cover
Contact Name
Wahyu Andy Nugraha
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
+6282234502425
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Jurusan Kelautan dan Perikanan, Universitas Trunojoyo Madura, Jl. Raya Telang PO. BOX 2 Kamal, Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan
ISSN : -     EISSN : 27237583     DOI : -
Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal aim to become a medium of dissemination of high quality research and scientific note in the fiend of marine and fisheries. This journal can be accessed and downloaded freely for everyone. The article published in this journal have been pass the rigorious peer review by the expert reviewer. This journal accept every article that contain the following, but not limited to, scope: Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal is expected to function as a medium for the dissemination of quality scientific research results as well as scientific rebuttal (notes) in the marine and fisheries sector which can be accessed online and free of charge by the Indonesian community and the international community. The articles (articles) published in this journal are articles that have passed peer-review (partner bebestari). This journal accepts every article which contains, but is not limited to, the scope: 1. Ecology and biology of marine and fisheries 2. Marine and Aquaculture 3. Marine and Aquatic Conservation 4. Marine Water Pollution 5. Management of marine and aquatic resources 6. Marine and fishery processing technology
Articles 276 Documents
Analisis Konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) dan fosfor Terhadap Fitoplankton dan Zooplankton Pada Anak Sungai Way Batanghari, Kota Metro Gesti Lestari; Vifty Octanarlia Narsan; Suhendi Suhendi
Juvenil Vol 5, No 2: Mei (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i2.24793

Abstract

ABSTRAKAktivitas makhluk hidup selalu berkaitan dengan kebutuhan air. Kondisi air pada suatu wilayah dapat berbeda-beda dipengaruhi aspek fisika, biologi dan kimia disekitarnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh aspek kimia berupa Chemical Oxygen Demand (COD) dan Fosfor terhadap aspek biologi berupa mikroorganisme fitoplankton dan zooplankton di perairan, yang dimanfaatkan untuk menentukan standar baku mutu perairan. Metode penelitian yaitu deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Sampel yang digunakan adalah sampel air yang diperoleh dengan metode pengambilan sampel secara consecutiv sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) dan Fosfor.  Konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) sebesar 67 mg/L di titik satu dan 60 mg/L di titik dua  pada bagian  titik hulu  Anak Sungai Way Batanghari  yang terletak di Desa Sumber Sari, Kecamatan Metro Selatan, Kota Metro menghasilkan status baku mutu air dengan paramater Chemical Oxygen Deman (COD) berada pada Kelas III, sedangkan di titik hilir  Anak Sungai Way Batanghari yang terletak di  Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur dengan konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) sebesar 36 mg/L di titik satu, 81 mg/L dititik dua dan 61 mg/L dititik tiga menghasilkan   status baku mutu air dengan parameter Chemical  Oxygen Demand  (COD) berada pada Kelas III.  Konsentrasi Fosfor dengan menggunakan metode uji EPA 200.7 revisi 5, 2001 menunjukkan status baku mutu air dengan parameter fosfor pada bagian titik hulu (Desa Sumber Sari, Kecamatan Metro Selatan, Kota Metro) berada di kelas II sedangkan di bagian titik hilir (Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur) berada di Kelas II.  Status baku mutu air tersebut  memengaruhi keberadaan mikroorganisme fitoplankton dan zooplankton di Anak Sungai Way Batanghari.  Jumlah  Fitoplankton di bagian titik hulu sebanyak 39 dengan 12 spesies, sedangkan di bagian titik hilir sebanyak 18 dengan 11 spesies. Jumlah Zooplankton yang berada di titik hulu sebanyak 40 dengan 8 spesies dan di bagian titik hilir sebanyak 5 dengan 2 spesies. Dengan diketahuinya status baku mutu air sungai maka diharapkan masyarakat  terutama yang berada di Desa Sumber Sari, Kecamatan Metro Selatan, Kota Metro dan  di Desa Banjarrejo,  Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur dapat menggunakan air sesuai dengan peruntukkannya yaitu untuk mendukung perairan pertanian dan peternakan. Kata Kunci: Chemical Oxygen Demand (COD); fosfor; Fitoplankton; Zooplankton ABSTRACTThe activities of living organisms are always related to the need for water. The condition of water in a given area can vary, influenced by the surrounding physical, biological, and chemical aspects. This research was conducted to determine the influence of chemical aspects, namely Chemical Oxygen Demand (COD) and Phosphorus, on biological aspects, namely phytoplankton and zooplankton microorganisms in the water, which is used to determine water quality standards. The research method is descriptive qualitative and quantitative. The samples used are water samples obtained through the consecutive sampling method. The results of the study showed differences in the concentration of Chemical Oxygen Demand (COD) and Phosphorus. The concentration of Chemical Oxygen Demand (COD) was 67 mg/L at point one and 60 mg/L at point two in the upstream section of Way Batanghari Tributary located in Sumber Sari Village, South Metro District, Metro City, resulting in a water quality status with the Chemical Oxygen Demand (COD) parameter being in Class III, while in the downstream section of Way Batanghari Tributary located in Banjarrejo Village, Batanghari District, East Lampung Regency, with the concentration of Chemical Oxygen Demand (COD) being 36 mg/L at point one, 81 mg/L at point two, and 61 mg/L at point three, resulting in a water quality status with the Chemical Oxygen Demand (COD) parameter being in Class III. The concentration of Phosphorus using the EPA 200.7 test method revision 5, 2001, showed that the water quality status with the phosphorus parameter in the upstream section (Sumber Sari Village, South Metro District, Metro City) is in Class II, while in the downstream section (Banjarrejo Village, Batanghari District, East Lampung Regency) it is in Class II. The water quality status affects the presence of phytoplankton and zooplankton microorganisms in the Way Batanghari Tributary. The number of Phytoplankton in the upstream section is 39 with 12 species, while in the downstream section it is 18 with 11 species. The number of Zooplankton in the upstream section is 40 with 8 species, and in the downstream section it is 5 with 2 species. With the knowledge of the river water quality status, it is hoped that the community, especially those in Sumber Sari Village, South Metro District, Metro City, and Banjarrejo Village, Batanghari District, East Lampung Regency, can use water according to its purpose, namely to support agricultural and livestock water needs.Key Words: Chemical Oxygen Demand (COD); phosphorus; Phytoplankton; Zooplankton.
Analisis Tingkat Sedimentasi Saat Musim Barat Di Kolam Dermaga Koarmatim Surabaya Menggunakan Perbandingan Pengukuran Batimetri Ilham Cahya; Ahmad Azwar Mas'ud M; Inayatul Lailiyah
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.27336

