cover
Contact Name
Sutia Budi
Contact Email
ursj.jurnal@universitasbosowa.ac.id
Phone
+62411-452901
Journal Mail Official
ubpostgradjournal@gmail.com
Editorial Address
Alamat Redaksi: Program PascaSarjana Universitas Bosowa Jl. Urip Sumoharjo KM.4 Makassar 90231 Telp. (0411) 452901 - 452789, Fax. (0411) 424568 Email : ubpostgradjournal@gmail.com
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Urban and Regional Studies Journal
Published by Universitas Bosowa
ISSN : -     EISSN : 26568705     DOI : https://doi.org/10.35965/ursj.v3i2
Urban and Regional Studies Journal menerbitkan artikel yang pada bidang perencanaan pengembangan wilayah, perencanaan kota, perkotaan, infrastruktur, transportasi, dan kawasan perdesaan.
Articles 193 Documents
Representasi Kota Dalam Perspektif Generasi Z Di Kota Kendari Aziz Syahban; Erwin Amri; Apriana Toding
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7629

Abstract

Penelitian ini menyoroti bagaimana Generasi Z merepresentasikan Kota Kendari melalui dua ranah, dimensi fisik dan digital. Fokus analisis diarahkan pada pengaruh karakteristik demografi, pengalaman berinteraksi dengan kota, serta pemanfaatan teknologi digital. Pendekatan penelitian yang digunakan bersifat kuantitatif dengan desain eksplanatif. Data diperoleh dari survei terhadap 136 responden Generasi Z, yang terdiri atas pelajar SMA, mahasiswa, dan pekerja muda, dengan teknik pengambilan sampel acak. Proses analisis dilakukan menggunakan model regresi linear berganda dan path analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi fisik kota terutama ditunjukkan melalui keberadaan landmark seperti Masjid Agung Al Alam, Jembatan Bahteramas. Sebaliknya, representasi digital terbentuk kuat melalui aktivitas media sosial. Faktor demografi terbukti berpengaruh signifikan terhadap representasi fisik, sementara pengalaman kota tidak memberikan pengaruh. Di sisi lain, penggunaan teknologi digital memiliki peran dominan dalam membangun representasi baik fisik maupun digital. Temuan ini menegaskan adanya pergeseran paradigma representasi perkotaan di era digital, di mana identitas kota terbentuk dari keterkaitan antara ruang nyata dengan ruang digital. This study highlights how Generation Z represents Kendari City through two domains: the physical and digital dimensions. The analysis focuses on the influence of demographic characteristics, experiences interacting with the city, and the use of digital technology. The research approach used is quantitative with an explanatory design. Data were obtained from a survey of 136 Generation Z respondents, consisting of high school students, university students, and young workers, using a random sampling technique. The analysis process was conducted using multiple linear regression models and path analysis. The results show that the physical representation of the city is primarily demonstrated through the presence of landmarks such as the Al Alam Grand Mosque and the Bahteramas Bridge. In contrast, digital representation is strongly formed through social media activity. Demographic factors are proven to have a significant influence on physical representation, while city experience has no effect. On the other hand, the use of digital technology plays a dominant role in constructing both physical and digital representations. These findings confirm a paradigm shift in urban representation in the digital era, where city identity is formed from the relationship between real and digital spaces.
Pengaruh Pariwisata Bahari Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Kabupaten Nabire: Studi Kasus: Wisata Pantai Gedo Banne, Yulius; Saleh, Haeruddin; Djahid, Jamaluddin
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7630

