cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 722 Documents
REGULATORY HARMONIZATION OF NOTARIAL LAW IN THE ERA OF SMART CONTRACTS: TOWARDS THE LEGALIZATION OF CYBER NOTARY IN INDONESIA Iqbal Habibie; Nuzulia Kumala Sari; Moh. Ali
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.12798

Abstract

ABSTRACT The development of blockchain technology and smart contracts has transformed the mechanisms governing the formation and execution of legal relationships in digital transactions. This transformation poses significant challenges to Indonesia's notarial system, as the existing regulatory framework continues to rely on conventional authentication through physical presence, paper-based documentation, and direct verification, while the legal framework governing cyber notary remains insufficient. This study aims to analyze the urgency of legalizing cyber notary through the harmonization of notarial regulations in response to the advancement of smart contracts. The research employs a normative legal method using statutory, conceptual, and comparative approaches, with a prescriptive analysis of notarial law and electronic transaction regulations. The findings reveal regulatory disharmony concerning the recognition of electronic deeds, digital identity verification, virtual appearances of parties, and the authority of notaries in blockchain-based transactions, resulting in legal uncertainty and limiting the optimal role of notaries within the digital legal ecosystem. Based on these findings, the study recommends regulatory harmonization through the formal legal recognition of cyber notary, the strengthening of electronic authentication mechanisms, the regulation of virtual appearances of parties, the recognition of electronic deeds as authentic legal instruments, and the authorization of notaries to verify smart contracts in blockchain-based transactions. These recommendations provide a fundamental basis for strengthening legal certainty, legal protection, and the institutional capacity of the notarial profession in responding to the ongoing transformation of the digital legal landscape. ABSTRAK Perkembangan teknologi blockchain dan smart contract telah mengubah mekanisme pembentukan dan pelaksanaan hubungan hukum dalam transaksi digital. Perubahan tersebut menghadirkan tantangan bagi sistem kenotariatan di Indonesia karena regulasi yang berlaku masih bertumpu pada autentikasi konvensional melalui kehadiran fisik, dokumen tertulis, dan verifikasi langsung, sementara pengaturan mengenai cyber notary belum memiliki landasan hukum yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi legalisasi cyber notary melalui harmonisasi regulasi kenotariatan sebagai respons terhadap perkembangan smart contract. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif yang dianalisis secara preskriptif terhadap ketentuan hukum kenotariatan serta hukum transaksi elektronik. Hasil penelitian menunjukkan adanya disharmoni regulasi terkait pengakuan akta elektronik, verifikasi identitas digital, kehadiran virtual para pihak, dan kewenangan notaris dalam transaksi berbasis blockchain, yang berdampak pada munculnya ketidakpastian hukum serta belum optimalnya peran notaris dalam ekosistem digital. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan harmonisasi regulasi melalui pengakuan yuridis cyber notary, penguatan mekanisme autentikasi elektronik, pengaturan kehadiran virtual para pihak, pengakuan akta elektronik sebagai alat bukti autentik, serta pemberian kewenangan kepada notaris untuk melakukan verifikasi smart contract dalam transaksi berbasis blockchain. Rekomendasi tersebut menjadi fondasi bagi penguatan kepastian hukum, perlindungan hukum, dan peningkatan kapasitas kelembagaan kenotariatan dalam menghadapi transformasi hukum di era digital.
NILAI ETNOPEDAGOGI DALAM UPACARA NGABEN MESABU GETIAN DI DESA PAKRAMAN BULIAN KECAMATAN KUBUTAMBAHAN KABUPATEN BULELENG Ketut Bali Sastrawan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13454

