cover
Contact Name
Bobby Kurnia Putrawan
Contact Email
jurnaldidache@gmail.com
Phone
+628176907033
Journal Mail Official
jurnalrerum@gmail.com
Editorial Address
Matana University Tower Lantai 7 Jalan CBD Barat Kav.1 Kelapa Dua Tangerang, Banten 15810
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Didache : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : -     EISSN : 27152758     DOI : https://doi.org/10.46362/didache
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani (e-ISSN: 2715-2758) merupakan jurnal ilmiah teologi dengan perspektif Praktika Alkitabiah yang menjadi wadah ilmiah untuk jurnal akademik dengan multidisiplin ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Teologi Moriah bersama Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia. Fokus dan Ruang Lingkup Artikel yang dimuat dalam Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani memiliki fokus dan scope pada teologi pendidikan agama Kristen, teologi pastoral, kepemimpinan Kristen, misi, dan manajemen gereja. Penerbitan jurnal ini akan dilakukan dalam satu tahun sebanyak dua kali terbit yaitu pada bulan Juni dan Desember.
Articles 92 Documents
PERAN PEREMPUAN DALAM MISI GEREJA: Sebuah Kajian Misi Gereja dan Teologi pada Era Digital Tarisih; Antonius Missa
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.521

Abstract

Kehidupan gereja telah mengalami perubahan besar sebagai akibat dari perkembangan era digital, terutama dalam hal bagaimana misi dan pelayanan dilakukan. Perempuan semakin aktif dalam pelayanan pastoral, penginjilan, pendidikan iman, pelayanan sosial, dan penggunaan media digital sebagai sarana penginjilan dan pelayanan di lingkungan ini. Namun, penelitian ini menemukan bahwa pemahaman teologis tentang kesetaraan dalam Missio Dei dengan praktik gereja berbeda, dan budaya patriarki terus berdampak padanya. Selain itu, wanita tidak cocok untuk pengambilan keputusan dan kepemimpinan. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis peran perempuan dalam misi gereja di era digital dari perspektif teologi dan misiologi. Studi ini juga menyelidiki masalah dan peran perempuan modern dalam pelayanan gereja. Studi pustaka ini menggunakan pendekatan deduktif dan kualitatif. Banyak karya tentang teologi misi, teologi feminis, dan pelayanan digital gereja dikaji. Studi tersebut menemukan bahwa perempuan berperan penting dalam melaksanakan misi gereja, terutama dengan menggunakan media sosial, komunitas virtual, pelayanan online, dan membuat materi rohani di era digital. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa rekonstruksi teologi misi harus dilakukan dengan cara yang lebih inklusif, kontekstual, dan transformatif agar gereja dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan Misi Dei. Karena itu, penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi gereja saat ini dalam membangun pelayanan yang relevan, inklusif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
MENGUCAP SYUKUR : Sebuah Upaya Pengimplementasian Nilai Kristiani dalam Mencegah Krisis Identitas Akibat FoMO Elsia Yumar; Syani Bombongan Rante Salu
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.536

Abstract

Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang mengalami fenomena Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan cemas atau kekhawatiran berlebih ketika merasa tertinggal terhadap suatu hal yang sedang populer maupun perkembangan tertentu. Fenomena ini berpotensi memicu krisis identitas karena individu dapat kehilangan pemahaman terhadap jati dirinya akibat terlalu berfokus pada kehidupan orang lain serta mencari validasi dari lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan nilai mengucap syukur dalam segala hal berdasarkan 1 Tesalonika 5:18 sebagai salah satu pendekatan dalam mencegah terjadinya krisis identitas sebagai dampak dari fenomena FoMO. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, yaitu dengan menganalisis berbagai sumber literatur seperti buku dan jurnal ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana makna dari perintah “mengucap syukurlah dalam segala hal” berdasarkan 1 Tesalonika 5:18? Serta bagaimana implementasi nilai tersebut dalam mencegah terjadinya krisis identitas pada individu yang mengalami dampak FoMO? Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai mengucap syukur yang terkandung dalam 1 Tesalonika 5:18 bukan hanya merupakan ajakan untuk memiliki pola pikir positif, melainkan sebuah perintah Allah bagi kehidupan orang percaya. Mengucap syukur dalam segala hal berarti mampu menerima setiap keadaan dalam kehidupan sebagai bagian dari anugerah Tuhan tanpa terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Dengan menghidupi sikap bersyukur, seseorang dapat membangun pemahaman yang benar terhadap identitas dirinya serta menyadari bahwa kehidupannya merupakan pemberian yang berharga dari Tuhan.
PERSEMBAHAN KUDUS BAGI TUHAN : Tinjauan Teologis tentang Persembahan Persepuluhan dalam Imamat 27:30-33 Afrina Jeliyanti Sirait; Raulina
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.548

