cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
PENGARUH RESILIENSI TERHADAP TECHNOSTRESS PADA KARYAWAN PT Mellanie Marta Tiara Puteri; Lita Ariani; Rizqi Amalia Aprianty
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13530

Abstract

The increasing digitalization of work has intensified the use of information and communication technologies, potentially contributing to technostress among employees. This phenomenon is evident among employees of PT X, who are experiencing accelerated administrative digitalization through the implementation of a Human Capital System (HCS), requiring continuous adjustment to digital systems in their work activities. However, employees may respond differently to technological demands, suggesting that resilience may be associated with the level of technostress. This study aimed to examine the relationship and predictive contribution of resilience to technostress among employees of PT X. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 142 employees selected through convenience sampling. Technostress was measured using the Technostress Scale, while resilience was assessed using the Indonesian-adapted Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Data were analyzed using simple linear regression with JASP software. The findings indicated that resilience had a negative relationship with technostress, but its predictive contribution was not statistically significant. Therefore, the research hypothesis was not supported by the data. These findings suggest that resilience has not been demonstrated to be a significant predictor of technostress among employees of PT X. Future studies are recommended to consider other theoretically relevant variables to provide a more comprehensive understanding of technostress in the workplace ABSTRAK Perkembangan digitalisasi kerja meningkatkan tuntutan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang berpotensi menimbulkan technostress pada karyawan. Fenomena ini terlihat pada karyawan PT X yang menjalani percepatan digitalisasi administrasi melalui Human Capital System (HCS), sehingga menuntut penyesuaian terhadap penggunaan sistem digital dalam aktivitas kerja. Namun, tidak semua karyawan menunjukkan respons yang sama terhadap tuntutan teknologi, sehingga resiliensi diduga memiliki hubungan dengan tingkat technostress. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan dan kontribusi prediktif resiliensi terhadap technostress pada karyawan PT X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 142 karyawan PT X yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Technostress diukur menggunakan Technostress Scale, sedangkan resiliensi diukur menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) versi adaptasi Bahasa Indonesia. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana melalui perangkat lunak JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi memiliki arah hubungan negatif dengan technostress, tetapi kontribusi prediktifnya tidak signifikan secara statistik. Dengan demikian, hipotesis penelitian tidak didukung oleh data. Temuan ini menunjukkan bahwa resiliensi belum terbukti menjadi prediktor yang signifikan terhadap technostress pada karyawan PT X. Penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan variabel lain yang secara teoritis berkaitan dengan technostress untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.
GAMBARAN TINGKAT NOMOPHOBIA PADA SISWA SMA NEGERI 8 MAKASSAR Sri Wahyuni; Sahril Buchori; Fitriana Fitriana; Syahril Syahril
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13605

