cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 546 Documents
ANALISIS KUALITAS PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN Ashariana, Ashariana; Ibrahim, Ibrahim; Muliati, Muliati; M, Ristifani Arista
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9344

Abstract

The quality of public services in population administration is a primary measure of local government performance. However, in Tinambung District, Polewali Mandar Regency, a gap remains between public expectations and the reality of available services. This study aims to analyze the effectiveness of population administration services using a descriptive qualitative approach. Data collection was conducted through participant observation, in-depth interviews with officials and the public, and documentation studies. Data were then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The research findings indicate that the dimensions of reliability, responsiveness, assurance, and empathy of officers have performed well, characterized by data accuracy, speed of response, and a humanistic approach to serving citizens. However, the tangibles dimension remains a crucial weakness due to damaged electronic ID card recording devices and the lack of adequate waiting room facilities. The main conclusion of this study confirms that although the work culture of civil servants is oriented towards public satisfaction, overall service effectiveness is still hampered by a technical infrastructure deficit, necessitating the revitalization of these facilities and infrastructure as a priority for future improvement. ABSTRAK Kualitas pelayanan publik dalam administrasi kependudukan menjadi tolak ukur utama kinerja pemerintah daerah, namun di Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, masih ditemukan kesenjangan antara harapan masyarakat dengan realitas layanan yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pelayanan administrasi kependudukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan aparatur dan masyarakat, serta studi dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dimensi keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy) petugas telah berjalan dengan baik, ditandai oleh akurasi data, kecepatan respons, serta pendekatan humanis dalam melayani warga. Namun, dimensi bukti fisik (tangibles) masih menjadi kelemahan krusial akibat rusaknya alat perekaman KTP elektronik dan minimnya fasilitas ruang tunggu yang layak. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa meskipun budaya kerja aparatur sudah berorientasi pada kepuasan publik, efektivitas layanan secara keseluruhan masih terhambat oleh defisit infrastruktur teknis, sehingga diperlukan revitalisasi sarana prasarana sebagai prioritas perbaikan di masa depan.  
IMPLIKASI UANG JAPUIK DALAM KEHARMONISAN BERUMAH TANGGA Haq, Phadilal; Abdullah, Muhammad Wahid
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9345

Abstract

The tradition of Uang Japuik in Padang Pariaman is philosophically a form of respect for the groom within the matrilineal system. However, contemporary phenomena indicate a shift in the meaning of this tradition into an instrument of social prestige, triggering economic and psychosocial burdens for the bride's family. This study aims to analyze the implications of the shifting meaning of the Uang Japuik tradition on marital harmony amidst the high divorce rates in the region. The method used is descriptive qualitative with a literature study approach, synthesizing sociocultural literature and statistical data from the Pariaman Religious Court. The results show that high nominal expectations based on social status often become a source of internal conflict and a trigger for post-marital disharmony. Statistical trends over the last five years (2019-2023) recorded a total of 5,483 divorce cases at the Pariaman Religious Court, where continuous disputes were the dominant factor. The conclusion of this study emphasizes that to realize a harmonious family (sakinah) in accordance with the mandate of Law Number 1 of 1974, a renegotiation of the meaning of Uang Japuik is required to return it to its original function as a symbol of appreciation and strengthening kinship, rather than a financial burden that undermines domestic stability. ABSTRAK Tradisi Uang Japuik di Padang Pariaman secara filosofis merupakan bentuk penghormatan terhadap mempelai laki-laki dalam sistem matrilineal. Namun, fenomena kontemporer menunjukkan adanya pergeseran makna tradisi ini menjadi instrumen prestise sosial yang memicu beban ekonomi dan psikososial bagi keluarga perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi pergeseran makna tradisi Uang Japuik terhadap keharmonisan rumah tangga di tengah tingginya angka perceraian di wilayah tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, menyintesis literatur sosiokultural serta data statistik dari Pengadilan Agama Pariaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi nominal yang tinggi berdasarkan status sosial sering kali menjadi sumber konflik internal dan pemicu ketidakharmonisan pasangan pasca-pernikahan. Data tren lima tahun terakhir (2019-2023) mencatat total 5.483 kasus perceraian di PA Pariaman, di mana perselisihan terus-menerus menjadi faktor dominan. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa untuk mewujudkan keluarga yang sakinah sesuai amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, diperlukan renegosiasi pemaknaan Uang Japuik agar kembali pada fungsi asalnya sebagai simbol penghargaan dan penguat kekerabatan, bukan beban finansial yang mencederai stabilitas domestik.
PENGARUH BIG DATA ANALYTICS, DATA GOVERNANCE, DAN ANALYTICAL CAPABILITY TERHADAP KUALITAS INFORMASI AKUNTANSI SERTA DAMPAKNYA TERHADAP DETEKSI FRAUD PADA BANK X DI INDONESIA Sianturi, Murdan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9346

