cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 330 Documents
Limiting Nutrients for flower and Seed Formation of Viola (Viola cornuta L.) Saputra, Alfa Sada; Suprihati; Pudjihartati, Endang
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.758 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.214-221

Abstract

Hara fosfat dan atau kalium menjadi faktor pembatas pada pembentukan bunga dan produksi benih tanaman viola (Viola cornuta L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hara pembatas terhadap jumlah bunga dan komponen hasil benih tanaman tetua betina viola. Penelitian dilaksanakan pada Juni sampai Agustus 2018 di kebun PT. Selektani Horticulture, Magelang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Minus One Element Technique dengan 5 perlakuan yaitu Standar Sub Tropis, modifikasi tropis, P, K, PK yang diulang sebanyak 5 kali sehingga didapatkan 25 satuan percobaan. Hasil pengamatan dianalisis dengan metode sidik ragam dengan akurasi 95%. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan Uji DMRT dengan tingkat probabiltas 5%. peubah pengamatan meliputi jumlah bunga, jumlah polong, bobot basah polong, bobot kering polong, bobot kering benih, jumlah biji per polong. Dari sisi mutu meliputi daya berkcambah benih (DB), kecepatan perkecambahan (KCT) dan keserempakan perkecambahan (KST). Tanpa pemupukan P dan K, tanaman hanya menghasilkan jumlah bunga, jumlah polong, benih bersih per tanaman dan daya berkecambah berturut-turut 76.62%, 73%, 57.95% dan 53% dibandingkan perlakuan Standar Sub Tropis. Kata kunci: minus one element technique, produksi benih, tanaman hias, unsur P dan K.
Application of Mikotricho (Mycorrhizae-Trichoderma) Fertilizer and Synthetic Fertilizer on Cultivation of Red Pepper Rokhminarsi, Eny; Utami, Darini Sri; Begananda
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.127 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.154-160

Abstract

Tujuan penelitian adalah menentukan dosis optimal pupuk mikotricho dan pengurangan dosis pupuk sintetis terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah di lahan marjinal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai September 2018. Penelitian merupakan percobaan lapang di desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, dengan jenis tanah ultisol menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Teracak (RAKLT) dengan 3 ulangan. Faktor pertama perlakuan adalah dosis pupuk mikotricho yaitu tanpa pupuk mikotricho, dosis 10 g mikoriza+10 g Trichoderma, 20 g mikoriza + 20 g Trichoderma. Faktor kedua adalah pengurangan dosis rekomendasi pupuk sintetis yaitu 0% (dosis rekomendasi = SP-36 480 kg ha-1 dikonversi menjadi pupuk SP-27 640 kg ha-1, dan pupuk susulan berupa pupuk ZA 320 kg ha-1, pupuk urea 240 kg ha-1, pupuk KCl 320 kg ha-1), pengurangan 25% dan 50%. Analisis data menggunakan analisis ragam dan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test 5%. Hasil penelitian menunjukkan (1) pemberian pupuk hayati mikotricho hingga 40 g (20 g mikoriza + 20 g Trichoderma) tanaman-1 dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai merah, (2) pengurangan dosis pupuk sintetik urea, ZA, SP27 dan KCl hingga 25% dari dosis rekomendasi menunjukkan pertumbuhan dan hasil cabai merah lebih baik dibandingkan dosis rekomendasi, (3) pemberian pupuk mikotricho dosis 40 g (20 g mikoriza + 20 g Trichoderma) dengan pengurangan 25% pupuk sintetik memberikan pertumbuhan jumlah daun, luas daun, dan jumlah cabang yang optimal serta peningkatan hasil cabai (15.4 t ha-1) sebesar 22.2% dibandingkan tanpa pupuk mikotricho dengan dosis rekomendasi (12.6 t ha-1). Pemberian pupuk mikotricho 20 g (10 g mikoriza dan 10 g Trichoderma) dan pengurangan dosis pupuk sintetik 25%, peningkatan hasil 15.8% (14.6 t ha-1) dibandingkan tanpa pupuk mikotricho dan dosis rekomendasi pupuk sintetik. Kata kunci: biopestisida, budidaya, cabai merah, pupuk hayati
Improving Soil Properties and Increasing Shallot Bulb Yield by Mulching and Soil Amendment Application Haryati, Umi; Erfandi, Deddy
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.225 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.200-213

