cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.p4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnal.p4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Core Subject : Education, Social,
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Community Service
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 346 Documents
PSIKOEDUKASI REGULASI EMOSI PADA SISWA SMA Ninawati Ninawati; Daniel Franando DCJ; Graciella Angelica Arifin
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10778

Abstract

Senior high school students are generally within the age range of 15–18 years. In developmental psychology, this age range falls within adolescence (10–19 years). The developmental tasks of adolescent psychology consist of the achievement of emotional independence, the formation of self-identity, and the development of mature relationships with peers and members of the opposite sex. Adolescents also need to manage unstable emotions, accept physical changes, and develop intellectual maturity as well as a more realistic sense of morality in preparation for adulthood. Adolescents' emotional development often involves emotional turmoil and the search for self-identity. On the social side, adolescents experience increased interaction with peers and exploration of romantic relationships. Internal and external factors such as the family environment, peers, and social media also influence adolescent development. An understanding of emotion regulation, delivered through a half-day seminar, is expected to make a meaningful contribution to individuals who are part of urban society. This can help to foster social well-being. In turn, the development will serve as social capital for adolescents in their social interactions and relationships with others. The Emotional Regulation Questionnaire (ERQ) scale was used to measure emotion regulation. This community service programme (Pengabdian Kepada Masyarakat/PKM) was carried out as an educational seminar with male and female students of SMA Bhinneka Tungga Ika in West Jakarta as the target audience. We collaborated with the partner institution to invite both students and teachers to participate in the seminar. ABSTRAK Siswa sekolah menengah atas (SMA) pada umumnya berada pada rentang usia 15-18 tahun. Dalam perkembangan psikologi rentang usia ini berada pada masa remaja yaitu dalam kategori 10-19 tahun. Tugas perkembangan psikologi remaja ada macam-macam, antara lain pencapaian kemandirian emosional, pembentukan identitas diri, dan pengembangan hubungan yang matang dengan teman sebaya dan lawan jenis. Remaja juga perlu mengelola emosi yang tidak stabil, menerima perubahan fisik, dan mengembangkan kematangan intelektual serta moralitas yang lebih realistis untuk memasuki kedewasaan. Perkembangan emosional remaja sering kali mencakup gejolak perasaan dan pencarian identitas diri. Di sisi sosial, remaja mengalami peningkatan dalam interaksi dengan teman sebaya dan eksplorasi dalam hubungan romantis. Faktor internal dan eksternal seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, dan media sosial juga mempengaruhi perkembangan remaja. Pemahamanan regulasi emosi yang diterangkan melalui pertemuan setengah hari dalam bentuk seminar kiranya dapat memberikan kontribusi kepada individu yang menjadi bagian dari masyarakat perkotaan, sehingga nantinya akan terbentuk social well-being, di mana hal ini akan menjadi modal sosial para remaja dalam pergaulan dan hubungannya dengan orang lain.Pengukuran untuk regulasi emosi dipergunakan skala Emotional Regulation Questionnaire (ERQ).PKM dilaksanakan sebagai seminar untuk edukasi kepada khalayak sasaran baik siswa laki-laki maupun perempuan yang bersekolah di SMA Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta Barat. Kerjasama dilakukan dengan pihak mitra baik dalam menyediakan siswa sebagai peserta, maupun mengajak para guru untuk berpartisipasi dalam kegiatan seminar yang diselenggarakan.  
IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN CANVA PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI Yoakim Yolanda Mario Leu
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10783

