cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 758 Documents
DAMPAK FLUKTUASI HARGA MINYAK NILAM TERHADAP PENDAPATAN PETANI Irmawati Irmawati; Irmayanti Irmayanti; Sakinah Saharuna
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.9076

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the impact of patchouli oil price fluctuations on farmers' income in Kampuang Neighborhood, Mambi District, Mamasa Regency. The research employs a descriptive quantitative approach with primary data obtained through interviews and questionnaires with 35 patchouli farmers selected via simple random sampling. The analytical methods used include income analysis and simple linear regression analysis. The results show that the average price of patchouli oil received by farmers is IDR 721,143 per kilogram, with an average production of 10 kg per period, resulting in an average gross revenue of IDR 7,565,286 per period. Meanwhile, the average production cost is IDR 2,912,571 per period, leading to an average net income of IDR 4,652,714 per period. Regression analysis results indicate that the price of patchouli oil has a positive and significant effect on farmers' income, with a regression coefficient of 4.655 and a significance level of 0.000. These findings indicate that fluctuations in patchouli oil prices have a major impact on farmers' income, given the limited scale of operations and the low capacity of farmers to increase production volume. Therefore, price stabilization and strengthening the bargaining position of farmers are crucial factors in enhancing the sustainability of patchouli farming. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak fluktuasi harga minyak nilam terhadap pendapatan petani di Lingkungan Kampuang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner terhadap 35 orang petani nilam yang dipilih secara acak sederhana. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis pendapatan dan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata harga minyak nilam yang diterima petani sebesar Rp 721.143 per kilogram dengan rata-rata produksi 10 kg per periode, sehingga rata-rata penerimaan petani mencapai Rp 7.565.286 per periode. Sementara itu, rata-rata biaya produksi sebesar Rp 2.912.571 per periode, kemudian pendapatan rata-rata petani sebesar Rp 4.652.714 per periode. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa harga minyak nilam berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani dengan koefisien regresi sebesar 4,655 dan tingkat signifikansi 0,000. Temuan ini mengindikasikan bahwa fluktuasi harga minyak nilam memiliki dampak yang besar terhadap pendapatan petani, mengingat keterbatasan skala usaha dan rendahnya kemampuan petani dalam meningkatkan volume produksi. Oleh karena itu, stabilisasi harga dan penguatan posisi tawar petani menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberlanjutan usaha tani nilam.
PERAN WORK LIFE INTEGRATION TERHADAP WORK ENGAGEMENT PADA KARYAWAN GEN Z Aurelia Hindra; Zamralita Zamralita; Jessica Jessica
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.9195

Abstract

The entry of Generation Z into the workforce requires companies to prioritize work engagement as a strategic priority to maintain employee stability and productivity. This study aims to critically examine the common assumption that Work-Life Integration is a key predictor of work engagement in this generational group. Using a quantitative approach, the study involved 220 Gen Z employees from various industrial sectors in Indonesia, with data analyzed using simple linear regression techniques. The statistical analysis results showed that the hypothesis was rejected, where Work-Life Integration had no significant effect on Work Engagement (p = 0.061), with a very small contribution of only 1.6%. Additional analysis based on demographic aspects also showed no significant differences. The main conclusion of this study indicates that for Gen Z employees, integration between work and personal life has shifted to a basic standard of facilities expected to prevent job dissatisfaction, but its existence is not necessarily a primary driver in increasing their work engagement. ABSTRAK Masuknya Generasi Z ke dalam angkatan kerja menuntut perusahaan untuk menempatkan keterikatan kerja (Work Engagement) sebagai prioritas strategis guna menjaga stabilitas dan produktivitas karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara kritis anggapan umum bahwa Integrasi Kehidupan Kerja (Work Life Integration) merupakan prediktor utama bagi keterikatan kerja pada kelompok generasi ini. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian melibatkan 220 karyawan Gen Z dari berbagai sektor industri di Indonesia, dengan data yang dianalisis melalui teknik regresi linear sederhana. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa hipotesis ditolak, di mana Work Life Integration tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Work Engagement (p = 0.061), dengan kontribusi yang sangat kecil, yakni hanya 1,6%. Analisis tambahan berdasarkan aspek demografi juga tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan. Simpulan utama studi ini mengindikasikan bahwa bagi karyawan Gen Z, integrasi antara pekerjaan dan kehidupan pribadi telah bergeser menjadi standar fasilitas dasar yang diharapkan untuk mencegah ketidakpuasan kerja, namun keberadaannya tidak serta-merta menjadi pendorong utama dalam meningkatkan keterikatan kerja mereka.
HUBUNGAN WORK-LIFE INTEGRATION DENGAN BURNOUT PADA KARYAWAN GEN-Z Arfeina Benazir Arvaisya; Zamralita Zamralita; Jessica Jessica
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.9196

