cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PERAN EMPATI TERHADAP PERILAKU CYBERBULLYING PADA MAHASISWA Sahro Najwa Auliya; Saraswati Juana; Cantika Afiyah Wardhana; Salwa Salsabila Siswanto; Chelsy Audi Azzahra Mustofa; Rostiana Rostiana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12007

Abstract

The rapid development of the internet and social media has increased the risk of cyberbullying, particularly among university students who are highly engaged in online platforms. Previous studies have reported inconsistent findings regarding the relationship between empathy and cyberbullying behavior. While some studies suggest that empathy plays a significant role in reducing cyberbullying tendencies, others have found no significant association between the two variables. These inconsistent findings indicate a research gap that warrants further investigation, especially among university students in the Greater Jakarta area (Jabodetabek). Therefore, this study aimed to examine the role of empathy in cyberbullying behavior among active university students. This study employed a quantitative approach using a purposive sampling technique and involved 111 active university students in the Jabodetabek region. Data were collected using the Interpersonal Reactivity Index (IRI) to measure empathy and the Cyberbullying in Social Media Scale (CSMS) to assess cyberbullying behavior. Data were analyzed using Spearman Rank correlation analysis. The findings revealed that students generally demonstrated high levels of empathy and low levels of cyberbullying behavior. Correlation analysis showed that there was no significant relationship between empathy and cyberbullying behavior. These results indicate that empathy may not be the primary factor influencing cyberbullying behavior among university students. The study highlights the importance of considering other contributing factors, such as anonymity, moral disengagement, emotional intelligence, peer influence, and family environment, in developing effective strategies to prevent and address cyberbullying among university students. ABSTRAK Perkembangan internet dan media sosial yang semakin pesat telah meningkatkan risiko munculnya perilaku cyberbullying, terutama pada mahasiswa yang memiliki intensitas penggunaan media sosial yang tinggi. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang belum konsisten mengenai hubungan antara empati dan perilaku cyberbullying. Sejumlah studi menemukan bahwa empati berperan dalam menurunkan kecenderungan cyberbullying, sementara penelitian lain menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan. Ketidakkonsistenan temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan penelitian yang perlu dikaji lebih lanjut, khususnya pada populasi mahasiswa di wilayah Jabodetabek. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran empati terhadap perilaku cyberbullying pada mahasiswa aktif. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 111 mahasiswa aktif di wilayah Jabodetabek. Data dikumpulkan menggunakan Interpersonal Reactivity Index (IRI) untuk mengukur empati dan Cyberbullying in Social Media Scale (CSMS) untuk mengukur perilaku cyberbullying. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat empati mahasiswa cenderung tinggi, sedangkan perilaku cyberbullying cenderung rendah. Analisis korelasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara empati dan perilaku cyberbullying. Temuan ini mengindikasikan bahwa empati bukan merupakan faktor utama yang memengaruhi perilaku cyberbullying pada mahasiswa. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti anonimitas, moral disengagement, kecerdasan emosional, pengaruh teman sebaya, dan lingkungan keluarga dalam upaya pencegahan serta penanganan perilaku cyberbullying di kalangan mahasiswa.
PENGARUH FATHER INVOLVEMENT PADA PERKEMBANGAN REMAJA : SYSTEMATIC REVIEW Tharissa Isna Aulia I.
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12041

