cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
gtm_jd@yahoo.co.id
Phone
+6287861886493
Journal Mail Official
adetantri87@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No.11 Singaraja Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Filsafat Indonesia
ISSN : 26207990     EISSN : 26207982     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jfi.v3i3
Core Subject : Education,
Jurnal Filsafat Indonesia is a scientific journal published by LPPM Ganesha Educational University, which publishes scientific articles on the development and research in philosophy. Journal of Philosophy is published three times a year, in April, June, and September. Editorial Team Journal of Philosophy accepts manuscripts in the field of philosophy which have never been published in other media. The Editorial Team has the right to edit the text to the extent that it does not change the substance of its contents.
Articles 290 Documents
Politik Identitas Era Post-Truth di Indonesia dalam Perspektif Language Games Ludwig Wittgenstein Gregorius Loudowick Lengga Wangge; Robert Wijanarko
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.53628

Abstract

This paper aims to explore the thoughts of Ludwig Wittgenstein's language games which are appropriate for caring for the political world in Indonesia. In this post-truth era, Indonesia as a plural nation is being hit by the phenomenon of identity politics by bringing up religious and ethnic issues. The truth is no longer easy to identify objectively because of the political element of interest under the guise of identity, with the pretext that it involves the emotional aspect of the public. As a result, objective truth is obscured by the emotional nuances of religion and ethnicity that are formed. In analyzing this phenomenon, we use the method of critical reading of the phenomenon of religious identity politics in Indonesia in the perspective of Wittgenstein's thought. Through the perspective of Ludwig Wittgenstein's language games, we want to bring back the pluriformity of the Indonesian nation in the spirit of Bhinneka Tunggal Ika. Through Wittgenstein's thought, the author wants to analyze the plurality of the Indonesian nation as an objective fact that describes the real reality of the Indonesian nation. The reality of this pluriformity is an undeniable reality and makes every people aware of the existence of autonomy, the existence of their respective language games that cannot be mixed up. Therefore, to realize unity and unity, it is necessary to idealize towards a unity that respects each other. This is summarized in the motto Bhinneka Tunggal Ika.
Mekanika Newtonian dan Signifikansi Filosofisnya: Kajian Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Muhamad Taufiq; Ida Kaniawati
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.53649

Abstract

Mekanika Newtonian telah memotivasi berbagai ide dan penerapan sains khususnya tentang gaya, massa, gerak, dan energi pada fenomena gerak benda dan penyebabnya. Hukum Newton tentang gerak selama ini diakui sebagai salah satu pengetahuan ilmiah yang empirik dan kokoh menjelaskan berbagai fenomena alam khususnya tentang gerak. Namun demikian, perlu dilakukan kajian terkait signifikansi filosofis teori mekanika Newtonian. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep mekanika Newtonian dalam filsafat ilmu dan signifikansinya (aspek ontologi, epistemologi dan aksiologinya). Artikel ini disusun melalui studi literatur dengan metode critical literature review menggunakan lima tahapan, yaitu menentukan topik, menentukan kriteria inklusi dan eksklusi, melakukan pencarian literatur, mengevaluasi literatur yang ditemukan, dan menulis laporan hasil studi. Berdasarkan hasil analisis literatur, disimpulkan bahwa sejarah perkembangan teori Mekanika Newtonian merupakan bagian dari perkembangan mekanika klasik hingga mekanika modern. Teori Mekanika Newtonian atau juga dikenal sebagai Hukum Newton tentang gerak diperkenalkan dan berkembang pada era Periode Awal Sains (1550–1800 M). Mekanika Newtonian dalam tinjauan ontologi merupakan pemikiran yang panjang mengenai konsep gerak benda dan membahas mengenai gaya yang bekerja pada benda. Secara epistemologis, teori Mekanika Newtonian tidak semata-mata bersumber dari gagasan Isaac Newton, melainkan merupakan hasil usaha kolektif sekelompok ilmuwan yang mengkaji dan mendalami fenomena gerak alam. Dari perspektif aksiologis, Mekanika Newton menawarkan berbagai keuntungan praktis dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki arti penting, khususnya dalam bidang pendidikan fisika, khususnya mekanika. Ini melampaui sekadar eksplorasi fakta, prinsip, atau hukum karena mencakup nilai-nilai moral yang dapat ditanamkan kepada peserta didik sebagai alternatif pendekatan pendidikan karakter.
Dilema Moral Teknik “Three-Parents-Baby” Pada Mitochondrial Replacement Therapy Asyti Febliza
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.53689