Abstract

The growing pressure faced by Generation Z employees shows that flexible work arrangements and digital technology do not always ensure psychological wellbeing. This generation works in an environment where the boundaries between professional and personal roles often overlap, potentially increasing stress and emotional fatigue. This study aims to examine the relationship between Work-Life Integration (WLI) and burnout among Gen-Z employees in Indonesia. This research used a quantitative approach with a correlational design. A total of 235 Gen-Z employees participated in this study, selected using purposive sampling. Data were collected online using two instruments: the Work-Life Boundary Enrichment Scale (WLBES) to measure WLI and the Burnout Assessment Tool (BAT) to measure burnout. Data were analyzed using Pearson’s correlation through SPSS. The results indicate that, overall, there is no significant relationship between WLI and burnout among Gen-Z employees. However, a weak but significant positive correlation was found in the exhaustion dimension (r = 0.147; p = 0.024), suggesting that higher levels of work–life integration may be associated with increased emotional fatigue in some individuals. This finding implies that WLI is not always a protective factor against burnout. For certain employees, blurred boundaries between work and personal life may contribute to added strain if not managed effectively. ABSTRAK Fenomena meningkatnya tekanan kerja pada karyawan Gen-Z menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja dan perkembangan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan psikologis. Generasi ini hidup dalam pola kerja digital yang cenderung membuat batas antara peran profesional dan kehidupan pribadi menjadi kabur sehingga berpotensi memicu stres dan kelelahan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara Work-Life Integration (WLI) dan burnout pada karyawan Gen-Z di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 235 karyawan Gen-Z yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan dua alat ukur, yaitu Work-Life Boundary Enrichment Scale (WLBES) untuk mengukur WLI dan Burnout Assessment Tool (BAT) untuk mengukur burnout. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson melalui SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara WLI dan burnout pada karyawan Gen-Z. Namun, ditemukan hubungan positif lemah dan signifikan pada dimensi exhaustion (r = 0.147; p = 0.024), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi integrasi antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, sebagian responden justru mengalami peningkatan rasa lelah secara emosional. Temuan ini mengindikasikan bahwa WLI tidak selalu menjadi faktor protektif terhadap burnout, dan bagi sebagian individu, integrasi peran yang tidak terkelola dengan baik dapat memicu kelelahan tambahan.
PENGARUH KOMPENSASI DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI KASUS PADA KPRI PRIMA KARYA HUSADA) Elisabeth Bhebhe Lalu
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.9197

