cover
Contact Name
Imam Setyobudi
Contact Email
jurnaletnika.isbibdg@gmail.com
Phone
+6222-7314982
Journal Mail Official
jurnal.budaya.etnika@isbi.ac.id
Editorial Address
Jalan Buah Batu no 212 Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Budaya Etnika
ISSN : 2549032X     EISSN : 27981878     DOI : -
Jurnal Budaya Etnika merupakan publikasi hasil karya ilmiah yang berkaitan dengan budaya mencakup cipta, karsa, dan karya manusia. Jurnal Budaya Etnika menaruh perhatian pada artikel-artikel hasil kajian mengenai berbagai kebudayaan etnis yang berhubungan dengan seni, religi dan ritual, mitos, media, dan wacana kritis.
Articles 96 Documents
KEAGENAN KELOMPOK ALUNAN NUSANTARA TERHADAP HABITUS SELERA MUSIK INDONESIA 19771980 Arbhirizky, Muhammad; Setyobudi, Imam
Jurnal Budaya Etnika Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.3304

Abstract

ABSTRAK Penulisan ini mengangkat tentang fenomena populernya kembali musik lawas Indonesia 19771980, khususnya musik dari Gank Pegangsaan. Kelompok Alunan Nusantara sebagai agen yang berperan dalam mempopulerkan kembali musik lawas Indonesia menjadi objek dari Penulisan ini. Selanjutnya, kelompok ini disesuaikan dengan konsep habitus, disertai analisis berdasarkan teori nostalgia. Penulisan ini merupakan Penulisan kualitatif dengan metode observasi partisipasi, wawancara, dan studi pustaka. Penulisan ini menghasilkan simpulan bahwa: 1) Alunan Nusantara menularkan selera musik Indonesia 19771980 lewat konten instagram yang menarik, 2) orang tua dari masing- masing aktor Alunan Nusantara berperan penting dalam membagikan nostalgia, 3) musik Indonesia 19771980, yaitu Gank Pegangsaan, merupakan puncak kreativitas musik Indonesia. Hal ini dapat diketahui lewat syair dan aransemen musiknya yang berbeda dari musik Indonesia pada umumnya saat itu serta banyak terpengaruh dari elemen musik rok progresif. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi aktor Alunan Nusantara. Kata kunci: Alunan Nusantara, Nostalgia, Selera Musik, Rok Progresif, Habitus Selera ABSTRACT This research talks about the phenomenon of the re-popularity of 19771980 Indonesian music, especially the music of Gank Pegangsaan. The Alunan Nusantara group as an agent that plays a role in the re-popularization of this music is the main object of this research. Afterwards, this group is adjusted to the concept of habitus, and analyzed with nostalgia theory. This research is a qualitative research with some method, such as participatory observation, interview, and literature study. The concludes from this research is: 1) Alunan Nusantara introduce 19771980 Indonesian musical tastes through interesting Instagram content, 2) the parents of each Alunan Nusantaras actor played an important role in sharing their nostalgia, 3) Indonesian music from 19771980, namely Gank Pegangsaan, is the peak of creativity of Indonesian musi. This can be seen through the lyrics and musical arrangements, which are different from Indonesian musics in general at that time and are heavily influenced by progressive rocks element. This is the main attraction for Alunan Nusantara actors Key words: Alunan Nusantara, Nostalgia, Musical Taste, Progressive Rock, Taste Habitus
MITOS EYANG PAPAK DI DESA CINUNUK, KECAMATAN WANARAJA, KABUPATEN GARUT Paujiah, Nadia Pinsuri; Setyobudi, Imam
Jurnal Budaya Etnika Vol 7, No 2 (2023): ANTROPOLOGI STRUKTURAL DAN ANTROPOLOGI MUSIK: TRITANGTU DAN PARIWISATA BUDAYA
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v7i2.2870

