cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.p4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnal.p4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Core Subject : Education, Social,
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Community Service
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 346 Documents
PEMBERDAYAAN REMAJA PUTRI MELALUI PSIKOEDUKASI CINDERELLA COMPLEX DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN PSIKOLOGIS UNTUK MENCEGAH RASA KETERGANTUNGAN Vivin Ainun Nuha; Ni’matuzahroh; Djudiyah
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11617

Abstract

Cinderella Complex is a psychological tendency in women characterized by a strong desire to be cared for and protected by others, particularly men, leading to emotional and psychological dependency. This condition requires early attention, especially among adolescent girls who are in the critical stage of identity formation and developing personal independence. This community service program aims to foster psychological independence and prevent dependency tendencies among adolescent girls through a Cinderella Complex psychoeducation program. The program was conducted with 25 female junior high school students selected through purposive sampling. The psychoeducation was delivered using a group empowerment method encompassing material presentation, interactive discussion, and self-reflection activities. Program effectiveness was measured using pre-test and post-test instruments, with data analyzed through the Wilcoxon Signed Rank Test. The results revealed a Z value of -4.378 with Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.000 (p < 0.001), indicating a significant improvement in participants' knowledge and awareness following the program. All participants (100%) demonstrated score improvements after the intervention. Therefore, the Cinderella Complex psychoeducation program proved effective as a community empowerment initiative in raising awareness of the importance of psychological independence and preventing dependency tendencies from an early age. ABSTRAK Cinderella Complex merupakan kecenderungan perempuan untuk bergantung secara psikis, yang ditandai dengan keinginan kuat untuk dirawat dan dilindungi orang lain, terutama laki-laki. Kondisi ini perlu mendapat perhatian sejak dini, khususnya pada remaja perempuan yang berada pada masa pembentukan identitas dan kemandirian diri. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membangun kemandirian psikologis dan mencegah ketergantungan pada remaja perempuan melalui program psikoedukasi Cinderella Complex. Kegiatan ini dilaksanakan terhadap 25 remaja putri tingkat SMP yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Program psikoedukasi dilakukan dengan metode pemberdayaan kelompok yang mencakup pemberian materi, diskusi interaktif, dan refleksi diri. Efektivitas kegiatan diukur menggunakan nilai Z = -4,378 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 (p < 0,001), yang mengindikasikan adanya peningkatan yang signifikan pada pengetahuan dan kesadaran peserta setelah mengikuti kegiatan. Seluruh peserta menunjukkan peningkatan skor setelah kegiatan berlangsung. Dengan demikian, program psikoedukasi Cinderella Complex terbukti efektif sebagai upaya pemberdayaan remaja putri dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya kemandirian dan pencegahan ketergantungan psikologis sejak usia remaja.
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU PAUD DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN ACTIVITY PEMBELAJARAN EKOLITERASI BERBASIS BUDAYA LOKAL SUKOHARJO Arip Prehatiningsih; Warih Anggi Pratiwi; Mahmuddah Dewi Edmawati; Afdhya Candra Pramesti Utama; Sherli Eka Wijayanti
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10643

