cover
Contact Name
Minanton
Contact Email
Minanton@ikbis.ac.id
Phone
+6285256365693
Journal Mail Official
e-journal@ikbis.ac.id
Editorial Address
Jl. Medokan Semampir Indah No. 27, Kel. Medokan Semampir Kec. Sukolilo, Kota Surabaya, Jawa Timur 60119
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer (JPKK)
ISSN : -     EISSN : 27758958     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer (JPKK) is the official journal of the Nursing Study Program of the Institute of Health and business Surabaya (IKBIS Surabaya). This journal is an open-access journal, peer-reviewed, and published every 6 months (January and July) with a minimum of 5 articles per issue. Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer aims to promote the research papers of clinical nurses, lecturers, and nursing students and contribute to the development of nursing science from the Indonesian perspective. Jurnal penelitian keperawatan kontemporer (JPKK) focuses on nursing fields (Medical Surgery, Emergency, Child, Maternity, Mental, Gerontic, Management, Family and Community) and specifically related to the learning process and curriculum development, complementary therapy, innovation, the current trends, and issues in nursing. Jurnal penelitian keperawatan kontemporer (JPKK) accepts research articles (quantitative, qualitative, and mix-method) as well as literature reviews. JPKK does not accept articles that have been or are being published in other journals.
Articles 231 Documents
Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kadar Elektrolit Balita Penderita Diare di Ruang Perawatan Anak RSD Kota Tidore Kepulauan Nuraen Samsi; Mokhtar Jamil
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1395

Abstract

Latar Belakang: Diare masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita, terutama di negara berkembang. Kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare dapat menyebabkan gangguan keseimbangan natrium, kalium, dan klorida yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap kondisi klinis balita saat masuk rumah sakit adalah tingkat pendidikan ibu yang berkaitan dengan kemampuan dalam mengenali tanda bahaya dan melakukan penanganan awal diare di rumah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kadar elektrolit balita penderita diare di Ruang Perawatan Anak RSD Kota Tidore Kepulauan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional retrospektif. Sampel penelitian berjumlah 30 balita penderita diare yang dipilih menggunakan teknik total sampling berdasarkan data Rekam Medis Elektronik (RME) periode Februari–April 2026. Variabel independen adalah tingkat pendidikan ibu yang dikategorikan menjadi pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Variabel dependen meliputi kadar natrium, kalium, dan klorida yang diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium saat pasien masuk rumah sakit. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan menengah (53,3%). Rata-rata kadar natrium balita adalah 127,97±16,77 mEq/L, kadar kalium 3,12±0,37 mEq/L, dan kadar klorida 97,37±3,88 mEq/L. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan kadar natrium (p=0,121), kadar kalium (p=0,065), maupun kadar klorida (p=0,755). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan kadar natrium, kalium, dan klorida pada balita penderita diare di Ruang Perawatan Anak RSD Kota Tidore Kepulauan. Tingkat pendidikan ibu bukan merupakan faktor tunggal yang menentukan kondisi elektrolit balita saat masuk rumah sakit. Kata Kunci: diare, tingkat pendidikan ibu, natrium, kalium, klorida, balita.
HUBUNGAN FAKTOR SANITASI LINGKUNGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU YANG MEMILIKI BALITA DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WAYALOAR Dian Pitaloka Priasmoro; Julia Ratuain
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1396