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai struktur pada mitos Eyang Papak di Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Pembahasan dalam penelitian ini berfokus pada analisis mitos perspektif teoretik strukturalisme (Claude Levi-Strauss) yang merujuk pada penafsiran atas mitem atau disebut juga ceritem. Langkah-langkah analisis mitos: penulis mencari mitem (mytheme) atau disebut juga ceritem berlanjut pada upaya menjelaskan struktur terdalamnya. Metode penelitiannya menggunakan kualitatif: studi pustaka, dokumentasi, observasi, serta wawancara tidak terstruktur. Hasil penelitian mengemukakan bahwa dalam mitos Eyang Papak terdapat struktur luar yang menunjukkan alur kehidupan dari Eyang Papak. Sedangkan, struktur dalam menunjukkan makna yang menjelaskan logika nalar masyarakat dalam memandang kehidupan dan kondisi sosial-budayanya. Dengan demikian, mitos Eyang bukan hanya cerita hiburan semata, tetapi di dalamnya penjelasan mengenai kondisi sosial budaya, ekonomi, ekologis, sistem kekerabatan, kepercayaan serta nilai-nilai dan falsafah hidup. Kata Kunci: Mitos, Eyang Papak, Struktur Luar, Struktur Dalam ABSTRACT This study discusses about the structure of Eyang Papak, the myth occurs in Cinunuk Village, Wanaraja District, Garut Regency. The study focuses on the myths analysis through the theoretical perspective of structuralism (Claude Levi-Strauss) which refers to the interpretation of mytheme, also known as Ceritheme. The steps used within this myth analysis: the writer pursues for the mytheme or also known as the ceritheme and it continues as an explanation endeavor to its deepest structure. The method used in this research is qualitative by collecting literature study, documentation, observation, and unstructured interviews. The result of the study suggests which in the myth of Eyang Papak there was an surface structure that shows the life flow of Eyang Papak. Meanwhile, the deep structure shows the meaning that explains the logic of societys reasoning in viewing their life according to the socio-cultural conditions. Thus, the Eyang Papak myth is not just an entertainment story, nevertheless it includes an explanation of socio-cultural, economic, ecological conditions, kinship systems, beliefs, values and philosophy of life. Keywords: Myth, Eyang Papak, Surface Structure, Deep Structure
UPACARA MARAK LAUK DI SUNGAI CIKUBANG, KAMPUNG PARAKANSALAM, DESA NYALINDUNG, KECAMATAN CIPATAT Tismara, Hernandi
Jurnal Budaya Etnika Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.3303

Abstract

ABSTRAK Kearifan lokal upacara marak lauk di sungai adalah tradisi budaya yang menggambarkan perilaku manusia dalam memanfaatkan sungai untuk dikonsumsi ikannya, guna mencukupi kebutuhan pangan. Upacara marak lauk merupakan warisan budaya leluhur yang diekspresikan untuk memuliakan alam sebagai titipan Tuhan. Tradisi budaya marak lauk mengajarkan bagaimana cara yang layak dan pantas dalam menangkap ikan. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk melihat bagaimana proses upacara marak lauk dan persepsi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana persepsi masyarakat masih melakukan upacara lauk ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa upacara marak lauk dilakukan sebagai bentuk perwujudan manusia dalam menghormati dan menghargai lingkungan alam dan mahluk halus penunggu sungai. Semua rangkaian acara sangat terstruktur, terintegrasi, memiliki standar operasional prosedur walaupun tidak tertulis. Inilah bentuk kebudayaan adiluhung masyarakat sunda Kampung Parakansalam desa Nyalindung kecamatan Cipatat kabupaten Bandung Barat dalam menangkap ikan di sungai. Semoga tradisi ini bisa membangun kesadaran masyarakat, dan pemerintah dalam memelihara lingkungan sungai. Kata kunci: Upacara Marak Lauk, Pemangku Adat, Sungai, Persepsi. ABSTRACT The local wisdom of the marak lauk ceremony in the river is a cultural tradition that describes human behavior in using the river to consume fish in order to meet food needs. The marak lauk ceremony is an ancestral cultural heritage expressed to glorify nature as a gift from God. The widespread cultural tradition of marak lauk teaches how to properly and appropriately catch fish. Qualitative research methods were used in this research to examine the process of the marak lauk ceremony and public perceptions. The aim of this research is to see how people perceive that they still carry out this side dish ceremony as part of local wisdom that needs to be preserved. The results of this research show that the marak lauk ceremony is done as a form of human manifestation of respecting and appreciating the natural environment and the spirits that guard rivers. All series of events are very structured, integrated, and have standard operating procedures, even though they are not written. This is a form of noble culture of the Sundanese people of Parakansalam Village, Nyalindung Village, Cipatat Sub-District, West Bandung Regency, in catching fish in the river. Hopefully, this tradition can build public and government awareness about maintaining the river environment. Keywords: Marak Lauk Ceremony, Traditional Authority, Perception.
STRUKTUR DALAM MITOS PENGUBURAN ARI-ARI BAYI DI KAMPUNG BLOK TEMPE KOTA BANDUNG Soleh, Erin Rintana; Rustiyanti, Sri; Setyobudi, Imam
Jurnal Budaya Etnika Vol 7, No 2 (2023): ANTROPOLOGI STRUKTURAL DAN ANTROPOLOGI MUSIK: TRITANGTU DAN PARIWISATA BUDAYA
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v7i2.2887

