cover
Contact Name
Sutia Budi
Contact Email
ursj.jurnal@universitasbosowa.ac.id
Phone
+62411-452901
Journal Mail Official
ubpostgradjournal@gmail.com
Editorial Address
Alamat Redaksi: Program PascaSarjana Universitas Bosowa Jl. Urip Sumoharjo KM.4 Makassar 90231 Telp. (0411) 452901 - 452789, Fax. (0411) 424568 Email : ubpostgradjournal@gmail.com
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Urban and Regional Studies Journal
Published by Universitas Bosowa
ISSN : -     EISSN : 26568705     DOI : https://doi.org/10.35965/ursj.v3i2
Urban and Regional Studies Journal menerbitkan artikel yang pada bidang perencanaan pengembangan wilayah, perencanaan kota, perkotaan, infrastruktur, transportasi, dan kawasan perdesaan.
Articles 193 Documents
Implementasi Pemanfaatan Kesesuaian Lahan Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan Muhammad Indra Dewa Virgiawan; Syafri Syafri; Iqbal Suhaeb
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6062

Abstract

Implementasi Pemanfaatan Kesesuaian Lahan Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Kabupaten Takalar adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kabupaten ini berada di pesisir barat daya Pulau Sulawesi dan berbatasan dengan Kabupaten Gowa di sebelah utara, Kabupaten Jeneponto di sebelah timur, serta Laut Makassar di sebelah selatan dan barat. Kabupaten Takalar memiliki luas sekitar 866,28 km² dan terdiri dari 10 kecamatan. Masalah ketidaksesuaian lahan terhadap rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Takalar, seperti di banyak daerah lainnya, adalah salah satu tantangan besar dalam pembangunan. Kesesuaian antara penggunaan lahan dan rencana tata ruang wilayah sangat penting untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, teratur, dan tidak merusak lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penyebab, dampak, dan solusi atas ketidaksesuaian lahan terhadap rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Takalar. Untuk memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah dalam mengatasi masalah ketidaksesuaian lahan terhadap rencana tata ruang wilayah.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan observasi, survei, atau statistik Sebagian besar wilayah yang telah ditetapkan untuk penggunaan pertanian dalam RTRW, seperti kawasan sawah dan perkebunan, masih digunakan sesuai dengan peruntukannya. Namun, ada beberapa titik yang mengalami alih fungsi menjadi kawasan pemukiman dan komersial. Selanjutnya, Dengan memahami ketidaksesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW, diharapkan penelitian ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas tata ruang di Kabupaten Takalar, sehingga pembangunan di daerah ini dapat berjalan lebih tertata dan sesuai dengan visi pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan. Implementation of Land Suitability Utilization Based on Regional Spatial Planning (RTRW) in Takalar Regency, South Sulawesi. Takalar Regency is a regency located in South Sulawesi Province, Indonesia. This regency is located on the southwest coast of Sulawesi Island and borders Gowa Regency to the north, Jeneponto Regency to the east, and the Makassar Sea to the south and west. Takalar Regency has an area of approximately 866.28 km² and consists of 10 sub-districts. The problem of land incompatibility with the regional spatial planning in Takalar Regency, as in many other areas, is one of the major challenges in development The suitability between land use and regional spatial planning is very important to create sustainable, orderly, and environmentally friendly development. Therefore, this study aims to explore the causes, impacts, and solutions to land mismatches with regional spatial planning in Takalar Regency. To provide policy recommendations for local governments in overcoming the problem of land mismatches with regional spatial planning. This study was conducted using a quantitative descriptive approach with observation, survey, or statistics Most of the areas that have been designated for agricultural use in the RTRW.such as rice fields and plantations, are still used according to their designation. However, there are several points in coastal areas and coastal areas that have been converted into residential and commercial areas. Furthermore, by understanding the inconsistency of land use with the RTRW, it is hoped that this study can be a basis for improving the quality of spatial planning in Takalar Regency, so that development in this area can run more orderly and in accordance with the vision of sustainable long-term development.
Analisis Kinerja Pelayanan Jaringan Jalan Utama dan Tingkat Aksesibilitas Pergerakan Koridor Pertigaan RSUD – Perempatan Mall Ramayana Kota Bontang Sari, Ade Ratna; Manaf, Murshal; Salim, Agus
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6065