Abstract

This Community Service Program (PKM) is motivated by the limited ability of early childhood education (PAUD) teachers to implement ecoliteracy-based learning integrated with local culture, particularly in the Banowati Cluster, Sukoharjo Regency. Learning practices tend to be academic-oriented and less contextual, resulting in the underutilization of environmental and local cultural potential as learning resources. The focus of this program is to enhance teachers’ competencies in designing and implementing ecoliteracy-based learning activities rooted in Sukoharjo’s local culture. The implementation method employs a participatory approach through five stages: coordination and timeline preparation, procurement of learning materials, teacher training, implementation mentoring, evaluation and follow-up planning, and and reports. The results indicate an improvement in teachers’ understanding and skills in integrating ecoliteracy concepts with local cultural elements, such as activities involving preparation batik-making. Furthermore, teachers were able to conduct more contextual, interactive, and meaningful learning, which positively impacted children’s engagement and enthusiasm. ABSTRAK Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kemampuan guru PAUD dalam mengimplementasikan pembelajaran ekoliterasi yang terintegrasi dengan budaya lokal, khususnya di Gugus Banowati Kabupaten Sukoharjo. Pembelajaran yang dilakukan cenderung bersifat akademis dan kurang kontekstual, sehingga potensi lingkungan dan budaya lokal belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber belajar. Fokus kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan activity pembelajaran ekoliterasi berbasis budaya lokal Sukoharjo. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui enam tahapan, yaitu koordinasi dan penyusunan timeline, pengadaan kebutuhan pelatihan, pelatihan kemampuan guru, pendampingan implementasi, evaluasi pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengintegrasikan konsep ekoliterasi dengan budaya lokal, seperti melalui aktivitas mengenalkan membatik. Selain itu, guru mampu melaksanakan pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna, yang berdampak pada meningkatnya keterlibatan dan antusiasme anak dalam proses belajar.  
PENGUATAN LITERASI DIGITAL GURU PAUD MELALUI PENGGUNAAN MEDIA FLIPBOOK INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN SELF-REGULATION Fitria Maharani; Vivi Sufiati; Ika Aprilia Kusumastuti; Salfa Rayza Suratna Putri; Naisya Amelia Putri
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10839

Abstract

ABSTRACT The development of digital technology requires Early Childhood Education (ECE) teachers to possess adequate digital literacy to support innovative learning, particularly in fostering children's self-regulation skills. However, field conditions indicate that the use of digital media by ECE teachers is still not optimal. This study aims to analyze the strengthening of ECE teachers’ digital literacy through the use of interactive flipbook media in self-regulation learning. This research employs a quantitative approach with a quasi-experimental design using a one-group pretest-posttest model. The research subjects consisted of 20 ECE teachers selected through purposive sampling. The research procedure included preparation, implementation of training and mentoring in the use of interactive flipbook media, and evaluation through pretest and posttest. The instruments used were a digital literacy questionnaire and an observation sheet of learning implementation. The results showed a significant improvement in teachers’ digital literacy, indicated by an increase in the average scores from pretest to posttest and the dominance of moderate to high gain categories. In addition, the use of interactive flipbook media improved the quality of learning to be more interactive and supported the development of children's self-regulation. In conclusion, strengthening digital literacy through interactive flipbook media is effective in improving ECE teachers’ competence and the quality of learning. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital menuntut guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk memiliki literasi digital yang memadai guna mendukung pembelajaran yang inovatif, khususnya dalam mengembangkan kemampuan self-regulation anak. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital oleh guru PAUD masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguatan literasi digital guru PAUD melalui penggunaan media flipbook interaktif dalam pembelajaran self-regulation. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe one group pretest-posttest. Subjek penelitian terdiri atas 20 guru PAUD yang dipilih secara purposive. Prosedur penelitian meliputi tahap persiapan, pelaksanaan pelatihan dan pendampingan penggunaan flipbook interaktif, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Instrumen yang digunakan berupa angket literasi digital dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan literasi digital guru, yang ditunjukkan oleh kenaikan skor rata-rata dari pretest ke posttest serta dominasi kategori gain sedang hingga tinggi. Selain itu, penggunaan flipbook interaktif mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih interaktif dan mendukung pengembangan self-regulation anak. Simpulan penelitian ini adalah bahwa penguatan literasi digital melalui media flipbook interaktif efektif dalam meningkatkan kompetensi guru PAUD serta kualitas pembelajaran.
DIGITAL FINANCIAL TRANSACTION MANAGEMENT EDUCATION TO IMPROVE THE EFFICIENCY OF MICRO-ENTERPRISES IN THE TOURISM AREA TETEBATU, SIKUR, EAST LOMBOK Afrida Nur Chasanah; Baiq Herdina Septika; Miratul Husna Neris; Ridho Rafqi Ilhamalimy; Menik Aryani
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11321

