cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA TERHADAP RESILIENSI AKADEMIK PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SEMARANG Muhamad Andika; Lucia Rini Sugiarti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12360

Abstract

University students often encounter various academic demands that may lead to significant pressure, requiring the ability to adapt and persist, known as academic resilience. Peer social support is considered an important factor in strengthening this ability. This study aimed to examine the effect of peer social support on the academic resilience of students at the Faculty of Psychology, Universitas Semarang. A quantitative approach with a predictive correlational design was employed. The participants consisted of 107 students selected through purposive sampling. Data were collected using the Peer Social Support Scale and the Academic Resilience Scale (ARS-30), and analyzed using simple linear regression. The findings indicate that peer social support has a positive and significant influence on students' academic resilience. This suggests that students who receive greater social support from their peers tend to demonstrate higher levels of academic resilience in coping with various challenges encountered throughout the learning process. These findings suggest that strengthening peer social support is essential in promoting students’ ability to cope with academic challenges in higher education. ABSTRAK Mahasiswa perguruan tinggi sering menghadapi berbagai tuntutan akademik yang dapat menimbulkan tekanan, sehingga memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dan bertahan yang dikenal sebagai resiliensi akademik. Dukungan sosial teman sebaya dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam memperkuat kemampuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap resiliensi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Partisipan berjumlah 107 mahasiswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya dan Academic Resilience Scale (ARS-30), serta dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi akademik mahasiswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima mahasiswa dari teman sebayanya, semakin tinggi pula tingkat resiliensi akademik yang dimiliki dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses pembelajaran. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan dukungan sosial teman sebaya dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa menghadapi tantangan akademik di perguruan tinggi.
HUBUNGAN SELF-ESTEEM DENGAN KEBERANIAN MELAPOR CYBERBULLYING DI SMP Maulidia Farah Diba; Muhammad Andri Setiawan; Ririanti Rachmayanie Jamain
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12426

Abstract

The development of digital technology has created opportunities for cyberbullying to occur among adolescents, particularly junior high school students. However, the reporting rate remains low, and one variable assumed to be related to the courage to report is self-esteem. Previous studies have mostly positioned self-esteem as a factor related to whether an individual becomes a victim or perpetrator of cyberbullying, whereas this study differs by focusing on the courage to report. This study aims to analyze the relationship between self-esteem and the courage to report cyberbullying in junior high school. A quantitative correlational approach was used with a sample of 167 seventh-grade students at SMP Negeri 24 Banjarmasin, selected using purposive sampling. Data were collected using two questionnaires, namely a self-esteem questionnaire and a courage to report cyberbullying questionnaire, and were then analyzed using Pearson’s Product Moment correlation. The results showed that students’ self-esteem and courage to report cyberbullying were both in the moderate category. In addition, self-esteem had a positive, significant, and strong relationship with the courage to report cyberbullying. In other words, the higher the students’ self-esteem, the greater their courage to report. These findings indicate that students’ self-esteem needs to be strengthened through guidance and counseling services because it is related to students’ courage to report cyberbullying cases. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membuka celah munculnya cyberbullying di kalangan remaja, khususnya pada siswa SMP. Namun, tingkat pelaporan masih rendah, dan salah satu variabel yang diduga berkaitan dengan keberanian melapor adalah self-esteem. Kajian terdahulu banyak menempatkan self-esteem sebagai faktor yang berkaitan dengan posisi seseorang sebagai korban atau pelaku cyberbullying, sedangkan penelitian ini berbeda karena berfokus pada keberanian melapor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-esteem dengan keberanian melapor cyberbullying di SMP. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan sampel sebanyak 167 siswa kelas VII SMP Negeri 24 Banjarmasin yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan dua angket, yaitu angket self-esteem dan angket keberanian melapor cyberbullying, kemudian dianalisis dengan Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-esteem dan keberanian melapor cyberbullying siswa sama-sama berada pada kategori sedang. Selain itu, self-esteem memiliki hubungan positif, signifikan, dan kuat dengan keberanian melapor cyberbullying. Dengan kata lain, semakin tinggi self-esteem siswa, semakin tinggi pula keberanian mereka untuk melapor. Temuan ini menunjukkan bahwa self-esteem siswa penting diperkuat melalui layanan bimbingan dan konseling karena berkaitan dengan keberanian siswa dalam melaporkan kasus cyberbullying.
PENGARUH PENGGUNAAN MAKE-UP TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI SISWI SEKOLAH MENENGAH Jellyta Norafrigita; Muhammad Arsyad; Noor Ainnah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12597