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengembangan pariwisata bahari terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dengan studi kasus pada kawasan wisata Pantai Gedo, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Kajian ini dilatarbelakangi oleh potensi besar Pantai Gedo sebagai destinasi wisata bahari yang belum memberikan kontribusi optimal terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods yang menggabungkan analisis kuantitatif dengan model Structural Equation Modeling (SEM) serta wawancara mendalam untuk memperoleh pemahaman holistik terhadap fenomena sosialekonomi di kawasan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel jumlah kunjungan wisatawan, investasi di sektor pariwisata, dan jumlah usaha wisata memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan PAD Kabupaten Nabire. Selain itu, ditemukan bahwa partisipasi masyarakat lokal, dukungan pemerintah daerah, dan kualitas infrastruktur merupakan faktor kunci yang memperkuat hubungan antara pengembangan wisata dan pertumbuhan ekonomi wilayah. Namun demikian, masih terdapat sejumlah kendala seperti lemahnya tata kelola destinasi, keterbatasan anggaran, dan rendahnya promosi wisata yang menghambat optimalisasi potensi pariwisata bahari. Implikasi kebijakan dari penelitian ini menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan berbasis potensi lokal. Penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan infrastruktur dan promosi destinasi menjadi strategi utama untuk mewujudkan kontribusi nyata pariwisata bahari terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Kabupaten Nabire. This study aims to analyze the influence of marine tourism development on regional economic growth, with a case study of Gedo Beach, Nabire Regency, Central Papua Province. The research is motivated by the substantial potential of Gedo Beach as a marine tourism destination that has yet to make an optimal contribution to increasing local revenue and improving community welfare. A mixedmethods approach was applied, combining quantitative analysis through Structural Equation Modeling (SEM) and qualitative interviews to provide a comprehensive understanding of the socioeconomic dynamics in the study area. The results reveal that the number of tourist visits, tourism investment, and the growth of tourismrelated businesses have a positive and significant impact on the increase of local government revenue (PAD). Moreover, local community participation, government support, and infrastructure quality are identified as key factors that strengthen the relationship between tourism development and regional economic growth. Nevertheless, several challenges remain, including weak destination management, limited budgets, and inadequate tourism promotion. The study concludes that sustainable tourism management requires strong collaboration between local government, communities, and business actors. Policy implications highlight the need for institutional strengthening, human resource capacity development, and infrastructure improvement to ensure that marine tourism contributes effectively to inclusive and sustainable economic growth in Nabire Regency.
Strategi Peningkatan Partisipasi Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Kawasan Wisata Berkelanjutan Di Pantai Gedo Kabupaten Nabire Mustakdir Mustakdir; Syamsul Bahri; Jamaluddin Djahid
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7631

Abstract

Pariwisata berkelanjutan merupakan paradigma pembangunan yang mengintegrasikan tiga pilar utama: ekonomi, sosialbudaya, dan lingkungan hidup. Namun, pada kawasan Pantai Gedo di Kabupaten Nabire, partisipasi masyarakat adat masih rendah dalam pengelolaan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktorfaktor yang memengaruhi tingkat partisipasi masyarakat adat dan merumuskan strategi peningkatan partisipasi mereka dalam pengelolaan kawasan wisata berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed methods, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, kuesioner, dan wawancara dengan masyarakat serta pemangku kepentingan. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan antar variabel, serta analisis SWOT untuk merumuskan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kepercayaan terhadap pengelola, dukungan kelembagaan, dan pengetahuan lokal merupakan determinan utama partisipasi masyarakat adat. Strategi yang direkomendasikan adalah memperkuat kelembagaan adat dalam tata kelola wisata, meningkatkan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan pelatihan, serta membangun mekanisme kolaboratif antara pemerintah dan komunitas adat. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan model pengelolaan wisata berkelanjutan berbasis masyarakat adat di Papua. Sustainable tourism represents a development paradigm that integrates three main pillars: economic, sociocultural, and environmental. However, in Gedo Beach, Nabire Regency, the participation of indigenous communities in tourism management remains low. This study aims to analyze the factors influencing indigenous community participation and to formulate strategies to enhance their involvement in sustainable tourism area management. The research employs a mixedmethod approach combining quantitative and qualitative methods. Data were collected through observation, questionnaires, and interviews with local communities and stakeholders. Data analysis used Structural Equation Modeling (SEM) to test variable relationships and SWOT analysis to determine strategic recommendations. The results show that trust in management, institutional support, and local knowledge are the dominant factors influencing participation. The main strategies proposed include strengthening indigenous institutions in tourism governance, enhancing community capacity through education and training, and fostering collaborative mechanisms between government and indigenous communities. These findings contribute to developing a sustainable tourism management model based on indigenous participation in Papua.
Strategi Penguatan Fungsi Dan Distribusi Ruang Terbuka Hijau Berbasis Spasial Dalam Perencanaan Tata Ruang Perkotaan Nabire Lamba, Naska; Aksa, Kamran; Amri, Erwin
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7632

