cover
Contact Name
diah sudiarti
Contact Email
bbioshell@gmail.com
Phone
+6281236716433
Journal Mail Official
bbioshell@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kyai Mojo No. 101 Kaliwates, Jember 68133
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL BIOSHELL
ISSN : 23014105     EISSN : 26230321     DOI : -
Jurnal Bioshell bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara penelitian dan praktik, memberikan informasi, ide dan pendapat, selain ujian kritis kemajuan penelitian, pengajaran, pembelajaran biologi, Biologi, dan Pembelajaran IPA. Melalui cakupan kebijakan dan pengembangan kurikulum, hasil penelitian terbaru tentang pengajaran, pembelajaran dan penilaian biologi dikedepankan. Jurnal Bioshell menerima dan menerbitkan artikel dalam bentuk penelitian dan kajian (artikel ilmiah) di bidang pendidikan biologi dan pemanfaatan penelitian biologi dalam proses belajar mengajar. Semua artikel diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan menjalani proses penilaian sejawat. Ruang lingkup Jurnal Bioshell difokuskan pada penelitian / review pendidikan biologi, Biologi, dan Pembelajaran IPA.
Articles 178 Documents
Karakterisasi Ekstraksi Glukomanan Ampas Kelapa (Cocos nucifera) dan Pektin Kulit Mangga (Mangifera indica) Farid, Ulfa Maulida; Utami, Vita Kurnia; Putri, Fairuza Maulida; Romdhani, Ahmad Mundzir
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/bio.v15i1.5162

Abstract

Kelapa merupakan buah yang dikenal dengan sejuta manfaat bahkan limbah ampas kelapanya. Di sisi lain limbah buah tropis seperti limbah kulit mangga juga perlu dikelola lebih lanjut mengingat potensi nutrisi di dalamnya. Oleh karena itu perlu adanya karakterisasi ekstraksi ampas kelapa dan kulit mangga menjadi glukomanan dan pektin. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi menggunakan pelarut aquades dan etanol 96% pada perbedaan suhu. Pengukuran karakterisasi meliputi uji rendemen, uji kadar air, berat dan pH. Karakterisasi hasil ekstraksi glukomanan ampas kelapa (Cocos nucifera) menujukkan nilai rendemen sebesar 8%, kadar air 5,92% dengan berat 0,655 gr dengan pH 7. dan pektin kulit mangga (Mangifera indica) menunjukkan nilai rendemen sebesar 15%, kadar air sebesar 12,33% dengan berat 0,876 gr pada ph 3. Hasil ekstraksi glukomanan ampas kelapa dan pektin kulit mangga menunjukkan perbedaan karakteristik berdasarkan nilai rendemen, berat dan kadar air yang dipengaruhi oleh perbandingan bahan baku dengan pelarut dan suhu ekstraksi.
Pengaruh Jenis Tanah pada Percepatan Perkecambahan Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Amanda, Putri; Tambunan, Diana Putri Kamila; Harahap, Fauziyah; Silitonga, Melva; Edi, Syahmi
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/bio.v15i1.4831

Abstract

Pertumbuhan awal tanaman, khususnya fase perkecambahan, sangat dipengaruhi oleh media tanam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis tanah (humus, liat, dan pasir) terhadap percepatan perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif awal kacang hijau (Vigna radiata L.). Desain yang digunakan adalah eksperimental sederhana dengan satu faktor perlakuan, dan pengamatan dilakukan selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah humus memberikan waktu muncul radikula tercepat (24 jam) dan plumula tercepat (48 jam). Keunggulan ini karena humus memiliki aerasi, bahan organik, dan kapasitas menahan air yang seimbang. Sebaliknya, tanah pasir menunjukkan waktu muncul paling lambat (radikula 48 jam; plumula 72 jam) karena retensi air dan hara yang rendah. Selain itu, tanah humus juga menghasilkan pertumbuhan awal terbaik, dengan tinggi rata-rata 11 cm dan 3 helai daun sejati pada hari ke-7, jauh melampaui tanah liat (7,5 cm) dan pasir (4,2 cm). Kesimpulan menunjukkan bahwa jenis tanah memengaruhi secara signifikan laju perkecambahan dan pertumbuhan awal; tanah humus adalah media tanam yang paling optimal untuk budidaya kacang hijau.
Pengaruh Jenis Air (Air Sumur, Air Mineral, Air EcoEnzim) terhadap Pertumbuhan Daun Tanaman Kacang Hijau Azhari, Muhammad; Pribadi, Koko; Harahap, Fauziyah; Silitonga, Melva; Edi, Syahmi
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/bio.v15i1.4869

