cover
Contact Name
Jerry Fred Salamena
Contact Email
agrinimal@gmail.com
Phone
+6285243549419
Journal Mail Official
agrinimal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ir. M. Putuhena, Kampus Poka, Ambon 97233
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Published by Universitas Pattimura
ISSN : 20883609     EISSN : 27232697     DOI : https://doi.org/10.30598/ajitt
Agrinimal journal accommodates articles / scientific works which has not been published yet. Fields of journal cover both aspects of animal sciences and agriculture sciences: animal feed and nutrition, feed science and technology, feed additive technology, ; animal reproduction and physiology, genetics, animal production; animal behaviour, welfare, livestock farming system; socio-economic and policy; and animal products science and technology.
Articles 121 Documents
KUALITAS DAGING BROILER YANG DIBERI PAKAN KOMERSIAL DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KATUK (Sauropus androgynus) Mustikasari, Mauddi; Sukaryani, Sri; Windyasmara, Ludfia
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 12 No 2 (2024): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2024.12.2.75-80

Abstract

Salah satu jenis ternak yang dagingnya mudah diperoleh dan digemari oleh semua kalangan adalah ayam ras pedaging atau broiler. Tanaman katuk merupakan bahan pakan alami yang mudah ditemukan dan tidak beracun jika diberikan kepada hewan. Dalam penelitian ini, kualitas fisik daging ayam broiler termasuk susut masak, susut tetes, uji warna organoleptik, dan uji aroma organoleptik diteliti terkait pengaruh penambahan tepung daun katuk pada pakan komersial. Sebanyak 96 ekor anak ayam pedaging umur 4 hari digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan dan empat perlakuan.Perlakuan yang dimaksud adalah P0 (100% pakan komersil + 0% tepung daun katuk), P1 (100% pakan komersil + 1% tepung daun katuk), P2 (100% pakan komersil + 3% tepung daun katuk), dan P3 (100% pakan komersil + 5% tepung daun katuk). Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan SPSS for windows. Hasil penelitian menunjukkan untuk nilai susut masak adalah 9,40-11,17%, nilai drip loss adalah 0,81-1,80%, organoleptik warna terhadap 25 panelis adalah 1,96-2,84, organoleptik aroma terhadap 25 panelis adalah 3,14–3,49. Dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung daun katuk dengan dosis berbeda pada pakan komersial tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas fisik daging broiler. ABSTRACT One type of animal whose meat is easily obtained and is popular with all groups is broiler chicken. Katuk plant is a natural feed ingredient that is easy to find and is non-toxic if given to animals. In this study, the physical quality of broiler chicken meat—including cooking loss, dripping loss, organoleptic color test, and organoleptic aroma test—will be studied in relation to the impact of adding katuk leaf flour to commercial feed. A total of 96 4-day-old broiler chicks were used in this study. This study used a completely randomized design (CRD) with three replications and four treatments. The treatments in question were P-0: 100% commercial feed + 0% katuk leaf flour, P-1: 100% commercial feed + 1% katuk leaf flour, P-2: 100% commercial feed + 3% katuk leaf flour, and P-3: 100% commercial feed + 5% katuk leaf flour. The data obtained were analyzed using SPSS for windows). The results of the study showed that the cooking loss value was 9.40-11.17%, the drip loss value was 0.81-1.80%, the color organoleptic of 25 panelists was 1.96 - 2.84, the aroma organoleptic of 25 panelists was 3.14 - 3.49. It can be concluded that the addition of katuk leaf flour to commercial feed cannot affect the physical quality of broiler chicken meat