Abstract

Digital transformation in the banking sector demands optimization of data management to mitigate fraud risks, but its success is highly dependent on the integration of technology, governance, and human resource capabilities. This study aims to analyze the influence of Big Data Analytics, Data Governance, and Analytical Capability on Accounting Information Quality and its impact on Fraud Detection at Bank X. Using an explanatory quantitative approach, data were collected through questionnaires to employees of related units and analyzed using the SEM-PLS method. The test results show that Big Data Analytics (path coefficient 0.45), Data Governance (0.42), and Analytical Capability (0.40) have a positive and significant effect on Accounting Information Quality, with a determination value (R-Square) of 0.65. Furthermore, Accounting Information Quality is proven to have a significant impact on Fraud Detection (coefficient 0.50) and mediates the relationship between variables with a model influence contribution of 60%. It is concluded that improving the quality of accounting information through the synergy of sophisticated data analytics, disciplined governance, and HR analytical competency is the main foundation in strengthening the effectiveness of the banking fraud detection system. ABSTRAK Transformasi digital di sektor perbankan menuntut optimalisasi pengelolaan data untuk memitigasi risiko kecurangan, namun keberhasilannya sangat bergantung pada integrasi teknologi, tata kelola, dan kapabilitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Big Data Analytics, Data Governance, dan Analytical Capability terhadap Kualitas Informasi Akuntansi serta dampaknya pada Deteksi Fraud di Bank X. Menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori, data dikumpulkan melalui kuesioner kepada karyawan unit terkait dan dianalisis menggunakan metode SEM-PLS. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Big Data Analytics (koefisien jalur 0,45), Data Governance (0,42), dan Analytical Capability (0,40) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Informasi Akuntansi, dengan nilai determinasi (R-Square) sebesar 0,65. Lebih lanjut, Kualitas Informasi Akuntansi terbukti berdampak signifikan terhadap Deteksi Fraud (koefisien 0,50) serta memediasi hubungan antarvariabel dengan kontribusi pengaruh model sebesar 60%. Disimpulkan bahwa peningkatan kualitas informasi akuntansi melalui sinergi analitik data yang canggih, tata kelola yang disiplin, dan kompetensi analitik SDM merupakan fondasi utama dalam memperkuat efektivitas sistem deteksi fraud perbankan.
POLA PEMANFAATAN AIR SUNGAI DARI DAM ALAMI WAE ELA UNTUK MASYARAKAT Patty, Farhani Amalia; Nanlohy, W. D.; Ruman, Rifyan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9347