Abstract

Latar Belakang: Diare tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang utama bagi anak-anak, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Kualitas sanitasi lingkungan merupakan salah satu elemen krusial dalam mencegah penyakit diare. Situasi sanitasi yang tidak memadai dapat meningkatkan kemungkinan kontaminasi oleh mikroorganisme penyebab penyakit, sehingga memperbesar insiden diare pada anak-anak. Kehadiran diare pada balita dapat menimbulkan rasa cemas bagi ibu sebagai pengasuh utama. Tujuan: Untuk memahami keterkaitan antara faktor sanitasi lingkungan dan tingkat kecemasan ibu yang memiliki anak balita yang mengalami diare di Wilayah Kerja Puskesmas Wayaloar. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 71 partisipan yang dipilih melalui purposive sampling. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Spearman Rank (α = 0,05). Hasil: Mayoritas partisipan memiliki tingkat sanitasi lingkungan yang kategorinya cukup (83,1%) dan mengalami kecemasan dalam kategori berat (69,0%). Hasil dari uji Spearman Rank menunjukkan p-value = 0,372 (p > 0,05) dengan koefisien korelasi r = -0,108. Kesimpulan: Tidak terdapat keterkaitan yang signifikan antara faktor sanitasi lingkungan dan tingkat kecemasan ibu yang memiliki balita yang mengalami diare. Sehingga diharapkan intervensi tidak hanya difokuskan pada perbaikan sanitasi lingkungan, tetapi juga memperkuat aspek psikososial seperti edukasi kesehatan, dukungan keluarga, dan pendampingan emosional saat anak mengalami diare.
Comparative Effectiveness of Rheumatic Exercise Therapy and Progressive Muscle Relaxation on Joint Pain among Older Adults with Osteoarthritis Adhin Al Kasanah; Edy Purwanto; Binar Wahyuning Widhi
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1398

Abstract

Background: Osteoarthritis is one of the most common degenerative diseases among older adults and often causes joint pain, leading to decreased mobility and quality of life. Various non-pharmacological interventions have been implemented to reduce joint pain, including Progressive Muscle Relaxation (PMR) and rheumatic exercise. However, studies comparing the effectiveness of these two interventions remain limited. Objective : to determine the difference in effectiveness between Progressive Muscle Relaxation and rheumatic exercise on joint pain among older adults with osteoarthritis. Methods: This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest two-group approach. A total of 34 older adults with osteoarthritis were recruited and divided into two groups: Progressive Muscle Relaxation group (n=17) and the rheumatic exercise group (n=17). Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS). Data were analyzed using the Shapiro-Wilk test, Wilcoxon Signed Rank Test, and Mann-Whitney Test with a significance level of α=0.05. Results: The mean pain score in the Progressive Muscle Relaxation group decreased from 5.71±1.21 to 3.82±1.24 (p=0.00008). In the rheumatic exercise group, the mean pain score decreased from 4.18±1.13 to 2.12±0.93 (p=0.00016). The Mann-Whitney test revealed no significant difference in effectiveness between Progressive Muscle Relaxation and rheumatic exercise in reducing joint pain among older adults with osteoarthritis (p=0.283). Conclusion: Both Progressive Muscle Relaxation and rheumatic exercise are effective in reducing joint pain among older adults with osteoarthritis. However, no significant difference in effectiveness was found between the two interventions
Hubungan Pemanfaatan e NLS dengan Tingkat Kesiapan Praktik Klinik Keperawatan Maternitas pada Mahasiswa Keperawatan Retno Ayu Yuliastuti
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1400

Abstract

Latar Belakang; Kesiapan praktik klinik merupakan komponen penting dalam pendidikan vokasi keperawatan, terutama pada keperawatan maternitas yang berisiko tinggi dan menuntut ketepatan tindakan, sikap profesional, serta kepercayaan diri mahasiswa. Kurangnya kesiapan praktik dapat berdampak pada peningkatan kesalahan prosedur dan kecemasan saat menghadapi situasi klinik. Pemanfaatan media pembelajaran digital seperti Electronic Nursing Laboratory Sutomo (e‑NLS) dikembangkan untuk mengoptimalkan praktik laboratorium sebagai tahap persiapan sebelum mahasiswa memasuki lahan klinik, namun bukti empiris mengenai hubungannya dengan kesiapan praktik klinik masih terbatas.Tujuan; Mengetahui hubungan pemanfaatan e‑NLS dengan tingkat kesiapan praktik klinik keperawatan maternitas pada mahasiswa keperawatan di Jurusan Keperawatan Kampus Sutomo Poltekkes Kemenkes Surabaya.Metode; Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan potong lintang ini melibatkan 167 mahasiswa D3 Keperawatan dan Sarjana Terapan Keperawatan semester IV yang telah mengikuti praktikum keperawatan maternitas dan menggunakan e‑NLS. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert mengenai pemanfaatan e‑NLS dan kesiapan praktik klinik, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 0,05.Hasil; Sebagian besar responden memiliki pemanfaatan e‑NLS kategori sedang dan tinggi (88,6%) serta kesiapan praktik klinik kategori sedang dan tinggi (89,8%). Uji Spearman menunjukkan hubungan positif yang kuat dan signifikan antara pemanfaatan e‑NLS dan kesiapan praktik klinik (r = 0,786; p = 0,000).Kesimpulan; Pemanfaatan e‑NLS berhubungan signifikan dengan kesiapan praktik klinik keperawatan maternitas; semakin tinggi pemanfaatan e‑NLS, semakin tinggi tingkat kesiapan praktik klinik mahasiswa. Integrasi e‑NLS dalam pembelajaran praktik perlu terus diperkuat, disertai pendampingan bagi mahasiswa dengan pemanfaatan rendah.
Gambaran Resiliensi Pada Mahasiswa Tingkat Pertama Meilan Frely Lekatompessy
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1403