Abstract

The Ngaben Mesabu Getian ceremony in Pakraman Bulian Village, Kubutambahan District, Buleleng Regency is a distinctive Balinese funerary tradition that embodies educational values rooted in local wisdom. This study aimed to describe the ethnopedagogical values embedded in the implementation of the Ngaben Mesabu Getian ceremony. A qualitative approach with an ethnographic design was employed. Informants were selected using the snowball sampling technique, involving customary leaders, Jro Mangku, customary village officials, and community members. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that ethnopedagogical values are transmitted naturally through community participation in every stage of the ceremony. These values include Parahyangan, reflected in strengthening sraddha and bhakti toward Ida Sang Hyang Widhi Wasa; Pawongan, reflected in mutual cooperation (nulungin and ngopin), social solidarity, and intergenerational transmission of customary knowledge; and Palemahan, reflected in respect for nature and maintaining harmony between humans and the environment. The study concludes that the Ngaben Mesabu Getian ceremony serves as an effective ethnopedagogical medium for transmitting cultural, spiritual, social, and ecological values based on the philosophy of Tri Hita Karana. ABSTRAK Upacara Ngaben Mesabu Getian di Desa Pakraman Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng merupakan tradisi kematian khas masyarakat Bali yang mengandung nilai-nilai pendidikan berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai etnopedagogi yang terkandung dalam pelaksanaan Upacara Ngaben Mesabu Getian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi. Informan ditentukan melalui teknik snowball sampling yang melibatkan tokoh adat, Jro Mangku, perangkat desa adat, dan masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai etnopedagogi diwariskan secara alami melalui keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan upacara. Nilai tersebut meliputi dimensi Parahyangan berupa penguatan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dimensi Pawongan berupa penanaman nilai gotong royong (nulungin dan ngopin), solidaritas, serta regenerasi pengetahuan adat, dan dimensi Palemahan berupa penghormatan terhadap alam serta upaya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan lingkungan. Temuan ini menegaskan bahwa Upacara Ngaben Mesabu Getian merupakan media etnopedagogi yang efektif dalam mewariskan nilai budaya, spiritual, sosial, dan ekologis kepada generasi muda berbasis filosofi Tri Hita Karana.   
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA FONOLOGI DALAM WACANA LISAN INFORMAL MASYARAKAT MEDAN DENAI PADA KOMUNIKASI SEHARI HARI Martua Reynhat Sitanggang Gusar; Try Sipayung; Lentauly Aritonang; Helena Hutabarat; Henry Wintoro Lubis
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13584

Abstract

Penelitian ini menganalisis kesalahan fonologi dalam percakapan sehari-hari masyarakat Medan Denai. Tujuannya adalah untuk mengetahui jenis, frekuensi, dan faktor penyebab kesalahan fonologi yang terjadi dalam wacana lisan informal. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data dari 30 narasumber di Kecamatan Medan Denai yang berasal dari berbagai latar belakang bahasa daerah seperti Melayu, Batak, Minang, dan Jawa. Data diperoleh melalui observasi, penyimakan, dan rekaman percakapan informal dalam berbagai situasi seperti di lingkungan keluarga, pergaulan, warung, dan pasar. Hasil penelitian menemukan 18 data kesalahan fonologi yang terdiri dari empat jenis utama: penggantian fonem seperti "lain" menjadi "laen" dan "pergi" menjadi "pigi", penghilangan fonem seperti "saja" menjadi "aja" dan "sudah" menjadi "udah", kontraksi kata seperti "bagaimana" menjadi "kek mana" atau "gausah", serta penggunaan kosakata dialek seperti "bah", "kali", "awak", "tengok", dan "lasak". Faktor utama penyebab kesalahan fonologi adalah pengaruh dialek Melayu Deli sebagai lingua franca di Kota Medan, interferensi bahasa daerah penutur, dan kebiasaan menyederhanakan ucapan demi efisiensi dalam percakapan informal. Penelitian ini bermanfaat untuk memahami variasi dialek Medan dan interferensi bahasa daerah dalam penggunaan bahasa Indonesia, serta dapat menjadi referensi untuk pendidikan bahasa Indonesia yang lebih efektif dalam mengoreksi kesalahan fonologis yang disebabkan oleh pengaruh dialek daerah.
ANALISIS HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN, KEPUASAN PASIEN, DAN MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT: KAJIAN LITERATUR Lina Kurniati
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.13713

