cover
Contact Name
Sulistiono
Contact Email
ecep_s@apps.ipb.ac.id
Phone
+6281317011347
Journal Mail Official
jurnalfpik.ipb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
ISSN : 20874871     EISSN : 25493841     DOI : https://doi.org/10.24319
Tujuan Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan yaitu menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan, bioteknologi kelautan, teknik manajemen pesisir dan kelautan, teknik manajemen lingkungan perairan, dan sosial ekonomi perikanan dan kelautan.
Articles 337 Documents
EVALUATION RESULTS OF NUSANTARA 5 AUTONOMOUS UNDERWATER VEHICLE (N5-AUV) IN A CONTROLLED ENVIRONMENT AND THE OPEN SEA: HASIL EVALUASI NUSANTARA 5 AUTONOMOUS UNDERWATER VEHICLE (N5-AUV) DI LINGKUNGAN TERKONTROL DAN LAUT TERBUKA Fahmi, Muhammad Rafly Amanullah; Jaya, Indra; Iqbal, Muhammad
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 2 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.112-124

Abstract

Autonomous Underwater Vehicle (AUV) adalah wahana yang dikendalikan di dalam air menggunakan sistem penggerak, dikontrol dan dikemudikan (dikendalikan) oleh perangkat komputer, dan bermanuver pada tiga dimensi. AUV memiliki kegunaan untuk melakukan pekerjaan di bawah air yang sulit dilakukan oleh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan desain dan pembuatan Nusantara 5 AUV yang dikembangkan oleh MITR club ITK (Ilmu dan Teknologi Kelautan), FPIK (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), IPB University dan mengevaluasi kinerjanya baik di lingkungan lapangan maupun dalam kondisi terkontrol. Metode evaluasi wahana menggunakan perbandingan hasil gerakan di air dengan program gerakan lurus, berbelok, dan gliding. Hasil pengujian kinerja menunjukkan bahwa AUV mampu bergerak lurus dengan rata-rata kesalahan sebesar 2,8° dalam lingkungan terkontrol, sedangkan di laut, rata-rata kesalahannya mencapai 5,4° dikarenakan AUV terombang ambing oleh ombak laut. Saat melakukan manuver berbelok dalam kondisi terkontrol, AUV memerlukan waktu 12,8 detik untuk menyesuaikan jalurnya setelah berbelok, sementara di laut, waktu yang dibutuhkan adalah 20 detik. Gerakan gliding masih belum sempurna, baik di dalam kolam uji maupun di laut, karena cenderung bergerak naik turun. Hal ini mengindikasikan sebuah kelemahan dalam Nusantara 5 AUV itu sendiri. Walaupun demikian, kelebihan dari Nusantara 5 AUV sendiri adalah ukurannya yang lebih kecil dibandingkan dengan pendahulunya dan juga penggunaan jumlah thruster yang lebih sedikit sehingga dapat meminimalisir biaya pembuatan.
CONNECTIVITY OF BIVALVES BETWEEN MANGROVE AND SEAGRASS ECOSYSTEMS IN KELAPA DUA ISLANDS: KONEKTIVITAS BIVALVIA ANTARA EKOSISTEM MANGROVE DAN LAMUN DI PULAU KELAPA DUA Srimariana, Endang Sunarwati; Ningtyas, Azizah Lutfia; Lestari, Dea Fauzia; Subhan, Beginer; Zamani, Neviaty Putri; Sidabutar, Tumpak
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 2 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.198-211