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna teologis yang terkandung dalam persembahan persepuluhan yang dijelaskan dalam Imamat 27:30-33, di mana persembahan persepuluhan merupakan suatu bentuk pengakuan atas kepemilikan Allah atas segala sesuatu. Masalah utama yang akan dikaji adalah kecenderungan timbulnya mispersepsi terhadap persembahan persepuluhan yang menyatakan bahwa persembahan harus selalu sepuluh persen, sehingga dianggap memberatkan jemaat yang mengakibatkan hilangnya esensi dari persembahan, yakni memberi dengan sukacita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis kritis, dengan menganalisis bahasa asli dari teks dan terjemahan harfiah, serta berbagai sumber akademik dan literatur yang membahas tentang persembahan persepuluhan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan tidak hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi juga merupakan sebuah panggilan untuk hidup dalam integritas dan rasa tanggung jawab sosial. Dengan memahami nilai-nilai ini, jemaat dapat lebih berkontribusi positif terhadap masyarakat dan menciptakan dampak yang lebih luas bagi lingkungan sekitarnya.
MANAJEMEN PROGRAM PELAYANAN GEREJA : Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi ferry irwanto; Mega Fergie
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.601

Abstract

Manajemen program dan event merupakan unsur penting dalam menunjang efektivitas dan keberlanjutan pelayanan gereja. Program yang dikelola dengan baik tidak hanya membantu tercapainya tujuan pelayanan, tetapi juga menjaga keterlibatan serta kesehatan pelayanan para relawan. Namun, dalam praktiknya, banyak gereja masih menghadapi persoalan dalam aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik manajemen program dan event dalam organisasi gereja melalui pendekatan kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan adalah observasi partisipatif, di mana peneliti terlibat sebagai relawan pelayanan sekaligus pengamat reflektif, serta wawancara semi-terstruktur terhadap beberapa informan kunci yang terdiri dari ketua panitia, koordinator pelayanan, dan majelis pendamping. Lokasi penelitian adalah sebuah gereja perkotaan yang disamarkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya sejumlah persoalan utama, antara lain ketidakjelasan tujuan program, penempatan relawan yang tidak berbasis kemampuan, koordinasi dan komunikasi yang bersifat informal, ketidakseimbangan beban kerja relawan, serta evaluasi program yang cenderung bersifat formalitas tanpa tindak lanjut. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem manajemen program gereja melalui perumusan tujuan yang jelas, penempatan relawan berbasis kompetensi, penyusunan SOP sederhana, pelatihan manajemen dan kepemimpinan bagi koordinator serta majelis, serta penerapan evaluasi program sebagai proses pembelajaran organisasi yang berkelanjutan.
HUKUM ROH KEHIDUPAN: Eksegesis Roma 8:2 dan Implikasinya bagi Gereja yang Mentransformasi Dunia Raden Hastara Endy Prasetyo; Suhadi
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.606