Abstract

Penyakit mitokondria merupakan salah satu penyakit maternal yang belum dapat disembuhkan. Salah satu cara untuk menurunkan angka penyakit mitokondria yaitu melalui terapi pengganti mitokondria (Mitochondrial Replacement Therapy). Artikel ini bertujuan untuk membahas teknik Mitochondrial Replacement Therapy (MRT) dari aspek moral melalui kajian teoritis dari berbagai referensi yang sesuai. Menghindari terjadinya dehumanisasi terhadap penerapan teknik MRT, maka teknik MRT terikat oleh nilai (value-bound) yang diatur melalui berbagai kebijakan pemerintah. Selanjutnya, teknik MRT dapat dipandang dari paham deontologi dan paham teleologi. Paham deontologi dalam teknik MRT memberikan rekomendasi cara yang baik dalam melaksanakan MRT melalui aturan kebijakan pemerintah. Di sisi lain, paham teleologi mengarahkan teknik MRT hanya boleh diberikan kepada pasien dengan tujuan untuk mencegah penularan penyakit mitokondria yang parah. Kedepannya dapat dilakukan pengkajian perkembangan teknik MRT dari waktu ke waktu ditinjau dari perkembangan gagasan ilmiah. Perkembangan gagasan ilmiah yang diangkat mulai dari perkembangan rekayasa genetika, munculnya fertilisasi in-vitro sampai kepada pengembangan teknik fertilisasi in-vitro.
The Perspective of Plato Concerning the Position of Love in Philosophy Analysis of The Symposiu Muhammad Irfan Syaebani; Untung Yuwono; Embun Kenyowati Ekosiwi
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.53706

Abstract

Plato was the first philosopher who discussed love philosophically. The discussion can be found in his work entitled Symposium. Through text analysis of Symposium, the perspective of Plato about love and the position of love in philosophical discourse can be concluded. For Plato, ultimate love does not have a relation to the body anymore. Plato believed that love is hierarchical, and it ascends from the lower level to the higher level as illustrates in Scala Amoris. The ultimate love is about a mental state which aims to gain absolute beauty and it is the highest level of love. However, in romantic relationships, love is not only about the mental state but also physical contact because romantic love relates to sexual things such as sexual intimacy. And according to Plato, love that still has attachment to the body is the lowest level of love. Thus, Plato's perspective about romantic love cannot be said as positive because romantic love strongly relates to the body. Plato believed that the highest level of love has left body behind, and it only focuses on mental aspiration.
Productive Intolerance and Utilitariansm Muhammad Rizkita Muhammad; Kirwan; Fatkhan; Niko Sulpriyono
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.55041

Abstract

In its classical understanding, tolerance means restraining oneself and accepting differences even when one may have opposing views. Tolerance is reciprocal and is the essence of liberal democracy. In practice, however, tolerance has limitations, specifically the idea that it is impossible to extend tolerance to individuals who exhibit intolerance. This condition leads to the consequence that there is no way to determine the limits of tolerance, and any attempt to do so would be considered an arbitrary act of intolerance. To address this problem, the concept of productive intolerance is proposed. Through this concept, intolerant actions can be justified based on their consequences. Intolerant actions can be carried out as a form of punishment against specific parties that disrupt the fulfillment of citizens' rights. In order for such actions to be productive, the punishment must be proportionate and serve the utility function for the public, promoting happiness and avoiding pain. The concept of productive intolerance finds its roots in the moral theory of utilitarianism. The argument is that productive intolerance can be highly beneficial in understanding and justifying the repressive actions of the Indonesian government towards radical Islamic groups such as the Front Pembela Islam (FPI).
A Proposisi, Logika dalam Berpikir Sebagai Dasar Penalaran Ilmiah dalam Menghasilkan Pengetahuan Baru Nada Shofa Lubis; Fenti Farleni; Dase Erwin Juansah; Lukman Nulhakim
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.56233