Abstract

Pulau Kelapa Dua, bagian dari Kepulauan Seribu, kaya akan keanekaragaman hayati dalam ekosistem mangrove dan lamun. Bivalvia berfungsi sebagai bioindikator yang penting untuk menilai kesehatan ekosistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan keanekaragaman bivalvia antara lingkungan mangrove dan lamun dan mempelajari hubungan bivalvia pada kedua habitat ini. Data dikumpulkan melalui survei kepadatan mangrove dan lamun, pengukuran kualitas air, dan analisis sedimen. Metode transek garis dan plot digunakan untuk pengamatan mangrove, sedangkan metode Seagrass Watch diterapkan untuk pengamatan lamun. Sampel bivalvia dikumpulkan menggunakan pipa PVC (hingga kedalaman 10 cm) untuk individu di bawah permukaan dan survei visual untuk spesies yang terlihat di permukaan. Substrat berpasir di pulau ini mendukung berbagai spesies bivalvia. Sebanyak lima belas spesies bivalvia dari enam famili teridentifikasi: Tellinidae, Cardiidae, Veneridae, Lucinidae, Donacidae, dan Pinnidae. Kepadatan bivalvia secara signifikan lebih tinggi di ekosistem lamun (1.029 ind./100 m²) dibandingkan dengan ekosistem mangrove (366 ind./100 m²), dengan famili Tellinidae menunjukkan kepadatan tertinggi (664 ind./100 m²). Indeks ekologi menunjukkan kondisi yang stabil, dengan komunitas bivalvia yang beragam dan tersebar merata, mencerminkan lingkungan yang sehat. Analisis korespondensi mengungkapkan bahwa spesies bivalvia lebih terkonsentrasi di stasiun yang merepresentasikan ekosistem lamun, menegaskan hubungan yang lebih erat dengan habitat lamun.
KAJIAN TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PADA PERIKANAN LEMURU DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PENGAMBENGAN, BALI, INDONESIA: KAJIAN TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PADA PERIKANAN LEMURU DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PENGAMBENGAN, BALI, INDONESIA Jaya, Made Mahendra; Khikmawati, Liya Tri; Larasati, Rakhma Fitria; Sudananjaya, Bagus
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 2 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.101-111

Abstract

Pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk mencapai keberlanjutan dan keseimbangan dimensi sosial ekonomi, ekologi, dan tata kelola perikanan yang lebih efektif. Aspek yang dinilai dalam penelitian ini adalah teknik penangkapan ikan. Penilaian tersebut terbagi menjadi enam indikator, yang mencakup metode penangkapan ikan, kapasitas perikanan, selektivitas alat tangkap, modifikasi alat penangkap ikan, kesesuaian ukuran dan fungsi kapal, serta awak kapal perikanan yang telah tersertifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status sumber daya perikanan lemuru di Perairan Selat Bali, khususnya terkait teknik penangkapan ikan. Kegiatan penelitian berlangsung di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan dari bulan Maret hingga Juli 2023. Pengumpulan data menggunakan beberapa metode, meliputi wawancara, survei, dan pengambilan sampel ukuran ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator teknik atau metode penangkapan ikan yang bersifat ilegal atau dektruktif memperoleh skor 3, modifikasi dari alat penangkap ikan yang digunakan juga mendapatkan skor 3. Kapasitas perikanan, selektivitas alat tangkap, dan kesesuaian fungsi serta ukuran kapal perikanan yang digunakan berdasarkan dokumen legal masing-masing meraih skor 3, 3, dan 1, sedangkan awak kapal perikanan yang telah tersertifikasi mendapatkan skor 1. Secara keseluruhan, penilaian komposit pada domain teknik penangkapan ikan mencapai 90%, menandakan bahwa telah diterapkan dengan baik prinsip-prinsip Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM).
SUITABILITY AND CARRYING CAPACITY OF MANGROVE ECOTOURISM IN KAMPUNG NIPAH, SEI NAGALAWAN VILLAGE, NORTH SUMATRA: KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA MANGROVE DI KAMPUNG NIPAH, DESA SEI NAGALAWAN, SUMATRA UTARA Sitompul, Nathania; Yulianda, Fredinan; Damar, Ario
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 2 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.125-135