Abstract

Tanah di lahan kering merupakan lahan yang terdegradasi. Oleh karena itu diperlukan perbaikan kualitas tanah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mulsa dan bahan pembenah tanah dalam memperbaiki sifat fisik dan kimi tanah serta kaitannya dalam meningkatkan produksi bawang merah. Penelitian aplikasi mulsa dan pembenah tanah pada pertanaman bawang merah dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni musim tanam (MT) 2016 di Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah (Split Plot Design) dengan 3 ulangan. Main plot adalah jenis mulsa yaitu: Tanpa mulsa (M-0), Mulsa plastik (M-1), dan Mulsa jerami (M-2) sedangkan sub-plot adalah: 1) Teknologi petani (B-1), 2) B-1+ NPK rekomendasi (B-2), 3) B-1 + 5 t ha-1 Dolomit (B-3), 4) B-1 + 5.0 5 t ha-1 Biochar (B-4), 5) B-1 + 5 5 t ha-1 Dolomit + 5.0 5 t ha-1Biochar (B-5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mulsa dan pembenah tanah memperbaiki sifat fisika tanah (retensi air, porositas dan agregasi tanah). Selain itu memperbaiki sifat kimia tanah (pH, Ca2+, K+, Ca-dd, K-dd, KB). Ada interaksi antara musa dan pembenah tanah terhadap hasil umbi bawang merah. Hasil umbi 18.35 t ha-1 didapatkan pada perlakuan mulsa plastik dengan teknologi petani dtambah 5 t ha-1 dolomit yang meningkatkan hasil sampai 57.8% dibandingkan kontrol, tanpa mulsa dengan teknologi petani. Kata kunci : hasil umbi, sayuran tropis, sifat fisika tanah, sifat kimia tanah
Effect of Rhizobacteria on Growth and Yield of Shallots (Allium ascalonicum L.) in Saline Conditions Yamika, Wiwin Sumiya Dwi; Aini, Luqman Qurata; Azizah, Nur; Sukmarani, Elok; Aini, Nurul
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.06 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.182-189

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh rhizobakteri pada pertumbuhan, klorofil dan kandungan allicin tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) dalam kondisi salin. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca di Agrotechnopark Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Malang-Indonesia yang dilaksanakan mulai bulan Februari hingga Juni 2018. Strain rhizobakteri yang digunakan terdiri dari isolat-isolat bakteri toleran salin berasal dari tanah salin di pesisir Lamongan, Jawa Timur, Indonesia dengan kode isolat SN13 (Streptomyces sp.), SN22 (Bacillus sp.) and SN23 (Corynebacterium sp.). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan petak terbagi (split plot), terdiri dari kondisi salin sebagai petak utama dan konsentrasi bakteri toleran salin sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang diinokulasi bakteri mempunyai bobot kering akar yang sangat nyata lebih tinggi (22.10 - 30%), jumlah klorofil (mencapai 26.03%) lebih tinggi dibandingkan tanpa inokulasi, tetapi memiliki allicin pada umbinya lebih rendah. Aplikasi bakteri toleran salin dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman dalam kondisi salin. Kondisi salin menurunkan baik pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, namun meningkatkan kandungan prolin. Peningkatan konsentrasi prolin pada daun merupakan respon fisiologis dari tanaman bawang merah pada kondisi salin. Kata kunci: allisin, klorofil, prolin, salinitas, umbi
Critical Level Determination of Phosphorus for Big Red Chili (Capsicum annuum L.) Growth on Soil in Java Island Hartono, Arief; Nadalia, Desi; Khuluq, Siti Lathifah Husnul
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.302 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.190-199

