cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
EMOSI SEHAT, HIDUP BAHAGIA: MINDFULNESS UNTUK REGULASI EMOSI PADA MAHASISWA Arief Abdillah, Anang; Syawaliah Putri, Ayu; Rizkiah, Rizkiah; Amalia, Nadiya; Fakhriya Kemal, Anurra; Virly Wirasasti, Shafina; Nurul Ramadhani, Cici
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7613

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of mindfulness based on deep breathing techniques in improving emotional regulation abilities among university students who often face academic and social pressures. A total of 12 students in Samarinda were divided into two groups: experimental and control. The experimental group underwent a mindfulness training based on deep breathing for five consecutive days, with each session lasting 30 minutes. The study employed a pretest-posttest control group design, using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) as the instrument. Statistical analysis showed a significant improvement in emotional regulation in the experimental group before and after the intervention (t = -3.824, p = 0.012). Additionally, the experimental group showed a significant difference compared to the control group (t = -2.398, p = 0.037), with a mean difference of -8.333. These findings confirm that mindfulness training based on deep breathing is effective in enhancing emotional regulation in students, and can help them manage academic and social pressures more adaptively ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas mindfulness berbasis deep breathing dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi mahasiswa yang sering menghadapi tekanan akademik dan sosial. Sebanyak 12 mahasiswa di Samarinda dibagi menjadi dua kelompok: eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen mengikuti pelatihan mindfulness berbasis deep breathing selama lima hari berturut-turut, dengan durasi setiap sesi 30 menit. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest-posttest control group design, dengan menggunakan instrumen Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Hasil analisis statistik menunjukkan peningkatan signifikan dalam regulasi emosi pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah intervensi (t = -3.824, p = 0.012). Selain itu, kelompok eksperimen menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan kelompok kontrol (t = -2.398, p = 0.037), dengan selisih rata-rata skor sebesar -8.333. Temuan ini menegaskan bahwa pelatihan mindfulness berbasis deep breathing efektif dalam meningkatkan regulasi emosi mahasiswa, serta dapat membantu mereka mengelola tekanan akademik dan sosial dengan lebih adaptif.
SELF-FULFILLING PROPHECY DALAM HUBUNGAN ASMARA: PENGARUH REJECTION SENSITIVITY TERHADAP RELATIONSHIP SATISFACTION DI KALANGAN EMERGING ADULTHOOD Jong, Devi; Valencia, Mudita; Angelika, Fransiska; Shella Riliseptin, Maria; Markus Idulfilastri, Rita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7627

Abstract

Romantic relationships during emerging adulthood often present emotional challenges due to individual character differences. One psychological factor that can reduce relationship satisfaction is rejection sensitivity, which may trigger negative reactions and lead to a self-fulfilling prophecy. This study aims to examine the influence of rejection sensitivity on relationship satisfaction among young adults in Indonesia. The research employed a quantitative correlational-predictive approach, involving 213 active university students aged 18–20 who are currently or have previously been in romantic relationships. The instruments used were the Rejection Sensitivity Questionnaire (RSQ) and the Relationship Assessment Scale (RAS), and data analysis was conducted using Pearson correlation and simple linear regression. The results revealed a significant negative relationship between rejection sensitivity and relationship satisfaction (r = -0.281, p < 0.01), with a contribution of R² = 7.9%. The higher an individual’s rejection sensitivity, the lower their perceived relationship satisfaction. These findings highlight the importance of emotional regulation and managing rejection-related anxiety in maintaining the quality of romantic relationships during early adulthood. This study contributes to the literature on interpersonal relationship psychology in Indonesia and may serve as a foundation for preventive interventions in counseling for young couples. ABSTRAK Hubungan asmara pada masa emerging adulthood kerap menghadirkan tantangan emosional akibat perbedaan karakter individu. Salah satu faktor psikologis yang dapat menurunkan kepuasan dalam hubungan (relationship satisfaction) adalah sensitivitas terhadap penolakan (rejection sensitivity), yang berpotensi menciptakan reaksi negatif dan memicu terjadinya self-fulfilling prophecy. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh rejection sensitivity terhadap relationship satisfaction pada individu dewasa awal di Indonesia. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional-prediktif, dengan partisipan sebanyak 213 mahasiswa aktif berusia 18–20 tahun yang sedang atau pernah menjalin hubungan asmara. Instrumen yang digunakan adalah Rejection Sensitivity Questionnaire (RSQ) dan Relationship Assessment Scale (RAS), serta analisis data dilakukan melalui uji korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif signifikan antara rejection sensitivity dan relationship satisfaction (r = -0.281, p < 0.01), dengan kontribusi pengaruh sebesar R² = 7,9%. Semakin tinggi rejection sensitivity seseorang, semakin rendah tingkat kepuasan yang dirasakannya dalam hubungan asmara. Temuan ini menegaskan pentingnya kemampuan regulasi emosi dan penanganan kecemasan penolakan dalam menjaga kualitas hubungan romantis di masa dewasa awal. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap literatur psikologi hubungan interpersonal di Indonesia dan dapat menjadi dasar intervensi preventif dalam konseling pasangan muda.
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY SERTA PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP PERILAKU ACADEMIC DISHONESTY PADA MAHASISWA DKI JAKARTA Brahmantio Saryono, Didik; Kartasasmita, Sandy
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7629