Abstract

ABSTRACT The increasingly intensive use of smartphones among adolescents may contribute to nomophobia, defined as anxiety experienced when individuals are unable to use or are separated from their smartphones. This study aimed to describe the level of nomophobia among students at SMA Negeri 8 Makassar, both overall and across four nomophobia aspects. This study employed a quantitative approach with a descriptive research design. The respondents were 92 students from grades X, XI, and XII, selected from three classes through purposive sampling based on preliminary survey findings and information from guidance and counseling teachers. All students in the selected classes were then included using total sampling. Data were collected using a Nomophobia Scale developed by the researcher based on Yildirim’s four aspects and had met validity and reliability criteria. Data were analyzed using descriptive statistics, including frequency distributions, percentages, means, and standard deviations. The results showed that 77.2% of students were in the moderate to very high nomophobia categories, with the high category representing the largest group. The aspect of giving up convenience had the highest mean score. These findings provide preliminary information for guidance and counseling teachers in developing services that support students’ self-awareness and healthier smartphone use. ABSTRAK Penggunaan smartphone yang semakin intensif di kalangan remaja berpotensi memunculkan nomophobia, yaitu kecemasan ketika individu tidak dapat menggunakan atau berada jauh dari smartphone. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat nomophobia pada siswa SMA Negeri 8 Makassar secara umum dan berdasarkan empat aspek nomophobia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif. Responden berjumlah 92 siswa kelas X, XI, dan XII yang dipilih dari tiga kelas secara purposive berdasarkan hasil survei awal dan informasi guru Bimbingan dan Konseling, kemudian seluruh siswa pada kelas terpilih dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Nomophobia yang dikembangkan peneliti berdasarkan empat aspek Yildirim dan telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi, persentase, rata-rata, dan standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77,2% siswa berada pada kategori nomophobia sedang hingga sangat tinggi, dengan kategori tinggi sebagai kelompok terbesar. Aspek menyerah pada kenyamanan memiliki skor rata-rata tertinggi. Temuan ini menjadi informasi awal bagi guru BK dalam merancang layanan yang smendukung kesadaran diri dan pengelolaan penggunaan smartphone secara sehat.
PERSPECTIVES OF LECTURERS AND ITS IMPACT ON STUDENTS: THE INTEGRATION OF MENTAL HEALTH LITERACY INTO THE HIGHER EDUCATION CURRICULUM Melly Maulin Purwaningwulan; Yasundari Yasundari; Ghaitsa Amalia; Syahman Widyan Danuwiranta
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13638

Abstract

ABSTRACT This study is motivated by growing attention to students’ mental health, while the integration of mental health literacy into higher education curricula has not yet become a priority. This study aims to examine lecturers’ perspectives, attitudes, and willingness to integrate mental health literacy into learning, assess its potential impact on students’ mental well-being and academic achievement, and identify challenges and opportunities for implementation. The study employed a concurrent embedded mixed-methods design. Qualitative data as the primary data were collected through semi-structured interviews with eight informants consisting of four structural officials/lecturers, one psychologist as an expert informant, and three students, as well as observations and document analysis, and were analyzed thematically. Quantitative data as supporting data were obtained through a Likert-scale questionnaire administered to 100 active students at Universitas Komputer Indonesia, selected randomly and proportionally based on faculty representation, and analyzed descriptively using frequency percentages. The findings indicate that lecturers generally held positive attitudes toward integrating mental health literacy, but their willingness to implement it varied due to limited competence and institutional support. A total of 68% of students strongly agreed that good mental health supports learning focus, while 63% strongly agreed that mental health is important for academic success. The main challenges included limited curriculum time, inadequate training, and the absence of structured guidelines. The study concludes that an implicit integration model (embedded model) through learning materials, methods, assignments, and classroom interactions is relevant to supporting student well-being. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa, sementara integrasi literasi kesehatan mental ke dalam kurikulum pendidikan tinggi belum menjadi prioritas. Penelitian ini bertujuan mengkaji perspektif, sikap, dan kesediaan dosen dalam mengintegrasikan literasi kesehatan mental ke dalam pembelajaran, menilai potensi dampaknya terhadap kesejahteraan mental dan prestasi akademik mahasiswa, serta mengidentifikasi tantangan dan peluang implementasinya. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran concurrent embedded. Data kualitatif sebagai data utama dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan delapan informan, yang terdiri atas empat pejabat struktural/ dosen, satu psikolog sebagai informan ahli, dan tiga mahasiswa, serta observasi dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara tematik. Data kuantitatif sebagai data pendukung diperoleh melalui kuesioner skala Likert kepada 100 mahasiswa aktif Universitas Komputer Indonesia yang dipilih secara acak dan proporsional berdasarkan fakultas, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase frekuensi. Hasil menunjukkan bahwa dosen umumnya bersikap positif terhadap integrasi literasi kesehatan mental, tetapi kesediaan implementasinya bervariasi karena keterbatasan kompetensi dan dukungan institusional. Sebanyak 68% mahasiswa sangat setuju bahwa kesehatan mental yang baik mendukung fokus belajar, sedangkan 63% sangat setuju bahwa kesehatan mental penting bagi keberhasilan akademik. Tantangan utama meliputi keterbatasan waktu kurikulum, pelatihan yang belum memadai, dan ketiadaan pedoman terstruktur. Penelitian menyimpulkan bahwa model integrasi implisit (embedded model) melalui materi, metode, tugas, dan interaksi kelas relevan untuk mendukung kesejahteraan mahasiswa.
PENGARUH SELF-EFFICACY DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR MAHASISWA PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Erika Della Fitriasari; Durinda Puspasari
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13700