Abstract

ABSTRACT The growing use of digital transactions in the tourism sector has encouraged business actors to adapt their services to increasingly cashless payment systems. However, this shift has not been fully embraced by micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in South Tetebatu Tourism Village, where limited digital financial literacy, dependence on cash transactions, and inadequately documented transaction management remain prevalent challenges. In response to these conditions, this community service program was designed to strengthen MSME capacity in utilizing digital financial services while promoting the implementation of the Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) as a more efficient transaction method. A Participatory Action Research (PAR) approach was employed through a series of activities, including partner needs assessment, digital financial literacy education, QRIS registration and installation assistance, and hands-on practice in the use of digital transactions within business settings. The program demonstrated that MSME actors responded positively to cashless payment systems and were able to operate QRIS in their daily business activities. The assistance provided not only facilitated the creation of digital wallet accounts and the implementation of QRIS but also enhanced the use of transaction histories as part of a more structured business management process. These findings indicate that the adoption of digital payment technology becomes more effective when literacy enhancement, technical assistance, and practical experience are developed in an integrated manner. The integration of these three components contributes to strengthening financial inclusion, improving digital transformation readiness, and developing an MSME empowerment model that supports the competitiveness of community-based tourism destinations. ABSTRAK Perkembangan transaksi digital di sektor pariwisata mendorong pelaku usaha untuk menyesuaikan pola layanan yang semakin mengarah pada sistem pembayaran nontunai. Kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Wisata Tetebatu Selatan yang masih menghadapi keterbatasan literasi keuangan digital, dominasi transaksi tunai, serta pengelolaan transaksi yang belum terdokumentasi secara optimal. Berangkat dari kebutuhan tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku UMKM dalam memanfaatkan layanan keuangan digital sekaligus mendorong penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai sarana transaksi yang lebih efisien. Pendekatan Participatory Action Research (PAR) digunakan melalui rangkaian kegiatan yang meliputi identifikasi kebutuhan mitra, edukasi literasi keuangan digital, pendampingan registrasi dan pemasangan QRIS, serta praktik langsung penggunaan transaksi digital pada lingkungan usaha. Pelaksanaan program menunjukkan bahwa pelaku UMKM memberikan respons positif terhadap penggunaan sistem pembayaran nontunai dan mampu mengoperasikan QRIS dalam aktivitas usaha sehari-hari. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya memfasilitasi pembuatan akun dompet digital dan implementasi QRIS, tetapi juga meningkatkan pemanfaatan riwayat transaksi sebagai bagian dari pengelolaan usaha yang lebih terstruktur. Temuan ini mengindikasikan bahwa adopsi teknologi pembayaran digital menjadi lebih efektif ketika peningkatan literasi, pendampingan teknis, dan pengalaman praktik dikembangkan secara terpadu. Integrasi ketiga aspek tersebut berkontribusi pada penguatan inklusi keuangan, peningkatan kesiapan transformasi digital, serta pengembangan model pemberdayaan UMKM yang relevan untuk mendukung daya saing kawasan wisata berbasis masyarakat.
PELATIHAN PEMBUATAN PAKAN IKAN LELE BERBASIS BAHAN LOKAL DI DESA BOJONGGEDE KENDAL Ery Fatarina Purwaningtyas; M F. Sri Mulyaningsih; Dhiya Ayu Ramadhani
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11766