Abstract

ABSTRACT Service quality is one of the critical factors determining the success of hospitals in delivering high-quality healthcare services that meet patient needs and expectations. The continuous development of healthcare systems and increasing public demands require hospitals to improve their service quality to achieve patient satisfaction, enhance competitiveness, and maintain organizational sustainability. This study aims to analyze the relationship between service quality, patients, and hospitals based on findings from previously published studies. The research employed a literature review method by analyzing 30 scientific articles, systematic literature reviews, and empirical studies published between 2021 and 2026 and retrieved from various scientific databases. The data were analyzed using a qualitative descriptive approach through the stages of identification, selection, evaluation, and synthesis of relevant literature. The results indicate that service quality consistently influences patient satisfaction. The synthesized findings demonstrate that the SERVQUAL dimensions, including reliability, responsiveness, assurance, empathy, and tangibles, play significant roles in shaping patients’ perceptions of hospital service quality. Furthermore, effective service quality management contributes to increased patient loyalty, improved hospital image, and long-term sustainability of healthcare organizations. Therefore, implementing patient-centered services and conducting continuous quality improvement evaluations are essential strategies for enhancing the overall quality of hospital healthcare services. ABSTRAK Kualitas pelayanan merupakan salah satu aspek penting yang menentukan keberhasilan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Perkembangan sistem pelayanan kesehatan serta meningkatnya ekspektasi masyarakat menuntut rumah sakit untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan guna mencapai kepuasan pasien dan mempertahankan daya saing organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas pelayanan, pasien, dan rumah sakit berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur (literature review) dengan menelaah 30 artikel ilmiah, systematic literature review, dan penelitian empiris yang diterbitkan pada periode 2021–2026 melalui beberapa basis data ilmiah. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahapan identifikasi, seleksi, evaluasi, dan sintesis literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan memiliki hubungan yang konsisten dengan kepuasan pasien. Dimensi SERVQUAL yang meliputi keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan bukti fisik (tangibles) menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi pasien terhadap mutu pelayanan rumah sakit. Kualitas pelayanan juga berkontribusi terhadap loyalitas pasien, citra positif rumah sakit, dan keberlanjutan organisasi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, penerapan pelayanan berpusat pada pasien dan evaluasi mutu berkelanjutan menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.
KONSELING KELOMPOK TEKNIK COGNITIVE RESTRUCTURING TERHADAP PERILAKU PHUBBING PADA SISWA DI SMP NEGERI 1 PALU Moh. Syahdila Darma; Ridwan Syahran; Hasan Hasan; Dian Fitriani
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13775

Abstract

This study set out to examine how effective group counseling based on the Cognitive Restructuring technique is at lowering phubbing behavior among junior high school students at SMP Negeri 1 Palu. A quantitative, quasi-experimental design specifically a non-equivalent control group design was applied. Sixteen students took part, split evenly into an experimental group and a control group of eight each. Phubbing behavior was measured through a questionnaire administered both prior to (pre-test) and following (post-test) the intervention, and the resulting data were tested using the Mann–Whitney U test in SPSS version 26. Analysis confirmed a statistically significant gap between the two groups, reflected in an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.001, below the 0.05 threshold. In descriptive terms, the experimental group's mean phubbing score fell from 53.63 to 43.50, while the control group's mean rose from 52.50 to 54.63. These outcomes suggest that group counseling through Cognitive Restructuring succeeded in curbing students' phubbing tendencies, even though the resulting classification still sits within the moderate range. Accordingly, this counseling approach may be adopted as a viable option for helping students reduce phubbing and strengthen the quality of their social interactions. The study's scope was constrained by a fairly small sample and a brief intervention window, pointing to a need for future work with larger samples and longer intervention periods. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas konseling kelompok berteknik Cognitive Restructuring dalam menekan perilaku phubbing pada siswa SMP Negeri 1 Palu. Pendekatan yang digunakan bersifat kuantitatif melalui metode quasi eksperimen dengan desain Non-equivalent Control Group Design. Sebanyak 16 siswa dilibatkan sebagai sampel, terbagi rata ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing 8 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui angket perilaku phubbing yang diisi pada dua tahap, yakni sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) pemberian perlakuan. Pengujian hipotesis menggunakan Mann-Whitney U Test yang diolah dengan SPSS versi 26. Temuan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, ditunjukkan oleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,001, lebih kecil dari 0,05. Ditinjau secara deskriptif, rata-rata skor kelompok eksperimen turun dari 53,63 menjadi 43,50, sementara kelompok kontrol justru mengalami kenaikan dari 52,50 menjadi 54,63. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa konseling kelompok dengan teknik Cognitive Restructuring berhasil menurunkan perilaku phubbing siswa, kendati klasifikasinya masih berada pada kategori sedang. Oleh sebab itu, layanan ini layak dipertimbangkan sebagai salah satu opsi intervensi bagi guru BK dalam mengatasi phubbing sekaligus memperbaiki kualitas interaksi sosial siswa. Keterbatasan penelitian terletak pada ukuran sampel yang tergolong kecil serta durasi intervensi yang relatif singkat, sehingga kajian berikutnya disarankan menggunakan sampel yang lebih besar dan rentang waktu intervensi yang lebih panjang.
ANALISA MEMPERKUAT BANGUNAN KANDANG AYAM DENGAN SISTEM PEMERIKSAAN, PERHITUNGAN STUKTUR DAN METODE PENANGANANNYA Trie Rezky Novianti
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13779