Abstract

ABSTRACT The transition from higher education to the workplace places students in a situation that requires clarity in determining career directions while also preparing for various possibilities. In this context, confidence in one’s own abilities and the support available within the social environment represent two resources that may help students evaluate career options more confidently. This study focused on students of the Office Administration Education program at Universitas Negeri Surabaya, cohort 2022, involving 128 students from a population of 186 who were selected through proportional random sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed through multiple linear regression with the assistance of SPSS version 27 within a quantitative explanatory approach. The analysis revealed that self-efficacy had a positive and significant effect on career decision-making, as did social support. When both variables were considered simultaneously, their effect was also significant. The model’s contribution was reflected in a coefficient of determination of 0.695, indicating that self-efficacy and social support explained 69.5% of the variance in career decision-making, while the remaining 30.5% was associated with other factors outside the research model. These findings highlight that readiness to make career choices depends not only on personal confidence but also develops through the social support accompanying the decision-making process. ABSTRAK Transisi dari perguruan tinggi ke dunia kerja menempatkan mahasiswa pada situasi yang menuntut kejelasan dalam memilih arah karir sekaligus kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan. Dalam konteks tersebut, keyakinan terhadap kemampuan diri dan dukungan yang tersedia di lingkungan sosial menjadi dua sumber daya yang dapat membantu mahasiswa menilai pilihan karir secara lebih mantap. Kajian ini berfokus pada mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Surabaya Angkatan 2022 dengan melibatkan 128 mahasiswa dari populasi 186 mahasiswa yang dipilih melalui proportional random sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan diolah menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS versi 27 dalam pendekatan kuantitatif eksplanasi. Analisis memperlihatkan bahwa self-efficacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan keputusan karir, demikian pula dukungan sosial. Ketika kedua variabel tersebut dipertimbangkan secara bersamaan, pengaruh yang diberikan juga signifikan. Besarnya kontribusi model tercermin pada koefisien determinasi sebesar 0,695, sehingga 69,5% variasi pengambilan keputusan karir dapat dijelaskan oleh self-efficacy dan dukungan sosial, sedangkan 30,5% sisanya berkaitan dengan faktor lain di luar model. Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan menentukan pilihan karir tidak hanya bertumpu pada keyakinan personal, tetapi juga terbentuk melalui dukungan lingkungan yang menyertai proses tersebut.
KEEFEKTIFAN KONSELING KELOMPOK SINGKAT BERFOKUS SOLUSI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI SISWA MTs IHYAUL ULUM DI KEDAMEAN GRESIK Ida Safitri; Bambang Dibyo Wiyono; Titin Indah Pratiwi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13844

Abstract

Student academic success is determined not solely by intellectual capability, but crucially by internal psychological drivers, most notably achievement motivation. Achievement motivation is characterized as an internal psychological determination to attain defined standards of excellence. This study aims to investigate the empirical effectiveness of solution-focused brief group counseling in enhancing achievement motivation among Islamic junior high school students. A true experimental method utilizing a pretest-posttest control group design was applied in this research. The sample comprised 16 students selected via a simple random sampling technique from a identified cohort displaying low achievement motivation, distributed equally into an experimental group (n=8) and a control group (n=8). Data collection employed an achievement motivation Likert scale featuring 35 validated items across favorable and unfavorable statements. The dataset was analyzed using the Shapiro-Wilk normality test, homogeneity test, N-gain calculation, and paired sample t-test via JASP software. The results reveal that solution-focused brief group counseling effectively and significantly increased students' achievement motivation, as evidenced by experimental gain scores substantially outperforming the control group. ABSTRAK Keberhasilan proses belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh kapasitas intelektual semata, melainkan juga didorong oleh faktor psikologis internal seperti motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi dimaknai sebagai dorongan internal individu untuk memenuhi kebutuhan diri dalam mencapai standar keunggulan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan konseling kelompok singkat berfokus solusi dalam meningkatkan motivasi berprestasi siswa Madrasah Tsanawiyah. Metode yang digunakan adalah eksperimen murni (true experiment) dengan desain pretest-posttest control group design. Sampel penelitian berjumlah 16 siswa yang dipilih melalui teknik simple random sampling dari populasi siswa yang teridentifikasi memiliki motivasi berprestasi rendah, kemudian dibagi secara seimbang ke dalam kelompok eksperimen (n=8) dan kelompok kontrol (n=8). Pengumpulan data menggunakan skala motivasi berprestasi berskala Likert 4 poin sebanyak 35 butir pernyataan valid yang memuat butir favorable dan unfavorable. Analisis data kuantitatif menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas, uji N-gain, serta uji beda paired sample t-test berbantuan program JASP. Hasil penelitian membuktikan bahwa konseling kelompok singkat berfokus solusi efektif meningkatkan motivasi berprestasi siswa secara signifikan, dengan perolehan gain score kelompok eksperimen yang jauh melampaui kelompok kontrol.    
PENGEMBANGAN E-MODUL BIMBINGAN BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR DI MADRASAH ALIYAH NURUL IMAN GONGGANG PONCOL KABUPATEN MAGETAN Eka Juwita Haryani; Denok Setiawati; Najlatun Naqiyah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13845

Abstract

Self-regulated learning (SRL) is an essential competence for new students in dealing with academic demands at higher educational levels. The preliminary study at MA Poncol Magetan revealed that 73% of new students exhibited low to moderate levels of self-regulated learning, underscoring the urgency for intervention. This study aimed to develop a guidance e-module integrated with the local value of gotong royong to enhance students' self-regulated learning. The research employed a research and development (R&D) approach using the ADDIE model with a one-group pretest-posttest design. Participant selection utilized purposive sampling for the limited trial involving 10 students and cluster random sampling for the field trial comprising 34 students. Material, media, and design expert validations indicated a highly valid category with an average score of 87.22%. Practicality evaluations yielded 86.50% from student responses in the very practical category and 88.20% from Guidance and Counseling teachers in the highly feasible category. The effectiveness test demonstrated a significant increase in the mean self-regulated learning score from 41.50 in the pretest to 57.30 in the posttest ( ) alongside an N-gain score of 0.52 categorized as moderate. In conclusion, the guidance e-module integrated with gotong royong values is proven to be valid, practical, and effective in enhancing student self-regulated learning. ABSTRAK Kemandirian belajar atau self-regulated learning (SRL) menjadi kompetensi esensial bagi siswa baru dalam menghadapi tuntutan akademik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Rendahnya kemandirian belajar siswa baru Madrasah Aliyah Poncol Magetan sebesar 73% pada kategori rendah hingga sedang menjadi urgensi pengembangan intervensi layanan bimbingan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan e-modul bimbingan belajar berbasis nilai gotong royong untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa. Metode penelitian menggunakan research and development (R&D) model ADDIE dengan desain one group pretest-posttest. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling untuk uji coba terbatas sebanyak 10 siswa serta cluster random sampling untuk uji coba lapangan sebanyak 34 siswa. Hasil validasi ahli materi, media, dan desain menunjukkan kategori sangat valid dengan rerata persentase 87,22%. Uji kepraktisan memperoleh skor 86,50% dari respons siswa berkategori sangat praktis dan 88,20% dari guru Bimbingan dan Konseling berkategori sangat layak. Uji efektivitas membuktikan adanya peningkatan signifikan skor kemandirian belajar dari rerata pretest 41,50 menjadi posttest 57,30 dengan nilai signifikansi 0,000 ( ) serta perolehan N-gain sebesar 0,52 dalam kategori sedang. Dengan demikian, e-modul bimbingan belajar berbasis nilai gotong royong terbukti valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan kemandirian belajar siswa.    
EVALUASI PROGRAM LAYANAN BIMBINGAN KARIER BERBASIS JEJAK ALUMNI DAN DATA RAPORT (JEDAR) DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 GEDANGAN Muhammad Rifki Adam; Retno Tri Hariastuti; Ari Khusumadewi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13846

Abstract

Career planning represents a pivotal dimension in the developmental trajectory of senior high school students; however, numerous students continue to experience career indecision due to fragmented guidance information and the underutilization of integrated academic portfolios alongside alumni records. This study aimed to evaluate the Career Guidance Program based on Alumni Tracer and Student Report Card Data (JEDAR) at SMAN 1 Gedangan utilizing the CIPPO (Context, Input, Process, Product, Outcome) evaluation framework. A descriptive evaluative design was implemented involving 84 eleventh-grade students selected through a purposive sampling technique, four school counselors, the school information technology team, and institutional artifacts. Empirical data were gathered using Likert-scale questionnaires, semi-structured interviews, passive observations, and document analyses, and were subsequently analyzed through combined descriptive quantitative and interactive qualitative techniques. The evaluation findings demonstrate that the JEDAR program successfully dismantles institutional data silos and delivers rigorous evidence-based higher education trajectories. The input dimension attained a very good standard (80%), while the process dimension was rated favorably by counselors (77%) and students (79%). Furthermore, the product component was appraised as good by teachers (79%) and very good by alumni (80%), whereas the outcome dimension confirmed substantial long-term benefits in fostering student career maturity and independent decision-making. Consequently, the JEDAR system demonstrates robust institutional sustainability and is strongly recommended for systemic integration across secondary education institutions. ABSTRAK Perencanaan karier merupakan aspek krusial dalam perkembangan peserta didik di sekolah menengah atas, namun masih banyak siswa mengalami disorientasi dalam menentukan studi lanjut akibat keterbatasan informasi serta belum terintegrasinya data akademik dengan rekam jejak alumni. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi program layanan bimbingan karier berbasis Jejak Alumni dan Data Raport (JEDAR) di SMAN 1 Gedangan menggunakan model evaluasi CIPPO (Context, Input, Process, Product, Outcome). Pendekatan yang digunakan adalah evaluatif deskriptif dengan melibatkan 84 siswa kelas XI yang dipilih melalui teknik purposive sampling, empat guru bimbingan dan konseling, tim pengembang teknologi informasi sekolah, serta dokumen portofolio program. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert, pedoman wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif pasif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif serta kualitatif interaktif. Hasil evaluasi membuktikan bahwa program JEDAR secara efektif memecah kompartemen data kelembagaan dan memberikan panduan studi lanjut berbasis bukti (evidence-based). Komponen input mencapai kategori sangat baik (80%), sedangkan komponen process memperoleh penilaian baik dari konselor (77%) dan siswa (79%). Komponen product dinilai baik oleh guru (79%) serta sangat baik oleh alumni (80%), sementara komponen outcome membuktikan dampak nyata terhadap peningkatan kematangan karier (career maturity) dan kemandirian siswa dalam memilih program studi secara rasional.    
PENGEMBANGAN E-MODUL SELF-EFFICACY KARIER UNTUK MENINGKATKAN KESIAPAN KERJA SISWA SMK Dian Isdwiyanti; Najlatun Naqiyah; Denok Setiawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13847