Abstract

Feed costs are the largest component in catfish farming and become the main obstacle for fish farmers in Bojonggede Village, Ngampel District, Kendal Regency. Dependence on commercial feed increases operational costs, therefore alternative feed made from local materials that are inexpensive, easily available, and nutritionally adequate is needed. This community service activity aimed to improve community knowledge and skills in producing catfish feed based on local materials through counseling and direct practice methods. This activity was attended by 30 people consisting of mothers from the PKK group and fathers from the catfish farming group. The implementation stages included community needs identification, presentation of fish feed nutritional content, demonstration of feed production processes, and hands-on practice of mixing materials, grinding, pellet molding, and drying. The materials used included rice bran, tofu waste, trash fish, tapioca flour, and EM-4. All participants attended the program until its completion, achieving a 100% attendance rate. Throughout the hands-on training session, participants showed strong enthusiasm, which was reflected in their active participation in raw material preparation, mixing, grinding, pellet production, and group discussions. Observations conducted by the project team indicated that most participants were able to describe the fish feed production process and identify locally available raw materials that could be utilized as alternative nutrient sources for fish feed production. ABSTRAK Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam budidaya ikan lele dan menjadi kendala utama bagi masyarakat pembudidaya ikan di Desa Bojonggede, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Ketergantungan terhadap pakan komersial menyebabkan biaya operasional meningkat sehingga diperlukan alternatif pakan berbahan lokal yang murah, mudah diperoleh, dan bernilai gizi cukup tinggi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pembuatan pakan ikan lele berbasis bahan lokal melalui metode penyuluhan dan praktik langsung. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang yang terdiri dari ibu-ibu kelompok PKK dan bapak-bapak anggota kelompok peternak ikan lele. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan masyarakat, penyampaian materi tentang kandungan nutrisi pakan ikan, demonstrasi proses pembuatan pakan, praktik pencampuran bahan, penggilingan, pencetakan, dan pengeringan pelet. Bahan yang digunakan antara lain bekatul, ampas tahu, ikan rucah, tepung tapioka, dan EM-4. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai sehingga tingkat kehadiran mencapai 100%. Selama sesi praktik, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi yang ditunjukkan melalui keterlibatan aktif dalam proses pencampuran bahan baku, penggilingan, pencetakan pelet, dan sesi diskusi. Berdasarkan hasil observasi tim pelaksana, sebagian besar peserta mampu menjelaskan kembali tahapan pembuatan pakan ikan serta mengidentifikasi bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi pakan.
EDUKASI WORK-LIFE INTEGRATION MELALUI OPTIMALISASI RESOURCES DAN STRATEGI PENGELOLAAN TUNTUTAN KERJA PADA WANITA KARIR Novena Maria Vianney; Zamralita Zamralita; Urip Purwono
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11797

Abstract

ABSTRACT The increasing flexibility and digitalization of work have intensified the challenge of integrating professional and personal responsibilities, particularly for career women who often face overlapping work and family demands. Inadequate management of these demands may negatively affect psychological well-being, productivity, and overall quality of life. This community service program aimed to enhance participants’ understanding of work-life integration, psychological resources, and adaptive strategies for managing multiple roles through an educational webinar entitled “Beyond Balance: The Art of Managing Work Demands and Resources to Achieve Work-Life Integration among Career Women.” The activity was conducted online via Zoom in collaboration with Kite Creative and involved 41 participants from diverse professional backgrounds. The program was implemented through three main stages: delivery of educational materials, interactive discussion and reflection sessions, and evaluation using pre-test, post-test, and participant feedback forms. The topics covered included work-life integration, job demands, job resources, psychological capital, and practical coping strategies. Evaluation results indicated a substantial increase in participants’ average understanding scores, rising from 73% in the pre-test to 98% in the post-test. Participants also reported positive perceptions regarding the relevance of the materials, speaker performance, and overall implementation of the webinar. These findings suggest that research-based educational webinars can effectively improve psychological literacy and strengthen adaptive capacities among career women in managing work and personal life demands. ABSTRAK Perubahan pola kerja yang semakin fleksibel dan terdigitalisasi menghadirkan tantangan bagi pekerja dalam mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan personal. Tantangan ini lebih kompleks bagi wanita karir karena harus menjalankan berbagai peran profesional, keluarga, dan sosial secara bersamaan. Ketidakmampuan mengintegrasikan berbagai peran tersebut berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis, produktivitas, dan kualitas hidup. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta mengenai pengelolaan tuntutan kerja, pemanfaatan sumber daya psikologis, dan strategi mencapai work-life integration melalui webinar edukatif bertajuk “Beyond Balance: Seni Mengelola Tuntutan Kerja dan Sumber Daya untuk Mencapai Work-Life Integration pada Wanita Karir.” Kegiatan dilaksanakan secara daring bekerja sama dengan Kite Creative dan diikuti oleh 41 peserta dari berbagai latar belakang profesi. Metode pelaksanaan meliputi penyampaian materi, diskusi interaktif, refleksi peserta, serta evaluasi melalui pre-test, post-test, dan umpan balik peserta. Materi mencakup konsep work-life integration, job demands, job resources, psychological capital, dan strategi adaptif dalam mengelola berbagai peran kehidupan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata skor pemahaman peserta dari 73% pada pre-test menjadi 98% pada post-test. Mayoritas peserta juga memberikan penilaian positif terhadap materi dan pelaksanaan kegiatan. Temuan ini menunjukkan bahwa webinar edukatif efektif meningkatkan literasi psikologis dan kemampuan adaptif wanita karir dalam mewujudkan work-life integration.
PSIKOEDUKASI REGULASI EMOSI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING PADA REMAJA DI PANTI ASUHAN Halimatus Sa’ida; Cahyaning Suryaningrum; Muhammad Salis Yuniardi
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11861

Abstract

Adolescents living in orphanages often face various psychological and social challenges that may affect their ability to regulate emotions and solve everyday problems effectively. Preliminary assessments indicated that several adolescents experienced difficulties in controlling their emotions, such as irritability, social withdrawal, and limited ability to cope with interpersonal conflicts adaptively. To address these issues, a community service program in the form of emotional regulation psychoeducation was implemented to enhance emotional regulation skills and support the development of problem-solving abilities among orphanage adolescents. The program was conducted through interactive activities, including educational sessions, group discussions, video-based learning, simulations, role-playing, and emotional regulation strategy exercises. Program evaluation was carried out using assessment methods consisting of observations, interviews, and pre-test and post-test measurements employing the Emotion Regulation Scale. The collected data were analyzed using the Paired Sample t-Test to determine the effectiveness of the intervention. The evaluation results revealed an increase in the mean emotional regulation score from 38.20 in the pre-test to 65.00 in the post-test. Statistical analysis showed a significance value of 0.002 (p < 0.05), indicating that the emotional regulation psychoeducation program was effective in improving adolescents’ emotional regulation skills. Improved emotional regulation is expected to help adolescents think more rationally, manage conflicts constructively, and enhance their problem-solving abilities in daily life. ABSTRAK Remaja yang tinggal di panti asuhan menghadapi berbagai tantangan psikologis dan sosial yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam mengelola emosi dan menyelesaikan permasalahan sehari-hari. Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa beberapa remaja masih mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, seperti mudah marah, menarik diri dari lingkungan sosial, serta kurang mampu menghadapi konflik secara adaptif. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilaksanakan program pengabdian masyarakat berupa psikoedukasi regulasi emosi yang bertujuan meningkatkan kemampuan regulasi emosi dan mendukung perkembangan kemampuan problem solving pada remaja panti asuhan. Program dilaksanakan melalui berbagai kegiatan interaktif yang meliputi penyampaian materi, diskusi kelompok, pemutaran video edukatif, simulasi, role play, dan latihan penyusunan strategi regulasi emosi. Evaluasi program dilakukan menggunakan metode asesmen berupa observasi, wawancara, serta pengukuran pre-test dan post-test dengan Skala Regulasi Emosi. Data dianalisis menggunakan uji paired sample t-Test untuk mengetahui efektivitas program. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor regulasi emosi dari 38,20 pada pre-test menjadi 65,00 pada post-test. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa program psikoedukasi regulasi emosi efektif dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi remaja panti asuhan. Peningkatan kemampuan regulasi emosi tersebut diharapkan dapat membantu remaja berpikir lebih rasional, mengelola konflik secara konstruktif, serta meningkatkan kemampuan problem solving dalam kehidupan sehari-hari.
PENDAMPINGAN BELAJAR TKA (TES KOMPETENSI AKADEMIK) MATEMATIKA SISWA KELAS VI DI LINGKUNGAN GEREJA SHALLOM WAMENA Mindo H. Sinambela; Citra R. Napitupulu; Christine M. Rumpaisum; Sutarman Borean; Barthon Wenda; Andinus Yanengga
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11927

Abstract

The Academic Competency Test (TKA), established under Permendikdasmen Number 9 of 2025, positions academic achievement as one of the key indicators for student admission to the next level of education. The implementation of TKA in mathematics presents considerable challenges due to the reasoning-based and Higher Order Thinking Skills (HOTS) demands of its questions, causing many students to experience difficulties and anxiety. This community service activity aimed to enhance the academic readiness of sixth-grade students in facing the Mathematics TKA through a coaching-based learning assistance program. The activity was conducted over eight days (March 16–24, 2026) at the Shallom Sunday School Building in Wamena, involving 9 participants aged 11–12 years from several primary schools in the Wamena area. The method encompassed three stages: preparation, implementation, and evaluation. Academic readiness was measured through 40 evaluation items aligned with the TKA framework within a 120-minute session, supported by observational assessment throughout the program. Results demonstrated improved conceptual understanding in number operations, measurement, and two- and three-dimensional geometry. Participants also grew more familiar with reasoning-based question types and exhibited increased motivation and confidence. The program received full support from the church and parents as implementation partners, confirming that coaching-based TKA preparation effectively enhances academic readiness while strengthening collaboration between higher education institutions and the community. ABSTRAK Tes Kemampuan Akademik (TKA) berdasarkan Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025 menjadikan capaian akademik sebagai salah satu indikator penerimaan peserta didik ke jenjang pendidikan berikutnya. Pelaksanaan TKA pada mata pelajaran matematika menghadapi tantangan signifikan karena karakteristik soal yang menuntut kemampuan penalaran dan Higher Order Thinking Skills (HOTS), sehingga banyak siswa mengalami kesulitan dan kecemasan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesiapan akademik siswa kelas VI dalam menghadapi TKA Matematika melalui program pendampingan belajar berbasis coaching. Kegiatan dilaksanakan selama delapan hari (16–24 Maret 2026) di Gedung Sekolah Minggu Shallom Wamena, melibatkan 9 peserta berusia 11–12 tahun dari beberapa sekolah dasar di wilayah Wamena. Metode yang digunakan mencakup tiga tahap: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kesiapan akademik diukur melalui 40 butir soal evaluasi sesuai kisi-kisi TKA dengan alokasi waktu 120 menit, serta didukung pengamatan selama proses pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman konsep matematika pada materi operasi bilangan, pengukuran, serta geometri bangun datar dan ruang. Peserta juga semakin familiar dengan tipe soal berbasis penalaran serta menunjukkan peningkatan motivasi dan kepercayaan diri. Program ini mendapat dukungan penuh dari pihak gereja dan orang tua, membuktikan bahwa pendampingan berbasis coaching efektif meningkatkan kesiapan akademik sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas.
THE MOSQUE-BASED MEDIATION CORNER: PROMOTING EMPATHETIC AND INCLUSIVE DIALOGUE FOR SUSTAINABLE COMMUNITY HARMONY Iffatin Nur; Budi Kolistiawan; Reni Dwi Puspitasari; Intan Putri Fadillah
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.12010