Abstract

ABSTRAKPengukuran batimetri secara berkala dapat memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi perubahan kedalaman perairan sebuah dermaga dimana bertujuan untuk mengetahui kedalaman minimum suatu kapal untuk diperbolehkan berlabuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengendapan sedimen di kolam labuh Koramatim Surabaya serta kajian parameter yang mempengaruhi sebaran sedimen saat kondisi musim barat. Data pengukuran batimetri pada bulan Desember 2022 dan Januari 2023 dianalisis untuk menghasilkan peta tingkat sedimentasi menggunakan metode overlay dengan membandingkan dua model batimetri beda waktu pengukuran yang dilakukan pada aplikasi Civil3D. Data kecepatan dan arah angin pada bulan Desember 2022, Januari 2023 dan Februari 2023 dari BMKG Perak Surabaya akan disajikan dalam bentuk windrose kecepatan dan arah angin dominan yang terjadi pada musim barat tahun 2023. Hasil didapatkan bahwa dominasi pengendapan sedimen terjadi pada pintu masuk kolam labuh Koarmatim Surabaya maksimal 1,62 meter dan rata – rata pada 0,72 meter pada bulan Januari 2023. Indikasi kuat pengaruh dari arah angin dominan yang berhembus dari barat laut mendorong debit buangan sedimen dari sungai Kalimas Surabaya menuju kolam labuh. Penelitian ini masih dapat dilanjutkan untuk melihat bagaimana dinamika pengaruh sungai Kalimas dan arus pasang surut terhadap tingkat sedimentasi di kolam labuh Koarmatim Surabaya pada kondisi seluruh musim. Kata kunci: laju sedimentasi, overlay peta batimetri, angin musim baratABSTRACTPeriodic bathymetry measurements can provide clear information about the changing conditions of the water depth of a dock which aims to determine the minimum depth of a ship to be allowed to dock. This research aims to determine the pattern of sediment deposition in the Koramatim Surabaya dock pond and study the parameters that affect the distribution of sediments during the west season. Bathymetry measurement data in December 2022 and January 2023 were analyzed to provide a sedimentation rate map using the overlay method by comparing two bathymetry models of different measurement times carried out in the Civil3D software. Wind speed and direction data in December 2022, January 2023 and February 2023 from BMKG Perak Surabaya will be presented in the form of windrose of the dominant wind speed and direction that occurred in the west season of 2023. The results showed that the dominance of sediment deposition occurred at the entrance to the Koarmatim Surabaya harbor pond with a maximum of 1.62 meters and an average of 0.72 meters in Januari 2023. A strong indication of the influence of the dominant wind direction blowing from the northwest pushed the discharge of sediment from the Kalimas Surabaya river to the Koarmatim dock. This research can still be continued to see how the dynamics of the influence of the Kalimas river and tidal currents on the level of sedimentation in the Surabaya Koarmatim dock pond under all season conditions.Keywords: sedimentation rate, bathymetry map overlay, westerly winds
Identifikasi Jenis Bakteri Pada Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer) Berbasis Sistem Budidaya KJA di Kota Barru Ummu Kaltsum SC; Nurul Mutmainnah
Juvenil Vol 5, No 1: Februari (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i1.23345