KUALITAS DAGING AYAM PETELUR AFKIR PADA PASAR TRADISIONAL DI KABUPATEN WONOGIRI Windyasmara, Ludfia; Purwati, Catur Suci; Pratama, Dony Yoga
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 12 No 2 (2024): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2024.12.2.88-94

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas daging ayam petelur afkir pada pasar tradisional di kabupaten Wonogiri Penelitian ini akan berlangsung selama 1 bulan sedangkan tempat penelitian akan dilaksanakan di laboratorium pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, sedangkan lokasi sampel yang digunakan berupa pasar tradisional yang berada di 3 kecamatan di kabupaten Wonogiri meliputi kecamatan Ngadirojo, kecamatan Tirtomoyo dan kecamatan Baturetno. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan 3 perlakuan berupa asal pasar ditiap kecamatan dan masing masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan analisis yang ulang setiap kelompok perlakuanya sebanyak 2 kali, yaitu sampel daging dari pedagang yang berbeda dalam satu pasar, adapun rancangan percobaan meliputi P1 = Daging ayam petelur afkir dari pasar Ngadirojo, P2 = Daging ayam petelur afkir dari pasar Tirtomoyo dan P3 = Daging ayam petelur afkir dari pasar Baturetno. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah sidik ragam ANOVA (Analysis Of Varians) untuk menegetahui tingkat signifikansi pengaruh dan dilanjutkan dengan uji Duncan New’s Multiple Range Test (DMRT). Rerata persentase kadar air daging ayam sebesar 73,57% - 76,91%. Rerata persentase protein terlarut daging ayam sebesar 16,92% - 17,99%. Rerata persentase susut masak daging ayam sebesar 19-45% - 21,28 %. Rerata persentase keempukan daging daging ayam sebesar 1,98 – 2,33. ). Hasil penelitian menunjukan bahwa daging ayam petelur afkir yang diniagakan dipasar tradisional di kabupaten Wonogiri memiliki tingkat daya ikat air yang berbeda antar perlakuan, sedangkan pada kadar protein terlarut, susut masak dan keempukan daging tidak berbeda antar perlakuan. ABSTRACT The purpose of this study was to determine the quality of discarded laying hen meat in traditional markets in Wonogiri Regency. This study will last for 1 month while the research location will be carried out in the agricultural laboratory of Veteran Bangun Nusantara University, Sukoharjo, while the sample locations used are traditional markets located in 3 sub-districts in Wonogiri Regency including Ngadirojo sub-district, Tirtomoyo sub-district and Baturetno sub-district. The experimental design used a Completely Randomized Design (CRD) in one direction with 3 treatments in the form of market origin in each sub-district, each treatment was repeated 3 times and the analysis was repeated for each treatment group 2 times, namely meat samples from different traders in one market, the experimental design includes P1 = Rejected laying hen meat from Ngadirojo market, P2 = Rejected laying hen meat from Tirtomoyo market and P3 = Rejected laying hen meat from Baturetno market. The data obtained were then analyzed using a Completely Randomized Design (CRD) one-way pattern of ANOVA (Analysis Of Variance) to determine the level of significance of the influence and continued with the Duncan New's Multiple Range Test (DMRT). The average percentage of water content in chicken meat is 73.57% - 76.91%. The average percentage of soluble protein in chicken meat is 16.92% - 17.99%. The average percentage of cooking loss in chicken meat is 19-45% - 21.28%. The average percentage of tenderness in chicken meat is 1.98 - 2.33. ). The results of the study showed that the meat of discarded laying hens traded in traditional markets in Wonogiri district had different levels of water binding capacity between treatments, while the levels of soluble protein, cooking loss, and meat tenderness did not differ between treatments.
STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA SARANG BURUNG WALET DI DESA SIDOMUKTI KECAMATAN MUARA KAMAN Pratama, Khusnun Restu; Anindyasari, Dinar; Fanani, Anhar Faisal
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 12 No 2 (2024): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2024.12.2.106-113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan budidaya sarang burung walet (Aerodramus fucipagus) di Desa Sidomukti, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Desa Sidomuksi dipilih karena potensinya yang tinggi dalam produksi sarang walet, didukung oleh kondisi mikro dan makro yang sesuai untuk budidaya. Survey dilakukan terhadap 31 responden yang dipilih secara purposive sampling, penelitian ini menggunakan metode analisis strengths, opportunities, aspirations, results (SOAR) untuk mengidentifikasi kekuatan, peluang, aspirasi, dan hasil yang dapat dicapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha budidaya sarang burung walet di Desa Sidomukti memiliki produksi yang tinggi, kualitas sarang yang baik, serta sumber daya manusia yang berpengalaman. Peluang yang teridentifikasi lingkungan yang strategis, dukungan pemerintah, dan permintaan pasar global yang terus meningkat. Hasil analisis SOAR, strategi pengembangan yang disarankan meliputi optimalisasi produksi dan kualitas, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, diversifikasi produk, strategi pemasaran dan distribusi, dukungan dan kolaborasi dengan pemerintah, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan menjadi fokus penting dalam pengembangan usaha ini. ABSTRACT This study aims to determine the development strategy of swiftlet nest (Aerodramus fucipagus) cultivation in Sidomukti Village, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan Province. The method of determining the research location was carried out purposively, i.e. the village was chosen because it has the potential for high swiftlet nest production and is supported by micro and macro conditions that are suitable for cultivation. This research was conducted on 31 respondents who were selected by purposive sampling, this research used the Strengths, Opportunities, Aspirations, Results (SOAR) analysis method to identify strengths, opportunities, aspirations, and results that can be achieved. The results showed that swiftlet nest farming in Sidomukti Village has high production, good nest quality, and experienced human resources. The opportunities identified are strategic environment, government support, and increasing global market demand. The results of the SOAR analysis, suggested development strategies include optimizing production and quality, increasing human resource capacity, product diversification, marketing and distribution strategies, support and cooperation with the government, and sustainable management of natural resources is an important focus in the development of this business.
PERFORMA SELEKSI POPULASI DASAR TETUA AYAM KAMPUNG PEDAGING PADA PETERNAKAN RAKYAT DI KECAMATAN LEIHITU BARAT Sarfan, Riri; Rajab, Rajab
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 12 No 2 (2024): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2024.12.2.114-121

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi performa ayam Kampung pada sistem produksi dan menilai potensi produktif ayam kampung sebagai calon tetua untuk tujuan produksi daging dalam pola pembibitan pada peternakan rakyat di Kecamatan Leihitu Barat Kabupaten Maluku Tengah. Proses pengamatan dan pengukuran terhadap 206 ekor sampel ayam dengan umur di atas 22 minggu pada 12 pemilik ayam lokal di 5 desa terpilih. Responden peternak dan sampel ayam dipilih melalui metode pengambilan sampel bertingkat, dan diharapkan dapat diikutkan dalam pola pembibitan pada skala peternakan rakyat (village breeding scheme). Performa ayam yang diukur meliputi bobot badan, lingkar dada, panjang sayap, panjang paha, panjang betis, panjang shank, dan lebar pubis. Seleksi populasi dasar ayam lokal sebagai calon pejantan dan induk untuk tujuan produksi daging dikelompokan menggunakan distribusi normal berdasarkan cluster bobot badannya. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan perfoma bobot badannya maka pada kelompok inti dibiakkan ayam calon jantan dengan bobot badan di atas 2435 g sebanyak 4,08% dan ayam betina sebagai calon induk dengan bobot badan di atas 1601 g sebanyak 20,37% dari populasi ternak. Pada kelompok pembiak ayam yang dikembangbiakan yaitu ayam calon pejantan dengan bobot badan 1600 – kurang dari 2435 g sebanyak 45,92% dan ayam betina sebagai calon induk dengan bobot badan berkisar 1033-1600 g sebanyak 61,11% dari populasi ternak terpilih. Sedangkan pada kelompok niaga, ayam yang dikembangbiakan yaitu ayam calon pejantan dengan bobot lebih kecil dari 1600 g sebanyak 50% dan ayam betina sebagai calon induk dengan bobot badan kurang dari 1033 g sebanyak 18,52% dari populasi ternak terpilih. ABSTRACT This research aims to characterize the performance of native chickens in the production system and assess the productive potential of native chickens as potential parents for meat production purposes in breeding patterns on smallholder farms in West Leihitu District, Central Maluku Regency. The process of observing and measuring 206 samples of chickens over 22 weeks old from 12 local chicken owners in 5 selected villages. Farmer respondents and chicken samples were selected using a stratified sampling method, and are expected to be included in the village breeding scheme. The chicken performance measured includes body weight, chest circumference, wing length, thigh length, calf length, shank length, and pubic width. Selection of the basic population of local chickens as prospective males and broodstock for meat production purposes was grouped using a normal distribution based on body weight clusters. The results of the research showed that based on body weight performance, 4.08% of the core group was bred as prospective male chickens with a body weight above 2435 g and 20.37% of the female chickens as prospective broodstock with a body weight above 1601 g were bred. In the chicken breeder group, 45.92% of the prospective male chickens with a body weight of 1600 - less than 2435 g were bred and female chickens as prospective broodstock with a body weight ranging from 1033-1600 g were 61.11% of the selected livestock population. Meanwhile, in the commercial group, 50% of the chickens bred are prospective male chickens weighing less than 1600 g and 18.52% of the selected livestock population are female chickens with a body weight of less than 1033 g.