Abstract

ABSTRACT Father involvement is an important factor that contributes to adolescents’ psychological and social development. However, studies examining the influence of father involvement are dispersed across various contexts and developmental indicators, making a comprehensive synthesis necessary. This study aimed to identify and analyze the developmental aspects of adolescents influenced by father involvement through a systematic review approach. The review employed the SPIDER (Sample, Phenomenon of Interest, Design, Evaluation, Research Type) framework as the search and selection strategy and utilized the PRISMA diagram to describe the processes of identification, screening, and selection of relevant studies. Based on the selection process, 11 articles met the inclusion criteria and were analyzed in depth. The findings revealed that father involvement positively influences several aspects of adolescent development, including emotional regulation, self-concept, independence, psychological well-being, self-esteem, and self-control. In addition, father involvement was found to be associated with higher levels of prosocial behavior, emotional intelligence, and grit, reflecting adolescents’ perseverance and consistency in facing challenges. These findings indicate that father involvement plays a significant role not only in character formation but also as a protective factor supporting optimal psychosocial development among adolescents. Therefore, enhancing the quality of father involvement in parenting should become a concern for families, educators, and policymakers. ABSTRAK Keterlibatan ayah (father involvement) merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap perkembangan psikologis dan sosial remaja. Namun, berbagai penelitian mengenai pengaruh keterlibatan ayah masih tersebar pada beragam konteks dan indikator perkembangan sehingga diperlukan sintesis yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai aspek perkembangan remaja yang dipengaruhi oleh keterlibatan ayah melalui pendekatan systematic review. Kajian dilakukan dengan menggunakan metode SPIDER (Sample, Phenomenon of Interest, Design, Evaluation, Research Type) sebagai strategi pencarian dan seleksi artikel, serta diagram PRISMA untuk menggambarkan proses identifikasi, penyaringan, dan pemilihan literatur. Berdasarkan proses seleksi yang telah dilakukan, diperoleh 11 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki pengaruh positif terhadap berbagai aspek perkembangan remaja, meliputi regulasi emosi, konsep diri, kemandirian, kesejahteraan psikologis, harga diri (self-esteem), dan kontrol diri. Selain itu, keterlibatan ayah juga berhubungan dengan peningkatan perilaku prososial, kecerdasan emosional, serta kemampuan grit yang mencerminkan ketekunan dan konsistensi remaja dalam menghadapi tantangan. Temuan ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah tidak hanya berperan dalam pembentukan karakter, tetapi juga menjadi faktor protektif yang mendukung perkembangan psikososial remaja secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan kualitas keterlibatan ayah dalam pengasuhan perlu menjadi perhatian keluarga, pendidik, dan pembuat kebijakan..
PERAN INTERPERSONAL TRUST DAN SELF-ESTEEM DALAM MEMBENTUK PERILAKU SELF-DISCLOSURE GEN Z DI SECOND ACCOUNT INSTAGRAM Ryzka Salsabila; Cempaka Putrie Dimala; Anggun Pertiwi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12047

Abstract

ABSTRACT The increasing use of secondary Instagram accounts among Generation Z has created an alternative space for more personal, private, and authentic self-expression compared to primary accounts. Secondary accounts enable users to share their thoughts, feelings, and experiences with a more limited social circle, thereby encouraging self-disclosure. In this context, psychological factors such as interpersonal trust and self-esteem are believed to play important roles in influencing individuals’ willingness to disclose personal information on social media. This study aimed to examine the effects of interpersonal trust and self-esteem on self-disclosure among Generation Z users of secondary Instagram accounts. A quantitative approach with a causal associative design was employed. The participants consisted of Generation Z individuals aged 18–29 years who owned more than one Instagram account. Data were collected using instruments measuring interpersonal trust, self-esteem, and self-disclosure and were analyzed through multiple regression analysis. The findings revealed that interpersonal trust had a positive effect on self-disclosure, indicating that individuals with higher levels of trust were more likely to share personal information through their secondary Instagram accounts. Self-esteem was also found to positively influence self-disclosure, suggesting that individuals with a more positive self-evaluation tended to express their thoughts, feelings, and personal experiences more openly. Furthermore, self-esteem demonstrated a stronger influence on self-disclosure than interpersonal trust. Taken together, both variables contributed to explaining self-disclosure behavior among secondary Instagram account users. These findings highlight that self-disclosure on social media is shaped by both social and personal factors. Therefore, strengthening interpersonal trust and fostering positive self-esteem are important for promoting healthier and more constructive social media engagement among Generation Z.   ABSTRAK Penggunaan second account Instagram di kalangan Generasi Z semakin meningkat sebagai ruang alternatif untuk mengekspresikan diri secara lebih personal, privat, dan autentik dibandingkan akun utama. Kehadiran akun kedua memungkinkan pengguna untuk berbagi pikiran, perasaan, dan pengalaman kepada lingkaran sosial yang lebih terbatas sehingga mendorong terjadinya self-disclosure. Dalam konteks ini, faktor psikologis seperti interpersonal trust dan self-esteem diduga berperan penting dalam memengaruhi kecenderungan individu untuk mengungkapkan informasi pribadi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh interpersonal trust dan self-esteem terhadap self-disclosure pada pengguna second account Instagram dari Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal. Partisipan penelitian terdiri atas individu Generasi Z berusia 18–29 tahun yang memiliki lebih dari satu akun Instagram. Data dikumpulkan menggunakan instrumen yang mengukur interpersonal trust, self-esteem, dan self-disclosure, kemudian dianalisis menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpersonal trust berpengaruh positif terhadap self-disclosure, yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi cenderung lebih terbuka dalam membagikan informasi pribadi melalui second account Instagram. Self-esteem juga berpengaruh positif terhadap self-disclosure, menunjukkan bahwa individu dengan penilaian diri yang lebih positif lebih mudah mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman pribadinya. Selain itu, self-esteem ditemukan memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan interpersonal trust. Secara bersama-sama, kedua variabel tersebut berkontribusi dalam menjelaskan perilaku self-disclosure pada pengguna second account Instagram. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku pengungkapan diri di media sosial dipengaruhi oleh faktor sosial dan personal. Oleh karena itu, penguatan kepercayaan interpersonal dan harga diri positif penting untuk mendukung penggunaan media sosial yang sehat dan konstruktif pada Generasi Z.
DINAMIKA DUKUNGAN SOSIAL DALAM MEMBENTUK EMPLOYEE ENGAGEMENT DI PT ULTIMA THONY TF: SEBUAH STUDI FENOMENOLOGIS Siti Nuraisah; Raden Mutiara Puspa Wijaya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12089