Abstract

The phenomenon of academic dishonesty remains an important issue in higher education in Indonesia, including in the DKI Jakarta region. This behavior reflects weak academic integrity and can be influenced by various factors, such as self-efficacy and decision-making abilities. This study aims to analyze the relationship between self-efficacy and decision-making in relation to academic dishonesty behavior among university students in DKI Jakarta. This research uses a correlational quantitative approach with 461 participants aged 18 to 25 years. The instruments used include the General Self-Efficacy Scale (GSES), General Decision-Making Style Scale (GDMSS), and Academic Dishonesty Scale (ADS). Data were analyzed using Spearman’s correlation test due to the non-normal distribution of the data. The results show a negative relationship between self-efficacy and academic dishonesty (r = -0.079, p = 0.09), as well as a positive relationship between decision-making and academic dishonesty (r = 0.085, p = 0.068), although both were not statistically significant. Additionally, no gender differences were found in the three variables. These findings emphasize the importance of self-efficacy and decision-making abilities in understanding the tendencies of academic dishonesty behavior, and it is hoped that they will serve as a basis for developing academic integrity improvement programs in higher education. ABSTRAK Fenomena academic dishonesty atau ketidakjujuran akademik masih menjadi isu penting di perguruan tinggi Indonesia, termasuk di wilayah DKI Jakarta. Perilaku ini mencerminkan lemahnya integritas akademik dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti self-efficacy serta kemampuan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-efficacy dan pengambilan keputusan terhadap perilaku academic dishonesty pada mahasiswa di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan jumlah partisipan sebanyak 461 mahasiswa berusia 18 hingga 25 tahun. Instrumen yang digunakan meliputi General Self-Efficacy Scale (GSES), General Decision-Making Style Scale (GDMSS), dan Academic Dishonesty Scale (ADS). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara self-efficacy dengan academic dishonesty (r = -0.079, p = 0.09), serta hubungan positif antara pengambilan keputusan dengan academic dishonesty (r = 0.085, p = 0.068), meskipun keduanya tidak signifikan secara statistik. Selain itu, tidak ditemukan perbedaan jenis kelamin pada ketiga variabel. Temuan ini menegaskan pentingnya self-efficacy dan kemampuan pengambilan keputusan dalam memahami kecenderungan perilaku academic dishonesty, dan diharapkan dapat menjadi dasar untuk pengembangan program peningkatan integritas akademik di perguruan tinggi.
HUBUNGAN KETERGANTUNGAN PADA CHATGPT DAN SELF-EFFICACY PADA MAHASISWA AKTIF DI UNIVERSITAS Sanjaya, Alvin; Aurora, Amelia; Clarance Benedict, Edbert; Az Zahra Nurnajma Kalenggo, Sezilya; Winata, Tantony; Hendra Heng, Pamela; Markus Idulfilastri, Rita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7659