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jenis air terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus). Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya ketersediaan air sebagai jenis aktifator enzim dan hormon yang berperan dalam proses perkecambahan dan pertumbuhan tanaman. Metode eksperimen digunakan dengan membandingkan tiga jenis air, yaitu air eco-enzyme, air mineral (air galon), dan air sumur. Sebanyak dua belas polybag kacang hijau, masing-masing berisi enam benih, diberikan perlakuan dengan jenis air yang berbeda dan diletakkan pada tempat yang mendapat sinar matahari secara merata selama tujuh hari pengamatan. Parameter yang diukur meliputi tinggi tanaman, ukuran daun, dan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air eco-enzyme memberikan hasil pertumbuhan terbaik, diikuti air mineral, dan terakhir air sumur. Tinggi tanaman dan ukuran daun terbesar diperoleh pada perlakuan air eco-enzyme. Kesimpulannya, jenis air yang digunakan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau, dan eco-enzyme dapat direkomendasikan sebagai alternatif jenis irigasi ramah lingkungan untuk meningkatkan produktivitas tanaman ini.
Perbandingan Morfologi Pertumbuhan Kecambah Kacang Hijau (Vigna radiata) pada Kondisi Terang dan Gelap Ujung, Siti Nuraisah Asma; Apriliani, Indah Rizka; Harahap, Fauziyah; Silitonga, Melva; Edi, Syahmi
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/bio.v15i1.4883

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perbedaan morfologi pertumbuhan awal kecambah kacang hijau (Vigna radiata L.) saat diletakkan di tempat terang dan di tempat gelap total. Peneliti fokus mengamati empat ciri utama: panjang batang, jumlah daun sejati, vigoritas, dan perubahan warna daun. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menempatkan benih kacang hijau dalam dua kondisi berbeda selama 6 hari: tiga polybag di tempat terang (terkena matahari) dan tiga polybag di tempat gelap total (dimasukkan dalam kardus). Data pertumbuhan, seperti tinggi batang dan jumlah daun, dicatat setiap hari melalui pengamatan langsung dan pengukuran fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cahaya adalah faktor yang sangat penting dalam mengatur pertumbuhan kacang hijau. Awalnya, kecambah di tempat gelap mengalami pemanjangan batang yang sangat cepat (etiolasi) sebagai usaha untuk mencari cahaya, tetapi pertumbuhan ini terhambat dan terhenti karena kehabisan cadangan makanan biji dan tidak bisa berfotosintesis. Sebaliknya, kecambah di tempat terang tumbuh lebih lambat di awal, tetapi kemudian menghasilkan batang yang lebih kokoh dan lebih panjang pada akhir pengamatan karena memiliki energi berkelanjutan dari fotosintesis. Selain itu, ada perbedaan warna daun yang mencolok: daun di tempat terang berwarna hijau tua karena produksi klorofil yang optimal, sedangkan daun di tempat gelap tampak kuning pucat dan layu karena gagal membentuk klorofil, meskipun jumlah daun yang muncul sama.
Review: Potensi Dampak Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) dari Asap Kebakaran Hutan Gambut terhadap Penyakit Paru di Kalimantan Tengah Wijayanti, Nira Meirita; Suhartati, Sri; Fadillah, Noor
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/bio.v15i1.5427

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah mengenai karakteristik emisi PAH dari kebakaran gambut serta implikasinya terhadap kesehatan paru. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan systematic review terhadap literatur terindeks pada PubMed/PMC, Scopus, Web of Science, dan Google Scholar dalam rentang 2010–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembakaran gambut pada fase smouldering menghasilkan dominasi PAH berat yang bersifat persisten, karsinogenik, dan cenderung terikat pada fraksi partikulat halus PM₂.₅ dan PM₁. Keterikatan ini meningkatkan stabilitas atmosferik, potensi transport jarak jauh, serta risiko paparan inhalasi hingga ke bronkiolus dan alveoli paru. Secara biologis, paparan PAH melalui inhalasi memicu stres oksidatif dan inflamasi kronis melalui aktivasi Aryl hydrocarbon Receptor (AhR) serta penurunan aktivitas enzim antioksidan, yang berkontribusi terhadap kerusakan epitel saluran napas, remodeling jaringan paru, dan peningkatan risiko asma, PPOK, serta kanker paru. Meskipun bukti epidemiologis spesifik di Kalimantan Tengah masih terbatas, sintesis literatur menunjukkan tingginya kerentanan kesehatan masyarakat terhadap paparan asap kebakaran gambut.
Inhibition Zone Test of Ethyl Acetate Extract of White Frangipani (Plumeria acuminata) Against Candida albicans Ganjar, Sila Paramita Dhayang; Novitarini, Novitarini; Kresnapati , I Nyoman Bagus Aji
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/bio.v15i1.5159

