cover
Contact Name
Herry Irawansyah
Contact Email
herryirawansyah@um.ac.id
Phone
+6285345138335
Journal Mail Official
herryirawansyah@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat Jalan Jenderal Achmad Yani KM 35,5 Banjarbaru, Kalimantan Selatan - 70714
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JTAM ROTARY
ISSN : 27216225     EISSN : 27456331     DOI : https://doi.org/10.20527/jtam_rotary.v2i2
JTAM Rotary diterbitkan oleh Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. JTAM Rotary merupakan jurnal terbuka yang dapat diakses siapapun, baik itu peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang teknik mesin. JTAM Rotary terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan bulan September. JTAM Rotary berfokus pada jurnal-jurnal mahasiswa teknik mesin di bidang keahlian Konversi Energi, Desain dan Konstruksi, Manufaktur, dan Rekayasa Material.
Articles 121 Documents
PENGARUH FRAKSI VOLUME HYBRID COMPOSITE BULU ITIK DAN SERAT PURUN TIKUS BERMATRIK POLYSTER TERHADAP KEKUATAN TEKAN DAN BENTUK PATAHAN Syarief, Akhmad; Fauzi, Dimas Habib
JTAM ROTARY Vol 5, No 2 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i2.9766

Abstract

Material komposit umumnya dipahami sebagai sebuah material gabungan antara sebuah matrik dan satu atau beberapa penguat (reinforced), dengan sifat berbeda satu dengan yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kekuatan tekan serta menganalisis bentuk patahan dari hybrid composite bulu itik (Anas Plathycus Borneo) – serat purun tikus (Eleocharis Dulcis) bermatriks polyester terhadap uji tekan. Pengujian tekan yang dilakukan menggunakan standar ASTM D1621-00 . Hasil penelitian diperoleh kuat tekan tertinggi dimiliki oleh spesimen dengan fraksi volume 10% bulu itik – 90% serat purun tikus, yaitu 130,98 MPa dan nilai kuat tekan terendah dimiliki oleh spesimen dengan fraksi volume 90% bulu itik – 10% serat purun tikus, yaitu 86,29 Mpa. Nilai tersebut terlihat bahwa semakin tinggi komposisi purun tikus maka semakin tinggi kuat tekannya dan jika semakin tinggi komposisi serat bulu itik makan nilai kuat tekannya akan menurun. Spesimen uji tekan dengan nilai tertinggi dan terendah mengalami jenis patahan Fibre Pull Out.Composite materials are generally understood as composite materials between a matrix and one or several reinforced (reinforced), with different properties from one another. The purpose of this study was to determine the value of compressive strength and to analyze the fracture shape of the hybrid composite of duck down (Anas Plathycus Borneo) – water chestnuts (Eleocharis Dulcis) fiber with a polyester matrix against compression tests. Compressive testing was carried out using the ASTM D1621-00 standard. The results showed that the highest compressive strength was obtained by a specimen with a volume fraction of 10% duck hair – 90% water chesnuts fiber, namely 130.98 MPa, and the lowest compressive strength value was owned by a specimen with a volume fraction of 90% duck hair – 10% water chesnuts fiber 86.29 MPa. It can be seen that the higher the composition of the water chesnuts, the higher the compressive strength, and if the higher the composition of the duck hair fiber, the compressive strength value will decrease. The compressive test specimens with the highest and lowest values experienced a type of Fiber Pull Out fracture.
PENGARUH CATALYTIC CONVERTER BERBAHAN ALUMUNIUM, SENG TERHADAP KEMAMPUAN REDUKSI EMISI GAS BUANG, DAN PERFORMA PADA SEPEDA MOTOR 110 CC Isworo, Hajar; Khalil, Muhammad; Syahyuniar, Rusuminto; Syaief, Adhiela Noer; Bela Persada, Anggun Angkasa; Lingga, Yulima Melsipa; Artika, Kurnia Dwi; Adi Setiawan, Muhammad Yusuf
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.12322

