cover
Contact Name
Sulistiono
Contact Email
ecep_s@apps.ipb.ac.id
Phone
+6281317011347
Journal Mail Official
jurnalfpik.ipb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
ISSN : 20874871     EISSN : 25493841     DOI : https://doi.org/10.24319
Tujuan Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan yaitu menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan, bioteknologi kelautan, teknik manajemen pesisir dan kelautan, teknik manajemen lingkungan perairan, dan sosial ekonomi perikanan dan kelautan.
Articles 367 Documents
COMPARING ENERGY EFFICIENCY AND STABILITY OF LED AND FLUORESCENT LIGHTS ON MARITIME TRAINING SHIPS: PERBANDINGAN EFISIENSI ENERGI DAN STABILITAS LAMPU LED DAN FLUORESEN PADA KAPAL LATIH MARITIM Rukmini Rukmini; Antoni Arif Priadi
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.291-300

Abstract

Efisiensi pencahayaan memiliki peran penting dalam meningkatkan manajemen energi dan keberlanjutan pada kapal maritim. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan efisiensi energi, luminous efficacy, serta stabilitas kinerja sistem pencahayaan light-emitting diode (LED) dan fluoresen (FL) pada kapal latih maritim Sultan Hasanuddin yang dioperasikan oleh Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar, Indonesia. Dengan pendekatan kuantitatif eksperimental, dilakukan pengujian lampu, audit pencahayaan di kapal, dan analisis berbasis simulasi yang dilakukan pada kondisi operasional nyata dari bulan Juni hingga Desember 2024. Hasil menunjukkan bahwa lampu LED mencapai rata-rata luminous efficacy sebesar 202,4 lm/W, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 39,1 lm/W pada lampu FL. Peralihan ke sistem LED menurunkan total konsumsi daya pencahayaan akomodasi dari 4.860 watt menjadi 1.482 watt, disertai peningkatan total keluaran cahaya sebesar 29,7%. Selama periode enam bulan, proyeksi konsumsi energi menurun sekitar 80,7%, yang menunjukkan potensi besar untuk penghematan biaya operasional dan pengurangan emisi. Selain itu, lampu LED menunjukkan stabilitas kinerja yang lebih unggul dalam kondisi pengujian terkendali, dengan mempertahankan tingkat pencahayaan yang konsisten tanpa degradasi yang berarti, sedangkan lampu FL mengalami penurunan kecerahan secara bertahap dan sering memerlukan perawatan. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan pencahayaan LED pada kapal latih maritim memberikan manfaat signifikan dalam hal efisiensi energi, keandalan operasional, dan keberlanjutan. Namun, mengingat kinerja LED sebagian didasarkan pada simulasi, validasi jangka panjang di kapal secara langsung tetap direkomendasikan. Studi ini memberikan rekomendasi praktis bagi institusi maritim yang ingin memodernisasi sistem pencahayaan kapal dan berkontribusi pada upaya yang lebih luas untuk mencapai tujuan efisiensi energi di sektor maritim.
ANALYSIS OF BEAM ANGLE INFLUENCE AND ITS RELATIONSHIP TO BACKSCATTER USING ANGULAR RANGE ANALYSIS: ANALISIS PENGARUH DAN HUBUNGAN BEAM ANGLE TERHADAP HAMBUR BALIK DENGAN METODE ANGULAR RANGE ANALYSIS Dhea Ananda Masdar; Henry Munandar Manik; Totok Hestirianoto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.313-324

