cover
Contact Name
Bobby Kurnia Putrawan
Contact Email
jurnaldidache@gmail.com
Phone
+628176907033
Journal Mail Official
jurnalrerum@gmail.com
Editorial Address
Matana University Tower Lantai 7 Jalan CBD Barat Kav.1 Kelapa Dua Tangerang, Banten 15810
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Didache : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : -     EISSN : 27152758     DOI : https://doi.org/10.46362/didache
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani (e-ISSN: 2715-2758) merupakan jurnal ilmiah teologi dengan perspektif Praktika Alkitabiah yang menjadi wadah ilmiah untuk jurnal akademik dengan multidisiplin ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Teologi Moriah bersama Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia. Fokus dan Ruang Lingkup Artikel yang dimuat dalam Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani memiliki fokus dan scope pada teologi pendidikan agama Kristen, teologi pastoral, kepemimpinan Kristen, misi, dan manajemen gereja. Penerbitan jurnal ini akan dilakukan dalam satu tahun sebanyak dua kali terbit yaitu pada bulan Juni dan Desember.
Articles 77 Documents
A THEOLOGICAL AND LITERARY FRAMEWORK OF THE PSALMS: Exploring Its Unified Structure Lie, Sioe; Putrawan, Bobby Kurnia; Sutrisno, Sutrisno
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.5, No.2, June 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v5i2.265

Abstract

Interpreters often view the book of Psalms as a collection of liturgical songs used in temple worship. While this perspective is not incorrect, it has led to a tendency to interpret each psalm in isolation, without considering its relationship to other psalms in the book. This research introduces a broader perspective, suggesting that the book of Psalms is not merely a compilation of individual songs but rather an intentionally arranged collection with a unified structural pattern culminating in Psalm 150. In this sense, Psalms 1 to 150 can be seen as a series of milestones leading to this peak. To fully grasp the message of a particular psalm, it is necessary not only to interpret it individually but also to examine its placement within the overall structure of the book and its function within the larger sequence arranged by the editor.
Peran Orangtua dalam Menginternalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Kristen Bagi Remaja Di Gereja Kristus Teluk Naga Sitompul, Lupmotis Amelia; Maya Malau; Gideon Sutrisno; Manggi, Nelci Oktavianti
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2024): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.6, No.1, December 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v6i1.344

Abstract

This study examines the role of parents in internalizing Christian religious education values ??in adolescents at the Teluk Naga Church of Christ. The main problem in this study is the less than optimal role of parents in internalizing Christian religious education values ??in adolescents, which is caused by time constraints, lack of involvement in spiritual activities, and non-open communication about spiritual issues. The purpose of the study was to describe the role of Christian parents in internalizing Christian Religious Education values, to make parents aware of their role, and to describe the church's task in equipping parents and adolescents. This study was conducted qualitatively using a case study approach. Data were collected through interviews and document analysis. This was done to gain a better understanding of the role of parents and how Christian religious education values ??are internalized. The results of the study showed that parental role models greatly influence the formation of adolescent character values ??and spirituality. Parents who are consistent in implementing Christian values ??are able to shape adolescents' mindsets, characters, and attitudes in their daily lives. However, the lack of parental involvement in spiritual activities in the church and open communication about faith makes it difficult for adolescents to internalize values. Penelitian ini mengkaji peran orangtua di dalam menginternalisasi nilai-nilai pendidikan agama Kristen pada remaja di Gereja Kristus Teluk Naga. Masalah utama dalam kajian  ini adalah kurang optimalnya peran orangtua di dalam menginternalisasi nilai-nilai pendidikan agama Kristen pada remaja, yang disebabkan oleh keterbatasan waktu, kurangnya keterlibatan dalam kegiatan kerohanian, dan komunikasi yang tidak terbuka tentang isu-isu spiritual. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan peran orangtua Kristen dalam penginternalisasian nilai-nilai Pendidikan Agama Kristen, menyadarkan orangtua akan perannya, serta mendeskripsikan tugas gereja dalam memperlengkapi orangtua dan remaja. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif menggunakan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dan analisis dokumen. Ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang peran orangtua dan bagaimana nilai-nilai pendidikan agama Kristen diinternalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan orangtua sangat berpengaruh pada pembentukan nilai-nilai karakter dan spiritualitas remaja. Orangtua yang konsisten dalam melakukan nilai-nilai Kristiani mampu membentuk pola pikir, karakter, dan sikap remaja dalam kehidupan sehari-sehari. Namun, kurangnya keterlibatan orangtua dalam kegiatan kerohania di gereja dan komunikasi terbuka tentang keimanan menyebabkan kesulitan bagi remaja dalam menginternalisasi nilai.  
MAKNA ESENSIAL DAN TUJUAN UTAMA SAKRAMEN PERJAMUAN KUDUS BERDASARKAN 1 KORINTUS 11: 23-34 SERTA SUMBANGSIH TEOLOGISNYA BAGI JEMAAT MASA KINI Imelda Sagala, Hotria; Nikolaus Dachi
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2024): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.6, No.1, December 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v6i1.370