Abstract

Masalah emisi gas buang akan terus berlangsung selama manusia menggunakan bahan bakar fosil. Emisi gas buang dapat diturunkan dengan menggunakan katalis yang terbuat dari berbagai macam material, seperti aluminium, tembaga, seng, dan lainnya. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan jenis matrial katalis alumunium dan seng terhadap emisi gas buang HC dan CO. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menguji Katalitik converter menggunakan uji eksperimental menggunakan alat uji emisi dan dyno test (uji performa mesin). Dari penelitian diketahui bahwa kadar CO dan HC  terendah pada penggunaan katalis alumunium 2 saringan dengan torsi sebesar 5.69 dan power sebesar 3,9 hp. Menurunnya emisi gas buang karena katalis alumunium dan seng terbukti efektif menurukan kadar CO dan HC. The problem of exhaust emissions will continue as long as humans use fossil fuels. Exhaust gas emissions can be reduced by using catalysts made from various materials, such as aluminum, copper, zinc, and others. So this research was carried out to determine the effect of using aluminum and zinc catalyst materials on HC and Co exhaust emissions. The method used in this research is to test the catalytic converter using experimental tests using emission test equipment and dyno tests (engine performance tests). From the research, it is known that the lowest CO and HC levels are when using  2 filter aluminum catalyst with a torque of 5.69 and a power of 3.9 hp. Reduced exhaust emissions due to aluminum and zinc catalysts proven to be effective in reducing CO and HC levels.
ANALISA BAHAN TAMBAH SERBUK BATERAI BEKAS UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN TARIK BALING – BALING ALUMINIUM RONGSOKAN Khalid, Anhar; Norhafani, Norhafani
JTAM ROTARY Vol 6, No 1 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i1.9628

Abstract

Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari hasil pengujian di laboratorium pengujian bahan, yaitu labroatorium uji bahan menggunakan mesin uji tarik. Adapun tujuan penelitian ini dilaksanakan adalah untuk menguji bahan hasil coran dari bahan aluminium rongsokan yang pada proses peleburannya dicampurkan serbuk baterai bekas dapat meningkatkan kualitas kekuatan tarik baling-baling kapal. Pada penelitian ini terdapat variable terikat yaitu kekuatan tarik dan ariabel bebas, yaitu kadar serbuk baterai 20 gr, 30 gr, 40 gr, dan 50 gr. Pengujian dilakukan dengan tahapan melakukan pengecoran alumunium bekas yang ditambahkan dengan serbuk baterai sesuai dengan variable yang telah ditentukan untuk dijadikan spesimen dan selanjutnya melakukan uji tarik pada setiap spesimen. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan dengan empat tahap penambahan serbuk baterai bekas yang dikenakan pada paduan aluminium rongsokan memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai kekuatan tariknya yaitu nilai kekuatan tarik lebih tinggi daripada nilai kekuatan tarik control yang hanya diberi perlakuan natural serbuk baterai bekas. This study used data obtained from the results of testing in a materials testing laboratory, namely a materials testing laboratory using a tensile testing machine. The purpose of this research was to test the casting material made from scrap aluminum, which, in the smelting process, when mixed with used battery powder, can improve the quality of the tensile strength of ship propellers. In this study, there were dependent variables, namely tensile strength, and independent variables, namely battery powder content of 20 gr, 30 gr, 40 gr, and 50 gr. The test is carried out by casting aluminum, which is then added to battery powder according to the variables that have been determined to be used as specimens, and then carrying out a tensile test on each specimen. It can be concluded that the treatment with four stages of adding used battery powder applied to scrap aluminum alloy had a significant effect on the tensile strength value, namely that the tensile strength value was higher than the control tensile strength value, which was only given by the natural treatment of used battery powder.
PENGARUH FRAKSI VOLUME DAN SUSUNAN SERAT KOMPOSIT POLYESTER-SERAT ECENG GONDOK TERHADAP NILAI KONDUKTIVITAS TERMAL Akbar Saputera, Muhammad Ilham; Subagyo, Rachmat; Muchsin, Muchsin
JTAM ROTARY Vol 6, No 1 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i1.11111