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi eksisting RTH serta merumuskan strategi penguatan fungsi dan distribusi RTH berbasis spasial dalam mendukung perencanaan tata ruang Kota Nabire, Provinsi Papua Tengah. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan dukungan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengidentifikasi luasan, tipologi, dan distribusi RTH, serta analisis SWOT untuk merumuskan strategi penguatan fungsi ekologis, sosial, dan estetika RTH. Data penelitian diperoleh melalui observasi lapangan, telaah dokumen RTRW, dan wawancara dengan pemangku kepentingan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kuantitatif luas RTH di Kota Nabire telah memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, yaitu sekitar 30% dari total luas wilayah. Namun secara spasial, distribusinya belum merata dan masih terkonsentrasi di wilayah pusat kota, sementara kawasan permukiman padat dan pinggiran kota memiliki keterbatasan akses terhadap ruang hijau publik. Dari hasil analisis SWOT diperoleh strategi utama penguatan RTH, yaitu optimalisasi pemanfaatan lahan potensial melalui perencanaan spasial adaptif, peningkatan kualitas dan fasilitas RTH publik, integrasi RTH dalam kebijakan tata ruang, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan ruang hijau. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan pengelolaan RTH berbasis spasial merupakan strategi penting dalam mewujudkan kota Nabire yang berkelanjutan, berkeadilan spasial, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam pengambilan kebijakan pengelolaan ruang terbuka hijau yang terintegrasi dengan perencanaan tata ruang wilayah. This research aims to analyze the existing conditions of green open spaces and formulate strategies for strengthening the function and spatial distribution of green open spaces to support spatial planning in Nabire City, Central Papua Province. The method used is a descriptive qualitative approach supported by spatial analysis based on Geographic Information Systems (GIS) to identify the area, typology, and distribution of green open spaces (GOS), as well as SWAT analysis to formulate strategies for strengthening the ecological, social, and esthetic functions of GOS. Research data were obtained thru field observations, review of regional spatial planning documents, and interviews with relevant stakeholders. The research results show that quantitatively, the area of green open space in Nabire City has met the provisions of Law Number 26 of 2007, which is approximately 30% of the total area. However, spatially, its distribution is not yet even and is still concentrated in the central city area, while densely populated residential areas and the suburbs have limited access to public green spaces. From the SWAT analysis results, the main strategy for strengthening green open spaces was obtained, namely optimizing the utilization of potential land thru adaptive spatial planning, improving the quality and facilities of public green open spaces, integrating green open spaces into spatial planning policies, and strengthening collaboration between the government and the community in green space management. This research confirms that a spatial-based green space management approach is an important strategy for realizing a sustainable, spatially just, and environmentally adaptive city of Nabire. This finding is expected to serve as a reference for local governments in formulating policies for green open space management that are integrated with regional spatial planning.
Strategi Pengendalian Kawasan Permukiman Kumuh Di Perkotaan Nabire Provinsi Papua Tengah Berlin Batosau; Nasrullah Nasrullah; Rudi Latief
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7633