Abstract

Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar pemupukan fosfor (P) sesuai dengan kebutuhan tanaman cabai merah besar ialah dengan melakukan analisis tanah serta menentukan batas kritis P di tanah yang dihubungkan dengan produksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan batas kritis P di tanah untuk tanaman cabe merah besar di Pulau Jawa. Contoh tanah diambil dari 19 lokasi yang tersebar di Pulau Jawa. Analisis P tanah sebelum tanam dilakukan dengan tiga metode ekstraksi P yaitu Bray 1, Olsen, dan Mehlich III. Setelah analisis P tanah, bibit cabe merah besar ditanam dalam pot yang berisi 500 g tanah berat kering mutlak untuk tiap lokasi dan tiap lokasi mempunyai 4 dosis pemupukan. Dosis pemupukan P terdiri dari 0, 55, 110, dan 220 kg ha-1 P2O5. Sebagai pupuk dasar juga diberikan pupuk urea dan KCl masing-masing dengan dosis 110 kg ha-1 dan 180 kg ha-1. Tiap tanaman dipanen biomassanya setelah berumur 4 minggu setelah tanam. Pengaruh pupuk P terhadap parameter pertumbuhan tanaman dievaluasi menggunakan analisis ragam. Batas kritis P tanah ditetapkan dengan metode Cate dan Nelson. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pupuk P berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, bobot basah dan bobot kering tanaman. Pemupukan 220 kg ha-1 P2O5 memberikan respon tertinggi terhadap parameter pertumbuhan tanaman. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa ketiga metode ekstraksi P tersebut berkorelasi positif dan nyata dengan bobot kering tanaman. Metode ekstraksi Olsen memiliki korelasi tertinggi dengan bobot kering tanaman (r = 0.665). Batas kritis P dalam tanah untuk tanaman cabai merah besar di pulau Jawa berdasarkan metode ekstraksi Bray 1, Olsen, dan Mehlich III masing-masing ialah 15 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm. Kata kunci: analisis tanah, Bray 1, Cate dan Nelson, Mehlich, metode ekstraksi, Olsen
Determination of the Best Potassium Extraction Method for Tomato (Solanum lycopersicum L.) on Andisols Gunawan, Endang; Susila, Anas D.; Sutandi, Atang; Santosa, Edi
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.856 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.173-181

Abstract

Penetapan rekomendasi dosis kalium (K) berdasarkan uji tanah untuk tanaman tomat pada tanah Andisol belum banyak dikaji di Indonesia. Penelitian diawali dengan pembuatan status hara K tanah di Kebun Percobaan IPB Pasirsarongge Cianjur dilanjutkan dengan uji korelasi di rumah plastik PKHT IPB Tajur Bogor pada Desember 2015 sampai Mei 2016. Tujuan penelitian adalah menetapkan metode ekstraksi K terbaik bagi tanaman tomat di tanah Andisol. Status K tanah dibuat dengan larutan kalium sulfat (K2SO4) sebesar 0, ¼X, ½X, ¾X, dan X dimana X adalah 413.4 kg K ha-1 sebagai dosis K maksimum yang ditambahkan untuk mencapai kadar K maksimum dalam larutan tanah. Larutan K2SO4 disiram merata pada bedengan tanah dan diinkubasi selama 4 bulan. Ekstraksi K tanah menggunakan 5 metode yaitu: Bray 1 (HCl 5N), HCl 25%, Morgan Wolf (NaC2H3O2.3H2O), Mechlich (HCl 0.05N + H2SO4 0.025N) dan NH4OAc (NH4OAc, pH 7). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respon tinggi tanaman, bobot kering biomas, kandungan K tanaman terhadap tingkat status hara K tanah. Pola respon kuadratik ditunjukkan pada tinggi tanaman umur 6 dan 7 minggu setelah tanam, dan bobot kering total. Metode ekstraksi K Andisols terbaik untuk tomat adalah NH4OAc dengan nilai koefisien korelasi (r): 0.75. Kata kunci: biomas, K2SO4, metode ekstraksi, NH4Oac, status K
Comparative analysis of Genetic Diversity among Pod Vegetables Genetic Resources Potential in Indonesia Revealed by ISSR Markers Rif’atunidaudina, Ria; Sobir; Maharijaya, Awang
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.977 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.3.161-172