Abstract

Era digital mewajibkan mahasiswa Pendidikan Ekonomi menguasai teknologi, namun pemanfaatan media interaktif di Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka masih tergolong rendah karena mahasiswa kurang membuka diri terhadap metode inovatif. Fokus pengabdian ini adalah melatih mahasiswa memanfaatkan aplikasi Canva guna menciptakan perangkat pembelajaran yang menarik serta efektif. Tahapan pelaksanaan meliputi persiapan perangkat laptop, pengenalan fitur jendela kerja, praktik pembuatan proyek terbimbing, hingga evaluasi akhir hasil karya mahasiswa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dua puluh mahasiswa peserta pelatihan berhasil menguasai dasar-dasar desain digital dan mampu menghasilkan modul ajar serta kuis interaktif secara mandiri. Melalui simulasi dan praktik langsung, mahasiswa menunjukkan peningkatan daya nalar dan kreativitas dalam mengolah materi ekonomi yang sebelumnya kaku menjadi visual yang menyenangkan bagi peserta didik. Temuan ini membuktikan bahwa Canva mempermudah pendidik menyiapkan bahan ajar yang fleksibel baik melalui laptop maupun ponsel cerdas secara gratis. Kesimpulannya, implementasi media Canva memberikan ruang eksplorasi bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya inovatif yang mendukung kurikulum terkini sekaligus mengatasi kejenuhan belajar di kelas. Pelatihan tersebut membekali mereka keterampilan teknis krusial sebelum melaksanakan praktek pengenalan lapangan di sekolah mitra guna menciptakan suasana akademik yang lebih hidup. Dengan demikian, penguasaan aplikasi desain ini menjadi solusi cerdas dalam mewujudkan tujuan pembelajaran modern yang dinamis, menyenangkan, serta interaktif. ABSTRACT The digital era requires Economics students to master technology, but the use of interactive media at the Larantuka Teacher Training and Technology Institute remains low due to a lack of openness to innovative methods. The focus of this community service program was to train students to utilize the Canva application to create engaging and effective learning tools. The implementation stages included laptop preparation, an introduction to the work window feature, guided project creation practice, and a final evaluation of student work. The results showed that twenty student participants successfully mastered the basics of digital design and were able to independently produce teaching modules and interactive quizzes. Through simulations and hands-on practice, students demonstrated increased reasoning and creativity in transforming previously rigid economics material into engaging visuals for students. These findings demonstrate that Canva makes it easy for educators to prepare flexible teaching materials, both on laptops and smartphones, for free. In conclusion, the implementation of Canva provides students with an exploratory space to produce innovative work that supports the current curriculum while addressing classroom boredom. The training provided them with crucial technical skills before undertaking fieldwork at partner schools to create a more lively academic atmosphere. Therefore, mastery of this design application is a smart solution for realizing the goal of modern learning that is dynamic, enjoyable, and interactive.  
PENGUATAN KOMPETENSI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENINGKATKAN LITERASI DIGITAL BAGI MAHASISWA CALON GURU Ali Rahmat Unton; Masdiana Masdiana; Lismawati Sudiah; Karim Karim; Wa Ode Nining Setiyawan; Rizal Rizal; Marsel Marsel
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10896

Abstract

ABSTRACT This community service activity aims to enhance prospective teachers’ understanding and ability to utilize information technology as a tool in the teaching and learning process. Additionally, this initiative aims to equip them with strong digital skills so they can integrate technology into innovative, creative, and effective teaching methods in the future when they become teachers in schools. Before using information technology, each participant was given a questionnaire to measure learning motivation (Pre-test) using a Likert scale: Strongly Agree, Agree, Somewhat Agree, Disagree, and Strongly Disagree. The questionnaire covered four aspects: 1) Perseverance in learning; 2) Interest and enthusiasm for learning; 3) Independence and participation; 4) Need for learning media. Based on the results obtained, it was found that before the activity was conducted, participants tended to answer “Strongly Agree” or “Agree.” This indicates that participants demonstrated low learning motivation due to the limitations of conventional methods. After the activity concluded, the questionnaire was administered again, and participants demonstrated very high enthusiasm for learning by utilizing information technology in the learning process and improving their digital literacy skills. ABSTRAK Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan para calon guru dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. Selain itu, upaya ini bertujuan memberikan keterampilan digital yang baik kepada mereka agar mampu menggabungkan teknologi dalam metode mengajar yang inovatif, kreatif, dan efektif di masa depan ketika mereka menjadi guru di sekolah. Sebelum menggunakan teknologi informasi, setiap peserta diberikan angket untuk mengukur motivasi belajar (Pre-test) dengan skala Likert, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Kurang Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Angket tersebut mencakup empat aspek, yaitu: 1) Ketekunan dalam belajar; 2) Minat dan semangat belajar; 3) Kemandirian dan partisipasi; 4) Kebutuhan media pembelajaran. Berdasarkan hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa sebelum kegiatan dilaksanakan, peserta cenderung menjawab "Sangat Setuju" atau "Setuju". Artinya, peserta menunjukkan motivasi belajar yang rendah karena keterbatasan metode konvensional. Setelah kegiatan selesai, kembali diberikan angket dan peserta menunjukkan semangat belajar yang sangat tinggi dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kemampuan literasi digital mereka.
PEMBERDAYAAN UMKM PENERIMA PKH MELALUI PELATIHAN PERHITUNGAN HARGA POKOK PENJUALAN (HPP) Tri Endang Yani; Totok Wibisono; Muhammad Junaidi; Sujito Sujito
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11074

Abstract

ABSTRACT The Family Hope Program (Program Keluarga Harapan/PKH) is a conditional cash transfer program initiated by the Government of Indonesia aimed at reducing poverty and improving the welfare of low-income households. One of the beneficiary areas is Krobokan Urban Village, Semarang City, which consists of nine PKH groups with several Beneficiary Families (Keluarga Penerima Manfaat/KPM) engaged in micro, small, and medium enterprises (MSMEs). However, a key challenge faced by these MSMEs is the low level of understanding and ability to calculate the Cost of Goods Sold (COGS), which leads to inaccurate product pricing, reduced competitiveness, and suboptimal business sustainability. This community service activity aims to provide education and training on COGS calculation for PKH beneficiary MSMEs in Krobokan Urban Village, enabling them to set fair, competitive, and profitable selling prices, while also improving family economic independence. The implementation method used is direct education and training delivered to partner groups during the first semester of the 2025–2026 academic year. The results of the activity indicate an improvement in participants’ understanding and skills in calculating COGS, as well as their ability to determine more accurate product pricing. Therefore, this program is expected to support more efficient and sustainable business management for PKH beneficiary MSMEs. ABSTRAK Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program bantuan sosial bersyarat dari pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Salah satu wilayah penerima PKH adalah Kelurahan Krobokan, Kota Semarang, yang memiliki 9 kelompok PKH dengan sejumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang menjalankan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, permasalahan utama yang dihadapi adalah rendahnya kemampuan pelaku UMKM dalam menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), sehingga berdampak pada ketidaktepatan penetapan harga jual, rendahnya daya saing produk, serta kurang optimalnya keberlanjutan usaha. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan perhitungan HPP kepada UMKM penerima PKH di Kelurahan Krobokan agar mampu menentukan harga jual yang wajar, kompetitif, dan menguntungkan serta meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah edukasi dan pelatihan secara langsung kepada kelompok mitra pada semester gasal tahun akademik 2025–2026. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan mitra dalam menghitung HPP serta kemampuan dalam menentukan harga jual yang lebih tepat. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan usaha yang lebih efisien dan berkelanjutan bagi UMKM penerima PKH.
KOMUNIKASI PARTISIPATIF DAN TRANSPARANSI MELALUI SISTEM SATU DATA PETA DI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Rosdawiyah Rosdawiyah; Antasari Bandjar
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10601

Abstract

ABSTRACT Public data management in West Seram Regency continues to face challenges related to data fragmentation, limited access to information, and low community involvement in the management of development information. These conditions have prevented public data from fully functioning as a transparent and participatory communication medium. This study aims to analyze the implementation of participatory communication strengthening in the development of a map-based one-data system as a more inclusive public communication medium. The study employed a qualitative approach using a participatory action research (PAR) design through the stages of problem identification, planning, implementation, and evaluation. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, focus group discussions (FGD), and collaborative mapping practices involving local communities and regional government officials. The data were analyzed thematically to identify communication patterns, forms of community participation, and changes in public information management following the intervention. The findings indicate that the participatory communication approach increased community involvement in data collection and validation, produced more contextual information, and strengthened public information transparency through digital map visualization. The map-based one-data system also enabled the public to understand regional conditions more openly and accessibly. This study concludes that the integration of participatory communication and digital mapping technology not only improves the quality of public data governance but also fosters a more collaborative, adaptive, and sustainable communication ecosystem at the local level. ABSTRAK Pengelolaan data publik di Kabupaten Seram Bagian Barat masih menghadapi persoalan fragmentasi data, keterbatasan akses informasi, dan rendahnya keterlibatan masyarakat dalam proses pengelolaan informasi pembangunan. Kondisi tersebut menyebabkan data publik belum sepenuhnya berfungsi sebagai media komunikasi yang transparan dan partisipatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi penguatan komunikasi partisipatif dalam pembangunan sistem satu data berbasis peta sebagai medium komunikasi publik yang lebih inklusif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain participatory action research (PAR) melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), serta praktik pemetaan bersama masyarakat dan aparatur daerah. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola komunikasi, bentuk partisipasi masyarakat, dan perubahan pengelolaan informasi publik setelah intervensi dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi partisipatif mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengumpulan dan validasi data, menghasilkan informasi yang lebih kontekstual, serta memperkuat transparansi informasi publik melalui visualisasi peta digital. Sistem satu data berbasis peta juga mempermudah masyarakat memahami kondisi wilayah secara lebih terbuka dan mudah diakses. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi komunikasi partisipatif dan teknologi pemetaan digital tidak hanya meningkatkan kualitas tata kelola data publik, tetapi juga membentuk ekosistem komunikasi yang lebih kolaboratif, adaptif, dan berkelanjutan di tingkat lokal.
PENDAMPINGAN INOVASI STRATEGI PEMASARAN PRODUK HIDROPONIK YANSU FARM UNTUK PENINGKATAN DAYA SAING DI KOTA PALANGKA RAYA Trisna Anggreini; Ellydia Ludang
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10636

Abstract

This community service activity aimed to assist Yansu Farm, a home-scale hydroponic enterprise in Palangka Raya, in strengthening its marketing strategy to improve competitiveness. The partner's main problems included inconsistent promotion, limited distribution networks, simple packaging, and suboptimal use of digital media for marketing communication. The implementation methods consisted of participatory observation, needs assessment discussions, assistance in formulating product value propositions, training in preparing simple digital promotional content, packaging and label improvement, and mapping potential distribution channels. The activity resulted in a clearer product value proposition for Yansu Farm, namely fresh, hygienic, daily-harvested, and pesticide-free vegetables; a draft of promotional content using WhatsApp and social media; alternative marketing networks involving food stalls, healthy vegetable shops, and loyal customers; and better partner understanding of branding, customer service, and continuity of product information. The activity confirms that marketing strengthening in hydroponic enterprises should not rely solely on product quality, but must also be supported by value communication, more informative packaging, and broader marketing channels. Therefore, marketing assistance is a relevant intervention to improve the competitiveness of local hydroponic MSMEs. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendampingi Yansu Farm sebagai pelaku usaha hidroponik skala rumah tangga di Kota Palangka Raya dalam memperkuat strategi pemasaran agar memiliki daya saing yang lebih baik. Permasalahan utama mitra meliputi promosi yang belum konsisten, keterbatasan jaringan distribusi, pengemasan yang masih sederhana, dan belum optimalnya pemanfaatan media digital untuk komunikasi pemasaran. Metode pelaksanaan dilakukan melalui observasi partisipatif, diskusi kebutuhan mitra, pendampingan penyusunan identitas nilai produk, pelatihan penyusunan konten promosi digital sederhana, perbaikan kemasan dan label, serta pemetaan saluran distribusi potensial. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendampingan mampu menghasilkan perumusan nilai jual utama produk Yansu Farm, yaitu segar, higienis, panen harian, dan bebas pestisida; terbentuknya rancangan konten promosi berbasis WhatsApp dan media sosial; tersusunnya alternatif jejaring pemasaran dengan warung makan, toko sayur sehat, dan pelanggan tetap; serta meningkatnya pemahaman mitra terhadap pentingnya branding, pelayanan pelanggan, dan kontinuitas informasi produk. Kegiatan ini menegaskan bahwa penguatan strategi pemasaran pada usaha hidroponik tidak cukup hanya bertumpu pada kualitas produk, tetapi perlu ditopang oleh komunikasi nilai, kemasan yang lebih informatif, serta perluasan kanal pemasaran. Dengan demikian, pendampingan pemasaran menjadi intervensi yang relevan untuk meningkatkan daya saing UMKM hidroponik di tingkat lokal.
PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS KONTEKSTUAL TENTANG PLACES AND PROFFESION DI DESA DENGAN TEMA MY VILLAGE AND ME Fransiska Jone Mare; Petrus Kiwan Koten
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11021