Abstract

Permasalahan permukiman kumuh di wilayah perkotaan merupakan isu multidimensi yang mencakup aspek fisik, sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Di Perkotaan Nabire, khususnya di Kawasan Pasar Kalibobo, tekanan urbanisasi yang tinggi, lemahnya tata kelola ruang, dan keterbatasan infrastruktur dasar telah memicu terbentuknya kawasan permukiman tidak layak huni. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya permukiman kumuh serta merumuskan strategi pengendalian yang kontekstual dan berkelanjutan sesuai dengan karakteristik lokal Nabire. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan dominasi pendekatan kuantitatif yang didukung oleh analisis kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan uji kontingensi untuk mengetahui hubungan antara faktor sosial-ekonomi, fisik-lingkungan, dan kelembagaan terhadap tingkat kekumuhan. Sedangkan analisis kualitatif menggunakan Analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengendalian berbasis kondisi internal dan eksternal kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek sosial-ekonomi (pendapatan, pendidikan, pekerjaan), aspek fisik-lingkungan (kualitas bangunan, drainase, sanitasi), serta aspek kelembagaan memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kekumuhan. Strategi pengendalian yang dihasilkan berfokus pada tiga prioritas utama, yaitu: (1) pencegahan, melalui penegakan rencana tata ruang dan pemberdayaan masyarakat; (2) peningkatan kualitas lingkungan, melalui perbaikan infrastruktur dasar secara partisipatif; dan (3) penguatan kelembagaan, dengan peningkatan kapasitas pemerintah daerah serta pelibatan masyarakat dalam seluruh tahapan perencanaan dan implementasi. Strategi ini sejalan dengan pendekatan slum upgrading terpadu yang direkomendasikan oleh UN-Habitat (2015), serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-11, yaitu mewujudkan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. The problem of slum settlements in urban areas is a multidimensional issue that encompasses physical, social, economic, and institutional aspects. In Nabire City, particularly in the Kalibobo Market area, high urbanization pressure, weak spatial governance, and limited basic infrastructure have led to the formation of uninhabitable residential areas. This research aims to identify the factors influencing the formation of slums and to formulate contextual and sustainable control strategies in accordance with the local characteristics of Nabire. This research uses a mixed methods approach, with a dominance of quantitative methods supported by qualitative analysis. Quantitative analysis was conducted using Chi-Square tests and contingency tables to determine the relationship between socio-economic, physical-environmental, and institutional factors and the level of slum conditions. Qualitative analysis, on the other hand, used SWAT analysis to formulate control strategies based on the internal and external conditions of the area. The research findings indicate that socio-economic aspects (income, education, employment), physical-environmental aspects (building quality, drainage, sanitation), and institutional aspects have a significant influence on the level of slum conditions. The resulting control strategy focuses on three main priorities: (1) prevention, thru the enforcement of spatial planning regulations and community empowerment; (2) improving environmental quality, by participatory improvement of basic infrastructure; and (3) strengthening institutions, by increasing the capacity of local governments and involving the community in all stages of planning and implementation. This strategy aligns with the integrated slum upgrading approach recommended by UN-Habitat (2015), and supports the achievement of Sustainable Development Goal (SDG) 11, which is to make cities and human settlements inclusive, safe, resilient, and sustainable.
Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Di Kampung Bumi Raya, Distrik Nabire Barat Kabupaten Nabire Angka Budhi; Batara Surya; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7634