Abstract

Latar Belakang: Periode awal memasuki perguruan tinggi merupakan fase transisi yang ditandai dengan berbagai perubahan dalam aspek akademik maupun sosial. Mahasiswa tingkat pertama dituntut untuk dapat beradaptasi dan membiasakan diri dengan proses pembelajaran yang baru, mengelola waktu secara mandiri, memenuhi tuntutan akademik yang lebih tinggi, serta membangun relasi sosial di lingkungan kampus. Ketika kemampuan adaptasi yang dimiliki tidak memadai, berbagai tuntutan tersebut dapat menjadi sumber tekanan yang berdampak pada munculnya stres, kecemasan, menurunnya motivasi akademik, bahkan meningkatkan kemungkinan terjadinya kegagalan studi atau putus kuliah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan resiliensi pada mahasiswa tingkat pertama. Metode: Metode kuantitatif dengan desain deskriptif adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian dilakukan di Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Sutomo dengan jumlah sampel 99 mahasiswa tingkat pertama dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner resiliensi melalui google form. Data dianalisis menggunakan analisis univariat untuk menggambarkan resiliensi pada mahasiswa tingkat pertama. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar memiliki resiliensi tinggi sebanyak 90 mahasiswa (90,9%) dan sebanyak 9 mahasiswa (9,1%) menunjukkan resiliensi sedang. Kesimpulan: Mahasiswa tingkat pertama memiliki tingkat resiliensi yang baik dengan dominasi kategori tinggi pada seluruh komponen resiliensi. Tetapi masih ada mahasiswa yang memiliki resiliensi kategori sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan dalam beradaptasi di perguruan tinggi sebagai mahasiswa tingkat pertama sudah baik sehingga mampu menghadapi setiap tuntutan secara akademik maupun sosial, tetapi masih ada juga mahasiswa yang memiliki kemampuan adaptasi yang harus ditingkatkan sehingga membutuhkan intervensi lebih lanjut.
PENGARUH EDUKASI TERHADAP KEMAMPUAN DETEKSI DINI PERKEMBANGAN ANAK EPILEPSI DI RS ADVENT MEDAN: PENGARUH EDUKASI TERHADAP KEMAMPUAN DETEKSI DINI PERKEMBANGAN ANAK EPILEPSI DI RS ADVENT MEDAN Rani Kawati Damanik; Ester Saripati Harianja; Mestika Lumbantoruan; Luciana Fransisca M
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1405