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang rentan terhadap kerusakan, sehingga upaya konservasi sangat diperlukan. Pengembangan ekowisata mangrove menjadi salah satu upaya pemanfaatan jasa ekosistem secara berkelanjutan tanpa merusaknya. Ekowisata di ekosistem mangrove dianggap dapat berintegrasi dengan upaya konservasi, sehingga mendukung perlindungan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian dan daya dukung ekowisata mangrove di Kampung Nipah, Desa Sei Nagalawan, Sumatra Utara. Penelitian dilakukan pada Juli 2023 di kawasan ekowisata mangrove Kampung Nipah. Lokasi penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling, yang terdiri atas tiga stasiun. Data ekologi dikumpulkan melalui metode transek mangrove untuk memperoleh data primer. Metode deskriptif digunakan untuk menganalisis indeks kesesuaian wisata (IKW) dan daya dukung kawasan (DDK). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kawasan ekowisata mangrove Kampung Nipah untuk 3 stasiun adalah 1,97; 1,87; dan 1,87; serta DDK sebesar 200 orang per hari. Artinya, secara keseluruhan ekowisata mangrove Kampung Nipah, Desa Sei Nagalawan termasuk ke dalam kategori tidak sesuai. Beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan meliputi memperluas area hutan mangrove sehingga ketebalan ekosistem meningkat dan mempertahankan jumlah kunjungan wisatawan dengan sistem kuota untuk mendukung kelestarian kawasan.
STRATEGY FOR DEVELOPING BLUE ECONOMIC POTENTIAL THROUGH SUSTAINABLE TOURISM IN THE COASTAL AREA OF SEMARANG CITY: STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI BIRU MELALUI PARIWISATA BERKELANJUTAN DI WILAYAH PESISIR KOTA SEMARANG Pasaribu, Iwan Fadli; Hapsari, Trisnani Dwi; Prasetya, Ghozi Yoga
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 2 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.173-188

Abstract

Kota Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah, memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata bahari karena lokasi yang trategis dan adanya berbagai destinasi wisata. Namun, sektor ini menghadapi tantangan dalam fasilitas, promosi, dan manajemen pengelolaan. Penelitian yang dilakukan dari Maret hingga Juni 2024 ini, bertujuan untuk menganalisis potensi penerapan blue economy untuk mendukung pengembangan pariwisata bahari dan berkontribusi dalam merumuskan strategi berbasis blue economy untuk mendukung pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan di Kota Semarang. Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus menerapkan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan kajian literatur. Identifikasi dilakukan dengan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan seperti lokasi strategis dan keragaman destinasi, serta kelemahan berupa keterbatasan fasilitas. Peluang mencakup pengembangan paket wisata dan event budaya, sementara ancaman meliputi degradasi lingkungan dan banjir rob. Implementasi blue economy dapat meningkatkan sektor ini melalui strategi promosi, pengembangan acara, dan peningkatan konservasi, yang didukung oleh manajemen fasilitas dan infrastruktur yang lebih baik.
THE RELATIONSHIP BETWEEN CORAL REEFS AND COASTAL FISHERIES RESOURCES IN PANGGANG ISLAND AND SURROUNDING AREAS, SERIBU ISLANDS, JAKARTA: KETERKAITAN TERUMBU KARANG DENGAN SUMBERDAYA PERIKANAN PESISIR PULAU PANGGANG DAN SEKITARNYA, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Melindo, Hera Ledy; Kurnia, Rahmat; Yonvitner, Yonvitner
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 2 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.147-159

Abstract

Pulau Panggang memiliki potensi ekosistem terumbu karang seluas sekitar 9 ha, namun keberadaan terumbu karang di perairan Pulau Panggang dan sekitarnya mengalami penurunan luasan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi terumbu karang serta menganalisis hubungan terumbu karang dengan biomassa ikan terumbu di perairan Pulau Panggang dan sekitarnya. Pengambilan data ekosistem terumbu karang dilakukan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), sedangkan pengambilan data ikan dilakukan menggunakan metode sensus visual bawah air (underwater visual census). Kondisi terumbu karang di lokasi penelitian tergolong kategori sedang. Tutupan karang hidup tertinggi tercatat di Pulau Panggang dengan nilai 41% dan di Pulau Air senilai 31%. Bentuk pertumbuhan terumbu karang (life form) di kedua lokasi penelitian ditemukan sebanyak 10 ragam, dengan life form tertinggi dimiliki oleh Coral foliose dan Coral encrusting. Jumlah ikan karang yang teramati sebanyak 867 individu dari 106 spesies yang tergabung dalam 27 famili ikan karang, yang didominasi oleh famili Pomacentridae (72,81%). Kelimpahan ikan di Pulau Air sebanyak 386±113 individu/250m2 dan di Pulau Panggang sebanyak 406±160 individu/250m2. Hasil pengukuran nilai tertinggi biomassa ikan karang terdapat di Stasiun 4 Pulau Panggang (43,05 g/m2), sedangkan biomassa ikan karang yang terendah di Stasiun 3 Pulau Air (4,98 g/m2).
ADDITION OF PHYTASE IN ARTIFICIAL FEED GIVEN TO GIANT GOURAMI FISH FRY (Osphronemus goramy): PENAMBAHAN FITASE DALAM PAKAN BUATAN YANG DIBERIKAN PADA BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus goramy) Nikhlani, Andi; Pagoray, Henny; Riang, Agus
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 2 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.212-220

