cover
Contact Name
Herry Irawansyah
Contact Email
herryirawansyah@um.ac.id
Phone
+6285345138335
Journal Mail Official
herryirawansyah@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat Jalan Jenderal Achmad Yani KM 35,5 Banjarbaru, Kalimantan Selatan - 70714
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JTAM ROTARY
ISSN : 27216225     EISSN : 27456331     DOI : https://doi.org/10.20527/jtam_rotary.v2i2
JTAM Rotary diterbitkan oleh Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. JTAM Rotary merupakan jurnal terbuka yang dapat diakses siapapun, baik itu peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang teknik mesin. JTAM Rotary terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan bulan September. JTAM Rotary berfokus pada jurnal-jurnal mahasiswa teknik mesin di bidang keahlian Konversi Energi, Desain dan Konstruksi, Manufaktur, dan Rekayasa Material.
Articles 121 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN VARIASI MODEL CATALYST PADA KNALPOT MOTOR VIXION 150 CC TERHADAP STANDAR EMISI GAS BUANG DAN KEBISINGAN Nur, Raybian; Misbachudin, Misbachudin; Wusko, Ikna Urwatul
JTAM ROTARY Vol 5, No 1 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i1.8350

Abstract

Sepeda motor merupakan alat transportasi yang digerakkan oleh mesin (motor). Jenis transportasi ini banyak digunakan karena harganya yang murah dan mudah digunakan. Sepeda motor umumnya menggunakan bahan bakar bensin. Motor bensin 4 langkah adalah motor bensin yang melakukan usaha atau kerja diperlukan 4 langkah gerakan piston dan 2 putaran poros engkol. Catalyst adalah salah satu teknologi yang digunakan untuk mereduksi gas buang CO menjadi CO2 dan HC menjadi H2O, pada saat dikeluarkan pada knalpot. Knalpot katalis B yang lebih bagus dalam mereduksi emisi gas CO disetiap rpm nya. Dan dengan menggunakan knalpot katalis C berhasil menyerap emisi gas buang HC yang signifikan pada rpm 3000 dan 5000. Penambahan katalis pada knalpot berhasil mereduksi kebisingan. Dari ketiga model variasi katalis yang divariasi, knalpot katalis B yang paling baik dalam mereduksi kebisingan. dikarena bentuk katalisnya yang dapat lebih baik menghambat aliran pembuangan pada knalpot karena itulah suara yang keluar jadi sedikit lebih senyap. A motorbike is a means of transportation that is driven by an engine (motor). This type of transportation is widely used because it is cheap and easy to use. Motorcycles generally run on gasoline. A 4-stroke gasoline engine is a gasoline engine that does work or work that takes 4 steps of piston movement and 2 rotations of the crankshaft. Catalyst is one of the technologies used to reduce CO exhaust gas to CO2 and HC to H2O when released in the exhaust. The catalyst B exhaust is better at reducing CO gas emissions at every rpm. And by using an exhaust catalyst C managed to absorb significant HC exhaust emissions at 3000 and 5000 rpm. The addition of a catalyst to the exhaust managed to reduce noise. Of the three models of varied catalyst variations, exhaust catalyst B is the best at reducing noise. because the shape of the catalyst can better inhibit the flow of exhaust in the exhaust, that's why the sound that comes out is a little quieter.
ANALISIS SIMULASI PENGARUH VARIASI SUDUT DIFFUSER TERHADAP AHMED BODY DENGAN SLANT ANGLE 35" Rezki, Akbar; Anwar, Khairil; Hatib, Rustan
JTAM ROTARY Vol 5, No 1 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i1.8352