Abstract

Employee performance is a crucial factor for the sustainability of KPRI Prima Karya Husada amidst increasingly fierce business competition, where work motivation, adequate compensation, and a strong organizational culture are believed to be the main drivers of human resource productivity. This study aims to analyze the influence of compensation and organizational culture on employee performance, by placing motivation as an intervening variable. Using a quantitative approach, data were collected from 40 KPRI Prima Karya Husada employees through questionnaires and analyzed using path analysis. The results showed that compensation and organizational culture have a positive and significant effect on work motivation. In addition, these two independent variables, along with motivation, were proven to have a positive and significant direct impact on employee performance. Another important finding is the effective role of motivation in mediating the influence of compensation and organizational culture on performance improvement. The main conclusion of this study confirms that organizational culture is the most dominant variable in influencing performance, so that strengthening organizational values ​​is a vital strategy for cooperatives to achieve sustainable competitive advantage. ABSTRAK Kinerja karyawan merupakan faktor krusial bagi keberlangsungan KPRI Prima Karya Husada di tengah dinamika persaingan usaha yang semakin ketat, di mana motivasi kerja, kompensasi yang layak, serta budaya organisasi yang kuat diyakini menjadi pendorong utama produktivitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompensasi dan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan, dengan menempatkan motivasi sebagai variabel intervening. Menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 40 karyawan KPRI Prima Karya Husada melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan path analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompensasi dan budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja. Selain itu, kedua variabel independen tersebut, bersama dengan motivasi, terbukti memiliki dampak positif dan signifikan secara langsung terhadap kinerja karyawan. Temuan penting lainnya adalah peran motivasi yang efektif dalam memediasi pengaruh kompensasi dan budaya organisasi terhadap peningkatan kinerja. Simpulan utama studi ini menegaskan bahwa budaya organisasi merupakan variabel yang paling dominan dalam memengaruhi kinerja, sehingga penguatan nilai-nilai organisasi menjadi strategi vital bagi koperasi untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
RETORIKA KEPRESIDENAN DAN KECEMASAN GEOPOLITIK (ANALISIS KOMUNIKASI FILOSOFIS ATAS DISKURSUS PRESIDEN AMERIKA SERIKAT TERHADAP IRAN SERTA RESONANSINYA DI CINA, KOREA UTARA, DAN TIMUR TENGAH) Herman Herman
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.11129

Abstract

ABSTRACT Escalating political rhetoric in relations between the United States and Iran illustrates that presidential communication functions not merely as a vehicle for conveying foreign policy, but also as a mechanism for shaping international perceptions of threats, legitimacy, and the geopolitical order. Against this backdrop, this study explores how the rhetoric of the President of the United States produces political meaning and generates discursive resonance across China, North Korea, and the Middle East from the perspective of the philosophy of communication. The research adopts a qualitative approach within a critical interpretive paradigm and employs Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis enriched by Michel Foucault’s power/knowledge perspective. Data were collected from official presidential speeches, policy documents, diplomatic statements, and international media coverage, and were analyzed through the stages of textual analysis, discursive practice, and social practice, supported by source triangulation and cross-checking across documents. The analysis identifies five major themes: the construction of threat narratives toward Iran, the representation of military power as a source of political legitimacy, the formation of geopolitical identities through processes of subjectivation, the normalization of uncertainty as a political communication strategy, and the emergence of discursive resonance interpreted differently by international actors according to their respective strategic interests. These findings demonstrate that presidential rhetoric does not merely represent international political dynamics; rather, it actively constructs threat perceptions, produces geopolitical knowledge, and influences the orientation of global political communication through the discursive operation of power/knowledge. ABSTRAK Meningkatnya intensitas retorika politik dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan bahwa komunikasi kepresidenan tidak hanya berfungsi menyampaikan arah kebijakan luar negeri, tetapi juga berperan dalam membentuk persepsi internasional mengenai ancaman, legitimasi, dan tatanan geopolitik. Atas dasar itu, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana retorika Presiden Amerika Serikat memproduksi makna politik serta menghasilkan resonansi wacana di Cina, Korea Utara, dan kawasan Timur Tengah melalui perspektif filsafat komunikasi. Penelitian menerapkan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretive kritis serta menggunakan Critical Discourse Analysis Norman Fairclough yang diperkaya perspektif power/knowledge Michel Foucault. Data dihimpun dari pidato resmi Presiden Amerika Serikat, dokumen kebijakan, pernyataan diplomatik, dan pemberitaan media internasional, kemudian dianalisis melalui tahapan analisis teks, praktik diskursif, praktik sosial, serta diperkuat dengan triangulasi sumber dan cross-checking antardokumen. Analisis menghasilkan lima tema utama, yaitu narasi ancaman terhadap Iran, representasi kekuatan militer sebagai sumber legitimasi politik, pembentukan identitas geopolitik melalui praktik subjektivasi, normalisasi ketidakpastian sebagai strategi komunikasi politik, serta resonansi wacana yang dimaknai secara beragam oleh aktor internasional sesuai kepentingan strategis masing-masing. Temuan tersebut menegaskan bahwa retorika kepresidenan tidak sekadar merepresentasikan dinamika politik internasional, melainkan turut membentuk konstruksi ancaman, memproduksi pengetahuan geopolitik, dan memengaruhi orientasi komunikasi politik global melalui mekanisme power/knowledge yang bekerja secara diskursif.
PERAN SERTIFIKAT TANAH DALAM MENINGKATKAN AKSES PEMBIAYAAN SYARIAH BAGI UMKM Nabila Zahrotul Ula; Muhammad Rafi Aliffari; Sifa Aulia; Sofiah Sofiah
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.11728