Abstract

ABSTRACT This community service activity aimed to improve students’ English skills through contextual learning with the theme My Village and Me at SDI Lamaojan. The main problems faced by the students included difficulties in vocabulary pronunciation, low vocabulary retention, and learning materials that were not contextual or closely related to their daily lives in the village. Therefore, the activity focused on learning vocabulary about places and professions familiar to the rural environment. The program involved 24 students and was conducted through observation, implementation of contextual learning, and evaluation stages. The results showed that contextual learning increased students’ enthusiasm, active participation, and reading and speaking skills in English. The use of pictures, simple texts, dialogues, and phoneme introduction helped students better understand vocabulary and its pronunciation. In addition, connecting the learning materials to students’ daily environment made the lessons easier to understand. Thus, contextual English learning proved effective in improving the motivation and basic English skills of elementary school students in rural areas. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris peserta didik melalui pembelajaran kontekstual dengan tema My Village and Me di SDI Lamaojan. Permasalahan utama yang dihadapi peserta didik meliputi kesulitan pelafalan kosakata, rendahnya kemampuan mengingat kosakata, serta materi pembelajaran yang belum kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik di desa. Oleh karena itu, kegiatan difokuskan pada pembelajaran kosakata tentang places dan profession yang familiar di lingkungan pedesaan. Kegiatan ini melibatkan 24 peserta didik dan dilaksanakan melalui tahapan observasi, pelaksanaan pembelajaran kontekstual, serta evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual mampu meningkatkan antusiasme, partisipasi aktif, serta kemampuan membaca dan berbicara peserta didik dalam bahasa Inggris. Penggunaan media gambar, teks sederhana, dialog, dan pengenalan fonem membantu peserta didik memahami kosakata dan pelafalannya dengan lebih baik. Selain itu, keterkaitan materi dengan lingkungan sehari-hari membuat peserta didik lebih mudah memahami pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Inggris kontekstual efektif dalam meningkatkan motivasi dan kemampuan dasar bahasa Inggris peserta didik sekolah dasar di wilayah pedesaan.
COMMUNITY EMPOWERMENT THROUGH SKILLS TRAINING IN MAKING HIGH-VALUE CULINARY PRODUCTS IN SETILING VILLAGE, CENTRAL LOMBOK Galih Mulya Subastyan; Supratman Supratman; Sari Kartikaningrum; Yayang Erry Wulandari; Tama Krisnahadi
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11323