PERFORMA PRODUKSI BROILER PADA KANDANG CLOSED HOUSE BERBASIS INTERNET OF THINGS Manullang, Julinda Romauli; Khafid, Khaidir; Ardiansyah, Ardiansyah; Mariati, Rita
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.1-7

Abstract

Peningkatan produktivitas broiler tercermin dari performanya, yang dapat diukur melalui tingkat mortalitas, konsumsi pakan, dan bobot badan. Faktor yang mempengaruhi broiler untuk mencapai performa yang optimal, salah satunya adalah manajemen kandang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa broiler dalam kandang closed house berbasis teknologi Internet of Things (IoT) dibandingkan dengan kandang closed house tanpa IoT. Penelitian dilakukan di Kecamatan Palaran, Samarinda, dengan metode observasi langsung terhadap performa broiler yang dipelihara pada kandang berbasis IoT dan tanpa IoT. Variabel penelitian meliputi konsumsi pakan, pertumbuhan bobot badan, konversi pakan (FCR), bobot panen, dan mortalitas ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kandang tanpa IoT jumlah konsumsi pakan 3,140 dan 3,088, nilai FCR 1,72 dan 1,68, bobot panen 2,02 kg/ekor dan 2,01 kg/ekor, persentase mortalitas 10,1% dan 8,2%, indeks performa (IP) 289 dan 312 yang berada pada kategori “Kurang dan Cukup”. Kandang yang menggunakan sistem IoT meningkatkan efisiensi pada konsumsi pakan dibandingkan kandang tanpa IoT menunjukan jumlah konsumsi pakan 2,838 g/ekor dan 2,665 g/ekor, menurunkan nilai FCR 1,45 dan 1,30, kandang dengan IoT menghasilkan bobot panen 1,98 kg/ekor dan 2,18 kg/ekor menghasilkan bobot panen lebih tinggi pada periode akhir dibandingkan dengan kandang tanpa IoT, kandang dengan IoT berpengaruh dalam mengurangi persentase mortalitas ayam dibandingkan dengan kandang tanpa IoT yaitu 1,5% dan 3,5%. Indeks performa (IP) 407 dan 405 yang berada pada kategori “istimewa” dengan nilai >400. ABSTRACT Increased broiler productivity is reflected in its performance, which can be measured through mortality rates, feed consumption, and body weight. One of the factors that influence broilers to achieve optimal performance is cage management. This study aims to analyze broiler performance in closed house cages based on Internet of Things (IoT) technology compared to closed house cages without IoT. The study was conducted in Palaran District, Samarinda, using a direct observation method on the performance of broilers kept in IoT-based cages and without IoT. The research variables include feed consumption, body weight growth, feed conversion (FCR), harvest weight, and chicken mortality. The results showed that in cages without IoT the amount of feed consumption was 3,140 and 3,088, FCR values ​​1.72 and 1.68, harvest weights 2.02 kg/head and 2.01 kg/head, mortality percentages 10.1% and 8.2%, performance index (IP) 289 and 312 which are in the "Less and Sufficient" categories. The cage using IoT system increases the efficiency of feed consumption compared to the cage without IoT showing the amount of feed consumption of 2,838 g/head and 2,665 g/head, reducing the FCR value of 1.45 and 1.30, the cage with IoT produces a harvest weight of 1.98 kg/head and 2.18 kg/head producing a higher harvest weight in the final period compared to the cage without IoT, the cage with IoT has an effect on reducing the percentage of chicken mortality compared to the cage without IoT, which is 1.5% and 3.5%. Performance index (IP) 407 and 405 which are in the "Excellent" category with a value of >400.