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai struktur yang terdapat pada mitos penguburan ari-ari yang berada di Kampung Blok Tempe Kota Bandung. Pembahasan dalam penelitian ini meliputi prosesi penguburan ari-ari dilanjutkan dengan, mitos yang terdapat pada ramuan yang diperlukan dalam penguburan ari-ari dan struktur dalam yang merupakan logika nalar budaya di belakang tindakan penguburan ari-ari. Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan kualitatif: studi pustaka, dokumentasi, observasi, serta wawancara tidak terstruktur. Hasil dari peneliti ini yaitu, mitos pada penguburan ari-ari tidak hanya terbentuk begitu saja tanpa memilki makna dan maksud tertentu. Melainkan terdapat makna terdalam di dalamnya. Seperti nilai-nilai budaya tersebut mengendalikan tata cara bertingkah-laku, pola pemikiran masyarakat membentuk mitos tersebut untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan dengan tugas pokoknya sebagai manusia. Selain itu, bertujuan untuk memberikan keharmonisan berkehidupan sosial sesama manusia sebagai makhluk sosial yang sudah pasti memerlukan manusia lain dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci: mitos, ari-ari, logika nalar budaya ABSTRACT This study discusses the structure contained in the myth. The burial of the placenta in the blok tempe of Bandung city. The discussion in this study includes the procession of the burial of the placenta followed by the myths contained in the ingredients needed in the burial of the placenta and the internal structure: the logic of cultural reasoning in the burial of the placenta. The method used in this research is qualitative: literature study, documentation, observation, and unstructured interviews. The result of this research is that the myth of the burial of the placenta is not just formed without having a specific meaning and purpose. But there is a deep meaning in it. As these cultural values control the procedures for behaving, the mindset of the community forms the myth to create balance in life with its main duties as humans, besides that, it aims to provide harmony in the social life of fellow humans as social beings who definitely need other humans in their life. everyday life. Keywords: Myth, placenta, logic of reason
PARIWISATA TEMATIK DAN HARAPAN BARU: ANALISA PENGEMBANGAN KAMPUNG BUDAYA POLOWIJEN BERBASIS TOURISM AREA LIFE CYCLE (TALC) Zurinani, Siti; Kamilah, Isti Aulia
Jurnal Budaya Etnika Vol 7, No 2 (2023): ANTROPOLOGI STRUKTURAL DAN ANTROPOLOGI MUSIK: TRITANGTU DAN PARIWISATA BUDAYA
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v7i2.2873