Abstract

The availability of clean water following the Wae Ela natural dam landslide disaster has become a crucial challenge for the people of Negeri Lima due to the damage to vital infrastructure. This study aims to analyze the water utilization patterns of the Wae Ela river and its determinants using qualitative methods with an exploratory case study design. Through in-depth interviews and observations, it was found that the utilization patterns are adaptive but very limited, where 100% of the community only uses water for non-consumptive domestic needs such as bathing and washing. Quantitative data shows an average usage volume of 130 liters per individual per visit with a dominant frequency of 2-3 times a week, concentrated in the morning (46.6%) and afternoon (33.3%). This pattern is hierarchically influenced by five main factors: the lack of adequate infrastructure, physical accessibility constraints, competition with alternative water sources, socio-economic stratification, and institutional gaps. It is concluded that current water utilization is highly dependent on individual physical and economic access without an equitable distribution mechanism, thus urgently requiring sustainable water governance policy interventions. ABSTRAK Ketersediaan air bersih pascabencana longsor bendungan alami Wae Ela menjadi tantangan krusial bagi masyarakat Negeri Lima akibat kerusakan infrastruktur vital. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola pemanfaatan air sungai aliran Wae Ela dan faktor determinannya menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Melalui wawancara mendalam dan observasi, ditemukan bahwa pola pemanfaatan bersifat adaptif namun sangat terbatas, di mana 100% masyarakat hanya menggunakan air untuk kebutuhan domestik non-konsumsi seperti mandi dan mencuci. Data kuantitatif menunjukkan rata-rata volume penggunaan sebesar 130 liter per individu per kunjungan dengan frekuensi dominan 2-3 kali seminggu, yang terkonsentrasi pada waktu pagi (46,6%) dan sore hari (33,3%). Pola ini dipengaruhi secara hierarkis oleh lima faktor utama, yaitu ketiadaan infrastruktur memadai, kendala aksesibilitas fisik, kompetisi dengan sumber air alternatif, stratifikasi sosial-ekonomi, serta kekosongan kelembagaan. Disimpulkan bahwa pemanfaatan air saat ini sangat bergantung pada kemampuan akses fisik dan ekonomi individu tanpa mekanisme pemerataan, sehingga mendesak perlunya intervensi kebijakan tata kelola air yang berkelanjutan.    
PENGEMBANGAN DAN ANALISIS PROPERTI PSIKOMETRI ALAT UKUR STATUS IDENTITAS Purnama, Agung; Alpiani, Neisya Tazkia; Mujahidah, Shabira; Ramadhani, Zahra Nurul Afni; Rahmanawati, Ainin; Sari, Novita
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9624