Abstract

ABSTRACT Strengthening rural community economies depends not only on the availability of local resources but also on the capacity of community members to transform these resources into value-added and competitive products. This remains a challenge in Setiling Village, Central Lombok Regency, where existing human resource potential has not been fully supported by adequate food-processing skills, sanitation awareness, and business management capabilities. In response to this condition, this community service program was designed to enhance community capacity through culinary entrepreneurship training that integrates production techniques, food safety practices, cost management, packaging development, and marketing strategies. The program was implemented using a Participatory Action Research (PAR) approach involving housewives and village youth in a series of activities, including needs assessment, practical food-processing training, food hygiene and sanitation assistance, cost-of-goods-sold calculation, packaging improvement, and the utilization of digital media for promotion. The program outcomes indicated improvements in participants’ knowledge and skills in producing culinary products that were more attractive, hygienic, and commercially valuable. Participants also gained a better understanding of business management, product pricing, and the use of pre-order systems and digital media as marketing tools. In addition to enhancing participants’ confidence to engage in entrepreneurial activities, the program demonstrated that integrating technical skills with business competencies can serve as an effective strategy for strengthening community economic capacity and supporting more sustainable rural economic development. ABSTRAK Upaya penguatan ekonomi masyarakat pedesaan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya lokal, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengolah potensi tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing. Kondisi ini masih menjadi tantangan di Desa Setiling, Kabupaten Lombok Tengah, di mana potensi sumber daya manusia yang tersedia belum sepenuhnya didukung oleh keterampilan pengolahan pangan, pemahaman sanitasi, maupun kemampuan pengelolaan usaha. Berangkat dari kondisi tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang sebagai sarana penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan kewirausahaan kuliner yang memadukan aspek produksi, keamanan pangan, manajemen biaya, pengemasan, dan pemasaran. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan ibu rumah tangga dan pemuda desa dalam proses identifikasi kebutuhan, pelatihan praktik pengolahan produk, pendampingan higiene dan sanitasi pangan, perhitungan harga pokok produksi, pengembangan kemasan, serta pemanfaatan media digital untuk promosi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam menghasilkan produk kuliner yang lebih menarik, higienis, dan bernilai jual. Peserta juga memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan usaha, penentuan harga produk, serta pemanfaatan sistem pre-order dan media digital sebagai sarana pemasaran. Selain meningkatkan kepercayaan diri untuk berwirausaha, program ini memperlihatkan bahwa integrasi keterampilan teknis dan kompetensi bisnis dapat menjadi strategi yang efektif dalam memperkuat kapasitas ekonomi masyarakat serta mendukung pengembangan ekonomi desa yang lebih berkelanjutan.
PENGUATAN PRODUK, PEMASARAN DIGITAL, DAN SDM DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA KAMPOENG DELING Hilwa Rohmahdiniyah Nur Azizah; Winda Purwaning Suhairiya; Agung Winarno; Wening Patmi Rahayu
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11357

Abstract

This community service initiative aims to enhance the capacity of Kampoeng Deling as a bamboo-based tourism village through the development of products, digital marketing, human resources (HR), and governance. The main challenges faced by the partners include the lack of flagship products, limited digital marketing capabilities, and suboptimal organizational structures and management systems. The method used was a qualitative approach employing an explanatory participatory method combined with Participatory Rural Appraisal (PRA). Data collection techniques included observation, interviews, and focus group discussions. The results of the activity show that flagship products in the form of bamboo souvenir packages have been developed, a product catalog and Instagram-based digital marketing media have been created, and an organizational structure and Standard Operating Procedures (SOPs) have been established as management guidelines. This initiative has had a positive impact on increasing product value-added, expanding market reach, and strengthening institutional governance. Thus, the integration of product development, digital marketing, and human resource capacity building has proven to be an effective strategy in supporting the sustainable development of the Kampoeng Deling tourism village. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Kampoeng Deling sebagai desa wisata berbasis bambu melalui penguatan produk, pemasaran digital, serta sumber daya manusia (SDM) dan tata kelola. Permasalahan utama yang dihadapi mitra meliputi belum adanya produk unggulan, keterbatasan pemasaran digital, serta belum optimalnya struktur organisasi dan sistem pengelolaan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode partisipatif bersifat explanatory yang dipaduka dengan Participatory Rural Appraisal (PRA). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan diskusi kelompok. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa telah terbentuk produk unggulan berupa paket souvenir bambu, tersusunnya katalog produk dan media pemasaran digital berbasis Instagram, serta terbentuknya struktur organisasi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai pedoman pengelolaan. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan nilai tambah produk, perluasan jangkauan pemasaran, serta penguatan tata kelola kelembagaan. Dengan demikian, integrasi pengembangan produk, pemasaran digital, dan penguatan SDM menjadi strategi efektif dalam mendukung keberlanjutan pengembangan desa wisata Kampoeng Deling.  
WORKSHOP KOLABORASI MODEL PENTA HELIX DALAM TATA KELOLA CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) INTERNASIONAL DALAM MENDUKUNG PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI KAWASAN EKONOMI KHUSUS MANDALIKA Sirwan Yazid Bustami; Kurnia Zulhandayani Rizki; Hasbi Asyidiqi; Mega Nisfa Makhroja; Hertina Indra Rukmana; Putri Karimatullah
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11601