Abstract

ABSTRAKIkan Kakap Putih (Later calcarifer) merupakan salah satu organisme budidaya laut unggulan di Indonesia yang memiliki pertumbuhan relatif cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri pada ikan kakap yang dibudidaya dengan sistem keramba jaring apung (KJA). Pemeliharaan ikan dalam jumlah besar dengan kepadatan tinggi berpotensi mengakibatkan lingkungan yang kurang kondusif dari sisa-sisa pakan sehingga menyebabkan timbulnya penyakit. Penyakit ini terjadi dari interaksi yang tidak serasi antara tiga komponen utama budidaya, yaitu lingkungan, organisme yang dibudidaya, dan organisme penyebab penyakit. Kondisi lingkungan yang sering berubah-ubah menyebabkan ikan stres pada saat pemeliharaan sehingga dapat memicu timbulnya penyakit dan dapat mengakibatkan kematian ikan. Selain menurunnya parameter kualitas air, pemicu lain yang menyebabkan serangan infeksi adalah terlukanya ikan ketika dipelihara di dalam keramba jaring apung (KJA) dan penggunaan net yang kotor menyebabkan tertinggalnya bakteri yang dapat menyerang ikan pada siklus berikutnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keberadaan dan jenis bakteri pada ikan kakap putih yang dibudidayan dengan sistem keramba jaring apung (KJA). Penelitian ini dirancang dengan metode sampling dengan mengambil ikan di kja kemudian menumbuhkan dan mengidentifikasi bakteri dari saluran pencernaan ikan kakap Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan di deskripsikan sesuai dengan golongan bakteri. Hasil penelitian ini ditemukan tiga jenis bakteri yakni Bacillus cereus, Staphylococcus arlette, dan Staphylococcus haemolyticus. Beberapa jenis bakteri yang didapatkan ada yang bersifat gram positif dan pathogen.Kata Kunci: Bakteri, Ikan Kakap Putih, Keramba Jaring Apung, Penyakit, PrebiotikABSTRACTThis study aims to determine the type of bacteria in Asian seabass cultured with floating net cages (KJA) system. Rearing fish in large numbers at high densities can result in an environment that is not conducive for leftover feed to cause disease. This disease occurs from an incompatible interaction between the three main components of cultivation the environment, biota, and disease-causing organisms. Therefore, environmental conditions that often change cause stress in fish during rearing, leading to disease and death in fish. In addition to decreasing water quality parameters, another trigger that causes the infection is an injury to fish when kept in floating net cages (KJA) and the use of dirty nets causing bacteria to be left behind which can attack fish in the next cycle. Related to this, this research will identify the presence and types of bacteria in barramundi cultured using a floating net cages (KJA) system. This study was designed using a sampling method by taking fish at KJA and then growing and identifying bacteria from the digestive tract of Asian seabass. The data obtained was then analyzed and described according to the group of bacteria. This study found three types of bacteria: Bacillus cereus, Staphylococcus arlette, and Staphylococcus haemolyticus. Some types of bacteria found are gram-positive and pathogenic.Keywords: asian seabass, bacteria, disease floating net cage, prebiotic
Kandungan Amonia, Fosfat, Nitrat dan Nitrit Air Laut Di Perairan Pesisir Desa Lontar Andrian Tri Jaka Surya; Agung Setyo Sasongko; Ferry Dwi Cahyadi
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.23089