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pelayanan jaringan jalan utama dan tingkat aksesibilitas pergerakan pada Koridor Pertigaan RSUD – Perempatan Mall Ramayana di Kota Bontang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif, dengan kombinasi observasi lapangan, survei daring, dan analisis data. Analisis data dilakukan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI, 1997) dan Highway Capacity Manual (HCM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pelayanan di empat lokasi pengamatan memiliki variasi sebagai berikut: Simpang Terminal Kota Bontang berada pada Tingkat Pelayanan “C” (kinerja sedang), Simpang Yabis berada pada Tingkat Pelayanan “E” (kinerja sangat rendah), dan Simpang Jl. Cipto Mangunkusumo/ Pupuk Raya serta Simpang Turunan Polres – Jalan Imam Bonjol berada pada Tingkat Pelayanan “F” (kinerja gagal), di mana aliran lalu lintas sangat lambat atau terhenti. Faktor utama penyebab permasalahan ini adalah ketiadaan fasilitas kantong parkir yang memadai dan dominasi penggunaan kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk mendukung keberlanjutan sistem transportasi, termasuk penyediaan angkutan massal berbasis transportasi ramah lingkungan serta pengelolaan fasilitas parkir oleh bangunan komersial. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan efisiensi jaringan jalan utama. This study aims to analyze the factors that affect the performance of the main road network service and the level of movement accessibility in the RSUD T-junction Corridor – Ramayana Mall Intersection in Bontang City. The research method used is a descriptive quantitative approach, with a combination of field observation, online surveys, and data analysis. Data analysis was carried out using the Indonesian Road Capacity Manual (MKJI, 1997) and the Highway Capacity Manual (HCM). The results of the study showed that the level of service in the four observation locations had the following variations: Bontang City Terminal Junction was at Service Level "C" (moderate performance), Yabis Junction was at Service Level "E" (very low performance), and Jl. Cipto Mangunkusumo/Pupuk Raya Junction and Police Derivative Junction – Jalan Imam Bonjol were at Service Level "F" (failed performance), where the traffic flow is very slow or stalled. The main factor causing this problem is the absence of adequate parking pocket facilities and the dominance of the use of private vehicles compared to public vehicles. This study provides recommendations to support the sustainability of the transportation system, including the provision of environmentally friendly transportation-based mass transportation and the management of parking facilities by commercial buildings. It is hoped that the results of this study can be a reference for the government, the community, and the private sector to reduce congestion and improve the efficiency of the main road network.
Pengembangan Kawasan Geothermal Tourism Berkelanjutan Berdasarkan Preferensi Pengunjung Menggunakan Analisis Konjoin Di Kabupaten Maluku Tengah Akbar Abdullah Ohorella; Haeruddin Saleh; Jamaluddin Djahid
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6066

Abstract

Pariwisata berbasis sumber daya alam, seperti geothermal tourism, memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Kabupaten Maluku Tengah memiliki sumber daya geothermal yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi pengunjung terhadap atribut wisata geothermal serta menyusun strategi pengembangannya menggunakan metode analisis konjoin dan analisis SWOT. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 333 responden yang merupakan wisatawan di kawasan geothermal tourism Hatuasa di Desa Tulehu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi utama pengunjung adalah fasilitas yang memadai, aksesibilitas yang baik, serta keterlibatan komunitas lokal dalam pengelolaan wisata. Strategi yang diusulkan mencakup peningkatan infrastruktur, pengelolaan berbasis masyarakat, serta promosi destinasi yang lebih intensif. Dengan menerapkan strategi ini, diharapkan kawasan geothermal tourism dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.   Natural resource-based tourism, such as geothermal tourism, has great potential to be developed sustainably. Central Maluku Regency has geothermal resources that can be developed as a leading tourist destination. This study aims to analyze visitor preferences for geothermal tourism attributes and develop development strategies using conjoint analysis and SWOT analysis methods. Data were collected through a survey of 333 respondents who were tourists in the Hatuasa geothermal tourism area in Tulehu Village. The results of the study showed that the main preferences of visitors were adequate facilities, good accessibility, and local community involvement in tourism management. The proposed strategies include improving infrastructure, community-based management, and more intensive destination promotion. By implementing this strategy, it is hoped that the geothermal tourism area can develop sustainably and provide benefits to local communities and support regional economic growth
Strategi Pembangunan Jalan Dalam Pengembangan Kawasan Pesisir Berbas Pantai – Tanjung Laut Indah Kota Bontang Anwar Nurdin; Agus Salim; Arief Nasution
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6068

