cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
ISSN : 2775717X     EISSN : 27757188     DOI : 10.51878
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan keguruan dan ilmu pendidikan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 624 Documents
HUBUNGAN PENGGUNAAN GAME ONLINE DENGAN PENGGUNAAN BAHASA TIDAK SESUAI USIA ANAK 4–6 TAHUN DI TK IT AS-SALAM KOTA MALANG Sabrina Aulia Nabila; Usep Kustiawan
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15899

Abstract

Rapid advances in digital technology have exposed young children to various types of online games, including those actually designed for older age groups. Exposure to online games is thought to influence the use of language that is inappropriate for a child’s age, given that children aged 4–6 years are in a stage of imitating and absorbing linguistic stimuli from their surroundings, including from digital games. This study aims to analyze the relationship between online game use and age-inappropriate language use among 4–6-year-old children at As-Salam Islamic Kindergarten in Malang based on parental perceptions. The study employed a quantitative correlational approach using purposive sampling of 73 parents as respondents. Data were collected via a Likert-scale questionnaire that had been tested for validity and reliability, then analyzed using normality tests, linearity tests, and Pearson’s product-moment correlation using SPSS. The results showed that the data were normally distributed and that the relationship between variables was linear. The Pearson correlation test yielded a correlation coefficient of 0.798 with a significance level of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant, strong, and unidirectional (positive) relationship between online gaming and the use of language inappropriate for the child’s age. The higher the intensity and age-inappropriateness of the games children played, the higher the change scores on the measured indicators of age-inappropriate language use. These findings underscore the importance of parental supervision and collaboration with educators in selecting game content appropriate for children’s developmental stages to support optimal language development. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat telah mendekatkan anak usia dini pada berbagai jenis permainan daring, termasuk permainan yang sebenarnya dirancang untuk kelompok usia yang lebih tua. Paparan terhadap game online diduga dapat memengaruhi penggunaan bahasa tidak sesuai usia anak, mengingat anak usia 4–6 tahun berada pada tahap meniru dan menyerap rangsangan bahasa dari lingkungan sekitarnya, termasuk dari permainan digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara penggunaan game online dengan penggunaan bahasa tidak sesuai usia pada anak usia 4–6 tahun di TK IT As-Salam Kota Malang berdasarkan persepsi orang tua. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling terhadap 73 orang tua sebagai responden. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas, uji linearitas, dan korelasi Pearson Product Moment berbantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan hubungan antarvariabel bersifat linear. Uji korelasi Pearson menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,798 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan, kuat, dan searah (positif) antara penggunaan game online dengan penggunaan bahasa tidak sesuai usia anak. Semakin tinggi intensitas dan ketidaksesuaian usia game yang dimainkan anak, semakin tinggi pula skor perubahan pada indikator penggunaan bahasa tidak sesuai usia yang diukur. Temuan ini menegaskan pentingnya pengawasan orang tua dan kolaborasi dengan pendidik dalam memilih konten game yang sesuai dengan tahap perkembangan anak guna mendukung perkembangan bahasa yang optimal.    
PENGARUH PERMAINAN OLAHRAGA TRADISIONAL TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PJOK SISWA KELAS IV SD NEGERI 067259 MEDAN Rut Damayanthy Perangin-angin; Joen Parningotan Purba; Paska Sriulina Tarigan
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15900