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi amonia, nitrat, nitrit dan fosfat di Perairan Pesisir Desa Lontar, Kabupaten Serang. Peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan sampel pada 3 titik stasiun. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil pengukuran konsentrasi amonia pada stasiun 1 berkisar antara 0,07-0,23 mg/l dengan rata-rata 0,15 mg/l, stasiun 2 berkisar antara 0,087-0,444 mg/l dengan rata-rata 0,272 mg/l dan stasiun 3 berkisar antara 0,115-0,409 mg/l dengan rata-rata 0,223 mg/l. Hasil pengukuran konsentrasi fosfat pada stasiun 1 berkisar antara 0,02-0,05 mg/l dengan rata-rata 0,033 mg/l, stasiun 2 berkisar antara 0,04-0,05 mg/l dengan rata-rata 0,046 mg/l dan stasiun 3 berkisar antara 0,05-0,1 mg/l dengan rata-rata 0,066 mg/l. Hasil pengukuran konsentrasi nitrat pada stasiun 1 memiliki nilai rata- rata 1 mg/l, stasiun 2 berkisar antara 0,6-2,5 mg/l dengan rata-rata 1,3 mg/l dan stasiun 3 berkisar antara 0,9-2,8 mg/l dengan rata-rata 1,5 mg/l. Hasil pengukuran konsentrasi nitrit pada stasiun 1 berkisar antara 0,01-0,03 mg/l dengan rata-rata 0,02 mg/l, stasiun 2 memiliki nilai rata-rata 0,016 mg/l dan stasiun 3 dengan rata-rata 0,023 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahnun 2021 dan ANZECC (Australian and New Zealand Environment and Conservation Council) ARMCANZ (Agriculture and Resource Management Council of Australia and New Zealand) Chapter 9 (2000) Perairan pesisir utara Desa Lontar belum bisa sepenuhnya dikategorikan perairan baik karena beberapa nutrien seperti nitrat dan fosfat memiliki konsentrasi yang melebihi ambang baku mutu. Kata Kunci: Konsentrasi Fosfat, Nitrat, Nitrit, Amonia, Desa Lontar ABSTRACTThis study aims to determine the concentration of ammonia, nitrate, nitrite and phosphate in the Coastal Waters of Lontar Village, Serang Regency. Researchers used a quantitative descriptive method. Data collection was done by sampling at 3 station points. Data analysis was done descriptively. The results of ammonia concentration measurements at station 1 ranged from 0.07-0.23 mg/l with an average of 0.15 mg/l, station 2 ranged from 0.087-0.444 mg/l with an average of 0.272 mg/l and station 3 ranged from 0.115-0.409 mg/l with an average of 0.223 mg/l. The results of phosphate concentration measurements at station 1 ranged from 0.02-0.05 mg/l with an average of 0.033 mg/l, station 2 ranged from 0.04-0.05 mg/l with an average of 0.046 mg/l and station 3 ranged from 0.05-0.1 mg/l with an average of 0.066 mg/l. The results of nitrate concentration measurements at station 1 have an average value of 1 mg/l, station 2 ranges from 0.6-2.5 mg/l with an average of 1.3 mg/l and station 3 ranges from 0.9-2.8 mg/l with an average of 1.5 mg/l. The measurement results of nitrite concentration at station 1 ranged from 0.01-0.03 mg/l with an average of 0.02 mg/l, station 2 had an average value of 0.016 mg/l and station 3 with an average of 0.023 mg/l. Based on Government Regulation No. 22 of 2021 and ANZECC (Australian and New Zealand Environment and Conservation Council) ARMCANZ (Agriculture and Resource Management Council of Australia and New Zealand) Chapter 9 (2000) the north coastal waters of Lontar Village cannot be fully categorized as good waters because some nutrients such as nitrates and phosphates have concentrations that exceed the quality standard threshold.Key Words: Concentration of Phosphate, Nitrate, Nitrite, Ammonia, Lontar Village
Potensi Ekstrak Lamun Enhalus acoroides Kering dan Basah Dari Perairan Sapeken-Madura Sebagai Antibakteri Vibrio parahaemolyticus Yuniar Mardiyanti; Eka Nurrahema Ning Asih; Fina Rohmatika; Siti Nihayatun Ni'amah
Juvenil Vol 5, No 2: Mei (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i2.20998