Abstract

Komposit dibuat dengan menggunakan resin poliester sebagai matriks dan serat eceng gondok sebagai penguat. Dari pengujian nilai konduktivitas yang dilakukan pada komposit serat eceng gondok diperoleh nilai konduktivitas termal tertinggi pada komposisi 15% serat-85% resin dengan variasi acak letak serat sebesar 0,063 W/m°C, disusul serat 20%- Lokasi serat acak resin 80% sebesar 0,060 W/m°C, kemudian disusul serat acak resin 25%-75% lokasi serat acak sebesar 0,050 W/m°C. Untuk komposisi resin 15% serat-85% dengan variasi letak serat sejajar diperoleh nilai sebesar 0,059 W/m°C, disusul resin 20% serat-80% dimana seratnya sebesar 0,056 W/m°C, disusul kemudian dengan 25% fiber-75% resin letak parallel fiber sebesar 0,043 W/m°C Pada pengujian struktur mikro terlihat bahwa semakin bervariasi fraksi volume maka semakin banyak void yang terdapat pada komposit. Nilai konduktivitas termal dan struktur mikro menjadikan komposit serat eceng gondok dapat menjadi referensi terkini sebagai bahan baku furniture atau bangunan yang cukup baik. Composites are made using polyester resin as a matrix and hyacinth fiber as reinforcement. From the testing of conductivity values carried out on the water hyacinth fiber composites obtained the highest thermal conductivity value in the composition of 15% fiber-85% resin with a variation of random fiber location of 0.063 W/moC, followed by 20% fiber-80% resin random fiber location of 0.060 W/m°C, then followed by 25% fiber-75% resin random fiber location of 0.050 W/m°C. For the composition of 15% fiber-85% resin with variations in the location of parallel fibers obtained a value of 0.059 W/m°C, followed by 20% fiber-80% resin where the fiber is equal to 0.056 W/m°C, then followed by 25% fiber-75% resin location parallel fiber of 0.043 W/m°C In testing the microstructure it can be seen that the more varied the volume fraction, the more void that is present in the composite. The value of thermal conductivity and microstructure makes the water hyacinth fiber composite can be the latest reference as a raw material for furniture or buildings that are quite good.
PENGARUH MEDIA PENDINGIN DAN DEEP OF CUT TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN AL6063 PADA BUBUT KONVENSIONAL Rachmandani, Rizky; Tamjidillah, Mastiadi
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.11667

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menganalisis pengaruh media pendingin soluble cutting oil dan air terhadap kekasaran permukaan aluminium 6063 menggunakan mesin bubut konvensional. Adapun prosedur penelitian adalah sebagai berikut : (1) proses pembuatan spesimen; (2) pengujian spesimen; (3) variabel penelitian dan (4) pengambilan data lapangan. Adapun hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa pengaruh media pendingin soluble cutting oil dan air dengan variasi deep of cut terhadap nilai kekasaran permukaan aluminium 6063 memiliki nilai kekasaran yang berbeda antara soluble cutting oil dan air. Dimana media pendingin soluble cutting oil dengan Deep of cut 0,5 didapatkan tingkat kekasaran yang lebih baik dengan angka 0,942 μm, sedangkan deep of cut 0,7 menggunakan air didapatkan tingkat kekasaran yang lebih baik dengan angka 1,136 μm. Pengaruh karakteristik hasil deep of cut pada aluminium 6063 memiliki hasil permukaan sayatan yang berbeda-beda, dimana pada setiap sampel hasil pengamatan dengan variasi deep of cut. Semakin kecil deep of cut yang digunakan maka hasil sayatan permukaan akan semakin halus dan semakin besar deep of cut yang digunakan maka akan semakin kasar permukaan yang dihasilkan. The aim of this research is to determine and analyze the effect of soluble cutting oil dan water cooling media on the surface roughness of 6063 aluminum using a conventional lathe. The research procedures are as follows: (1) specimen making process; (2) specimen testing; (3) research variables dan (4) field data collection. The results of this research found that the effect of cooling media Soluble cutting oil and water with variations in depth of cut on the surface roughness value of aluminum 6063 has different roughness values between soluble cutting oil and water. Where the Soluble cutting oil cooling media with a Deep of cut of 0.5 obtained a better roughness level with a figure of 0.942μm, while the depth of cut of 0.7 using water obtained a better roughness level with a figure of 1.136μm. The influence of the characteristics of the depth of cut results on aluminum 6063 has different cut surface results, where in each sample the results are observed with variations in the depth of cut. The smaller the depth of cut used, the smoother the surface incision will be dan the greater the depth of cut used, the rougher the resulting surface will be.
PENGARUH PWHT (POST WELD HEAT TREATMENT) PADA PENGELASAN SMAW TERHADAP KEKERASAN DAN KEKUATAN TEKAN BAJA ST 37 Irawan, Dony; Irawansyah, Herry
JTAM ROTARY Vol 6, No 1 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i1.9340

