, budaya dan makna yang dianalisis dalam pembahasan. Kajian ini meganalisis kesetaraan gender dalam konsep Indo sebagai tomeperan dalam keluarga, yang sudah terstruktur dan tertanam dalam budaya masyarakat di Mamasa serta keterkaitannya  terhadap kesetaraan gender dalam masyarakat. Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa Indo sebagai tomeperan punya peran penting sebagai pendoa, penjaga dan pemegang kendali serta menjadi motor pergerak dalam keluarga. Konsep Indo sebagai tomeperan di Mamasa membuktikan bahwa maskulin dan feminim itu setara. Ini adalah suatu bentuk teologi feminis yang menjadi acuan penting bagi daerah Mamasa, khususnya di daerah Sesenapadang.
Strategi Globalisasi Potensi Kebudayaan Masyarakat Adat Kampung Pulo Provinsi Jawa Barat Melalui Sinema Aji, Fajar; Sunarmi, Sunarmi; Soewarlan, Santosa
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.73469

Abstract

Masyarakat Adat Kampung Pulo merupakan wujud nyata warisan kebudayaan yang masih ada dan terus dilestarikan. Potensi kebudayaan Masyarakat Adat Kampung Pulo termanifestasikan dalam bentuk budaya benda dan tak benda yang masih otentik dan unik. Lokasi Masyarakat Adat Kampung Pulo yang berada di tengah-tengah Pulau Panjang di kelilingi Situ Cangkuang membuatnya sangat eksotis dan menarik. Artikel ini bertujuan mendiskusikan strategi globaliasi potensi kebudayaan yang ada di Masyarakat Adat Kampung Pulo melalui sinema. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan subjektif digunakan untuk proses secara deskriptif. Analisis interaktif dilakukan berdasarkan hasil data untuk mendeskripsikan ke dalam bentuk kata–kata potensi kebudayaan serta strategi globaliasi Masyarakat Adat Kampung Pulo melalui sinema. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi rumah adat dan aktivitas adat merupakan kebudayaan yang masih terjaga dalam ruang dan waktu Masyarakat Adat Kampung Pulo. Hal ini dapat menjadi latar yang unik dan estetik, serta konteks yang koheren dalam storytelling sinema sehingga sinema menjadi medium efektif, konstruktif, dan populer sebagai strategi mengenalkan secara global Masyarakat Adat Kampung Pulo.
Mengeksplorasi Umma Kalada Masyarakat Adat Loura Sebagai Sumber Belajar IPS SD Pingge, Heronimus Delu
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.75753

Abstract

Siswa Sekolah Dasar memerlukan pendekatan belajar yang kontekstual. Pemanfaatan kebudayaan yang ada di lingkungan sekitas siswa dalam pembelajaran merupakan pendekatakan belajar kontekstual. Pengunaan kebudayaan sebagai pendekatan belajar dikenal dengan etnopedagogi. Pemanfaatan kebudayaan sebagai sumber belajar merupakan kemampuan dengan membuat pemetaan materi pembelajaran dengan unsur kebudayaan lokal yang ada. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal Umma Kalada masyarakat adat Loura yang berada di Sumba Barat Daya serta mengeksplorasi umma kalada sebagai Sumber belajar IPS di Sekolah Dasar. Penelitian dilakukan dengan metode etnografi. Data dikumpulkan lewat dengan mewawancarai tokoh adat, dokumentasi, dan studi literatur. Data yang diperoleh dianalisis mengunakan metode kualitatis. Hasil penelitian menunjukan Umma Kalada sebagai kearifan lokal dalam bentuk rumah tradisional dan juga sebagai pandangan hidup. Rumah adat Umma Kalada berbahan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang pertama masyarakat Loura, mengandung nilai religius, nilai sosial, dan pendagogi. Umma Kalada dapat dijadikan sumber belajar IPS SD pada materi Sumber Daya Alam yang mempengaruhi aktivitas ekonomi, mengenal dan menghargai perbedaan, toleransi, dan kerjasama.

Page 10 of 15 | Total Record : 145