Abstract

Identity is an important aspect of an individual’s psychosocial development, particularly during late adolescence and early adulthood, when individuals begin to explore various life choices and form commitments to certain values and roles. In this context, the concept of identity status proposed by Marcia (1966) emphasizes two main dimensions, namely exploration and commitment, which emerge across various domains of life. The availability of measurement instruments that specifically assess identity status across important domains within the Indonesian cultural context remains limited. Therefore, this study aims to develop and analyze the psychometric properties of an identity status instrument based on the theory of James E. Marcia across four domains: religion, education, occupation, and marriage. This study employed a quantitative approach with a measurement development design. The sample consisted of 209 individuals aged 18–25 years in the Greater Bandung area. The instrument was constructed using a Likert scale and developed through several stages. In the initial stage, 62 items were generated, which were then reduced to 49 items after item selection. Construct validity was examined using Confirmatory Factor Analysis (CFA), which showed that the model in each dimension demonstrated an adequate fit. For the commitment dimension, the fit indices were CFI = 0.920; TLI = 0.909; RMSEA = 0.071; and SRMR = 0.069. For the exploration dimension, the fit indices were CFI = 0.920; TLI = 0.910; RMSEA = 0.071; and SRMR = 0.060. Although the chi-square value was significant (p < 0.001), other indices indicated an acceptable fit. Reliability testing showed excellent internal consistency, with Cronbach’s alpha values of 0.937 (commitment) and 0.907 (exploration). Therefore, this instrument can be considered valid and reliable for measuring identity status within the Indonesian cultural context. Identitas merupakan aspek penting dalam perkembangan psikososial individu, terutama pada masa remaja akhir dan dewasa awal ketika individu mulai mengeksplorasi berbagai pilihan hidup serta membentuk komitmen terhadap nilai dan peran tertentu. Dalam konteks ini, konsep status identitas yang dikemukakan oleh Marcia (1966) menekankan dua dimensi utama, yaitu eksplorasi dan komitmen, yang muncul dalam berbagai domain kehidupan. Ketersediaan alat ukur yang secara spesifik mengukur status identitas dalam berbagai domain penting pada konteks budaya Indonesia masih terbatas. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menganalisis psikometri instrumen status identitas yang dikembangkan berdasarkan teori James E. Marcia pada empat domain, yaitu agama, pendidikan, pekerjaan, dan pernikahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pengembangan alat ukur. Sampel penelitian berjumlah 209 individu berusia 18–25 tahun di wilayah Bandung Raya. Instrumen disusun menggunakan skala Likert melalui beberapa tahap pengembangan. Pada tahap awal, terdapat 62 item, yang kemudian diseleksi menjadi 49 item.Uji validitas konstruk menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) menunjukkan bahwa model pada setiap dimensi memiliki kecocokan yang memadai. Pada dimensi komitmen diperoleh CFI = 0,920; TLI = 0,909; RMSEA = 0,071; dan SRMR = 0,069, sedangkan pada dimensi eksplorasi diperoleh CFI = 0,920; TLI = 0,910; RMSEA = 0,071; dan SRMR = 0,060. Meskipun nilai chi-square signifikan (p < 0,001), indeks lainnya menunjukkan kategori acceptable fit. Uji reliabilitas menunjukkan konsistensi internal sangat baik dengan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0,937 (komitmen) dan 0,907 (eksplorasi). Dengan demikian, instrumen ini dinyatakan valid dan reliabel untuk mengukur status identitas dalam konteks budaya Indonesia.
KETERLIBATAN KELUARGA MUDA DALAM PROSES REGENERASI MAJELIS GEREJA DI GEREJA KRISTEN JAWA BAHTERA KASIH PEPANTHAN TEJOSARI Nugroho, Daniel Imanuel; Setyani, Eliana
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9780

Abstract

ABSTRACT The participation of young families in church ministries is not always accompanied by readiness to assume leadership roles. At Gereja Kristen Jawa (GKJ) Bahtera Kasih, particularly in the Tejosari Pepanthan, young families actively engage in various non-structural ministries such as Sunday school, hospitality, singing ministry, and other church activities; however, they are reluctant to serve as church elders. This situation raises concerns regarding leadership regeneration, which may affect the sustainability of church governance and ministry. This study aims to analyze the forms of young families’ involvement and to identify the factors underlying their reluctance to enter church leadership positions. The research employed a qualitative case study approach using interviews, observations, and documentation. The research subjects included young families actively involved in church ministries as well as church administrators engaged in congregational development. Data were analyzed thematically to identify patterns of participants’ experiences and perceptions. The findings reveal that reluctance to serve as elders is influenced by low self-confidence, limited time due to work and family responsibilities, feelings of inferiority toward senior elders, and limited understanding of liturgy. These findings indicate that active ministry participation does not automatically translate into readiness for ecclesiastical leadership without adequate guidance. Therefore, churches need to develop structured mentoring and capacity-building programs for young families to support sustainable leadership regeneration. ABSTRAK Partisipasi keluarga muda dalam pelayanan gereja tidak selalu diikuti dengan kesiapan menerima peran kepemimpinan. Di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Bahtera Kasih Pepanthan Tejosari, keluarga muda aktif dalam berbagai pelayanan non-struktural seperti sekolah minggu, konsumsi, singer, dan kegiatan gereja lainnya, namun belum bersedia menjadi majelis. Kondisi ini menimbulkan persoalan regenerasi kepemimpinan yang dapat memengaruhi keberlanjutan tata kelola pelayanan gereja. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk keterlibatan keluarga muda serta mengidentifikasi faktor yang mendasari keengganan mereka memasuki jabatan kemajelisan. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian melibatkan keluarga muda yang aktif dalam pelayanan serta pengurus gereja yang terlibat dalam pembinaan jemaat. Data dianalisis secara tematik untuk menemukan pola pengalaman dan persepsi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keengganan menjadi majelis dipengaruhi oleh rendahnya rasa percaya diri, keterbatasan waktu akibat tuntutan pekerjaan dan keluarga, rasa minder terhadap majelis senior, serta keterbatasan pemahaman liturgi. Temuan ini menegaskan bahwa keterlibatan pelayanan belum otomatis menghasilkan kesiapan kepemimpinan gerejawi tanpa pembinaan yang memadai. Implikasinya, gereja perlu mengembangkan pendampingan terstruktur dan program penguatan kapasitas bagi keluarga muda guna mendukung regenerasi kepemimpinan yang berkelanjutan.
KERUSAKAN EKOSISTEM DANAU KERINCI DI KABUPATEN KERINCI AKIBAT AKTIVITAS MANUSIA Handayani, Eva; Indasari, Lusi; Fitria, Yessi; Ivoriantika, Titik; Rosadi, Devita
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.9783