Abstract

Low student learning motivation in Physical Education, Sports, and Health (PJOK) often stems from rigid conventional instructional methods that lack engaging movement variations. This condition causes students to remain passive and less enthusiastic during field-based learning sessions. This study aimed to analyze the effect of traditional sports games on the PJOK learning motivation of fourth-grade students at SD Negeri 067259 Medan Johor in the 2025/2026 academic year. A quantitative approach employing a pre-experimental one-group pretest-posttest design was utilized. The research population included all fourth-grade students, with a sample of 27 students from class IV-B selected through a saturated sampling technique. Learning motivation data were gathered using a validated and reliable Likert-scale questionnaire, subsequently analyzed via normality testing and paired sample t-tests assisted by SPSS version 26. Descriptive analysis indicated an increase in the mean learning motivation score from 67.11 on the pre-test to 82.48 on the post-test evaluation. Hypothesis testing revealed a calculated t-value of 4.760, exceeding the t-table value of 1.705 at a 0.05 significance level with a p-value of 0.000 < 0.05, thereby confirming the acceptance of the alternative hypothesis (Ha). This study concludes that traditional sports games exert a positive and significant effect on primary school students' PJOK learning motivation. Consequently, traditional game-based learning models serve as innovative pedagogical alternatives to foster active, recreational, and meaningful movement learning environments. ABSTRAK Rendahnya motivasi belajar peserta didik dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) sering kali berakar pada metode instruksional konvensional yang kaku dan minim variasi gerak yang menyenangkan. Keadaan ini menyebabkan peserta didik bersikap pasif serta kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan permainan olahraga tradisional terhadap motivasi belajar PJOK siswa kelas IV SD Negeri 067259 Medan Johor Tahun Pembelajaran 2025/2026. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pre-experimental tipe one group pretest-posttest design. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas IV, dengan sampel penelitian berjumlah 27 siswa kelas IV-B yang diambil menggunakan teknik sampling jenuh. Data motivasi belajar dikumpulkan menggunakan instrumen angket skala Likert yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis paired sample t-test berbantuan program SPSS versi 26. Hasil analisis deskriptif menunjukkan peningkatan skor rata-rata motivasi belajar dari 67,11 pada saat pre-test menjadi 82,48 pada pengukuran post-test. Pengujian hipotesis menghasilkan nilai t_"hitung"  sebesar 4,760 yang melampaui t_"tabel"  sebesar 1,705 pada taraf signifikansi 0,05 dengan nilai signifikansi 0,000<0,05, sehingga hipotesis alternatif (H_a) diterima. Simpulan dari penelitian ini membuktikan bahwa permainan olahraga tradisional berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar PJOK siswa sekolah dasar. Implikasinya, model pembelajaran berbasis permainan tradisional dapat dijadikan strategi pedagogis inovatif dalam menciptakan atmosfer belajar gerak yang aktif, rekreatif, dan bermakna.    
PENERAPAN BUKU CERITA BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA TEKS NARASI PESERTA DIDIK KELAS III UPTD SD NEGERI 076095 HILIDAURA Artamefia Kristiani Daeli; Otilina Gulo; Indah Wijaya Lase; Noveri Amal Jaya Harefa
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15901

Abstract

Reading narrative text is a foundational literacy skill that elementary school students must master to acquire broader academic knowledge. However, third-grade students at UPTD SD Negeri 076095 Hilidaura experienced difficulties in comprehending narrative reading texts comprehensively. The low initial mastery prior to the intervention was triggered by the scarcity of contextual learning resources and the absence of interactive visual media in instructional activities. This study aims to improve students' narrative text reading ability through the implementation of picture storybooks. This research is a Classroom Action Research (CAR) adapting the Kemmis and McTaggart model conducted in two cycles, comprising planning, action, observation, and reflection stages. The subjects were 27 third-grade students in the 2025/2026 academic year. Data collection techniques utilized classroom observation rubrics and reading comprehension tests. The findings revealed that the class average score improved progressively from 48.33 in the pre-cycle (22.22% mastery), to 64.18 in Cycle I (55.55% mastery), and reached 81.00 in Cycle II (88.89% mastery). Students' learning engagement also rose remarkably from 57.28% in Cycle I to 97.16% in Cycle II. Therefore, the implementation of picture storybooks is empirically proven to enhance the narrative text reading ability of third-grade elementary school students.   ABSTRAK Kemampuan membaca teks narasi merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik di sekolah dasar sebagai fondasi pemerolehan pengetahuan. Namun kenyataannya, peserta didik kelas III UPTD SD Negeri 076095 Hilidaura mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan naratif secara komprehensif. Rendahnya ketuntasan belajar pra-tindakan dipicu oleh minimnya bahan ajar kontekstual dan belum digunakannya media visual interaktif di kelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca teks narasi peserta didik melalui penerapan buku cerita bergambar. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian mencakup 27 peserta didik kelas III tahun ajaran 2025/2026. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan tes membaca pemahaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kelas meningkat bertahap dari 48,33 pada pra-siklus (ketuntasan 22,22%), menjadi 64,18 pada siklus I (ketuntasan 55,55%), dan mencapai 81,00 pada siklus II (ketuntasan 88,89%). Aktivitas belajar peserta didik juga melonjak dari 57,28% pada siklus I menjadi 97,16% pada siklus II. Dengan demikian, penerapan buku cerita bergambar terbukti efektif meningkatkan kemampuan membaca teks narasi peserta didik kelas III sekolah dasar.  
MANAJEMEN SEKOLAH INKLUSIF: PRAKTIK BAIK DI SD FASTABIQUL KHAIRAT KOTA SAMARINDA Taufik Hidayat; Khusnul Khotimah; Makmun Makmun; Hety Diana Septika
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15902

Abstract

The implementation of inclusive education in elementary schools still faces various real obstacles, both in terms of policy implementation, teacher competency readiness, and infrastructure limitations. This study aims to analyze inclusive school management in a private elementary school implementing special educational services. This study utilized a descriptive qualitative approach with data collection techniques comprising in-depth interviews, participant observation, and documentation studies. The research subjects consisted of the School Principal, Inclusion Coordinator, 3 Class Teachers, and 3 Special Assistant Teachers (GPK). The results of the study show that: (1) at the planning stage, the school identifies the needs of Students with Special Educational Needs (PDBK) through initial diagnostic assessments as the foundation for designing Individualized Education Programs (IEP) and curriculum modifications; (2) at the implementation stage, instruction is carried out adaptively through differentiated learning strategies, varied instructional media, and co-teaching collaboration between class teachers and GPK; (3) at the supervision stage, regular monitoring is conducted to ensure consistency in instructional services; and (4) at the evaluation stage, functional developmental assessments and program reviews are conducted through semester evaluation meetings. In conclusion, inclusive school management at SD Fastabiqul Khairat Samarinda has operated in a structured and integrated manner by fulfilling all managerial functions oriented toward student needs. ABSTRAK Pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah dasar masih menghadapi berbagai hambatan nyata, baik pada tataran implementasi kebijakan, kesiapan kompetensi pendidik, maupun keterbatasan sarana prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen sekolah inklusif di sekolah dasar swasta yang menerapkan program layanan khusus. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui in-depth interview, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas Kepala Sekolah, Koordinator Inklusi, 3 orang Guru Kelas, serta 3 orang Guru Pendamping Khusus (GPK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pada tahap perencanaan, sekolah mengidentifikasi kebutuhan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) melalui asesmen awal sebagai dasar penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI) dan modifikasi kurikulum; (2) pada tahap pelaksanaan, pembelajaran berjalan adaptif melalui strategi diferensiasi, variasi media, serta kolaborasi co-teaching antara guru kelas dan GPK; (3) pada tahap pengawasan, pihak manajemen menjalankan pemantauan berkala guna memastikan kesesuaian target layanan; dan (4) pada tahap evaluasi, penilaian perkembangan fungsional dan peninjauan program dilakukan melalui rapat evaluasi semester. Dengan demikian, manajemen sekolah inklusi di SD Fastabiqul Khairat Kota Samarinda telah terlaksana secara terstruktur dan terpadu melalui pemenuhan seluruh fungsi manajerial yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik.  
MANAJEMEN BUDAYA SEKOLAH DALAM PENGUATAN TATA KELOLA PENDIDIKAN PADA RPOGRAM KEAHLIAN TEKNIK MEKANIK INDUSTRI DI SMK CIBITUNG 1 Nurrulaji Julianto; Acep Nurlaeli; Wahidin Wahidin
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15903