Abstract

Dalam penelitian ini terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai. Pertama, menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan jalan dari Berbas Pantai – Tanjung Laut Indah terhadap pengembangan kawasan pesisir di Kota Bontang menggunakan analisis AHP (Analytical Hierarchy Process). Kedua, merumuskan strategi pembangunan jalan dari Berbas Pantai – Tanjung Laut Indah dengan menggunakan analisis SWOT. Dari penelitian ini telah didapatkan beberapa hasil penelitian. Pertama, diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan jalan Berbas Pantai – Tanjung Laut Indah, yaitu aspek lingkungan, aspek teknik, aspek ekonomi sosial, dan aspek tata ruang. Kedua, strategi utama pembangunan jalan masuk didalam kuadran I atau strategi S-O, yaitu memanfaatkan kekuatan internal dengan memanfaatkan peluang eksternal. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan oleh pemerintah daerah sebagai dasar untuk menyusun kebijakan dalam pembangunan jalan Berbas Pantai - Tanjung Laut Indah yang berkelanjutan untuk mendukung pengembangan kawasan pesisir di Kota Bontang In this research, there are several objectives to be achieved. First, to analyze the factors that influence the construction of the Berbas Pantai - Tanjung Laut Indah road towards the development of coastal areas in Bontang City using AHP (Analytical Hierarchy Process) analysis. Second, to formulate a strategy for road construction from Berbas Pantai - Tanjung Laut Indah using SWOT analysis. Several research results have been obtained from this study. First, the factors that influence the construction of the Berbas Pantai - Tanjung Laut Indah road are known, namely environmental aspects, technical aspects, socio-economic aspects, and spatial aspects. Second, the main strategy for road construction is included in quadrant I or the S-O strategy, namely utilizing internal strengths by utilizing external opportunities. The results of the study are expected to be used by the local government as a basis for formulating policies in the construction of the Berbas Pantai - Tanjung Laut Indah road that is sustainable to support the development of coastal areas in Bontang City..
Strategi Penanganan Kawasan Permukiman Padat Dan Kumuh Kawasan Kampung Pesisir Kelurahan Tanjung Laut Indah Kota Bontang Dian Nur Afianto; Andi Muhibuddin; Agus Salim
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6238