Abstract

ABSTRACT Chicken house buildings are essential facilities in poultry farming that require reliable structural, architectural, and mechanical, electrical, and plumbing (MEP) systems to ensure safety, support livestock productivity, and maintain operational sustainability. As buildings age and operational intensity increases, various components may experience performance degradation, requiring comprehensive technical evaluation. This study aims to evaluate the condition of a chicken house building through an integrated inspection approach and formulate appropriate treatment recommendations based on field assessment results. The methods included field surveys, dimensional and verticality measurements, concrete quality testing using the Hammer Test, structural element evaluation, MEP system inspection, and technical data analysis based on applicable standards. The results indicate that most building elements remain in adequate condition and are capable of supporting operational functions. However, several significant findings were identified, including excessive deflection in wooden elements, the need for structural strengthening in several components, adjustments to reinforcement details, and maintenance requirements for some MEP installations to improve building reliability. These findings serve as the bas  is for developing rehabilitation and period ic maintenance recommendations to maintain the safety, functionality, and service life of chicken house buildings. ABSTRAK Bangunan kandang ayam merupakan fasilitas utama dalam kegiatan peternakan yang memerlukan kondisi struktur, arsitektur, serta sistem mechanical, electrical, and plumbing (MEP) yang andal untuk menjamin keselamatan, mendukung produktivitas ternak, dan menjaga keberlanjutan operasional. Seiring bertambahnya usia bangunan dan intensitas penggunaannya, berbagai komponen berpotensi mengalami penurunan kinerja sehingga diperlukan evaluasi teknis secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi bangunan kandang ayam melalui inspeksi terpadu serta merumuskan rekomendasi penanganan berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, pengukuran dimensi dan verticality, pengujian mutu beton menggunakan Hammer Test, evaluasi elemen struktur, pemeriksaan sistem MEP, serta analisis berdasarkan standar teknis yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar elemen bangunan masih berada pada kondisi layak dan mampu mendukung fungsi operasionalnya. Namun, ditemukan beberapa temuan penting berupa lendutan pada elemen kayu yang melebihi batas izin, kebutuhan perkuatan pada beberapa komponen struktur, penyesuaian detail tulangan, serta perlunya pemeliharaan pada sebagian instalasi MEP untuk meningkatkan keandalan bangunan. Temuan tersebut menjadi dasar penyusunan rekomendasi rehabilitasi dan pemeliharaan berkala guna mempertahankan aspek keselamatan, fungsi, dan umur layan bangunan kandang ayam.
PENENTUAN WISATA SEJARAH TERBAIK DI YOGYAKARTA MENGGUNAKAN METODE TRAPEZOIDAL FUZZY AHP DAN FUZZY EDAS Dea Ananda; Dwi Nur Yunianti
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13811