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the damage to the ecosystem of Lake Kerinci in Kerinci Regency caused by human activities. Lake Kerinci plays a crucial ecological and social role, but various activities such as agriculture, deforestation, and excessive tourism have led to environmental degradation. The methods used in this research include field surveys, water sampling for quality analysis, and interviews with local communities to understand their perceptions of the changes occurring. The results indicate that the quality of the lake's water has deteriorated, impacting biodiversity and public health. Contributing factors to ecosystem damage, including pollution from domestic waste and sedimentation due to land use changes, were identified as primary causes. This study recommends mitigation measures involving ecosystem rehabilitation and increasing community awareness about the importance of environmental conservation. Collaborative efforts between the government, communities, and the private sector are essential to maintain the sustainability of Lake Kerinci as a valuable natural resource for present and future generations in the region. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerusakan ekosistem Danau Kerinci di Kabupaten Kerinci akibat aktivitas manusia. Danau Kerinci memiliki fungsi ekologis dan sosial yang penting, tetapi berbagai aktivitas seperti pertanian, penebangan hutan, dan pariwisata berlebihan telah menyebabkan degradasi lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup survei lapangan, pengambilan sampel air untuk analisis kualitas, serta wawancara dengan masyarakat lokal untuk memahami persepsi mereka mengenai perubahan yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air danau mengalami penurunan, yang berdampak pada keanekaragaman hayati dan kesehatan masyarakat. Variabel-variabel yang berkontribusi terhadap kerusakan ekosistem, termasuk pencemaran limbah domestik dan sedimentasi akibat perubahan penggunaan lahan, diidentifikasi sebagai faktor utama. Penelitian ini merekomendasikan langkah-langkah mitigasi yang melibatkan rehabilitasi ekosistem dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta diperlukan untuk menjaga keberlanjutan Danau Kerinci sebagai sumber daya alam yang sangat berharga bagi generasi mendatang secara terpadu berkelanjutan konsisten dan berorientasi pada pelestarian.
ANALISA PENGARUH PERMEABILITAS TANAH TERHADAP PERSYARATAN KONSTRUKSI EMBUNG Gholiza, Dea Mutiara; Juansyah, Yan; Setyanto, Setyanto
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.9802