Abstract

This study examines the relationship between problematic ChatGPT use defined as excessive or unhealthy dependence on this technology and academic self-efficacy among active students at University X, using a quantitative correlational design. A purposive sample of 76 respondents was selected from various faculties within the university. Data were collected through an online questionnaire consisting of the Problematic ChatGPT Use Scale and the Self-Efficacy Scale. The results indicate that the majority of students experience moderate dependence on ChatGPT, but no significant relationship was found between ChatGPT dependence and academic self-efficacy (rs? = - 0.128, p = 0.271 > 0.05). This finding is important because, although problematic use of ChatGPT is relatively common among students, it does not significantly affect their academic self-confidence. This suggests that other factors, such as prior academic experience or social support, may have a greater impact on students' self-efficacy. This study provides new insights into the use of ChatGPT in higher education and recommends the wise management of its use. Proper management can enrich students' learning experiences, while excessive dependence may reduce learning independence and critical thinking skills. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji hubungan antara penggunaan ChatGPT yang bersifat problematik diartikan sebagai ketergantungan yang berlebihan atau tidak sehat terhadap teknologi ini dan self-efficacy akademik pada mahasiswa aktif Universitas X dengan desain kuantitatif korelasional. Sampel purposive sebanyak 76 responden diambil dari berbagai fakultas di universitas tersebut. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang terdiri dari Skala Penggunaan ChatGPT Problematis dan Skala Self-Efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami ketergantungan moderat terhadap ChatGPT, namun tidak ditemukan hubungan signifikan antara ketergantungan ChatGPT dan self-efficacy akademik (rs? = ?0,128, p = 0,271 > 0,05). Temuan ini penting karena meskipun penggunaan ChatGPT yang problematik cukup sering terjadi di kalangan mahasiswa, hal tersebut tidak mempengaruhi secara signifikan kepercayaan diri akademik mereka. Ini menunjukkan bahwa faktor lain, seperti pengalaman akademik sebelumnya atau dukungan sosial, mungkin memiliki dampak yang lebih besar terhadap self-efficacy mahasiswa. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang penggunaan ChatGPT dalam konteks pendidikan tinggi dan menyarankan pengelolaan yang bijak terhadap penggunaannya. Pengelolaan yang tepat dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sementara ketergantungan yang berlebihan dapat mengurangi kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis.
KONSELING SEBAGAI STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN WORK-LIFE BALANCE PADA IBU RUMAH TANGGA BERSTATUS PEKERJA DI PT. X Istighfaroh, Lailatul; Sholichah, Ima Fitri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7681

Abstract

Everyone has the right to attain a good quality of life, one of which is a balance between work and personal life. For working housewives, balancing professional duties and household responsibilities is very challenging. This study aims to examine the extent to which counseling plays a role in improving work-life balance and helping working housewives manage stress during periods of increased workload. The study uses a mixed-methods approach with two research subjects at PT. X. Quantitative data were obtained through pre-tests and post-tests using the Fisher (2002) work-life balance scale adapted by Gunawan et al. (2019), while qualitative data were collected through Behavioral Event Interview (BEI) interviews. The gain score analysis results showed that subject N obtained a score of 0.2 (low category) and subject S obtained a score of 0.6 (moderate category), Indicates that counseling provides an increased understanding and ability to balance roles, although not yet significantly high. Counseling qualitatively helps both subjects in enhancing self-awareness, managing time, reducing guilt, and obtaining emotional and social support. The three-session counseling process with the 5F stages has been proven effective in promoting cognitive and emotional changes. Consequently, counseling is an important psychological intervention to help working housewives achieve a balance between the demands of their jobs and their desire to live at home. ABSTRAK Setiap orang berhak memperoleh kualitas hidup yang baik, salah satunya adalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Untuk ibu rumah tangga yang bekerja, menyeimbangkan tugas profesional dan rumah tangga sangat sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana konseling berperan dalam meningkatkan work-life balance serta membantu ibu rumah tangga pekerja dalam mengelola stres selama periode peningkatan beban kerja. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan dua subjek penelitian di PT. X. Data kuantitatif diperoleh melalui pre-test dan post-test menggunakan skala work-life balance Fisher (2002) yang telah diadaptasi oleh Gunawan et al. (2019), sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara Behavioral Event Interview (BEI). Hasil analisis gain score menunjukkan bahwa subjek N memperoleh nilai 0,2 (kategori rendah) dan subjek S memperoleh nilai 0,6 (kategori sedang), menandakan bahwa konseling memberikan peningkatan pemahaman dan kemampuan menyeimbangkan peran, meskipun belum signifikan tinggi. Konseling secara kualitatif membantu kedua subjek dalam meningkatkan kesadaran diri, mengelola waktu, mengurangi rasa bersalah, dan mendapatkan dukungan emosional dan sosial. Proses konseling tiga sesi dengan tahapan 5F terbukti efektif dalam mendorong perubahan kognitif dan emosional. Konsekuensinya, konseling merupakan intervensi psikologis yang penting untuk membantu ibu rumah tangga pekerja mencapai keseimbangan antara tuntutan pekerjaan mereka dan keinginan mereka untuk hidup di rumah.
DI BALIK SENYAP KONFLIK: RESILIENSI PSIKOLOGIS PRAJURIT TNI DI PAPUA Febrio Xavier, Selyo; Pasca Rini, Rr. Amanda; Suryanto, Suryanto
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7709

Abstract

Military assignments in conflict areas such as Papua expose Indonesian Army (TNI) soldiers to physical threats and psychological pressures that can impair psychological functioning and mission readiness. Resilience, as the ability to endure and adapt in extreme conditions, is crucial in this context. This study aims to analyze the dynamics of resilience among TNI soldiers in Papua, focusing on risk factors, protective mechanisms, and psychological processes that support their endurance and performance in the field. A qualitative approach with in-depth interviews and thematic analysis was used to explore the soldiers' subjective experiences in managing stress, using coping strategies, and deriving meaning from their deployment experiences in conflict areas. The findings indicate that resilience develops through the interaction of emotional regulation, flexible coping strategies, strong social support, and spirituality as a key psychological resource. The deployment also contributes to the positive transformation of soldiers, including enhanced emotional maturity and prosocial orientation. This study provides practical insights for the TNI in designing training programs and psychological support based on spirituality and social support to enhance the mental readiness of soldiers in conflict areas. ABSTRAK Penugasan militer di daerah konflik seperti Papua menempatkan prajurit TNI pada ancaman fisik dan tekanan psikologis yang dapat mengganggu fungsi psikologis dan kesiapan tugas. Resiliensi, sebagai kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dalam kondisi ekstrem, sangat penting dalam konteks ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika resiliensi prajurit TNI di Papua, dengan fokus pada faktor risiko, mekanisme protektif, dan proses psikologis yang mendukung ketahanan dan kinerja mereka di lapangan. Pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan analisis tematik digunakan untuk menggali pengalaman subjektif prajurit dalam mengelola stres, menggunakan strategi coping, dan membangun makna dari pengalaman penugasan di daerah konflik.Temuan menunjukkan bahwa resiliensi berkembang melalui interaksi antara regulasi emosi, penggunaan strategi coping yang fleksibel, dukungan sosial yang kuat, dan spiritualitas sebagai sumber daya psikologis utama. Penugasan ini juga berkontribusi pada transformasi positif prajurit, termasuk peningkatan kedewasaan emosional dan orientasi prososial. Penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi TNI dalam merancang program pelatihan dan dukungan psikologis berbasis spiritualitas dan dukungan sosial untuk meningkatkan kesiapan mental prajurit di daerah konflik.
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PERILAKU AGRESI VERBAL PADA REMAJA YANG MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL DI KOTA BONTANG Fakhriya Kemal, Anurra; Wahyuni, Ridha
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7718

Abstract

Verbal aggression among adolescents on social media is a growing concern, as social media serves as a key platform for interaction and self-expression. One factor influencing this behavior is emotional intelligence. However, empirical evidence on the effect of emotional intelligence on verbal aggression among adolescent social media users in non-metropolitan areas, such as Bontang City, remains limited. This study aims to examine the effect of emotional intelligence on verbal aggression among adolescents in Bontang. A sample of 100 adolescents was selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert scale and analyzed using simple linear regression (SPSS 24.0). The results indicate that emotional intelligence significantly influences verbal aggression (p = 0.001; R² = 0.106). These findings highlight the importance of emotional intelligence in reducing verbal aggression. Therefore, enhancing emotional intelligence through character education and digital literacy can be an effective strategy to reduce verbal aggression among adolescents, particularly in developing regions.   ABSTRAK Perilaku agresi verbal pada remaja di media sosial menjadi perhatian utama, karena media sosial kini berperan sebagai platform interaksi dan ekspresi diri. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku ini adalah kecerdasan emosional. Namun, masih sedikit bukti empiris mengenai pengaruh kecerdasan emosional terhadap agresi verbal pada remaja pengguna media sosial di daerah non-metropolitan seperti Kota Bontang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kecerdasan emosional terhadap perilaku agresi verbal pada remaja di Kota Bontang. Sampel terdiri dari 100 remaja yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana (SPSS 24.0). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap perilaku agresi verbal (p = 0.001; R² = 0.106). Temuan ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam mengurangi perilaku agresi verbal. Oleh karena itu, peningkatan kecerdasan emosional melalui pendidikan karakter dan literasi digital dapat menjadi solusi efektif untuk menekan perilaku agresi verbal pada remaja, terutama di wilayah berkembang.
SELF-ESTEEM DAN KAITANNYA DENGAN PERILAKU PROKRASTINASI AKADEMIK: STUDI KORELASIONAL PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI WILAYAH JAKARTA Nur Shadrina, Dhaifin; Yunithree Suparman, Meiske
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7720