Abstract

Pakan yang efisien sangat penting untuk memahami kualitas dan kuantitas pakan sehubungan dengan pertumbuhan ikan jika ikan mengonsumsi pakan dengan keperluan nutrisi yang pas pada kebutuhan tubuh ikan. Jumlah nutrisi yang digunakan oleh tubuh ikan akan minimal. Salah satu masalah umum dalam proses pembuatan pakan buatan adalah penggunaan protein nabati dalam pakan suboptimal karena adanya faktor anti-nutrisi yang disebut asam fitat, yang dapat mengurangi jumlah nutrisi seperti protein dan mineral, dan akan memengaruhi pertumbuhan organisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi dan efisiensi pakan pada benih ikan gurami dengan memasukkan enzim fitase ke dalam pakan buatan. Data yang dikumpulkan ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram batang, dan dianalisis memanfaatkan metode deskriptif. Temuan penelitian menyatakan bahwa penambahan 3 mg/kg fitase ke dalam pakan menghasilkan hasil yang lebih baik daripada dengan kontrol dan dosis fitase lainnya (1 g/kg pakan dan 2 g/kg pakan) dalam hal konversi pakan (1,02), efisiensi penggunaan pakan (97,77%), peningkatan panjang total (7,22 cm), dan peningkatan berat mutlak benih ikan gurami (197,44 g). Selama penelitian, kualitas air diukur pada suhu 27-28°C, pH 6-7,3, tingkat oksigen 4,8-6,3 mg/L, dan tingkat amonia 0,02-0,08 mg/L.
DECLINE IN FRESHNESS OF SKIPJACK TUNA ALONG THE DISTRIBUTION CHAIN FROM LANDING SITES TO LOCAL CONSUMERS IN TERNATE: PENURUNAN KESEGARAN IKAN CAKALANG SELAMA DISTRIBUSI DARI TEMPAT PENDARATAN IKAN KE KONSUMEN LOKAL DI TERNATE Hidayat, Rian; Wiyono, Eko Sri; Yusfiandayani, Roza; Solihin, Iin
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 3 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.235-243

Abstract

Proper handling of fish is a key factor influencing the success of fresh fish distribution and trade. However, in practice, handling procedures are often inadequately implemented by fishermen, resulting in reduced fish quality and price. To address this issue, a study was conducted at the Dufa-dufa Fish Landing, Ternate City (North Maluku) to assess the distribution and quality of fresh skipjack tuna (Katsuwonus pelamis). The distribution of fresh skipjack tuna is extensive, reaching all regions of the city through various fish distribution nodes. While fishermen have endeavored to maintain the freshness, quality degradation was observed along the distribution chain. Sensory tests were conducted at each stage of the distribution process, from landing to the final consumers, assessing organoleptic attributes such as eyes, gills, and body texture. The results showed that the values differ at each node and tended to decline. The Kruskal-Wallis analysis indicated a significant difference in organoleptic values between the eyes, gills, and body texture of skipjack tuna at each distribution node (P < 0.05). These findings suggested that the freshness of skipjack tuna may decline during the distribution process.
IMPLICATIONS OF Acanthus ilicifolius LEAF EXTRACT UTILIZATION TO INHIBIT Candida albicans GROWTH TO SUPPORT MANGROVE CONSERVATION: IMPLIKASI PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN Acanthus ilicifolius UNTUK MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Candida albicans DALAM MENDUKUNG KONSERVASI MANGROVE Wardhani, Maulinna Kusumo; Rahman, Askur
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 3 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.221-234

