cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 502 Documents
INTERNALISASI NILAI-NILAI SIFAT-SIFAT WAJIB BAGI ALLAH DALAM PEMBENTUKAN AKIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH PESERTA DIDIK SMP ISLAM NASHIHUDDIN BANDAR LAMPUNG M. Rizal Harnanto; Deden Makbuloh; Muhammad Mustofa
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.13686

Abstract

ABSTRACT The predominance of aqidah instruction that emphasizes rote memorization rather than meaningful understanding has limited the development of students’ theological convictions, highlighting the need for a learning approach that effectively internalizes theological values. This study aims to analyze the process of internalizing the values of the twenty obligatory attributes of Allah in strengthening the Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) creed, examine its influence on students’ theological reasoning, and identify the supporting and inhibiting factors at SMP Islam Nashihuddin Bandar Lampung. This study employed a descriptive qualitative approach with a field research design. Data were collected through observations, interviews, and document analysis, and were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing, with credibility ensured through triangulation. The findings reveal that the internalization process was implemented systematically through three interconnected stages: transformation, transaction, and transinternalization, integrating knowledge transmission, reflective dialogue, and religious habituation. This process effectively transformed students’ learning orientation from rote memorization into rational and reflective theological understanding grounded in both ‘aqli (rational) and naqli (scriptural) arguments. The study further demonstrates that the effectiveness of aqidah learning depends on the integration of value internalization supported by a religious school culture, strong instructional competence, and school leadership. These findings contribute conceptually to the development of a value-based aqidah learning model in Islamic schools. Future studies are recommended to validate this model through mixed methods or comparative approaches across broader educational contexts. ABSTRAK Rendahnya pemahaman akidah di kalangan peserta didik yang masih berorientasi pada hafalan tanpa penghayatan makna menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai teologis secara lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses internalisasi nilai-nilai sifat-sifat wajib bagi Allah dalam membentuk akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, mengkaji pengaruhnya terhadap pembentukan pola pikir teologis peserta didik, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilannya di SMP Islam Nashihuddin Bandar Lampung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis field research. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan pengujian keabsahan melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi berlangsung secara sistematis melalui tahapan transformasi, transaksi, dan transinternalisasi yang mengintegrasikan penyampaian materi, dialog reflektif, serta pembiasaan religius sehingga mampu mengubah orientasi belajar peserta didik dari sekadar menghafal menuju pemahaman akidah yang rasional, reflektif, dan berlandaskan dalil aqli serta naqli. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran akidah ditentukan oleh integrasi proses internalisasi nilai yang didukung budaya religius sekolah, kompetensi guru, dan kepemimpinan kepala sekolah, sehingga memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan model pembelajaran akidah berbasis nilai di sekolah Islam. Penelitian selanjutnya disarankan menguji model tersebut melalui pendekatan mixed methods atau komparatif pada konteks pendidikan yang lebih beragam.
DEVELOPMENT OF A PROBLEM BASED LEARNING E-MODULE TO ENHANCE STUDENTS’ SCIENTIFIC LITERACY IN REACTION RATE LEARNING Dorthea Maria Woga Nay
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.14016