Abstract

ABSTRACT Human resources are strategic assets that play a crucial role in determining organizational success through high levels of employee engagement. However, employee engagement is influenced not only by individual factors but also by the availability of social support within the workplace. This study aimed to explore and understand the dynamics of social support in shaping employee engagement among employees of PT Ultima Thony TF. A qualitative approach with an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) design was employed. Participants were selected using purposive sampling, consisting of active employees who had worked for at least one year and experienced high job demands. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and analyzed iteratively and inductively to identify essential themes from participants’ lived experiences. The findings revealed that social support was manifested through two main dimensions: supervisor support and coworker support. Supervisor support functioned as a source of emotional assistance, guidance, and instrumental help in solving work-related problems, while coworker support fostered solidarity, a sense of belonging, and collaborative relationships. The integration of these two forms of support created psychological safety and mutual trust, encouraging employees to demonstrate vigor, dedication, and absorption in their work. The study concludes that social support is a crucial factor in fostering employee engagement and should be maintained through organizational policies that promote an inclusive, supportive, and employee-centered work environment. The findings contribute to the understanding of workplace social dynamics and provide practical implications for human resource management strategies. ABSTRAK Sumber daya manusia merupakan aset strategis yang menentukan keberhasilan organisasi melalui tingkat keterikatan kerja (employee engagement) yang tinggi. Namun, upaya membangun keterikatan kerja tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, melainkan juga oleh dukungan sosial yang tersedia di lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami secara mendalam dinamika dukungan sosial dalam membentuk employee engagement pada karyawan PT Ultima Thony TF. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Informan dipilih melalui teknik purposive sampling dengan kriteria karyawan aktif yang telah bekerja minimal satu tahun dan menghadapi tuntutan kerja yang tinggi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, kemudian dianalisis secara iteratif dan induktif untuk menemukan tema-tema esensial pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial terbentuk melalui dua dimensi utama, yaitu dukungan atasan (supervisor support) dan dukungan rekan kerja (coworker support). Dukungan atasan berperan sebagai sumber bantuan emosional, arahan, dan pemecahan masalah kerja, sedangkan dukungan rekan kerja membangun solidaritas, rasa kebersamaan, dan kerja sama yang kuat. Integrasi kedua bentuk dukungan tersebut menciptakan keamanan psikologis (psychological safety) dan kepercayaan timbal balik (trust) yang mendorong karyawan untuk menunjukkan semangat kerja (vigor), dedikasi (dedication), dan keterlibatan penuh (absorption) dalam pekerjaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan faktor penting dalam pembentukan employee engagement dan perlu dipertahankan melalui kebijakan organisasi yang mendukung lingkungan kerja yang inklusif, suportif, dan berorientasi pada kesejahteraan karyawan.
EMOTIONAL INTELLIGENCE PADA STRESS AKADEMIK MAHASISWA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW: Sistematik Literature Review Zaatul Izzah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12102

Abstract

ABSTRACT Academic stress is one of the psychological problems frequently experienced by university students due to various academic demands, including assignments, examinations, academic achievement expectations, and time management challenges. This condition may negatively affect students’ psychological well-being and academic performance. One of the internal factors that can help reduce academic stress is emotional intelligence, which refers to an individual’s ability to recognize, understand, regulate, and express emotions effectively. This study aims to analyze the influence of emotional intelligence on academic stress among university students through a Systematic Literature Review (SLR) approach. Data were collected from relevant scientific articles published in reputable academic databases. The review process involved identification, selection, evaluation, and synthesis of studies that met the inclusion criteria. The findings indicate that emotional intelligence is negatively associated with academic stress. Students with higher emotional intelligence tend to manage academic pressures more effectively, regulate their emotions, adapt to learning challenges, and employ more effective coping strategies, resulting in lower levels of academic stress. Therefore, emotional intelligence is an important factor in supporting students’ ability to cope with academic demands and maintain their psychological well-being. ABSTRAK Stress akademik merupakan permasalahan psikologis yang sering dialami oleh mahasiswa akibat berbagai tuntutan akademik seperti tugas kuliah, ujian, tekanan untuk memperoleh nilai yang baik, serta kemampuan mengatur waktu. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dan prestasi akademik mahasiswa. Salah satu faktor internal yang diduga berperan dalam mengelola tekanan akademik adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain secara efektif. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap tingkat stress akademik pada mahasiswa di perguruan tinggi. Metode yang digunakan adalah kajian Systematic Literature Review dengan pengumpulan data melalui sumber-sumber relevan. Selain itu SLR juga bertujuan untuk mengungkapkan teori yang relevan dengan kasus dalam penelitian tersebut.Hasil kajian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh terhadap stress akademik mahasiswa. Mahasiswa dengan kecerdasan emosional yang tinggi cenderung mampu mengelola tekanan akademik dengan lebih baik sehingga tingkat stress akademik yang dialami menjadi lebih rendah.
HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN FEAR OF FAILURE PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI INDONESIA Yohana Stefani Simalango; Nenny ka Putri Simarmata
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12122

Abstract

ABSTRACT Fear of failure is one of the most common psychological challenges experienced by undergraduate students during the thesis-writing process, as it can hinder motivation, reduce self-confidence, and negatively affect academic performance. One psychological factor believed to help students cope with such challenges is self-efficacy, which refers to an individual's belief in their ability to manage tasks, overcome obstacles, and achieve desired goals. This study aimed to examine the relationship between self-efficacy and fear of failure among final-year undergraduate students in Indonesia who were completing their theses. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving final-year students as research participants. Data were collected using the Self-Efficacy Scale based on Bandura’s theory and the Fear of Failure Scale based on the theory of Conroy, Kaye, and Fifer. The data were analyzed using Pearson Product-Moment correlation. The findings revealed a significant negative relationship between self-efficacy and fear of failure. This result indicates that students with higher levels of self-efficacy tend to experience lower levels of fear of failure when facing the demands of thesis completion. Conversely, lower self-efficacy is associated with greater fear of failure and increased difficulty in dealing with academic challenges. These findings suggest that self-efficacy serves as an important psychological resource that helps students manage academic pressures and maintain confidence in completing their studies. This study highlights the importance of developing mentoring programs and psychological interventions aimed at enhancing self-efficacy to support the psychological readiness of final-year students throughout the thesis-writing process and successful degree completion. ABSTRAK Fear of failure menjadi salah satu tantangan psikologis yang sering dialami mahasiswa tingkat akhir dalam proses penyusunan skripsi karena dapat menghambat motivasi, menurunkan kepercayaan diri, serta memengaruhi penyelesaian tugas akademik secara optimal. Salah satu faktor psikologis yang diyakini dapat membantu mahasiswa menghadapi ketakutan tersebut adalah self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengelola tugas, mengatasi hambatan, dan mencapai tujuan yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan fear of failure pada mahasiswa tingkat akhir di Indonesia yang sedang menyusun skripsi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan mahasiswa tingkat akhir sebagai partisipan penelitian. Data dikumpulkan menggunakan skala Self-Efficacy berdasarkan teori Bandura dan skala Fear of Failure berdasarkan teori Conroy, Kaye, dan Fifer, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-efficacy dan fear of failure. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa yang memiliki keyakinan lebih tinggi terhadap kemampuan dirinya cenderung memiliki tingkat ketakutan terhadap kegagalan yang lebih rendah dalam menghadapi tuntutan penyusunan skripsi. Sebaliknya, rendahnya self-efficacy berkaitan dengan meningkatnya kekhawatiran akan kegagalan dan kesulitan dalam menghadapi tantangan akademik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa self-efficacy berperan sebagai sumber daya psikologis yang penting dalam membantu mahasiswa mengelola tekanan akademik dan mempertahankan keyakinan untuk menyelesaikan studi. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan program pendampingan dan intervensi psikologis yang berfokus pada peningkatan self-efficacy guna mendukung kesiapan mental mahasiswa tingkat akhir dalam menghadapi proses penyusunan skripsi dan penyelesaian studi secara optimal.
PENGARUH CINTA UANG, KEPUASAN GAJI DAN INTEGRITAS TERHADAP KORUPSI POLISI Denny Hariyanto; Novi Hidayat; Rismawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12196