Abstract

This study aims to analyze the effect of make-up use on the self-confidence of female secondary school students. Previous studies generally indicate that make-up use is associated with increased self-confidence; however, most of these studies remain descriptive and have rarely measured its quantitative contribution among female secondary school students. This study employed a quantitative approach with a causal-associative method. The research was conducted at SMA Negeri 2 Banjarmasin and involved female students in grades X and XI as respondents. Data were collected using a Likert-scale questionnaire that had been tested for validity and reliability, and were then analyzed through prerequisite tests and simple linear regression with the assistance of SPSS. The results showed that make-up use had a positive and significant effect on students’ self-confidence, although the effect was very small. These findings indicate that make-up is not the main factor determining self-confidence, as students’ self-confidence is more strongly influenced by other psychosocial factors. Therefore, school Guidance and Counseling services should focus on strengthening self-concept, self-acceptance, and positive body image so that students can develop healthy and authentic self-confidence without relying solely on physical appearance. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan make-up terhadap kepercayaan diri siswi sekolah menengah. Penelitian terdahulu umumnya menunjukkan bahwa penggunaan make-up berkaitan dengan peningkatan kepercayaan diri, tetapi sebagian besar masih bersifat deskriptif dan belum banyak mengukur kontribusinya secara kuantitatif pada siswi sekolah menengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif kausal. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Banjarmasin dengan melibatkan siswi kelas X dan XI sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis melalui uji prasyarat dan regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan make-up berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepercayaan diri siswi, tetapi pengaruh tersebut tergolong sangat kecil. Temuan ini menunjukkan bahwa make-up bukan faktor utama yang menentukan kepercayaan diri, karena kepercayaan diri siswi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikososial lain. Oleh karena itu, layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah perlu diarahkan pada penguatan konsep diri, penerimaan diri, dan citra tubuh positif agar siswi dapat membangun kepercayaan diri yang sehat dan autentik tanpa bergantung pada penampilan fisik semata.
GAMBARAN FORGIVENESS PADA REMAJA AKHIR BROKEN HOME DI KOTA KUPANG Sarah Marchella Letelay; Marylin Susanti Junias; Christiani Natasya Miru; Mariana Dinah Charlota Lerik
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12602

Abstract

This study was motivated by the high number of parental divorce cases in Kupang City, which affect the psychological condition of late adolescents from broken home families, especially in the process of forgiveness. This study aimed to identify and describe in depth the picture of forgiveness among late adolescents from broken home families due to parental divorce in Kupang City. This study used a descriptive qualitative approach with purposive sampling. The participants were five late adolescents aged 18-22 years from broken home families due to parental divorce. Data were collected through semi-structured interviews and documentation and then analyzed using thematic analysis based on Enright’s four stages of forgiveness: the uncovering phase, the decision phase, the work phase, and the deepening phase. The findings showed that the forgiveness process among participants unfolded gradually, beginning with anger, sadness, and feelings of unfairness, then moving toward acceptance, understanding the reasons behind the divorce, and efforts to reconcile with the situation. In the final stage, participants experienced relief, peace, and greater positive meaning in life. In conclusion, forgiveness among late adolescents from broken home families is a complex yet important psychological process that helps adolescents accept parental divorce experiences and build better emotional well-being. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus perceraian orang tua di Kota Kupang yang berdampak pada kondisi psikologis remaja akhir dari keluarga broken home, khususnya dalam proses pemaafan atau forgiveness. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara mendalam gambaran forgiveness pada remaja akhir broken home akibat perceraian orang tua di Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah lima orang remaja akhir usia 18-22 tahun yang berasal dari keluarga broken home akibat perceraian orang tua. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan empat tahap forgiveness menurut Enright, yaitu uncovering phase, decision phase, work phase, dan deepening phase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses forgiveness pada partisipan berlangsung secara bertahap, diawali dengan kemarahan, kesedihan, dan rasa tidak adil, kemudian berkembang menjadi penerimaan, pemahaman terhadap alasan perceraian, dan usaha untuk berdamai dengan keadaan. Pada tahap akhir, partisipan merasakan kelegaan, ketenangan, serta pemaknaan hidup yang lebih positif. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa forgiveness pada remaja akhir broken home merupakan proses psikologis yang kompleks tetapi penting dalam membantu remaja menerima pengalaman perceraian orang tua dan membangun kesejahteraan emosional yang lebih baik.
HUBUNGAN PARASOCIAL RELATIONSHIP, SENSE OF BELONGING DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PENGGEMAR K-POP GEN Z JAWA BARAT Karmila Apriani; Rifqi Farisan Akbar; Pratidina Ekanesia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12611