Abstract

Aerodinamika dapat memberikan perubahan kecil untuk mengurangi konsumsi bahan bakar kendaraan. Modifikasi bodi kendaraan adalah salah satu metode pengurangan hambatan aerodinamika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh penambahan sudut diffuser pada sudut belakang model referensi yang disederhanakan (Ahmed Body slant angel 35°) yang digunakan untuk mewakili kendaraan tipe hatch back terhadap koefisien drag. Tiga model modifikasi alur dibuat untuk diuji pada penelitian ini dengan metode simulasi numerik menggunakan software ANSYS workbench 2020R2. Hasil penelitian ini diperoleh penurunan koefisien drag pada model 3 sebesar 3,82%. Faktor utama yang mempengaruhi penurunan koefisien drag ini adalah pemulihan tekanan dibelakang model dengan adanya penambahan diffuser.Aerodinamika dapat memberikan perubahan kecil untuk mengurangi konsumsi bahan bakar kendaraan. Modifikasi bodi kendaraan adalah salah satu metode pengurangan hambatan aerodinamika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh penambahan sudut diffuser pada sudut belakang model referensi yang disederhanakan (Ahmed Body slant angel 35°) yang digunakan untuk mewakili kendaraan tipe hatch back terhadap koefisien drag. Tiga model modifikasi alur dibuat untuk diuji pada penelitian ini dengan metode simulasi numerik menggunakan software ANSYS workbench 2020R2. Hasil penelitian ini diperoleh penurunan koefisien drag pada model 3 sebesar 3,82%. Faktor utama yang mempengaruhi penurunan koefisien drag ini adalah pemulihan tekanan dibelakang model dengan adanya penambahan diffuser.
PENGARUH VARIASI KEDALAMAN PEMOTONGAN DAN KECEPATAN PEMOTONGAN TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN ALUMINIUM 7075 Nurhabibi, Awaludin; Mursadin, Aqli
JTAM ROTARY Vol 5, No 2 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i1.8460

Abstract

Riset ini bermaksud untuk mengetahui pengaruh variasi kedalaman pemotongan serta kecepatan pemotongan atas nilai kekasaran permukaan aluminium 7075. kesimpulan kecepatan pemotongan berpengaruh atas nilai kekasaran permukaan spesimen. Bertambahnya kecepatan pemotongan yang dipakai meangkibatkan kualitas makin rendah (halus). Kedalaman pemotongan yang tinggi menyebabkan menurunnya gaya pemotongan, setiap kedalaman pemotongan yang dipakai terdapat selisih nilai kekasaran permukaan spesimen. Makin besar kedalaman pemotongan yang dipakai mengakibatkan meningkatnya kekasaran permukaan, ketika kombinasi dari kecepatan pemotongan serta kedalaman pemotongan terlihat hasil yang paling rendah (halus) pada kecepatan pemotongan 14.7 m/menit serta 0,5 mm, sedangkan kekasaran paling tinggi (kasar) pada kecepatan pemotongan 11.3 m/menit serta perbandingan kedalaman pemotongan 1. mm. Semakin tinggi kecepatan pemotongan maka semakin rendah (halus) tingkat kekasaran dan kedalaman pemotongan yang dalam berpengaruh terhadap nilai hasil kekasaran yang diperoleh maka makin tinggi (kasar). This research intends to determine the effect of variations in cutting depth and cutting speed on the surface roughness value of aluminum 7075. Based on the results of data analysis, it can be concluded that cutting speed has an effect on the surface roughness value of the specimen. The higher the cutting speed used, the lower the quality results (smooth). The high cutting depth causes a decrease in the cutting force and the shear cross-sectional area, each cutting depth used has a difference in the surface roughness of the specimen. The greater the depth of cutting used will cause an increase in surface roughness, when the combination of cutting speed and depth of cut is found to have the lowest roughness (fine) at a cutting speed of 14.7 m/min and 0.5 mm, while the highest roughness (coarse) at a cutting speed of 11.3 m/min and a cutting depth ratio of 1. mm. The higher the cutting speed, the lower (fine) the level of roughness and the greater the depth of cutting, the higher the roughness value obtained (coarse).
ANALISA EFISIENSI LAJU PENDINGINAN REFRIGERAN R-32, R-134A, R410A, DAN LPG PADA SIMULATOR REFRIGERATOR Ivana, Reza Taufiqi; Musthofa, Imron; Putra, Muhammad Rezki Fitri
JTAM ROTARY Vol 5, No 2 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i1.8416