Abstract

Pada proses pengelasan dapat timbul masalah berupa tegangan sisa setelah pengelasan yang tidak disadari. Tegangan sisa yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk dan keretakan pada hasil pengelasan. Tegangan sisa dapat terjadi sebagai akibat pengelasan dilakukan tanpa melalui perlakuan panas terlebih dahulu. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) pada baja ST 37 dengan perlakuan panas yaitu Post Welding Heat Treatment (PWHT) dengan variasi tanpa perlakuan, 550°C, 600°C, dan 650°C selanjutnya melakukan dan menganalisis hasil uji kekerasan dan uji tekan. Pada uji kekerasan diperoleh hasil nilai tertinggi pada spesimen tanpa perlakuan PWHT (Post Weld Heat Treatment) di daerah weld metal sebesar 709,43 HVN. Sedangkan nilai terendah didapatkan pada spesimen dengan perlakuan PWHT (Post Weld Heat Treatment) di daerah base metal sebesar 236,45 HVN. Pada uji tekan diperoleh hasil nilai tertinggi pada spesimen tanpa perlakuan PWHT (Post Weld Heat Treatment) sebesar 838,46 MPa. Sedangkan nilai terendah didapatkan pada spesimen dengan perlakuan PWHT (Post Weld Heat Treatment) 550˚C sebesar 755,60 MPa. In the welding procedure, problems can arise in the form of residual stresses after welding that are not realized. Excessive residual stress will cause a permanent deformation, and can even cause cracks in the welding results. Residual stresses can occur as a result of welding being carried out without prior heat treatment. The goal of this research was to perform SMAW on ST 37 steel treatment with heat, namely Post Welding Heat Treatment (PWHT) with variations without treatment, 550°C, 600°C, and 650°C then perform and analyze results of hardness test and bending test. In the hardness test, the highest value was obtained for specimens without PWHT treatment in the weld metal area of 709.43 HVN. While The lowest possible value was attained in specimens treated with PWHT in the base metal area of 236.45 HVN. In the bending test, The maximum possible value was attained on the specimen without PWHT of 838.46 MPa. While the result with the lowest value was in specimens treated with 550˚C PWHT of 755.60 MPa.
PENGARUH METODE PENDINGINAN MESIN SEPEDA MOTOR SUZUKI NEX TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN EMISI GAS BUANG Alexander, Baimy; Al Banjari, Muhammad Arsad
JTAM ROTARY Vol 6, No 1 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i1.11478