Abstract

Pembebasan dari hukum dosa dan maut merupakan pengalaman esensial dalam kehidupan iman orang percaya pada gereja masa kini. Permasalahan utama terletak pada kesenjangan antara pemahaman teoretis tentang pembebasan spiritual dan implementasinya dalam kehidupan gereja, yang mengakibatkan spiritualitas superfisial dan irelevansi gereja terhadap tantangan kontemporer. Penelitian ini bertujuan menghadirkan eksegesis komprehensif terhadap Roma 8:2 dan menjelaskan implikasinya bagi pembentukan paradigma eklesiologi transformasional, yakni model gereja yang hidup oleh kuasa Roh dan menghadirkan transformasi dalam kehidupan. Kajian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur melalui analisis eksegesis, historis, linguistik, dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roma 8:2 mengungkapkan lima dimensi teologis fundamental: realitas soteriologis definitif, pneumatologi transformasional, kristologi inklusif, hamartologi sistemik, dan eskatologi “sudah–belum sepenuhnya.” Temuan ini menunjukkan bahwa gereja perlu dipahami sebagai komunitas eskatologis yang hidup dalam “hukum Roh kehidupan,” bukan sekadar institusi religius. Kesimpulan mengonfirmasi bahwa pembebasan melalui karya Roh Kudus dalam Roma 8:2 membentuk fondasi eklesiologi transformasional yang mampu menjawab krisis spiritual, moral, dan sosial gereja kontemporer.
INTEGRASI EKLESIOLOGI DAN MISIOLOGI BERDASARKAN 1 PETRUS 2:9 DALAM PENUNTASAN AMANAT AGUNG Eklesia Abdiel Natanael Ekel
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.617

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi antara eklesiologi dan misiologi berdasarkan 1 Petrus 2:9 dalam konteks penuntasan Amanat Agung. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa banyak gereja menghadapi tantangan dalam memahami identitas dan panggilannya sebagai umat Allah yang diutus untuk memberitakan Injil. Ayat 1 Petrus 2:9 menegaskan bahwa gereja dipilih bukan hanya untuk menjadi komunitas ibadah, tetapi juga sebagai agen misi yang memancarkan terang Kristus kepada dunia. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan teologis-biblis, melalui analisis teks Alkitab, studi literatur, dan refleksi teologis kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman eklesiologis yang kuat akan identitas gereja sebagai umat pilihan Allah menjadi dasar bagi pelaksanaan misi yang efektif. Gereja yang memahami hakikatnya sebagai “imamat yang rajani” akan lebih siap menjalankan panggilan misioner secara holistik. Kontribusi penelitian ini terletak pada upaya memperkuat paradigma gereja yang missional, yakni gereja yang tidak berfokus pada dirinya sendiri, tetapi aktif terlibat dalam misi Allah (Missio Dei) untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia.
RAJA PONTAS LUMBANTOBING SEBAGAI FIGUR ADAT DALAM KRISTENISASI DI TANAH BATAK Roymandani Manurung
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.619

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran Raja Pontas Lumbantobing sebagai pemimpin tradisional yang berpengaruh dalam proses kristianisasi di tanah Batak pada akhir abad ke-19. Sebagai pemimpin lokal yang dihormati, Raja Pontas tidak hanya terlibat dalam aspek sosial dan politik masyarakat, tetapi juga berperan dalam menjembatani tradisi budaya Batak dan ajaran Kristen yang diperkenalkan oleh misionaris Barat. Dengan menggunakan teori sosial dari Peter L. Berger, yang memandang agama sebagai produk konstruksi sosial dan budaya, serta gagasan Karl Marx tentang kekuasaan dan struktur sosial. Melalui analisis historis-sosiologis, studi ini mengungkap kepemimpinan Raja Pontas membentuk penerimaan komunitas Batak terhadap Kristen, serta bagaimana agama, adat istiadat, dan transformasi sosial saling terkait dalam konteks kolonialisme dan modernitas. Maka, hasil penelitian ini memberikan kontribusi pemikiran yang lebih dalam tentang interaksi antara kekuasaan, budaya, dan perubahan agama dalam masyarakat Batak.
KAJIAN PSIKOLOGIS-TEOLOGIS DALAM MERESPONS KRISIS KECERDASAN SPIRITUAL GENERASI ALPHA Faahakhododo Halawa; Sandra Rosiana Tapilaha
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.620

Abstract

Krisis kecerdasan spiritual di kalangan Generasi Alpha menjadi salah satu isu penting dalam konteks perkembangan manusia di era digital. Hal ini ditandai dengan menurunnya kesadaran akan tujuan hidup, melemahnya kesadaran spiritual dan relasi dengan Tuhan, serta terkikisnya nilai-nilai transendental akibat penggunaan teknologi yang tidak seimbang dan berkembangnya budaya instan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pneumatologi sebagai respons terhadap krisis kecerdasan spiritual yang dialami Generasi Alpha melalui pendekatan psikologis-teologis. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan meninjau berbagai sumber literatur yang relevan dan kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pneumatologi memainkan peran sentral dalam membentuk kecerdasan spiritual, khususnya dalam menumbuhkan kesadaran diri, kepekaan moral, dan relasi yang mendalam dengan Tuhan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengintegrasikan kajian pneumatologi dengan pendekatan psikologis-teologis sebagai model pembentukan kecerdasan spiritual Generasi Alpha.
MERENGKUH PENDERITAAN: Mewujudkan Keadilan Universal di Tengah Masyarakat Plural Novallick Justin Sundamen Elungan
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.621