Abstract

Pemahaman dan pengetahuan tentang proposisi, logika, dan penalaran ilmiah saat ini menjadi semakin penting bagi anggota masyarakat yang secara teratur membutuhkan konfirmasi fakta, bukan hanya untuk akademisi dalam disiplin filsafat. Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang logika berfikir sebagai dasar penalaran ilmiah dalam menghasilkan pengetahuan baru berdasarkan proposisi. Penelitian ini merupakan jenis penelian kualitatif deskriptif berbasis kepustakaan dengan menggunakan berbagai sumber berupa buku, artikel jurnal, prosiding, dan sumber lainnya yang mendukung analisis dan pembahasan tema pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proposisi diperlukan untuk bernalar dan membuktikan sesuatu, tetapi proposisi adalah hasil dari beberapa pemahaman. Pertumbuhan pengetahuan dan evaluasi pengetahuan tertentu keduanya sangat bergantung pada logika. Logika berfungsi sebagai dasar penalaran ilmiah berupa pemikiran yang jelas, tepat, dan sehat karena peran logika adalah menemukan, menciptakan, dan menerapkan temuan yang ditegakkan. Pemikiran yang valid harus mengikuti norma-norma yang berlaku, dan logika adalah ilmu yang menawarkan pedoman ini. Hal ini disebabkan oleh persyaratan bukti kebenaran yang terintegrasi dalam penalaran ilmiah antara kebenaran akal dan kenyataan, atau antara deduktif dan induktif. Keduanya menggunakan hipotesis sebagai penghubung di antara mereka. Penalaran menghasilkan ipengetahuan iyang dikaitkan idengan ikegiatan iberpikir. iPenalaran merupakani isuatu iproses iberpikir idalam menarik isesuatu ikesimpulan iyang iberupa pengetahuan. Jadi, ipenalaran imerupakan isalah satu iatau iproses idalam iberpikir iyang menggabungkanidua ipemikiran iatau ilebih iuntuk menarik isebuah ikesimpulan iuntuk mendapatkani pengetahuan ibaru.
The Tradisi Semedi di Makam Raja-Raja Masjid Gedhe Mataram Kotagede Yogyakarta Tinjauan Filsafat : Ontologi Yulita Jumada Barqah; Ahmad Fauzi
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.56289

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tradisi masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta, terkait kegiatan semedi di depan makam raja-raja Mataram Islam untuk mendapatkan wasilah atau berkat. Tradisi ini dilihat dari aspek ritualistik yang dikorelasikan dengan filsafat ontologi. Dasar teori yang digunakan adalah teori filsafat ontologi dan teori mistik. Dalam teori ini, ontologi lebih melihat semedi dalam kacamata metafisika dan mistik sendiri dilihat dari aspek kebatinan. Pendekatan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggabungkan metode etnografi, yaitu peneliti melakukan studi lapangan terkait sebuah budaya dengan analisis observasi dan wawancara. Informan dari penelitian ini adalah abdi dalem penjaga makam dan peziarah yang melakukan ritual semedi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan manusia mencari sebuah realitas kebenaran yang menurut keyakinannya ada meski dalam kenyataannya dianggap abstrak atau nonempiris tetap bisa diterima oleh akal rasional manusia dan representatif dari kajian teori mistik dapat menjawab sebuah tradisi di suatu kelompok masyarakat yang mampu menafsirkan suatu pengalaman spiritual dengan ilmu kebatinan. Simpulan dari artikel ini filsafat ilmu ontologi bisa menjadi jembatan untuk menjelaskan sebuah realitas yang terjadi di masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta terkait tradisi budaya non empiris dalam kacamata dimensi ritualistik dan metafisika.
STUDI KOMPARATIF EKSISTENSI MANUSIA DALAM PANDANGAN J.P SARTRE DAN S.H NASHR Mukhammad Lutfi
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.56528