Abstract

ABSTRAK Fenomena tourist boom mendorong pembangunan destinasi pariwisata, termasuk Kota Malang. Potensi berbeda digunakan oleh Kota Malang dalam mengembangkan industri pariwisatanya, yaitu melalui potensi budaya yang akhirnya melahirkan kampung-kampung tematik. Sebagai salah satu kampung tematik di Kota Malang, Kampung Budaya Polowijen hadir dengan mengangkat sejarah dan tradisi yang ada di Polowijen. Pembentukan KBP didasari oleh kesadaran masyarakatnya akan potensi budaya yang dapat modal dalam membentuk destinasi pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan Kampung Budaya Polowijen melalui Kurva Tourism Area Life Cycle milik Butler. Selain itu, juga untuk mengetahui seberapa besar peran masyarakat lokal dalam pengembangan Kampung Budaya Polowijen. Penelitian ini dilakukan di kawasan Kampung Budaya Polowijen, Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dan netnografi. Penggalian data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi partisipasi serta dokumentasi baik secara langsung maupun termediasi oleh internet. Informan yang dipilih adalah aktor pengembangan, wisatawan, masyarakat lokal penggiat Kampung Budaya Polowijen dan masyarakat di luar dari Kampung Budaya Polowijen. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat tiga jenis peran masyarakat dalam pengembangan Kampung Budaya Polowijen. Pertama, berperan aktif, berupa keterlibatan sebagai penggiat Kampung Budaya Polowijen. Kedua, berperan pasif, yaitu mendukung kegiatan yang ada di Kampung Budaya Polowijen dan tidak berperan sama sekali. Selain itu, melalui Kurva Tourism Area Life Cycle, Kampung Budaya Polowijen belum melewati siklus yang ada. Hingga saat ini, Kampung Budaya Polowijen masih menempati tahapan keterlibatan, meski begitu terdapat karakteristik yang beranjak ke tahap perkembangan dan yang masih tertinggal di tahap eksplorasi. Selain itu, terdapat fenomena-fenomena yang terjadi dalam pengembangan Kampung Budaya Polowijen yaitu penggunaan identitas dan warisan budaya dalam pengembangan, permasalahan lokasi di perkampungan dan kegiatan yang tidak berjalan konsisten. Kata Kunci: Peran Masyarakat, TALC, Pariwisata, Kampung Tematik, Budaya. ABSTRACT The phenomenon of tourist boom encourages the development of tourism destination, including Malang. Malang has different potential used in developing its tourism industry, namely through its cultural potential which eventually cause the thematic kampongs to emerge. As one of thematic kampong in Malang, Kampung Budaya Polowijen is present by promoting the history and traditions in Polowijen. Kampung Budaya Polowijen was established based on the awareness of its community about cultural potential which can be asset for forming tourism destination. This study intends to know the development of Kampung Budaya Polowijen through Butlers Tourism Area Life Cycle Curve. Moreover, it is also to know how significant role of local community is in the development. This study is located in Kampung Budaya Polowijen, in Polowijen, Blimbing, Malang. This study uses ethnography and netnography methods. The data are obtained by doing interviews, participatory observations and documentations both directly and mediated by the internet. Chosen informant are development actors, tourists, local community including the ones who involve in Kampung Budaya Polowijen, and the ones who do not. The result of this study is there are three roles in local community in the development of Kampung Budaya Polowijen. The first role plays an active role as an activist. Next is the passive role who play as a supporter in the activities. Then, the last are those who do not play any roles. Furthermore, through Tourism Area Life Cycle Curve, Kampung Budaya Polowijen have not passed the cycle yet. Now, Kampung Budaya Polowijen is still in involvement stage. However, there are characteristics which are moving to development stage and stuck in exploration stage. Additionally, this study also found some phenomena in the development of Kampung Budaya Polowijen. They are cultural heritage and identity used in the development, problems in kampong area and inconsistently of the activities. Key words: Community Involvement, TALC, Tourism, Thematic Kampong, Culture.
MAKNA DAN SIMBOL TRADISI BROKOHAN DI DESA KLAMPISAN Qurrotul'ain, Diah
Jurnal Budaya Etnika Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.2875