Abstract

Latar Belakang: Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronik yang berisiko tinggi menyebabkan keterlambatan perkembangan pada anak, di mana sekitar 30–40% anak dengan epilepsi mengalami gangguan neurodevelopmental yang berdampak jangka panjang apabila tidak terdeteksi secara dini. Kemampuan orang tua dalam melakukan deteksi dini masih terbatas akibat kurangnya edukasi terstruktur selama kunjungan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi terhadap kemampuan deteksi dini perkembangan anak epilepsi pada orang tua di Rumah Sakit Advent Medan. Metode: Desain penelitian menggunakan metode pre-eksperimen dengan pendekatan one group pre-test post-test. Sampel berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Intervensi dilakukan melalui edukasi kesehatan dengan metode ceramah, demonstrasi, tanya jawab, dan pemberian leaflet. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi (pre-test) sebanyak 25 responden (83,3%) berada dalam kategori Tidak Mampu dan 5 responden (16,7%) berada dalam kategori Mampu. Setelah edukasi (post-test), sebanyak 22 responden (73,3%) meningkat menjadi kategori Mampu dan 8 responden (26,7%) masih dalam kategori Tidak Mampu. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test diperoleh nilai Z = -4,187 dengan p = 0,000 (p < 0,05), sehingga terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian edukasi terhadap kemampuan deteksi dini perkembangan anak epilepsi. Kesimpulan: Program edukasi deteksi dini perlu dilaksanakan secara rutin, terstruktur, dan berkelanjutan sebagai bagian integral pelayanan keperawatan anak guna meningkatkan kompetensi orang tua dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak epilepsi.
The THE CORRELATION BETWEEN LIFESTYLE AND HYPERTENSION INCIDENCE ON THE ELDERLY muhammad sowwam muhammad sowwam; kunaryanti; Septia Nalinda; Danik Dwiyanti; Eny
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1407

Abstract

Background: Indonesia has a prevalence of hypertension that continues to increase annually. This high incidence is in line with the increasing life expectancy (UHH) both nationally and globally. Hypertension can be caused by an unhealthy lifestyle. Aim: To analyze the correlation between lifestyle and the incidence of hypertension in the elderly in Dukuh Mokolegi, Celep Village, Kedawung, Sragen.Method: This is a correlational analytic study with a cross-sectional approach. The sample in this study amounted to 41 people. The sample was taken using a total sampling technique. The results of the study were tested using the Pearson statistical test with a significance level of α = <0.05. The research instrument used a lifestyle questionnaire and hypertension measurement with a sphygmomanometer. This study was conducted in Dukuh Mokolegi, Celep Village, Kedawung, Sragen. Results: The results of the Pearson correlation test with an error level (α) = 0.05 obtained a p-value of 0.002 with a correlation strength of -0.468. This indicates a significant relationship between lifestyle and the incidence of hypertension. Conclusion: A better lifestyle is more likely to prevent hypertension in the elderly. Keywords: Lifestyle, Hypertension, Elderly
AKTIVITAS FISIK DAN KEPATUHAN DIET SEBAGAI FAKTOR PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGENDALIAN GLIKEMIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II Mega Putri Putri; Puji Tri Hastuti; Kuswanto
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1411

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) Tipe II merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengendalian glikemik secara optimal untuk mencegah berbagai komplikasi. Keberhasilan pengendalian glikemik dipengaruhi oleh berbagai faktor perilaku, terutama aktivitas fisik dan kepatuhan terhadap pengaturan diet. Namun, kepatuhan pasien dalam menerapkan kedua aspek tersebut masih menjadi tantangan dalam pengelolaan diabetes.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan aktivitas fisik dan kepatuhan diet sebagai faktor perilaku dengan pengendalian glikemik pada pasien Diabetes Melitus Tipe II. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional. Sebanyak 57 pasien DM Tipe II di Poli Penyakit Dalam RSUD dr. Soedono Provinsi Jawa Timur dipilih sebagai responden melalui teknik purposive sampling. Aktivitas fisik dinilai menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ), kepatuhan diet diukur menggunakan kuesioner diet 3J, sedangkan pengendalian glikemik ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan glukosa darah puasa. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji Spearman Rank dengan signifikansi α = <0,05 Hasil: Mayoritas responden memiliki pengendalian glikemik kategori buruk (63,2%), aktivitas fisik sedang (57,9%), dan kepatuhan diet cukup patuh (47,4%). Analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan pengendalian glikemik (p=0,001; r=-0,428) serta antara kepatuhan diet dengan pengendalian glikemik (p<0,001; r=-0,648). Dibandingkan aktivitas fisik, kepatuhan diet memiliki kekuatan hubungan yang lebih tinggi terhadap pengendalian glikemik.Kesimpulan: Aktivitas fisik dan kepatuhan diet merupakan faktor perilaku yang berhubungan dengan pengendalian glikemik pada pasien DM Tipe II. Upaya peningkatan edukasi dan pendampingan terkait perubahan perilaku perlu diperkuat untuk mendukung keberhasilan pengendalian glikemik secara berkelanjutan.
Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Tentang Triage Pada Praktik Klinik Gawat Darurat Purwanti Nurfita Sari
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1412