Abstract

ABSTRACT Reservoir ponds (embung) are important infrastructures for water resource conservation, particularly in areas with hilly topography. The Malahayati University area has relatively steep slopes, which require reservoir construction capable of minimizing the potential for leakage. One of the technical factors influencing reservoir safety is the permeability of the soil used as the base or core layer. This study aims to analyze the permeability coefficient of native soil and mixed soil (50% native soil and 50% laterite soil) and to evaluate its suitability with the requirements of SNI 8460:2017 concerning geotechnical design standards. The research was conducted through laboratory testing of soil physical properties and permeability testing using the falling head method. The results show that the native soil has an average permeability coefficient of m/s, while the mixed soil has a lower value of m/s. This decrease in permeability is consistent with the reduction in the void ratio from 1.553 in the native soil to 1.391 in the mixed soil. Based on the provisions of SNI 8460:2017, which require a permeability value of less than m/s for impermeable materials, the mixed soil meets the criteria as a reservoir core material. Therefore, the use of a mixture of native soil and laterite soil is recommended to improve impermeability and reduce the risk of leakage in reservoir construction. ABSTRAK Embung merupakan infrastruktur penting dalam konservasi sumber daya air, terutama pada wilayah dengan topografi berbukit. Kawasan Universitas Malahayati memiliki kemiringan lereng yang cukup curam sehingga membutuhkan konstruksi embung yang mampu meminimalkan potensi kebocoran. Salah satu faktor teknis yang mempengaruhi keamanan embung adalah nilai permeabilitas tanah yang digunakan sebagai lapisan dasar atau inti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai koefisien permeabilitas tanah asli dan tanah campuran (50% tanah asli dan 50% tanah laterit) serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan standar SNI 8460:2017 tentang persyaratan perancangan geoteknik. Penelitian dilakukan melalui pengujian laboratorium terhadap sifat fisik tanah dan uji permeabilitas menggunakan metode falling head. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tanah asli memiliki koefisien permeabilitas rata-rata sebesar m/detik, sedangkan tanah campuran memiliki nilai yang lebih rendah yaitu m/detik. Penurunan permeabilitas tersebut sejalan dengan berkurangnya angka pori dari 1,553 pada tanah asli menjadi 1,391 pada tanah campuran. Berdasarkan ketentuan SNI 8460:2017 yang mensyaratkan nilai permeabilitas kurang dari m/detik untuk material kedap air, tanah campuran dinilai memenuhi kriteria sebagai material inti embung. Oleh karena itu, penggunaan campuran tanah asli dan tanah laterit direkomendasikan untuk meningkatkan kedap air dan mengurangi risiko kebocoran pada konstruksi embung.
PENGARUH MOTIVASI INTRINSIK, MOTIVASI EKSTRINSIK, SOCIAL SUPPORT, DAN SELF-EFFICACY TERHADAP KINERJA PETUGAS PENJARINGAN KASUS TUBERKULOSIS BERDASARKAN SELF-DETERMINATION THEORY Alam, Esti Frastika; Hafizurrachman, Hafizurrachman
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9817

Abstract

Tuberculosis (TB) remains a major public health concern, with Indonesia contributing substantially to the global burden. In Tanggamus Regency, the case detection rate (CDR) for the 2021–2024 period has not yet reached the national target of 65%. Suboptimal case-finding performance is presumed to be associated with psychological and social factors, including intrinsic motivation, extrinsic motivation, social support, and self-efficacy. This study aimed to examine the influence of these factors on TB case-finding performance using the Self-Determination Theory framework. A quantitative analytic study with a cross-sectional design was conducted among healthcare workers involved in TB programs. Data were collected using a structured questionnaire that met validity and reliability criteria. Data analysis employed Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to assess relationships among variables through path coefficients, R², and Q² values. The results indicated that most respondents demonstrated good levels of intrinsic motivation, extrinsic motivation, self-efficacy, social support, and performance. Structural analysis revealed that intrinsic motivation was the most dominant factor influencing performance. Social support and self-efficacy contributed indirectly by strengthening intrinsic motivation, while extrinsic motivation showed a relatively minor effect. The model demonstrated strong explanatory power. Overall, internal factors were more influential than external factors in improving TB case-finding performance. Strengthening intrinsic motivation and self-efficacy through empowering strategies, supported by appropriate social support and proportional incentives, is recommended to enhance case detection outcomes. ABSTRAKTuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dengan Indonesia termasuk negara berkontribusi besar terhadap beban kasus global. Di Kabupaten Tanggamus, capaian case detection rate (CDR) periode 2021–2024 belum mencapai target nasional sebesar 65%. Rendahnya kinerja penjaringan kasus diduga berkaitan dengan faktor psikologis dan sosial, meliputi motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, dukungan sosial, dan self-efficacy. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kinerja penjaringan kasus TB dengan menggunakan kerangka Self-Determination Theory. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional pada petugas kesehatan yang terlibat dalam program TB. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan metode Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antarvariabel melalui nilai path coefficient, R², dan Q². Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, self-efficacy, dukungan sosial, dan kinerja dalam kategori baik. Analisis struktural mengidentifikasi motivasi intrinsik sebagai faktor paling dominan dalam memengaruhi kinerja penjaringan kasus TB. Dukungan sosial dan self-efficacy berkontribusi secara tidak langsung melalui peningkatan motivasi intrinsik, sedangkan motivasi ekstrinsik memiliki pengaruh yang relatif kecil. Model yang dihasilkan memiliki daya jelaskan yang tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa faktor internal memiliki peran yang lebih kuat dibandingkan faktor eksternal dalam meningkatkan kinerja penjaringan kasus TB. Oleh karena itu, upaya peningkatan kinerja perlu diarahkan pada penguatan motivasi intrinsik dan self-efficacy melalui pendekatan yang bersifat memberdayakan, disertai dukungan sosial dan pemberian insentif yang proporsional.
PERTANIAN KONSERVASI UNTUK MENGURANGI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Situmorang, Marningot Tua Natalis; Istiadi, Yossa
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.9838