Abstract

This research discusses the existence of congregation members who do not understand the essential meaning of Holy Communion, which is often considered merely a ritual or formality. In fact, there are congregation members who are able to participate in Holy Communion, but do not reflect the meaning of Holy Communion. This can be seen when they have bad relationships with each other such as the presence of jealousy, divisions, and so on. As a result, many congregations follow Holy Communion without reflecting the values contained in it, such as unity, love, and forgiveness. The purpose of this study is to analyze the concept of the sacrament of Holy Communion based on 1 Corinthians 11:23-34 and formulate its theological contribution for the church today. This research uses the exegesis method to explore the meaning and main purpose of Holy Communion in the context of Paul's letter to the Corinthians. The results show that Paul affirms Holy Communion as a memorial of Christ's sacrifice, a means of fellowship in the body of Christ, and a call to live in unity and love. Paul also warns against observing Holy Communion in an unworthy manner, as this could bring punishment upon themselves. However, until now there are still many believers who observe Holy Communion without proper understanding. Therefore, more in-depth teaching from church leaders is needed so that Holy Communion does not just become a tradition, but is truly practiced.   Penelitian ini membahas tentang adanya anggota jemaat yang tidak memahami makna esensial dari Perjamuan Kudus dan menganggap sekadar ritual/ formalitas. Bahkan, ada anggota jemaat mampu mengikuti Perjamuan Kudus, tetapi tidak mencerminkan makna Perjamuan Kudus. Hal itu terlihat ketika mereka memiliki relasi yang buruk dengan sesamanya seperti adanya keirihatian, perpecahan, dan sebagainya. Akibatnya, banyak jemaat yang mengikuti Perjamuan Kudus tanpa mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kesatuan, kasih, dan pengampunan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis konsep sakramen Perjamuan Kudus berdasarkan 1 Korintus 11:23-34 serta merumuskan sumbangsih teologisnya. Penelitian ini menggunakan metode eksegesis untuk menggali makna dan tujuan Perjamuan Kudus dalam konteks surat Paulus kepada jemaat Korintus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus menegaskan Perjamuan Kudus sebagai peringatan atas pengorbanan Kristus, sarana persekutuan dalam tubuh Kristus, dan panggilan untuk hidup dalam kesatuan dan kasih. Paulus juga memperingatkan agar jemaat tidak mengikuti Perjamuan Kudus dengan cara yang tidak layak, karena dapat membawa hukuman bagi diri mereka sendiri. Namun, hingga kini masih banyak jemaat yang menjalankan Perjamuan Kudus tanpa pemahaman yang benar. Maka, diperlukan pengajaran yang lebih mendalam dari pemimpin gereja agar Perjamuan Kudus tidak hanya menjadi tradisi, tetapi sungguh-sungguh dihayati dalam kehidupan jemaat.
DAMPAK TEKNOLOGI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MINAT BELAJAR SISWA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN: DAMPAK TEKNOLOGI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MINAT BELAJAR SISWA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Togar.S; Telaumbanua, Yusnidar
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2025): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.1, Desember 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i1.346

Abstract

This study aims to investigate the extent of the relationship between learning media technology and students' interest in Christian Religious Education. Therefore, it's crucial to determine the precise effect of utilizing learning media technology on students' learning interest in Christian Religious Education. This study employs a quantitative approach with two variables: the application of technology in learning media and the increase in students' learning interest. The research was conducted by the author at SMP/SMA Tunas Karya-Kelapa Gading by distributing questionnaires to a sample of 42 students. The data processing methods used in this research included information from books and questionnaires. From these, the author obtained research results indicating that the application of learning media technology contributes 36.4% to the increase in students' learning interest at SMP/SMA Tunas Karya, Kelapa Gading, while the remainder is influenced by other factors. The implications of this study can be utilized by educators and policymakers to improve teaching methods by leveraging educational media technology. Thus, the goal is to create a better, more interactive, and effective learning environment that can enhance students' learning interest and academic achievement. Penelitian ini bermaksud menyelidiki seberapa besar hubungan teknologi media pembelajaran terhadap minat beajar siswa dalam Pendidikan Agama Kristen. Oleh karena itu, cukup penting untuk mengetahui efek yang akurat dari pemanfaatan teknologi media pembelajaran pada ketertarikan mengikuti kelas. Studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan dua variabel, yaitu penerapan teknologi dalam media pembelajaran dan peningkatan ketertarikan siswa untuk belajar. Penelitian dilakukan oleh penulis di SMP/SMA Tunas Karya-Kelapa Gading dengan menyebarkan angket kuesioner kepada 42 sampel murid. Metode yang digunakan dalam mengolah data diterapkan dalam melakukan penelitian meliputi informasi dari buku dan kuesioner. Dari hal tersebut, penulis memperoleh hasil penelitian yang dapat ditunjukan mengenai penerapan teknologi media pembelajaran menghasilkan sebesar 36,4% terhadap peningkatan minat belajar siswa di SMP/SMA Tunas Karya, Kelapa Gading, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya. Implikasi dari studi ini dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan metode pengajaran dengan memanfaatkan teknologi media pendidikan. Dengan demikian, sasarannya adalah agar terwujud proses pembelajaran yang lebih baik, interaktif, dan efektif, yang bisa meningkatkan minat belajar serta prestasi siswa.
KEADILAN SOSIAL DAN INJIL: MEMAHAMI PERAN GEREJA DALAM ERA KETIDAKSETARAAN Kristian, Alvin Budiman
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2025): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.1, Desember 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i1.382