TINGKAT PROTEIN DAN LISIN DALAM RANSUM TERHADAP EFISIENSI LISIN DAN PROTEIN NETTO PADA AYAM KAMPUNG UMUR 12 MINGGU Rizkuna, Akhmat; Wibowo, Ari; Fatmarischa, Novemia; Suhardi, Suhardi; Yusuf, Roosena; Rinastiti, Aghnetha Lintang
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.26-31

Abstract

Penelitian yang dilakukan ini dalam mencari pengaruh tingkat protein dan lisin terhadap efisiensi lisin dan penggunaan protein netto pada ayam kampung yang diperlihara sampai umur 12 minggu. Penelitian yang dilakukan menggunakan 240 ekor ayam kampung (unsex). Model rancangan yang diganakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 x 3 menggunakan 4 ulangan, sehingga terdapat 24 perlakuan dan setiap perlakuan unit percobaan berisi 10 ekor ayam. Perlakuannya meliputi P1L1 (protein 17% + lisin 0,6% ransum), P1L2 (protein 17% + lisin 0,7% ransum), P1L3 (protein 17% + lisin 0,8% ransum), P2L1 (protein 14% + lisin 0,6% ransum), P2L2 (protein 14% + lisin 0,7% ransum), P2L3 (protein 14% + lisin 0,7% ransum). Pengamatan parameternya meliputi efisiensi lisin dan penggunaan protein netto. Analisa data lanjutan menggunakan analisis uji F untuk mengetahui pengaruh perlakuan, dilanjutkan dengan uji Duncan pada tingkat probabilitas 5% jika ditemukan pengaruh nyata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya interaksi protein dan lisin ransum yang nyata (P<0,05) terhadap efisiensi lisin ayam kampung pada umur 12 minggu dengan memberikan hasil yang terbaik pada perlakuan ransum P2L1 (protein 14% dengan lisin 0,6%) dan tidak ada interaksi tingkat protein dan lisin ransum yang nyata (P>0,05) terhadap penggunaan protein netto (PPN) pada ayam kampung umur 12 minggu. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa efisiensi lisin yang optimal dalam ransum pada Protein 14% dan Lisin 0,6% dan tidak memberikan pengaruh dari parameter penggunaan protein netto. ABSTRACT This study aimed to determine the effect of protein and lysine levels on lysine efficiency and netto protein utilization in native chickens raised up to 12 weeks of age. The research utilized 240 unsexed native chickens. A completely randomized design (CRD) with 2 × 3 factorial consisting of 4 replications and 24 experimental units, with each unit containing 10 chickens. The treatments included P1L1 (17% protein + 0.6% lysine in the diet), P1L2 (17% protein + 0.7% lysine in the diet), P1L3 (17% protein + 0.8% lysine in the diet), P2L1 (14% protein + 0.6% lysine in the diet), P2L2 (14% protein + 0.7% lysine in the diet), and P2L3 (14% protein + 0.8% lysine in the diet). Observed parameters included lysine efficiency and net protein utilization. Data analysis involved an F-test to identify treatment effects, with followed by Duncan's multiple range test at a 5% significance level for significant results. The results revealed a significant interaction (P<0,05) between protein and lysine in the diet on lysine efficiency in 12-week-old native chickens, with the best result observed in the P2L1 treatment (Protein 14% and lysine 0.6% in the diet). However, there was no significant interaction (P>0.05) between protein and lysine levels on net protein utilization at 12 weeeks of age. Based on the findings, it can be concluded that optimal lysine efficiency in the diet is achieved with 14% protein and 0.6% lysine, while netto protein utilization is not significantly affected by the treatments.