Abstract

Students' low scientific literacy in reaction rate learning remains a challenge in chemistry education because existing instructional materials often fail to relate scientific concepts to real-world contexts and provide limited opportunities for active learning. Therefore, innovative teaching materials are needed to promote meaningful, student-centered learning. This study set out to develop a Problem-Based Learning (PBL)-based e-module and and to examine how valid, practical, and effective it is in strengthening students' scientific literacy on the reaction rate topic. The research employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model. Validity was established through assessments from both material and media experts, practicality was gauged via student response questionnaires, and effectiveness was tracked through pretest-posttest scientific literacy scores. The material expert validation produced a score of 87.78%, while the media expert validation reached 92.73%, both falling into the very valid category. Student feedback was equally favorable, with practicality percentages of 93.1% in the small-group trial and 92.1% in the large-group trial. In addition, the mean scientific literacy score rose from 53 in the pretest to 87 in the posttest. Taken together, these results indicate that the PBL-based e-module serves as an effective digital resource capable of supporting contextual chemistry instruction and cultivating the scientific literacy skills demanded by twenty-first-century education. ABSTRAK Rendahnya literasi sains peserta didik dalam topik laju reaksi menjadi salah satu tantangan dalam pembelajaran kimia, yang disebabkan oleh keterbatasan bahan ajar yang mampu mengaitkan konsep dengan permasalahan kontekstual serta kurang mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan inovasi bahan ajar yang dapat memfasilitasi pembelajaran bermakna melalui pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul berbasis Problem Based Learning (PBL) dan menganalisis kevalidan, kepraktisan, dan keefektifannya dalam meningkatkan literasi sains peserta didik pada materi laju reaksi. Penelitian ini menerapkan pendekatan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Kevalidan produk diperoleh dari penilaian oleh ahli materi dan ahli media, kepraktisan diperoleh melalui kuesioner respon peserta didik, sedangkan efektivitas e-modul diperoleh berdasarkan hasil pretest dan posttest literasi sains. Hasil validasi ahli materi terhadap produk menghasilkan skor 87.78%, sedangkan validasi ahli media mencapai 92.73%, yang tergolong dalam kategori sangat valid. Respon peserta didik memperoleh skor 93.1% pada kelompok kecil dan 92.1% pada kelompok besar yang tergolong dalam kategori sangat baik. E-modul juga efektif meningkatkan literasi sains peserta didik dari rata-rata skor 53 menjadi 87. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa e-modul berbasis PBL dapat menjadi alternatif bahan ajar digital yang efektif dan mampu mendukung pengajaran kimia kontekstual serta menumbuhkan keterampilan literasi sains yang dibutuhkan pada pendidikan abad ke-21.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TEKNIK KONSTRUKSI DAN PERUMAHAN PADA ELEMEN PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI DI SMKN Nada Fitriyah; Nur Andajani
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.14093

Abstract

Learning in the Construction Work Implementation element at SMKN 2 Bojonegoro still faces challenges, particularly the low level of student engagement during practical activities, which affects students' psychomotor learning outcomes. One alternative to address this issue is the implementation of the peer tutoring learning model, which encourages collaboration and interaction among students during the learning process. This study aimed to examine the effect of the peer tutoring learning model on students' psychomotor learning outcomes in the Construction Work Implementation element at SMKN 2 Bojonegoro. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Posttest-Only Control Design. The sample consisted of 71 eleventh-grade students from the Construction and Housing Engineering program in the 2025/2026 academic year, comprising 36 students in the experimental class and 35 students in the control class. Data were collected through psychomotor learning outcome tests, student response questionnaires, observations, and documentation. All research instruments were validated by experts and tested for validity and reliability before implementation. Data were analyzed using descriptive and inferential statistics, including the Shapiro–Wilk normality test, Levene's homogeneity test, and the Independent Samples t-test at a significance level of 0.05. The results indicated that the peer tutoring learning instruments achieved a feasibility score of 94%, categorized as highly feasible. The experimental class obtained an average psychomotor learning outcome score of 80, which was higher than that of the control class. Furthermore, the Independent Samples t-test revealed a significant difference between the two classes (t = 4.156, p = 0.001), indicating that the peer tutoring learning model had a significant effect on students' psychomotor learning outcomes. In addition, 70% of the students gave positive responses to the implementation of the peer tutoring learning model. Therefore, the peer tutoring learning model can be considered a feasible and effective alternative for improving psychomotor learning outcomes in the Construction and Housing Engineering program. ABSTRAK Pembelajaran pada elemen Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi di SMKN 2 Bojonegoro masih menghadapi kendala berupa rendahnya keterlibatan siswa dalam kegiatan praktik sehingga berdampak pada hasil belajar psikomotorik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penerapan model pembelajaran tutor sebaya yang mendorong kolaborasi dan interaksi antarsiswa selama proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran tutor sebaya terhadap hasil belajar psikomotorik siswa pada elemen Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi di SMKN 2 Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experimental) menggunakan desain Posttest Only Control Design. Sampel penelitian terdiri atas 71 siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Teknik Konstruksi dan Perumahan Tahun Ajaran 2025/2026, yang dibagi menjadi kelas eksperimen berjumlah 36 siswa dan kelas kontrol berjumlah 35 siswa. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar psikomotorik, angket respons siswa, observasi, dan dokumentasi. Instrumen penelitian telah divalidasi oleh ahli serta diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk, uji homogenitas Levene, dan Independent Samples t-test pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran tutor sebaya memperoleh tingkat kelayakan sebesar 94% dengan kategori sangat layak. Rata-rata hasil belajar psikomotorik kelas eksperimen mencapai 80, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil Independent Samples t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelas (t = 4,156; p = 0,001), sehingga model pembelajaran tutor sebaya berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar psikomotorik siswa. Selain itu, hasil angket menunjukkan bahwa 70% siswa memberikan respons positif terhadap penerapan model pembelajaran tutor sebaya. Dengan demikian, model pembelajaran tutor sebaya layak diterapkan sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar psikomotorik pada kompetensi keahlian Teknik Konstruksi dan Perumahan.
PENGARUH POTENSI DIRI DAN LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP MINAT MELANJUTKAN STUDI KEPERGURUAN TINGGI BAGI SISWA KELAS X DAN XI PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PEMESINAN DI SMK NEGERI 1 PADANG Nadilla Eka Puteri; Bulkia Rahim; Primawati; Rizky Ema Wulansari
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.14205