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai dampak sistem pendinginan terhadap emisi gas buang dan penggunaan bahan bakar pada sepeda motor. Metode penelitian melibatkan pengujian eksperimen dengan tiga variasi pendinginan, yaitu penggunaan pendinginan normal, semburan udara, dan selimut air. Sepeda motor yang digunakan dalam pengujian adalah Suzuki Nex, dengan parameter RPM diatur pada 3000, 4500, dan 7000, dan penggunaan bahan bakar sejumlah 100 ml selama periode 2 menit. Untuk mengukur emisi gas buang, termasuk CO, CO2, HC, dan O2, digunakan Gas Analyzer, sementara gelas ukur digunakan untuk mengukur sisa bahan bakar yang terpakai. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem pendinginan normal memberikan efisiensi konsumsi bahan bakar yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode lainnya. Meskipun demikian, sistem pendinginan selimut air dapat mengurangi emisi CO dan HC pada RPM yang tinggi. Sebaliknya, pada RPM yang tinggi, sistem pendinginan semburan udara menunjukkan peningkatan emisi CO dan HC, mengindikasikan efisiensi yang lebih rendah dalam kondisi tersebut. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak sistem pendinginan terhadap emisi gas buang dan penggunaan bahan bakar pada sepeda motor. This research is intended to assess the impact of the cooling system on exhaust gas emissions and fuel usage in motorcycles. The research methodology involves experimental testing with three cooling variations: normal cooling, air injection, and water jacket. The motorcycle used in the testing is the Suzuki Nex, with RPM parameters set at 3000, 4500, and 7000, and fuel usage of 100ml over a 2-minute period. A Gas Analyzer is employed to measure exhaust gas emissions, including CO, CO2, HC, and O2, while a measuring cup is used to gauge the remaining fuel. The test results indicate that the normal cooling system provides better fuel consumption efficiency compared to other methods. However, the water jacket cooling system can reduce CO and HC emissions at high RPMs. Conversely, at high RPMs, the air injection cooling system shows an increase in CO and HC emissions, indicating lower efficiency in those conditions. This research provides a deeper understanding of the impact of the cooling system on exhaust gas emissions and fuel usage in motorcycles.
PENGARUH VARIASI ARUS PENGELASAN GMAW TERHADAP DISTORSI DAN KEKERASAN PADA BAJA ST37 POST HEATING 400˚C Zuhri Simanjuntak, Rinal Fadel; Ansyah, Pathur Razi; Ramadhan, Muhammad Nizar; Syarief, Akhmad
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.12540

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi dampak variasi arus pengelasan GMAW terhadap distorsi dan kekerasan pada material baja ST37 setelah dipanaskan pada suhu 400˚C. Hasil penelitian mengenai variasi arus dan perlakuan post heating pada suhu 400°C di daerah HAZ dan pada area Weld Metal menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam nilai kekerasan. Perbedaan ini dipengaruhi oleh variasi arus yang diberikan; semakin tinggi arusnya, semakin besar pula pelunakan logam yang terjadi. Sebagai contoh, pada arus 100 A, nilai kekerasan tercatat sebesar 65 HRB, sedangkan pada arus 120 A, nilai tersebut turun menjadi 56,4 HRB. Di bagian Weld Metal, nilai kekerasan tertinggi terlihat pada arus 80 A (59,8 HRB), dan nilai terendah terdapat pada arus 120 A (51,1 HRB). Dari ketiga perbedaan suhu yang diberikan kepada spesimen dengan arus yang berbeda, yaitu 80 A, 100 A, dan 120 A, memiliki nilai distorsi rata-rata tertinggi pada arus 80 A (1,17 mm), diikuti oleh arus 100 A (0,85 mm), dan terendah pada arus 120 A (0,68 mm). Hasil penelitian uji distorsi ini menunjukkan bahwa perlakuan post heating sangat berpengaruh terhadap nilai distorsi pada spesimen tersebut. This study seeks to investigate the impact of varying GMAW welding currents on distortion and hardness in ST37 steel material post-heating at 400˚C. The research findings on the variations in current and post-heating treatment at 400°C in both the HAZ (Heat Affected Zone) and Weld Metal areas reveal significant differences in hardness values. These differences are attributed to variations in the current supplied; the higher the current, the greater the metal melting (softening) observed. For instance, at 100 A, the hardness value is recorded at 65 HRB, while at 120 A, it decreases to 56.4 HRB. In the Weld Metal section, the highest hardness value is observed at 80 A (59.8 HRB), and the lowest is at 120 A (51.1 HRB). Among the three different current levels (80 A, 100 A, and 120 A) applied to spesimens, the average distortion value is highest at 80 A (1.17 mm), followed by 100 A (0.85 mm), and lowest at 120 A (0.68 mm). These results underscore the significant impact of post-heating treatment on the distortion of the spesimen.
RANCANG BANGUN MESIN PENGADUK PUPUK ORGANIK CAIR (POC) Muttaqin, Katiko Imamul; Nur, Raybian
JTAM ROTARY Vol 6, No 1 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i1.10113