Abstract

ABSTRACT The transformation of the Mandalika Special Economic Zone (SEZ) into a strategic tourism growth center has created a growing need for Corporate Social Responsibility (CSR) practices that can balance economic development, community welfare, and environmental sustainability. Although various CSR programs have been implemented in the surrounding buffer villages, their benefits have not always been fully understood or equitably experienced by local communities. This community service initiative was therefore designed to strengthen stakeholders’ understanding of CSR, sustainable development, and the Penta Helix collaboration model as a governance approach that supports the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs). The program was conducted in Mertak Village, Central Lombok Regency, through socialization sessions, workshops, and Focus Group Discussions (FGDs) involving village government representatives, civil society organizations, youth groups, business actors, academics, media representatives, and affected community members. The discussions revealed that the main challenges in CSR implementation were not merely related to the availability of programs, but also to limited public literacy regarding CSR, restricted access to program information, unequal distribution of benefits, and the absence of governance mechanisms capable of ensuring transparency and accountability. Interactions among participants further demonstrated that the Penta Helix approach provides a more inclusive platform for coordination in the planning, implementation, and monitoring of CSR initiatives. The activity highlights that strengthening collaborative governance through the Penta Helix framework is a crucial prerequisite for developing CSR practices that are more participatory, responsive to community needs, and oriented toward sustainable regional development. ABSTRAK Transformasi kawasan KEK Mandalika sebagai pusat pertumbuhan pariwisata menghadirkan kebutuhan akan praktik Corporate Social Responsibility (CSR) yang mampu menjembatani kepentingan pembangunan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Di tingkat desa penyangga, berbagai program CSR telah berjalan, namun manfaatnya belum selalu dipahami dan dirasakan secara merata oleh masyarakat. Kondisi tersebut mendorong pelaksanaan kegiatan pengabdian yang berfokus pada penguatan pemahaman pemangku kepentingan mengenai CSR, pembangunan berkelanjutan, serta model kolaborasi Penta Helix sebagai pendekatan tata kelola yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan dilaksanakan di Desa Mertak, Kabupaten Lombok Tengah, melalui sosialisasi, workshop, dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan unsur pemerintah desa, organisasi masyarakat sipil, kelompok pemuda, pelaku usaha, akademisi, media, dan masyarakat terdampak. Proses diskusi menunjukkan bahwa tantangan utama pelaksanaan CSR tidak semata berkaitan dengan ketersediaan program, melainkan juga dengan rendahnya literasi CSR masyarakat, keterbatasan akses terhadap informasi program, belum meratanya distribusi manfaat, serta lemahnya instrumen tata kelola yang mendukung transparansi dan akuntabilitas. Interaksi antarpeserta juga memperlihatkan bahwa pendekatan Penta Helix membuka ruang koordinasi yang lebih inklusif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program CSR. Kegiatan ini menegaskan bahwa penguatan tata kelola kolaboratif berbasis Penta Helix merupakan prasyarat penting untuk mewujudkan CSR yang lebih partisipatif, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, dan berorientasi pada keberlanjutan pembangunan kawasan.