Abstract

 ABSTRACT This study was motivated by the low interest of vocational high school (SMK) students in pursuing higher education, particularly among students of the Machining Engineering Program at SMK Negeri 1 Padang. The study aimed to examine the influence of self-potential and family environment, both partially and simultaneously, on students' interest in continuing their studies to higher education. A quantitative descriptive approach was employed using a saturated sampling technique involving 118 tenth- and eleventh-grade students. Data were collected through a validated and reliable Likert-scale questionnaire and analyzed using Pearson Product-Moment correlation and multiple correlation with SPSS 23.0. The findings revealed that self-potential had a positive and very strong influence on students' interest in pursuing higher education (r = 0.806, p < 0.001), while the family environment also demonstrated a positive and very strong influence (r = 0.968, p < 0.001). Simultaneously, self-potential and family environment significantly influenced students' interest in pursuing higher education, with a multiple correlation coefficient of R = 0.826 and a contribution of 68.2%. These findings indicate that strengthening students' self-potential, supported by a conducive family environment, plays a crucial role in enhancing their intention to continue to higher education. Therefore, collaboration among schools, families, and students is essential to strengthen students' readiness and motivation for higher education. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, khususnya pada Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Negeri 1 Padang. Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh potensi diri dan lingkungan keluarga, baik secara parsial maupun simultan, terhadap minat siswa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik sampling jenuh yang melibatkan 118 siswa kelas X dan XI. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Product Moment dan korelasi berganda dengan bantuan SPSS 23.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi diri berpengaruh positif dan sangat kuat terhadap minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi (r = 0,806; p < 0,001), sedangkan lingkungan keluarga juga memberikan pengaruh positif dan sangat kuat (r = 0,968; p < 0,001). Secara simultan, potensi diri dan lingkungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap minat melanjutkan studi dengan koefisien korelasi berganda sebesar R = 0,826 dan kontribusi sebesar 68,2%. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan potensi diri yang didukung oleh lingkungan keluarga yang kondusif berperan penting dalam mendorong minat siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah, keluarga, dan siswa diperlukan untuk meningkatkan kesiapan dan motivasi melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.
HUBUNGAN KOORDINASI MATA KAKI DAN KESEIMBANGAN DENGAN KETERAMPILAN SEPAK SILA DALAM PERMAINAN SEPAK TAKRAW Alif Lam Akhmady Akhmady; Ariamin Mondo; Karim Karim
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.14283