Abstract

ABSTRACT Conflict is an inevitable part of plural societies and may threaten social harmony when not managed constructively. In Indonesia, the increasing number of cases brought before courts highlights the need for alternative dispute resolution mechanisms that are accessible, participatory, and rooted in local values. This study aims to explore the concept and implementation of a Mosque-Based Mediation Corner as a community peacebuilding model through the utilization of religious institutions. The research employed a qualitative approach using the Asset-Based Community Development (ABCD) framework to identify community assets and social potentials that support peaceful conflict resolution. The research stages included community asset identification, social capital mapping, community participation strengthening, and the implementation of the Mediation Corner at Baitul Hakim Mosque, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. The findings reveal that the mosque’s spiritual authority, community trust, and human resource involvement constitute key social capital in establishing an inclusive and non-litigation mediation mechanism. The integration of Islamic values, including shūrā (consultation), ‘adl (justice), and ukhuwwah (brotherhood), promotes empathetic dialogue, prevents conflict escalation, and strengthens community social cohesion. This study concludes that the Mosque-Based Mediation Corner has significant potential as a sustainable community peacebuilding model and may serve as a replicable alternative dispute resolution mechanism in multicultural societies. ABSTRAK Konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat plural, namun berpotensi mengganggu keharmonisan sosial apabila tidak dikelola secara konstruktif. Di Indonesia, meningkatnya jumlah perkara yang diajukan ke pengadilan menunjukkan perlunya alternatif penyelesaian sengketa yang lebih mudah diakses, partisipatif, dan berbasis nilai-nilai lokal. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep dan implementasi Pojok Mediasi Berbasis Masjid sebagai model penciptaan perdamaian komunitas melalui pemanfaatan institusi keagamaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka Asset-Based Community Development (ABCD) untuk mengidentifikasi aset dan potensi sosial yang dimiliki komunitas masjid dalam mendukung penyelesaian konflik secara damai. Tahapan penelitian meliputi identifikasi aset komunitas, pemetaan modal sosial, penguatan partisipasi masyarakat, serta implementasi Pojok Mediasi di Masjid Baitul Hakim UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas spiritual masjid, kepercayaan masyarakat, serta keterlibatan sumber daya manusia menjadi modal utama dalam membangun mekanisme mediasi yang inklusif dan non-litigasi. Integrasi nilai-nilai Islam seperti shūrā (musyawarah), ‘adl (keadilan), dan ukhuwwah (persaudaraan) dalam proses mediasi terbukti mendorong dialog empatik, mencegah eskalasi konflik, serta memperkuat kohesi sosial masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pojok Mediasi Berbasis Masjid memiliki potensi sebagai model perdamaian komunitas yang berkelanjutan dan dapat direplikasi sebagai alternatif penyelesaian sengketa dalam masyarakat multikultural.
PEMBERDAYAAN FRESH GRADUATE MELALUI PROGRAM PSIKOEDUKASI RESILIENSI UNTUK MENINGKATKAN KESIAPAN KERJA DI ERA INDUSTRI 4.0 Lubana Nataghain AlMuhdhar; Nida Hasanati
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.12182

Abstract

The transition from higher education to the workplace presents significant challenges for many final-year students and fresh graduates due to the gap between existing competencies and labor market demands. This community service program aimed to enhance participants’ resilience and work readiness through an integrated psychoeducational intervention. The program involved eight final-year students and fresh graduates selected through purposive sampling. Activities included work readiness psychoeducation, a Fresh Graduate Work Challenge simulation, resilience and growth mindset training, and the development of a career action plan. Evaluation was conducted using resilience and work readiness scales as well as participant reflection sheets, which were analyzed descriptively. The results indicated that participants demonstrated good levels of resilience and work readiness after completing the program. Internship experiences supported by psychological strengthening activities helped participants improve adaptability, self-confidence, and preparedness for workplace demands. The program demonstrates potential as a career support strategy to assist final-year students and fresh graduates in managing their transition to the workforce in a more structured and adaptive manner. ABSTRAK Transisi dari perguruan tinggi menuju dunia kerja menjadi tantangan bagi banyak mahasiswa semester akhir dan fresh graduate karena adanya kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan dunia kerja. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan resiliensi dan kesiapan kerja peserta melalui program psikoedukasi yang terintegrasi. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan psikoedukasi dengan melibatkan delapan mahasiswa semester akhir dan fresh graduate yang dipilih secara purposive. Program terdiri atas materi kesiapan kerja, simulasi Fresh Graduate Work Challenge, latihan resiliensi dan growth mindset, serta penyusunan career action plan. Evaluasi dilakukan menggunakan skala resiliensi, skala kesiapan kerja, dan lembar refleksi peserta yang dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memiliki tingkat resiliensi dan kesiapan kerja yang berada pada kategori baik setelah mengikuti program. Pengalaman magang yang didukung oleh penguatan aspek psikologis membantu peserta meningkatkan kemampuan adaptasi, kepercayaan diri, dan kesiapan menghadapi tuntutan dunia kerja. Program ini menunjukkan potensi sebagai strategi pendampingan karier yang dapat membantu mahasiswa semester akhir dan fresh graduate mempersiapkan transisi menuju dunia kerja secara lebih terarah dan adaptif.