Abstract

Kacang tunggak (Vigna unguiculata ssp unguiculata), kacang panjang (V. unguiculata ssp sesquipedalis), kacang Bogor (V. subterranea), koro kratok (Phaseolus lunatus), kacang merah (P. vulgaris), koro pedang (Canavalia ensiformis), koro benguk (Mucuna pruriens) dan kecipir(Psophocarpus tetragonolobus) merupakan sayuran polong penting di Indonesia dari tanaman kacang-kacangan. Tanaman tersebut bernilai ekonomi tinggi dan kaya nutrisi dengan kandungan protein biji keringnya yang hampir sama dengan kedelai dan dapat menunjang kesehatan manusia sekaligus menunjang pangan di masa depan. Informasi keragaman genetik di antara sayuran polong yang berbeda masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman genetik dalam dan antar sayuran polong yang berbeda spesies berdasarkan marka ISSR. Sebanyak 32 aksesi sayuran polong dianalisis menggunakan 11 primer ISSR menghasilkan 80 pita polimorfik dengan persentase polimorfisme sebesar 100% dan primer informatif yang didapat adalah PKBT 3 dan PKBT 6. Hasil analisis kluster dan analisis PCA mengelompokkan 32 aksesi tersebut ke dalam delapan kluster dan menunjukkan mayoritas aksesi yang satu spesies mengelompok bersama. Koefisien kemiripan genetik Gower keseluruhan aksesi berkisar antara 0.425-0.988, dan koefisien kemiripan delapan spesies berkisar antara0.444 – 0.700. Hubungan kekerabatan antara spesies V. subterranean - C. Ensiformis memiliki jarak genetik terkecil, sedangkan jarak genetik terbesar ditemukan antara spesies P. vulgaris - M. pruriens. Penentuan kekerabatan tersebut bermanfaat untuk pemahaman yang lebih lanjut tentang hubungan di antara sayuran polong yang berbeda spesies, yang umumnya dianggap sebagai kelompok yang kompleks dengan variabilitas fenotipik yang tinggi. Kata kunci: jarak genetik, kacang-kacangan, koefisien kemiripan, pengelompokan, polimorfisme
Cluster Analysis and SSR (Simple Sequence Repeats) Primers Selection for Aluminium Tolerance on Hot Pepper Catur Herison; Rustikawati; Ria Meita; Hasanudin
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.11.1.61-71

Abstract

Perakitan varietas unggul cabai merah toleran Al (Aluminium) merupakan solusi terbaik untuk mengatasi persoalan rendahnya produkvitas cabai di lahan kering masam. Identifikasi tetua toleran dan marka SSR (Simple Sequence Repeats) sangat bermanfaat dalam meningkatkan efektifitas program pemuliaan tanaman untuk merakit varietas toleran terhadap cekaman aluminium. Seleksi primer SSR adalah bagian awal yang penting dalam pengembangan marka molekuler tersebut. Penelitian bertujuan untuk menentukan kelompok genotipe toleran alumunium dan menentukan primer prospektif dalam pengembangan marka SSR untuk sifat toleran terhadap Al pada tanaman cabai. Evaluasi tingkat toleransi 27 genotipe cabai terhadap cekaman aluminium dilakukan menggunakan hidroponik sistem sumbu dengan larutan hara AB mix ditambah 500 ppm AlCl3.6H2O. Tahap selanjutnya adalah menguji 20 primer SSR dalam mengamplifikasi DNA genom cabai toleran dan peka yang mewakili. Hasil analisis cluster sifat toleransi terhadap 27 genotipe cabai menghasilkan 7 kelompok tingkat toleransi terhadap aluminium. Individu PBC396 dan PBC518 adalah genotipe yang sangat toleran terhadap cekaman aluminium yang unik sehingga keduanya sangat baik digunakan sebagai tetua dalam pengembangan cabai toleran aluminium. Primer SSR yang potensial menghasilkan marka polimorfik untuk sifat toleran terhadap cekaman aluminium pada cabai adalah TMS7 dan CAMS358. Primer tersebut selanjutnya harus diuji pada mapping population untuk menentukan pita yang dapat digunakan sebagai penanda toleransi terhadap aluminium. Kata kunci: Capsicum annuum, NTSYS, sidik gerombol, tenggang masam
Genetic Diversity of Shallot (Allium cepa var. aggregatum) Based on Morphology and Molecular Markersetik Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) Berdasarkan Marka Morfologi dan Molekuler Erviana Eka Pratiwi; Awang Maharijaya; Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.11.1.51-60