Abstract

Efisiensi sistem refrigeran dengan fungsi sebagai fluida yang menyerap panas dalam sistem sehingga terjadi penurunan suhu  melalui mekanisme evaporasi dan kondensasi. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui refrigeran yang mempunyai dampak laju pendinginan terbaik dengan tingkat temperatur yang berbeda sehingga dapat diamati laju pendinginan dari refrigeran R-134a, R-32, R-410a, dan LPG. Dalam prakteknya menggunakan simulator pendingin sebagai media pembelajaran dalam menerapkan prinsip kerja mesin refrigerasi. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan mengukur temperatur pada waktu 30 detik untuk pengambilan 1 data dan pengambilan data dilakukan selama 300 detik untuk menghasilkan 10 data pada tiap jenis refrigerant pada tekanan 10 Psi. Hasil penelitian menunjukkan refrigerant jenis LPG memiliki tingkat penurunan temperatur paling rendah diantara jenis refrigerant yang lain. Hal ini dikarenakan kinerja LPG dengan ODP sama dengan nol dan nilai GWP rendah. Kesimpulannya sistem pendingin domestik dapat menggunakan refrigeran jenis LPG di untuk penurunan temperatur yang lebih rendah. Refrigerant system efficiency by functioning as a fluid that absorbs heat in the system resulting in a decrease in temperature through evaporation and condensation mechanisms. This experiment was conducted to find out which refrigerant has the best cooling rate effect at different temperature levels so that the cooling rates of R-134a, R-32, R-410a, and LPG refrigerants can be observed. In practice using a cooling simulator as a learning medium in applying the working principles of refrigeration machines. The research method used is to measure the temperature for 30 seconds for 1 data collection and 300 seconds for data collection to produce 10 data for each type of refrigerant at a pressure of 10 Psi. LPG type refrigerant has the lowest temperature drop among other refrigerant types. This is because the performance of LPG with ODP is equal to zero and GWP is low. In conclusion, domestic refrigeration systems can use LPG type refrigerants for lower temperature drops.
ANALISIS PENGGUNAAN PERTALITE DAN BAHAN BAKAR GAS TERHADAP SUHU MESIN SEPEDA MOTOR 100 CC Ardiyat, Ichwan Noor; Sabitah, A’yan; Misbachudin, Misbachudin
JTAM ROTARY Vol 5, No 2 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i2.8431

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan suhu mesin pada sepeda motor Honda Supra Fit 100 cc tahun 2005 dengan penggunaan bahan bakar minyak pertalite dan bahan bakar gas LPG. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dan studi pustaka dengan menggunakan parameter Thermo Gun. Dari hasil pengujian suhu mesin bahan bakar gas LPG didapat 420c pada 2000 rpm dan suhu mesin berbahan bakar pertalite didapat 520c pada 2000 rpm. Dan dapat disimpulkan bahwa suhu mesin menggunakan bahan bakar LPG lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar minyak Pertalite. This study aims determine to compare the engine temperature of a 100 cc Honda Supra Fit motorcycle at 2005 using Pertalite and LPG. The method used in this research is experimental and literature study using the Thermogun parameter. From the results of testing the temperature of the LPG fuel engine, it was obtained 420 oc at 2000 rpm and the temperature of the Pertalite fueled engine was obtained 520 oc at 2000 rpm. And it can be concluded that the temperature of the engine using LPG fuel is lower than Pertalite.
PEMBUATAN MESIN PERONTOK JAGUNG MENGGUNAKAN MOTOR LISTRIK BERBASIS FLOWCHART PROCEDURE Khalid, Anhar; Fitria, Fitria
JTAM ROTARY Vol 5, No 2 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i2.9074