Abstract

Dalam penelitian ini terdapat beberpa tujuan yang ingin dicapai. Pertama, menganalis kebutuhan prasarana dasar dengan mengacu pada pedoman teknis dan peraturan terkait. Kedua, mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan permukiman menjadi kumuh dengan menggunakan analisis Chi-Square. Ketiga, merumuskan strategi penanganan kawasan dengan menggunakan analisis SWOT. Dari penelitian ini telah didapatkan beberapa hasil penelitian. Pertama, diketahuinya kebutuhan prasarana dasar kawasan Kampung Pesisir sampai dengan 20 tahun kedepan. Kedua, faktor-faktor yang menyebabkan kawasan Kampung Pesisir menjadi kumuh, yaitu layanan infrastruktur dasar, kondisi sosial ekonomi, kedekatan dengan pusat kegiatan ekonomi, dan legalitas. Ketiga, strategi utama penanganan kawasan kumuh Kampung Pesisir masuk didalam kuadran I atau strategi S-O, yaitu memanfaatkan kekuatan internal dengan memanfaatkan peluang eksternal. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan oleh pemerintah daerah sebagai dasar untuk menyusun kebijakan dalam penanganan permukiman kumuh di kawasan Kampung Pesisir Kelurahan Tanjung Laut Indah Kota Bontang. In this research, there are several objectives to be achieved. First, to analyze the need for basic infrastructure by referring to technical guidelines and related regulations. Second, to identify and analyze the factors causing settlements to become slums using Chi-Square analysis. Third, to formulate strategies for handling the area using SWOT analysis. From this research, several results have been obtained. First, the basic infrastructure needs of the Kampung Pesisir area for the next 20 years have been known. Second, the factors that cause the Kampung Pesisir area to become a slum, namely basic infrastructure services, socio-economic conditions, proximity to economic activity centers, and legality. Third, the main strategy for handling the slum area of the Kampung Pesisir is included in quadrant I or the S-O strategy, namely utilizing internal strengths by utilizing external opportunities. The results of the study are expected to be used by the local government as a basis for formulating policies in handling slum residential are in the Kampung Pesisir area of Tanjung Laut Indah Village, Bontang City.
Integrasi Sistem Drainase Perkotaan Dan Mitigasi Bencana Banjir Di Kecamatan Tanjung Redeb Kabupaten Berau Edwin Dwi Putra; Natsir Abduh; Kamran Aksa
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6239

Abstract

Tanjung Redeb sebagai ibu kota Kabupaten Berau merupakan pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, dan permukiman, salah satu bencana yang kerap terjadi adalah banjir perkotaan.Tanjung Redeb sebagai ibu kota Kabupaten Berau merupakan pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, dan permukiman kerap kali mengalami masalah banjir dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Adapun faktor penyebab diantaranya, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, perubahan penggunaan lahan, sistem drainase yang buruk dan lain – lain. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis sebaran banjir di Kecamatan Tanjung Redeb ; 2) menganalisis tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Tanjung Redeb; dan 3) merumuskan trategi mitigasi bencana banjir melalui sistem drainase perkotaan. Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu, observasi lapangan, kuesioner, dan studi literatur. Adapun metode analisis yang digunakan yaitu , NDWI (Normalized Difference Water Index), spasial dengan skoring, dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kelurahan Bugis memili persentase banjir paling luas sebesar 90. 22 % atau 0.83 km2 sedangkan Kelurahan Sungai Bedungun memiliki persentase banjir paling rendah sebesar 21.52 % atau 1.9 km2. Adapun hasil tingkat kerawanan banjir tertinggi berada di Kelurahan Tanjung Redeb dan paling rendah berada di Kelurahan Bugis. Selanjutnya, arahan mitigasi dilakukan dengan 1) merevitalisasi dan adaptasi sistem drainase; 2) pengembangan sistem informasi kebencanaan terpadu; dan 3) pengendalian tata ruang. Tanjung Redeb, as the capital of Berau Regency, is the center of government, trade, and settlement activities, and one of the disasters that frequently occurs is urban flooding. Tanjung Redeb, as the capital of Berau Regency, has often experienced flooding problems in the last 5 years. The contributing factors include population growth, urbanization, changes in land use, poor drainage systems, and others. This study aims to 1) analyze the distribution of flooding in Tanjung Redeb District; 2) analyze the level of flood vulnerability in Tanjung Redeb District; and 3) formulate flood disaster mitigation strategies through urban drainage systems. The data collection methods used are field observations, questionnaires, and literature studies. The analytical methods used are NDWI (Normalized Difference Water Index), spatial scoring, and SWOT analysis. The results of this study indicate that Bugis Village has the largest flood percentage at 90.22% or 0.83 km², while Sungai Bedungun Village has the lowest flood percentage at 21.52% or 1.9 km². The highest level of flood vulnerability is found in Tanjung Redeb Village, while the lowest is in Bugis Village. The highest flood vulnerability level is found in the Tanjung Redeb sub-district, while the lowest is in the Bugis sub-district. Furthermore, mitigation measures are directed towards 1) revitalizing and adapting the drainage system; 2) developing an integrated disaster information system; and 3) controlling spatial planning.
Konseptualisasi Leluhur Dan Keluarga Sebagai Pengikat Budaya Bermukim Masyarakat Kampung Adat Urug Muthiannisa Umarputri; Sudaryono Sudaryono
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.8368