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia, terdapat beragam tradisi, termasuk di antaranya adalah upacara menyambut kelahiran bayi. Seperti yang diterapkan oleh masyarakat Desa Klampisan, setiap kali ada yang baru melahirkan, mereka melaksanakan suatu tradisi yang dikenal sebagai brokohan. Penelitian ini berusaha menggali tentang tradisi brokohan yang dilakukan oleh warga Desa Klampisan sekaligus mencari makna dan simbol dalam tradisi tersebut. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Penggalian data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Teori yang dipakai dalam peneltian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Tradisi Brokohan merupakan tradisi yang masih dilestarikan di Desa Klampisan. Sebagaimana tradisi-tradisi lainya tradisi brokohan mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai ajaran gama Islam. Tradisi Brokohan dilakuakan dengan acara doa bersama dan diakhiri dengan acara berkatan (sajian). Dan setiap sajian tersebut mengandung makna filosofis tersendiri. Di antara sajian-sajian yang disajikan dalam acara brokohan di Desa Klampisan adalah Nasi ambengan, jenang merah. Ingkung, telur dan urap-urap. Kata kunci: Brokohan; sajian; makna. ABSTRACT In Indonesia, a variety of traditions exists, one of which revolves around welcoming the birth of a newborn. As practiced by the residents of Klampisan Village, whenever someone gives birth, they engage in a customary ritual known as brokohan. This study aims to delve into the brokohan tradition, seeking to unveil the meanings and symbols embedded in this cultural practice. Qualitative research methods are employed, utilizing observation and interview techniques for data collection. The theoretical framework applied in this study draws upon Roland Barthes' semiotic theory. The findings of this investigation uncover that the Brokohan Tradition continues to thrive in Klampisan Village. Similar to other traditions, the brokohan ritual has adapted to align with the values espoused by Islamic teachings. The tradition involves a collective prayer event and culminates with a berkatan (serving) ceremony, where each dish holds its own philosophical significance. Among the dishes presented during the brokohan ceremony in Klampisan Village are Nasi Ambengan, red porridge (jenang merah), Ingkung (a traditional Javanese chicken dish), eggs, and urap-urap (a Javanese salad). Keywords: Brokohan, dishes, meanings.
KONSEP KEHIDUPAN ORANG SUNDA DI LIRIK LAGU CIGAWIRAN Firdausya, Alivya; Suryamah, Dede; Hidayana, Iip Sarip
Jurnal Budaya Etnika Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.1645

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini menganalisis tentang korelasi lirik lagu Cigawiran dengan konsep pandangan hidup orang Sunda, penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, dengan pendekatan kualitatif. Langkah-langkah penelitian dilakukan melalui wawancara dengan narasumber Cigawiran dan melalui studi pustaka. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa konsep hidup orang Sunda yang terdapat dalam lirik lagu Cigawiran dibagi menjadi 5 bagian yaitu: tentang manusia dengan Tuhan, tentang manusia dengan alam, tentang manusia dengan lingkungan sekitar, tentang manusia sebagai pribadinya, dan tentang manusia dalam mengejar kepuasan lahiriah dan batiniahnya. Sedangkan bahasa simbolik yang digunakan dalam lirik lagu Cigawiran untuk mengungkap konsep kehidupan orang Sunda adalah melalui teori interaksi simbolik, dan gaya bahasa pada lirik lagu. Kata kunci: konsep kehidupan orang Sunda, lirik lagu Cigawiran ABSTRACT This study analyzes the correlation of the lyrics of the song Cigawiran with the concept of the Sundanese view of life, this study uses a descriptive analytic method, with a qualitative approach. The research steps were carried out through interviews with Cigawiran resource persons and through literature studies. From the results of the research conducted, it can be seen that the Sundanese concept of life contained in the lyrics of the song Cigawiran is divided into 5 parts, namely: about humans and God, about humans and nature, about humans and the surrounding environment, about humans as individuals, and about humans in pursuit of life. Inner and outer satisfaction. While the symbolic language used in the lyrics of the song Cigawiran to reveal the concept of Sundanese life is through the theory of symbolic interaction, and the style of language in the lyrics of the song. Keywords: the concept of life of the Sundanese, the lyrics of the song Cigawiran
KEBERTAHANAN MUSIK ORKES MINANG KINI: KAJIAN ANTROPOLOGI MUSIK PADA MUSIK ORKES TAMAN BUNGA Gumilang, Rizqa; Setiawati, Sri; Syahrizal, Syahrizal
Jurnal Budaya Etnika Vol 7, No 2 (2023): ANTROPOLOGI STRUKTURAL DAN ANTROPOLOGI MUSIK: TRITANGTU DAN PARIWISATA BUDAYA
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v7i2.2874