Abstract

Yogyakarta is one of Indonesia's leading historical tourism destinations, offering numerous heritage attractions with diverse characteristics. The large number of available destinations often makes it difficult for tourists to select the most suitable attraction because multiple criteria, including entrance fee, service quality, physical condition, facility completeness, visitor comfort, and cleanliness, must be considered simultaneously. Furthermore, tourists' evaluations are generally subjective and involve uncertainty, requiring a decision-making approach capable of handling such conditions. This study aims to determine the best historical tourism destination in Yogyakarta by integrating the Trapezoidal Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Trapezoidal Fuzzy AHP) and Fuzzy Evaluation based on Distance from Average Solution (Fuzzy EDAS) methods. A quantitative approach was employed using primary data collected through questionnaires distributed to 100 respondents, resulting in 246 evaluations of five historical tourist attractions. Trapezoidal Fuzzy AHP was applied to determine the weights of six evaluation criteria, while Fuzzy EDAS was used to rank the alternatives. The results indicate that facility completeness, visitor comfort, and cleanliness are the most important criteria, each obtaining a weight of 0.24487, followed by physical condition (0.21399), entrance fee (0.02965), and service quality (0.02175). Based on the ranking results, Museum Sonobudoyo achieved the highest appraisal score of 1.0000, making it the recommended historical tourism destination in Yogyakarta. The integration of Trapezoidal Fuzzy AHP and Fuzzy EDAS proved to provide a systematic, objective, and reliable decision-making approach capable of accommodating uncertainty in respondents' assessments. ABSTRAK Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata sejarah utama di Indonesia yang memiliki beragam objek wisata dengan karakteristik berbeda. Banyaknya alternatif objek wisata menyebabkan wisatawan sering mengalami kesulitan dalam menentukan destinasi yang paling sesuai karena harus mempertimbangkan berbagai kriteria, seperti harga tiket masuk, pelayanan, kondisi fisik objek wisata, kelengkapan fasilitas, kenyamanan pengunjung, dan kebersihan. Selain itu, penilaian wisatawan umumnya bersifat subjektif dan mengandung ketidakpastian sehingga memerlukan pendekatan pengambilan keputusan yang mampu mengakomodasi kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan menentukan rekomendasi objek wisata sejarah terbaik di Kota Yogyakarta menggunakan kombinasi metode Trapezoidal Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Trapezoidal Fuzzy AHP) dan Fuzzy Evaluation based on Distance from Average Solution (Fuzzy EDAS). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 100 responden yang menghasilkan 246 data penilaian terhadap lima objek wisata sejarah. Metode Trapezoidal Fuzzy AHP digunakan untuk menentukan bobot enam kriteria penilaian, sedangkan Fuzzy EDAS digunakan untuk melakukan pemeringkatan alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria kelengkapan fasilitas, kenyamanan pengunjung, dan kebersihan objek wisata memiliki bobot tertinggi masing-masing sebesar 0,24487, diikuti kondisi fisik objek wisata (0,21399), harga tiket masuk (0,02965), dan pelayanan (0,02175). Berdasarkan hasil pemeringkatan, Museum Sonobudoyo memperoleh nilai appraisal score tertinggi sebesar 1,0000, sehingga direkomendasikan sebagai objek wisata sejarah terbaik di Kota Yogyakarta. Kombinasi metode Trapezoidal Fuzzy AHP dan Fuzzy EDAS terbukti mampu menghasilkan proses pengambilan keputusan yang sistematis, objektif, dan mampu mengakomodasi ketidakpastian penilaian responden.
PEMILIHAN APLIKASI LAYANAN KESEHATAN DIGITAL TERBAIK MENGGUNAKAN METODE FUZZY AHP DAN FUZZY WASPAS Jinani Firdausiah; Dwi Nur Yunianti
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13814