Abstract

ABSTRACT The development of digital culture and the globalization of popular culture have provided opportunities for Generation Z K-Pop fans to develop emotional connections, social identities, and attachment within fan communities. However, intensive involvement in fan culture may also influence individuals’ psychological conditions, particularly their psychological well-being. This study aims to analyze the relationship between parasocial relationship (PSR) and sense of belonging (SOB) on psychological well-being (PWB) among Generation Z K-Pop fans in West Java. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional correlational design. The participants consisted of 107 individuals aged 18–29 years who actively participated in online K-Pop fan communities. Data were collected using the Celebrity Attitude Scale (CAS), Sense of Belonging Instrument (SOBI), and Scales of Psychological Well-Being (SPWB). Data analysis was conducted using multiple linear regression to examine the contribution of independent variables to psychological well-being. The results showed that parasocial relationship and sense of belonging had positive relationships and contributed to the psychological well-being of Generation Z K-Pop fans. Sense of belonging was found to have a more dominant role than parasocial relationship in explaining individuals’ psychological well-being. These findings indicate that stronger emotional attachment to idol figures and a higher sense of belonging within communities are associated with better psychological well-being among fans. This study supports Social Identity Theory and provides implications for developing more inclusive fan communities that are able to promote and maintain the psychological well-being of their members. ABSTRAK Perkembangan budaya digital dan globalisasi budaya populer telah memberikan ruang bagi penggemar K-Pop Generasi Z untuk membangun hubungan emosional, identitas sosial, serta keterikatan dalam komunitas penggemar. Namun, keterlibatan yang intens dalam budaya penggemar juga dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi psikologis individu, khususnya dalam aspek psychological well-being. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan parasocial relationship (PSR) dan sense of belonging (SOB) terhadap psychological well-being (PWB) pada penggemar K-Pop Generasi Z di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 107 individu berusia 18–29 tahun yang aktif mengikuti komunitas penggemar K-Pop secara daring. Data penelitian dikumpulkan menggunakan Celebrity Attitude Scale (CAS), Sense of Belonging Instrument (SOBI), dan Scales of Psychological Well-Being (SPWB). Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui kontribusi variabel independen terhadap psychological well-being. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parasocial relationship dan sense of belonging memiliki hubungan positif serta berkontribusi terhadap psychological well-being penggemar K-Pop Generasi Z. Sense of belonging ditemukan memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan parasocial relationship dalam menjelaskan psychological well-being individu. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin kuat keterikatan emosional terhadap figur idola dan semakin tinggi rasa memiliki terhadap komunitas, maka semakin baik kondisi kesejahteraan psikologis penggemar. Penelitian ini mendukung Social Identity Theory serta memberikan implikasi bagi pengembangan komunitas penggemar yang lebih inklusif dan mampu mendukung kesejahteraan psikologis anggotanya.
ANALISIS SELF-DEFENSE TERHADAP KORBAN CYBERBULLYING PADA REMAJA DI SMA NEGERI 12 BANJARMASIN Siti Nurhaifa; Ririanti Rachmayanie Jamain; Muhammad Andri Setiawan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12686

Abstract

ABSTRACT Digital technological development and the increasing use of social media among adolescents have brought both positive and negative impacts, one of which is the rising incidence of cyberbullying that affects victims’ psychological conditions. This study focuses on the forms of self-defense mechanisms used by adolescent victims of cyberbullying at SMA Negeri 12 Banjarmasin in dealing with psychological pressure resulting from such experiences. This research employs a qualitative approach with a descriptive design. The research subjects were selected using purposive sampling, consisting of two student victims of cyberbullying, a Guidance and Counseling teacher, and the Vice Principal. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The data were analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing, and validated through source and technique triangulation. The results indicate that victims employ nine forms of defense mechanisms, namely denial, projection, reaction formation, displacement, fixation, regression, repression, rationalization, and sublimation. The most dominant mechanism is reaction formation, reflected in the tendency of victims to remain friendly, calm, and positive despite experiencing emotional distress. The study concludes that defense mechanisms not only serve to reduce anxiety but also function as adaptive strategies for adolescents in maintaining social relationships and gaining environmental acceptance. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital dan meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja telah membawa dampak positif sekaligus negatif, salah satunya adalah meningkatnya kasus cyberbullying yang berdampak pada kondisi psikologis korban. Penelitian ini berfokus pada bentuk-bentuk mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanisms) yang digunakan remaja korban cyberbullying di SMA Negeri 12 Banjarmasin dalam menghadapi tekanan psikologis akibat pengalaman tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Subjek penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling yang terdiri dari dua siswa korban cyberbullying, guru Bimbingan dan Konseling, serta Wakil Kepala Sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban menggunakan sembilan bentuk mekanisme pertahanan diri, yaitu denial, proyeksi, reaction formation, displacement, fiksasi, regresi, represi, rasionalisasi, dan sublimasi. Mekanisme yang paling dominan adalah reaction formation, yang ditunjukkan melalui sikap tetap ramah, tenang, dan positif meskipun mengalami tekanan emosional. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme pertahanan diri tidak hanya berfungsi sebagai cara mengurangi kecemasan, tetapi juga sebagai strategi adaptif remaja dalam mempertahankan hubungan sosial dan memperoleh penerimaan lingkungan.
PENGARUH DUKUNGAN ORGANISASI TERHADAP WORK-LIFE BALANCE DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI MODERATOR Savrina Bakti Putri Lestari; Arinal Chusnah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12739

Abstract

ABSTRACT The increasingly complex administrative demands of the Raudhatul Athfal (RA) institution cause school operators to often complete work outside of working hours, potentially disrupting the work-life balance. This condition shows the importance of organizational support as well as the individual's ability to manage emotions to help deal with various job demands. This study aims to determine the influence of organizational support on work-life balance with emotional intelligence as a moderator variable in RA operators in Pasuruan Regency. The research uses a quantitative approach with a correlational design. The research sample amounted to 154 RA operators which were determined using purposive sampling techniques. Data collection was carried out using a work-life balance scale, organizational support, and emotional intelligence that has met the validity and reliability tests. Data analysis was carried out using Moderated Regression Analysis (MRA). The results of the study show that organizational support has a positive and significant effect on work-life balance, as well as emotional intelligence also has a significant effect. However, the interaction between organizational support and emotional intelligence did not have a significant effect, so emotional intelligence did not play a role as a moderator variable. This study concludes that the work-life balance of RA operators in Pasuruan Regency is influenced by organizational support and emotional intelligence who work independently. ABSTRAK Tuntutan administrasi yang semakin kompleks pada lembaga Raudhatul Athfal (RA) menyebabkan operator sekolah sering menyelesaikan pekerjaan di luar jam kerja sehingga berpotensi mengganggu keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance). Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan organisasi serta kemampuan individu dalam mengelola emosi untuk membantu menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan organisasi terhadap work-life balance dengan kecerdasan emosional sebagai variabel moderator pada operator RA di Kabupaten Pasuruan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 154 operator RA yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala work-life balance, dukungan organisasi, dan kecerdasan emosional yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap work-life balance, demikian pula kecerdasan emosional juga berpengaruh signifikan. Namun, interaksi antara dukungan organisasi dan kecerdasan emosional tidak berpengaruh signifikan, sehingga kecerdasan emosional tidak berperan sebagai variabel moderator. Penelitian ini menyimpulkan bahwa work-life balance operator RA Kabupaten Pasuruan dipengaruhi oleh dukungan organisasi dan kecerdasan emosional yang bekerja secara independen.
MUSIK SEBAGAI RUANG SIMBOLIK PENYEMBUHAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA PRA-PEMBELAJARAN MAHASISWA Abigail Theodora Tanzil; Budi Christanto; Putu Aninditha Veera Lakshmi; Michelle Shalom Harjanto
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12831

Abstract

Music not only serves as a form of entertainment but also plays an important role in supporting mental health, particularly among young people who face various academic and social pressures. One notable phenomenon is how popular songs, especially those from the K-Pop genre, are interpreted by fans as tools for coping and self-healing. This study aims to explore positive music, specifically the song Magic Shop by BTS, as a symbolic space for psychological healing among fans aged 18–25, as well as its relevance within the context of university life and classroom learning activities. This research employs a mixed-methods approach. The data were analyzed thematically to identify participants’ subjective experiences in interpreting the song Magic Shop and its impact on their emotional well-being. The findings indicate that all participants perceived Magic Shop as a source of emotional support that helped reduce stress and anxiety, improve mood, and encourage self-reflection and self-acceptance. The song was perceived as an emotionally safe symbolic space where participants could mentally rest, engage in inner dialogue, and reduce self-blame. These findings suggest that positive musik functions as an adaptive and easily accessible form of non-formal self-healing for university students. In the context of learning, the results show that such musik can be beneficial as a simple pre-learning activity to help stabilize students’ emotions, enhance learning readiness, and create a safe and supportive classroom atmosphere. This study emphasizes that students’ emotional well-being is a crucial aspect that supports the success of the learning process in higher education. ABSTRAK Musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental, khususnya pada generasi muda yang menghadapi berbagai tekanan akademik dan sosial. Salah satu fenomena yang menarik adalah bagaimana lagu populer, khususnya dari genre K-Pop, dimaknai sebagai sarana coping dan self-healing oleh penggemarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi musik positif, salah satunya lagu Magic Shop karya BTS sebagai ruang simbolik penyembuhan psikologis bagi penggemar usia 18–25 tahun, serta relevansinya dalam konteks kehidupan perkuliahan dan kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pengalaman subjektif partisipan dalam memaknai lagu Magic Shop serta dampaknya terhadap kondisi emosional mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh partisipan memaknai lagu Magic Shop sebagai sumber dukungan emosional yang membantu menurunkan stres dan kecemasan, meningkatkan suasana hati, serta mendorong refleksi diri dan penerimaan diri. Lagu ini dipersepsikan sebagai ruang simbolik yang aman secara emosional, tempat partisipan dapat beristirahat secara mental, berdialog dengan diri sendiri, dan mengurangi self-blame. Temuan ini menunjukkan bahwa musik positif berfungsi sebagai media self-healing non-formal yang adaptif dan mudah diakses oleh mahasiswa. Dalam konteks pembelajaran, hasil menunjukkan bahwa musik ini dapat bermanfaat sebagai kegiatan pra-pembelajaran sederhana untuk membantu mahasiswa menstabilkan emosi, meningkatkan kesiapan belajar, dan menciptakan suasana kelas yang aman dan suportif. Penelitian ini menegaskan bahwa kesejahteraan emosional mahasiswa merupakan aspek penting yang mendukung keberhasilan proses pembelajaran di perguruan tinggi.
EFIKASI DIRI AKADEMIK PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DITINJAU DARI PERBEDAAN POLA ASUH ORANG TUA Naisa Wanda Aska Arrianto; Aska Arrianto; Abdul Amin
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12851