Abstract

This study aims to determine the relationship between self-esteem and academic procrastination behavior among final-year students in the Jakarta area. This research is important due to Jakarta's characteristics as the capital city, where students are faced with high academic pressures and external factors such as intense competition and distractions from social media. This study uses a correlational quantitative approach with non-probability sampling and purposive sampling techniques to select 409 participants who are final-year students in Jakarta. Data were collected online by distributing questionnaires through social media platforms such as Instagram, LINE, WhatsApp, Twitter, and TikTok, considering the convenience and easy access offered by this method. The collected data were then analyzed using Spearman's rho test, due to the non-normal distribution of the data. The results of the study indicate a significant negative relationship between self-esteem and academic procrastination (r = -0.454, p < 0.001), meaning that the higher the self-esteem, the lower the tendency of students to engage in academic procrastination. These findings highlight the importance of developing positive self-esteem in efforts to reduce academic procrastination, with significant implications for higher education policies and psychological interventions at universities to support students in improving their academic performance. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dengan perilaku prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir di wilayah Jakarta. Penelitian ini penting dilakukan mengingat Jakarta sebagai ibu kota negara dengan karakteristik sosial dan akademik yang kompleks, dimana mahasiswa dihadapkan dengan tekanan akademik yang tinggi dan faktor-faktor eksternal seperti kompetisi yang ketat dan distraksi media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan pendekatan non-probability sampling dan teknik purposive sampling untuk memilih 409 partisipan yang merupakan mahasiswa tingkat akhir di Jakarta. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menyebarkan kuesioner melalui platform media sosial seperti Instagram, LINE, WhatsApp, Twitter, dan TikTok, mengingat kenyamanan dan kemudahan akses yang ditawarkan oleh metode ini. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman’s rho, mengingat distribusi data yang tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-esteem dan prokrastinasi akademik (r = -0.454, p < 0.001), yang berarti semakin tinggi self-esteem, semakin rendah kecenderungan mahasiswa untuk melakukan prokrastinasi akademik. Temuan ini mengindikasikan pentingnya pengembangan self-esteem yang positif dalam upaya mengurangi prokrastinasi akademik, dengan implikasi penting bagi kebijakan pendidikan tinggi dan intervensi psikologis di perguruan tinggi untuk mendukung mahasiswa dalam meningkatkan kualitas akademik mereka.
EMPATI DIGITAL SEBAGAI FONDASI ETIKA BERMEDIA DI ERA INKLUSIVITAS Ho, Stevanie; Angelina, Ellen; Fateema, Sabrina Ayesha; Matondang, Mikhayla Illyna; Stivanus, Celvin; Beng, Jap Tji
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7723