Abstract

Bawang merah di Indonesia pada umumnya diperbanyak secara vegetatif, tetapi bawang merah yang tersebar tersebut beragam bentuknya sehingga diduga memiliki keragaman genetik yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman morfologi menggunakan 21 karakter bawang merah serta keragaman molekuler menggunakan penanda RAPD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter morfologi membagi 40 genotipe bawang merah menjadi 2 kelompok utama pada koefisien ketidakmiripan 0.59 yaitu kelompok A (38 genotipe) dan B (2 genotipe), sedangkan analisis morfologi berdasarkan 14 karakter morfologi umbi menunjukkan adanya dua kelompok utama pada koefisien ketidakmiripan 0.50 yaitu kelompok A dan B, masing-masing terdiri atas 36 dan 4 genotipe. Analisis berdasarkan penanda molekuler menunjukkan dua kelompok utama pada koefisien ketidakmiripan 0.41 yaitu kelompok A (3 genotipe) dan B (37 genotipe). Marka RAPD menghasilkan 229 pita polimorfik DNA dengan total 100% dan primer informatif adalah SBN2, OPE11 dan SBN9. Pengelompokkan dari 40 genotipe dalam penelitian ini tidak berhubungan dengan asal geografis. Genotipe BM12, BM19, BM78 dan BM01 memiliki ukuran daun yang panjang, ukuran dan diameter umbi besar dan memiliki intensitas warna dasar kulit umbi kering yang gelap. BM63 dan BM24 memiliki perilaku daun yang tegak, panjang daun sedang, ukuran dan diameter umbi sedang. Genotipe potensial ini dapat dikembangkan untuk meningkatkan varietas bawang merah di Indonesia. Kata kunci: genotipe, koefisien ketidakmiripan, RAPD, primer informatif
Genetic Diversity and Fusarium Wilt Disease Resistance (Fusarium oxysporum f.sp cepae) of Indonesian Shallots (Allium cepa L. var aggregatum) Ita Aprilia; Awang Maharijaya; Suryo Wiyono
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.11.1.32-40

Abstract

Keragaman genetik merupakan hal yang penting dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Ketahanan terhadap penyakit layu fusarium merupakan salah satu karakter yang diharapkan dalam pengembangan varietas bawang merah. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi keragaman genetik berdasarkan marka morfologi, marka molekuler ISSR, dan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium dari 19 genotipe bawang merah Indonesia. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan dan satu faktor yaitu genotipe bawang merah. Isolat Fusarium oxysporum f.sp cepae yang digunakan sebagai bahan uji didapatkan dari tanaman yang terserang penyakit layu fusarium di Brebes, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman genetik berdasarkan marka morfologi, molekuler ISSR, dan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium pada genotipe bawang merah yang diamati. Genotipe Batu Ijo dan Rubaru merupakan genotipe dengan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium terbaik dibandingkan genotipe lainnya berdasarkan parameter periode inkubasi penyakit, kejadian penyakit, dan laju infeksi penyakit. Kata kunci: moler, pemuliaan, penyakit cendawan, varietas tahan

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue