cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 58 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2025)" : 58 Documents clear
PENERAPAN TEKNIK TOKEN EKONOMI UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU ON-TASK PADA ANAK DENGAN PENCAPAIAN AKADEMIK RENDAH Aidina, Wenny; Salsabila, Syifa
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6087

Abstract

ABSTRACT On-task behavior is essential for children's academic success, as it promotes engagement and task completion within a specified time. Daily training of on-task behavior builds discipline, which contributes significantly to academic achievement. This study aimed to enhance on-task behavior in a child with low academic performance using the token economy technique. The participant was a 9-year-4-month-old girl who often avoided academic tasks, especially during home study sessions. A single case A-B design with a follow-up phase was used in this quantitative study. The intervention consisted of 11 sessions, each lasting one hour, with gradually increasing targets in both task quantity and accuracy. The token economy served as a positive reinforcement strategy—participants received star-shaped tokens upon achieving session targets, which were later exchanged for preferred rewards. Baseline data indicated the participant completed only 44.3% of tasks accurately within one hour. After the implementation of the program, there was a significant increase in the intensity of task completion to 100%, even with a shorter processing time. This result also consistently occurred during the follow-up session, which was two weeks after the intervention. The effect of this study made participants able to demonstrate on-task behavior during the learning process. ABSTRAK Perilaku on-task memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan akademik anak, karena perilaku ini mendorong keterlibatan dan penyelesaian tugas dalam waktu yang ditentukan. Adanya perilaku on-task yang dilatih setiap harinya menjadikan anak disiplin, yang berkontribusi signifikan terhadap prestasi akademis. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas perilaku on-task pada anak dengan pencapaian akademik rendah melalui teknik token ekonomi. Partisipan dalam penelitian ini adalah seorang anak perempuan berusia 9 tahun 4 bulan yang menunjukkan kecenderungan untuk menghindari tugas akademik, terutama saat belajar di rumah. Penelitian ini menggunakan desain single case A-B with follow-up design dengan pendekatan kuantitatif. Intervensi dilakukan selama 11 sesi, yang berdurasi satu jam, dengan target bertahap untuk meningkatkan jumlah dan akurasi soal yang diselesaikan. Teknik token ekonomi digunakan sebagai strategi penguatan positif, di mana anak memperoleh token (stiker bintang) ketika mencapai target perilaku, yang kemudian dapat ditukar dengan berbagai hadiah (backup reinforcers). Data baseline menunjukkan bahwa partisipan hanya mampu menyelesaikan 44,3% soal dengan benar dalam satu jam. Setelah penerapan program, terjadi peningkatan signifikan dalam intensitas penyelesaian tugas hingga mencapai 100%, bahkan dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat. Hasil ini juga konsisten terjadi saat sesi follow-up yaitu dua minggu setelah intervensi. Efek dari penelitian ini membuat partisipan dapat menunjukkan perilaku on task saat proses pembelajaran.
PERAN CHARACTER STRENGHTS TERHADAP RESILIENSI REMAJA: IMPLEMENTASI KONSEP PSIKOLOGI POSITIF DALAM DUNIA PENDIDIKAN Junaidin, Junaidin; Lara, Pipit Leni; Qorianti, Al; Rizkillah, Miftahul; Atmasari, Ayuning; Erliana, Yossy Dwi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6097

Abstract

ABSTRACT Character strengths are one of the variables in positive psychology that emphasize individual qualities and ideal human growth to strengthen positive values and character in interpersonal interactions. Adolescents or students are at a stage of development where they experience psychological and social problems such as anxiety, stress, depression, and low self-confidence, making them unable to maintain balance in facing stressful life changes. This study aims to determine the role of character strengths in the resilience of students at SMA Negeri 1 Lape. The method used in this study is quantitative correlational using area sampling techniques, with data analysis employing simple linear regression tests on a sample size of 112 students. Data collection in this study utilized character strengths scales and resilience scales. The results of the study indicate that character strengths has a positive influence of 52.2% on the resilience of students at SMA Negeri 1 Lape Sumbawa, particularly in the aspects of fairness, transcendence, humanity, and wisdom. This means that the higher the character strengths possessed by adolescents/students, the higher their resilience. Conversely, the lower the character strengths of the adolescents/students, the lower their resilience scores at SMAN 1 Lape Sumbawa. ABSTRAK Character strengthssalah satu variabel dalam psikologi positif yang menekankan pada kualitas individu serta pertumbuhan manusia yang ideal untuk memperkuat nilai-nilai dan karakter positif dalam interaksi antar pribadi. Remaja atau siswa sedang berada pada tahap perkembangan mengalami permasalahan psikologis dan sosial seperti cemas, stres, depresi, dan kurang percaya diri menjadikan siswa tidak mampu menjaga keseimbangan dalam menghadapi perubahan kehidupan yang menekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran character strengths terhadap Resiliensi siswa SMA Negeri 1 Lape. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan menggunakan teknik sampling area, analisis data dalam penelitian menggunakan uji regresi linear sederhana dengan jumlah sampel sebanyak 112 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunaka skala character strengths dan skala resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa character strengths berpengaruh sebesar 52,2% secara positif terhadap Resiliensi siswa SMA Negeri 1 Lape Sumbawa, terutama pada aspek keadilan, transendensi, kemanusiaan, dan kebijaksanaan. Artinya, semakin tinggi character strengths yang dimiliki oleh remaja/siswa, maka semakin tinggi Resiliensi yang mereka miliki. Sebaliknya semakin rendah character strengths remaja/siswa, maka semakin rendah juga nilai resiliensi pada remaja/siswa SMAN 1 Lape Sumbawa.
PERAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PADA SISWA KELAS X DI SMK MUHAMMADIYAH LEBAKSIU Faisaluddin, Faisaluddin; Ni’mah, Jumrotun; Itsna, Ita Nur; Oktiawati, Anisa; Insani, Uswatun
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6104

Abstract

Adolescence is a period of development characterized by identity exploration and increased social interaction, including with peers. Peers have a significant influence on adolescent behavior, including in the sexual aspect. This study aims to determine the influence of peers on the sexual behavior of grade X students at SMK Muhammadiyah Lebaksiu. This study used a cross-sectional design with a quantitative approach and involved 119 respondents selected through purposive sampling technique. Data collection instruments used validated peer and sexual behavior questionnaires. The results showed that most of the respondents (49.6%) showed mild risky sexual behavior, while 6.7% were involved in severe risky sexual behavior. Peer variables contributed significantly to sexual behavior with a Nagelkerke R² value of 0.109 and a significance of p = 0.001. This finding confirms that the greater the influence of peers, the higher the likelihood of adolescents engaging in sexual behavior. Although the contribution is not dominant, peers are shown to have an important role in shaping adolescent sexual behavior. These results provide a basis for interventions that target adolescent social dynamics, both in school and family settings. ABSTRAK Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai oleh eksplorasi identitas dan peningkatan interaksi sosial, termasuk dengan teman sebaya. Teman sebaya memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku remaja, termasuk dalam aspek seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap perilaku seksual siswa kelas X di SMK Muhammadiyah Lebaksiu. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 119 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner teman sebaya dan perilaku seksual yang telah divalidasi. Analisis data dilakukan dengan uji regresi logistik menggunakan SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (49,6%) menunjukkan perilaku seksual berisiko ringan, sedangkan 6,7% terlibat dalam perilaku seksual berisiko berat. Variabel teman sebaya berkontribusi secara signifikan terhadap perilaku seksual dengan nilai Nagelkerke R² sebesar 0,109 dan signifikansi p = 0,001. Temuan ini menegaskan bahwa semakin besar pengaruh teman sebaya, semakin tinggi pula kemungkinan remaja terlibat dalam perilaku seksual. Meskipun kontribusinya tidak dominan, teman sebaya terbukti memiliki peran penting dalam pembentukan perilaku seksual remaja. Hasil ini memberikan dasar bagi intervensi yang menargetkan dinamika sosial remaja, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN SMARTPHONE TERHADAP ACADEMIC BURNOUT PADA MAHASISWA UKSW PSIKOLOGI Sugito, Irene Helen; Arianti, Rudangta
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6143

Abstract

University students face various complex and ongoing academic demands that can lead to chronic stress and ultimately result in academic burnout. One potential factor suspected to contribute to this condition is the intensity of smartphone use. This study aims to analyze the effect of smartphone use intensity on academic burnout among students of the Faculty of Psychology at Satya Wacana Christian University (UKSW). A quantitative approach was employed using a survey method and simple random sampling technique, involving 54 active students as participants. The instruments used include the School Burnout Inventory (SBI) to measure academic burnout levels, as well as a smartphone use intensity scale developed based on behavioral aspects according to Ajzen's theory. Data analysis was conducted using simple linear regression. The results indicate a significant but weak positive effect between smartphone use intensity and academic burnout (R = 0.309; p = 0.023), with a coefficient of determination (R²) of 0.096. This means that smartphone use intensity explains only 9.6% of the variance in burnout. These findings suggest that although smartphone use intensity contributes to burnout, other factors such as academic pressure, self-efficacy, and social support have a more dominant influence. ABSTRAKMahasiswa pendidikan tinggi dihadapkan pada berbagai tuntutan akademik yang kompleks dan berkelanjutan, yang dapat memicu stres kronis dan berujung pada academic burnout. Salah satu faktor potensial yang diduga turut berkontribusi terhadap kondisi tersebut adalah intensitas penggunaan smartphone. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intensitas penggunaan smartphone terhadap academic burnout pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan teknik simple random sampling, melibatkan 54 mahasiswa aktif sebagai partisipan. Instrumen yang digunakan meliputi School Burnout Inventory (SBI) untuk mengukur tingkat academic burnout, serta skala intensitas penggunaan smartphone yang disusun berdasarkan aspek perilaku menurut teori Ajzen. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan namun lemah antara intensitas penggunaan smartphone dan academic burnout (R = 0,309; p = 0,023), dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,096. Artinya, intensitas penggunaan smartphone hanya menjelaskan 9,6% variansi burnout. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun intensitas penggunaan smartphone memiliki kontribusi terhadap burnout, faktor-faktor lain seperti tekanan akademik, efikasi diri, dan dukungan sosial memiliki pengaruh yang lebih dominan.
PENGARUH PENGGUNAAN FLASHCARDS TERHADAP KEMAMPUAN PENGENALAN EMOSI ANAK USIA 4-6 TAHUN Kelisha, Innara; Romansza, Hana Kameliana; Sanjaya, Alvin; Susanto, Lorentius Rossi Dwi; Pangestu, Gold Stefen; Risnawaty, Widya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6229

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of flashcard media in improving emotion recognition skills in children aged 4-6 years. The research background highlights the importance of early emotion recognition, as preschool-aged children begin to display basic emotions, but their skills in recognizing and managing emotions remain limited. The study employed a quantitative method with a pretest-posttest design, involving five students from TK Bhakti YKKP Kemanggisan. Children were given an initial test to assess their emotion recognition abilities, followed by an intervention using the “Know Your Emotions” flashcards featuring eight basic emotions. After the intervention, a post-test was conducted to evaluate changes in emotion recognition skills. The results showed a significant improvement in children’s ability to recognize emotions after using flashcards. As an engaging and simple visual medium, flashcards proved effective in helping children identify and understand various emotions more specifically and interactively. Flashcards can be applied both at school and at home, thus supporting the optimal development of children’s emotional intelligence. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menguji efektivitas media flashcards dalam meningkatkan kemampuan pengenalan emosi pada anak usia 4-6 tahun. Latar belakang penelitian menyoroti pentingnya pengenalan emosi sejak dini, karena anak usia prasekolah mulai mampu menunjukkan berbagai emosi dasar, namun keterampilan mereka dalam mengenali dan mengelola emosi masih terbatas. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pretest-posttest, melibatkan lima murid TK Bhakti YKKP Kemanggisan. Anak-anak diberikan tes awal untuk mengukur kemampuan pengenalan emosi, kemudian dilakukan intervensi menggunakan flashcard “Know Your Emotions” yang menampilkan delapan emosi dasar. Setelah intervensi, dilakukan tes akhir untuk menilai perubahan kemampuan pengenalan emosi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan anak mengenali emosi setelah penggunaan flashcard. Flashcard sebagai media visual yang menarik dan sederhana terbukti efektif membantu anak mengenali dan memahami berbagai emosi secara lebih spesifik dan interaktif. Penggunaan flashcard dapat diterapkan baik di sekolah maupun di rumah, sehingga mendukung perkembangan kecerdasan emosional anak secara optimal.
MENCARI BAHAGIA DI PESANTREN: PERAN KEBERSYUKURAN TERHADAP SUBJECTIVE WELL-BEING PADA SANTRI Haq, Muhammad Shodikul; Hanifah, Raidah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6230

Abstract

This study aims to examine the relationship between gratitude and subjective well-being among adolescent students (santri) in Islamic boarding schools. The research employed a quantitative correlational method with a sample of 90 junior high school-level santri (MTs) from an Islamic boarding school in Yogyakarta. The instruments used were the subjective well-being scale and the gratitude scale, both of which had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation technique. The results showed a significant positive relationship between gratitude and subjective well-being, with a correlation coefficient of r = 0.425 and a significance value of p = 0.031. This indicates that the higher the level of gratitude experienced by santri, the higher their level of subjective well-being. The findings suggest that gratitude is an important internal factor that can serve as a psychological protector for adolescent santri in dealing with the pressures of boarding school life. The implication of this study highlights the importance of integrating gratitude-based values into character development programs and psychological interventions within Islamic boarding school environments. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebersyukuran dan subjective well-being pada santri. Penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan sampel sebanyak 90 santri MTs di salah satu pondok pesantren di Yogyakarta. Instrumen yang digunakan adalah skala subjective well-being dan skala kebersyukuran, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kebersyukuran dan subjective well-being dengan nilai r = 0,425 dan p = 0,031. Artinya, semakin tinggi rasa syukur yang dimiliki santri, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan subjektifnya. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebersyukuran merupakan salah satu faktor penting yang dapat berperan sebagai protektor psikologis bagi remaja santri dalam menghadapi tekanan kehidupan pesantren. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya penguatan nilai syukur dalam program pembinaan karakter dan intervensi psikologis di lingkungan pesantren.
HUBUNGAN ANTARA SOCIAL SUPPORT DAN LONELINESS DENGAN DISREGULASI EMOSI PADA REMAJA PELAKU SELF-HARM DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN X KOTA BANDUNG Saskia, Nabila Nurul; Sastri, Prinska Damara
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6231

Abstract

Adolescence is a developmental stage that is highly vulnerable to various emotional and social pressures. The inability to regulate emotions, also known as emotion dysregulation, can lead adolescents to engage in self-harming behaviors. This study aimed to examine the relationship between social support and loneliness with emotion dysregulation in adolescents who engage in self-harm. The study employed a quantitative, descriptive-correlational approach with purposive sampling techniques. The participants were 32 students from SMK X in Bandung who reported a history of self-harm within the past year. The instruments used in this study included the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), the UCLA Loneliness Scale Version 3, and the Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS). The correlation analysis revealed a significant negative relationship between social support and emotion dysregulation (r = -0.286, p < 0.05), and a significant positive relationship between loneliness and emotion dysregulation (r = 0.387, p < 0.05). The multiple regression analysis showed that social support and loneliness simultaneously had a significant relationship with emotion dysregulation (F = 7.287, p = 0.003), with a coefficient of determination (R²) of 0.334. This indicates that 33.4% of the variance in emotion dysregulation is influenced by social support and loneliness. It can be concluded that lower levels of social support and higher levels of loneliness are associated with greater emotion dysregulation among adolescents. This study highlights the importance of enhancing social support and managing loneliness in efforts to prevent and address self-harm behavior in adolescents. ABSTRAKMasa remaja merupakan periode yang rentan terhadap berbagai tekanan emosional dan sosial. Ketidakmampuan dalam mengelola emosi atau disregulasi emosi dapat mendorong remaja untuk melakukan perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social support dan loneliness dengan disregulasi emosi pada remaja pelaku self-harm. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif korelasional dengan teknik purposive sampling. Subjek penelitian berjumlah 32 siswa SMK X Kota Bandung yang memiliki riwayat self-harm dalam satu tahun terakhir. Alat ukur yang digunakan meliputi Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), UCLA Loneliness Scale Version 3, dan Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara social support dan disregulasi emosi (r = -0,286, p < 0,05), serta hubungan positif signifikan antara loneliness dan disregulasi emosi (r = 0,387, p < 0,05). Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa social support dan loneliness secara simultan berhubungan signifikan dengan disregulasi emosi (F = 7,287, p = 0,003), dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,334. Artinya, 33,4% variabel disregulasi emosi dipengaruhi oleh social support dan loneliness. Dapat disimpulkan bahwa semakin rendah dukungan sosial dan semakin tinggi perasaan kesepian yang dialami remaja, maka semakin tinggi pula tingkat disregulasi emosi yang dirasakan. Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan sosial dan pengelolaan kesepian dalam upaya pencegahan dan penanganan self-harm pada remaja.
KONFLIK PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA NOVEL LUPUS: IDIIIH, UDAH GEDE KARYA HILMAN HARIWIJAYA, SEBUAH KAJIAN PSIKOANALISIS Ningsih, Saputri Kusuma; Israhayu, Eko Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6247

Abstract

This study aims to describe the psychological conflict experienced by the main character in the novel Lupus: Idiiih Sudah Gede by Hilman Hariwijaya. Psychological conflict is a conflict that arises within a person's self or soul as a response to emotional pressure or certain situations. The research method used is a descriptive method with a literary psychology approach by Sigmund Freud which includes three personality structures: Id (thought drives), Ego (reality controller), and Superego (moral values). The technique used is the reading and note-taking technique. Data were obtained from novel excerpts related to the forms of psychological conflict experienced by Lupus as the main character. The results of the study revealed that there are four forms of psychological conflict, namely anxiety, anger, disappointment, and suspicion. The four forms of psychological conflict are manifestations of an imbalance between instinctive drives (Id), moral demands (Superego), and controllers (Ego). In this analysis, it was found that the negative emotions experienced by the character Lupus emerged as a form of response to social pressure, failure, and uncertainty about the future. This study emphasizes the importance of a literary psychology approach in understanding character characters and making literary works a medium of reflection for readers in understanding human psychological dynamics. The results of this study can be a reference in learning literature and developing adolescent characters through fiction media. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik psikologis yang dialami tokoh utama novel Lupus: Idiiih Udah Gede karya Hilman Hariwijaya. Konflik psikologis adalah konflik yang muncul dalam diri atau jiwa seseorang sebagai respons terhadap tekanan emocional atau situasi tertentu. Métode penelitian yang digunakan adalah métode deskriptif dengan pendekatan psikologi sastra oleh Sigmund Freud yang mencakup tiga struktur kepribadian: Id (dorongan naluriah), Ego (pengendali realitas), dan Superego (nilai moral). Teknik yang digunakan yaitu teknik baca dan catat. Data diperoleh dari kutipan-kutipan novel yang berkaitan dengan bentuk-bentuk konflik psikologis yang dialami oleh Lupus sebagai tokoh utama. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat empat bentuk konflik psikologis yaitu kecemasan, kemarahan, kekecewaan, dan rasa curiga. Keempat bentuk konflik psikologis tersebut merupakan manifestasi dari ketidakseimbangan antara dorongan naluriah (Id), tuntutan moral (Superego), dan pengendali (Ego). Dalam analisis ini, ditemukan bahwa emosi negatif yang dialami tokoh Lupus muncul sebagai bentuk respons terhadap tekanan sosial, kegagalan, serta ketidakpastian akan masa depan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan psikologi sastra dalam memahami karakter tokoh serta menjadikan karya sastra sebagai media refleksi bagi pembaca dalam memahami dinamika psikologis manusia. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pembelajaran sastra serta pengembangan karakter remaja melalui media fiksi.
PENGGUNAAN TIKTOK SEBAGAI EKSPRESI DIRI PADA INDIVIDU DENGAN KECENDERUNGAN NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER Bernadeth Manik, Laura; Iriani Roesmala Dewi, Fransisca
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6364

Abstract

This study explores how individuals with narcissistic personality tendencies utilize TikTok to shape and maintain their digital self-image. The study is grounded in theories of narcissism, personality, and online self-presentation. Its main focus is on how TikTok’s validation system such as likes, comments, and follower count affects user behavior. The research employs a qualitative case study approach involving three adolescent content creators (AI, RH, and AK) who exhibit more than five diagnostic criteria of Narcissistic Personality Disorder (NPD) as defined by the DSM-V. In-depth interviews and content analysis revealed that core narcissistic traits such as superiority, authority, and exhibitionism are consistently reinforced by TikTok’s interactive features. This study fills a gap in the existing literature, which has predominantly focused on platforms like Facebook in the context of digital narcissism. Few studies have thoroughly examined how TikTok’s algorithm characterized by rapid, open visual validation shapes narcissistic expression, particularly among urban youth in Indonesia. Thus, this research offers a novel contribution to understanding narcissism within a more dynamic and competitive digital culture. Although the subjects project confidence on social media, they also demonstrate emotional vulnerability in response to audience feedback. This indicates a fragile self-identity that heavily relies on external validation. The findings have implications for the development of psychological interventions based on digital media and expand our understanding of identity formation in the digital era, particularly in the fields of personality psychology and urban sociology. ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana individu dengan kecenderungan kepribadian narsistik memanfaatkan TikTok untuk membentuk dan memelihara citra diri digital mereka. Studi ini berlandaskan teori narsisme, kepribadian, dan presentasi diri daring. Fokus utama adalah bagaimana sistem validasi TikTok seperti likes, komentar, dan jumlah pengikut mempengaruhi perilaku pengguna. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif terhadap tiga kreator konten remaja (AI, RH, dan AK) yang menunjukkan lebih dari lima ciri diagnostik Narcissistic Personality Disorder (NPD) menurut DSM-V. Wawancara mendalam dan analisis konten mengungkap bahwa ciri-ciri utama narsisme seperti superioritas, otoritas, dan exhibitionism diperkuat secara konsisten oleh fitur interaktif TikTok. Studi ini mengisi kekosongan dalam literatur yang sebagian besar sebelumnya berfokus pada platform seperti Facebook dalam konteks narsisme digital. Belum banyak penelitian yang secara mendalam mengeksplorasi bagaimana algoritma TikTok, dengan fitur visual dan sistem validasinya yang cepat dan terbuka, membentuk ekspresi narsisme, khususnya di kalangan remaja urban di Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam memahami narsisme dalam konteks budaya digital yang lebih dinamis dan kompetitif. Meskipun para subjek menampilkan kepercayaan diri di media sosial, mereka juga menunjukkan kerentanan emosional terhadap reaksi audiens. Hal ini menandakan identitas diri yang rapuh dan sangat bergantung pada validasi eksternal. Temuan ini memiliki implikasi terhadap pengembangan intervensi psikologis berbasis media digital serta memperluas pemahaman mengenai pembentukan identitas di era digital, khususnya dalam psikologi kepribadian dan sosiologi perkotaan.
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI INTRINSIK DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA SMA Nur Damiyati, Adibah; Supriatna, Ecep; Finanto Ario Bangun, Mic
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6372

Abstract

This study aims to examine the relationship between intrinsic motivation and academic procrastination among high school students. Although academic procrastination is a common phenomenon, most previous studies have focused on university students, making research at the high school level still limited. This research employed a quantitative approach with a correlational method. The sample consisted of 163 eleventh-grade high school students selected through simple random sampling. The measurement instruments used were an intrinsic motivation scale and an academic procrastination scale. The intrinsic motivation scale consisted of 18 items, while the academic procrastination scale consisted of 19 items. Both instruments had been tested for validity and reliability, with item validity scores > 0.300 and Cronbach’s Alpha reliability coefficients of 0.898, respectively. Data analysis was conducted using Spearman’s Rho correlation with the assistance of SPSS 25 software.The results revealed a significant negative relationship between intrinsic motivation and academic procrastination, with a correlation coefficient of -0.762 and a significance value of p < 0.05. This means that the higher the students’ intrinsic motivation, the lower their tendency to delay academic tasks. These findings are expected to serve as a reference for high schools in developing learning strategies that can enhance students’ learning motivation to reduce academic procrastination behavior. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara motivasi intrinsik dan prokrastinasi akademik pada siswa SMA. Meskipun prokrastinasi akademik merupakan fenomena umum, sebagian besar studi sebelumnya lebih berfokus pada mahasiswa, sehingga penelitian pada tingkat sekolah menengah masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 163 siswa kelas XI SMA  yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala motivasi intrinsik dan skala prokrastinasi akademik. Skala motivasi intrinsik terdiri dari 18 item, sedangkan skala prokrastinasi akademik terdiri dari 19 item. Kedua instrumen tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan hasil validitas item > 0,300 dan reliabilitas Cronbach’s Alpha masing-masing sebesar 0,898. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Spearman-Rho dengan bantuan software SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara motivasi intrinsik dan prokrastinasi akademik, dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0,762 dan nilai signifikansi (p < 0,05). Artinya, semakin tinggi motivasi intrinsik yang dimiliki siswa, maka semakin rendah kecenderungan mereka untuk menunda tugas-tugas akademik. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pihak SMA dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa guna menekan perilaku prokrastinasi akademik.