Abstract

Indonesia memiliki beragam kepercayaan yang dianut masyarakatnya, salah satunya adalah Sunda Wiwitan. Kampung Adat Urug merupakan kampung adat di Kabupaten Bogor yang cukup unik karena masyarakatnya menganut kepercayaan tersebut dan di saat bersamaan memeluk agama Islam. Kampung ini dikenal dengan penghuninya yang memiliki hubungan keluarga satu sama lain dan mengakui bahwa mereka merupakan keturunan Prabu Siliwangi, tiga ketua adat sebagai pemimpin, aturan leluhur terkait lima sedekah, nilai pamali yang berlaku, serta kondisi hunian yang unik meskipun telah mengalami modernisasi. Hingga di tahun 2020 terjadi bencana longsor pada kampung tersebut dan menghancurkan beberapa rumah masyarakat. Meski pemerintah menyediakan hunian sementara untuk masyarakat terdampak, namun tidak semuanya berpindah. Fenomena ini menunjukkan bahwa permukiman memiliki makna tersendiri bagi masyarakatnya. Konsep bermukim diketahui melalui pendekatan induktif menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan kajian literatur, observasi lapangan dan in-depth interview, lalu mengumpulkan unit informasi yang membentuk tema-tema empiris, kemudian diinduksi sehingga menghasilkan konsep huni masyarakat Kampung Adat Urug. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa leluhur serta keluarga memiliki pengaruh dalam konsep bermukim di Kampung Adat Urug. Sehingga masyarakat Kampung Adat Urug memiliki ruang pulang mereka. Indonesia has a diversity of belief systems adhered to by its society, one of which is Sunda Wiwitan. Kampung Adat Urug is a traditional village located in Bogor Regency, whose community adheres to this belief while simultaneously practicing Islam. The village is known for its residents who maintain kinship relations with one another and acknowledge themselves as descendants of Prabu Siliwangi, the presence of three customary leaders as leaders, ancestral regulations related to five sedekah rituals, prevailing pamali values, and unique housing conditions despite having undergone modernization. In 2020, a landslide damaged several houses; however, despite the provision of temporary housing by government, some residents remained in the settlement. This phenomenon indicates that the settlement holds a particular spatial meaning for its community. The dwelling concept was identified through an inductive qualitative phenomenological study based on literature review, field observations, and in-depth interviews. Units of meaning were synthesized into empirical themes to formulate the dwelling concept of the Kampung Adat Urug community. This study found that ancestors and family influence the dwelling concept in Kampung Adat Urug. Therefore, the community possesses its own space of return.
Kinerja Jasa Ekosistem Berbasis Spasial: Implikasi Terhadap Tata Ruang dan Pembangunan Kabupaten Seram Bagian Barat Andiah Nurhaeny; Primastia Risang Narindra
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.8927