Abstract

Salah satu tanaman pangan selain gandum dan padi yang tumbuh di Indonesia  sekaligus mengandung karbohidrat yang penting di seluruh dunia adalah jagung (Zea mays ssp. mays). Jagung termasuk ke dalam jenis tanaman penting di Indonesia, jagung merupakan tanaman pangan sebagai ganti dari beras dalam upaya diversifikasi pangan, selain itu, jagung juga merupakan salah satu bahan yang dijadikan untuk pakan ternak. Hingga saat ini ditemukan berbagai alat yang berfungsi sebagai alat bantu pengolah hasil pertanian. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan hasil pertanian, maka pengolahan hasil pertanian menjadi inspirasi pembuatan alat agar mempermudah pengolahan hasil pertanian sebelum dipasarkan. Mesin perontok jagung berfungsi sebagai alat pemisah biji jagung dari bonggolnya. Biji jagung dipisahkan secara manual dari bonggolnya menggunakan tangan, hal tersebut dilakukan sebelum adanya mesin perontok jagung ini, hal tersebut tentu saja memakan waktu lebih banyak, tidak efektif dan efisien. Melihat keadaan tersebut, penulis merancang dan membuat alat yang dapat memudahkan pengguna dalam pengolahan hasil tani buah jagung. Corn is one of the food crops other than wheat and rice that grows in Indonesia and also contains essential carbohydrates worldwide (Zea mays ssp. mays). Corn is one of the vital cereal crops in Indonesia; corn is a staple food plant to replace rice to diversify food. Besides that, corn is also an ingredient in animal feed. Until now found, a variety of tools function as a tool for processing agricultural products. Along with the increasing growth of farm products, the processing of agricultural products has become the inspiration for making tools to facilitate the processing of agricultural products before they are marketed. The corn thresher machine functions to separate corn kernels from the cobs. The corn kernels were separated manually from the cobs by hand. This was done before the corn thresher machine existed, which took more time and needed to be more effective and efficient. Seeing this, the author tries to make a tool that makes it easier for users to process corn fruit farming.
PENGARUH PENGUAPAN BAHAN BAKAR MINYAK TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA SEPEDA MOTOR 4 TAK Misbachudin, Misbachudin; Dinata, Ryan; Sabitah, A’yan
JTAM ROTARY Vol 5, No 2 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i2.10107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan bahan bakar yang dikonsumsi pada motor bensin 4 tak dengan merancang dan menerapkan sistem aerator untuk menguapkan bahan bakar. Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah dengan metode pengujian (experimental method). Yaitu dengan cara memanfaatkan  aerator  yang di implementasikan pada sistem bahan bakar sepeda motor 4 tak untuk mempercepat terjadinya proses penguapan pada bahan bakar minyak. Variabel yang digunakan adalah jenis bahan bakar pertalite dan pertamax, yang diuji dengan menggunakan aerator dan tanpa aerator pada putaran mesin sekitar 1200 rpm tanpa pembebanan selama 3 menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan bakar yang terpakai dengan menggunakan aerator untuk penguapan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar. Pertalite menggunakan aerator mengalami penurunan sebesar 2,34 ml/min atau 50% sedangkan bahan bakar pertamax mengalami penurunan sebesar 1,44 ml/min atau 44%. The aim of this research is to determine the fuel consumption of internal combustion engines by designing and implementing an aerator to enhance fuel evaporation. The method employed in this study is experimental, using an aerator integrated into the fuel system of a 4-stroke motorcycle engine to accelerate the fuel evaporation process. The variables used are Pertalite and Pertamax fuels, which were tested both with and without the aerator at an engine speed of approximately 1200 rpm without any load for 3 minutes. The test results indicate that using an aerator for evaporation can reduce fuel consumption. Pertalite fuel with an aerator experienced a 2,34 ml/min 50% reduction, while Pertamax fuel with an aerator experienced a 1,44 ml/min 44% reduction.
ANALISIS MODIFIKASI SHELL-AND-TUBE HEAT EXCHANGER PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT. ANDALAN FURNINDO Maulana, Antan Noraidi; Muttaqin, Katiko Imamul; Riyadi, Ahmad; Khoiri, M.
JTAM ROTARY Vol 5, No 2 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i2.9963