Abstract

The sila kick is the most dominant basic technique in sepak takraw, serving as a technique for receiving, controlling, and passing the ball, as well as an initial defensive technique. Preliminary observations among eighth-grade students at SMP Negeri 3 Buton showed that 20 of 30 students (66.67%) had not mastered the sila kick correctly, with an average practical score of 68.40%, below the Minimum Completeness Criteria (KKM) of 75. This condition was presumed related to students' low eye-foot coordination and balance. This study aimed to analyze the relationship between eye-foot coordination, balance, and their simultaneous relationship with sila kick skills among eighth-grade students at SMP Negeri 3 Buton. This study used a quantitative method with a correlational approach. The sample consisted of 30 male students selected using purposive sampling. Data were collected through tests of eye-foot coordination, balance, and sila kick skills, then analyzed using IBM SPSS version 22 through Spearman's rho correlation test and multiple regression analysis. Results showed a significant relationship between eye-foot coordination and sila kick skills (r = 0.457; sig. = 0.011), while the relationship between balance and sila kick skills was not significant (r = 0.302; sig. = 0.105). Simultaneously, eye-foot coordination and balance had a significant relationship with sila kick skills (R = 0.500; R Square = 0.250; sig. = 0.021), contributing 25% to skill variation. ABSTRAK Sepak sila merupakan teknik dasar paling dominan dalam permainan sepak takraw karena berfungsi ganda sebagai teknik menerima, mengontrol, dan mengumpan bola, sekaligus teknik pertahanan awal. Observasi awal pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Buton menunjukkan bahwa 20 dari 30 siswa (66,67%) belum mampu melakukan sepak sila dengan teknik yang benar, dengan rata-rata nilai praktik 68,40%, masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75. Kondisi ini diduga berkaitan dengan rendahnya koordinasi mata-kaki dan keseimbangan tubuh siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan koordinasi mata-kaki, keseimbangan, serta hubungan keduanya secara simultan dengan keterampilan sepak sila pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Buton. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel berjumlah 30 siswa laki-laki yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tes dan pengukuran koordinasi mata-kaki, keseimbangan, dan keterampilan sepak sila, lalu dianalisis menggunakan IBM SPSS versi 22 melalui uji korelasi Spearman's rho dan regresi berganda. Hasil menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara koordinasi mata-kaki dengan sepak sila (r = 0,457; sig. = 0,011), sementara hubungan keseimbangan dengan sepak sila tidak signifikan (r = 0,302; sig. = 0,105). Secara simultan, koordinasi mata-kaki dan keseimbangan memiliki hubungan signifikan dengan sepak sila (R = 0,500; R Square = 0,250; sig. = 0,021), dengan kontribusi 25% terhadap variasi keterampilan tersebut.
MOTIVASI INTRINSIK SISWA KELAS XI TERHADAP PEMBELAJARAN PJOK DI SMKN 5 PADANG Bayu Rizky Andrian Putra; Yanuar Kiram; Yendrizal Yendrizal; Ardo Okilanda
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.14558

Abstract

ABSTRACT Intrinsic motivation is an important factor influencing students' engagement in Physical Education, Sports, and Health (PESH) learning. However, the absence of empirical evidence regarding the level of intrinsic motivation among eleventh-grade students at SMK Negeri 5 Padang has limited teachers' ability to design learning strategies that align with students' characteristics. This study aimed to describe the level of intrinsic motivation of eleventh-grade students toward PESH learning. The study employed a quantitative descriptive approach involving 50 students selected through random sampling from a population of 280 eleventh-grade students. Data were collected using a Likert-scale questionnaire measuring five indicators of intrinsic motivation and analyzed using descriptive statistics in the form of percentages, which were then classified into motivation categories. The results revealed that the average level of students' intrinsic motivation was 75.8%, categorized as high. All five indicators were also classified as high, including awareness of the importance of physical fitness and health (79%), comfort during learning (77%), self-satisfaction in learning (76%), interest in physical activity and sports (74%), and curiosity and willingness to develop (73%). These findings indicate that students' intrinsic motivation is relatively balanced across all measured indicators and may serve as an empirical basis for teachers to design more engaging, student-centered, and sustainable PESH learning experiences. ABSTRAK Motivasi intrinsik merupakan faktor penting yang menentukan keterlibatan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Namun, belum tersedianya data empiris mengenai tingkat motivasi intrinsik siswa kelas XI di SMK Negeri 5 Kota Padang menyebabkan guru belum memiliki dasar yang memadai untuk merancang strategi pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat motivasi intrinsik siswa kelas XI terhadap pembelajaran PJOK. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 50 siswa yang dipilih menggunakan teknik random sampling dari populasi sebanyak 280 siswa kelas XI. Data dikumpulkan menggunakan angket berskala Likert yang mengukur lima indikator motivasi intrinsik, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dalam bentuk persentase dan diklasifikasikan berdasarkan kategori motivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata motivasi intrinsik siswa mencapai 75,8% dengan kategori tinggi. Seluruh indikator berada pada kategori tinggi, meliputi kesadaran akan pentingnya kebugaran dan kesehatan (79%), kenyamanan dalam pembelajaran (77%), kepuasan diri (76%), minat terhadap aktivitas fisik dan olahraga (74%), serta rasa ingin tahu dan keinginan untuk berkembang (73%). Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi intrinsik siswa berkembang secara relatif merata pada seluruh indikator sehingga dapat menjadi dasar bagi guru dalam merancang pembelajaran PJOK yang lebih menarik, berpusat pada siswa, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
PENGUATAN PERAN ORANG TUA MELALUI JOURNALING UNTUK REGULASI EMOSI, REFLEKSI PSIKOLOGIS, DAN PENGELOLAAN POTENSI ANAK SMP Rindang Wahjuningtijas; Wenny Wulandari; Wise Rahmawan
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i4.8610