Abstract

The shallow waters of Pari Island exhibit diverse seafloor substrates, making them an ideal site for hydroacoustic seabed characterization studies. This study aims to analyze backscatter variations at different beam angles and evaluate the mathematical relationship between beam angle and backscatter intensity using the Angular Range Analysis (ARA) method. The novelty of this study lies in modeling the beam angle-backscatter relationship in tropical shallow-water environments in Indonesia, which remains relatively limited in the literature. Data were acquired using a 300 kHz Teledyne Reson SeaBat T50-R Multibeam Echosounder (MBES) and processed using the Fladermaus Geocoder Toolbox (FMGT), while surface sediment samples were collected using a Van Veen grab sampler. ARA generated angular response curves showing that the highest backscatter values consistently occurred at nadir (0°) and gradually decreased toward grazing angles. Backscatter values ranged from -19.27 dB to -37.41 dB. The average backscatter values for sand, silty sand, and coral fragments or rock were -32 dB, -34 dB, and -30 dB, respectively. The beam angle–backscatter relationship was modeled using second- and third-order polynomial regressions, yielding coefficients of determination of 0.9064-0.998 and 0.9251-0.999, respectively. The results indicate that changes in beam angle adequately explain the backscatter variation. These findings demonstrate that ARA is effective for characterizing backscatter angular response patterns and support MBES data interpretation in tropical shallow waters.
CHARACTERIZATION OF FISH SKIN FROM DEMERSAL SPECIES AS POTENTIAL COLLAGEN SOURCES: KARAKTERISTIK KULIT IKAN DEMERSAL SEBAGAI SUMBER KOLAGEN Mala Nurilmala; Nurafi Razna Suhaima; Vania Mahardika; Agy Wirabudi Pranata
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.301-312

Abstract

Pemanfaatan hasil samping perikanan, khususnya kulit ikan, menawarkan alternatif sumber kolagen dan gelatin yang halal dan aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik kulit ikan demersal sebagai sumber kolagen potensial. Kulit ikan yang digunakan yaitu ikan swanggi (Priacanthus tayenus), coklatan (Scolopsis taenioptera), dan kerapu (Epinephelus bleekeri). Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dan eksploratif. Analisis yang dilakukan meliputi pengamatan histologi, komposisi proksimat, profil asam amino, profil asam lemak, dan kandungan logam berat. Hasil pengamatan histologi menunjukkan bahwa kulit ikan didominasi oleh lapisan dermis dengan struktur serat kolagen yang jelas, dengan lapisan kolagen paling tebal ditemukan pada kulit ikan kerapu. Analisis proksimat menunjukkan bahwa kulit ikan memiliki kadar air tinggi (61,05–66,99%) dan protein (17,88–20,87%) (basis basah). Profil asam amino menunjukkan bahwa glisin (3,99% b/b) dan alanin (3,15% b/b) merupakan asam amino dominan, yang merupakan karakteristik protein kolagen. Analisis hidroksiprolin turut mengonfirmasi keberadaan kolagen, dengan kadar yang meningkat dari 0,0739 μg/μL pada kulit menjadi 0,4071 μg/μL pada gelatin. Profil asam lemak sampel mix menunjukkan kandungan lipid total yang rendah (55,43% b/b). Analisis logam berat menunjukkan kadar yang sangat rendah, dengan arsen (As) sebesar 0,01–0,02 mg/kg, sedangkan merkuri (Hg), kadmium (Cd), dan timbal (Pb) berada di bawah batas. Temuan ini menunjukkan bahwa kulit ikan swanggi, coklatan, dan kerapu memiliki potensi yang kuat sebagai sumber alternatif kolagen dan gelatin yang aman, halal, dan bernilai tambah.
FIRST CONFIRMED RECORD OF THE NEAR-THREATENED BOMBAY DUCK (Harpadon nehereus) IN CILACAP WATERS, INDONESIA: REKAMAN TERKONFIRMASI PERTAMA IKAN KADAL (Harpadon nehereus) YANG HAMPIR TERANCAM PUNAH DI PERAIRAN CILACAP, INDONESIA Sugeng Hartono; Novia Nurul Afiyah; Mustathi' Zulfa; Muhammad Browijoyo Santanumurti; Muyassar Hamid Abualreesh; Gondo Puspito; Muhammad Natsir Kholis
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.278-290