Abstract

ABSTRACT Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) constitute a key pillar of Indonesia's economy. However, they continue to face challenges in accessing formal financing, particularly from Islamic financial institutions. One of the main obstacles to optimizing such financing is the underutilization of land certificates as legally recognized collateral. This conceptual article aims to analyze the role of land certificates in expanding MSMEs' access to Islamic financing and to examine their contribution to strengthening Islamic entrepreneurship. The study employed a library research approach through the stages of identification, selection, critical analysis, and synthesis of literature related to Islamic economics, land law, Islamic financing, and Islamic entrepreneurship. The findings indicate that land certificates serve as valid collateral (rahn) under both Islamic principles and positive law, thereby enhancing the confidence of Islamic financial institutions, expanding MSMEs' access to financing, and promoting more trustworthy, transparent, and accountable business governance. Furthermore, this study highlights that the integration of asset legality, Islamic financing, and Islamic entrepreneurship provides a conceptual foundation for strengthening Islamic financial inclusion and empowering MSMEs. The novelty of this article lies in the conceptual integration of land certificates, Islamic financing, and Islamic entrepreneurship as a framework for MSME empowerment that supports the optimization of the Complete Systematic Land Registration (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Program in strengthening Islamic financial inclusion and promoting sustainable economic development in Indonesia. ABSTRAK Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan pilar utama perekonomian Indonesia, namun masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh akses pembiayaan formal, khususnya melalui lembaga keuangan syariah. Salah satu faktor yang menghambat optimalisasi pembiayaan tersebut adalah belum dimanfaatkannya sertifikat tanah secara maksimal sebagai agunan yang memiliki kepastian hukum. Artikel konseptual ini bertujuan menganalisis peran sertifikat tanah dalam memperluas akses pembiayaan syariah bagi UMKM serta mengkaji kontribusinya terhadap penguatan Islamic entrepreneurship. Penelitian menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan tahapan identifikasi, seleksi, analisis kritis, dan sintesis berbagai literatur yang berkaitan dengan ekonomi syariah, hukum pertanahan, pembiayaan syariah, dan kewirausahaan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa sertifikat tanah berfungsi sebagai objek jaminan (rahn) yang sah menurut prinsip syariah dan hukum positif sehingga mampu meningkatkan tingkat kepercayaan lembaga keuangan syariah, memperluas peluang UMKM memperoleh pembiayaan, serta mendorong terbentuknya tata kelola usaha yang lebih amanah, transparan, dan bertanggung jawab. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi legalitas aset, pembiayaan syariah, dan Islamic entrepreneurship menjadi landasan konseptual bagi penguatan inklusi keuangan syariah dan pemberdayaan UMKM. Kebaruan artikel ini terletak pada integrasi konseptual antara sertifikat tanah, pembiayaan syariah, dan Islamic entrepreneurship sebagai kerangka pemberdayaan UMKM yang mendukung optimalisasi Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dalam memperkuat inklusi keuangan syariah dan pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.
RENDERING SUNDANESE CULTURAL TERMS IN ENGLISH Halimah Halimah; Ida Nuraida; Dinni Nurfajrin Ningsih; Siti Handayani; Deden Nasihin
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.12149