Abstract

Adolescence is a developmental stage characterized by complex emotional changes and an increasing need for psychological support from the family environment. Rapid emotional fluctuations, identity exploration, and heightened social sensitivity often create challenges in parent–adolescent relationships. These conditions require parents to develop adequate emotion regulation and psychological reflective capacities in order to provide adaptive parenting. This community service program aimed to strengthen parents’ roles in emotion regulation, psychological reflection, and the management of adolescents’ potential through a reflective journaling approach. The program was conducted at SMP M Pabuaran, Bogor Regency, involving 65 parents of students from grades VII, VIII, and IX. A participatory method was employed, including interactive lectures, group discussions, role-playing activities, and guided expressive writing practices. The results indicated that parents gained new insights into the importance of emotion regulation in adolescent parenting and became more aware of their own emotional patterns that influence interactions with their children. Moreover, journaling activities facilitated parents’ reflective abilities, enhanced their understanding of adolescents’ emotional needs, and supported the development of more positive and realistic parenting strategies. These findings suggest that reflective journaling can serve as a simple, applicable, and sustainable psychoeducational tool to support emotion-based and reflective parenting practices in school-based community programs. ABSTRAKMasa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai oleh dinamika emosional yang kompleks serta meningkatnya kebutuhan akan dukungan psikologis dari lingkungan keluarga. Perubahan emosi yang cepat, pencarian identitas diri, dan sensitivitas sosial sering kali memunculkan tantangan baru dalam relasi orang tua dan anak. Kondisi ini menuntut orang tua untuk memiliki kemampuan regulasi emosi dan refleksi psikologis yang memadai agar dapat menjalankan peran pengasuhan secara adaptif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat peran orang tua dalam pengelolaan emosi, pengembangan refleksi psikologis, serta pendampingan potensi anak melalui pendekatan journaling reflektif. Program dilaksanakan di SMP M Pabuaran, Kabupaten Bogor, dengan melibatkan 65 orang tua siswa kelas VII, VIII, dan IX. Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi peran, dan praktik expressive writing yang terstruktur. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa orang tua memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya regulasi emosi dalam pengasuhan remaja serta mampu mengenali pola emosi pribadi yang selama ini memengaruhi interaksi dengan anak. Selain itu, journaling membantu orang tua mengembangkan kemampuan refleksi diri, meningkatkan kesadaran terhadap kebutuhan emosional anak, dan menyusun langkah pengasuhan yang lebih positif serta realistis. Temuan ini menunjukkan bahwa journaling reflektif dapat menjadi media psikoedukatif yang sederhana, mudah diterapkan, dan berkelanjutan dalam mendukung pengasuhan remaja berbasis regulasi emosi dan refleksi psikologis di lingkungan sekolah.
THE EFFECT OF SCAFFOLDING IN STORY REENACTMENT ON JUNIOR HIGH SCHOOL EFL STUDENTS’ SPEAKING SKILLS Betsi Daputri Rahayu; Agus Sholeh; Rizky Lutviana
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13073