PENERAPAN GOOD FARMING PRACTICE ASPEK KESEHATAN DAN BIOSEKURITI PADA PETERNAKAN BROILER DI KOTA KENDARI Wiziarti, Wiziarti; Asminaya, Nur Santy; Libriani, Restu
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.8-17

Abstract

Good Farming Practice (GFP) merupakan pedoman budidaya ternak yang baik agar performa produksi ternak optimal dan penyebaran penyakit dapat dikurangi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi penerapan GFP pada aspek kesehatan dan biosekuriti di peternakan ayam broiler di Kecamatan Abeli, Nambo dan Poasia Kota Kendari. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive sampling. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi peternakan ayam broiler meliputi jarak peternakan dengan tempat pemotongan ayam serta ancaman secara fisik, kimia dan biologi sangat sesuai dengan standar GFP. Akan tetapi jarak peternakan dengan pemukiman penduduk berada pada kategori cukup sesuai di Kecamatan Abeli, sangat sesuai di Kecamatan Nambo dan tidak sesuai di Kecamatan Poasia.Penerapan biosekuriti meliputi: biosekuriti pada unggas sakit, unggas mati, pengendalian lalu lintas ternak dan masa istirahat kandang belum sesuai dengan standar GFP sedangkan sanitasi kandang, kebersihan kandang, kebersihan peralatan dan pergantian litter sudah sangat sesuai dengan standar GFP. Tindakan pengendalian penyakit meliputi: vaksinasi, pemberian vitamin dan obat-obatan serta feed additive belum memenuhi standar GFP. Kesimpulan penelitian adalah lokasi peternakan ayam broiler secara umum sudah sesuai dengan GFP. Akan tetapi, penerapan biosekuriti dan pengendalian penyakit pada ayam broiler belum sesuai dengan GFP. ABSTRACT Good Farming Practice (GFP) is a guideline for good livestock farming so that livestock production performance is optimal and the spread of disease can be reduced. This study aims to evaluate the application of GFP on health and biosecurity aspects in broiler chicken farms in Abeli, Nambo and Poasia Districts, Kendari City. The location of the study was determined by purposive sampling. The data obtained were tabulated and analyzed using qualitative descriptive methods. The results showed that the location of broiler chicken farms including the distance of the farm to the chicken slaughterhouse and physical, chemical and biological threats were very much in accordance with GFP standards. However, the distance of the farm to residential areas was in the category of quite appropriate in Abeli ​​District, very appropriate in Nambo District and not appropriate in Poasia District. The application of biosecurity includes: biosecurity on sick poultry, dead poultry, livestock traffic control and cage rest periods have not been in accordance with GFP standards while cage sanitation, cage cleanliness, equipment cleanliness and litter changes have been very much in accordance with GFP standards. Disease control measures include: vaccination, provision of vitamins and medicines and feed additives have not met GFP standards. The conclusion of the study is that the location of broiler chicken farms in general is in accordance with GFP. However, the implementation of biosecurity and disease control in broiler chickens is not in accordance with GFP.