Abstract

Latar Belakang: Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan bagian dari rumah sakit yang bertanggung jawab memberikan pelayanan awal bagi pasien dengan kondisi kegawatdaruratan. Penanganan dilakukan secara cepat, akurat, dan sesuai prioritas berdasarkan tingkat keparahan guna meminimalkan risiko komplikasi, kecacatan, serta kematian.Dalam pelayanan IGD, triase menjadi proses penting dalam mengelompokkan pasien berdasarkan tingkat kegawatan untuk menentukan prioritas penanganan. Mahasiswa profesi Ners sebagai calon perawat profesional yang menjalani praktik klinik di IGD perlu memiliki pengetahuan yang baik tentang triase sebagai dasar dalam pengambilan keputusan klinis dan pemberian asuhan keperawatan kegawatdaruratan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswa profesi Ners tentang triase pada praktik klinik gawat darurat.Metode: Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif untuk memperoleh gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Seluruh mahasiswa Profesi Ners Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Surabaya yang berjumlah 128 orang ditetapkan sebagai populasi penelitian. Besaran sampel dihitung menggunakan rumus Slovin dan menghasilkan 107 responden. Pemilihan responden dilakukan melalui teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling sesuai kriteria penelitian yang telah ditentukan. Proses pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan lembar informed consent dan kuesioner berbasis Google Form. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara deskriptif dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics, kemudian hasil analisis disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia 23 tahun sebanyak 59 responden (55,1%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 97 responden (90,7%), dan seluruh responden merupakan mahasiswa Profesi Ners sebanyak 107 responden (100%). Tingkat pengetahuan mahasiswa tentang triase menunjukkan sebagian besar berada pada kategori baik sebanyak 85 responden (79,4%), kategori cukup sebanyak 22 responden (20,6%), dan tidak terdapat responden dengan kategori kurang. Kesimpulan: Sebagian besar mahasiswa profesi Ners memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang triase pada praktik klinik gawat darurat. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa telah memiliki pemahaman yang memadai terkait proses triase di IGD, meskipun masih terdapat sebagian kecil yang berada pada kategori cukup sehingga diperlukan penguatan pembelajaran klinik melalui simulasi dan praktik berkelanjutan.
The ESSENTIAL MIDWIFERY CARE FOR MRS. M DURING PREGNANCY, LABOUR, POSTPARTUM, AND NEONATAL CARE AT KERTAMUKTI COMMUNITY HEALTH CENTER, CILEBAR DISTRICT, KARAWANG REGENCY IN 2026 Irma Yanti
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1413

Abstract

Pregnancy, labour, postpartum, and neonatal periods are physiological phases with the potential for complications that increase maternal and neonatal mortality risks. This report aims to provide and document essential midwifery care for a pregnant, laboring, and postpartum mother, as well as her newborn. This report employs essential midwifery care management utilizing Varney’s seven-step approach, documented in the SOAP format. Data were collected through interviews, physical examinations, observations, and documentation reviews of the Kesehatan Ibu dan Anak (KIA/Maternal and Child Health) handbook. The implementation of essential midwifery care management for Mrs. M commenced at 32 weeks of gestation. During the antenatal period, four antenatal care (ANC) visits were conducted between 32 and 37 weeks of gestation. The assessment revealed mild anemia and proteinuria (+). During delivery, the patient sustained a second-degree perineal laceration, and Early Initiation of Breastfeeding (EIBF) lasted less than one hour. It is anticipated that the identified gaps between theory and clinical practice will optimize future care delivery, and that the client and her family will adhere to the health education provided by healthcare professionals.