Abstract

The demand for quality graduates from Vocational High Schools (SMK) faces substantial challenges, notably institutional governance gaps and the weak integration of industrial values. This disparity reveals that vocational education governance has not been fully anchored in functionally integrated work culture cultivation. Consequently, this study aims to analyze school culture management in strengthening educational governance in the Industrial Mechanical Engineering (TMI) Expertise Program at SMK Cibitung 1 through planning, organizing, actuating, and controlling phases. A qualitative approach with a case study design was employed, gathering data through in-depth interviews, participatory observation, and documentation analysis. Data were analyzed interactively utilizing data condensation, data display, and conclusion drawing/verification. The findings demonstrate that school culture management is systematically executed through POAC functions by integrating religious values, discipline, occupational health and safety (OHS), and the 5S/5R culture. This management model reinforces vocational governance by improving stakeholder participation, coordination transparency, and institutional accountability. The study concludes that the structured internalization of industrial culture serves as a strategic managerial foundation for achieving high-quality vocational education governance. Practical implications highlight the indispensability of formal industrial partnerships and exemplary leadership in institutionalizing a sustainable quality culture within vocational schools. ABSTRAK Tuntutan kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menghadapi tantangan serius berupa kesenjangan tata kelola kelembagaan dan rendahnya integrasi nilai-nilai kerja industri. Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa tata kelola pendidikan vokasi belum sepenuhnya berlandaskan pada pembudayaan etos kerja yang terintegrasi secara fungsional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen budaya sekolah dalam penguatan tata kelola pendidikan pada Program Keahlian Teknik Mekanik Industri (TMI) di SMK Cibitung 1 melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta analisis dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan model kondensasi data, penyajian data, dan verifikasi simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen budaya sekolah dilaksanakan secara sistematis melalui fungsi planning, organizing, actuating, dan controlling yang mengintegrasikan nilai religius, kedisiplinan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin). Manajemen budaya sekolah terbukti memperkuat tata kelola pendidikan kejuruan melalui peningkatan partisipasi pemangku kepentingan, transparansi koordinasi, dan akuntabilitas kerja. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa internalisasi budaya industri yang terstruktur merupakan modal manajerial strategis dalam mewujudkan tata kelola kejuruan yang bermutu. Implikasi praktisnya menunjukkan pentingnya kemitraan industri formal dan keteladanan pimpinan dalam melembagakan budaya mutu di lingkungan sekolah kejuruan.  
ANALISIS GAYA BAHASA PERBANDINGAN DALAM BUKU KUMPULAN PUISI ”PIKNIK YANG MENYENANGKAN” KARYA HASTA INDRIYANA Sofiana Ina; Pilipus Wai Lawet; Sirilus Karolus Keropanama Keban
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15904

Abstract

The aesthetic potency and semantic depth of poetry rely heavily on the deliberate deployment of figurative language to encapsulate social realities and existential contemplation. The poetry collection "Piknik yang Menyenangkan" by Hasta Indriyana presents contemplative quotidian diction; however, comprehensive stylistic investigations focusing specifically on its comparative figurative language remain sparse. This study aims to describe the typologies, semantic structures, and aesthetic functions of comparative figurative devices within the poetry collection. A descriptive qualitative method rooted in a stylistic framework was employed, utilizing the poetic texts as the analytical corpus and linguistic data cards as the research instrument. The findings reveal the salient presence of three comparative figurative language categories: simile, metaphor, and personification. Similes explicitly elucidate the cramped spatial reality of human dwellings through overt comparative markers, metaphors analogize poetry as an instrument for recording subjective realities, and personifications animate abstract memories with tangible, chaotic human attributes. The systematic integration of these comparative devices underscores Hasta Indriyana's distinct poetic craftsmanship in transforming ordinary mundane encounters into profound, multifaceted existential reflections. ABSTRAK Kekuatan estetis dan kedalaman makna puisi sangat bertumpu pada ketepatan pilihan gaya bahasa figuratif yang digunakan oleh penyair untuk merekam realitas sosial serta pergolakan batinnya. Kumpulan puisi Piknik yang Menyenangkan karya Hasta Indriyana sarat akan ungkapan puitis keseharian yang kontemplatif, namun kajian stilistika yang membedah variasi gaya bahasa perbandingan di dalamnya masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis, struktur pemaknaan, dan fungsi estetis gaya bahasa perbandingan dalam buku kumpulan puisi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika, dengan subjek penelitian berupa teks-teks puisi dalam buku Piknik yang Menyenangkan dan instrumen berupa kartu data korpus kebahasaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya dominasi tiga variasi gaya bahasa perbandingan, yaitu simile, metafora, dan personifikasi. Simile dieksploitasi untuk memperjelas kemiripan fisik permukiman padat melalui kata pembanding eksplisit, metafora difungsikan untuk menganalogikan puisi sebagai peranti dokumentasi realitas batin, dan personifikasi menghidupkan entitas abstrak kenangan seolah memiliki tabiat ragawi. Pemanfaatan ragam gaya bahasa perbandingan ini mencerminkan kekhasan kepenyairan Hasta Indriyana dalam mentransformasikan peristiwa sehari-hari yang sederhana menjadi refleksi eksistensial yang padat dan bermakna.    
ANALISIS MAKNA SIMBOLIK TRADISI WETE WU’U PADA MASYARAKAT DESA RIANGKOTEK KECAMATAN LEWOLEMA Maria Yosephina Uni Aran; Yoakim Yolanda Mario Leu; Rikardus Pande Rikardus Pande
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15905