Abstract

Alih fungsi lahan pertanian menjadi penggunaan non-pertanian merupakan fenomena yang semakin mengkhawatirkan, terutama di wilayah agraris yang berada dalam tekanan pembangunan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab alih fungsi lahan pertanian dan merumuskan strategi pengendaliannya di Kampung Bumi Raya, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan kombinasi analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan melalui uji Chi-Square dan koefisien kontingensi untuk mengukur pengaruh faktor ekonomi dan sosial terhadap alih fungsi lahan, sedangkan analisis kualitatif digunakan dalam perumusan strategi melalui pendekatan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi memiliki pengaruh paling dominan terhadap alih fungsi lahan dengan nilai Chi-Square sebesar 95,77 dan koefisien kontingensi 0,70 (kategori kuat), sedangkan faktor sosial juga berpengaruh signifikan dengan nilai Chi-Square 31,09 dan koefisien kontingensi 0,49 (kategori sedang). Analisis SWOT menempatkan posisi strategi pengendalian pada Kuadran III (Weakness–Threats), sehingga strategi yang direkomendasikan adalah defensive strategy (WT). Strategi ini berfokus pada penguatan sistem pengawasan partisipatif berbasis masyarakat, pemberian insentif dan disinsentif yang konsisten, serta revisi dan penegakan peraturan zonasi yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa pengendalian alih fungsi lahan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan regulatif, tetapi perlu diintegrasikan dengan pendekatan sosial dan kelembagaan partisipatif untuk mewujudkan perlindungan lahan pertanian yang berkelanjutan di tingkat lokal. The conversion of agricultural land to non-agricultural uses is an increasingly worrying phenomenon, especially in agrarian regions under pressure from spatial development. This research aims to identify the factors causing the conversion of agricultural land and formulate strategies for its control in Kampung Bumi Raya, Nabire Barat District, Nabire Regency. The research used a mixed methods approach, combining quantitative and qualitative analysis. Quantitative analysis was conducted using the Chi-Square test and contingency coefficient to measure the influence of economic and social factors on land conversion, while qualitative analysis was used in formulating strategies thru the SWAT approach. The research results showed that economic factors had the most dominant influence on land conversion, with a Chi-Square value of 95.77 and a contingency coefficient of 0.70 (strong category), while social factors also had a significant influence with a Chi-Square value of 31.09 and a contingency coefficient of 0.49 (moderate category). The SWAT analysis places the strategic control position in Quadrant III (Weakness–Threats), so the recommended strategy is a defensive strategy (WT). This strategy focuses on strengthening community-based participatory monitoring systems, providing consistent incentives and disincentives, and revising and enforcing zoning regulations that are more adaptable to local conditions. This research confirms that controlling the conversion of agricultural land use is not sufficient by relying solely on a regulatory approach; it needs to be integrated with participatory social and institutional approaches to achieve sustainable agricultural land protection at the local level.
Pengaruh Nilai Tanah Terhadap Rencana Detail Tata Ruang Di Kawasan Emas Garongkong Kabupaten Barru Mohammad Reza Rahman; Baso Jaya; Rudi Latief
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7645