Abstract

ABSTRACT Corruption is a serious crime that has widespread impacts on social welfare, economic development, and public trust. Ironically, corrupt practices are also found within police institutions, which are responsible for law enforcement and anti-corruption efforts. This study aimed to examine the influence of love of money, salary satisfaction, and integrity on corruption tendencies among police officers. A quantitative survey design was employed in this research. Data were collected using questionnaires consisting of four measurement scales from 222 police officers serving at the East Jakarta Police Resort, Indonesia. Multiple regression analysis was applied to determine the effects of the independent variables on corruption tendencies. The findings revealed that love of money and integrity significantly influenced corruption tendencies among police officers, whereas salary satisfaction had no significant effect. In addition, the results indicated that 51% of respondents were classified as having a high potential for corruption. These findings suggest that psychological factors, particularly excessive attachment to money and low integrity, play a more substantial role in explaining corruption tendencies than salary satisfaction. The study highlights the importance of strengthening integrity and ethical values as key strategies for preventing corruption within police institutions. These findings suggest that psychological and moral factors, particularly love of money and integrity, play a more substantial role in predicting corruption tendencies among police officers than salary satisfaction. Strengthening integrity-based interventions may therefore be an effective strategy for corruption prevention within law enforcement institutions. ABSTRAK Korupsi merupakan salah satu kejahatan yang berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan pembangunan suatu negara. Ironisnya, praktik korupsi juga ditemukan pada institusi kepolisian yang memiliki tugas utama dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh cinta uang (love of money), kepuasan gaji, dan integritas terhadap kecenderungan perilaku korupsi pada anggota kepolisian. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri atas empat skala pengukuran dan melibatkan 222 anggota Kepolisian Resort Jakarta Timur, DKI Jakarta, sebagai responden. Data dianalisis menggunakan teknik regresi berganda untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independen terhadap korupsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cinta uang dan integritas berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan korupsi pada anggota kepolisian, sedangkan kepuasan gaji tidak terbukti berpengaruh signifikan. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa sebanyak 51% responden berada pada kategori potensi korupsi yang tinggi. Dengan demikian, faktor psikologis berupa kecintaan yang berlebihan terhadap uang serta rendahnya integritas menjadi faktor yang lebih dominan dalam menjelaskan kecenderungan korupsi dibandingkan faktor kepuasan gaji. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan integritas dan pembinaan nilai-nilai etika sebagai strategi pencegahan korupsi di lingkungan kepolisian.
PENGGUNAAN SSRI SELAMA KEHAMILAN: TINJAUAN RISIKO TERHADAP KESEHATAN IBU DAN NEONATAL Kartika Cahyaningrum; Widyastuti Widyastuti; Ismalandari Ismail
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12197