Abstract

ABSTRACT The provision of bilingual tourism information continues to increase. However, the translation of local cultural terms in non-literary tourism texts still faces challenges related to meaning equivalence and limited empirical research, particularly in the context of Sundanese culture. Sundanese cultural terms embody values, social practices, and local identities that do not always have direct equivalents in English. This situation requires translation strategies that can bridge linguistic and cultural differences without erasing the distinctive characteristics of the source culture. This study aims to identify the categories of Sundanese cultural terms in non-literary tourism texts and analyze the strategies used to translate them into English. The study employed a descriptive qualitative design using 20 bilingual tourism documents, including brochures, official tourism websites, and cultural information portals. Data were collected through document analysis by identifying Sundanese cultural terms and their English equivalents. The data were then classified according to Newmark’s cultural categories and analyzed using Molina and Albir’s taxonomy of translation strategies. The findings revealed that organizations, customs, and cultural activities constituted the most dominant category. Description, borrowing, and established equivalent were the most frequently used strategies. The predominance of these strategies reflects translators’ efforts to balance the preservation of Sundanese cultural identity with the need to explain local concepts to international readers. No single strategy was suitable for all cultural terms because each category carried different cultural meanings and levels of translatability. This study provides empirical evidence on the translation of Sundanese cultural terms in non-literary tourism texts and offers a practical reference for developing bilingual tourism content that is communicative, accessible, and sensitive to local culture. ABSTRAK Penyediaan informasi pariwisata dwibahasa terus meningkat, namun penerjemahan istilah budaya lokal dalam teks pariwisata non-sastra masih menghadapi tantangan kesepadanan makna dan keterbatasan kajian empiris, khususnya untuk budaya Sunda. Istilah-istilah budaya Sunda memuat nilai, praktik sosial, dan identitas lokal yang tidak selalu memiliki padanan langsung dalam bahasa Inggris. Situasi ini menuntut strategi penerjemahan yang mampu menjembatani perbedaan bahasa dan budaya tanpa menghapuskan ciri khas sumber budaya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kategori istilah budaya Sunda dalam teks pariwisata non-sastra dan menganalisis strategi yang digunakan untuk menerjemahkannya ke bahasa Inggris. Desain penelitian bersifat kualitatif deskriptif dengan sumber data 20 dokumen pariwisata dwibahasa, meliputi brosur, situs web resmi pariwisata, dan portal informasi budaya. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen dengan mengidentifikasi istilah budaya Sunda dan padanan bahasa Inggrisnya. Selanjutnya data diklasifikasikan menurut kategori budaya Newmark dan dianalisis menggunakan taksonomi strategi penerjemahan Molina dan Albir. Hasil menunjukkan bahwa organisasi, adat istiadat, dan aktivitas budaya adalah kategori paling dominan. Strategi yang paling sering digunakan adalah description, borrowing, dan established equivalent. Dominasi strategi tersebut menggambarkan upaya penerjemah menyeimbangkan pemertahanan identitas budaya Sunda dan kebutuhan menjelaskan konsep lokal bagi pembaca internasional. Tidak ada satu strategi tunggal yang cocok untuk semua istilah, karena setiap kategori membawa muatan budaya dan tingkat keterjemahan yang berbeda. Penelitian ini memberikan bukti empiris tentang penerjemahan istilah budaya Sunda dalam teks pariwisata non-sastra dan dapat menjadi acuan praktis bagi penyusunan konten pariwisata dwibahasa yang komunikatif, mudah dipahami, dan sensitif terhadap budaya lokal.
PEMANFAATAN INTERNET OF THINGS (IOT) DALAM PENGEMBANGAN SMART EDUCATION PADA SEKOLAH MENENGAH DI INDONESIA Amiroh Kamilah Namora Lubis; Sendi Senjaya Putra; Trivena Imanuela Siampa Rumbino; Ari Apriyansa; Louren Vania Surbakti
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.12223