Abstract

Modernization and generational transitions pose significant risks to the preservation of agrarian oral traditions in the Lamaholot region, while empirical documentation addressing the philosophical essence of harvest rituals remains scarce. This situation demonstrates a conceptual gap between the ongoing mechanical performance of rituals and the profound appreciation of their underlying cultural values. This study aims to identify and describe the symbolic meanings embodied in the Wete Wu’u customary tradition among the community of Riangkotek Village, Lewolema District, East Flores Regency. A descriptive qualitative design was employed, grounded in the triadic semiotic framework of Charles Sanders Peirce. Data were collected through field observations, in-depth interviews with customary elders (ata klake), and documentary studies of ritual artifacts. The findings reveal that ritual paraphernalia operates as an integrated sign system linking representamen, objects, and interpretants. Eight primary material symbols convey fundamental existential values: wete (foxtail millet) represents food security and gratitude, elephant tusks signify lineage honor, gold chains and stones (kaka bapa) symbolize perseverance, chickens and sacrificial blood embody spiritual purification, candlenuts represent generative fertility, white feathers validate ritual sanctity, and traditional palm arak cements communal solidarity. In conclusion, the Wete Wu’u tradition represents the cosmological philosophy of the Riangkotek community, sustaining a sacred equilibrium among humanity, the natural cosmos, and ancestral spirits. ABSTRAK Modernisasi dan pergeseran generasi memicu ancaman kepunahan pemahaman terhadap tradisi lisan agraris di wilayah Lamaholot, sementara dokumentasi ilmiah mengenai nilai filosofis ritual panen masih sangat terbatas. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara keberlangsungan ritual fisik dan pemaknaan nilai luhur yang melandasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan makna simbolik yang terkandung dalam tradisi adat Wete Wu’u pada masyarakat Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka analisis semiotika model triadik (triangle of meaning) Charles Sanders Peirce. Data dihimpun melalui observasi langsung, wawancara mendalam bersama pemangku adat (ata klake), serta studi dokumentasi artefak ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entitas perlengkapan ritual berfungsi sebagai sistem tanda terpadu yang memadukan tanda (sign), objek (object), dan penafsir (interpretant). Delapan simbol material merefleksikan nilai-nilai fundamental, yaitu wete (jewawut) melambangkan ketahanan pangan dan rasa syukur, gading gajah melambangkan kehormatan trah, rantai emas dan batu (kaka bapa) menyimbolkan keteguhan hidup, ayam serta darah ayam merepresentasikan kurban penyucian spiritual, kemiri menandakan kesuburan regenerasi, bulu ayam putih menyimbolkan pengesahan sakral, dan tuak arak merekatkan ikatan kekerabatan sosial. Simpulan penelitian menegaskan bahwa tradisi Wete Wu’u merupakan representasi falsafah kosmologi masyarakat Riangkotek yang menjaga keselarasan sakral antara manusia, alam semesta, dan leluhur.    
GAYA BAHASA PERBANDINGAN DALAM SYAIR TARIAN SOLE OHA PADA MASYARAKAT DESA DANIBAO KECAMATAN ADONARA BARAT KABUPATEN FLORES TIMUR Louisa Anjelina Bulu; Yohakim Yolanda Mario Leu; Sirilus Karolus Keroponama Keban
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15907