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi berbagai pihak, seperti investor, pengembang, pemerintah, dan masyarakat lokal. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengembangan kawasan yang berkelanjutan dan adil, serta melindungi kepentingan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dan kualitatif deskriptif dengan pendekatan regresi berganda unuk menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi nilai tanah. Selain itu, analisisi SWOT digunakan untuk merumuskan strategi pengembangan misi, tujuan, dan kebijakan pemerintah. Penelitian ini merekomendasikan beberapa strategi terhadap keberlajutan Rencana Detil Tata Ruang antara lain penerapan kajian lingkungan hidup strategis, penegakan AMDAL, pengawasan berkelanjutan dan perlindungan akses lahan masyarakat lokal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mejadi acuan bagi pemerintah daerah, Masyarakat dan sektor swasta dalam merancang kebijakan dan keberlanjutan Pembangunan dan insfrastruk di Kawasan Emas Garongkong Kabupaten Barru. This research aims to provide useful information for various parties, such as investors, developers, the government, and the local community. This information can be used to support sustainable and equitable area development, as well as to protect community interests. The research methods used are descriptive quantitative and descriptive qualitative with a multiple regression approach to analyze the factors influencing land value. In addition, SWOT analysis is used to formulate development strategies for the mission, goals, and government policies. This study recommends several strategies for the sustainability of the Detailed Spatial Plan, including the implementation of strategic environmental assessments, enforcement of AMDAL (Environmental Impact Analysis), continuous supervision, and protection of local community land access. The results of this research are expected to serve as a reference for local governments, communities, and the private sector in designing policies and sustainability of development and infrastructure in the Garongkong Gold Area, Barru Regency.
Pengendalian Terhadap Densifikasi Permukiman Sebagai Akibat Terjadinya Urban Sprawl Di Wilayah Peri Urban Kota Bulukumba Riska Ramadhani Basman; Rudi Latief; Nasrullah Nasrullah
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh urban sprawl terhadap densifikasi permukiman di wilayah peri-urban Kota Bulukumba serta mengidentifikasi  strategi pengendaliannya. Pendekatan penelitian  yang digunakan adalah mixed methods, dengan analisis kuantitatif melalui uji statistik dan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam serta studi kebijakan tata ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urban sprawl memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap densifikasi permukiman  (koefisien  regresi  -1,974; sig =  0,001). Artinya,  semakin  tinggi tingkat penyebaran  pembangunan horizontal, semakin rendah tingkat kepadatan permukiman di wilayah peri-urban. Fenomena ini diperparah oleh lemahnya implementasi kebijakan tata ruang, maraknya konversi lahan pertanian, dan minimnya infrastruktur dasar. Strategi pengendalian yang direkomendasikan  meliputi  penguatan   RTRW/RDTR  berbasis  prinsip  smart  growth,  penerapan  konsep  compact  city, pengawasan  konversi  lahan  produktif,  serta  pemberian  insentif  bagi  pembangunan  vertikal  di  pusat  kota.  Temuan  ini menegaskan pentingnya integrasi antara kebijakan tata ruang, pembangunan berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat untuk mencegah munculnya kawasan padat tidak terencana di wilayah peri-urban Bulukumba. This study aims to analyze the effect of urban sprawl on residential densification in the peri-urban area of Bulukumba City and to identify appropriate control strategies. A mixed-methods approach was employed, combining quantitative statistical analysis with qualitative assessments through interviews and spatial planning policy reviews. The results reveal that urban sprawl has a negative and significant influence on residential densification (regression coefficient = -1.974; p = 0.001). This indicates that greater horizontal expansion of urban development corresponds to lower housing density in peri-urban areas. The phenomenon is exacerbated by weak spatial policy enforcement, extensive land conversion from agriculture, and insufficient basic infrastructure. Recommended control strategies include strengthening spatial planning instruments (RTRW/RDTR) based on smart growth and compact city principles, regulating land conversion, and providing incentives or vertical housing development in city centers.  The findings highlight the necessity of integrating spatial planning policies, sustainable development principles, and community participation to prevent the emergence of unplanned dense settlements in Bulukumba’s peri-urban zones.
Analisis Tingkat Kerentanan, Adaptasi Dan Strategi Pengendalian Banjir Rob Kota Bontang Agetha, Noni; Manaf, Murshal; Salim, Agus
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7654

Abstract

Banjir rob di wilayah pesisir Kota Bontang merupakan ancaman berulang yang berdampak pada keberlanjutan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir Kota Bontang. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat kerentanan kawasan pesisir terhadap banjir rob menguji pengaruhnya terhadap pola adaptasi masyarakat, serta merumuskan strategi dan program adaptif untuk penanggulangan banjir yang efektif. Tingkat kerentanan kawasan pesisir diukur dengan metode Coastal Vulnerability Index (CVI) dengan parameter pasang surut rata-rata, tinggi gelombang, kemiringan pantai, perubahan garis pantai, geomorfologi dan ketinggian permukaan tanah yang diukur. Selanjutnya, pola adaptasi yang telah dilakukan masyarakat di enam kelurahan pesisir dianalisis melalui survei persepsi. Analisis ini juga menelaah pengaruh ketersediaan sarana dan infrastruktur terhadap tingkat adaptasi masyarakat. Penelitian ini sekaligus merumuskan strategi penanggulangan banjir rob secara komprehensif, berdasarkan integrasi analisis kerentanan fisik, pola adaptasi masyarakat, dan ketersediaan infrastruktur. Program strategis yang dihasilkan dirumuskan secara spesifik setiap kelurahan untuk memastikan implementasi yang tepat sasaran. Tidal flooding (known locally as banjir rob) in the coastal area of Bontang City represents a recurring threat that significantly impacts the socio-economic sustainability of the coastal community. This study was conducted to analyze the level of coastal vulnerability to tidal flooding, examine its influence on community adaptation patterns, and subsequently formulate effective strategies and programs for flood mitigation and adaptation. The coastal vulnerability level was measured using the Coastal Vulnerability Index (CVI) method, incorporating measured physical parameters such as mean tide range, wave height, shore slope, shoreline change, geomorphology, and ground surface elevation. Furthermore, existing community adaptation patterns across six coastal sub-districts were analyzed through a perception survey.. The research ultimately formulates a comprehensive tidal flood adaptation and mitigation strategy based on the integration of physical vulnerability analysis, community adaptation patterns, and tidal flood control infrastructure availability. The resulting strategic programs are designed specifically for each sub-district to ensure targeted and effective implementation.
Percepatan Pemetaan Bidang Tanah Pada Program PTSL Dengan Menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV)/Pesawat Nirawak Di Kabupaten Jeneponto Salim, M. Fikri Hasymi; Syafri, Syafri; Jaya, Baso
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7660