Abstract

ABSTRACT The phenomenon of bullying that has shifted into the digital realm presents serious ethical challenges. Unlimited internet access allows the spread of hate speech and aggressive behavior without sufficient moral control. Various reports show that cyberbullying cases in Indonesia continue to rise, reflecting the weakening of digital empathy among social media users. This study aims to examine the role of digital empathy as a preventive strategy against unethical behavior in online spaces. The method used is a systematic review of scientific literature published between 2020 and 2025, with searches conducted through Google Scholar, Scopus, PubMed, and ProQuest using the keywords “digital empathy,” “media ethics,” “cyberbullying,” “hate speech,” and “digital literacy.” The analysis results indicate that digital empathy significantly contributes to reducing online bullying behavior, fostering tolerance, and strengthening media ethics. Empathy-based digital literacy has also been proven to enhance social responsibility and reduce the spread of misinformation. This study recommends integrating empathy-based digital character education into curricula, establishing cross-sector collaboration for human-centered digital literacy programs, and fostering collective awareness to create a safe, ethical, and inclusive digital environment. ABSTRAK Fenomena perundungan yang kini bergeser ke ranah digital menimbulkan persoalan etis yang serius. Akses internet yang tak terbatas memungkinkan penyebaran ujaran kebencian dan perilaku agresif tanpa kontrol moral yang memadai. Berdasarkan berbagai laporan, angka cyberbullying di Indonesia terus meningkat, memperlihatkan lemahnya empati digital di kalangan pengguna media sosial. Penelitian ini bertujuan menelaah peran empati digital sebagai strategi preventif terhadap perilaku tidak etis di ruang maya. Metode yang digunakan adalah systematic review terhadap literatur ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025, dengan penelusuran melalui Google Scholar, Scopus, PubMed, dan ProQuest menggunakan kata kunci “empati digital,” “etika bermedia,” “cyberbullying,” “ujaran kebencian,” dan “literasi digital.” Hasil analisis menunjukkan bahwa empati digital berkontribusi signifikan dalam menekan perilaku perundungan daring, meningkatkan sikap toleran, dan memperkuat etika bermedia. Literasi digital berbasis empati juga terbukti mampu menumbuhkan tanggung jawab sosial dan mengurangi penyebaran disinformasi. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pendidikan karakter digital berbasis empati dalam kurikulum, kolaborasi lintas sektor untuk program literasi digital yang humanis, serta pembentukan kesadaran kolektif guna menciptakan ruang digital yang aman, etis, dan inklusif.
IMPLIKASI PSIKOLOGI DIGITAL TERHADAP PERKEMBANGAN DEWASA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Melati, Inka Sukma; Puspitasari, Devi; Lestari, Bawinda Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7727

Abstract

The adult development phase is one of the most dynamic and complex periods of life. Adults are required to achieve emotional independence, career stability, social responsibility, and a balance between personal and professional life. However, the fast-paced digital reality presents new challenges for adults during this phase. Engagement in the digital world can offer self-development opportunities through access to information, online learning, and social connectivity. This study examines the implementation of digital psychology on adult development from an educational perspective using the Systematic Literature Review (SLR) method with PRISMA methodology. The study analyzes 6 articles published between 2015 and 2025. The results indicate that the psychological aspects of adults can be influenced by digital use. In adulthood, activities in the digital space include several activities such as using social media, using smartphones and laptops, accessing artificial intelligence on various platforms, and accessing internet search engines. This is in line with the visual representation of the concept of neuroplasticity, which reveals that the use of artificial intelligence has negative effects on spatial cognition and navigation skills as well as disrupts social cognition in adults. In general, it indicates that the psychological aspects of adults can be influenced by digital space usage in the context of education. ABSTRAK Fase perkembangan dewasa merupakan salah satu periode kehidupan yang paling dinamis dan kompleks. Individu dewasa dituntut untuk mencapai kemandirian emosional, stabilitas karier, tanggung jawab sosial, serta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Namun, realitas digital yang serba cepat menghadirkan tantangan baru bagi individu dewasa pada fase ini. Keterlibatan dalam dunia digital dapat memberikan peluang pengembangan diri melalui akses informasi, pembelajaran daring, dan konektivitas sosial. Penelitian ini mengkaji implementasi psikologi digital terhadap perkembangan dewasa dalam perspektif dunia pendidikan dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan metode PRISMA. Analisis penelitian ini melalui 6 artikel     yang diterbitkan dalam kurun waktu 2015–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek psikologis individu dewasa dapat dipengaruhi oleh penggunaan digital. Pada fase dewasa, aktivitas di ruang digital meliputi beberapa aktivitas seperti penggunaan sosial media, penggunaan smartphones dan laptop, akses kecerdasan buatan di berbagai platform serta akses pada mesin pencarian internet. Hal ini sejalan dengan representasi visual dari konsep neuroplastisitas, yang mengungkapkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan memiliki dampak yang buruk pada kognitif spasial dan kemampuan navigasi serta mengganggu kognitif sosial pada dewasa. Secara umum, menunjukkan bahwa aspek psikologis pada dewasa dapat dipengaruhi oleh penggunaan di ruang digital pada aspek pendidikan.