Abstract

ABSTRAKBakteri Vibrio parahaemolyticus merupakan bakteri patogen yang memicu kegagalan panen budidaya udang di beberapa unit tambak budidaya udang di Madura. Salah satu kandidat bahan hayati laut yang bisa dijadikan sebagai agen antibakteri Vibrio parahaemolyticus adalah ekstrak lamun Enhalus acoroides. Perlu dilakukan telaah secara ilmiah untuk mengetahui konsentrasi ekstrak lamun ini dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolyticus. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi perbedaan kemampuan antibakteri dari ekstrak Enhalus acoroides kering dan basah dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolyticus selama 3 waktu pengamatan dan menganalisis konsentrasi terbaik ekstrak Enhalus acoroides kering dan basah dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolyticus dari Perairan Sapeken Madura. Metode pengujian antibakteri menggunakan difusi cakram dan analisa statistik menggunakan One Way Anova dan uji Tukey HSD. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak Enhalus acoroides kering dan basah memiliki nilai tertinggi pada konsentrasi 80000 ppm pada masing-masing ekstrak dengan kategori lemah dengan kisaran zona hambat nilai 1.53±0,70 mm-2.15±0.91 mm pada lamun kering dan kategori sedang dengan kisaran zona hambat 2.35±0.13 mm-3.55±1.60 mm pada lamun basah. Konsentrasi 80000 ppm ekstrak Enhalus acoroides kering dan basah memiliki pengaruh yang signifikan dan termasuk konsentrasi terbaik sebagai antibakteri Vibrio parahaemolyticus dengan nilai signifikan (p0.05) sebesar 0.022 untuk lamun kering dan 0.010 untuk lamun basah.Kata kunci: Antibakteri, Vibrio parahaemolyticus, Enhalus acoroidesABSTRACTThe Vibrio parahaemolyticus bacteria is a pathogenic bacteria that triggers shrimp cultivation harvest failures in several shrimp cultivation pond units in Madura. One candidate for marine biological materials that can be used as an antibacterial agent for Vibrio parahaemolyticus is Enhalus acoroides seagrass extract. A scientific study needs to be carried out to determine the concentration of this seagrass extract in inhibiting the growth of Vibrio parahaemolyticus bacteria. This research aims to identify differences in the antibacterial ability of dry and wet Enhalus acoroides extracts with different concentrations against the growth of Vibrio parahaemolyticus bacteria during 3 observation periods and to analyze the best concentrations of dry and wet Enhalus acoroides extracts in inhibiting the growth of Vibrio parahaemolyticus bacteria from Sapeken Madura Waters. The antibacterial testing method uses disc diffusion and statistical analysis uses One Way Anova and the Tukey HSD Test. The antibacterial test results showed that dry and wet Enhalus acoroides extracts had the highest value at a concentration of 80,000 ppm in each extract with a weak category with a range of inhibition zone values of 1.53 ± 0.70 mm-2.15 ± 0.91 mm for dry seagrass and a medium category with a range of inhibition zone 2.35 ± 0.13 mm-3.55 ± 1.60 mm in wet seagrass. A concentration of 80000 ppm of dry and wet Enhalus acoroides extract has a significant effect and is among the best concentrations as an antibacterial for Vibrio parahaemolyticus with a significant value (p0.05) of 0.022 for dry seagrass and 0.010 for wet seagrass.Keywords: Antibacterial, Vibrio parahaemolyticus, Enhalus acoroides
Produktivitas Alat Tangkap Purse Seine di Pelabuhan UPT PPP Pasongsongan Madura Erika Noviyana Efendy; Hafiludin Hafiludin
Juvenil Vol 5, No 2: Mei (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i2.25009

Abstract

ABSTRAKPurse seine atau yang biasa disebut pukat cincin menjadi salah satu alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan pelagis dengan hasil tangkapan yang dominan di UPT PPP Pasongsongan. Hasil tangkapan purse seine terdiri dari beberapa jenis ikan yaitu ikan lemuru, ikan layang, ikan tongkol, ikan cakalang dan lainnya. Volume produksi hasil tangkapan purse seine terhadap nilai produktivitas jaring purse seine. Produktivitas hasil tangkapan ikan ditentukan dari tingkat kemampuan kapal atau armada penangkap ikan dalam memperoleh hasil tangkapan tersebut. Tujuan penelitian adalah menganalisis produksi ikan hasil tangkapan dan produktivitas yang diperoleh dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap purse seine. Data sekunder diambil dari instansi terkait yaitu UPT PPP Pasongsongan. Analisis data dengan perhitungan produktivitas per trip.  Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui penyajian tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai produksi tahun 2021 yakni 3286566 dengan nilai produktivitas 891,6348. Nilai Produksi tahun 2022 yakni 3119795 dengan nilai produktivitas 806,5654.Kata kunci: purse seine, volume produksi, produktivitasABSTRACTPurse seine or commonly called purse seine is one of the effective fishing gears for catching pelagic fish with dominant catches at UPT PPP Pasongsongan. The purse seine catches consist of several types of fish, namely lemuru fish, flying fish, tuna, skipjack and others. The production volume of purse seine catches on the productivity value of purse seine nets. The productivity of fish catches is determined by the level of ability of fishing vessels or fleets to obtain these catches. The aim of the study was to analyze the production of caught fish and the productivity obtained from fishermen's catches using purse seine fishing gear. Secondary data was taken from the relevant agency, namely UPT PPP Pasongsongan. Data analysis by calculating productivity per trip. The analysis was carried out in a qualitative descriptive manner through the presentation of tables and graphs. The results of the research show that the production value in 2021 is 3286566 with a productivity value of 891.6348. The production value for 2022 is 3119795 with a productivity value of 806.5654.Keywords: purse seine, production volume, productivity
Strategi Keberlanjutan Usaha Pengasapan Ikan Tongkol (Euthynnus affins) di Pulau Dullah Selatan Kota Tual Provinsi Maluku Susma Pranira; Joko Santoso; Nurmala Pangaribuan
Juvenil Vol 5, No 1: Februari (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i1.24655

Abstract

ABSTRAKUsaha pengasapan ikan tongkol (Euthynnus affinis) di Pulau Dullah Selatan Kota Tual belum berkelanjutan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi strategi keberlanjutan usaha dimaksud berdasarkan dimensi-dimensinya. Formulasi strategi dilakukan melalui analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT) dengan didahului analisis keberlanjutan menggunakan modifikasi Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH mod) dengan 5 dimensi dan 20 atribut setiap dimensi. Responden berjumlah 33 orang yang berasal dari pelaku usaha, peneliti dan akademisi, staf Dinas Perikanan Kota Tual dan penyuluh perikanan yang dipilih secara purposive sampling. Berdasarkan nilai indeks keberlanjutan, diperoleh bahwa status keberlanjutannya memang masih belum baik, 4 dimensi (57,17 untuk lingkungan; 52,89 untuk ekonomi; 54,29 untuk sosial; 55,13 untuk teknologi) dalam kategori cukup, dan 1 dimensi (44,89 untuk kelembagaan) dan 49,95 secara multidimensi masuk dalam kategori kurang. Semua atribut dimensi, berdasarkan kriterianya, menjadi faktor-faktor SWOT yang dianalisis lebih lanjut menggunakan Internal Factor Analysis Summary dan Eksternal Factor Analysis Summary (IFAS dan EFAS). Hasilnya, kegiatan usaha berada pada Kuadran II, sehingga strategi besarnya diversifikasi, yang dalam hal ini diartikan sebagai perubahan atau perluasan upaya. Formulasi strategi kemudian dilakukan melalui matriks SWOT, dan dihasilkan perubahan atau perluasan upaya pada perizinan, sarana penyimpanan, sarana pengasapan, dan pemasaran.Kata Kunci: Ikan Asap, Ikan Tongkol, RAPFISH, Strategi Keberlanjutan Usaha, SWOTABSTRACTThe business of the smoked mackerel tuna (Euthynnus affinis) on Dullah Island South of Tual City is not yet sustainable. This research aims to formulate a business sustainability strategy based on its dimensions. Strategy formulation is carried out through Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT) analysis, preceded by sustainability analysis by modification of the Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH mod) with 5 dimensions and 20 attributes for each dimension. Respondents totaled 33 people from business actors, researchers and academics, Tual City Fisheries Service staff and fisheries extension servicers who were selected using purposive sampling. Based on the sustainability index values, it was found that the sustainability status is still not good, 4 dimensions (57.17 for environmental; 52.89 for economic; 54.29 for social; 55.13 for technology) are in the sufficient/enough category, and 1 dimension (44.89 for institutional) and 49.95 multidimensionally falls into the poor category. All dimensional attributes, based on the criteria, become SWOT factors which are analyzed further by Internal and External Factor Analysis Summary (IFAS and EFAS). As a result, business activities are in Quadrant II, so the grand strategy is diversification, which in this case is defined as changing or expanding efforts. Strategy formulation is then carried out through the SWOT matrix. The result is changes or expansion of efforts in licensing, storage facilities, smoking facilities and marketing. Keywords: Business Sustainability Strategy, RAPFISH, SWOT, The Smoked Mackerel Tuna       
Uji Aktivitas Antibakteri Staphylococcus aureus Pada Sabun Batang Eucheuma cottonii Nadya Adharani; Allan Erwandy Nenobais; Sulistiono Sulistiono
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.25680