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini menggambarkan kelangsungan hidup musik Orkestra Minang saat ini, khususnya Kelompok Musik Orkestra Taman Bunga di kota Padangpanjang, Provinsi Sumatera Barat. Di tengah gempuran industri musik yang berorientasi pasar. Menggunakan premis Kontra Hegemoni Gramsci, bagaimana kelompok ini bertahan dengan ideologi musik mereka. Penelitian ini bertumpu pada pendekatan kualitatif deskriptif. Analisis dalam perspektif Antropologi Musik menjelaskan secara mendalam dan holistik kelangsungan hidup kelompok musik ini. Counter Hegemony sebagai alat analisis dalam melihat apa yang memotivasi kelompok ini untuk memilih genre musik orkestra Minang dan kelangsungan hidup kelompok ini dalam menghadapi industri musik saat ini. Temuan menunjukkan bahwa perjuangan ideologis antara ideologi kelompok ini dan ideologi pasar semakin kuat, menunjukkan adanya kekuatan hegemonik di pasar industri musik di Indonesia. Kegigihan dalam ideologi musik mereka mampu bertahan dengan tidak mengganggu atau mengubah bentuk musik mereka. Prinsip kekeluargaan adalah modal utama bagi kelangsungan hidup kelompok musik ini. Kata kunci: Musik Orkestra Minang, Survival, Antropologi Musik, Kontra Hegemoni ABSTRACT This paper describes the survival of the Minang Orchestra music today, specifically the Taman Bunga Orchestra Music Group in the city of Padangpanjang, West Sumatra Province. In the midst of the onslaught of market-oriented music industry. Using the premise of Gramsci's Counter Hegemony, how this group survives with their musical ideology. The research relies on a descriptive qualitative approach. The analysis in the perspective of Music Anthropology explains deeply and holistically the survival of this musical group. Counter Hegemony as an analytical tool in seeing what motivates this group to choose the genre of Minang orchestra music and the survival of this group in facing the current music industry. The findings show that the ideological struggle between this group's ideology and the market ideology is getting stronger, indicating the presence of hegemonic power in the music industry market in Indonesia. Persistence in their musical ideology is able to survive by not disrupting or changing the shape of their music. The principle of kinship is the main capital for the survival of this musical group. Keywords: Minang Orchestra Music, Survival, Musical Anthropology, Counter Hegemony
ANALISIS MAKNA SIMBOLIK DALAM PROSESI TRADISI PERNIKAHAN SUKU BANGSA BATAK MANDAILING DI TAPANULI SELATAN, SUMATERA UTARA Harahap, Nurhanipah
Jurnal Budaya Etnika Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.2962