Abstract

Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) memiliki modal ekologis yang signifikan, namun menghadapi kesenjangan dalam mentransformasikan kapasitas ekosistem menjadi kesejahteraan masyarakat, sebagaimana tercermin dari nilai IPM sebesar 68,39 di bawah rata-rata nasional. Penelitian ini menganalisis kinerja jasa ekosistem sebagai dasar kebijakan tata ruang dan pembangunan daerah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial deskriptif melalui integrasi data ekoregion dan tutupan lahan menggunakan teknik spatial overlay dan skoring Indeks Jasa Ekosistem (IJE) berbasis GIS yang divalidasi melalui expert judgement. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten SBB didominasi tutupan hutan alami dengan integritas ekologis tinggi, di mana Hutan Campuran Sedang mencakup 423.067,99 Ha atau sekitar 84,5% luas daratan. Jasa ekosistem pengaturan dan kultural berada pada kelas tinggi hingga sangat tinggi di lebih dari 84% wilayah. Sebaliknya, jasa penyediaan pangan didominasi kelas sangat rendah pada 86,5% wilayah. Temuan ini mengindikasikan adanya kecenderungan trade-off antara dominasi fungsi konservasi dan rendahnya kapasitas penyediaan pangan lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris melalui identifikasi pola distribusi jasa ekosistem di wilayah kepulauan Indonesia Timur yang masih relatif terbatas dalam literatur berbasis jasa ekosistem di Indonesia. Selain itu, penelitian ini memperluas pendekatan jasa ekosistem dalam evaluasi keberlanjutan wilayah kepulauan. Temuan penelitian merekomendasikan penetapan zona lindung ekosistem, pengembangan agroforestri, serta integrasi indikator jasa ekosistem ke dalam sistem monitoring RPJMD 2025–2029. West Seram Regency (SBB) possesses substantial ecological capital but has not yet fully transformed ecosystem capacity into improved community welfare, as reflected in its Human Development Index (HDI) of 68.39, which remains below the national average. This study aims to analyze ecosystem service performance as a basis for sustainable spatial planning and regional development policies. A descriptive quantitative-spatial approach was employed through the integration of ecoregion and land cover data using GIS-based spatial overlay techniques and Ecosystem Service Index (ESI) scoring, validated through expert judgment. The results show that West Seram Regency is dominated by natural forests with high ecological integrity, with Medium Mixed Forest covering 423,067.99 ha, or approximately 84.5% of the total land area. This condition contributes to the high performance of regulating and cultural ecosystem services, which are classified as high to very high across more than 84% of the region. In contrast, food provisioning services are predominantly categorized as very low, accounting for 86.5% of the area. These findings indicate a trade-off between the dominance of conservation functions and the limited capacity for local food provisioning. This study provides empirical evidence on ecosystem service distribution patterns in the island regions of Eastern Indonesia, a context that remains underrepresented in the ecosystem services literature. It also extends the application of the ecosystem services approach for assessing the sustainability of island territories. Based on these findings, the study recommends the designation of ecosystem protection zones, the development of agroforestry systems, and the integration of ecosystem service indicators into the monitoring framework of the 2025–2029 Regional Medium-Term Development Plan (RPJMD).
Penataan Kawasan Pariwisata Pulau Panambungan Di Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan Abdul Rachman; Rudi Latif; Ridwan Ridwan
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.8996

Abstract

Pulau Panambungan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan memiliki potensi wisata bahari yang cukup besar, terutama berupa pantai berpasir putih dan aktivitas wisata laut seperti snorkeling. Namun, pengembangan kawasan ini masih menghadapi berbagai permasalahan, antara lain keterbatasan aksesibilitas, penyediaan air bersih yang belum optimal, pengelolaan sampah yang belum terpadu, serta belum adanya pembagian zona kawasan yang jelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dan potensi kawasan wisata Pulau Panambungan, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penataan kawasan, serta merumuskan arahan penataan kawasan wisata yang berkelanjutan berbasis prinsip ekowisata. Penelitian ini merupakan penelitian perencanaan dengan pendekatan mixed methods. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA), analisis spasial, serta analisis stakeholder. Hasil seluruh analisis tersebut kemudian diintegrasikan untuk merumuskan arahan penataan kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Panambungan telah memiliki fasilitas dasar pendukung wisata, seperti dermaga, penginapan, musala, dapur, fasilitas sanitasi, energi listrik dari genset, dan air bersih dari mesin penyulingan air laut. Meskipun demikian, pengelolaan sampah dan penyediaan air bersih masih menjadi faktor utama yang perlu diprioritaskan. Analisis spasial menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang kawasan masih bersifat campuran dan belum tertata secara optimal, sehingga diperlukan pembagian zonasi yang lebih terstruktur. Oleh karena itu, arahan penataan kawasan difokuskan pada peningkatan sistem pengelolaan sampah, optimalisasi penyediaan air bersih, penataan zonasi kawasan, peningkatan kualitas infrastruktur pendukung, serta penguatan koordinasi antar-stakeholder. Penataan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kawasan wisata Pulau Panambungan yang berkelanjutan dan berbasis ekowisata.  Panambungan Island in Pangkajene and Islands Regency has considerable marine tourism potential, particularly in the form of white sandy beaches and marine recreational activities such as snorkeling. However, the development of this area still faces several problems, including limited accessibility, a suboptimal clean water supply, inadequate integrated waste management, and the absence of clear zoning. This study aims to analyze the condition and potential of the Panambungan Island tourism area, identify the factors influencing its spatial arrangement, and formulate sustainable tourism area planning directives based on ecotourism principles. This study employed a mixed-methods planning research approach. Data were collected through field observations, semi-structured interviews, questionnaires, and documentation. Data analysis was conducted both qualitatively and quantitatively using Importance-Performance Analysis (IPA), spatial analysis, and stakeholder analysis. The results of these analyses were then integrated to formulate area planning directives. The results show that Panambungan Island already has basic tourism-supporting facilities, such as a pier, accommodation, a prayer room, kitchen facilities, sanitation facilities, electricity supplied by generators, and clean water produced through seawater desalination. Nevertheless, waste management and clean water provision remain the main priorities for improvement. Spatial analysis indicates that land use in the tourism area remains mixed and not yet optimally organized, necessitating a more structured zoning arrangement. Therefore, the proposed planning directives focus on improving waste management systems, optimizing clean water supply, organizing spatial zoning, enhancing supporting infrastructure quality, and strengthening coordination among stakeholders. These measures are expected to support the sustainable and ecotourism-based development of the Panambungan Island tourism area.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Dalam Gejala Urban Sprawl Di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo: Studi Kasus Daerah Pesisir Sungai Wallannae Wahyu Wahyu; Syafri Syafri; Muhammad Awaluddin Hamdy
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.9037

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak implementasi rencana tata ruang terhadap perubahan struktur ruang berbasis Production–Living–Ecological Space (PLES), nilai jasa ekosistem (Ecosystem Service Value/ESV), dan cadangan karbon, serta merumuskan strategi optimisasi pemanfaatan ruang di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Matabe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif spasial berbasis sistem sosial-ekologis melalui analisis evaluatif-diagnostik dan analisis trade-off. Data diperoleh dari peta penggunaan lahan dan dokumen perencanaan, kemudian diklasifikasikan ke dalam PLES. Nilai jasa ekosistem dihitung menggunakan pendekatan Costanza, sementara cadangan karbon diestimasi berdasarkan koefisien IPCC. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ruang produksi sebesar 107% dan penurunan ruang ekologis sebesar 58%, yang berdampak pada penurunan ESV sebesar 58% dan cadangan karbon sebesar 50%. Perubahan ini menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan struktural serta konflik antara fungsi ekonomi dan ekologis yang berada pada kondisi non-Pareto optimal. Penelitian ini merekomendasikan strategi optimisasi berbasis zonasi yang mencakup zona lindung, zona transisi, dan zona produksi sebagai pendekatan untuk menjaga keseimbangan sistem sosial–ekologis. Temuan ini memberikan kontribusi dalam pengembangan perencanaan tata ruang berbasis nilai ekologis serta menjadi dasar pengambilan kebijakan pembangunan kawasan yang berkelanjutan. This study aims to evaluate the impact of spatial planning implementation on land-use structure based on the Production–Living–Ecological Space (PLES) framework, ecosystem service value (ESV), and carbon storage, and to formulate an optimized land-use strategy in the Matabe Special Economic Zone (SEZ). A spatial quantitative approach within a social–ecological system framework was applied using evaluative-diagnostic and trade-off analysis. Land-use data were derived from planning documents and classified into PLES categories. Ecosystem service values were estimated using the Costanza approach, and carbon storage was calculated using IPCC coefficients. The results reveal a 107% increase in production space and a 58% decrease in ecological space, leading to a 58% decline in ESV and a 50% reduction in carbon storage. These findings indicate a structural imbalance and a strong trade-off between economic expansion and ecological sustainability, reflecting a non-Pareto optimal condition. This study proposes a zoning-based spatial optimization strategy that includes conservation, transition, and production zones to balance socio-ecological systems. The findings contribute to spatial planning by integrating ecological valuation into land-use decision-making and provide an evidence-based framework for sustainable regional development.