Abstract

Junior high school students in EFL contexts frequently encounter challenges in speaking. These challenges are not primarily caused by insufficient language knowledge, but rather by limited opportunities to use English during communicative classroom activities. Another factor that contributes to students speaking difficulties is high speaking anxiety. This study aimed to examine the effect of scaffolding in story reenactment activities on junior high school students’ speaking skills in EFL contexts. The study employed a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design involving two eighth grade classes at SMPN 23 Malang. The sample consisted of 54 students who were assigned into an experimental group (n=26) and a control group (n = 28). The data collection process used speaking tests using an analytic scoring rubric covering fluency, grammatical accuracy, vocabulary, pronunciation, and content. The findings showed that the experimental group achieved greater improvement than the control group across all speaking components, particularly grammatical accuracy and fluency. The result of The Mann-Whitney U test showed that the two groups were significantly different (p = .002) with an effect size of .42. The findings indicate that the implementation of scaffolding in story reenactment helped students manage linguistic and cognitive demands during oral production, thereby supporting better speaking performance in junior high school EFL classrooms. ABSTRAK Siswa SMP dalam konteks belajar bahasa inggris sebagai bahasa asing (EFL) kerap menghadapi kesulitan dalam berbicara (speaking). Hal ini terjadi bukan karena kurangnya pengatuhan bahasa yang mereka miliki, melainkan karena minimnya ksesempatan berlatih secara komunikatif di dalam kelas. Kesulitan tersebut juga terjadi karena tingginya kecemasan saat berbicara serta aktitifitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh scaffolding dalam kegiatan story reenactment terhadap kemampuan berbicara siswa SMP dalam konteks EFL. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan metode pretest-posttest yang melibatkan dua kelas VIII di SMPN 23 Malang. Sample berjumlah 54 siswa yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen (n=26) dan kelompok kontrol (n=28). Data penelitian diperoleh melalui tes kemampuan berbicara menggunakan rubrik analitik yang mencakup fluency, gramatical accuracy, vocabulary, pronunciation, dan content. Hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan kemampuan berbicara yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol pada seluruh komponen berbicara, terutama gramatical accuracy dan fluency. Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p = .002) dengan effect size sebesar .42. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan scaffolding dalam story reenactment membantu siswa mengurangi beban linguistik dan kognitif selama proses produksi lisan sehingga mendukung performa berbicara yang lebih baik dalam pembelajaran EFL tingkat SMP.
EVALUASI PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL CIPP BERBASIS COLLABORATIVE PROJECT BASED LEARNING Afnia Dwi Febriani Afnia; Arief Rahman Yusuf Arief; Sigit Dwi Laksana Sigit
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13150

Abstract

The implementation of Collaborative Project-Based Learning (CPjBL) in vocational education needs to be evaluated to ensure alignment between instructional planning, implementation, and learning outcomes in supporting students' competency achievement. This study aims to evaluate the implementation of Collaborative Project-Based Learning (CPjBL) in the Audio Video Engineering Program at SMKS Brawijaya Ponorogo using the Context, Input, Process, Product (CIPP) evaluation model. The study employed a qualitative descriptive approach involving the principal, the vice principal for curriculum affairs, and vocational teachers as research participants. Data were collected through observations, interviews, and document analysis, and were analyzed using the Miles and Huberman interactive analysis model. The findings indicate that, in terms of the context aspect, the implementation of CPjBL is aligned with the Merdeka Curriculum through project-based learning that integrates technical competencies, collaboration, and problem-solving skills in accordance with workplace demands. Regarding the input aspect, the school is supported by teachers' competencies in designing and facilitating project-based learning, the availability of laboratories and practical equipment, and strong school management support through the provision of facilities, policies, and instructional supervision. In the process aspect, learning is carried out through the stages of project planning, collaborative work, monitoring, reflection, and evaluation, thereby encouraging students' active participation in project completion. In the product aspect, CPjBL enhances students' critical thinking, collaboration, communication, and technical skills, as demonstrated by their successful production of fully functional active speakers and Capacitor Discharge Ignition (CDI) systems that meet the competency standards of the Audio Video Engineering Program. In conclusion, CPjBL has proven to be an effective instructional model and is worthy of further development as a vocational learning approach to strengthen 21st-century competencies and improve students' work readiness. ABSTRAK Implementasi Collaborative Project Based Learning (CPjBL) pada pendidikan kejuruan perlu dievaluasi untuk memastikan kesesuaian antara perencanaan, pelaksanaan, dan hasil pembelajaran dalam mendukung pencapaian kompetensi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Collaborative Project Based Learning (CPjBL) pada Program Keahlian Teknik Audio Video di SMKS Brawijaya Ponorogo menggunakan model evaluasi Context, Input, Process, Product (CIPP). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek Wakil Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Bidang Kurikulum, wakil Wakil Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Bidang Kurikulum bidang kurikulum, dan guru produktif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek context, implementasi CPjBL selaras dengan Kurikulum Merdeka melalui pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan kompetensi teknis, kolaborasi, dan pemecahan masalah sesuai kebutuhan dunia kerja. Pada aspek input, sekolah didukung oleh kompetensi guru dalam merancang dan memfasilitasi pembelajaran berbasis proyek, ketersediaan laboratorium serta peralatan praktik, dan dukungan manajemen sekolah melalui penyediaan sarana, kebijakan, serta supervisi pembelajaran. Pada aspek process, pembelajaran dilaksanakan melalui tahapan perencanaan proyek, kerja kolaboratif, monitoring, refleksi, dan evaluasi sehingga mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam penyelesaian proyek. Pada aspek product, CPjBL meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan keterampilan teknis peserta didik yang ditunjukkan melalui keberhasilan menghasilkan produk speaker active dan Capacitor Discharge Ignition (CDI) yang berfungsi dengan baik serta sesuai dengan kompetensi Program Keahlian Teknik Audio Video. Dengan demikian, CPjBL terbukti efektif dan layak dikembangkan sebagai model pembelajaran vokasi untuk mendukung penguatan kompetensi abad ke-21 dan kesiapan kerja peserta didik.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMKN Mahdania Anggraini Putri; Triesninda Pahlevi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13609

Abstract

This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning learning model on the critical thinking skills of class X students majoring in Office Management and Business Services at SMKN 1 Surabaya. This research is motivated by the learning process that is still dominated by conventional methods so that it does not provide optimal opportunities for students to develop critical thinking skills. Therefore, a student-centered learning model is needed, one of which is Problem Based Learning (PBL).. This study used a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The research sample consisted of class X MP 1 as the control class and class X MP 2 as the experimental class. Data were collected through a critical thinking ability test and analyzed using a normality test, homogeneity test, Independent Samples t-test, and N-Gain test. The results showed that the average posttest score of the experimental class (88.42) was higher than the control class (80.44). The results of the Independent Samples t-test obtained a significance value of 0.000 (p<0.005) which indicates that the Problem Based Learning learning model has a significant effect on students' critical thinking skills. The N-Gain test results showed that the experimental class achieved a high level of critical thinking (71%), while the control class achieved a moderate level (49%). Thus, the Problem-Based Learning model is effective in improving students' critical thinking skills. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh proses pembelajaran yang masih didominasi metode konvensional sehingga belum memberikan kesempatan yang optimal bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, salah satunya Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X Jurusan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis di SMKN 1 Surabaya. Metode yang digunakan berbasis pada quasi experimental dengan desain nonequivalent control group design. Sampel penelitian terdiri atas kelas X MP 1 sebagai kelas kontrol dan kelas X MP 2 sebagai kelas eksperimen. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan berpikir kritis dan dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, Independent Samples t-test, dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai posttest kelas eksperimen (88,42) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (80,44). Hasil uji Independent Samples t-test memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,005) yang menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil uji N-Gain menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen berada pada kategori tinggi (71%), sedangkan kelas kontrol berada pada kategori sedang (49%). Dengan demikian, model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.