Abstract

ABSTRACT Depression during pregnancy is a common health problem that may adversely affect both the mother and the fetus if left untreated. One of the most frequently prescribed treatments is selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs); however, their use during pregnancy remains controversial due to potential risks for maternal and neonatal outcomes. This study aimed to comprehensively examine the risks and benefits of SSRI use during pregnancy based on recent scientific evidence. A literature review method was employed by analyzing 15 scientific articles obtained from various academic databases and published between 2016 and 2026. The review process included identification, selection, evaluation, and synthesis of studies relevant to SSRI use among pregnant women. The findings indicate that SSRI use, particularly during the third trimester and at higher doses, is associated with an increased risk of neonatal adaptation syndrome, respiratory disorders, lower Apgar scores, and reduced birth weight. In mothers, SSRI exposure has been linked to a higher risk of gestational diabetes, gestational hypertension, and postpartum hemorrhage. Nevertheless, several studies reported inconsistent findings, suggesting that these risks may be influenced by confounding factors, including the severity of maternal depression. Furthermore, untreated maternal depression has also been shown to increase the risk of adverse pregnancy outcomes and developmental problems in infants. Therefore, decisions regarding SSRI use during pregnancy should be individualized through a comprehensive assessment of potential benefits and risks for both the mother and the fetus. ABSTRAK Depresi selama kehamilan merupakan masalah kesehatan yang cukup sering terjadi dan dapat menimbulkan dampak negatif bagi ibu maupun janin apabila tidak ditangani secara tepat. Salah satu terapi yang banyak digunakan adalah selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), namun penggunaannya selama kehamilan masih menimbulkan perdebatan karena adanya potensi risiko terhadap luaran maternal dan neonatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif risiko dan manfaat penggunaan SSRI selama kehamilan berdasarkan temuan penelitian terkini. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah 15 artikel ilmiah yang diperoleh dari berbagai basis data akademik dan diterbitkan pada periode 2016–2026. Tahapan penelitian meliputi identifikasi, seleksi, evaluasi, dan sintesis hasil penelitian yang relevan dengan penggunaan SSRI pada ibu hamil. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan SSRI, terutama pada trimester akhir kehamilan dan dalam dosis tinggi, berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan adaptasi neonatal, gangguan pernapasan, skor Apgar yang lebih rendah, serta berat lahir yang lebih rendah. Pada ibu, penggunaan SSRI dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes gestasional, hipertensi gestasional, dan perdarahan pascapersalinan. Namun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko tersebut tidak selalu konsisten dan dapat dipengaruhi oleh faktor perancu, termasuk tingkat keparahan depresi maternal. Di sisi lain, depresi yang tidak mendapatkan penanganan juga terbukti meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan gangguan perkembangan bayi. Oleh karena itu, keputusan penggunaan SSRI selama kehamilan perlu dilakukan secara individual melalui pertimbangan manfaat dan risiko klinis yang komprehensif bagi ibu dan janin.
HUBUNGAN SELF-EFFICACY DAN WORK LIFE BALANCE PADA TENAGA KEPENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI X Leilani Megara Nathania; Meita Santi Budiani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12203