Abstract

Heat exchanger pada proses pengolahan air limbah PT. Andalan Furnindo sering bermasalah. Oleh sebab itu, penulis mencoba untuk memodifikasi desain heat exchanger pada bagian tube, baffle, dan estimasi pressure drop agar mendapat performa yang lebih bagus. Proses pengolahan data dimulai dari memodifikasi dimensi diameter shell, diameter tube, panjang shell, panjang tube, jumlah baffles, jumlah tube dan jenis path aliran fluida. Menghubungkan  korelasi antara parameter dengan modifikasi dimensi yang telah dilakukan agar hasil akhir berupa nilai koefisien perpindahan panas dan pressure drop sesuai yang diinginkan. Hasil perhitungan perancangan dengan  Dsid =1 m; di = 0,02 m; do = 0,025 m; panjang shell dan tube=4,6 m; B=5; Nt=1176 dan path aliran U adalah menghasilkan Uc=683  dan Uf=569 ; =1691,3 Pa; dan =1276,6 Pa. Dengan memodifikasi diameter tube dan shell yang lebih besar dari setelan pabriknya dapat memudahkan proses perawatan unit dalam hal membersihkan kotoran dalam tube maupun dalam shell. Sehingga performanya stabil, umur pemakaian unit lebih lama, dan waktu perawatan selanjutnya terjadwal dengan baik. Heat exchanger in the waste water treatment process of PT. Andalan Furnindo is frequently in trouble. Therefore, the authors try to modify the heat exchanger design on the tube, baffle, and estimated pressure drop in order to get better performance. The data processing starts from modifying the dimensions of shell diameter, tube diameter, shell length, tube length, number of baffles, number of tubes and type of fluid flow path. Linking the correlation between parameters with dimensional modifications that have been done so that the final result is the value of the heat transfer coefficient and pressure drop as desired. The results of design calculations with Dsid =1 m; di = 0,02 m; do = 0,025 m; length of shell and tube = 4.6 m; B=5; Nt=1176 and the flow path U is to produce Uc=683  dan Uf=569 ; =1691,3 Pa; dan =1276,6 Pa. By modifying the tube and shell diameter which is larger than the factory setting, it can facilitate the unit maintenance process in terms of cleaning dirt in the tube and in the shell. So that the performance is stable, the service life of the unit is longer, and the next maintenance time is properly scheduled.
PENGARUH KETINGGIAN ENGINE STAND SEPEDA MOTOR TERHADAP NILAI KEKUATAN MATERIAL (TEGANGAN DAN DEFLEKSI) Isworo, Hajar; Khalil, Muhammad; Syahyuniar, Rusuminto; Syaief, Adhiela Noer; Bela Persada, Anggun Angkasa; Lingga, Yulima Melsipa; Artika, Kurnia Dwi; Fahrozi, Ikhsan
JTAM ROTARY Vol 5, No 2 (2023): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v5i2.9765