Abstract

Salah satu jenis spesies mangrove yang memiliki manfaat sebagai bahan terapi adalah Acanthus ilicifolius. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi daya hambat ekstrak daun mangrove A. ilicifolius yang diambil dari 2 lokasi yang berbeda terhadap pertumbuhan khamir Candida albicans. Metode dalam penelitian ini menggunakan eksperimen laboratorium terkontrol dengan Rancangan Acak Lengkap. Subjek dalam penelitian ini adalah daun A. ilicifolius yang diambil di kawasan mangrove Kecamatan Socah (Kabupaten Bangkalan) dan Kecamatan Paiton (Kabupaten Probolinggo) dalam kondisi segar, serta khamir C. albicans. Potensi pemanfaatan A. ilicifolius dianalisis melalui ekstraksi, dengan metode maserasi metanol 99,98%, analisis fitokimia, dan uji daya hambat. Hasil analisis fitokimia kualitatif pada A. ilicifolius menunjukkan kandungan senyawa aktif alkaloid, flavonoid, steroid/terpenoid, tanin, dan fenol. Namun demikian, tidak ditemukan saponin. Uji fitokimia kuantitatif terhadap A. ilicifolius memperlihatkan kandungan senyawa aktif tertinggi adalah flavonoid (sebesar 162,79 ppm). Ekstrak daun A. ilicifolius memiliki daya hambat antikhamir yang dikategorikan lemah hingga sedang, meskipun setiap konsentrasi memiliki daya hambat yang berbeda nyata. Analisis statistik mengindikasikan kandungan zat aktif dalam ekstrak A. ilicifolius dari Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Probolinggo tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Penelitian ini mendukung konservasi mangrove berbasis manfaat farmakologis dan berkontribusi pada pengembangan agen antikhamir berbasis tanaman untuk terapi alternatif.
STRATEGY FOR HANDLING THE QUALITY OF CAUGHT SKIPJACK TUNA TRAWLER SHIP AT PPS KUTARAJA: STRATEGI PENANGANAN DAN MUTU IKAN CAKALANG HASIL TANGKAPAN KAPAL PUKAT LINGKAR DI PPS KUTARAJA Putra, Demo Buana; Mustaruddin, Mustaruddin; Puspito, Gondo
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 3 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.323-335

Abstract

Salah satu komoditas utama yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Kutaraja adalah ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta potensi ekspor yang besar. Namun, kualitas ikan cakalang yang didaratkan sering menurun akibat penanganan pasca-tangkap yang kurang optimal, seperti suhu penyimpanan yang tidak terkontrol dan minimnya penerapan rantai dingin. Penelitian ini bertujuan merumuskan model strategi pengendalian mutu hasil tangkapan cakalang dari kapal pukat lingkar di PPS Kutaraja. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan analisis SWOT dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal secara sistematis. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 14 orang nahkoda kapal dan dua orang ahli yang memahami kondisi pelabuhan. Responden nahkoda dipilih menggunakan metode accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya peluang besar untuk meningkatkan mutu ikan cakalang di PPS Kutaraja. Strategi yang diusulkan meliputi: (1) perbaikan pengendalian mutu sejak proses penangkapan hingga Tempat Pelelangan Ikan (TPI), (2) penyuluhan dan pelatihan penanganan ikan yang baik kepada nelayan, (3) pengendalian suhu penyimpanan pada 0°C hingga proses pendaratan, (4) pendanaan untuk modernisasi armada penangkapan berpendingin, (5) fasilitasi sertifikasi penangkapan dan penanganan ikan, (6) kerja sama antara pengelola pelabuhan dan nelayan dalam menetapkan standar mutu, (7) peningkatan kapasitas SDM melalui sertifikasi, dan (8) kerja sama desain kapal berpendingin antara pengelola pelabuhan dan pengusaha kapal.