Abstract

ABSTRACT Work-life balance is an important factor that supports the psychological well-being and productivity of educational staff in carrying out administrative and academic service responsibilities in higher education institutions. One factor presumed to contribute to the achievement of work-life balance is self-efficacy, which refers to an individual's belief in their ability to complete tasks and cope with various work demands. This study aimed to examine the relationship between self-efficacy and work-life balance among educational staff at University X. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The population consisted of 139 educational staff members, and 104 respondents participated in the study. Data were collected using Likert-scale instruments measuring self-efficacy and work-life balance and were analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test with the assistance of SPSS version 25. The results revealed a positive and significant relationship between self-efficacy and work-life balance (r = 0.450, p = 0.000 < 0.05). These findings indicate that educational staff with higher levels of self-efficacy tend to be more capable of maintaining a balance between work demands and personal life. The study contributes to the development of occupational psychology and educational organization research by providing empirical evidence that self-efficacy functions as a personal resource that supports the achievement of work-life balance among educational staff. Furthermore, the findings may serve as a basis for higher education institutions in designing programs aimed at strengthening self-efficacy to enhance employee well-being and performance. ABSTRAK Work life balance merupakan aspek penting yang mendukung kesejahteraan psikologis, kepuasan kerja, dan produktivitas tenaga kependidikan dalam menjalankan tugas administratif maupun pelayanan akademik di perguruan tinggi. Kemampuan menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin penting karena tenaga kependidikan memiliki peran strategis dalam mendukung kualitas layanan pendidikan tinggi. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap tercapainya work life balance adalah self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan work life balance pada tenaga kependidikan di Perguruan Tinggi X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian berjumlah 139 tenaga kependidikan dengan sampel sebanyak 104 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Likert dan dianalisis melalui uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara self-efficacy dan work life balance dengan koefisien korelasi sebesar 0,450 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki tenaga kependidikan, semakin baik kemampuan mereka dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Secara teoritis, hasil penelitian memperkuat kajian psikologi kerja mengenai peran keyakinan diri dalam mendukung penyesuaian individu terhadap berbagai tuntutan peran. Temuan ini juga dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam merancang program penguatan self-efficacy guna meningkatkan kesejahteraan dan kinerja tenaga kependidikan.
RESILIENSI EMOSIONAL ANAK USIA DINI MELALUI MINDFULNESS BERBASIS RUTINITAS SEKOLAH: PERSPEKTIF GURU PAUD DI KOTA SEMARANG Ira Lestary; Lucia Rini Sugiarti; Erwin Erlangga
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Peningkatan resiliensi emosional pada anak usia dini menjadi salah satu tantangan penting dalam pendidikan anak usia dini karena kemampuan ini berperan dalam membantu anak menghadapi berbagai tekanan dan perubahan lingkungan secara adaptif. Salah satu pendekatan yang dinilai efektif untuk mendukung perkembangan tersebut adalah penerapan praktik mindfulness yang terintegrasi dalam rutinitas sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman dan penerapan mindfulness berbasis rutinitas sekolah oleh guru PAUD di Kota Semarang dalam mendukung resiliensi emosional anak, serta mengkaji kontribusi dukungan sosial dan resiliensi guru terhadap keberhasilan implementasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan guru PAUD berpengalaman sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kelas, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik induktif. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema utama, yaitu rutinitas mindfulness sebagai struktur regulatif harian, guru sebagai model ko-regulasi emosi bagi anak, dukungan sosial sebagai penopang keberlanjutan praktik guru, dan resiliensi emosional anak sebagai dampak yang dapat diamati. Temuan menunjukkan bahwa resiliensi emosional anak tidak berkembang secara spontan, melainkan dibentuk melalui ekosistem relasional yang secara sadar dibangun oleh guru melalui praktik mindfulness yang konsisten dan didukung oleh lingkungan sosial sekolah yang kondusif. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan program pelatihan mindfulness berbasis rutinitas yang terintegrasi dalam budaya sekolah PAUD guna memperkuat kesejahteraan emosional anak dan guru secara berkelanjutan. ABSTRAK Peningkatan resiliensi emosional pada anak usia dini menjadi salah satu tantangan penting dalam pendidikan anak usia dini karena kemampuan ini berperan dalam membantu anak menghadapi berbagai tekanan dan perubahan lingkungan secara adaptif. Salah satu pendekatan yang dinilai efektif untuk mendukung perkembangan tersebut adalah penerapan praktik mindfulness yang terintegrasi dalam rutinitas sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman dan penerapan mindfulness berbasis rutinitas sekolah oleh guru PAUD di Kota Semarang dalam mendukung resiliensi emosional anak, serta mengkaji kontribusi dukungan sosial dan resiliensi guru terhadap keberhasilan implementasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan guru PAUD berpengalaman sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kelas, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik induktif. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema utama, yaitu rutinitas mindfulness sebagai struktur regulatif harian, guru sebagai model ko-regulasi emosi bagi anak, dukungan sosial sebagai penopang keberlanjutan praktik guru, dan resiliensi emosional anak sebagai dampak yang dapat diamati. Temuan menunjukkan bahwa resiliensi emosional anak tidak berkembang secara spontan, melainkan dibentuk melalui ekosistem relasional yang secara sadar dibangun oleh guru melalui praktik mindfulness yang konsisten dan didukung oleh lingkungan sosial sekolah yang kondusif. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan program pelatihan mindfulness berbasis rutinitas yang terintegrasi dalam budaya sekolah PAUD guna memperkuat kesejahteraan emosional anak dan guru secara berkelanjutan.