Abstract

Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) membutuhkan metode pemetaan yang efisien dan akurat untuk mempercepat proses legalisasi aset masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV)/pesawat nirawak dalam pemetaan bidang tanah sebagai alternatif terhadap metode ekstraterestris konvensional. Studi kasus dilakukan di Kabupaten Jeneponto, dengan membandingkan hasil deliniasi UAV terhadap data referensi dari metode ekstraterestris pada empat jenis tutupan lahan: permukiman, sawah, kebun, dan empang. Metode yang digunakan meliputi analisis kuantitatif terhadap akurasi luas bidang (dengan batas toleransi ±0,5L), efisiensi waktu, biaya, dan personil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UAV mampu mempercepat proses pemetaan hingga 5 kali lebih cepat dibanding metode ekstraterestris, dengan rata-rata waktu 7,7 menit per bidang. Dari segi biaya, UAV memberikan efisiensi sebesar 77,1% pada seluruh jenis lahan. Ketelitian hasil pemetaan UAV juga cukup tinggi, terutama pada lahan sawah (83,33% bidang sesuai toleransi) dan permukiman (80,56%), sedangkan lahan kebun menunjukkan tingkat ketelitian rendah (hanya 9,38% bidang sesuai toleransi) karena batas bidang sulit diidentifikasi dari udara. Kesimpulannya, UAV merupakan teknologi yang efektif untuk percepatan pemetaan dalam program PTSL, terutama pada area terbuka seperti sawah dan empang. Namun, diperlukan mitigasi terhadap kendala seperti cuaca buruk dan keterbatasan SDM melalui pelatihan teknis dan perencanaan operasional yang tepat. The Complete Systematic Land Registration Program (PTSL) requires efficient and accurate mapping methods to accelerate the process of land legalization for the community. This study aims to analyze the effectiveness of using Unmanned Aerial Vehicles (UAVs) as an alternative to conventional terrestrial methods for land parcel mapping. A case study was conducted in Jeneponto Regency by comparing UAV-based parcel delineation results with reference data from terrestrial methods across four land use types: residential, rice fields, plantations, and fishponds. The research employed quantitative analysis to assess area accuracy (with a tolerance threshold of ±0.5L), time efficiency, cost, and manpower. Results show that UAVs can accelerate the mapping process up to five times faster than terrestrial methods, with an average of 7.7 minutes per parcel. In terms of cost, UAV implementation yielded a 77.1% efficiency across all land types. The accuracy of UAV mapping was notably high in open areas, particularly rice fields (83.33% parcels within tolerance) and residential areas (80.56%), while plantation areas showed lower accuracy (only 9.38% within tolerance) due to unclear boundaries in aerial imagery. In conclusion, UAVs are an effective technology for accelerating mapping activities in the PTSL program, especially in open and unobstructed terrain. However, challenges such as weather conditions and technical capacity need to be addressed through training and strategic operational planning.