Abstract

ABSTRACT Conservation agriculture is an approach developed to enhance the resilience of agricultural systems to climate change while simultaneously improving productivity and the welfare of rural communities. This study aims to analyze the factors influencing the adoption of conservation agriculture practices and to assess their impact on farmers’ productivity in areas surrounding Mount Halimun-Salak National Park. The research data were obtained through a household survey of farmers and analyzed using an econometric approach with the Multinomial Endogenous Switching Regression (MESR) model to identify the determinants of adoption and to compare the productivity of farmers who adopt and those who do not adopt these practices. The results indicate that several socio-economic characteristics significantly influence farmers’ adoption decisions, including age, gender, farming experience, land size, level of formal education, access to extension services, and membership in farmer organizations or associations. Furthermore, the implementation of combined conservation agriculture practices has been shown to have a positive effect on increasing farmers’ productivity and income compared to conventional farming systems. These findings suggest that the development of conservation agriculture practices can serve as an effective adaptation strategy to address climate change while improving the performance of the agricultural sector at the local level. Therefore, policy support and active involvement from stakeholders are needed to expand farmers’ access to information, extension services, and institutional support in order to encourage the broader and sustainable adoption of conservation agriculture practices. ABSTRAK Pertanian konservasi merupakan salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan sistem pertanian terhadap perubahan iklim sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi praktik pertanian konservasi serta menilai dampaknya terhadap produktivitas petani di kawasan sekitar Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Data penelitian diperoleh melalui survei rumah tangga petani, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan ekonometrika dengan model Multinomial Endogenous Switching Regression (MESR) untuk mengidentifikasi determinan adopsi serta membandingkan produktivitas antara petani yang mengadopsi dan yang tidak mengadopsi praktik tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa karakteristik sosial ekonomi petani berpengaruh signifikan terhadap keputusan adopsi, antara lain usia, jenis kelamin, pengalaman bertani, luas lahan, tingkat pendidikan formal, akses terhadap layanan penyuluhan, serta keanggotaan dalam organisasi atau asosiasi petani. Selain itu, penerapan kombinasi praktik pertanian konservasi terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan petani dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional. Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan praktik pertanian konservasi dapat menjadi strategi adaptasi yang efektif dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kinerja sektor pertanian di tingkat lokal. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan dan peran aktif pemangku kepentingan dalam memperluas akses petani terhadap informasi, penyuluhan, serta kelembagaan yang dapat mendorong peningkatan adopsi praktik pertanian konservasi secara berkelanjutan.