Abstract

In an increasingly complex society, where social inequality has become a pressing issue requiring serious attention, the church, as a religious institution, has great potential to contribute to the creation of a more just and equitable society. This study aims to explore how the church can be at the forefront of social justice by integrating the principles of the Gospel into concrete actions. This research uses a qualitative approach with a literature study method to examine theological and social theories about social justice, as well as the role of the church in addressing inequality. The results of this study show that the church has a moral responsibility to educate its congregation on social justice and encourage them to engage in social activities that combat inequality. Through skills training, economic empowerment, and advocacy for just policies, the church can play a crucial role in creating positive social change. The study also emphasizes the importance of collaboration between the church, social institutions, and the government to achieve common goals in combating inequality. With an approach based on the teachings of the Gospel, the church is expected to make a significant contribution to creating a more just and equitable world. Dalam masyarakat yang semakin kompleks dengan ketidaksetaraan sosial menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius, dan gereja sebagai institusi keagamaan memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.  Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana gereja dapat menjadi ujung tombak keadilan sosial dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip Injil ke dalam tindakan konkret Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka untuk menggali teori-teori teologis dan sosial mengenai keadilan sosial, serta peran gereja dalam mengatasi ketidaksetaraan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral untuk mengedukasi jemaatnya mengenai keadilan sosial dan mendorong mereka untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang memerangi ketidaksetaraan. Melalui pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi kebijakan yang adil, gereja dapat memainkan peran penting dalam menciptakan perubahan sosial yang positif. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara gereja, lembaga sosial, dan pemerintah untuk mewujudkan tujuan bersama dalam memerangi ketidaksetaraan. Dengan pendekatan yang berbasis pada ajaran Injil, gereja diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan setara.  
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN DIGITAL PARENTING DI ERA 5.0 Legi, Hendrik; Riwu, Maleachi; Legi, Devarsh Gevariel Dean Legi
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2025): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.1, Desember 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of digital  technology in the era of society 5.0 has had a major impact on the pattern of education and parenting of children, including in Christian families. This era demands the integration of artificial intelligence and human values, which poses a serious challenge in maintaining the faith, character, and morals of the younger generation. In the midst of increasingly complex technological trends, the role of Christian Religious Education (PAK) and digital  parenting  patterns are becoming increasingly important and inseparable. This study aims to examine how PAK can synergize with digital  parenting  to form a strong children's character in faith and digital  wisdom. This research uses a qualitative approach with the literature study method (library research). Data was collected through analysis of theological sources, Christian education books, scientific articles, and documents related to parenting and technological developments in the 5.0 era. The analysis is carried out in a descriptive and theological hermeneutic manner to interpret the relevance of faith values in today's digital  context. The theoretical basis of this research includes the principles of education in the family according to the Bible (Proverbs 22:6, Deuteronomy 6:6-9), the concept of digital  parenting , and the understanding of society 5.0. The results of the study show that the integration between PAK and digital  parenting  can create a parenting pattern that not only protects children from the negative influence of technology, but also shapes them into spiritually resilient individuals, wise in using technology, and able to be bright in the digital  world. Collaboration between families, churches, and schools is the key to delivering a relevant and transformative educational model in this digital  era. Perkembangan teknologi digital  dalam era masyarakat 5.0 membawa dampak besar terhadap pola pendidikan dan pengasuhan anak, termasuk dalam keluarga Kristen. Era ini menuntut integrasi antara kecerdasan buatan dan nilai-nilai kemanusiaan, yang menimbulkan tantangan serius dalam menjaga iman, karakter, dan moral generasi muda. Di tengah arus teknologi yang semakin kompleks, peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan pola digital  parenting  menjadi semakin penting dan tidak terpisahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana PAK dapat bersinergi dengan digital  parenting  guna membentuk karakter anak yang kuat secara iman dan bijak secara digital . Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research). Data dikumpulkan melalui analisis terhadap sumber-sumber teologis, buku pendidikan Kristen, artikel ilmiah, serta dokumen terkait parenting dan perkembangan teknologi era 5.0. Analisis dilakukan secara deskriptif dan hermeneutik teologis untuk menafsirkan relevansi nilai-nilai iman dalam konteks digital  masa kini. Landasan teoritis penelitian ini mencakup prinsip-prinsip pendidikan dalam keluarga menurut Alkitab (Amsal 22:6, Ulangan 6:6-9), konsep digital  parenting , serta pemahaman masyarakat 5.0. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi antara PAK dan digital  parenting  dapat menciptakan pola pengasuhan yang tidak hanya melindungi anak dari pengaruh negatif teknologi, tetapi juga membentuk mereka menjadi pribadi yang tangguh secara spiritual, bijak dalam menggunakan teknologi, dan mampu menjadi terang di dunia digital . Kolaborasi antara keluarga, gereja, dan sekolah menjadi kunci utama dalam menghadirkan model pendidikan yang relevan dan transformatif di era digital  ini.
INTEGRASI TEKNOLOGI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK SEKOLAH MINGGU Kase, Adelsi; Duryadi, Martinus
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2025): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.1, Desember 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i1.409

Abstract

Rapid technological developments provide great opportunities in the world of education, including in Christian Religious Education (PAK). This study aims to see how technology integration can be utilized effectively in the learning process of Sunday School children in order to shape their character and spirituality from an early age. Through a qualitative approach with literature studies, it was found that the use of digital media such as interactive videos, children's Bible applications, and online learning tools can increase children's interest involvement, strengthen their understanding of Christian values, and grow their spiritual awareness in a fun way. However, the success of this integration is highly dependent on the active role of Sunday School teachers in designing appropriate materials and accompanying the learning process wisely. Thus, the integration of technology in PAK is not only an innovative tool, but also an important strategy in forming children's character and spirituality holistically. Perkembangan teknologi yang pesat memberikan peluang besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK). Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana integrasi teknologi dapat dimanfaatkan secara efektif dalam proses pembelajaran anak Sekolah Minggu guna membentuk karakter dan spiritualitas mereka sejak usia dini. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, ditemukan bahwa penggunaan media digital seperti video interaktif, aplikasi Alkitab anak, dan sarana pembelajaran daring mampu meningkatkan keterlibatan minat anak, memperkuat pemahaman nilai-nilai Kristen, serta menumbuhkan kesadaran rohani mereka secara menyenangkan. Namun, keberhasilan integrasi ini sangat bergantung pada peran aktif guru Sekolah Minggu dalam merancang materi yang tepat dan mendampingi proses belajar secara bijak. Dengan demikian, integrasi teknologi dalam PAK tidak hanya menjadi sarana inovatif, tetapi juga strategi penting dalam pembentukan karakter dan spiritualitas anak secara holistik.
KESELAMATAN DALAM PAHAM KRISTEN PROGRESIF (KAJIAN TEOLOGI LUTHERAN DAN KONFESSI AUGSBURG PASAL IV) Nainggolan, Herrio Tekdi; Manalu, Ario
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2025): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.1, Desember 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i1.421