Abstract

Penelitian ini mengkaji eksistensi manusia dalam pandangan Jean Paul Sartre dan Sayyed Hossein Nasr. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis digunakan untuk memaparkan bagaimana eksistensi manusia pandangan Barat dan Islam yang dalam hal ini difokuskan pada pemikiran Sartre dan Nasr. Jenis penelitian ini adalah library research. Hasilnya ditemukan ada titik temu sekaligus titik pisah dalam pemikiran keduanya. Titik temu pandangan Sartre dan Nasr terletak pada manusia sama-sama bereksistensi sebagai subjek dan objek. Titik pisah yang sangat mencolok terutama terilihat bagaimana keduanya melihat faktor lain di luar diri manusia, bisa jadi itu makhluk lain, manusia lain, atau bahkan Tuhan. Dilihat dari sisi manusia sebagai objek, Sartre berpendapat bahwa manusia yang tidak memiliki kesadaran akan nasibnya, maka manusia itu tergolong ’etre-en-soi, sementara Nasr melihatnya sebagai fitrah bagi manusia karena Tuhan telah menentukan nasib manusia sebelumnya. Dari sisi subjek, Nasr berpendapat manusia memang memiliki kekuasaan atas dirinya (khalīfah) sebagai subjek, namun realitas itu merupakan amanat yang diberikan Tuhan kepada manusia, sementara Sartre mengartikan kekuasaan atau kebebasan itu sebagai sesuatu yang mutlak (’etre-pour-soi). Meski faktisitas menjerat dan menghantui manusia, Sartre menganggapnya sebagai materi kosong belaka. Nasr mengatakan manusia aktif sebagai khalīfah dan pasif menjadi hamba.
Urgensi Filsafat Bahasa dalam Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Bahasa Berbasis Outcome Based Education : Dina Handayani; Zaim
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.56834

Abstract

Filsafat bahasa mengandung upaya untuk menganalisis unsur-unsur umum dalam bahasa sepertui makna, acuan (referensi) kebenaran, verifikasi, tindak tutur dan ketidaknalaran. Saat menyusun dan mengembangkan kurikulum untuk belajar bahasa Indonesia, penting untuk mengingat prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, kepraktisan, dan efektivitas. Penting juga untuk memperhatikan tujuan, isi, pengalaman belajar, dan penilaian. Artikel ini berbicara tentang urgensi filosofi bahasa dalam kaitannya dengan penciptaan kurikulum Indonesia berbasis pendidikan berbasis hasil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan betapa pentingnya filsafat bahasa dalam pembuatan kurikulum bahasa. Kajian ini menggunakan metode yang disebut “literature review” yang mengumpulkan informasi dari sumber pustaka. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh gambaran bagaimana pengaruhnya terhadap perencanaan dan pengembangan kurikulum pendidikan berbasis hasil (OBE) Indonesia di perguruan tinggi, tidak hanya dalam hal penetapan tujuan tetapi juga dalam hal keterampilan bahasa dan konten untuk belajar bahasa Indonesia.
Hermeneutika Pembebasan Farid Esack Asnawan; Oqik Suherlan
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i2.57647

Abstract

Farid Esak adalah seorang pemikir Muslim Afrika Selatan yang berusaha menafsirkan Al-Qur'an dengan cara baru untuk menemukan jawaban atas masalah masyarakat dan tantangan di zamannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan dengan analisis deskriptif dan pendekatan sejarah filosofis, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (a) menganalisis teks itu sendiri; (b) menelusuri secara kritis akar sejarah dari latar belakang tokoh dan mengapa ia menganut ide-ide hermeneutika pembebasan; (c) menganalisis kondisi sosiohistoris yang melingkupi tokoh dan sosialnya serta menemukan struktur dasar bangunan pemikiran Farid Esak yang sesuai dengan konteks latar sosial-historisnya. Kunci hermeneutika pembebasan Farid Esack adalah Taqwa, Tauhid, al Nas, Mustad'afin fi al Ard, Adl dan Qisth, serta Jihad. Dalam pandangan Farid Esack, orang kafir berbeda dengan fundamentalis Islam. Dia kemudian merekonstruksi ide ini dengan menggali konsep Iman, Islam dan Kufr, menyimpulkan bahwa kekafiran tidak hanya terkait dengan ketuhanan tetapi juga mencari keadilan, menyangkal kesetaraan, menghalangi amal dan melakukan penindasan.