Abstract

Kegagalan material berakibat komponen otomotif bisa menjadi patah, selain itu dapat berakibat chassis suatu kendaraan menjadi megalami lendutan (defleksi).  Faktor yang mempengaruhi kegagalan adalah beban pada suatu komponen kendaraan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa tegangan dan defleksi pada engine stand sepeda motor akibat pembebanan. Engine stand menggunakan variasi ketinggian 40 cm, 45 cm dan 50 cm dengan bantuan software Autodesk Inventor Professional 2019. Hasil penelitian menunjukkan ketinggian 40 cm adalah ukuran ketinggian yang paling baik, karena tegangan normal (Smax), tegangan geser Tx, dan defleksinya minimum, walaupun pada nilai tegangan shear stress Ty nya nilainya lebih tinggi dari ukuran lainnya, tetapi nilainya sangat kecil dibandingkan Tegangan yieldnya (0,6 MPa < 207 MPa ). Hal ini berdampak positif pada rangka engine stand karena tidak terjadi deformasi plastis (rangka tidak akan patah). Material failure can cause automotive components to break, besides that it can cause a vehicle's chassis to experience deflection (deflection). Factors that affect failure is the load on a vehicle component . The purpose of this research is to analyze the stress and deflection on the motorcycle engine stand due to loading. The engine stand uses height variations of 40 cm, 45 cm and 50 cm with the help of Autodesk Inventor Professional 2019 software. The results showed that a height of 40 cm is the best measure of height, because the normal stress (Smax), shear stress Tx, and deflection are minimum, even though the shear stress value Ty is higher than the other sizes, the value is very small compared to the yield stress. (0.6 MPa < 207 MPa ). This has a positive impact on the engine stand frame because plastic deformation does not occur (the frame will not break).
ANALISIS BENTUK DAN KEKUATAN SUPPORT PIPA PADA REINJECTION LINE AKIBAT ADANYA PENAMBAHAN CONTROL VALVE DI PLANT 3 TRAIN C PT. BADAK LNG Rahman, Arifad; Tamjidillah, Mastiadi
JTAM ROTARY Vol 6, No 1 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i1.9324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan kekuatan penopang pipa pada jalur pipa reinjeksi LGP di PT. BADAK LNG akibat kenaikan beban berkelanjutan yang terjadi akibat penambahan control valve. Saluran pipa sebelum dan sesudah penambahan control valve didesain ulang untuk perbandingan tegangan, kemudian dihitung beban maksimum yang didapat akibat penambahan control valve yaitu beban sustain 172,93 N/mm2 dan beban ekspansi 7,72 N/mm2. Sedangkan beban maksimum dihitung karena penambahan control valve dengan penyangga pipa adalah beban sustain sebesar 97,84 N/mm2 dan beban ekspansi sebesar 8,88 N/mm2. Sedangkan nilai ijin material A33-6 sendiri adalah sustain 137,90 N/mm2 dan ekspansi 206,84 N/mm2. Setelah diketahui kenaikan tegangan sustain melebihi batas material yang diijinkan, maka perlu ditambahkan satu buah penyangga pipa lagi untuk menahan jalur pipa reinjeksi. Tambahan penyangga sepatu pipa menggunakan bahan standar ASTM A36 dengan ketebalan 4 mm. Tegangan maksimum pada control valve yang dihitung setelah analisa adalah 66,49 MPa dengan bahan yang diijinkan sebesar 250 MPa sehingga control valve aman. This study aims to analyze the shape and strength of pipe support in the LGP reinjection pipeline line at PT. BADAK LNG due to the increase in sustained loads that occur due to the addition of the control valve. The pipe line before and after the addition of the control valve is redesigned for voltage comparison, then the maximum load obtained is calculated due to the addition of a control valve that is sustain load 172.93 N/mm2 and expansion load of 7.72 N/mm2. While the maximum load is calculated because the addition of a control valve with pipe support is a sustain load of 97.84 N/mm2 and  expansion load of 8.88 N/mm2. While the allowable value of A33-6 material itself is sustain 137.90 N/mm2 and expansion of 206.84 N/mm2. After it is known that the sustain voltage increase exceeds the allowable material limit, it is necessary to add one more pipe support to hold the reinjection pipe line. Additional pipe shoe support using ASTM A36 standard material with a thickness of 4 mm. Maximum stress on the control valve calculated after the analysis is 66.49 MPa with an allowable material of 250 MPa so that the control valve is safe.

Page 9 of 13 | Total Record : 121