Abstract

Oral traditions within the Lamaholot community currently face generational attrition and semantic dilution due to inadequate comprehensive linguistic-aesthetic documentation. Previous inquiries into oral performing arts have predominantly been restricted to broad ethnographic sketches without dissecting figurative tropes as repositories of ancestral philosophies. This condition underscores the critical necessity of a systematic inquiry into linguistic devices to safeguard local wisdom. This study aims to describe and analyze the forms and meanings of comparative language styles within the verses of the sole oha dance of the Danibao village community, West Adonara District, East Flores Regency. This investigation employed a descriptive qualitative method framed within literary stylistics. The research data comprised linguistic units including words, phrases, and verse lines elicited through observation, in-depth interviews with customary custodians (tukan orek), audio recording, transcriptive fieldnotes, and documentary review. The results indicate that the comparative language styles manifested in the sole oha verses encompass metaphor, personification, and euphemism, predominantly governed by personification which anthropomorphizes nature and communal brotherhood. These tropes serve to amplify poetic aestheticism while veiling sacred or taboo matters through reverent expressions. This study concludes that comparative language styles in sole oha constitute a symbolic representation of the Lamaholot philosophy emphasizing solidarity, cosmic harmony, and profound religiosity. This study contributes theoretically to advancing oral stylistic literature across the Indonesian archipelago and offers pedagogical implications for contextual instructional materials in regional language and literature education. ABSTRAK Tradisi lisan dalam masyarakat Lamaholot saat ini menghadapi ancaman pergeseran generasi dan degradasi pemaknaan akibat minimnya dokumentasi linguistik-estetik yang komprehensif. Selama ini, kajian terhadap seni pertunjukan lisan cenderung terbatas pada deskripsi etnografis umum tanpa membedah kekayaan gaya bahasa kiasan yang menjadi wadah transmisi nilai filosofis leluhur. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penyelidikan sistematis terhadap piranti kebahasaan guna menjaga kelestarian kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk serta makna gaya bahasa perbandingan dalam syair tarian sole oha pada masyarakat Desa Danibao, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka stilistika sastra. Data penelitian berupa satuan lingual berupa kata, frasa, dan larik syair yang dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat (tukan orek), perekaman, pencatatan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa perbandingan yang digunakan dalam syair sole oha meliputi metafora, personifikasi, dan eufemisme, dengan dominasi gaya bahasa personifikasi yang menginsani unsur alam dan rasa persaudaraan. Ketiga gaya bahasa tersebut berfungsi mengintensifkan keindahan puitik sekaligus menyamarkan hal-hal tabu melalui ungkapan penghormatan sakral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gaya bahasa perbandingan dalam sole oha merupakan representasi simbolik dari falsafah hidup masyarakat Lamaholot yang menjunjung tinggi persatuan, keharmonisan kosmis, dan religiositas. Penelitian ini berimplikasi secara teoretis pada pengayaan kajian stilistika tradisi lisan Nusantara serta berkontribusi praktis sebagai materi kontekstual dalam pembelajaran muatan lokal bahasa dan sastra daerah.    
ANALISIS FUNGSI DAN MAKNA TUTURAN RITUS ADAT BAU LOLON PADA PEMBANGUNAN LANGO BELE DI DESA HELANLANGOWUYO KECAMATAN ILE BOLENG Selviana Barek Sanga; Rikardus Pande; Sirilus Karolus Keroponama Keban
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15908