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antibakteri Staphylococcus aureus pada sabun batang dengan bahan baku rumput laut jenis Eucheuma cottonii, penelitian dilakukan di Lab.  FAPERTA Universitas PGRI Banyuwangi. Penelitian dimulai dengan mencari performa terbaik  pembuatan sabun dengan empat perlakuan diantaranya penggunaan E. cottoni sebanyak 15gr (P1), 30gr (P2), 45gr (P3), dan 60gr (P4). Tiap perlakukan dilakukan ulangan sebanyak empat kali kemudian dianalisis ANOVA yang bertujuan untuk menentukan perbedaan signifikan antara perlakuan dan parameter uji pada sabun. Pengujian untuk mengetahui karakteristik sabun diantaranya uji antibakteri pada S. aureus dan uji kimia (kadar air, kadar pH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa P4 menghasilkan daya hambat atau luasan zona bening terbesar yaitu 2,4cm.  Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antara perlakuan, terutama pada perlakuan P1 dan P4. Selain itu, perlakuan P4 juga memiliki kadar air terendah yaitu 26,63% dan pH tertinggi dengan nilai 10,75%. Disimpulkan bahwa E. cottonii berpotensi sebagai antibakteri pada produk sabun dikarenakan adanya kandungan senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, tannin, dan steroid.Kata kunci: Uji Potensi, Antibakteri, Staphylococcus aureus, Sabun, Eucheuma cottoniiABSTRACTThis research aims to determine the antibacterial potential of S. aureus in bar soap made from Eucheuma cottonii seaweed as raw material. The research was carried out in FAPERTA laboratory PGRI University Banyuwangi. The research began by looking for the best performance in soap making with four treatments including the use of 15gr (P1), 30gr (P2), 45gr (P3), and 60gr (P4) E. cottonii. Each treatment was repeated four times and then analyzed by ANOVA which aimed to determine significant differences between treatments and test parameters for soap. Tests to determine the characteristics of soap include antibacterial tests on S. aureus and chemical tests (water content, pH level). The research results showed that P4 produced the largest resistance or clear zone area, namely 2.4 cm.  Statistical analysis showed very significant differences between treatments, especially in treatments P1 and P4. Apart from that, treatment P4 also had the lowest water content, namely 26.63% and the highest pH with a value of 10.75%. It was concluded that E. cottonii has the potential to act as an antibacterial in soap products due to the content of bioactive compounds such as alkaloids, flavonoids, tannins and steroids.Key words:  Potency Test, Antibacterial, Staphylococcus aureus, Soap, Eucheuma cottonii
Identifikasi Rumput Laut Di Perairan Pulau Maratua, Kalimantan Timur Nurfadilah Nurfadilah; Rani Novia
Juvenil Vol 5, No 4: November 2024
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i4.25254