Abstract

Penderitaan di Indonesia bersifat struktural, terwujud dalam ketimpangan pendapatan, hambatan akses keadilan hukum, diskriminasi agama, dan marginalisasi gender. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan deskriptif-analitik untuk mengintegrasikan teori keadilan John Rawls dan teologi penderitaan John Piper sebagai respons intelektual dan etis terhadap realitas tersebut. Dari Rawls, penelitian ini menganalisis original position, veil of ignorance, prinsip kebebasan, difference principle, dan overlapping consensus sebagai kerangka prosedural-universal yang menuntut institusi dirancang demi kepentingan kelompok paling tidak beruntung. Dari Piper, penelitian ini menganalisis kedaulatan Allah atas penderitaan, penderitaan sebagai sarana kemuliaan Allah, Christian Hedonism, dan penderitaan sebagai panggilan konkret merespons sesama. Temuan menunjukkan bahwa integrasi keduanya bersifat komplementer sekaligus korektif: kerangka Rawls mencegah teologi Piper tergelincir menjadi pietisme privat yang abai terhadap struktur ketidakadilan, sementara teologi Piper mencegah prosedur Rawls menjadi mekanisme dingin yang mengabaikan dimensi spiritual penderitaan. Sintesis ini memanggil komunitas Kristen Indonesia untuk hadir bukan sekadar sebagai penyembuh luka, melainkan sebagai agen transformasi yang memadukan kedalaman rohani dengan keberanian struktural demi terwujudnya keadilan universal di tengah masyarakat majemuk
MEREKONSTRUKSI PARADIGMA KEPEMIMPINAN PENDETA SEBAGAI MORAL EXEMPLAR TRANSFORMATIF DARI PIETER VOS DAN JOANNE B. CIULLA: Kajian Dialogis antara Etika Kebajikan dan Kepemimpinan Moral Andrian Raja Nagur Purba
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.627

Abstract

Artikel ini membahas tantangan keteladanan dalam kepemimpinan gereja di Indonesia, khususnya terkait hubungan antara pembentukan karakter dan praksis penggunaan otoritas dalam kepemimpinan pendeta. Berbagai kajian kepemimpinan gereja selama ini cenderung memisahkan etika kebajikan yang menekankan pembentukan karakter dari teori kepemimpinan moral yang berfokus pada praksis relasional dan pengelolaan otoritas kepemimpinan. Artikel ini bertujuan merekonstruksi kepemimpinan pendeta sebagai moral exemplar transformatif melalui dialog antara etika kebajikan dan kepemimpinan moral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode analitis-komparatif dan konstruktif untuk menganalisis pemikiran Pieter Vos dan Joanne B. Ciulla dalam melihat ketegangan antara pembentukan karakter dan praksis kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika kebajikan memiliki kekuatan dalam menjelaskan formasi karakter moral, tetapi kurang memadai dalam menjelaskan relasi kekuasaan dalam kepemimpinan, sedangkan teori kepemimpinan moral mampu menjelaskan praksis relasional kepemimpinan tetapi kurang memberi perhatian pada pembentukan karakter moral pemimpin. Artikel ini berargumen bahwa kepemimpinan pendeta perlu dipahami sebagai moral exemplar transformatif, yaitu bentuk kepemimpinan yang menempatkan keteladanan sebagai locus integratif antara karakter, relasi, dan penggunaan kuasa dalam kepemimpinan. Konsep ini diharapkan memberi kontribusi bagi pengembangan studi kepemimpinan gereja, khususnya dalam menghadapi tantangan moral dan keteladanan dalam konteks kepemimpinan gereja di Indonesia.

Page 9 of 10 | Total Record : 92