Abstract

Work readiness among vocational high school students is fundamentally determined not only by specialized vocational competencies, but also by internal psychological determinants, particularly career self-efficacy. Needs assessment data revealed that twelfth-grade vocational students at SMK Negeri 1 Sidoarjo required structural interventions to identify personal occupational potential, formulate career trajectories, and overcome transitional workplace barriers. This research aims to develop a Career Self-Efficacy Guidance E-Module to systematically evaluate its empirical validity, operational practicality, and instructional effectiveness in accelerating student work readiness. The study employed a Research and Development (R&D) framework utilizing the ADDIE instructional model, which encompasses five consecutive stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The empirical implementation sample comprised 32 twelfth-grade students selected via a purposive sampling technique based on their low career readiness scores from baseline assessments. Data collection utilized expert evaluation rating scales, user practicality instruments, and standardized pretest-posttest measurement batteries. The evaluation findings confirmed that the e-module attained a very good standard across multidisciplinary experts with an aggregated score of 4.81 and demonstrated superior user practicality. The inferential paired sample t-test yielded a statistically significant difference between baseline and post-intervention evaluations (p<.05), substantiating that the guidance media successfully improves vocational work readiness. ABSTRAK Kesiapan kerja siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak hanya dipengaruhi oleh kompetensi keahlian teknis, melainkan juga aspek psikologis berupa keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menghadapi dinamika dunia industri. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa sebagian siswa kelas XII SMK Negeri 1 Sidoarjo masih membutuhkan penguatan self-efficacy karier dalam mengenali potensi diri, menetapkan pilihan karier, serta mengatasi hambatan transisi kerja. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media intervensi bimbingan konseling berupa E-Modul Bimbingan Self-Efficacy Karier untuk menguji tingkat validitas, kepraktisan, dan efektivitas produk dalam meningkatkan kesiapan kerja siswa. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model prosedural ADDIE yang meliputi tahapan analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Sampel uji coba terbatas berjumlah 32 siswa kelas XII yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan skor terendah pada asesmen kebutuhan awal. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar validasi ahli, angket kepraktisan siswa, serta tes kesiapan kerja pada tahap pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul memperoleh kategori sangat baik dari para validator ahli dengan rata-rata skor 4,81 serta dinilai sangat praktis saat diimplementasikan kepada siswa. Uji efektivitas melalui paired sample t-test membuktikan adanya perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah perlakuan (p<0,05), sehingga media ini terbukti efektif meningkatkan kesiapan kerja siswa kejuruan.    
KEEFEKTIFAN KONSELING KELOMPOK KIPAS BERMUATAN BUDAYA CERITA PANJI UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA SMK Adyana Ajeng Ratwulan; Titin Indah Pratiwi; Bambang Dibyo Wiyono
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13848

Abstract

The low work ethic and sense of responsibility among vocational high school (SMK) students remain critical challenges directly impeding workplace readiness. Conversely, conventional guidance and counseling interventions adopting Western theories often fail to accommodate the cultural affective needs of local counselees. This study aims to examine the effectiveness of group counseling using the Intensive Progressive Adaptive Structured Counseling (KIPAS) model integrated with the cultural values of Panji Stories in improving the responsibility character of vocational students, compared to a control group receiving the Wants, Doing, Evaluation, Planning (WDEP) technique. A quantitative quasi-experimental approach was conducted using a non-equivalent control group design. The research participants comprised 18 tenth-grade students of SMKN 1 Plosoklaten selected via purposive sampling criteria exhibiting low initial responsibility scores. Data collected using a psychological responsibility scale were analyzed using the Mann-Whitney U test and normalized gain score (N-gain score). The findings revealed that the experimental group demonstrated a statistically significant improvement ( , ) with a final average score of 94.50, outperforming the control group which reached 88.00. Consequently, the culture-based KIPAS model is proven effective in fostering vocational students' responsibility through indigenous moral modeling. ABSTRAK Rendahnya etos kerja dan tanggung jawab siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi persoalan krusial yang berdampak langsung pada kesiapan kerja di dunia industri. Di sisi lain, intervensi bimbingan dan konseling konvensional yang mengadopsi teori Barat sering kali kurang menyentuh ranah afeksi kultural konseli lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan layanan konseling kelompok model Konseling Intensif Progresif Adaptif Struktur (KIPAS) bermuatan nilai budaya Cerita Panji dalam meningkatkan karakter tanggung jawab siswa SMK, dengan membandingkannya terhadap kelompok kontrol yang menerima teknik Wants, Doing, Evaluation, Planning (WDEP). Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui desain eksperimen semu (quasi-experimental) dengan pola non-equivalent control group design. Subjek penelitian berjumlah 18 siswa kelas X SMK Negeri 1 Plosoklaten yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan skor skala psikologis tanggung jawab kategori rendah. Data dianalisis menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney U dan analisis perolehan skor ternormalisasi (N-gain score). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memperoleh peningkatan skor yang signifikan secara statistik ( , ) dengan rata-rata nilai akhir sebesar 94,50, lebih unggul dibandingkan kelompok kontrol sebesar 88,00. Dengan demikian, model konseling kelompok KIPAS bermuatan Cerita Panji terbukti efektif meningkatkan karakter tanggung jawab siswa vokasi melalui internalisasi teladan moral kearifan lokal.    
PENGEMBANGAN KONSELING REALITA BERBASIS NILAI KARAKTER STRENGTHS AND VIRTUES UNTUK MEREDUKSI PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Wiwik Wilujeng; Mochammad Nursalim; Denok Setiawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13849

Abstract

Bullying remains a prevalent disruptive behavior among junior high school students, severely impairing their psychological, relational, and academic functioning. This study aims to develop a reality counseling guidebook integrated with strengths and virtues character values to reduce bullying behavior among junior high school students, as well as to determine its feasibility and empirical effectiveness. The study implemented a Research and Development (R&D) framework utilizing the Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation (ADDIE) model. The trial participants comprised one subject-matter expert, one educational media expert, two guidance and counseling practitioners, and eight students identified as bullying perpetrators at SMP Negeri 55 Surabaya selected via purposive sampling. Data collection was carried out using expert validation instruments, practitioner acceptability rating scales, and a bullying behavior questionnaire administered across pretest and posttest stages. The validation results demonstrated high acceptability, yielding scores of 98.3% from the content expert, 90.4% from the media expert, and 93.75% from counseling practitioners, all categorized within the very good criteria. A paired sample t-test generated a significance value of 0.000 (p < 0.05), verifying that the reality counseling guidebook successfully reduced students' bullying tendencies. Consequently, this intervention module serves as a viable, systematic therapeutic guideline for guidance and counseling practitioners in mitigating school-based peer aggression. ABSTRAK Perilaku perundungan (bullying) masih marak terjadi di kalangan peserta didik jenjang sekolah menengah pertama serta membawa dampak negatif terhadap kondisi psikologis, sosial, dan akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku panduan konseling realita berbasis nilai karakter kebajikan dan kekuatan (strengths and virtues) guna mereduksi perilaku bullying pada peserta didik di sekolah menengah pertama, serta menguji tingkat kelayakan dan efektivitasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan menerapkan model Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation (ADDIE). Subjek uji coba terdiri atas satu orang ahli materi bimbingan dan konseling, satu orang ahli media pembelajaran, dua orang guru bimbingan dan konseling, serta delapan orang siswa teridentifikasi pelaku bullying di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 55 Surabaya yang dipilih menggunakan teknik penarikan sampel bertujuan (purposive sampling). Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen lembar validasi ahli, angket keterpakaian pengguna, serta kuesioner perilaku bullying yang diberikan pada tahap sebelum uji coba (pretest) dan sesudah uji coba (posttest). Hasil validasi menunjukkan tingkat kelayakan produk mencapai skor 98,3% dari ahli materi, 90,4% dari ahli media, dan 93,75% dari guru bimbingan dan konseling yang seluruhnya berada pada rentang kategori sangat baik. Hasil uji beda berpasangan (paired sample t-test) menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) yang membuktikan bahwa panduan yang dikembangkan efektif menurunkan frekuensi perilaku bullying secara signifikan.