Abstract

ABSTRAKRumput laut merupakan salah satu tumbuhan laut yang banyak memiliki manfaat dan berdampak baik bagi lingkungan perairan, tidak hanya sebagai bioindikator perairan, akan tetapi juga dapat bernilai bagi bioaktif. Kegiatan budidaya rumput laut sangat memiliki potensi untuk pengembangan usaha lokal nelayan sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir. Meskipun budidaya rumput laut sudah dilakukan namun proses budidaya hanya dapat dilakukan untuk beberapa jenis saja, sehingga perlu adanya informasi mengenai sebaran rumput laut yang tumbuh secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rumput laut yang ada di Pulau Maratua di empat kampung yaitu stasiun I (Teluk harapan), Stasiun II (Kampung Payung-payung), Stasiun III (Kampung Bohe Silian), Stasiun IV (Kampung Teluk Alulu) dan stasiun V (Pulau Kakaban). Metode yang digunakan metode survey dengan pengambilan sampel secara langsung dari lapangan kemudian diidentifikasi secara deskriptif. Hasil penelitian ini didapatkan 7 Ordo, 9 Famili, 10 Genus dan 11 species. Sebaran rumput laut jenis terbanyak ditemukan di stasiun I (Kampung Teluk Harapan) sebesar 40% dan 20% di stasiun V di Danau Kakaban. Jenis rumput laut yang banyak ditemukan di Pulau Maratua yaitu genus Padina, Hypnea, dan Halimeda.Kata Kunci: Rumput Laut, Pulau Maratua, IdentifikasiABSTRACTSeaweed is one of the marine plants that has many benefits and good impacts on the aquatic environment, not only as an aquatic bioindicator, but can also be valuable for bioactivity. Seaweed cultivation activities have the potential to develop local fishermen's businesses so that they can improve the economy of coastal communities. Even though seaweed cultivation has been carried out, the cultivation process can only be done for some species, so there needs to be information about the distribution of seaweed that grows naturally. This research aims to identify seaweed on Maratua Island in four villages, namely station I (Teluk Harapan), Station II (Payung-payung Village), Station III (Bohe Silian Village), Station IV (Alulu Teluk Village) and station V (Kakaban Island). The method used is a survey method by taking samples directly from the field and then identifying them descriptively. The results of this research obtained 7 orders, 9 families, 10 genera and 11 species. The largest distribution of seaweed species was found at station I (Kampung Teluk Harapan) at 40% and 20% at station V in Lake Kakaban. The types of seaweed that are often found on Maratua Island are the genera Padina, Hypnea, and Halimeda. Keywords: Seaweed, Maratua Island, Identification
Analisis Residu Antibiotik Furazolidone Pada Ikan dan Udang Di UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pasuruan, Jawa Timur Aminatun Najah; Indah Wahyuni Abida; Dyah Wahjuning Listiyarini
Juvenil Vol 5, No 4: November 2024
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i4.17503

Abstract

ABSTRAKFurazolidone merupakan salah satu jenis antibiotik yang sering digunakan oleh peternak untuk ditambahkan ke pakan ternaknya, hal ini karena furazolidone merupakan bagian dari nitrofuran. Furazolidone memiliki struktur kimia 3-amino-2-oxazolidinone (AOZ). Produk budidaya ikan dan udang yang mengandung residu Furazolidone (AOZ) bila dikonsumsi akan menimbulkan reaksi hipersensitif dan anemia hemolitik pada orang-orang tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis residu antibiotik Furazolidone pada ikan dan udang di Unit Pelaksanaan Teknis Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pasuruan Jawa Timur. Metode analisis jenis antibiotik menggunakan metode ELISA (Enzym Link Immunosorbent Assay) terhadap 12 sampel lapang. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan jumlah sampel daging ikan bandeng (Chanos chanos) sebanyak 10 sampel memiliki nilai tertinggi 0.149 μg/kg, dan nilai terendah daging ikan bandeng berada pada nilai dibawah STC (Screening Target Concentration) yang diasumsikan menjadi ND (Not detect), sedangkan pada 2 sampel udang vanname  memiliki nilai yang sama yaitu nilai dibawah STC yang diasumsikan menjadi ND (Not detect) pada uji skrening. Meskipun hasil pengukuran dibawah STC, namun perlu ditingkatkan pengawasan dalam penggunaannya pada hewan ternak di Indonesia untuk mengurangi dampak pada kesehatan manusia.Kata kunci: Deteksi ELISA, Daging Ikan, Daging Udang, Residu Furazolidone.ABSTRACTFurazolidone is one type of antibiotic commonly used by farmers to add to their livestock feed because it is part of the nitrofuran group. Furazolidone has a chemical structure known as 3-amino-2-oxazolidinone (AOZ). The cultivation products of fish and shrimp containing residues of Furazolidone (AOZ), when consumed, can induce hypersensitive reactions and hemolytic anemia in certain individuals. The objective of this study is to analyze the residue of the antibiotic Furazolidone in fish and shrimp at the Technical Implementation Unit of Fish Health and Environmental Laboratories in Pasuruan, East Java. The antibiotic analysis method used the ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) method on 12 field samples. The results indicate that, among the field samples, 10 samples of milkfish (Chanos chanos) had the highest value of 0.149 μg/kg, while the lowest value for milkfish was below the Screening Target Concentration (STC), assumed to be Not Detectable (ND). Similarly, for 2 samples of vannamei shrimp, the values were also below the STC and assumed to be ND in the screening test. Although the measured values are below the STC, increased supervision in the use of Furazolidone in livestock in Indonesia is necessary to minimize the impact on human health.Top of FormKeywords: ELISA detect, Milkfish meat, Prawn meat, Furazolidone residu