Abstract

The relentless currents of modernization and rapid social transformation threaten to erode younger generations' understanding of oral traditions, particularly sacred ritual speech embedded with local indigenous wisdom. This generational disconnect represents a critical empirical gap that jeopardizes cultural transmission within the Lamaholot community, underscoring the urgent need for systematic documentation and linguistic-cultural analysis. This study aims to analyze and describe the functions and meanings of ritual speech in the Bau Lolon customary rite during the construction of Lango Bele in Helanlangowuyo Village, Ile Boleng District, East Flores Regency. Employing a qualitative descriptive design, the data were examined through Roland Barthes' semiotic perspective. Primary data sources were gathered from key informants, including traditional customary leaders (tuan tana), clan elders, and community figures actively engaged in the rite, supplemented by authentic audio recordings of ritual speech (koda). The findings reveal that the Bau Lolon speech embodies seven core functions: ancestral veneration, supplication for protection, invocation of communal prosperity, symbolic delegation of labor, affirmation of Lango Bele's institutional centrality, summoning of ancestral spirits, and petitions for divine blessings coupled with social solidarity. Semiotically, the narratives operate across denotative, connotative, and mythical dimensions, reflecting a harmonious cosmology connecting humanity, the Supreme Being (Rera Wulan Tanah Ekan), ancestors, and nature. In conclusion, the Bau Lolon rite serves as an enduring pillar of cultural identity and collective solidarity that reinforces communal cohesion. ABSTRAK Arus modernisasi dan transformasi sosial berpotensi mengikis pemahaman generasi muda terhadap kekayaan tradisi lisan, khususnya tuturan ritual sakral yang sarat akan kearifan lokal. Fenomena degradasi pemaknaan ini menjadi kesenjangan nyata yang mengancam transmisi budaya masyarakat Lamaholot, sehingga dokumentasi dan kajian mendalam terhadap sastra lisan menjadi sangat mendesak untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan fungsi serta makna tuturan dalam ritus adat Bau Lolon pada tahapan pembangunan Lango Bele di Desa Helanlangowuyo, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta menerapkan pisau bedah semiotika Roland Barthes. Sumber data utama diperoleh dari informan kunci yang meliputi tokoh adat (tuan tana), tetua suku, dan pemuka masyarakat yang terlibat langsung dalam ritual, didukung dokumen rekaman tuturan adat (koda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan ritus Bau Lolon menjalankan tujuh fungsi utama, yaitu penghormatan kepada leluhur, permohonan perlindungan, permohonan kesejahteraan, penyerahan pekerjaan, penegasan kedudukan Lango Bele, pemanggilan leluhur, serta permohonan berkat dan solidaritas sosial. Dari perspektif semiotika, tuturan tersebut terstruktur atas makna denotatif, makna konotatif, dan mitos yang merefleksikan kosmologi sakral relasi harmonis manusia dengan Tuhan (Rera Wulan Tanah Ekan), leluhur, dan alam. Kesimpulannya, ritus Bau Lolon merupakan manifestasi identitas kultural dan pranata sosial kolektif yang berfungsi meneguhkan kohesi sosial masyarakat Lamaholot.  
SISTEM PREDIKSI NILAI AKHIR DAN PERINGKAT SISWA SMA PGRI LARANTUKA BERBASIS WEB DENGAN ALGORITMA DECISION TREE Mathias Alfian Kemeban Welan; Alfian Nara Weking; Dominikus Boli Watomakin
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15909

Abstract

Academic data management in secondary schools frequently encounters operational challenges such as processing delays and high risks of human error due to manual grade calculation. This study aims to design and implement a web-based academic information system capable of predicting cumulative final grades and automating student ranking determinations at SMA PGRI Larantuka utilizing the Regression Decision Tree algorithm. The system development methodology adopted the sequential Waterfall model, comprising requirement analysis, system architecture design, code implementation, verification testing, and operational maintenance. Empirical evaluation of the regression model using 36 historical student records (29 training sets and 7 test sets) indicated exceptional predictive precision, yielding a Mean Squared Error (MSE) of 3.15 and a coefficient of determination () of 0.88 (88%). Functional validation via Blackbox Testing achieved a 100% valid status across all test suites, while the User Acceptance Test (UAT) conducted with 28 educators and academic staff generated an approval rating of 93.14% (Very Good category). The empirical results substantiate that embedding the Regression Decision Tree algorithm within a web-based educational management system significantly improves computational efficiency, predictive accuracy, and procedural objectivity in secondary school academic assessments. ABSTRAK Pengelolaan data akademik di sekolah menengah sering kali masih menghadapi kendala keterlambatan dan potensi kesalahan manusia (human error) akibat rekapitulasi nilai yang dilakukan secara manual. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem informasi berbasis web yang mampu memprediksi nilai akhir serta menentukan peringkat siswa secara otomatis di SMA PGRI Larantuka menggunakan algoritma Pohon Keputusan Regresi (Regression Decision Tree). Metode pengembangan sistem mengadopsi model Waterfall, yang mencakup tahap analisis kebutuhan, perancangan, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Evaluasi model regresi berbasis 36 data akademik historis (29 data latih dan 7 data uji) menunjukkan performa yang sangat presisi dengan nilai Mean Squared Error (MSE) sebesar 3,15 dan koefisien determinasi () sebesar 0,88 (88%). Pengujian fungsionalitas menggunakan Blackbox Testing menghasilkan 100% status valid, sedangkan pengujian penerimaan pengguna (User Acceptance Test / UAT) terhadap 28 guru dan tenaga pendidik memperoleh persentase kelayakan sebesar 93,14% (kategori Sangat Baik). Hasil penelitian membuktikan bahwa penerapan algoritma Pohon Keputusan Regresi pada sistem E-Penilaian berbasis web mampu meningkatkan efisiensi, akurasi, dan objektivitas evaluasi akademik siswa secara terstruktur.