Abstract

Candida albicans infection is a common health problem in Indonesia, particularly due to the tropical climate that supports fungal growth. The prevalence of candidiasis in Indonesia is approximately 20–25%. The use of synthetic antifungals such as ketoconazole is becoming increasingly limited because of the emergence of resistance and adverse side effects, creating the need for safer natural alternatives. One potential solution is the utilization of white frangipani (Plumeria acuminata), which is known to contain antifungal compounds such as flavonoids, alkaloids, and tannins. This study aimed to evaluate the effectiveness of ethyl acetate extract from white frangipani flowers against the growth of Candida albicans, as measured by the inhibition zones formed. The method used was a laboratory experimental design with well diffusion assays, applying various extract concentrations (25%, 50%, 75%, and 100%) against Candida albicans, followed by measuring the inhibition zone diameters. The results showed that increasing extract concentrations correlated with larger inhibition zone diameters, ranging from 16 mm at 25% concentration, 20.1 mm at 50%, 23.8 mm at 75%, and 27.5 mm at 100%. Based on these findings, it can be concluded that white frangipani flowers have potential as a natural antifungal alternative at all tested concentrations, with particularly strong effectiveness at 50%, 75%, and 100%. Therefore, white frangipani shows promise for further development as a herbal medicine.
Profil Karakteristik Organoleptik Tapai Singkong (Manihot esculenta): Analisis Rasa, Tekstur dan Aroma pada Berbagai Variasi Konsentrasi Ragi Rahmawati, Rahmawati; Mualimah, Isnan; Tyarini, Elly Brata; Aryati, Dessy Ayu
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi ragi secara spesifik mengubah karakter rasa, aroma dan tekstur pada tapai singkong. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Palangka Raya pada bulan Oktober-November 2025. Penelitian ini menggunakan metode uji organoleptik dengan skala kategorikal terhadap 11 panelis dengan variasi dosis ragi 1,2 g; 2,5 g; 3,7 g; dan 5 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ragi memberikan perubahan nyata terhadap profil sensoris. Kualitas optimal dicapai pada konsentrasi rendah, yaitu aroma khas tapai tertinggi (91%) dan tekstur lembut (73%) diperoleh pada dosis 1,2 g, sedangkan rasa manis dominan tertinggi (64%) dicapai pada dosis1,2 g dan 2,5 g. Sebaliknya, dosis 5 g menyebabkan penurunan kualitas dengan munculnya rasa pahit (64%), tekstur keras (52%) dan aroma busuk (76%) akibat over-fermentation. Berdasarkan hasil tersebut, konsentrasi ragi 1,2 g hingga 2,5 g direkomendasikan sebagai standar formulasi untuk meningkatkan daya terima pasar produk tapai singkong Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi ragi secara spesifik mengubah karakter rasa, aroma dan tekstur pada tapai singkong. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Palangka Raya pada bulan Oktober-November 2025. Penelitian ini menggunakan metode uji organoleptik dengan skala kategorikal terhadap 11 panelis dengan variasi dosis ragi 1,2 g; 2,5 g; 3,7 g; dan 5 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ragi memberikan perubahan nyata terhadap profil sensoris. Kualitas optimal dicapai pada konsentrasi rendah, yaitu aroma khas tapai tertinggi (91%) dan tekstur lembut (73%) diperoleh pada dosis 1,2 g, sedangkan rasa manis dominan tertinggi (64%) dicapai pada dosis1,2 g dan 2,5 g. Sebaliknya, dosis 5 g menyebabkan penurunan kualitas dengan munculnya rasa pahit (64%), tekstur keras (52%) dan aroma busuk (76%) akibat over-fermentation. Berdasarkan hasil tersebut, konsentrasi ragi 1,2 g hingga 2,5 g direkomendasikan sebagai standar formulasi untuk meningkatkan daya terima pasar produk tapai singkong.
Ekspansi Kelapa Sawit terhadap Ekologi Orangutan: Perubahan Perilaku, Penggunaan Habitat, dan Konflik Manusia–Orangutan Husna, Himmatul; Murtopo, Setyadi Ari; Kristianto , Sonny
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekspansi perkebunan kelapa sawit telah menjadi salah satu pendorong utama perubahan lanskap hutan tropis, yang berdampak langsung pada kelangsungan hidup orangutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana deforestasi dan fragmentasi habitat memengaruhi kualitas habitat, adaptasi perilaku, serta interaksi antara manusia dan orangutan. Melalui tinjauan literatur terhadap berbagai studi ilmiah, ditemukan bahwa konversi hutan menjadi perkebunan menyebabkan penurunan ketersediaan pakan dan ruang jelajah, sehingga memaksa orangutan beradaptasi pada habitat terdegradasi. Adaptasi ini meningkatkan frekuensi perjumpaan dengan manusia, yang sering kali berujung pada konflik, kerugian ekonomi, hingga ancaman terhadap keselamatan kedua pihak. Meskipun beberapa individu menunjukkan kemampuan bertahan di lanskap yang terfragmentasi, kondisi tersebut tidak menjamin keberlanjutan populasi dalam jangka panjang. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan lanskap yang berkelanjutan dan strategi konservasi yang mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan perlindungan satwa liar.