Abstract

The rapid advancement of information technology has driven the emergence of digital healthcare applications that make it easier for the public to access healthcare services remotely. The growing number of available applications creates difficulty for users in identifying the platform most suited to their needs, requiring a multi-criteria decision-making approach that can accommodate uncertainty in user judgments. This study aims to determine criteria weights and identify the best digital healthcare application by integrating the Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Fuzzy AHP) and Fuzzy Weighted Aggregated Sum Product Assessment (Fuzzy WASPAS) methods. Data were collected through a questionnaire distributed to respondents who had used at least two digital healthcare applications, then analyzed using Fuzzy AHP to determine criteria weights and Fuzzy WASPAS to rank the alternatives. The results show that consultation service cost emerged as the most decisive criterion shaping user preference, followed by ease and clarity of information and consultation access speed, while the remaining criteria contributed comparatively less to the overall assessment. Based on the Fuzzy WASPAS ranking, Halodoc consistently emerged as the application with the highest preference, followed in order by Good Doctor, Alodokter, YesDok, and KlikDokter. These findings confirm that integrating Fuzzy AHP and Fuzzy WASPAS offers an objective, representative decision-making framework for both users and developers of digital healthcare services in Indonesia. ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi telah mendorong munculnya berbagai aplikasi layanan kesehatan digital yang memudahkan masyarakat mengakses layanan kesehatan secara daring. Meningkatnya jumlah alternatif aplikasi menimbulkan kesulitan bagi pengguna dalam menentukan aplikasi yang paling sesuai dengan kebutuhan, sehingga diperlukan pendekatan pengambilan keputusan multikriteria yang mampu mengakomodasi ketidakpastian penilaian pengguna. Penelitian ini bertujuan menentukan bobot kriteria dan memilih aplikasi layanan kesehatan digital terbaik dengan mengintegrasikan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Fuzzy AHP) dan Fuzzy Weighted Aggregated Sum Product Assessment (Fuzzy WASPAS). Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada responden yang telah menggunakan minimal dua aplikasi layanan kesehatan digital, kemudian dianalisis menggunakan Fuzzy AHP untuk menentukan bobot kepentingan kriteria dan Fuzzy WASPAS untuk memeringkat alternatif aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek biaya layanan konsultasi menjadi kriteria yang paling menentukan preferensi pengguna, diikuti oleh kemudahan dan kejelasan informasi serta kecepatan akses konsultasi, sementara kriteria lain memberikan kontribusi yang relatif lebih kecil terhadap penilaian keseluruhan. Berdasarkan pemeringkatan Fuzzy WASPAS, Halodoc secara konsisten unggul sebagai aplikasi dengan tingkat preferensi tertinggi, diikuti oleh Good Doctor, Alodokter, YesDok, dan KlikDokter secara berurutan. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi Fuzzy AHP dan Fuzzy WASPAS mampu memberikan kerangka pengambilan keputusan yang objektif dan representatif, baik bagi pengguna maupun pengembang layanan kesehatan digital di Indonesia.
GOLF SEBAGAI SIMBOL GAYA HIDUP DAN AKTUALISASI DIRI KALANGAN ELIT DI KOTA PALEMBANG Diany Putri Pratiwi Saladin; Junior Zamrud Pahalmas; Abdurrahman Arif
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13919

Abstract

Golf is no longer perceived merely as a sporting activity, but has become a representation of lifestyle, social status, and group identity in urban society. However, studies that position golf as a symbolic communication practice and a means of self-actualization, particularly among elite groups in Palembang City, remain limited. This study offers novelty by analyzing the construction of golf’s meaning as a symbol of lifestyle and self-actualization through the perspective of symbolic interactionism developed by George Herbert Mead and Herbert Blumer. This study aims to analyze how golf is interpreted by elite groups as a medium for constructing social identity and self-actualization. The research employed a qualitative approach with a constructivist paradigm. Informants were selected purposively from active members of the golf community at Kenten Golf Driving Range, Palembang. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The findings reveal that golf functions as a symbol of social status, a medium for building social and professional networks, and a means of self-actualization through personal achievement, self-image enhancement, and identity representation. Branded attributes, club membership, and interactions on the golf course serve as symbols that reinforce the social position of players. This study concludes that golf has transformed into a symbolic communication practice representing elite lifestyle and the need for social recognition in Palembang City. ABSTRAK Golf tidak lagi dimaknai semata sebagai aktivitas olahraga, tetapi juga sebagai representasi gaya hidup, status sosial, dan identitas kelompok di masyarakat urban. Namun, kajian yang menempatkan golf sebagai praktik komunikasi simbolik dan sarana aktualisasi diri, khususnya pada kalangan elit di Kota Palembang, masih terbatas. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menganalisis konstruksi makna golf sebagai simbol gaya hidup dan aktualisasi diri melalui perspektif interaksionisme simbolik George Herbert Mead dan Herbert Blumer. Penelitian bertujuan menganalisis bagaimana golf dimaknai oleh kalangan elit sebagai media pembentukan identitas sosial dan aktualisasi diri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Informan dipilih secara purposive dari anggota komunitas golf yang aktif di Kenten Golf Driving Range Palembang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa golf berfungsi sebagai simbol status sosial, media untuk membangun jejaring sosial dan profesional, serta sarana aktualisasi diri melalui pencapaian personal, penguatan citra diri, dan representasi identitas. Penggunaan atribut bermerek, keanggotaan klub, dan interaksi di lapangan golf menjadi simbol yang menegaskan posisi sosial para pemain. Penelitian ini menyimpulkan bahwa golf telah bertransformasi menjadi praktik komunikasi simbolik yang merepresentasikan gaya hidup elit dan kebutuhan akan pengakuan sosial di Kota Palembang.
PEMILIHAN APLIKASI LAYANAN SUBSCRIPTION VIDEO ON DEMAND (SVOD) TERBAIK MENGGUNAKAN METODE AHP-FUZZY INTUISIONISTIK TOPSIS Bestina Flizta Syarifah; Dwi Nur Yunianti
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13935