Abstract

Identifikasi spesies yang akurat merupakan dasar penting untuk pengelolaan dan konservasi perikanan yang efektif di Indonesia, khususnya untuk spesies yang hampir terancam punah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ikan kadal (Harpadon nehereus) dari perairan Cilacap melalui analisis morfologi dan molekuler, mencatat temuan pertamanya di perairan Cilacap, dan menyediakan dasar ilmiah untuk kajian populasi, pengelolaan perikanan, dan konservasi. Identifikasi morfologi dilakukan berdasarkan karakteristik fisik, seperti bentuk, warna, dan ciri-ciri umum untuk kajian morfometri dan meristik, dengan berpanduan pada buku identifikasi. Konfirmasi molekuler dilakukan melalui DNA barcoding pada gen mitokondria COI. Primer Fish F1 dan Fish R1 digunakan, bersama dengan metode sekuensing dideoksi Sanger. Subfamili dikonfirmasi dengan adanya jari-jari bagian dalam sirip perut yang hampir sama panjang atau sedikit lebih panjang daripada jari-jari bagian luar. Genus diidentifikasi berdasarkan sisik garis lateral yang membesar dan memanjang sebagai lobus median sirip ekor. Jari-jari utama sirip ekor tidak bersisik, dan tubuhnya pipih. Spesies diidentifikasi sebagai H. nehereus karena sirip dada melampaui pangkal sirip punggung. Urutan genetik yang diperoleh (aksesi PV688437.1) menunjukkan identitas sekitar 96,928–99,495% dengan referensi sejenis dalam basis data global dan membentuk klad yang sama dengan urutan H. nehereus lainnya dalam analisis filogenetik, yang mengonfirmasi identitas genetiknya. Sebagai laporan pertama tentang H. nehereus yang dikonfirmasi di Cilacap, temuan ini memberikan data dasar yang penting untuk pengkajian stok, pengelolaan perikanan, dan upaya konservasi di perairan Indonesia.
STRUCTURAL VULNERABILITY OF DUAL-MODE LOGISTICS IN BALI TUNA EXPORTS: AN STL, ARIMA, AND MITSA APPROACH: KERENTANAN STRUKTURAL LOGISTIK DUAL-MODA EKSPOR TUNA BALI: PENDEKATAN STL, ARIMA, DAN MITSA Charles Paulinus Marulitua Sitanggang; Taryono Taryono; Joko Santoso
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.338-348

Abstract

Sistem logistik ekspor tuna Bali bergantung pada dua moda penerbangan: belly cargo dan pelayaran langsung yang rentan terhadap disrupsi kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis perubahan kuantitatif kebijakan PSBB dan PPKM terhadap volume dan nilai ekspor tuna Bali; (2) menguji hubungan kapasitas moda logistik udara dengan kinerja ekspor serta menjelaskan divergensi volume dan nilai ekspor; dan (3) mengevaluasi kapasitas pemulihan struktural sistem logistik ekspor tuna Bali pada periode pasca-pandemi. Data dari Oktober 2016–Juni 2023 dianalisis menggunakan Seasonal-Trend decomposition Loess (STL), Auto Regressive Integrated Moving Average (ARIMA), dan Multiple Interrupted Time Series Analysis (MITSA) dengan koreksi Newey-West. MITSA mengonfirmasi bahwa PSBB April 2020 menyebabkan penurunan level nilai ekspor sebesar -USD 7.718.352 (p = 0,0000829***), sedangkan PPKM Darurat Juli 2021 menghasilkan divergensi: volume ekspor relatif stabil, sementara nilai ekspor menunjukkan kecenderungan penurunan yang persisten, mengindikasikan tekanan ekonomi yang tidak tercermin hanya dari volume ekspor. Data penerbangan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai mengonfirmasi collapse -99,7% pada fase PSBB1, dengan regresi menunjukkan hubungan kuat antara frekuensi penerbangan dan nilai ekspor (r = 0,923; p < 0,001). Disrupsi moda laut dikonfirmasi melalui keputusan Meratus Line menghentikan layanan dari Pelabuhan Benoa (blank sailings) sejak April 2020. Temuan menunjukkan indikasi perubahan struktural pada sistem logistik dual-moda Bali, dari mode efisien menuju mode defensif. Diperlukan strategi logistik berbasis data dan kebijakan nasional untuk memulihkan daya saing ekspor perikanan Indonesia.
EVALUATION OF SEAWORTHINESS OF THE TRADITIONAL LONGBOAT IN TECHNICAL ASPECTS BASED ON MODELING AND SIMULATION: EVALUASI KELAIK LAUTAN PERAHU TRADISIONAL LONGBOAT DALAM ASPEK TEKNIS BERDASARKAN PEMODELAN DAN SIMULASI Andie Murtono; Ahmad Ilham Ramadhani; Heru Santoso; Ahmad Tubagus Tsani Risqi Aji; Muhammad Zainul Arifin; Louis Andre Ginto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.325-337

Abstract

Traditional longboat fishing vessels have changed in model and shape due to fishing techniques. This research aims to evaluate the technical seaworthiness of longboats in planning fishing operations based on the results of vessel models according to the original shape. The technical evaluation includes observation, modeling, and simulation of operations at speeds of 4, 8, 12, and 16 knots on Maxsurf, and calculation of load and fuel. The results of the technical evaluation of the observations show that the longboat has been modified using Fiber-Reinforced Plastic (FRP) techniques. The vessel features a pointed bow, a flat stern, a sharp V-shaped bottom, and no outriggers. The results of the main dimension modeling were LoA 10.25 m, LwL 8.97 m; width 1.29 m; height 0.68 m; and draft 0.2 m, corresponding to the main measurement range from the observation results. The hydrostatic displacement value is 1.34 tons, the draft and immersion are 0.2 m, and the waterline height is along LwL. The operational simulations showed the estimated resistance and engine power (362.4 N; 1.25 HP), (1449.79 N; 10.02 HP), (2899.24 N; 30.02 HP), and (3528.56 N; 48.68 HP) at speeds of 4, 8, 12, and 16 knots, respectively. The total operational load was 1.29 tons, remaining below the displacement limit. Fuel consumption rates were estimated at 0.51, 4.14, 12.12, and 19.58 liters/hour at 4, 8, 12, and 16 knots, respectively. The technical aspects that have been obtained can be used as a reference for seaworthy planning in fishing operations.
KONTAMINASI LOGAM TIMBAL (Pb) DAN PENINGKATAN KUALITAS AIR PASCA REMEDIASI DI SUNGAI CINANGKA BOGOR: LEAD (Pb) METAL CONTAMINATION AND IMPROVEMENT OF WATER QUALITY POST-REMEDIATION IN THE CINANGKA RIVER, BOGOR Vergia Wenda Mulia; Etty Riani; Mohammad Mukhlis Kamal; Syed Sartaj Alam
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.186-196

Abstract

Aktivitas industri pasca peleburan aki bekas di wilayah Cinangka, Bogor, telah menyebabkan akumulasi logam berat timbal (Pb) yang melebihi ambang batas baku mutu air sungai dan berdampak negatif terhadap kualitas air serta lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penurunan kadar logam Pb di air serta perubahan parameter kualitas air yang meliputi suhu, pH, kekeruhan, dan oksigen terlarut (DO) setelah proses remediasi menggunakan jenis-jenis agen remediasi seperti biochar tongkol jagung, akar wangi, dan kijing lokal pada perairan terkontaminasi logam Pb. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan selama empat minggu. Pengukuran kadar Pb dilakukan pada minggu ke-0 dan ke-4, sedangkan pengamatan kualitas air dilakukan pada minggu ke-0, 2, dan 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi tiga agen remediasi yaitu biochar tongkol jagung + akar wangi + kijing lokal (ABC) memberikan penurunan kadar Pb tertinggi sebesar 99,3% hingga mencapai 0,009 mg/L serta secara signifikan menurunkan suhu dan kekeruhan, serta meningkatkan pH dan DO hingga mendekati kisaran optimal. Nilai korelasi antara kadar Pb dengan parameter kualitas air menunjukkan hubungan negatif kuat terhadap pH dan DO, serta hubungan positif kuat terhadap suhu dan kekeruhan. Secara keseluruhan, remediasi menggunakan ketiga agen alami efektif dalam penurunan kadar Pb di air sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perairan secara menyeluruh.