Abstract

This study aims to examine the utilization of the Internet of Things (IoT) in the development of smart education in secondary schools in Indonesia. The background of this study is based on the increasing need for digital transformation in education, which is not only focused on the use of technological devices but also on the development of an intelligent, adaptive, and data-driven learning ecosystem. The main problems addressed in this study are how IoT is utilized to support smart education, what challenges arise in its implementation, and what strategies can be applied to ensure effective and sustainable IoT implementation in Indonesian secondary schools. This study employed a Systematic Literature Review (SLR) method by analyzing various national and international scientific articles published between 2020 and 2026. The literature was reviewed based on topic relevance, research focus, forms of IoT implementation, benefits, challenges, and strategies for developing smart education. The findings indicate that IoT plays a role in supporting smart classrooms, automatic attendance systems, classroom environment monitoring, school security, facility management, project-based learning, and data-driven decision-making. However, IoT implementation in Indonesia is still largely focused on technical and operational aspects, such as device automation and school administration. The main challenges identified include limited internet infrastructure, teacher readiness, digital literacy, device costs, data security, and unequal facilities across regions. Therefore, the development of IoT-based smart education needs to be implemented gradually, adaptively, inclusively, and sustainably by considering the integration of technology, pedagogy, school management, and human resource readiness. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam pengembangan smart education pada sekolah menengah di Indonesia. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya kebutuhan transformasi digital pendidikan yang tidak hanya berfokus pada penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga pada pembentukan ekosistem pembelajaran yang cerdas, adaptif, dan berbasis data. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana IoT dimanfaatkan dalam mendukung smart education, apa saja tantangan implementasinya, serta strategi apa yang dapat dilakukan agar penerapan IoT di sekolah menengah Indonesia berjalan efektif dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang diterbitkan pada rentang tahun 2020–2026. Literatur dikaji berdasarkan relevansi topik, fokus penelitian, bentuk implementasi IoT, manfaat, tantangan, dan strategi pengembangan smart education. Hasil kajian menunjukkan bahwa IoT berperan dalam mendukung smart classroom, absensi otomatis, monitoring lingkungan kelas, keamanan sekolah, manajemen fasilitas, pembelajaran berbasis proyek, serta pengambilan keputusan berbasis data. Namun, penerapan IoT di Indonesia masih banyak berfokus pada aspek teknis dan operasional, seperti otomasi perangkat dan administrasi sekolah. Tantangan utama yang ditemukan meliputi keterbatasan infrastruktur internet, kesiapan guru, literasi digital, biaya perangkat, keamanan data, serta kesenjangan fasilitas antarwilayah. Oleh karena itu, pengembangan smart education berbasis IoT perlu dilakukan secara bertahap, adaptif, inklusif, dan berkelanjutan dengan memperhatikan integrasi antara teknologi, pedagogi, manajemen sekolah, dan kesiapan sumber daya manusia.
ANALISIS IMPLEMENTASI QANUN ACEH NOMOR 9 TAHUN 2018 PADA PENDIDIKAN DAYAH DI KABUPATEN BIREUEN Iskandar Iskandar; Najmuddin Najmuddin; Evi Juliyanti; Fithriani Fithriani; Fatimah Zohra; Elvirawati Elvirawati; Fitriati Fitriati
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.12392