Abstract

The doctrine of salvation, as a central theme in Christian theology, continues to spark debate across traditions. Lutheran theology and Article IV of the Augsburg Confession present a well-defined doctrine of salvation grounded in God’s grace through faith in Christ. In contrast, Progressive Christianity views salvation not merely as belief in Christ but as a continuous process of moral and social transformation accessible to all humanity, without requiring explicit confession of Jesus as the only way. This study examines how the Progressive Christian understanding of salvation interacts with Lutheran theology and the Augsburg Confession Article IV. Using a qualitative, comparative-doctrinal approach, the research analyzes their theological emphases and implications. The findings reveal a shared conviction that salvation is God’s liberating work that restores humanity’s relationship with the Divine. Yet, significant differences remain: Lutheran theology centers on sola fide, sola gratia, and sola scriptura as the basis of justification, while Progressive Christianity emphasizes existential and social renewal as expressions of divine redemption. This study contributes to contemporary theological discourse by inviting deeper reflection on the relevance of Reformation theology for interpreting salvation within the diverse and plural context of faith in Indonesia. Doktrin keselamatan sebagai salah satu inti ajaran Kristen merupakan topik yang terus diperdebatkan dalam berbagai tradisi teologi. Teologi Lutheran dan Konfessi Augsburg IV cukup mapan merampungkan konsep keselamatan dalam doktrinnya. Sementara, bagi paham Kristen Progresif keselamatan tidak semata-mata bergantung pada iman, melainkan merupakan proses transformasi moral dan sosial yang dapat dialami semua manusia tanpa harus melalui pengakuan eksplisit terhadap Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep keselamatan dalam paham Kristen Progresif diperhadapkan dengan ajaran Lutheran dan Konfessi Augsburg Pasal IV. Artikel ini bertujuan menganalisis dan membandingkan pandangan Kristen Progresif dengan ajaran Teologi Lutheran serta Konfessi Augsburg Pasal IV tentang keselamatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan komparatif-doktrinal. Hasil kajian menunjukkan bahwa doktrin keselamatan dalam teologi Lutheran dan paham Kristen Progresif memiliki titik temu dalam pengakuan bahwa keselamatan adalah karya Allah yang membebaskan manusia dari dosa dan memulihkan relasi dengan-Nya. Namun, keduanya menempuh penekanan yang berbeda: Lutheran menekankan sola fide, sola gratia dan sola scriptura sebagai inti pembenaran, sedangkan Kristen Progresif melihat keselamatan sebagai transformasi eksistensial dan sosial. Temuan ini diharapkan memperkaya wacana teologi keselamatan kontemporer untuk melakukan kajian lebih lanjut dalam memaknai relevansi teologi reformasi dalam konteks “beriman di Indonesia”.  
KAJIAN TEOLOGIS KAUM MARGINAL DALAM KONTEKS MELAYANI YANG TAK TERLAYANI Missa, Antonius; Selle, Demrikel Donna
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2025): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.1, Desember 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i1.466