Abstract

Melalui kebijakan Pemerintah Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan dalam negeri maka kegiatan dibidang pertanian dan perkebunan kembali dilirik oleh para peneliti untuk meningkatkan hasil produksi pertanian dan perkebunan. Beberapa upaya dalam mendukung peningkatan produksi pertanian dan perkebunan diantara yaitu menghasilkan sebuah alat yang membantu/mempermudah dalam proses kegiatan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengetahui performa dari sebuah mixer pengaduk pupuk organik cair (POC) yang nantinya akan digunakan di Desa Masingai II Kabupaten Tabalong oleh para kelompok tani. Pada penelitian ini menggunakan metode experimental pada mesin POC yang dibuat. Hasil penelitian menunjukkan mesin bekerja secara optimal dengan penggunaan daya 426 W yang menghasilkan putaran 66 rpm dengan konsumsi listrik sebesar 0,0007 kWh dengan kapasitas yang diaduk hingga 200 liter. Through the Indonesian Government's policy to create food security and improve farmers' welfare, researchers are looking at agricultural and plantation activities again to increase agricultural and plantation production. Some efforts to support increased agricultural and plantation production include producing a tool that helps/makes the production process easier. The purpose of this study is to design and calculate the performance of liquid organic fertilizer (POC) mixers which will later be used in Masingai II Village, Tabalong Regency by farmer groups. Experimental methods were used in the study. The research results show that the machine works optimally using 426 W of power which produces 66 rpm rotation with an electricity consumption of 0.0007 kWh every minute. 
PENGARUH VARIASI PENDINGIN DAN MATA PAHAT TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN BAJA ST 37 PADA MESIN BUBUT KONVENSIONAL Annafi, Helmi Hafidz; Nugraha, Andy
JTAM ROTARY Vol 6, No 1 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i1.11699

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi pahat HSS dan Carbide serta media pendingin (air kelapa, radiator coolant, dan tanpa pendingin) terhadap nilai kekasaran permukaan baja ST 37 dengan menggunakan mesin bubut konvensional.  Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental, yaitu spesimen dipotong sesuai ukuran kemudian dilakukan pembubutan dengan pendinginan yang ditentukan dan selanjutnya dilakukan pengujian. Setelah dilakukan pengujian, didapatkan nilai kekasaran terendah pada pahat tanpa menggunakan media pendingin, dibandingkan dengan menggunakan media pendingin air kelapa dan Radiator Coolant. Sedangkan pada mata pahat, kekasaran terendah diperoleh dengan menggunakan mata pahat HSS dibandingkan dengan menggunakan mata pahat Carbide. This study aims to determine the effect of HSS and Carbide tool variations and cooling media (coconut water, coolant radiator, and no cooling) on the surface roughness value of ST 37 steel using a conventional lathe. This research method uses an experimental method, namely the specimen is cut to size then turned with specified cooling and then tested. After testing, the lowest roughness is obtained without using cooling media, compared to usings coconut water cooling and Radiator Coolant. While on the tool blade, the lowest roughness was obtained by using the HSS tool blade compared to using the Carbide tool blade.

Page 10 of 13 | Total Record : 121