Abstract

ABSTRACT Dayah education is an important component of the education system in Aceh, characterized by Islamic values and local wisdom. This study aims to analyze the implementation of Qanun Aceh Number 9 of 2018 concerning the Administration of Integrated Dayah Education in Bireuen Regency, focusing on policy implementation, supporting factors, and challenges encountered at the institutional level. The novelty of this study lies in its empirical examination of the gap between the regulatory framework governing dayah education and its implementation capacity following the enactment of the qanun. This study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through in-depth interviews with purposively selected informants representing the Bireuen Regency Dayah Education Office and dayah administrators, supported by document analysis. The data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the implementation of the qanun has been supported by a clear regulatory framework, strong commitment from dayah administrators, and well-defined roles between the local government and dayah institutions. However, its implementation has not yet been optimal due to limited policy dissemination, uneven understanding of the technical provisions, inadequate human resource capacity, disparities in educational facilities and infrastructure among dayahs, and insufficient financial support to meet operational needs. The study concludes that the successful implementation of Qanun Aceh Number 9 of 2018 depends not only on the existence of the regulatory framework but also on strengthening policy communication, institutional capacity, and continuous guidance. These findings provide practical insights for local governments in formulating more effective and sustainable strategies for the supervision, development, and improvement of dayah education. ABSTRAK Pendidikan dayah merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan Aceh yang memiliki karakteristik keislaman dan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dayah Terpadu di Kabupaten Bireuen dengan menitikberatkan pada aspek pelaksanaan kebijakan, faktor pendukung, serta hambatan implementasi di tingkat satuan pendidikan. Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian empiris mengenai kesenjangan antara regulasi penyelenggaraan pendidikan dayah dengan kapasitas implementasi di lapangan setelah diberlakukannya qanun tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposive dari unsur Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bireuen dan pengelola dayah, serta diperkuat dengan analisis dokumen terkait. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi qanun telah didukung oleh adanya regulasi yang jelas, komitmen pengelola dayah, serta pembagian peran antara pemerintah daerah dan pengelola dayah yang berjalan dengan baik. Namun, implementasi belum optimal karena masih menghadapi kendala berupa terbatasnya intensitas sosialisasi, belum meratanya pemahaman teknis kebijakan, keterbatasan kompetensi tenaga pendidik, ketimpangan sarana dan prasarana antar-dayah, serta dukungan pendanaan yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan. Penelitian menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2018 tidak hanya bergantung pada keberadaan regulasi, tetapi juga pada penguatan komunikasi kebijakan, kapasitas sumber daya, dan pembinaan yang berkelanjutan. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan strategi pembinaan, pengawasan, dan pengembangan pendidikan dayah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
PENGARUH LITERASI DIGITAL TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI DALAM BERWIRAUSAHA PADA UMKM DI KOTA SAMARINDA Indra Yl. Setiawan; Dian Dwi Nur Rahmah; Nadya Novia Rahman; Ridha Wahyuni
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.12485

Abstract

The rapid development of the digital ecosystem encourages micro, small, and medium enterprises (MSMEs) to continue to adapt and improve their digital capabilities in order to compete optimally. In this context, the digital literacy skills of MSME actors not only affect technical competence, but also have an impact on psychological aspects, especially confidence in running a business. This study aims to determine the influence of digital literacy on confidence in entrepreneurship in MSMEs in Samarinda City. This study uses a quantitative approach with a sample of 100 MSME actors in Samarinda City selected using purposive sampling techniques. Data were collected using the digital literacy scale and the confidence in entrepreneurship scale, then analyzed using simple linear regression analysis and multivariate regression with the help of the SPSS program. The results showed a significant influence between digital literacy on confidence in entrepreneurship with values of F = 91,260, R² = 0.482 (48.2%), and p = 0.000. This shows that MSME actors in Samarinda City who have high digital literacy skills are able to build stronger self-confidence in running and developing their businesses in the digital era. These findings imply that MSME development programs need to combine digital capacity building with psychological strengthening, especially self-confidence, so that the adoption of digital technology can run more optimally and sustainably. ABSTRAK Perkembangan ekosistem digital yang semakin pesat mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kemampuan digitalnya agar dapat bersaing secara optimal. Dalam konteks ini, kemampuan literasi digital pelaku UMKM tidak hanya memengaruhi kompetensi teknis, tetapi juga berdampak pada aspek psikologis, khususnya kepercayaan diri dalam menjalankan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh literasi digital terhadap kepercayaan diri dalam berwirausaha pada UMKM di Kota Samarinda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 100 pelaku UMKM di Kota Samarinda yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala literasi digital dan skala kepercayaan diri dalam berwirausaha, kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linear sederhana dan regresi multivariat dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara literasi digital terhadap kepercayaan diri dalam berwirausaha dengan nilai ,  (48,2%), dan . Hal tersebut menunjukkan bahwa pelaku UMKM di Kota Samarinda yang memiliki kemampuan literasi digital yang tinggi mampu membangun keyakinan diri yang lebih kuat dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya di era digital. Temuan ini mengimplikasikan bahwa program pengembangan UMKM perlu memadukan peningkatan kapasitas digital dengan penguatan psikologis, khususnya kepercayaan diri, agar adopsi teknologi digital dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.