Abstract

Subscription Video on Demand (SVOD) applications are internet-based services that provide various video contents through a subscription system. The large number of available SVOD applications requires users to weigh multiple competing criteria in selecting the most suitable application, calling for a multi-criteria decision-making approach capable of accommodating uncertainty and hesitation in user judgments. This study aims to determine the weight of each criterion and the ranking results of the alternatives using the AHP-Intuitionistic Fuzzy TOPSIS method. The SVOD alternatives evaluated are Netflix, Disney+, Vidio, Viu, and WeTV, assessed against payment method convenience, subscription cost, content variety, additional feature completeness, ease of application use, and video streaming quality. Data were collected through an online questionnaire distributed via JotForm to 100 respondents. The AHP results show the criteria priority order as video streaming quality (0.2193), additional feature completeness (0.1884), subscription cost (0.1692), ease of application use (0.1621), content variety (0.1565), and payment method convenience (0.1045). The Intuitionistic Fuzzy TOPSIS results show that Netflix ranks first with the highest closeness coefficient of 0.5017168, outperforming the other alternatives due to its performance being closest to the ideal solution on the highest-weighted criterion, video streaming quality, followed by Viu, Vidio, WeTV, and Disney+. ABSTRAK Aplikasi layanan Subscription Video on Demand (SVOD) merupakan layanan berbasis internet yang menyediakan berbagai konten video melalui sistem berlangganan. Banyaknya pilihan aplikasi layanan SVOD menyebabkan pengguna perlu mempertimbangkan berbagai kriteria yang saling bersaing dalam menentukan aplikasi terbaik, sehingga diperlukan pendekatan pengambilan keputusan multikriteria yang mampu mengakomodasi ketidakpastian dan keraguan penilaian pengguna. Penelitian ini bertujuan mengetahui bobot setiap kriteria serta hasil pemeringkatan alternatif menggunakan metode AHP-Fuzzy intuisionistik TOPSIS. Alternatif aplikasi layanan SVOD yang digunakan yaitu Netflix, Disney+, Vidio, Viu, dan WeTV, dengan kriteria meliputi kemudahan metode pembayaran, biaya berlangganan, variasi pilihan konten, kelengkapan fitur tambahan, kemudahan penggunaan aplikasi, dan kualitas pemutaran video. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan JotForm terhadap 100 responden. Hasil AHP menunjukkan urutan prioritas kriteria adalah kualitas pemutaran video (0,2193), kelengkapan fitur tambahan (0,1884), biaya berlangganan (0,1692), kemudahan penggunaan aplikasi (0,1621), variasi pilihan konten (0,1565), dan kemudahan metode pembayaran (0,1045). Hasil Fuzzy Intuisionistik TOPSIS menunjukkan Netflix menempati peringkat pertama dengan koefisien kedekatan relatif tertinggi sebesar 0,5017168, unggul karena performanya paling mendekati solusi ideal pada kriteria berbobot terbesar, yaitu kualitas pemutaran video, diikuti oleh Viu, Vidio, WeTV, dan Disney+.