Abstract

ABSTRAK Tujuan pada penelitian ini ialah untuk menganalisis mengenai makna simbolik pada tradisi pernikahan suku Mandailing. Metode pada penelitian ini ialah menggunakan analissi deskriptif dengan menggunakabn metode pengumpulan data triangulasi. Hasil dari penelitian ini yakni: pada tradisi pernikahan sudah menjadi sebuah ritual di setiap suku kebudayaan Indonesia, salah satunya ialah pada suku batak Mandailing. Suku batak Mandailing merupakan salahsatu bagian dari suku daerah provinsi Sumatera Utara, yang terletak di kabupaten Tapanuli Selatan. Dalam tradisi suku batak Mandailing memiliki beberapa prosesi yang harus dilakukan didalamnya, juga tersirat didalamnya mengenai makna simbol, serta nilai-nilai Islam tentang pernikahan suku batak Mandailing. Islam merupakan agama bersifat Rahmatan lil alamin, agama yang diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Pernikahan dalam Islam merupakan ajaran agama guna untuk menjalankan sunnah rasulullah, serta untuk beribadah. Pernikahan suku batak Mandailing ini ialah merupakan suatu ritual kebudayaan bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Menanggapi tentang prosesi adat pernikahan yang sangat menarik yang dimiliki di dalam suku batak Mandailing. Pernikahan pada suku batak Mandailing merupakan sebuah simbol sebagai bentuk pencurahan rasa syukur pada Allah yang maha esa, serta ucapan doa harapan untuk kedua mempelai, penyampaian pesan nasehat untuk bekal dalam mengarungi kehidupan yang baru. Kata kunci: Makna, Simbol, Pernikahan, Suku Batak Mandailing ABSTRACT The aim of this research is to analyze the symbolic meaning of the Mandailing tribe's wedding traditions. The method in this research is to use descriptive analysis using triangulation data collection methods. The results of this research are: the tradition of marriage has become a ritual in every Indonesian cultural tribe, one of which is the Mandailing Batak tribe. The Mandailing Batak tribe is a part of the regional tribes of North Sumatra province, which is located in South Tapanuli district. In the tradition of the Mandailing Batak tribe, there are several processions that must be carried out in it, it also contains the meaning of symbols and Islamic values regarding weddings of the Mandailing Batak tribe. Islam is a religion that is Rahmatan lil a'lamin, a religion that was revealed to be a guide for humans and a blessing for all nature. Marriage in Islam is a religious teaching to carry out the sunnah of the Prophet Muhammad, as well as to worship. The Mandailing Batak tribe wedding is a cultural ritual aimed at strengthening ties between families. Responding to the very interesting traditional wedding procession that the Mandailing Batak tribe has. Marriage in the Mandailing Batak tribe is a symbol as a form of expressing gratitude to Almighty Allah, as well as saying prayers of hope for the bride and groom, conveying messages of advice to provide provisions for navigating a new life. Keywords: Meaning, Symbols, Marriage, Mandailing Batak Tribe.
MEME REFRAIN LIRIK HUMOR LAGU NESTAPA (HAREUDANG) DARI KELOMPOK MUSIK PASUKAN PERANG DI KOTA BANDUNG Dewi, Ananda Aulia; Setyobudi, Imam; Saleh, Sukmawati
Jurnal Budaya Etnika Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.2013

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan mengenai gejala meme yang terjadi pada refrain lirik humor lagu Nestapa (Hareudang) milik kelompok musik Pasukan Perang dari kota Bandung yang viral di beragam media sosial salah satunya media TikTok. Serta bagaimana gejala lirik tersebut bisa viral hingga menjadi bahan bercandaan Artis nasional dan menjadi bahan materi iklan salah satu obat nyamuk bakar VAPE. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi pada media sosial TikTok dan Youtube. Hasil penelitian mengemukakan tentang 1) lirik lagu Nestapa (Hareudang) yang mengandung multitafsir bagi beberapa kalangan pendengar. 2) Respon masyarakat terhadap refrain lagu Nestapa (Hareudang) 3) Tafsir Pasukan Perang terhadap gejala meme yang muncul pada lirik refrain lagu Nestapa (Hareudang). Kata kunci: Meme, Tafsir, TikTok, Pasukan Perang. ABSTRACT This study explains the meme symptoms that occur in the humorous refrain of the song Nestapa (Hareudang) belonging to the Pasukan Perang music group from the city of Bandung which is viral on various social media, one of which is TikTok media. And how the symptoms of these lyrics can go viral to become a joke for national artists and become an advertisement material for one of the VAPE-fueled mosquito coils. This research was conducted with a qualitative descriptive method through data collection using interview and observation techniques on social media TikTok and Youtube. The results of the study suggest 1) the lyrics of the song Nestapa (Hareudang) which contain multiple interpretations for several listeners. 2) Community response to the refrain of Nestapa (Hareudang) 3) Pasukan Perangs interpretation of the meme symptoms that appear in the chorus of Nestapa (Hareudang) song. Keywords: Meme, Tafsir, TikTok, Pasukan Perang.

Page 7 of 10 | Total Record : 96


Filter by Year

2018 2025