Abstract

ABSTRACT Academic self-efficacy refers to students’ beliefs in their ability to complete academic tasks, cope with learning challenges, and meet academic demands. One of the factors that may influence academic self-efficacy is parenting style, as the family environment provides different levels of rules, support, supervision, and autonomy. This study aimed to examine differences in academic self-efficacy among junior high school students based on parental parenting styles. A comparative quantitative approach was employed in this study. The sample consisted of 275 students of SMP Negeri 2 Gempol selected from a population of 880 students using proportionate random sampling. The instruments used were an academic self-efficacy scale and a parenting style scale, both of which had been tested for validity and reliability. Data were analyzed through normality testing, homogeneity testing, one-way ANOVA, and Tukey’s HSD post hoc test. The results showed that the data were normally distributed and homogeneous. The one-way ANOVA test produced an F value of 6.783 with a significance value of 0.001, indicating a significant difference in students’ academic self-efficacy based on parenting styles. Furthermore, Tukey’s HSD test revealed a significant difference between authoritarian and permissive parenting styles, with a mean difference of 5.879 and a significance value of 0.001. Students who experienced authoritarian parenting demonstrated higher academic self-efficacy than those who experienced permissive parenting. This study concludes that parental structure, rules, supervision, and involvement play an important role in shaping students’ academic self-efficacy. ABSTRAK Efikasi diri akademik adalah keyakinan siswa terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas, menghadapi tantangan belajar, dan memenuhi tuntutan akademik. Salah satu faktor yang memengaruhi efikasi diri akademik adalah pola asuh orang tua, karena lingkungan keluarga memberikan aturan, dukungan, pengawasan, dan kebebasan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan efikasi diri akademik siswa SMP berdasarkan jenis pola asuh orang tua. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan sampel 275 siswa SMP Negeri 2 Gempol dari 880 siswa, dipilih melalui teknik proportionate random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala efikasi diri akademik dan skala pola asuh orang tua yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data meliputi uji normalitas, uji homogenitas, One Way ANOVA, dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen. Uji One Way ANOVA menghasilkan nilai F sebesar 6,783 dengan signifikansi 0,001, menunjukkan terdapat perbedaan signifikan efikasi diri akademik siswa berdasarkan jenis pola asuh orang tua. Uji Tukey HSD menunjukkan perbedaan signifikan antara pola asuh otoriter dan permisif dengan mean difference sebesar 5,879 dan signifikansi 0,001. Siswa dengan pola asuh otoriter memiliki efikasi diri akademik lebih tinggi dibandingkan siswa dengan pola asuh permisif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa struktur, aturan, pengawasan, dan keterlibatan orang tua berperan penting dalam membentuk efikasi diri akademik siswa.
PENGARUH INTENSITAS KONSUMSI KONTEN ONLINE DAN PARASOCIAL INTERACTION DENGAN CELEBRITY WORSHIP PADA PENGGEMAR K-POP USIA DEWASA AWAL Fitria Aniswari; Rifqi Farisan Akbar; Pratidina Ekanesia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12994

Abstract

ABSTRACT The rapid development of digital media and social networking platforms has increased fans' access to information about their idols, strengthening psychological attachment and potentially fostering celebrity worship. This study aimed to examine the relationship between online content consumption, parasocial interaction, and celebrity worship among early adult K-Pop fans. A quantitative approach with a correlational design was employed. The participants consisted of 109 K-Pop fans aged 18–25 years selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The findings revealed that online content consumption and parasocial interaction were positively and significantly associated with celebrity worship. Furthermore, both variables jointly contributed to the level of celebrity worship among early adult K-Pop fans. These findings indicate that higher levels of online content consumption and stronger parasocial interaction are associated with greater tendencies toward celebrity worship. This study highlights that digital media engagement and psychological attachment to idols are important factors contributing to the development of celebrity worship among early adult K-Pop fans. ABSTRAK Perkembangan media digital dan media sosial telah meningkatkan akses penggemar terhadap berbagai informasi mengenai idola, sehingga memperkuat keterikatan psikologis dan berpotensi mendorong munculnya perilaku celebrity worship. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas konsumsi konten online dan parasocial interaction terhadap celebrity worship pada penggemar K-Pop usia dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri atas 109 penggemar K-Pop berusia 18–25 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas konsumsi konten online dan parasocial interaction memiliki hubungan positif dan signifikan dengan celebrity worship. Selain itu, kedua variabel secara bersama-sama berkontribusi terhadap tingkat celebrity worship pada penggemar K-Pop dewasa awal. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas konsumsi konten online dan semakin kuat parasocial interaction yang dimiliki penggemar, maka semakin tinggi pula kecenderungan celebrity worship. Penelitian ini menegaskan bahwa aktivitas konsumsi media digital dan keterikatan psikologis dengan idola merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap terbentuknya perilaku celebrity worship pada penggemar K-Pop usia dewasa awal.