PENGGUNAAN SUPLEMEN ORGANIK CAIR TAUCO TERHADAP ASAM LAKTAT, pH, SUSUT BAHAN KERING DAN NILAI FLEIGH DEDAK PADI FERMENTASI Awaliyah, Alif Tiffany Azizah; Hernaman, Iman; Ayuningsih, Budi; Rosani, Urip
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.18-25

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dosis penggunaan suplemen organik cair (SOC) tauco terhadap kualitas dedak padi fermentasi yang diukur berdasarkan kadar asam laktat, pH, susut bahan kering, dan nilai Fleigh. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan dan enam ulangan dimana P0 (1000 gram dedak padi : 300 gram molasses), P1 (1000 gram dedak padi : 200 gram molasses : 100 gram SOC) dan P2 (1000 gram dedak padi : 100 gram molasses : 200 gram SOC). Data yang diperoleh diolah dan dianalisis ragam dan uji lanjut jarak berganda Duncan menggunakan software SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan suplemen organik cair (SOC) tauco memberikan pengaruh yang sangat signifikan (p<0,01) terhadap asam laktat, pH, susut bahan kering dan nilai Fleigh. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan suplemen organik cair (SOC) tauco pada perlakuan P2 menghasilkan produk dedak padi fermentasi terbaik berdasarkan pH (4,75), asam laktat (25,17%), susut bahan kering (2,80%) dan nilai Fleigh (168,72). ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect and dosage of the use of liquid organic supplement (LOS) tauco on the quality of fermented rice bran. The quality of fermented rice bran was measured based on lactic acid content, pH, dry matter loss, and Fleigh value. This research was conducted at the Laboratory of Ruminant Animal Nutrition and Animal Food Chemistry, Faculty of Animal Science, Padjadjaran University. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of three treatments and six replications where P0 (1000 grams of rice bran: 300 grams of molasses), P1 (1000 grams of rice bran: 200 grams of molasses: 100 grams of LOS) and P2 (1000 grams of rice bran: 100 grams of molasses: 200 grams of LOS). The data obtained were processed and analyzed for variance and Duncan's multiple range further test using SPSS software version 27. The results showed that the use of liquid organic supplements (LOS) tauco gave a very significant effect (p<0.01) on lactic acid, pH, dry matter loss and Fleigh value. It can be concluded that the use of liquid organic supplement (LOS) tauco in treatment P2 produces the best fermented rice bran product based on pH (4.75), lactic acid (25.17%), dry matter loss (2.80%) and Fleigh value (168.72).
INFESTASI CAPLAK (Acari: Ixodidae) PADA KERBAU MOA DI PULAU MOA KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA Porumau, Yandri Yanes; Kunda, Rony Marsyal; Utami, Prasetyarti
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.57-64

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah, distribusi, dan preferensi infestasi caplak (famili Ixodidae) pada kerbau Moa di tiga desa di Kabupaten Maluku Barat Daya, yakni Klis, Tounwawan, dan Werwaru. Sebanyak 900 individu caplak berhasil dikoleksi dan didominasi oleh genus Haemaphysalis. Analisis infestasi berdasarkan lokasi menunjukkan bahwa Desa Klis memiliki jumlah kerbau terinfestasi tertinggi sebanyak 28 ekor, disusul oleh Desa Tounwawan dan Werwaru masing-masing dengan 15 ekor. Infestasi berdasarkan kelompok umur menunjukkan prevalensi yang signifikan lebih tinggi pada kerbau dewasa dibandingkan pedet (anak kerbau). Tidak ditemukan infestasi pada pedet di Desa Klis dan Tounwawan, sedangkan pada kelompok dewasa ditemukan masing-masing 325 dan 250 individu caplak dengan rata-rata infestasi per ekor sebesar 13 dan 12,5. Di Desa Werwaru, pedet menunjukkan infestasi ringan (rata-rata 0,38 caplak per ekor), sedangkan kelompok dewasa mengalami infestasi yang lebih berat dengan total 320 caplak (rata-rata 14,55 caplak per ekor). Berdasarkan bagian tubuh yang terinfestasi, telinga merupakan lokasi dominan dengan jumlah 369 caplak (41% dari total). Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh sifat telinga yang hangat, lembap, dan relatif terlindung, sehingga menjadi habitat ideal bagi caplak untuk berkembang biak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam strategi pengendalian caplak yang efektif, dengan memperhatikan faktor umur, lokasi tubuh, dan distribusi spasial infestasi. ABSTRACT This study aimed to identify the number, distribution, and infestation preferences of ticks (family Ixodidae) on Moa buffalo in three villages in the Southwest Maluku Regency, i.e Klis, Tounwawan, and Werwaru. A total of 900 tick specimens were collected, predominantly from the genus Haemaphysalis. Infestation analysis based on location showed that Klis had the highest number of infested buffalo (28 individuals), followed by Tounwawan and Werwaru with 15 individuals each. Age-based infestation data revealed a significantly higher prevalence in adult buffalo compared to calves. No infestation was recorded in calves from Klis and Tounwawan, while adult buffalo in these villages were infested with 325 and 250 ticks, respectively, with an average of 13 and 12.5 ticks per animal. In Werwaru, calves showed mild infestation (average of 0.38 ticks per animal), while adult buffalo had more severe infestations with 320 ticks found (average of 14.55 per animal). Analysis of tick attachment sites on the buffalo's body revealed the ears as the most commonly infested area, with a total of 369 ticks (41% of the total count). This is likely due to the ears' warm, moist, and sheltered conditions, making them an ideal site for tick survival and reproduction. These findings are expected to serve as a basis for developing effective tick control strategies, considering factors such as age, body part preference, and spatial distribution of infestations.
PETERNAKAN BABI BERBASIS KELUARGA DI WILAYAH URBAN: KARAKTERISTIK, PENGELOLAAN, MANFAAT DAN KENDALA (STUDI KASUS DI KOTA AMBON) Tatipikalawan, Jomima Martha; Sangadji, Insun; Tomatala, George Semuel Johny
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.32-39

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik, pengelolaan, menilai manfaat, dan kendala peternakan babi berbasis keluarga di wilayah urban, dengan fokus pada Kota Ambon. Sampel wilayah pada 3 kecamatan yang dipilih secara purposive sampling dengan populasi babi terbanyak yaitu Kecamatan Baguala, Teluk Ambon dan Nusaniwe. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, melibatkan 115 peternak babi sebagai responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD), wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternakan babi di Kota Ambon masih berskala kecil, dipelihara umumnya secara intensif, dengan sumber pakan berasal dari limbah restoran, pasar, rumah tangga dan Instalasi Pembuangan Sampah Terpadu (IPST) Kota Ambon sebagai pakan ternak. Tujuan pemeliharaan yaitu sebagai sumber pendapatan dan tabungan. Peternakan babi di Kota Ambon memberikan kontribusi sebesar 49,76% terhadap pendapatan keluarga. Peternakan ini juga berfungsi sebagai tabungan, sumber pendapatan, dan elemen penting dalam acara keluarga. Meskipun memiliki potensi besar, usaha ini menghadapi kendala seperti keterbatasan lahan, pengelolaan limbah, dan konflik lingkungan. Tingkat kepemilikan ternak babi di Kota Ambon secara signifikan dipengaruhi oleh status kepemilikan lahan, sistem pemeliharaan dan luas lahan. ABSTRACT This research aims to describe the characteristics, management, assess the benefits, and constraints of family-based pig farming in urban areas, focusing on the city of Ambon. The sample area in 3 sub-districts selected by purposive sampling with the largest pig population is Baguala, Teluk Ambon and Nusaniwe Districts. This study uses a descriptive qualitative approach, involving 115 pig farmers as respondents selected by purposive sampling. Data collection was carried out through Focus Group Discussion (FGD), interviews and observations. The results of the study show that pig farms in Ambon City are still small-scale, generally maintained intensively, with feed sources coming from waste from restaurants, markets, households and the Ambon City Integrated Waste Disposal Plant (IPST) as animal feed. The purpose of maintenance is as a source of income and savings. Pig farming in Ambon City contributes 49.76% to family income. The farm also serves as a savings, source of income, and an important element in family events. Despite having great potential, this business faces obstacles such as land limitations, waste management, and environmental conflicts. The level of pig ownership in Ambon City is significantly influenced by land ownership status, maintenance system and land area.

Page 10 of 13 | Total Record : 121