Abstract

This article discusses the theological basis for ministry to the marginalized and reminds us that the task and responsibility of the church is to serve the underserved. By analyzing biblical texts and conducting theological reflection, this article asserts that service to the marginalized is not merely a social service task, but a manifestation of God's mission in the world. This research uses qualitative methods by referring to theological literature that supports this research to strengthen the understanding that the church has an obligation to be present in the context of social injustice, not just as an observer, but as an agent of change. The Bible consistently shows God's solidarity with the marginalized (e.g., Psalm 146:7-9; Isaiah 61:1-2; Luke 4:18-19). Service to the marginalized is more than an act of charity, but a concrete expression of the presence of the Kingdom of God on earth. In this regard, the church is called not only to be concerned with spiritual matters, but also to actively serve them. This theological commitment to the marginalized reflects God's nature of love and justice. Every form of service to the oppressed is not only an act of love from human beings as social creatures towards one another but has theological meaning as the actualization of the values of the Kingdom of God in this world. Artikel ini membahas landasan teologis untuk pelayanan kepada kaum marginal yang terpinggirkan serta mengingatkan bahwa tugas dan tanggung jawab gereja adalah melayani mereka yang tidak terlayani. Dengan menganalisis teks-teks Alkitab dan melakukan refleksi teologis, artikel ini menegaskan bahwa pelayanan kepada mereka yang terpinggirkan bukan sekadar tugas pelayanan sosial, tetapi merupakan manifestasi dari misi Allah di dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan merujuk pada literatur teologi yang mendukung penelitian ini untuk memperkuat pemahaman bahwa gereja memiliki kewajiban untuk hadir dalam konteks ketidakadilan sosial, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai agen perubahan. Alkitab secara konsisten menunjukkan solidaritas Allah kepada kaum marginal (misalnya, Mazmur 146:7-9; Yesaya 61:1-2; Lukas 4:18-19). Pelayanan kepada kaum marginal lebih dari sekadar perbuatan amal, tetapi merupakan merupakan ekspresi konkret dari kehadiran Kerajaan Allah di bumi. Dalam hal ini, gereja dipanggil untuk tidak hanya memperhatikan hal-hal spiritual, tetapi juga harus secara aktif melayani mereka. Komitmen teologis terhadap mereka yang terpinggirkan ini mencerminkan sifat dasar Allah yang penuh dengan kasih dan keadilan. Setiap bentuk pelayanan kepada mereka yang tertindas tidak hanya merupakan tindakan kasih dari manusia sebagai makhluk sosial terhadap sesamanya tetapi memiliki arti teologis yaitu sebagai aktualisasi nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam dunia ini.  
Kepemimpinan Pelayan Sebagai Tanggung Jawab Etis di Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) Mahanugra , Ones
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2025): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.1, Desember 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i1.484

Abstract

This article addresses the ongoing challenges in church leadership caused by leaders lacking a proper understanding of servant leadership, which affects ethical decision-making within the church. The article aims to clarify the concept of servant leadership and the ethical challenges faced by church leaders in the Christian Churches of Java (GKJ) using an interpretive approach. It is hoped that by understanding servant leadership, these issues can be addressed practically within the church. Based on findings from the Akta Sidang Sinode GKJ XXVII-XXIX, various issues of church leadership are still found, stemming from personal ethical problems, actions that do not reflect transformative pastoral principles, and collective-collegial issues. To tackle these issues, church leaders should embrace their role as servants fulfilling God's will, prioritizing the empowerment of the congregation and fostering community to promote the growth of GKJ at the local, Classis, and Synod levels. Melihat persoalan kepemimpinan gerejawi yang masih terus terjadi akibat dari para pemimpin gerejawi yang kurang memahami bentuk kepemimpinan pelayan sehingga berdampak pada ketidaksesuaian dalam mengambil keputusan etis di gereja mendorong penulis untuk menulis artikel ini. Tujuan dari artikel ini adalah mengungkap pemahaman kepemimpinan pelayan serta menguraikan pergumulan-pergumulan etis kepemimpinan gerejawi di Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) dengan metode interpretatif sehingga melalui pemahaman kepemimpinan pelayan berguna untuk mengatasi pergumulan-pergumulan etis kepemimpinan gerejawi secara praktis dalam kehidupan gereja. Berdasarkan hasil temuan dalam Akta Sidang Sinode GKJ XXVII – XXIX masih ditemukan berbagai persoalan kepemimpinan gerejawi yang disebabkan dari persoalan etis personal, tindakan yang tidak mencerminkan prinsip pastoral transformatif serta persoalan kolektif-kolegial. Dalam upaya mengatasi persoalan-persoalan tersebut, hendaknya para pemimpin gerejawi memposisikan diri sebagai pelayan atau hamba yang melayani kehendak Allah sehingga mengutamakan pemberdayaan jemaat dan senantiasa mengupayakan ikatan kebersamaan dalam menjaga dan mengusahakan berkembangnya GKJ dalam lingkup lokal, Klasis, maupun Sinode.